Haji Isam Membeli “Gajah” Bayan? Ternyata Pertemuan Itu Bicara Kereta Api

Senin (17/8) pagi ini saya membaca tulisan Dahlan Iskan. Isinya mengejutkan. Dahlan menulis, sebanyak 62 persen saham PT Bayan Resources Tbk sudah beralih ke Haji Isam melalui perusahaannya, PT Jhonlin. Nilainya disebut sekitar Rp300 triliun.

Tentu saya tertarik. Semua orang tahu H Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam bukan pengusaha kecil. Bisnisnya besar. Batu bara, perkebunan, biodiesel, transportasi dan berbagai usaha lainnya.

Tetapi yang disebut dibeli juga bukan perusahaan kecil. Ini Bayan!

Kemarin saya menulis soal isu ini. Informasi yang saya peroleh ketika itu berbeda. Pembicaraan antara pihak Haji Isam dengan lingkungan Bayan memang ada. Angka sekitar 62 persen juga sempat menjadi pembicaraan.

Tetapi belum ada informasi yang meyakinkan saya bahwa saham mayoritas Bayan benar-benar dilepas.

Hari ini saya kembali mencari informasi. Muhammad Abduh Kuddu, Redaktur Pelaksana (Redpel) kami, akhirnya berhasil menghubungi Syahbudin Noor, General Affairs PT Bayan Resources Tbk. Ia termasuk orang yang cukup mengetahui aktivitas perusahaan, terutama di Kaltim.

Saya minta Abduh menggali lebih jauh soal pertemuan Haji Isam dengan Datuk Low Tuck Kwong. Foto pertemuan itu juga dimuat dalam tulisan Dahlan.

Syahbudin membenarkan pertemuan tersebut memang ada. Keinginan membeli saham Bayan, menurut dia, juga bukan cerita baru.

Bukan hanya Haji Isam yang tertarik. Ada sejumlah pengusaha lain, termasuk yang kemampuan finansialnya lebih besar, yang juga tertarik terhadap Bayan.

Wajar. Siapa yang tidak tertarik?

Bayan memiliki cadangan batu bara yang masih panjang. Menurut Syahbudin, bisa sekitar 30 tahun lagi. Infrastruktur pertambangannya juga sudah dibangun luar biasa besar.

Baca Juga:  Rehabilitasi Ira Puspadewi: Ketika Keputusan Bisnis Diadili Seperti Kejahatan

Tabang bukan lagi sekadar kawasan tambang. Ada jalan yang membentang sangat panjang. Ada fasilitas logistik. Ada bandara. Ada fasilitas untuk masyarakat. Termasuk banyak masjid dan gereja. Pembangunan di kawasan itu memang luar biasa.

IMG 20260817 WA0168
Pertemuan Datuk Low Tuck Kwong dengan Haji Isam yang disebut membahas rencana pembangunan kereta api menuju Tabang. (Istimewa)

Namun, ada cerita berbeda dari Syahbudin mengenai pertemuan Datuk Low dan Haji Isam.

Menurut dia, pertemuan itu bukan membicarakan pelepasan saham Bayan. Yang dibicarakan justru rencana pembangunan kereta api.

Rencananya dari kawasan Marangkayu, Kutai Kartanegara (Kukar), menuju Tabang. Nantinya konektivitas itu akan diteruskan ke arah Kalimantan Tengah (Kalteng).

Haji Isam disebut memiliki konsesi yang lokasinya berdekatan dengan rencana jalur tersebut. Karena itu ia ingin bergabung dalam pembangunan infrastrukturnya.

Nah. Kalau keterangan Syahbudin ini benar, lantas dari mana cerita 62 persen itu?

Syahbudin menduga sudah banyak “gorengan” broker. Maklum, Bayan memang banyak yang mengincar.

Saya bisa pahami itu. Bayan terlalu seksi.

Produksinya puluhan juta ton setahun. Cadangannya masih panjang. Infrastruktur sudah tersedia. Perusahaan ini juga menghasilkan laba sangat besar.

Kalau pemiliknya memberi sedikit saja sinyal membuka pintu, saya kira yang antre bukan satu-dua orang. Bukan hanya Haji Isam.

Abduh kemudian menghubungi Lim Chai Hock, Direktur PT Bayan Resources Tbk. Lim bukan orang baru di Bayan. Ia juga salah satu pemegang saham perusahaan.

Jawabannya singkat. Ia hanya menegaskan, kalau nantinya memang ada pelepasan saham, termasuk berapa nilainya, tentu akan disampaikan kepada publik.

Tidak ada konfirmasi bahwa 62 persen saham sudah beralih ke Haji Isam.

