SENDAWAR – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) semakin pekat menyelimuti Kutai Barat (Kubar). Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) pada Sabtu (29/8/2026) sore mencapai 219 atau masuk kategori sangat tidak sehat.
Pantauan di kawasan Sendawar menunjukkan kabut asap cukup pekat di sepanjang Jalan Gajah Mada hingga Jalan A.W.L. Senopati, Kecamatan Barong Tongkok. Jarak pandang di sejumlah titik diperkirakan hanya sekitar 500 meter.
Berdasarkan data Pemkab Kubar sekitar pukul 16.00 WITA, parameter PM2.5 tercatat pada indeks 219, sedangkan PM10 berada di angka 162. Kondisi tersebut meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi anak-anak, ibu hamil, lansia, serta masyarakat dengan penyakit bawaan.
Kepala Pelaksana BPBD Kubar Yudianto Rihartono mengatakan pemerintah daerah telah mengambil langkah kesiapsiagaan menghadapi karhutla, kekeringan, dan memburuknya kualitas udara.
“Salah satunya menerbitkan Surat Edaran Pemerintah Kabupaten Kutai Barat melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah Nomor 300.2/3753/BPBD-TU.P/VII/2026 tentang kesiapsiagaan terhadap siaga darurat kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Kutai Barat Tahun 2026,” ujar Yudianto, Minggu (30/8/2026).
Tekanan karhutla juga terlihat dari banyaknya titik panas yang terdeteksi. Berdasarkan data satelit Sipongi periode 1–26 Agustus 2026, terdapat 801 hotspot di wilayah Kubar.
Muara Pahu menjadi kecamatan dengan jumlah hotspot terbanyak, mencapai 213 titik. Berikutnya Bongan 113 titik, Jempang 105 titik, Damai 95 titik, dan Penyinggahan 80 titik.
“Lima besar kecamatan hotspot tertinggi adalah Kecamatan Muara Pahu sebanyak 213 titik, kemudian Kecamatan Bongan terdapat 113 titik, Kecamatan Jempang 105 titik, Kecamatan Damai 95 titik, dan Kecamatan Penyinggahan 80 titik,” kata Yudianto.
Menurut dia, tingginya aktivitas karhutla selama Agustus turut memicu kabut asap yang kini mengganggu aktivitas masyarakat.
Pemeriksaan kualitas udara dalam ruangan dengan parameter PM2.5 dan PM10 juga menunjukkan hasil di atas ambang batas. Pemerintah meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama kelompok rentan terhadap paparan partikel halus.
Warga diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kualitas udara masih buruk dan menggunakan masker apabila terpaksa keluar rumah.
“Tetap gunakan masker saat berada di luar rumah. Jika tidak mendesak, sebaiknya tetap di dalam rumah dan tutup rapat pintu serta jendela,” ujarnya.
Yudianto juga meminta masyarakat tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran baru.
“Hindari pembakaran sampah atau lahan. Mari jaga lingkungan kita agar kabut asap tidak semakin parah,” katanya.
Ia mengingatkan masyarakat ikut menjaga kawasan hutan dan lahan selama kondisi kemarau.
“Kepada semua masyarakat untuk saling menjaga hutan kita, bumi kita, apalagi di tengah situasi El Nino,” ujarnya. (MK)
Pewarta: Ichal
Editor: Agus S.




