Beranda blog Halaman 167

Lupa Handbrake, Mobil Kijang Meluncur ke Parit di Wilayah Satimpo

0
Petugas Disdamkartan saat mengevakuasi mobil yang terperosok di wilayah Kelurahan Satimpo. (Ist).

BONTANG – Tim Rescue Regu Alfa Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkartan) Bontang, bergerak cepat mengevakuasi sebuah mobil Toyota Kijang yang terperosok ke dalam parit, di Jalan Gunung Merapi, Kelurahan Satimpo, Kecamatan Bontang Selatan, Senin (6/4/2026).

Insiden tersebut dilaporkan langsung oleh warga setempat, dimana kendaraan ini tiba-tiba saja meluncur tanpa kendali. Diduga, mobil yang terperosok terjadi karena pengemudi lupa menarik rem tangan (handbrake), saat hendak memarkirkan kendaraannya.

Menindaklanjuti laporan itu, petugas damkar langsung bergerak cepat menuju lokasi kejadian sekitar pukul 09.45 Wita. Proses evakuasi berlangsung selama kurang lebih satu jam dan berhasil diselesaikan dengan lancar tanpa kendala.

“Berkat kesigapan tim di lapangan, kendaraan berhasil dievakuasi dan diamankan tanpa mengalami kerusakan yang lebih fatal. Tidak ada laporan korban jiwa dalam kejadian tersebut. Jadi selama proses evakuasi, semuanya berjalan dengan baik,” ucap Kepala Disdamkartan Bontang, Amiluddin.

Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bagi masyarakat, agar selalu memastikan kendaraan dalam kondisi aman sebelum ditinggalkan. Termasuk dengan memastikan rem tangan, telah terpasang dengan baik guna mencegah kejadian serupa.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Pemkot Bontang Uji Coba Parkir Non Tunai, Pembayaran Tunai Tetap berlaku Selama Masa Transisi

0

Pembaca Setia Radar Bontang!

Ingin tahu kabar terkini Koran Digital Radar Bontang? Kunjungi link di bawah ini untuk membaca e-paper lengkapnya:

👉 E-Paper Lengkap
https://koran.radarbontang.com

👉 Versi Mobile
https://digital.radarbontang.com/rb6apr2026/mobile/

Kronologi Sengketa Lahan di RT.38 Tanjung Laut, Begini Cerita Warga

0
Pertemuan antara DPRD Bontang, pemerintah, hingga masyarakat. (Dwi S).

BONTANG – Kisruh sengketa lahan di RT 38, Kelurahan Tanjung Laut, Kecamatan Bontang Selatan kembali mencuat setelah warga memaparkan kronologi panjang yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Salah satu perwakilan warga, Erni, mengungkapkan bahwa dirinya mulai tinggal di kawasan tersebut dari 2001 lalu. Menurut Erni, saat pertama kali menempati lokasi tersebut, dirinya langsung membeli rumah yang masih berupa bangunan kayu, bukan rumah batu.

“Kami beli rumahnya, bukan tanahnya. Kondisinya juga masih rumah kayu, belum seperti sekarang,” ucapnya, Senin (6/4/2026).

Berlanjut sekitar tujuh bulan setelah menempati rumah tersebut, Erni mengaku sempat didatangi seseorang yang meminta pembayaran sewa lahan. Bahkan, warga sempat dipanggil ke kantor kelurahan. Namun, pihak yang mengaku sebagai pemilik lahan tidak kembali melanjutkan prosesnya.

Tepat di 2004, kembali muncul pihak lain yang mengaku berasal dari perusahaan dan mengklaim lahan tersebut. Namun, klaim tersebut juga tidak berlanjut karena pihak yang bersangkutan tidak kembali datang. Entah pihaknya masih kekurangan cukup bukti, atau sebagainya.

“Tahun berikutnya ada lagi dari PT Harum yang sempat mengakui lahan ini, tapi tidak datang lagi, mungkin karena bukti yang dibawa juga tidak cukup,” lanjutnya.

Situasi serupa kembali terjadi di 2017, ketika pihak dari perusahaan lain datang dan sempat bertemu warga di kantor kelurahan. Namun, klaim tersebut juga tidak berlanjut dan pihak tersebut sehingga mereka kembali ke Jakarta.

