Dari Hotel Sintuk hingga Grand Mutiara, Sutikno Meninggal Dunia di Nganjuk

Sabtu malam (15/8), saya mendapat kabar duka. Sahabat saya, Bapak Sutikno, meninggal dunia di Nganjuk, Jawa Timur.

Saya biasa memanggilnya Pak Tikno. Saya mengenalnya sejak 2010, saat pertama kali menginjakkan kaki di Kota Bontang. Ketika itu, beliau masih di Hotel Bintang Sintuk, salah satu hotel yang cukup dikenal di Bontang.

Orangnya ramah, mudah bergaul dan enak diajak bicara. Kalau bertemu selalu menyapa. Obrolan kami tidak melulu soal pekerjaan. Bisa soal hotel, Bontang, pariwisata, organisasi, sampai cerita ringan sehari-hari.

Pergaulannya juga luas. Selain di lingkungan perusahaan dan perhotelan, almarhum aktif dalam berbagai kegiatan masyarakat. Sebagai orang Nganjuk, ia cukup dekat dengan warga Jawa di Bontang. Saya beberapa kali melihatnya berkumpul dalam kegiatan masyarakat Jawa, termasuk di lingkungan IKA Pakarti dan komunitas lainnya.

Beberapa hari lalu, Darman, Direktur Radar Bontang yang juga sahabat dekatnya, memberi kabar kepada saya bahwa kondisi kesehatannya sedang tidak baik. Ia menjalani perawatan intensif di Jawa. Kondisinya terus menurun dan sempat menjalani tindakan amputasi pada salah satu kakinya.

Saya tidak mengetahui secara detail penyakit yang dideritanya. Karena itu, saya tidak ingin menduga-duga penyebab sakit maupun meninggalnya almarhum.

Sampai akhirnya kabar duka itu datang Sabtu malam ini.

Pukul 20.39 WITA, Pak Idrus, salah seorang koleganya, menyampaikan kabar tersebut di grup WhatsApp UMKM & Dolor Jowo.

“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Telah meninggal dunia saudara kita Mas Sutikno Nganjuk (Grand Mutiara Hotel). Meninggal di Nganjuk.”

Saya juga mendapat kabar secara pribadi dari Agusyani, koleganya yang lain. Ucapan belasungkawa kemudian berdatangan.

Saya mencoba membuka kembali sejumlah catatan lama tentang sosok yang sudah saya kenal sekitar 16 tahun itu. Perjalanan kariernya di Bontang cukup panjang.

Baca Juga:  Roadshow Pengurus BMPS Kaltim (1): Dari Bontang, Konsolidasi Pendidikan Swasta Dimulai

Sutikno lahir di Nganjuk, Jawa Timur, 12 Februari 1965. Ia menyelesaikan pendidikan di SMN Kertosono pada 1985. Almarhum meninggal pada usia 61 tahun.

Kariernya di lingkungan PT Kaltim Industrial Estate (KIE) setidaknya tercatat sejak 2001. Ia mengawali sebagai Kepala Bagian Keuangan hingga 2005, kemudian Kepala Bagian Korporasi pada 2005–2006.

Kariernya berlanjut sebagai Kepala Bagian Audit Internal pada 2007–2008, lalu Wakil Kepala Divisi Umum dan SDM pada 2008–2009.

Jadi, perjalanan profesionalnya tidak langsung dimulai dari perhotelan. Ia pernah menangani keuangan, korporasi, audit hingga sumber daya manusia.

Baru pada 2009, Sutikno dipercaya menjadi Direktur Operasional PT Bintang Sintuk. Posisi itu dijalaninya hingga 2017, sekitar delapan tahun.

Pada masa inilah saya cukup sering berhubungan dengannya karena pekerjaan di perusahaan media yang saya kembangkan di Bontang. Beberapa kali kami berdiskusi mengenai kondisi bisnis perhotelan dan perkembangan daerah.

Pada 2015, misalnya, ia pernah mengungkap kondisi tingkat hunian Hotel Sintuk yang turun. Dari sekitar 70 persen pada 2014 menjadi 40–50 persen pada Januari hingga Juli 2015.

Saat itu ia juga sudah bicara soal pentingnya pariwisata. Menurutnya, Bontang perlu mengembangkan sektor tersebut karena akan ikut menggerakkan hotel, restoran dan perekonomian daerah.

Setelah sekitar delapan tahun di Bintang Sintuk, kariernya berlanjut. Pada 2017, ia kembali berada di struktur KIE sebagai Kepala Divisi Umum dan SDM. Kemudian, pada 2 Oktober 2017, dipercaya menjadi Sekretaris Perusahaan PT Kaltim Industrial Estate.

Pada periode yang hampir bersamaan, ia juga ikut menangani Hotel Equator. Namanya pada 2017 tercatat sebagai Ketua Tim Task Force Hotel Equator. Setahun kemudian, ia juga tercantum dalam struktur yang menangani unit Hotel Equator di KIE.

