Beranda blog Halaman 203

Jalan KIPP IKN Dibuka 5,85 Km, BBPJN Perkuat Akses Lebaran

0
Ruas jalan West Resident yang melewati Pasar KIPP ini juga difungsikan untuk menunjang kelancaran publik pada Lebaran 2026. (Doc. BBPJN Kaltim)

NUSANTARA – Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Kalimantan Timur kembali memfungsikan ruas jalan di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) Ibu Kota Nusantara (IKN) sepanjang 5,85 kilometer selama libur Lebaran 2026.

Kepala BBPJN Kaltim, Yudi Hardiana, mengatakan pembukaan ruas jalan fungsional ini bertujuan mendukung kelancaran konektivitas jaringan jalan di kawasan KIPP.

“Ini juga agar memudahkan mobilitas masyarakat dan pengunjung yang ingin melihat perkembangan pembangunan IKN di libur Lebaran,” ujarnya, Senin (23/3/2026).

Meski masih dalam tahap penyelesaian, ruas jalan tersebut sudah dapat dimanfaatkan secara terbatas guna menunjang aksesibilitas kawasan.

Adapun ruas jalan yang difungsikan meliputi tujuh segmen, yakni West Resident (ROW 44B) sepanjang 1.075 meter, West Resident (ROW 24B4) sepanjang 688 meter, West Resident (ROW 24B3) sepanjang 820 meter, Precinct Core & Sumbu Tripraja (2.1 ROW 24) sepanjang 1.198 meter, Precinct Core & Sumbu Tripraja (2.3 ROW 16) sepanjang 780 meter, Precinct Core & Sumbu Tripraja (2.10 ROW 54) sepanjang 485 meter, serta Precinct Core & Sumbu Tripraja (2.2 ROW 24) sepanjang 800 meter.

Dengan dibukanya tujuh ruas jalan tersebut, diharapkan mampu meningkatkan kenyamanan, keamanan, dan kelancaran lalu lintas di kawasan IKN, sekaligus mendukung aktivitas pembangunan dan kunjungan masyarakat.

BBPJN Kaltim juga mengimbau pengguna jalan untuk tetap berhati-hati saat melintasi jalur tersebut, mengingat beberapa segmen masih dalam proses pengerjaan.

“Tetap patuhi rambu-rambu, jangan laju berkendara,” tegasnya.

BBPJN menegaskan komitmennya dalam memperkuat infrastruktur jalan guna mendukung konektivitas dan percepatan pembangunan kawasan IKN.

Pewarta: Atmaja Riski
Editor: Agus S

Hari Kedua Lebaran, Si Jago Merap Lalap Rumah di Belakang Hotel Andhika

0
Tangkapan layar video kebakaran di belakang Hotel Andhika. (Ist)

BONTANG – Memasuki hari kedua idufitri, Minggu (22/3/2026) kebakaran terjadi di wilayah Kampung Baru. Tak ayal kobaran si jago merah menarik perhatian warga sekitar yang sedang berlebaran.

Kejadian itu terekspose pada video yang viral di grup-grup whatasapp. Si jago merah tepatnya melalap beberapa unit rumah persis di area belakang Hotel Andhika, Jalan Veteran, Kelurahan Berbas Tengah

Zulkifli, salahsatu warga sekitar yang kebetulan melintas mengungkapkan, kejadian kebakaran itu terjadi sekitar pukul 10.00 wita. Lalu pemadam datang dengan membawa 3 unit armada dan berhasil memadamkan api yang membumbung tinggi.

“Saya belum tau apa penyebab kebakaran itu. Pemadam sudah berhasil memadamkan api walaupun asap masih terlihat tebal,” ujarnya.

Dari video tersebut terlihat para pemadam berupaya memadamkan api, dan meminta warga yang sedang menoonton kejadian itu untuk menjauh dari lokasi, agar pemadam mudah dalam memadamkan api.