Kondisi berubah ketika seorang perwakilan bernama Andi Ansong datang, dan menyatakan bahwa lahan tersebut merupakan milik Muslifah. Warga pun sempat merasa terkejut, meski tidak langsung panik karena sebelumnya sudah beberapa kali dan banyak orang atau pihak lain yang telah mengklaim hal serupa.

Permasalahan semakin kompleks ketika warga dilaporkan atas dugaan penyerobotan lahan. Dalam proses hukum yang berjalan, pihak Muslifah dinyatakan menang.

Meski demikian, warga mengaku tetap mengikuti proses hukum yang difasilitasi oleh pihak kelurahan dan kecamatan, tanpa berpihak kepada salah satu pihak.

“Dari situ kami hanya mengikuti arahan saja sesuai dengan hukum, karena mediasinya telah difasilitasi pihak kelurahan dan kecamatan,” paparnya.

Dalam perkembangannya, konflik sempat berujung pada pergantian ketua RT, hingga terjadinya upaya eksekusi terhadap warga. Sengketa ini bahkan berlanjut ke ranah pengadilan, di mana warga melakukan perlawanan hukum terhadap Muslifah bersama pihak perusahaan, yakni PT Tirta Manggala.

Hingga kini, persoalan sengketa lahan tersebut masih menjadi perhatian berbagai pihak, dengan harapan adanya solusi yang adil bagi warga yang telah lama bermukim di kawasan tersebut.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Pemkot Bontang Uji Coba Sekolah Gratis di Empat Sekolah Swasta

0
Kepala Disdikbud, Abdu Safa Muha. (Syakurah)

BONTANG – Pemerintah Kota Bontang melakukan uji coba program sekolah gratis, yang kini mulai diterapkan di sejumlah sekolah swasta.

Pada fase awal, pemerintah menetapkan empat lembaga pendidikan sebagai proyek percontohan. Keempatnya yakni Yayasan Pembinaan Pendidikan Islam (YPPI), Monamas, MTs Al Amin di Kelurahan Loktuan, dan satu sekolah yang berada di wilayah Guntung.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bontang, Abdu Safa, menjelaskan kebijakan ini tidak langsung diberlakukan secara menyeluruh, melainkan dilakukan bertahap sambil melihat kesiapan sekolah.

“Ini masih tahap awal. Kita mulai dari empat sekolah dulu sebagai percontohan, selanjutnya akan dievaluasi sebelum diperluas,” katanya.

Pendanaan program bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) melalui skema Bantuan Operasional Sekolah Daerah (Bosda). Dalam implementasinya, sekolah swasta yang tergabung dalam program akan menerima dukungan anggaran, dengan nilai yang disetarakan dengan sekolah negeri.

Menurut Abdu, skema tersebut menjadi pembeda dibanding kebijakan sebelumnya, di mana sekolah swasta belum mendapatkan dukungan setara.

“Sekarang kita samakan. Sekolah swasta yang masuk program akan memperoleh Bosda dengan nilai yang setara dengan sekolah negeri,” terangnya.

Melalui program ini, pemerintah menargetkan penghapusan berbagai pungutan pendidikan yang selama ini menjadi beban orang tua, seperti SPP hingga biaya pembangunan atau uang gedung.

Kebijakan ini diharapkan tidak hanya membantu meringankan beban biaya pendidikan, tetapi juga menciptakan keseimbangan layanan antara sekolah negeri dan swasta.

“Tujuan utamanya agar tidak ada lagi anak yang terkendala biaya untuk sekolah,” pungkasnya.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Utamakan Kepentingan Warga, DPRD Siapkan RDP Terkait Sengketa Lahan di RT.38 Kelurahan Tanjung Laut

0
Anggota Komisi C DPRD Bontang, Muhammad Sahib saat melakukan sidak. (Dwi S).

BONTANG – Hasil inspeksi mendadak (sidak) terhadap persoalan sengketa lahan di Jalan Selat Selayar, RT.38, Kelurahan Tanjung Laut, Kecamatan Bontang Selatan hingga saat ini masih belum menemukan titik terang, antara warga yang sudah menetap puluhan tahun dengan pihak perorangan, maupun perusahaan.

