Karhutla Bantuas Tembus 50 Hektare, Pembukaan Lahan Diduga Jadi Pemicu

SAMARINDA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kelurahan Bantuas, Kecamatan Palaran, terus meluas. Sejak awal Agustus hingga Rabu (26/8/2026), luas lahan yang terdampak diperkirakan telah menembus 50 hektare lebih.

Api tidak muncul dalam satu kejadian. Kebakaran berulang terjadi di sejumlah titik, termasuk kawasan semak belukar, lahan gambut hingga perbukitan yang sulit dijangkau kendaraan pemadam.

Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kota Samarinda bersama relawan kembali melakukan pemadaman, Rabu. Personel harus dibagi ke sejumlah sektor untuk mencegah api terus merambat.

Anggota TRC BPBD Kota Samarinda, Nusa Indah, mengatakan kebakaran di Bantuas sudah berulang kali terjadi sejak awal Agustus.

“Untuk di Bantuas ini sudah beberapa kali terjadi kebakaran lahan sejak awal Agustus. Awalnya titik api masih kecil, tetapi belakangan membesar. Ada dua kejadian besar sebelumnya yang masing-masing menghanguskan sekitar 15 hektare,” kata Nusa di lokasi.

Dua kebakaran besar itu saja telah menghanguskan sekitar 30 hektare. Di luar dua kejadian tersebut, petugas menemukan sejumlah klaster kebakaran lain dengan luasan lebih kecil.

Baca Juga:  Kutim Tak Terima DBH Dipangkas: Produksi Batu Bara Naik, Hak Daerah Malah Dikebiri

“Jika ditotal dari kejadian awal bulan hingga titik penanganan hari ini, luas lahan terdampak di Bantuas diperkirakan sudah menembus angka 50 hektare lebih,” ujarnya.

MANUSIA DIDUGA JADI PEMICU

Temuan sementara petugas mengarah pada aktivitas manusia sebagai salah satu pemicu kebakaran. Pembukaan lahan dengan cara dibakar hingga pembakaran sampah yang ditinggalkan menjadi perhatian BPBD.

“Kebanyakan kasus yang kami tangani dipicu pembukaan lahan secara disengaja dengan cara dibakar. Ada juga warga yang membakar sampah lalu ditinggal, sehingga apinya merambat tak terkendali ke mana-mana,” kata Nusa.

Kondisi kemarau membuat vegetasi semakin kering. Api yang awalnya kecil dapat dengan cepat merambat ke semak dan lahan di sekitarnya.

Pemadaman juga menghadapi persoalan medan. Salah satu titik yang sulit dijangkau berada di kawasan Bukit Teletubbies. Kontur perbukitan membuat kendaraan tangki maupun mesin pompa tidak dapat langsung mencapai lokasi api.

Petugas terpaksa berjalan kaki membawa back pump atau tangki punggung berisi sekitar 5–10 liter air. Pemadaman kemudian dilakukan secara manual pada titik yang tidak dapat dijangkau selang.

Baca Juga:  Fraksi Demokrat–PPP Tekan Pemprov Kaltim: Revisi Pergub 21/2024 Mendesak, Bukit Suharto Terancam Dibabat

Jarak sumber air menjadi persoalan lain. Armada harus mengisi ulang air, sementara pada saat bersamaan sejumlah titik karhutla lain di Samarinda juga membutuhkan penanganan.

Hingga Rabu, petugas masih melakukan pemadaman dan berusaha memutus jalur rambatan api. Prioritas diarahkan agar kebakaran tidak semakin meluas maupun bergerak mendekati kawasan permukiman.

Pewarta: Dimas
Editor: Agus S.

Disclaimer

Redaksi Radarbontang.com tunduk pada Kode Etik Jurnalistik dan Undang-Undang Pers No. 40 Tahun 1999. Setiap berita yang dipublikasikan adalah hasil kerja jurnalistik. Hak jawab dan hak koreksi dapat diajukan melalui email: redaksi@radarbontang.com.