TENGGARONG – Isu pengurangan tenaga kerja di lingkungan perusahaan tambang Bayan Resources mulai mencuat di Kutai Kartanegara (Kukar). Forum Mahasiswa Hulu meminta perusahaan memberikan penjelasan terbuka, terutama terkait dugaan pengurangan karyawan lokal secara bertahap.
Ketua Forum Mahasiswa Hulu M Ibnu Ridho mengatakan, informasi tersebut perlu segera diklarifikasi agar tidak berkembang menjadi keresahan di tengah masyarakat.
Menurutnya, persoalan tenaga kerja menjadi sensitif karena sebagian besar aktivitas utama Bayan Resources berada di wilayah Hulu Kukar. Masyarakat setempat memiliki kepentingan langsung terhadap keberadaan perusahaan, terutama dalam kesempatan kerja dan perputaran ekonomi.
“Kami sebagai pemuda asli Hulu Kutai Kartanegara sangat kecewa kalau dugaan ini benar terjadi,” kata Ridho.
Ia meminta perusahaan membuka kondisi sebenarnya terkait jumlah pekerja lokal yang masih bekerja maupun apabila memang terdapat pengurangan tenaga kerja.
Menurut Ridho, keterbukaan diperlukan agar masyarakat tidak hanya memperoleh informasi dari kabar yang berkembang di lapangan.
“Saya meminta adanya informasi maupun klarifikasi dari PT BR bahwasanya hari ini tidak ada masyarakat lokal yang dikurangi maupun diberhentikan,” ujarnya.
Sorotan Forum Mahasiswa Hulu tidak berhenti pada persoalan tenaga kerja.
Ridho juga meminta perusahaan membuka informasi mengenai pelaksanaan reklamasi sesuai dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), termasuk program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR di sekitar wilayah operasional.
Menurutnya, tiga persoalan tersebut saling berkaitan. Aktivitas pertambangan yang berlangsung dalam skala besar semestinya memberikan dampak yang dapat dirasakan masyarakat di sekitar tambang.
Ridho menyebut Bayan sebagai salah satu perusahaan batu bara besar yang memiliki aktivitas pertambangan luas di Kukar.
“PT BR ini adalah perusahaan batu bara terbesar nomor dua di Indonesia dan konsesi maupun lokasi beroperasinya paling besar di Kutai Kartanegara,” kata Ridho.
Karena itu, ia mempertanyakan apabila perusahaan justru mengurangi tenaga kerja lokal di tengah aktivitas pertambangan yang masih berjalan.
Bagi Forum Mahasiswa Hulu, persoalan tersebut bukan sekadar menyangkut beberapa pekerja yang kehilangan pekerjaan. Jika pengurangan benar terjadi dalam jumlah besar, dampaknya dapat merembet kepada ekonomi masyarakat di sekitar wilayah tambang.
Pekerja tambang memiliki keluarga. Aktivitas perusahaan juga menggerakkan kontraktor, transportasi, penyedia barang dan jasa hingga usaha masyarakat di kawasan hulu.
Karena itu, Ridho meminta Bayan memberikan penjelasan sebelum isu tersebut berkembang lebih jauh.
Forum Mahasiswa Hulu juga memberikan waktu kepada perusahaan untuk merespons permintaan tersebut. Jika tidak ada klarifikasi, mereka mempertimbangkan menggelar aksi demonstrasi.
“Kalau tidak ada klarifikasi kami akan turun ke jalan karena kami menganggap kalau ini betul memang terjadi, hak-hak masyarakat Kutai Kartanegara terutama daerah Hulu memang hanya sekadar dipandang sebelah mata saja,” tegasnya.
Namun hingga berita ini disusun, informasi mengenai pengurangan karyawan lokal masih berasal dari pernyataan Forum Mahasiswa Hulu.
Belum terdapat keterangan resmi dari Bayan Resources yang memastikan apakah pengurangan tenaga kerja memang terjadi, berapa jumlah pekerja yang terdampak, serta berapa di antaranya merupakan tenaga kerja lokal.
Klarifikasi perusahaan menjadi penting untuk memastikan persoalan tersebut sekaligus menjelaskan kondisi operasional dan kebijakan ketenagakerjaan Bayan di wilayah Hulu Kukar.
Forum Mahasiswa Hulu menyatakan akan menunggu penjelasan tersebut, termasuk keterbukaan mengenai reklamasi dan pelaksanaan CSR perusahaan di wilayah operasinya.
Penulis: Ady Wahyudi
Editor: Agus S.




