TENGGARONG – Dampak kemarau di Kutai Kartanegara (Kukar) mulai merambah persoalan kesehatan. Kasus diare melonjak dari 724 kasus pada Juli menjadi sekitar 1.800 kasus hingga 24 Agustus 2026, atau meningkat sekitar 149 persen.
Dengan angka tersebut, terdapat penambahan lebih dari 1.000 kasus dibandingkan catatan Juli. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kukar kini meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap kualitas air serta kebersihan makanan dan minuman yang dikonsumsi masyarakat.
Kepala Dinkes Kukar Ismi Mufiddah mengatakan peningkatan kasus diare menjadi perhatian karena terjadi ketika musim kemarau masih berlangsung.
“Menjaga kesehatan itu sangat perlu karena belakangan kasus diare mulai meningkat karena musim kemarau,” kata Ismi.
Menurut Ismi, kemarau berpotensi memengaruhi ketersediaan dan kualitas air bersih. Menyusutnya debit air sungai dapat meningkatkan risiko pencemaran apabila sumber air tidak dikelola dengan baik.
Kondisi tersebut juga berpotensi meningkatkan risiko kontaminasi kuman maupun bakteri pada makanan dan minuman apabila kebersihan tidak terjaga.
“(Kemarau) berpotensi memengaruhi kualitas air bersih serta meningkatkan risiko pencemaran kuman dan bakteri pada makanan maupun minuman,” jelasnya.
Meski peningkatan kasus terjadi bersamaan dengan musim kemarau, data yang disampaikan Dinkes belum menunjukkan bahwa seluruh kasus diare tersebut secara langsung disebabkan kemarau. Kondisi air dan kebersihan makanan menjadi faktor risiko yang kini diwaspadai.
Dinkes meminta masyarakat lebih memperhatikan sumber air yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Kebersihan bahan makanan, proses pengolahan hingga penyajiannya juga harus dijaga.
“Masyarakat harus memilih makanan yang diasup dan memastikan semuanya bersih agar tidak tercemar kuman atau bakteri, sehingga kita bisa menghindari diare maupun penyakit lain yang tidak diinginkan,” ujarnya.
Lonjakan kasus juga membuat kesiapan fasilitas kesehatan menjadi perhatian. Dinkes memastikan puskesmas dan fasilitas kesehatan di Kukar telah disiapkan untuk menghadapi peningkatan kunjungan pasien.
Stok obat-obatan untuk penanganan diare disebut masih mencukupi. Pemantauan terhadap perkembangan kasus dan jumlah kunjungan pasien terus dilakukan selama musim kemarau.
“Untuk kesiapan obat-obatan, semua sudah ready di puskesmas dan fasilitas kesehatan. Intinya, kami terus memantau kenaikan kunjungan pasien akibat dampak musim kemarau ini,” pungkas Ismi. (MK)
Pewarta: Shavira Ramadhanita
Editor: Agus S.