Hingga saat ini belum diketahui berapa unit rumah dan kerugian korban kebakaran.

Penulis/Editor: Yusva Alam

Arus Mudik Lebaran Jalur Laut (1): Doa di Makam, Antrean Panjang, hingga Malam di Laut

0
Penumpang mengabadikan dari dek atas kapal, sebelum kapal sandar di Surabaya pagi ini. Foto: Agus S./Media Kaltim

Ini perjalanan kedua saya menggunakan kapal laut menuju Surabaya. Perjalanan sebelumnya, tiga tahun lalu, juga saya tempuh bersama istri dan putri saya. Kali ini lebih lengkap, bersama istri, putri pertama, dan putra ketiga.

Satu yang belum ikut, anak kedua kami. Masih di Pondok Pesantren Gontor 3 Kediri, menyelesaikan masa pengabdian.

Perjalanan ini sekaligus untuk menjemputnya. Jadi ini bukan sekadar mudik Lebaran, tapi perjalanan untuk kembali menyatukan keluarga.

Awalnya, perjalanan ini tidak direncanakan lewat laut. Saya sudah menyiapkan opsi menggunakan pesawat, dengan jadwal setelah Lebaran. Lebih cepat, lebih praktis. Tapi seperti biasa, rencana di lapangan bisa berubah.

Tiket pesawat mulai terasa tidak fleksibel. Harga juga tidak lagi masuk akal untuk perjalanan keluarga. Dari situ, saya mulai melirik kembali jalur laut.

Masalahnya, tiket kapal di musim mudik bukan perkara mudah. Harus dipesan jauh-jauh hari. Saya mulai mencari sekitar dua minggu sebelum keberangkatan. Awalnya mencoba lewat aplikasi resmi DLU, tapi sebagian besar sudah penuh. Kalau pun ada, tersisa terbatas di kelas ekonomi.

Akhirnya saya mendapatkan tiket melalui Faspay. Dan masih bersyukur, saya mendapatkan kelas III untuk keberangkatan 17 Maret.

Harga tiket lebih mahal dari biasanya. Tiket penumpang Rp862.500 per orang. Untuk kendaraan Rp2.972.500. Total perjalanan kami sekitar Rp6.422.500. Dengan komposisi keluarga seperti kami, hitungannya masih masuk. Apalagi kendaraan bisa langsung digunakan begitu tiba di Surabaya.

Soal surat jalan kendaraan juga sering ditanyakan. Apakah wajib?

Secara aturan, surat jalan diperlukan jika kendaraan bukan milik sendiri. Misalnya masih kredit atau atas nama orang lain. Kalau kendaraan milik pribadi dan atas nama sendiri, cukup membawa STNK. Untuk berjaga-jaga, bisa membawa fotokopi BPKB.

Dalam perjalanan ini, saya siapkan semuanya. Namun di pelabuhan, tidak ada petugas yang menanyakan itu secara detail. Yang diperiksa hanya tiket penumpang dan kendaraan. Selebihnya berjalan normal.

Perjalanan ini kami mulai dari Bontang, Selasa, 17 Maret. Pukul 06.30 WITA kami berangkat. Singgah di Samarinda, lalu lanjut ke Balikpapan.

Sebelum masuk Pelabuhan Semayang, kami sempat ziarah ke makam orang tua.

Tidak lama. Kami membaca doa, lalu melanjutkan perjalanan.

Sekitar pukul 16.00 WITA, kami tiba di pelabuhan. Padat. Antrean kendaraan mengular panjang. Semua bergerak pelan. Masuk antrean saja butuh waktu. Untuk benar-benar masuk ke kapal, kami baru bisa sekitar pukul 19.00 WITA. Hampir tiga jam menunggu.

Begitu masuk ke kapal, suasana langsung berubah. Lebih tertata. Petugas sibuk, mengarahkan kendaraan parkir. Penumpang dipandu ke jalur masing-masing.