Baca Juga:  CNN, Istana, dan Kebebasan Pers yang Terancam

Dari Sintuk, Equator hingga KIE, perjalanan itu kemudian membawanya kembali ke dunia perhotelan.

Ada satu catatan lama yang saya baca kembali malam ini. Pada 5 Agustus 2020, Media Kaltim pernah memuat pernyataan Sutikno. Saat itu Media Kaltim bahkan belum genap berusia satu tahun.

Ia menyambut kehadiran Media Kaltim dan berharap kami bisa memberikan informasi positif kepada masyarakat. Ada satu pesan yang disampaikannya saat itu, yakni ikut mendorong perkembangan pariwisata Bontang dan Kaltim.

Menurutnya, sumber daya alam seperti batu bara dan gas memiliki keterbatasan. Sementara pariwisata bisa menjadi salah satu sumber pendapatan daerah jika dikelola dengan baik.

Enam tahun berlalu. Setelah perjalanan panjang di KIE, Hotel Sintuk dan Hotel Equator, ia kembali ke dunia perhotelan. Terakhir, saya mengenalnya sebagai General Manager Grand Mutiara Hotel Bontang.

Media Kaltim juga pernah bekerja sama dengan Grand Mutiara. Dari sana komunikasi kami kembali terjalin. Terakhir saya bertemu dengannya beberapa bulan lalu.

Kami berbincang seperti biasa. Tidak ada yang membuat saya berpikir bahwa pertemuan itu akan menjadi salah satu pertemuan terakhir.

Setelah itu komunikasi kami memang tidak terlalu intens. Sampai beberapa hari lalu Pak Darman memberi kabar tentang kondisi kesehatannya.

Ada satu sisi lain yang tidak bisa dilepaskan dari sosok Sutikno, yakni kedekatannya dengan warga Jawa.

Lahir di Nganjuk dan menempuh pendidikan menengah di Kertosono, sebagian besar perjalanan profesionalnya justru berlangsung di Bontang. Meski puluhan tahun tinggal dan bekerja di Kaltim, kedekatannya dengan tanah kelahiran tetap terjaga.

Ia cukup akrab dengan lingkungan warga Jawa di Bontang. Beberapa kali hadir dan berkumpul bersama tokoh maupun warga Jawa. Saya juga beberapa kali melihatnya berada di lingkungan IKA Pakarti Bontang.

Baca Juga:  Dari Wisuda STITEK Bontang (4–Habis): Kampus Teknologi, Ikhtiar Jadi ITB-nya Indonesia Bagian Timur

Itu pula yang terasa ketika kabar meninggalnya menyebar malam ini. Di grup UMKM & Dolor Jowo, ia disebut “Mas Sutikno Nganjuk”. Orang langsung tahu siapa yang dimaksud.

Nganjuk memang tidak pernah jauh darinya. Di tengah perjalanan panjang di Bontang, nama tanah kelahirannya tetap melekat. Dan akhirnya, almarhum berpulang di Nganjuk, tempat perjalanan hidupnya dimulai 61 tahun lalu.

Sementara Bontang menjadi tempat sebagian besar perjalanan kariernya. Dari keuangan, korporasi, audit, SDM, Hotel Bintang Sintuk, KIE, Hotel Equator hingga terakhir Grand Mutiara. Lebih dari dua dekade jejak profesionalnya tercatat di kota ini.

Tentu banyak orang memiliki kenangan berbeda tentang almarhum.

Karyawan mengenalnya sebagai pimpinan. Orang-orang KIE mengenalnya sebagai bagian dari perjalanan perusahaan. Pelaku perhotelan mengenalnya dari Sintuk, Equator hingga Grand Mutiara. Warga Jawa Bontang mengenalnya sebagai kawan yang kerap hadir dan berkumpul bersama.

Saya mengenangnya sebagai sahabat. Orang yang ramah dan mudah diajak bicara sejak pertama kali saya mengenalnya di Hotel Bintang Sintuk.

Malam ini, perjalanan panjang itu selesai.

Terima kasih, Pak Tikno, atas pertemanan selama ini. Terima kasih pernah memberikan dukungan kepada Media Kaltim ketika kami masih sangat muda. Terima kasih pula untuk berbagai pertemuan, obrolan dan kerja sama selama di Bontang.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Semoga Allah SWT mengampuni segala khilaf almarhum, menerima seluruh amal ibadahnya dan memberikan tempat terbaik di sisi-Nya. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan. Selamat jalan, Pak Sutikno. Husnul khatimah.

Oleh: Agus Susanto

Disclaimer

Redaksi Radarbontang.com tunduk pada Kode Etik Jurnalistik dan Undang-Undang Pers No. 40 Tahun 1999. Setiap berita yang dipublikasikan adalah hasil kerja jurnalistik. Hak jawab dan hak koreksi dapat diajukan melalui email: redaksi@radarbontang.com.