TENGGARONG – Jalan Jenderal Sudirman di Dusun Margasari, Desa Jembayan, Kecamatan Loa Kulu, Kutai Kartanegara (Kukar), kembali ambles hingga akses Tenggarong–Loa Janan terputus total.
Badan jalan yang merupakan bagian dari ruas poros Tenggarong–Loa Janan tersebut mengalami penurunan hingga sekitar tiga meter dan sebagian telah terendam air. Seluruh kendaraan roda empat, kendaraan berat, hingga alat berat dilarang melintas.
Untuk sementara, arus kendaraan dari Tenggarong menuju Loa Janan maupun sebaliknya dialihkan melalui Kota Samarinda.
Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setkab Kukar Muhammad Iriyanto meminta masyarakat tidak memaksakan diri melintasi badan jalan yang rusak.
“Meskipun ada jalan alternatif, itu khusus untuk warga lokal setempat,” kata Iriyanto, Sabtu (15/8/2026).
Menurutnya, pemerintah bersama unsur terkait masih mencari jalur pengalihan yang dapat digunakan untuk memperlancar mobilitas masyarakat dan distribusi barang.
Kepala Bidang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) Dishub Kukar Irwan mengatakan, pengalihan melalui Samarinda berlaku bagi kendaraan dari Loa Janan menuju Tenggarong maupun sebaliknya.
“Jadi untuk sementara untuk pengalihan arus dari kendaraan dari arah Loa Janan itu akan melewati Kota Samarinda. Begitu juga nanti arus kendaraan dari arah Tenggarong juga akan melewati Kota Samarinda,” ujarnya.
Untuk kendaraan roda dua, terdapat jalur lokal yang masih dapat digunakan secara terbatas.
Kapolsek Loa Kulu AKP Hari Supranoto mengatakan jalur tersebut hanya memungkinkan dilewati kendaraan roda dua dari kedua arah.
“Mungkin tambahan untuk jalur alternatif yang sedang kita pikirkan. Namun yang bisa melintas hanya roda 2, baik dari arah Tenggarong maupun Loa Janan,” katanya.
Salah satu akses bagi warga lokal adalah melalui Gang Kenanga di RT 04 Dusun Margasari, kemudian menuju Gang Pama hingga kawasan Pasar Margasari.
Namun, jalur tersebut sempit dan bukan jalur pengganti bagi kendaraan roda empat.
Hari juga mengingatkan masyarakat agar tidak memanfaatkan kondisi darurat dengan melakukan pungutan liar di jalur alternatif.
“Sehingga jalur yang nantinya ditentukan sebagai alternatif, tolong jangan sampai ada pungli,” tegasnya.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kukar Wiyono mengatakan, kondisi badan jalan alternatif yang sempit menjadi salah satu kendala.
“Karena jalan alternatifnya itu sempit, jadi jalan alternatifnya ini kalau dua kendaraan lewat itu nggak bisa,” ujarnya.
Karena itu, pemerintah masih mengandalkan pengalihan melalui Samarinda untuk kendaraan roda empat dan kendaraan besar.
Ruas Jalan Jenderal Sudirman di kawasan Margasari merupakan jalan nasional yang berada dalam kewenangan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Kalimantan Timur.
Kerusakan di kawasan tersebut bukan kali pertama terjadi. Pada 2019, longsor menyebabkan sedikitnya lima rumah warga di tepian Sungai Mahakam terdampak.
Pada Agustus 2023, longsor kembali terjadi di sekitar lokasi yang sama hingga sebuah bengkel motor ikut terbawa ke Sungai Mahakam.
Penanganan terhadap kerusakan sebelumnya rampung sekitar Februari 2025 dengan pemasangan turap baja pada ruas sepanjang sekitar 100 meter.
Kasatker BBPJN Kaltim Dedi Junaedi mengatakan, pekerjaan tersebut telah memasuki tahap Final Hand Over (FHO) pada 17 Januari 2026. Artinya, masa pemeliharaan pekerjaan telah selesai.
BBPJN kini kembali menyiapkan penanganan darurat. Selain memasang CCTV untuk memantau kondisi lokasi, jembatan sementara jenis Bailey juga akan dimobilisasi.
“Kami berupaya sekarang ini agar akses ini bisa segera difungsikan dengan mencoba memobilisasi Jembatan Bailey,” kata Dedi.
Ia menargetkan tim mulai bergerak dalam waktu dekat setelah proses pengangkutan Jembatan Bailey menuju lokasi dilakukan.
“Insyaallah nanti minggu depan kami sudah bergerak karena sekarang ini mencoba pengangkutan Jembatan Bailey ke mari,” ujarnya.
Iriyanto menegaskan pemerintah belum menetapkan jalur pengganti yang dapat digunakan seluruh jenis kendaraan.
“Dalam waktu dekat akan kami informasikan perkembangan terkini supaya bisa ada alternatif jalan yang melancarkan arus orang dan barang,” katanya.
Warga setempat, Rozikin, mengatakan retakan sudah terlihat sejak beberapa hari sebelumnya. Penurunan badan jalan semakin parah menjelang subuh pada Sabtu.
“Pas subuh, jadi orang pas subuhan itu kan mulai dia teturun. Dari malam itu sudah bunyi sudah keretek-keretek. Namanya sekitar jam 04.30 atau jam 05.00 pagi tadi,” ujarnya.
Jalan sempat masih dapat dilintasi hingga pagi. Namun, setelah kondisi semakin parah dan air mulai pasang, akses kemudian ditutup total.
“Jam 07.00-an lah jalannya ditutup sudah ini,” katanya.
Penulis: Ady Wahyudi
Editor: Agus S.