Dharma Lautan Utama (DLU) memang dikenal sebagai kapal swasta yang representatif. Itu terasa sejak awal.

Saya sempat menyusuri bagian dalam kapal KM Dharma Kencana V. Meski sudah pernah naik sebelumnya, saya ingin memastikan kondisi terbaru.

BACA JUGA :  Catatan FGD Kodifikasi UU Pemilu (3): Afirmasi Perempuan, Rekrutmen Penyelenggara, Gakkumdu, dan Efisiensi Demokrasi

Dari informasi petugas, pada musim mudik ini kapal menampung sekitar 1.500 penumpang. Pembagian kelas cukup jelas.

Untuk VIP, kelas I, II, hingga III, penumpang berada di dalam kamar, dengan fasilitas yang berbeda-beda.

Di kelas III tempat saya, satu kamar berisi sekitar delapan tempat tidur bertingkat. Kondisinya bersih dan cukup nyaman untuk perjalanan panjang.

Saya juga pernah mencoba kelas II sebelumnya. Isinya empat orang dalam satu kamar. Lebih lega, dengan tambahan fasilitas seperti televisi.

Untuk musala juga tersedia dan bersih. Namun saat waktu salat, harus bergantian. Bisa beberapa gelombang dalam satu waktu.

Untuk kelas ekonomi duduk, disiapkan kursi dalam ruangan besar. Ada hiburan juga. Semalam sempat ada penyanyi yang mengisi suasana. Ruangannya luas dan menampung banyak penumpang.

Untuk ekonomi tidur, tersedia satu ruangan besar dengan banyak tempat tidur.

Sementara di kelas ekonomi umum, penumpang bebas menggelar alas—karpet, tikar, atau kasur kecil—selama tidak mengganggu jalur lalu lintas orang.

Terlihat penuh. Tapi tetap tertib. Petugas juga rutin membersihkan area.

Di dalam kapal juga tersedia barbershop, bagi penumpang yang ingin merapikan rambut.

Selama perjalanan, kami juga mendapat fasilitas makan. Mulai dari sahur, makan siang, berbuka, hingga sahur lagi pagi ini.

Menunya sederhana, tapi cukup dan layak.

Jika ingin tambahan, tersedia kantin dan restoran kecil. Menjual makanan ringan, kopi, hingga kebutuhan lain seperti perlengkapan mandi.

Kembali ke dek, suasana malam terasa lebih tenang. Lampu kapal memantul di laut. Angin cukup kencang, tapi menenangkan. Beberapa penumpang masih duduk, berbincang ringan. Sebagian lain mulai tertidur.

Saya duduk cukup lama. Sambil berbincang dengan penumpang lain. “Capeknya di pelabuhan saja,” kata seorang bapak.

“Di atas kapal malah bisa istirahat.”

Yang lain menambahkan, “Kalau bawa mobil, ini paling masuk akal.”

Selama perjalanan, satu hal yang terasa, jaringan internet hampir tidak ada.

Kalau pun ada, hanya di beberapa titik selama perjalanan. Biasanya di dek atas. Itu pun tidak stabil.

Di dalam ruang kamar, sejak awal naik kapal, praktis tidak ada jaringan.

Baru menjelang pagi, saat kapal mendekati Surabaya, sekitar perairan Madura, sinyal mulai muncul kembali.

Pagi ini saya masih berada di atas kapal. Sambil menunggu sandar yang dijadwalkan pukul 08.00 WITA, saya menuliskan catatan ini.

Perjalanan ini masih panjang. Dan ini baru bagian pertama. Catatan berikutnya akan saya tulis tentang kepadatan jalur darat di Surabaya, perjalanan ke Kediri menjemput putra saya, hingga ke Jember, sampai nanti arus balik di awal April.

Karena mudik bukan hanya soal sampai. Tapi bagaimana perjalanan itu dijalani. (bersambung)

Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.

