SAMARINDA – Gelombang aksi penolakan kenaikan harga Pertamax dan sejumlah kebijakan pemerintah pusat bergema di Kota Samarinda. Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Gerakan Rakyat Menggugat menggelar demonstrasi di Jalan Slamet Riyadi, tepat di turunan Jembatan Mahakam, Kamis (18/6/2026).
Aksi yang berlangsung sejak sore itu sempat diwarnai upaya penutupan akses Jembatan Mahakam. Namun langkah tersebut dihadang aparat kepolisian. Meski demikian, massa aksi tetap bertahan hingga sekitar pukul 20.30 Wita.
Humas Aliansi Gerakan Rakyat Menggugat, Maulana, menjelaskan aksi tersebut membawa lima tuntutan utama, yakni menurunkan harga BBM dan bahan pokok, menghentikan tindakan represif aparat terhadap masyarakat sipil, mengevaluasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta menghentikan Koperasi Desa Merah Putih, menghentikan pemborosan APBN dan APBD, serta mendesak hak angket segera diparipurnakan.
Menurut Maulana, pemilihan lokasi aksi di kaki Jembatan Mahakam merupakan bentuk kekecewaan terhadap para pemangku kebijakan.
“Kami sudah tidak percaya anggota-anggota dewan yang ada di DPRD. Kami sudah tidak percaya kepala daerah kami. Maka kami memilih untuk aksi di sini,” kata Maulana.
Ia mengakui massa sempat berencana menutup jembatan sebagai bentuk tekanan politik agar aspirasi mereka mendapat perhatian.
“Kami memang rencananya untuk nutup jembatan. Memang garis besar dari kami tidak menutup jalanan, tapi setidaknya aspirasi kami disampaikan,” ujarnya.
Di tengah aksi, sempat terjadi ketegangan antara massa dan pengguna jalan. Maulana menyebut gesekan muncul saat polisi mengalihkan arus kendaraan ke jalur yang masih ditempati peserta aksi.
Namun aksi tersebut juga menuai keberatan dari sebagian masyarakat yang terdampak kemacetan. Seorang pengemudi ojek online yang melintas terlihat meluapkan kekesalannya kepada massa aksi.
“Kenapa macet? Ada orang di sana. Ini bukan rakyat? Rakyat yang mana?” protes pengemudi ojol tersebut di lokasi aksi.
Pengemudi itu mengaku hanya ingin bekerja dan mencari penghasilan di tengah kondisi ekonomi yang sulit.
“Cuma mau cari Rp10 ribu aja susah,” keluhnya.
Meski mendapat protes dari pengguna jalan, Maulana menegaskan perjuangan mereka belum selesai. Ia menyebut tuntutan yang dibawa mahasiswa akan terus disuarakan.
“Belum. Kami rasa poin tuntutan yang kami suarakan hari ini akan terus kami gaungkan dan kami pastikan kami tidak akan diam,” tegasnya.
Maulana memperkirakan jumlah peserta aksi mencapai 400 hingga 500 orang. Massa juga membuka kemungkinan menggelar aksi lanjutan apabila tuntutan mereka tidak mendapat respons dari pemerintah maupun lembaga legislatif.
Pewarta: K. Irul Umam
Editor: Agus S.