Bagi masyarakat yang sudah bermukim selama kurang lebih 30 tahun (de facto), menghadapi klaim legalitas kepemilikan oleh pihak lain (de jure), salah satunya disebutkan terkait PT Tirta Manggala dan pemilik lahan Munifah.

Sehingga Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bontang menegaskan, bahwa kepentingan masyarakat harus tetap menjadi prioritas yang paling utama, meskipun proses hukum tetap berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.

Anggota Komisi C DPRD Bontang, Muhammad Sahib menyatakan bahwa secara yuridis untuk kepemilikan lahan saat ini mengacu pada putusan Mahkamah Agung (MA), yang menetapkan lahan tersebut sah dimiliki oleh Munifah. Namun demikian, kondisi faktual di lapangan menunjukkan bahwa masyarakat yang telah lama bermukim di lokasi tersebut.

“Kami melihat bahwa secara hukum memang dimenangkan oleh Bu Munifah. Tetapi secara de facto, masyarakat juga sudah lama tinggal di sini. Maka perlu ada komunikasi yang baik antara kedua belah pihak,” ucapnya.

Sehingga kesimpulan dari kegiatan sidak tersebut, dewan menilai bahwa dialog menjadi langkah penting untuk mencari solusi terbaik tanpa merugikan masyarakat.

Pertemuan lanjutan antara pemilik lahan dan warga pun direncanakan akan segera digelar di waktu dekat, meskipun waktu pelaksanaannya masih menunggu penjadwalan lebih lanjut.

Selain itu, permasalahan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang terindikasi terjadi penagihan ganda juga menjadi perhatian. Pihak DPRD akan mengumpulkan bukti dari warga, maupun pihak pemilik lahan atau perusahaan, untuk kemudian dibawa ke Badan Pendapatan Daerah (Bapenda).

“PBB tidak boleh double. Jadi bukti-bukti akan kami kumpulkan dulu, dan di pertemuan berikutnya Bapenda harus hadir untuk memberikan penjelasan,” tegasnya.

Ke depan, DPRD memastikan akan menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) lanjutan, guna membahas persoalan ini secara menyeluruh. Namun sebelum itu, seluruh data pendukung harus dilengkapi, termasuk kehadiran pemilik lahan secara langsung.

“Saat ini, kehadiran pemilik lahan dalam pertemuan masih diwakili oleh Andi Ansong, sementara kepemilikan sah tercatat atas nama Munifah. Pemerintah berharap seluruh pihak dapat duduk bersama untuk mencapai solusi yang adil dan mengedepankan kepentingan masyarakat,” tutupnya.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

DPRD Kutim Dorong Gerakan Tanam Cabai untuk Tekan Inflasi

0
Ilustrasi ajakan gerakan tanam cabai. (AI)

SANGATTA – Lonjakan harga pangan, khususnya cabai dan telur, dinilai mulai berdampak pada daya beli masyarakat dan semangat konsumsi. Ketua DPRD Kutai Timur, Jimmi, menegaskan kondisi ini harus direspons dengan langkah konkret, bukan sekadar menunggu stabilisasi pasar.

Menurutnya, salah satu solusi jangka pendek yang bisa dilakukan adalah mendorong masyarakat memanfaatkan lahan pekarangan untuk menanam komoditas pangan seperti cabai, lombok, hingga sayuran lain. Langkah ini dinilai penting, apalagi menjelang momentum Idul Adha yang biasanya diikuti peningkatan permintaan bahan pangan.

“Kalau kita bisa prediksi harga akan naik, maka dari sekarang masyarakat harus mulai menanam. Masa tanam cabai sekitar dua sampai tiga bulan, jadi harus dipersiapkan sejak dini,” ujarnya usai mengikuti rakor inflasi di Kominfo, Senin (6/4/2026).

Ia mengakui, selama ini kesiapan produksi pangan lokal masih rendah, terutama karena masyarakat belum terbiasa melakukan penanaman secara terencana menjelang hari besar keagamaan. Akibatnya, pasokan terbatas dan harga mudah melonjak.