Di Balik Terangnya Ramadan dan Idulfitri, PLN UIP KLT Pastikan Sistem Kelistrikan Kaltim-Kaltara Andal

0
Petugas PLN melakukan inspeksi dan pemeliharaan peralatan kelistrikan di gardu Induk guna memastikan keandalan pasokan listrik tetap terjaga.

BALIKPAPAN – Di saat masyarakat menikmati hangatnya suasana Ramadan, mulai dari sahur hingga berbuka puasa, sampai nantinya merayakan Hari Raya Idul Fitri bersama keluarga, terdapat peran penting yang bekerja di balik layar untuk memastikan listrik tetap menyala tanpa henti. PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Kalimantan Bagian Timur (UIP KLT) hadir sebagai garda terdepan dalam menyiapkan fondasi sistem kelistrikan yang andal melalui pembangunan infrastruktur secara masif dan berkelanjutan.

Sebagai unit yang mempunyai tanggung jawab dalam pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan, PLN UIP KLT memastikan seluruh sistem siap sebelum listrik disalurkan kepada masyarakat. Melalui berbagai proyek strategis, termasuk penyambungan jaringan interkoneksi Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara, PLN membangun sistem yang saling terhubung sehingga mampu mendukung keandalan pasokan listrik secara menyeluruh di kedua provinsi.

Penguatan sistem ini ditopang oleh pembangunan jaringan transmisi tegangan tinggi yang membentang sepanjang 921,71 kilometer sirkuit dengan total 1.279 tower yang melintasi sedikitnya lima kabupaten/kota. Infrastruktur ini menghubungkan berbagai gardu induk strategis, sehingga memungkinkan distribusi energi listrik yang lebih merata, efisien, serta mampu menjaga keseimbangan pasokan dan kebutuhan listrik di masing-masing wilayah.

General Manager PLN UIP KLT, Basuki Widodo, menyampaikan bahwa keandalan listrik yang dirasakan masyarakat saat ini tidak terlepas dari proses panjang pembangunan infrastruktur yang dilakukan secara terencana dan berkesinambungan.

“Keandalan listrik bukan sesuatu yang terjadi secara instan. Ini merupakan hasil dari pembangunan sistem yang kuat dan terintegrasi. Melalui interkoneksi, PLN dapat memastikan pasokan listrik tetap stabil, bahkan dalam kondisi beban meningkat seperti pada Ramadan dan Idul Fitri,” ujar Basuki.

Dengan sistem yang terhubung, PLN mampu mengoptimalkan pasokan listrik antarwilayah, di mana kelebihan daya di satu sistem dapat dialirkan ke wilayah lain yang membutuhkan. Hal ini menjadikan kondisi sistem tetap aman, andal, dan berada dalam kondisi surplus untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Selain pembangunan infrastruktur, PLN UIP KLT juga memastikan kesiapan sistem melalui pengujian menyeluruh, pemeliharaan berkala, serta koordinasi intensif dengan unit operasi guna menjaga keandalan listrik secara _end to end_, mulai dari pembangkitan hingga penyaluran ke pelanggan.

Sejalan dengan semangat “Lebaran Nyaman Bersama”, PLN UIP KLT terus berkomitmen mendukung kelancaran pasokan listrik selama Hari Raya Idul Fitri, sehingga masyarakat dapat menjalankan ibadah dengan khusyuk dan merayakan momen kebersamaan dengan aman, nyaman, dan penuh kebahagiaan. (Bom)

Pemkot Bontang Mulai Tahapan Pembebasan Lahan Parkir Pasar Taman Citra Mas Loktuan

0
Pasar Taman Citra Mas Loktuan. (Syakurah)

BONTANG – Pemerintah Kota Bontang mulai melakukan tahapan pembebasan lahan, untuk pengembangan area parkir di Pasar Taman Citra Mas, Kelurahan Loktuan.

