Pembangunan Jangan Hanya Kejar Ekonomi, Ruang Ekologis Harus Dilindungi

SAMARINDA – Pegiat lingkungan Samarinda Misman mengkritik pembangunan dan pemanfaatan ruang yang dinilainya masih terlalu berorientasi pada kepentingan ekonomi. Fungsi ekologis kawasan, menurut dia, harus diperhitungkan sejak tahap perencanaan agar pembangunan tidak memperbesar risiko banjir dan kekeringan.

Misman mengatakan pemerintah tidak cukup hanya bergerak ketika bencana terjadi. Pencegahan harus dilakukan dengan menjaga ruang-ruang yang memiliki fungsi ekologis, mulai dari hutan, bukit, lembah, rawa, sungai hingga daerah aliran sungai (DAS).

“Karena kemarau dan kebanjiran secara alami akan datang. Saran saya untuk pemerintah dan masyarakat, kalau menggunakan ruang untuk pembangunan seperti hutan, bukit, lembah, rawa, sungai harus mempertimbangkan kompensasi ekologi,” ujar Misman, Sabtu (29/8/2026).

Menurut dia, kompensasi ekologi tidak boleh berhenti sebagai konsep. Pemerintah perlu menerjemahkannya ke dalam kebijakan dan pelaksanaan pembangunan di lapangan.

“Mungkin begitu secara umumnya. Kemudian memang harus direalisasikan secara teknis atau faktual di lapangan,” katanya.

Salah satu yang menjadi perhatian Misman adalah pengelolaan Sungai Karang Mumus (SKM). Penanganan sungai, menurut dia, tidak cukup dilakukan pada badan sungai, tetapi harus mencakup seluruh ruang sungai dan DAS.

Baca Juga:  Pemkab Kubar Tutup Festival Ramadan 1447 H di Melak

Misman menyebut DAS Karang Mumus memiliki luas sekitar 322 kilometer persegi. Kondisi kawasan tersebut perlu dijaga karena berperan dalam mengatur tata air.

“Dalam merawat sungai, tidak hanya badan sungainya yang diperhatikan, tetapi juga harus memperhatikan ruang sungai atau DAS. Misalnya Sungai Karang Mumus luas DAS-nya sekitar 322 kilometer persegi, apakah DAS tersebut masih utuh,” ujarnya.

Ia mengingatkan kerusakan DAS tidak hanya berdampak pada kondisi sungai. Berkurangnya kemampuan kawasan menyerap, menyimpan dan mengatur air juga dapat meningkatkan risiko kekeringan saat kemarau dan banjir ketika curah hujan tinggi.

“Sebab rusaknya DAS akan berdampak kekeringan dan kebanjiran,” tegasnya.

Karena itu, Misman meminta pemerintah melihat banjir dan kekeringan sebagai bagian dari persoalan tata ruang dan pengelolaan lingkungan secara menyeluruh. Pembangunan fisik dan pertumbuhan ekonomi tetap harus mempertimbangkan daya dukung lingkungan.

Misman selama ini aktif dalam upaya menjaga Sungai Karang Mumus melalui Gerakan Memungut Sehelai Sampah Sungai Karang Mumus (GMSS-SKM) sejak 2015. Wartawan senior tersebut menerima Anugerah Kalpataru 2023 kategori Perintis Lingkungan.

Baca Juga:  Forum Musrenbang Mahulu Fokus Sinkronisasi Aspirasi dan Program Daerah

Menurut Misman, pemanfaatan kawasan yang memiliki fungsi ekologis harus disertai upaya mempertahankan atau mengganti fungsi lingkungan yang hilang. Tanpa langkah tersebut, dampak perubahan tata ruang pada akhirnya akan dirasakan masyarakat. (MK)

Pewarta: Hanafi
Editor: Agus S.

Disclaimer

Redaksi Radarbontang.com tunduk pada Kode Etik Jurnalistik dan Undang-Undang Pers No. 40 Tahun 1999. Setiap berita yang dipublikasikan adalah hasil kerja jurnalistik. Hak jawab dan hak koreksi dapat diajukan melalui email: redaksi@radarbontang.com.