Oleh:
Rahmi Surainah, M.Pd
Alumni Pascasarjana Unlam Banjarmasin
Hasil Survei Perilaku Remaja Kota Bontang Tahun 2025 mengungkap kondisi yang perlu menjadi perhatian serius masyarakat, khususnya terkait kesehatan mental generasi muda. Hal ini dipaparkan dalam analisis permasalahan remaja yang paling mengkhawatirkan di Pendopo Rumah Jabatan Wali Kota, Rabu (8/4/2026).
Dalam paparannya, terungkap bahwa banyak remaja di Bontang mengalami kecemasan dan ketakutan berlebih. Tidak hanya itu, sejumlah perilaku berisiko juga mulai muncul di kalangan pelajar yang berpotensi memengaruhi masa depan mereka jika tidak segera ditangani. Pemerintah Kota Bontang pun mendorong langkah konkret, seperti penguatan edukasi kesehatan mental dan reproduksi, serta peningkatan literasi digital untuk mengantisipasi dampak negatif media sosial (medsos).
Kesehatan mental remaja akibat penggunaan medsos sebenarnya juga disorot secara nasional bahkan global sehingga wacana pembatasan pun mulai digaungkan pemerintah pusat. Di provinsi Kaltim sendiri melalui Kementerian Agama RI (Kemenag) berencana memberlakukan pembatasan penggunaan medsos bagi pelajar di bawah usia 16 tahun. Namun, implementasi kebijakan tersebut di wilayah kabupaten/kota belum sepenuhnya jelas.
Secara global, negara lain sudah memberlakukan pembatasan gadget/hp, game online dan medsos. Beberapa negara yang memberlakukan pelarangan atau pembatasan ketat pada game online tertentu di antaranya China, Turki, Rusia, India, Irak, dan Korea Utara. Sedangkan medsos salah satunya Australia. Lantas bagaimana Indonesia? Sepertinya sudah disorot dan mulai ada wacana pembatasan usia, namun solutifkah itu?
Medsos Senjata Perang Pemikiran
Tidak dapat dipungkiri fenomena gangguan kesehatan mental ini buah dari kebebasan anak dalam mengakses medsos sehingga berpengaruh ke perilaku. Penggunaan medsos bukan hanya sekedar selingan, tapi sudah menjadi lifestyle di kalangan anak muda. Dunia maya atau digitalisasi ini sudah jadi kebutuhan tak lagi kesenangan.
Dari gadget alias medsos ada yang menghasilkan uang sebagai konten kreator atau influencer, gamers, e-sport, dan sarana dakwah. Artinya pembatasan akses sosmed tidaklah solutif karena dari sana perang pemikiran kebaikan dan kebatilan terjadi.
Di sinilah generasi muda di era digital dan media sosial memiliki posisi unik. Bayangkan dia bisa berperan sebagai subjek sekaligus objek digitalisasi.
Sebagai subjek, generasi muda mampu menciptakan konten berupa video, tulisan, atau karya kreatif lainnya. Mereka juga bisa menjadi penggerak dalam tren digital, serta aktivis di ruang digital yang menyuarakan isu sosial, politik, ekonomi, pendidikan, dan sebagainya. Mereka pun bisa berinovasi mengembangkan teknologi.
Selanjutnya sebagai objek digital, generasi muda kerap menjadi sasaran atau target pasar industri digital. Misalnya iklan, produk, dan layanan. Mereka juga menjadi konsumen informasi yang sangat besar, baik positif maupun negatif. Dengan dua peran ganda tersebut membuat generasi muda berdaya sekaligus rentan.
Mereka berdaya jika diarahkan pada paradigma yang benar dan bermanfaat bagi masyarakat luas. Namun, rentan jika terpengaruh paradigma ideologi kapitalisme sekuler yang jelas memberi dampak buruk bagi generasi muda.
Demikianlah tanpa literasi digital yang benar, generasi muda sangat mudah terjebak dalam informasi yang menyesatkan. Tanpa paradigma Islam, generasi muda akan menjadi target dan sasaran ideologi sekuler yang menjauhkan mereka dari pemahaman Islam yang sahih.
Jadi, siapa pun terutama generasi yang masuk ke ruang digital harus memiliki fondasi ideologis yang kuat yakni Islam agar tak tergerus di era digital dan sistem kehidupan kapitalis sekuler.
Generasi Terjaga dengan Islam
Generasi yang memiliki kesadaran Islam yang kuat tidak mudah dikendalikan oleh platform digital korporasi besar. Generasi pelopor perubahan, yakni penerus risalah Islam didapat dari pembinaan pemikiran dan kepribadian Islam di dunia nyata. Tidak hanya berdakwah di dunia nyata, mereka pun tetap istiqomah menyuarakan kebenaran di ruang digital.
Tegaknya peradaban Islam tidak lepas dari peran besar generasi muda. Mereka menjadi pilar kebangkitan, penggerakan perubahan, dan motor perjuangan, sejak masa Rasulullah Saw hingga generasi setelahnya. Keimanan yang kukuh, semangat juang yang tinggi, keberanian, dan pengorbanan menjadikan Islam tersebar luas ke berbagai penjuru dunia.
Generasi muda dalam Islam bukan sekadar penonton sejarah, tetapi pelaku utama yang kembali menulis lembaran kejayaan umat. Masa muda bukan waktu untuk bersenang-senang, melainkan masa perjuangan dan pembuktian iman.
Demikianlah ketika Islam jadi pola pikir dan sikap maka solutif menjaga kesehatan mental generasi, apalagi jika diterapkan dalam sistem kehidupan.
Digitalisasi sudah tidak bisa dipisahkan dari kehidupan saat ini. Mari menjadi generasi pelopor perubahan penerus risalah Islam di dunia nyata mampu ruang digital.
Wallahu’alam.