Wali Kota Bontang menegaskan, proses pembebasan lahan tidak bisa dilakukan secara langsung karena harus melalui mekanisme dan prosedur hukum yang berlaku.

“Sudah mulai tahapan-tahapan. Nanti ada appraisal, tidak bisa kita tentukan harga seenaknya,” ujarnya saat melakukan sidak di Pasar Citra Mas Loktuan, Selasa (17/4/2026).

Ia menjelaskan, proses tersebut akan melibatkan sejumlah pihak, mulai dari tim teknis, Dinas Pekerjaan Umum, Badan Pertanahan, hingga aparat penegak hukum seperti kejaksaan.

Menurutnya, langkah ini dilakukan untuk menghindari potensi masalah hukum di kemudian hari, khususnya terkait pengadaan lahan.

“Saya tidak mau staf saya sudah bekerja maksimal, ternyata ada masalah hukum. Terutama kasus tanah, ini harus sesuai aturan,” tegasnya.

Sebelumnya, Pemkot sempat mengupayakan hibah lahan dari pihak perusahaan kawasan industri, namun opsi tersebut tidak terealisasi sehingga pemerintah harus menempuh jalur pembelian.

Besaran anggaran pembebasan lahan sendiri masih menunggu hasil penilaian dari tim appraisal independen.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Suspek Campak di Bontang Capai 120 Kasus, Wali Kota Ingatkan Pentingnya Imunisasi

0
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni. (Syakurah)

BONTANG – Pemerintah Kota Bontang mencatat sekitar 120 kasus suspek campak sejak Januari hingga Maret tahun ini. Meski begitu, sebagian besar pasien dilaporkan telah sembuh setelah mendapatkan penanganan medis.

Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan tim kesehatan untuk melakukan surveilans dan pemeriksaan laboratorium terhadap kasus yang muncul.

“Dari 120 yang kita data dari Januari sampai Maret, alhamdulillah sudah banyak yang sembuh,” katanya.

Pemkot juga terus mengingatkan masyarakat untuk melengkapi imunisasi campak pada anak. Menurutnya, vaksinasi penting untuk mencegah komplikasi yang lebih serius akibat virus campak.

Ia menilai masih ada sebagian orang tua yang menolak imunisasi, sehingga berpotensi menimbulkan risiko penyakit menular di kemudian hari.

“Masih ada orang tua yang tidak berkenan anaknya diimunisasi. Padahal kalau tidak vaksin, suatu saat penyakit seperti polio bisa muncul kembali,” jelasnya.

Selain imunisasi, pemerintah juga memberikan vitamin A dosis tinggi kepada anak sesuai rekomendasi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia.

Neni juga mengimbau masyarakat menghindari kebiasaan kontak fisik seperti cium pipi saat bertemu, karena dapat menjadi media penularan berbagai penyakit menular seperti campak dan tuberkulosis.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Wali Kota Gelar Open House Sederhana di Lebaran Hari ke-2

0
Ilustrasi. (AI)

BONTANG – Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, berencana menggelar open house secara sederhana saat Hari Raya Idulfitri tahun ini.

Ia menyebut kegiatan tersebut tetap dilakukan untuk menjaga silaturahmi dengan masyarakat, namun dengan konsep yang tidak berlebihan.

Pada hari pertama lebaran, open house akan digelar di kediaman pribadinya bersama keluarga di Lembah Hijau.

Sementara pada hari kedua, kegiatan serupa akan dilanjutkan untuk masyarakat di Pendopo Rumah Jabatan Wali Kota.

“Yang hari pertama di rumah saya, kemudian hari kedua di Pendopo rujab, untuk masyarakat,” ujarnya.

Neni menegaskan, bahwa pelaksanaan open house dilakukan secara sederhana tanpa kemewahan. Ia ingin suasana Lebaran tetap hangat namun tidak berlebihan.

