TENGGARONG – Bantuan sarana perikanan dari Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara mulai dirasakan manfaatnya oleh nelayan di berbagai wilayah. Program tersebut membantu nelayan memenuhi kebutuhan dasar dalam beraktivitas, mulai dari mesin kapal, perahu, hingga alat tangkap.
Di Desa Handil Terusan, Kecamatan Anggana, bantuan mesin diesel satu silinder berbahan bakar solar membantu nelayan mengganti mesin lama yang selama ini digunakan untuk melaut.
Bagi nelayan, mesin kapal bukan sekadar perlengkapan kerja. Mesin yang andal menjadi faktor penting untuk menunjang keselamatan dan kelancaran aktivitas di laut.
Rusdiansyah, nelayan asal Handil Terusan, mengatakan bantuan tersebut membuat nelayan lebih tenang saat beraktivitas. Sebelumnya, sebagian nelayan masih menggunakan mesin lama yang rawan mengalami kerusakan saat berada di laut.
“Yang jelas sangat bermanfaat sekali bagi nelayan di desa kami. Karena kemarin mesin kami sudah tua. Jadi kami tidak mengkhawatirkan lagi ada kerusakan di laut,” kata Rusdiansyah.
Menurutnya, bantuan yang diterima nelayan tidak hanya berupa mesin. Ada pula bantuan perahu, mesin penggerak perahu, hingga alat tangkap yang menjadi kebutuhan utama nelayan sehari-hari.
Dengan sarana yang lebih memadai, nelayan dapat bekerja lebih aman dan produktif. Kehadiran bantuan tersebut juga dinilai meringankan beban nelayan kecil yang selama ini harus menanggung sendiri biaya pengadaan sarana perikanan.
Meski demikian, Rusdiansyah berharap pemerintah juga memperhatikan persoalan bahan bakar minyak, khususnya solar yang menjadi kebutuhan utama nelayan. Saat ini harga solar eceran di wilayahnya mencapai Rp18 ribu hingga Rp20 ribu per liter.
“Satu galon kemarin Rp300 ribu, sekarang Rp650 ribu. Satu hari habis,” ujarnya.
Karena itu, rencana pembangunan SPBU Nelayan di Kecamatan Anggana menjadi harapan baru bagi para nelayan. Menurut Rusdiansyah, keberadaan SPBU Nelayan akan membantu memastikan ketersediaan BBM dengan harga yang lebih terjangkau.
“Kalau sudah beroperasi, sangat terbantu,” katanya.
Manfaat bantuan serupa juga dirasakan nelayan di kawasan Danau Melintang, Kecamatan Muara Muntai. Muhammad Yusuf mengatakan bantuan mesin dan alat tangkap membantu mengurangi beban biaya operasional nelayan.
“Alhamdulillah, mengurangi beban untuk pembelian alat tangkap,” ujarnya.
Namun, menurut Yusuf, tantangan yang dihadapi nelayan danau berbeda dengan nelayan pesisir. Saat musim banjir dan hasil tangkapan melimpah, persoalan utama justru berada pada pemasaran hasil perikanan.
“Tangkapan ada saja, tergantung musim. Kalau musim banjir, susah untuk pemasaran. Ada yang menerima, tapi harganya anjlok,” katanya.
Karena itu, nelayan mulai membahas penguatan kelembagaan melalui pembentukan koperasi nelayan yang diharapkan dapat membantu penampungan, distribusi, hingga pemasaran hasil tangkapan secara lebih baik.
Selain itu, nelayan juga berharap pengawasan terhadap praktik penangkapan ikan ilegal terus diperkuat agar keberlanjutan sumber daya perikanan tetap terjaga.
Dari wilayah pesisir Anggana hingga kawasan Danau Melintang, bantuan sarana perikanan yang disalurkan Pemkab Kukar mulai memberikan dampak nyata bagi masyarakat nelayan. Di sisi lain, berbagai kebutuhan lanjutan seperti akses BBM, pemasaran hasil tangkapan, penguatan kelembagaan, hingga pengawasan perairan masih menjadi perhatian yang diharapkan dapat terus mendapat dukungan pemerintah.
Dengan dukungan sarana kerja dan program pendukung yang berkelanjutan, sektor perikanan di Kutai Kartanegara diharapkan semakin mampu memperkuat ekonomi masyarakat nelayan di wilayah pesisir maupun kawasan danau. (MK)
Editor: Agus S.