Tetapi ia juga tidak mengatakan bahwa saham Bayan tidak mungkin dijual. Ya, kita tunggu saja. Toh Bayan perusahaan terbuka.

Baca Juga:  Semangat Tak Berhenti di Garis Finis: Jejak 5 Tahun Media Kaltim di Jantung Ibu Kota Nusantara

Ada hal lain yang justru membuat saya berpikir soal angka Rp300 triliun yang ditulis Dahlan. Mungkinkah semut membeli gajah?

Jangan salah paham. Saya sama sekali tidak mengatakan Haji Isam pengusaha kecil. Kerajaan bisnis Jhonlin besar. Sangat besar.

Tetapi Bayan juga bukan perusahaan sembarangan. Kalau 62 persen sahamnya bernilai sekitar Rp300 triliun, tentu pertanyaan berikutnya, uangnya dari mana?

Tunai? Pinjaman? Konsorsium? Dibayar bertahap? Atau ada skema lainnya?

Saya tidak tahu. Dahlan pun menulis belum bisa menjelaskan bagaimana skenario transaksinya.

Tentu bukan mustahil perusahaan yang lebih kecil membeli perusahaan jauh lebih besar. Dalam bisnis banyak caranya. Bisa pinjaman, konsorsium atau skema lainnya.

Jadi semut bisa saja membeli gajah. Asal ada yang membantu mengangkat gajahnya.

Soal Bayan menjual aset, sebenarnya memang ada.

Ini yang juga saya tulis sebelumnya. Bayan memiliki PT Perkasa Inakakerta (PIK) di Kutai Timur (Kutim). Data publik terakhir masih mencatat Bayan menguasai 100 persen perusahaan tersebut.

PIK memegang konsesi batu bara seluas 19.050 hektare. Luasnya sekitar 190 kilometer persegi. Masa izinnya tercatat hingga Maret 2037.

Lokasinya berada di Kutim dengan tiga blok utama, yakni Sepaso, Beruang dan Narut. Batu bara yang dihasilkan berjenis *sub-bituminous* dengan nilai kalori sekitar 4.600–4.700 kcal/kg GAR.

Dari awal, informasi yang saya dapat memang mengarah ke aset Kutim tersebut.

Syahbudin kali ini juga membenarkan bahwa tambang Bayan di Kutim itu telah dilepas. Namun, menurut dia, pembelinya bukan kelompok Haji Isam. Ia menyebut Hashim Djojohadikusumo, adik Presiden Prabowo Subianto.

Baca Juga:  Dari Buka Puasa Bersama, Awal Kerja Forum DAS Kaltim

Ini tentu menarik. Berarti memang ada transaksi aset Bayan. Tetapi yang dilepas adalah tambang di Kutim, bukan 62 persen saham Bayan seperti isu yang sekarang berkembang.

Menariknya, data publik terakhir masih mencatat PIK 100 persen milik Bayan. Berarti proses peralihannya memang belum terlihat di atas kertas.

Sementara itu, Tabang lain cerita. Cadangannya masih panjang. Infrastruktur sudah terbangun. Produksinya besar dan labanya juga besar. Wajar kalau banyak yang mengincarnya.

Kebetulan, di tengah cerita “gajah” Bayan ini, ada gajah sungguhan yang sedang menuju Tabang.

Bayan sedang mendapatkan hibah dua gajah dari Kebun Binatang Gembira Loka Yogyakarta untuk kawasan konservasi satwa yang sedang dikembangkan di Tabang.

Saya mengetahui sedikit prosesnya karena salah satu sumber saya mendapat kepercayaan membantu penanganan gajah sekaligus menjadi konsultan pengembangan kawasan tersebut.

Informasi terakhir yang saya terima, dua gajah itu sudah menyeberang ke Kalimantan dan sempat berada di Kalimantan Selatan. Hari ini, Senin (17/8), rencananya tiba di Balikpapan sebelum melanjutkan perjalanan ke Tabang.

Mungkin itu juga yang membuat pertanyaan ini muncul di kepala saya ketika membaca kabar 62 persen saham Bayan sudah dibeli Haji Isam.

Mungkinkah semut membeli gajah?

Bisa saja. Tetapi sampai hari ini, manajemen Bayan yang kami hubungi belum mengatakan gajah itu sudah terjual.

Yang justru sudah hampir sampai di Balikpapan adalah dua gajah dari Gembira Loka. (*)

Oleh: Agus Susanto

Disclaimer

Redaksi Radarbontang.com tunduk pada Kode Etik Jurnalistik dan Undang-Undang Pers No. 40 Tahun 1999. Setiap berita yang dipublikasikan adalah hasil kerja jurnalistik. Hak jawab dan hak koreksi dapat diajukan melalui email: redaksi@radarbontang.com.