Selain cabai, Jimmi juga menyoroti komoditas telur yang harganya turut terdorong naik. Ia menjelaskan, faktor utama kenaikan harga telur berasal dari mahalnya pakan ternak yang masih bergantung dari luar daerah.

“Kalau pakan tidak sesuai formulasi, kualitas telur ikut turun. Kulitnya rapuh, warnanya kurang bagus, dan otomatis harga jualnya juga jatuh. Tapi kalau mau kualitas bagus, biaya produksi ikut naik,” jelasnya.

Ia membandingkan kondisi tersebut dengan daerah di Pulau Jawa yang sudah mampu memproduksi pakan secara mandiri karena ketersediaan bahan baku yang lebih lengkap. Sementara di Kutai Timur, ketergantungan terhadap pasokan pakan dari luar masih menjadi kendala utama.

Karena itu, DPRD mendorong pemerintah daerah untuk menghadirkan inovasi, terutama dalam pengembangan sektor pertanian dan peternakan berbasis kemandirian. Menurutnya, dengan jumlah penduduk yang relatif kecil, Kutai Timur memiliki peluang besar untuk menciptakan sistem pangan mandiri.

“Inflasi 2 sampai 4 persen memang masih dalam kategori normal. Tapi kalau kita bisa mandiri, itu akan jauh lebih baik untuk menjaga stabilitas harga dan ketahanan ekonomi daerah,” tegasnya.

Ia menambahkan, penguatan produksi lokal tidak hanya menekan inflasi, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat jika dilakukan secara kolektif dan berkelanjutan.

Penulis: Ramlah
Editor: Yusva Alam

Waspada! Penipuan Berkedok OSS Marak di Bontang, Korban Rugi Rp 3,2 Juta

0
Tangkapan layar bukti penipuan mengatasnamakan OSS dari DPMPTSP Bontang. (istimewa)

BONTANG – Terjadi penipuan yang mengatasnamakan layanan perizinan Online Single Submission (OSS). Hal ini diinformasikan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Bontang.

Kepala DPMPTSP Bontang, Aspianur mengatakan pelaku menggunakan berbagai macam modus. Ia juga telah menerima laporan tersebut sejak awal 2026, dan baru mendapatkan laporan langsung dari satu korban yang terkena penipuan.

“Modusnya dari pesan singkat, seperti WhatsApp, telepon, dan sosmed. Pelaku pura-pura jadi petugas perantara resmi dan menawarkan bantuan percepatan pengurusan izin dengan imbalan,” ujarnya.

Diketahui, korban, pada Kamis (2/4/2026) baru saja mengurus Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (PKKPR). Setelah itu, di hari Minggu (5/4/2026), korban menerima WhatsApp dari nomor dan mengatasnamakan layanan OSS.

“Pelaku kemudian mengirimkan data perusahaan korban jadi terlihat meyakinkan, korban langsung melakukan pembayaran,” jelasnya.

Ditambah, pelaku juga mengirim tangkapan layar berisi batas waktu pembayaran selama 30 menit serts kode pembayaran via transfer sebesar Rp 3,2 juta.

Seninnya (6/4/2026), korban mengkonfirmasi langsung ke kantor DPMPTSP memastikan pembayaran tersebut. Nahasnya, nomor yang digunakan pelaku dipastikan bukan nomor resmi OSS maupun DPMPTSP.

“Ada dugaan peretasan atau mengambil data korban dari sistem OSS untuk melancarkan aksinya. Masyarakat dimohon waspada terhadap modus penipuan yang sama,” tuturnya.

DPMPTSP mengimbau masyarakat, agar tidak mudah percaya terhadap pihak yang menawarkan jasa percepatan perizinan dengan meminta sejumlah uang. Adapun layanan perizinan hanya diakses melalui website resmi OSS serta tidak dipungut biaya.

“Lebih baik masyarakat memastikan langsung terlebih dahulu ke pihak DPMPTSP,” katanya.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Harga Telur di Kutim Meroket, Tembus di Atas Nasional

0
Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi saat diwawancara awak media. (Ramlah/Radar Bontang)

SANGATTA – Laju inflasi di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dipastikan masih dalam kondisi terkendali. Namun, di balik stabilitas tersebut, harga telur ayam menjadi catatan karena berada di atas rata-rata nasional.

Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi, menyampaikan bahwa secara month-to-month (mtm), inflasi daerah masih lebih rendah dibandingkan nasional. Jika inflasi nasional berada di kisaran 4 hingga hampir 5 persen, Kutim tercatat sekitar 0,9 persen.

“Selisihnya sekitar 0,4 persen dari nasional. Artinya kondisi kita masih relatif aman, meskipun tetap fluktuatif,” ujarnya usai rapat koordinasi pengendalian inflasi yang digelar di Kantor Diskominfo Kutim, Senin (6/4/2026).

Menurutnya, stabilitas inflasi sangat bergantung pada daya beli masyarakat. Selama daya beli tetap terjaga, tekanan harga masih bisa dikendalikan.

Meski demikian, Mahyunadi mengakui ada komoditas yang perlu mendapat perhatian, yakni telur ayam. Berdasarkan pemantauan di pasar, harga telur di Kutim cenderung lebih tinggi dibandingkan daerah lain.

“Kalau dibandingkan secara hitungan, selisihnya bisa sekitar Rp4.700 per kilogram. Tapi ini juga dipengaruhi perbedaan pengukuran, di sini dijual per butir, sementara nasional per kilogram,” jelasnya.

Selain itu, tingginya harga telur dipicu biaya produksi, khususnya pakan ayam petelur yang sebagian besar masih didatangkan dari luar daerah, terutama Pulau Jawa. Kondisi ini membuat harga produksi menjadi lebih tinggi.

Kendati demikian, ia memastikan tidak ada indikasi penimbunan maupun permainan harga di pasaran. Secara umum, harga kebutuhan pokok masih relatif stabil.

“Tidak ada penimbunan. Harga juga masih stabil,” tegasnya.

Pemerintah daerah, lanjutnya, tetap menyiapkan langkah antisipatif jika sewaktu-waktu terjadi gejolak harga. Intervensi akan dilakukan melalui operasi pasar maupun pasar murah.

“Kalau harga tidak stabil, kita akan intervensi. Tapi saat ini belum perlu karena masih terkendali,” katanya.

Untuk jangka panjang, Pemkab Kutim didorong memperkuat ketahanan pangan daerah. Salah satunya melalui pemanfaatan pekarangan rumah untuk menanam kebutuhan pokok seperti cabai dan sayuran.

Selain itu, optimalisasi potensi lokal juga menjadi fokus, terutama komoditas jagung yang harganya di Kutim masih lebih tinggi dibanding daerah lain.

“Di luar daerah sekitar Rp6.000, di sini bisa Rp7.000 sampai Rp8.000. Artinya potensi kita ada, tinggal dimaksimalkan,” tandasnya.

Penulis: Ramlah
Editor: Yusva Alam

Wisata Edukatif, Pengunjung IKN Ikut Reboisasi Kawasan

0
Jadi kebiasaan positif, budaya tanam bibit pohon di KIPP juga menyentuh hingga ke pengunjung IKN. (Dok. Otorita)

NUSANTARA — Suasana libur panjang Paskah di Ibu Kota Nusantara (IKN) terasa berbeda. Di tengah kawasan yang terus dibangun, pengunjung tidak hanya datang melihat perkembangan, tetapi juga ikut menanam pohon dan beraktivitas bersama keluarga.

Selama 3–5 April 2026, jumlah kunjungan tercatat mencapai sekitar 59.676 orang dengan total 14.382 kendaraan yang masuk ke kawasan IKN.

Dalam periode tersebut, Otorita IKN membuka kunjungan masyarakat sekaligus mengajak pengunjung menanam pohon di Miniatur Hutan Hujan Tropis IKN.

Sedikitnya 500 lubang tanam disediakan dengan bibit pohon khas hutan tropis Kalimantan, antara lain balangeran, meranti, bodhi, randu, dan kemiri.

Upaya ini menjadi bagian dari rehabilitasi vegetasi di kawasan IKN, sekaligus memperkuat konsep kota hutan. Dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, tanaman tersebut diharapkan tumbuh menjadi lapisan kanopi baru yang mendukung fungsi ekologis, termasuk penyerapan karbon dan pemulihan keanekaragaman hayati.