“Kita terbuka siapa saja yang ingin datang dipersilahkan,” tuturnya.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Ketua PHDI Kutim: Esensi Nyepi Bukan Heningnya Lingkungan Tapi Kemampuan Umat Mengendalikan Diri.

0
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kutim, I Gusti Bagus Oka Mahendra. (Ist)

SANGATTA – Perayaan Hari Raya Nyepi di Sangatta, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), berlangsung khidmat meski tidak sepenuhnya sunyi seperti di Pulau Bali. Umat Hindu tetap menjalankan ritual dengan penuh makna, di tengah kehidupan masyarakat yang berjalan terbatas.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kutim, I Gusti Bagus Oka Mahendra, menegaskan bahwa esensi Nyepi tidak hanya terletak pada kondisi lingkungan yang hening, tetapi pada kemampuan umat dalam mengendalikan diri.

“Yang utama itu bagaimana kita melaksanakan Catur Brata Penyepian dengan sungguh-sungguh. Walaupun di luar tidak sepenuhnya sepi, makna Nyepi tetap bisa dirasakan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, umat Hindu di Sangatta tetap menjalankan empat pantangan utama, yakni tidak menyalakan api berlebihan, tidak bekerja, tidak bepergian, serta tidak menikmati hiburan. Semua itu menjadi bagian dari proses introspeksi diri dan penyucian batin.

Sehari sebelum Nyepi, semarak pawai Ogoh-ogoh turut mewarnai perayaan. Patung raksasa berwujud menyeramkan diarak oleh para pemuda sebagai simbol Bhuta Kala atau energi negatif yang harus dinetralisir.

“Ogoh-ogoh itu simbol. Setelah diarak, biasanya dimaknai sebagai pelepasan hal-hal buruk dalam diri manusia sebelum memasuki hari hening,” jelasnya.

Menurutnya, pelaksanaan Nyepi di Kutai Timur memiliki ciri khas tersendiri karena berada di tengah masyarakat multikultural. Aktivitas umum tidak berhenti total, namun toleransi antarumat beragama berjalan baik.

Ia mengapresiasi masyarakat non-Hindu yang turut menjaga ketenangan selama Nyepi, khususnya di lingkungan tempat ibadah dan permukiman umat Hindu.

“Ini yang kami rasakan di Kutim, kebersamaan dan saling menghargai itu sangat kuat. Nyepi bukan hanya milik umat Hindu, tapi juga menjadi momentum memperkuat toleransi,” tuturnya.

Dengan kondisi tersebut, ia berharap nilai-nilai Nyepi tidak hanya menjadi ritual tahunan, tetapi juga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam mengendalikan diri di tengah dinamika sosial.

“Harapan kami, semangat Nyepi ini bisa membawa kedamaian, bukan hanya bagi umat Hindu, tapi untuk seluruh masyarakat,” pungkasnya.

Penulis: Ramlah
Editor: Yusva Alam

Sentilan Plt Ketua DPD Demokrat Kaltim di Momen Jelang Lebaran: Jabatan Itu Amanah, Bukan Ajang Kuasa

0
Plt Ketua DPD Partai Demokrat Kalimantan Timur (Kaltim), Bambang Soepriyadi. (Ist)

SANGATTA – Momentum Hari Raya Idulfitri dimanfaatkan Plt Ketua DPD Partai Demokrat Kalimantan Timur (Kaltim), Bambang Soepriyadi, untuk menyentil para pemegang kekuasaan. Ia mengingatkan, jabatan bukanlah ajang mempertontonkan kuasa, melainkan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.

Menurut Bambang, Idulfitri tidak hanya dimaknai sebagai perayaan kemenangan setelah sebulan berpuasa, tetapi juga sebagai momen refleksi untuk kembali pada nilai-nilai fitrah. Nilai tersebut, kata dia, mencakup kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab dalam kehidupan sosial, termasuk dalam tata kelola pemerintahan.