Direktur Perencanaan Makro Otorita IKN, Pungky Widiaryanto, mengatakan kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun budaya menanam di IKN.

“Yang menarik pada program pelayanan kepada masyarakat di liburan Paskah kali ini, kita mengajak pengunjung untuk melakukan penanaman di hutan di sekitar IKN atau di dalam KIPP. Kita ingin membudayakan menanam menjadi salah satu budaya IKN untuk mengembalikan hutan hujan tropis yang menjadi visi IKN sebagai kota hutan,” terangnya.

Sementara itu, komposisi tanaman terdiri 70 persen spesies asli Kalimantan dan 30 persen multi-trees purpose species untuk mendukung fungsi ekologis kawasan secara berkelanjutan.

Kegiatan ini juga dimanfaatkan masyarakat sebagai cara baru mengisi libur panjang. Sejumlah pengunjung datang bersama keluarga dan anak-anak untuk menanam pohon sambil menikmati suasana alam.

Sepin, warga Samboja yang ikut menanam, menyebut kegiatan tersebut sebagai bentuk partisipasi dalam pembangunan IKN.

“Ini sebagai partisipasi untuk penanaman atau reboisasi dalam mengembangkan hutan tropisnya IKN. Jadi anak-anak kita nanti bisa lihat bahwa bukan bangunan saja yang dibangun, tapi hutannya juga,” katanya. (MK)

Pewarta: Atmaja Riski
Editor: Agus S

Digadang-gadang Jadi Solusi Konflik Buaya–Warga, Program Penangkaran Kutim Belum Juga Beroperasi

0
Ilustrasi. (AI)

SANGATTA – Konflik antara buaya dan warga di Kutai Timur (Kutim) kian meningkat. Namun, program penangkaran buaya yang digadang-gadang menjadi solusi jangka panjang hingga kini belum juga berjalan.

Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, mengakui terdapat kendala dalam merealisasikan program tersebut. Salah satunya karena kekeliruan awal terkait kewenangan kementerian yang menangani penangkaran buaya.

Awalnya, pemerintah daerah mengira program tersebut berada di bawah Kementerian Lingkungan Hidup. Namun belakangan diketahui bahwa kewenangan tersebut berada di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

“Saya kira di Lingkungan Hidup, ternyata di KKP. Ini yang kemarin sempat keliru,” ujarnya beberapa hari lalu.

Meski demikian, upaya tetap dilakukan. Dinas Perikanan Kutim telah menyusun kajian awal sebagai dasar perencanaan penangkaran, meski belum rampung sepenuhnya. Pemkab juga telah melayangkan surat kepada KKP, namun hingga kini belum mendapat respons.

“Sudah kami surati, tapi belum ada jawaban,” tambahnya.

Di sisi lain, kondisi di lapangan semakin mengkhawatirkan. Kemunculan buaya di sekitar permukiman warga terjadi berulang dan menimbulkan keresahan. Namun, langkah pemusnahan tidak bisa dilakukan sembarangan karena terbentur aturan perlindungan satwa.

“Kalau dimusnahkan, bertabrakan dengan kebijakan lingkungan. Tapi kalau dibiarkan, masyarakat resah,” tegasnya.

Selama ini, penanganan masih bersifat sementara. Tim pemadam kebakaran biasanya melakukan evakuasi saat ada laporan warga. Untuk buaya berukuran besar, sebagian dibawa ke lokasi penangkaran yang ada di Samarinda. Sementara buaya berukuran kecil umumnya dilepas kembali ke habitatnya.

Namun pola tersebut dinilai belum efektif. Buaya yang dilepas kerap kembali muncul di sekitar permukiman warga.

“Yang kecil dilepas lagi, tapi sering kembali. Ini yang jadi masalah,” jelas Ardiansyah.

Karena itu, keberadaan penangkaran buaya di Kutim dinilai mendesak. Fasilitas tersebut diharapkan mampu menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi konflik antara manusia dan satwa liar yang terus meningkat.

Penulis: Ramlah
Editor: Yusva Alam