“Lebaran ini harus jadi pengingat. Kekuasaan bukan sekadar kewenangan administratif, tapi amanah yang berat,” tegasnya.

Ia pun mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Sahih Bukhari dan Sahih Muslim, bahwa setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Pesan tersebut, lanjut Bambang, seharusnya menjadi pegangan utama bagi setiap pejabat dalam menjalankan tugas.

Lebih jauh, ia menilai fitrah manusia sejatinya condong pada kebaikan. Karena itu, momentum Idulfitri harus dimanfaatkan untuk mengoreksi diri, terutama dalam penggunaan kekuasaan agar tidak melenceng dari nilai moral.

“Jangan sampai jabatan justru dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Kekuasaan harus hadir untuk melayani masyarakat dan mendorong kesejahteraan bersama,” ujarnya.

Bambang berharap, semangat Idulfitri dapat memperkuat komitmen para pemimpin dalam menjaga etika dan integritas. Dengan begitu, kepercayaan publik terhadap penyelenggara pemerintahan tetap terjaga di tengah dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara. (rls)

Penulis: Ramlah
Editor: Yusva Alam

Rayakan Nyepi, Umat Hindu Arak Ogoh-Ogoh Keliling Sangata

0
Ogoh-Ogoh Diarak, Tanda Bersih Diri Sambut Hari Raya Nyepi. (Ramlah/Radar Bontang)

SANGATTA – Umat Hindu menggelar pawai ogoh-ogoh sebagai rangkaian menyambut Hari Raya Nyepi. Patung raksasa yang identik dengan wajah menyeramkan itu diusung beramai-ramai, menjadi simbol “pengusiran” sifat buruk dan energi negatif dalam diri manusia.

Prosesi arak-arakan berlangsung meriah. Warga tumpah ruah menyaksikan iring-iringan ogoh-ogoh yang diarak keliling sebelum akhirnya dimusnahkan. Ritual ini menjadi bagian penting dalam rangkaian penyucian diri dan alam semesta sebelum memasuki hari suci Nyepi.

Tak sekadar tontonan, tradisi ini juga sarat makna spiritual. Di sisi lain, pawai ogoh-ogoh menjadi bukti kuatnya pelestarian budaya sekaligus cermin kerukunan antarumat beragama di Kutai Timur.

Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, turut memberikan perhatian. Ia menyampaikan ucapan selamat kepada umat Hindu yang akan merayakan Nyepi.

“Atas nama pemerintah dan masyarakat, kami mengucapkan selamat Tahun Baru Saka 1948,” ujarnya, Rabu (18/3/2026).

Ardiansyah menilai, keberlangsungan tradisi ogoh-ogoh menjadi bagian penting dari kekayaan budaya daerah. Ia juga mengapresiasi konsistensi umat Hindu dalam menjaga nilai-nilai keagamaan di tengah masyarakat yang majemuk.

“Ini bukti bahwa keberagaman di Kutim adalah kekuatan. Harus terus kita jaga bersama,” tegasnya.

Momentum Nyepi tahun ini juga dinilai spesial. Pasalnya, waktunya berdekatan dengan perayaan Idulfitri. Situasi ini disebut menjadi ruang untuk mempererat toleransi dan memperkuat kebersamaan.

Sementara itu, Kapolres Kutai Timur, Fauzan Arianto, memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman. Pengamanan dilakukan bersama TNI dan unsur terkait.

“Kami ingin seluruh rangkaian ibadah berjalan lancar. Semoga umat Hindu selalu diberi kesehatan dan keberkahan,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk tetap menjaga ketertiban. Menurutnya, kebersamaan dalam keberagaman menjadi kunci menjaga kondusivitas daerah.

“Persatuan harus terus kita rawat, apalagi di momen keagamaan seperti ini,” pungkasnya.

Penulis: Ramlah
Editor: Yusva Alam