Beranda blog Halaman 217

Wisata Pantai Privat Hadir di Samboja, Jeros Resort Andalkan Konsep Tenang

0
Pantai Jeros Resort, Kelurahan Pemedas, Kecamatan Samboja (Nuzul Saputra/Media Kaltim)

SAMBOJA — Destinasi wisata baru bernama Jeros Resort hadir di Teluk Pemedas, Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara, dengan menawarkan konsep berbeda dari kebanyakan wisata pantai di Kalimantan Timur. Mengusung pendekatan privat berbasis keluarga, kawasan ini dirancang untuk menghadirkan suasana tenang, nyaman, dan lebih personal bagi pengunjung.

Sejak diresmikan pada 27 April 2026, Jeros Resort mulai menarik perhatian, termasuk dari kalangan akademisi. Mahasiswa Magister Manajemen Universitas Mulawarman (Unmul) melakukan studi lapangan untuk mengkaji manajemen operasional wisata, sekaligus berdiskusi langsung dengan pengelola dalam kegiatan tour area, Minggu (3/5/2026).

Pengelola resort, Sri Wahyuni, menjelaskan bahwa kawasan tersebut sebelumnya merupakan lahan kosong yang sebagian dihuni masyarakat pesisir. Pengembangannya dilakukan bertahap selama sekitar tiga tahun, dari kebutuhan pribadi hingga berkembang menjadi destinasi wisata.

“Awalnya memang untuk pribadi, tapi melihat potensi yang ada, akhirnya dikembangkan. Prosesnya bertahap, sekitar tiga tahunan,” ujarnya.

Saat ini, Jeros Resort masih dalam tahap soft opening. Sejumlah fasilitas telah beroperasi, sementara pengembangan lanjutan seperti villa privat masih dalam proses. Kawasan ini menyediakan 18 cottage, 10 unit glamping lengkap dengan fasilitas kasur, AC portable, hingga alat masak, serta delapan gazebo di area pantai. Tiga unit villa juga tengah disiapkan.

Dengan tiket masuk Rp25 ribu, pengunjung sudah dapat menikmati kawasan wisata. Untuk akomodasi, harga glamping mulai Rp800 ribu, sementara cottage dibanderol sekitar Rp1 juta per malam.

Ke depan, pengelola juga menyiapkan fasilitas ruang rapat berkapasitas hingga 50 orang yang dilengkapi layar LED, WiFi, serta pemandangan langsung ke pantai. Fasilitas ini ditargetkan untuk kegiatan skala besar seperti gathering maupun event.

Konsep ruang luas dan fleksibel menjadi salah satu keunggulan utama. Hal ini memungkinkan keluarga besar tetap berkumpul dalam satu area tanpa terpisah.

“Kami melihat kebutuhan keluarga yang datang bersama, jadi ruangannya dibuat lebih luas supaya tetap bisa berkumpul,” jelas Sri Wahyuni.

Selain itu, pengunjung juga diberi kebebasan membawa bahan makanan sendiri dan memanfaatkan fasilitas memasak, sehingga pengalaman wisata menjadi lebih personal.

Dari sisi lingkungan, pengelola menempatkan petugas kebersihan di berbagai titik dan melakukan pengelolaan sampah secara berkala setiap dua hingga tiga hari. Edukasi sederhana kepada pengunjung juga direncanakan untuk meningkatkan kesadaran menjaga lingkungan.

Mahasiswa yang mengikuti kunjungan, Fifit Safitri, menilai konsep privat dan family oriented menjadi pembeda utama dibanding destinasi lain di kawasan tersebut.

“Konsepnya lebih ke privat dan family oriented. Ini jarang ditemukan di kawasan sekitar,” ujarnya.

Keterlibatan masyarakat lokal juga menjadi bagian penting dalam pengelolaan. Mayoritas tenaga kerja berasal dari warga sekitar Samboja, termasuk dalam pemenuhan kebutuhan operasional melalui UMKM lokal.

“Mayoritas pekerja dari warga sekitar. Dari awal pembangunan sampai operasional, kita memang melibatkan masyarakat lokal,” ungkap Dwi Yudha Aisyah.

Ketua RT 03 Kelurahan Pemedas, Syahyudi, menilai kehadiran resort mulai memberikan dampak positif terhadap ekonomi masyarakat, terutama dalam penyerapan tenaga kerja.

“Ke depan kalau sudah grand opening, tentu akan lebih banyak penyerapan tenaga kerja,” ujarnya.

Ia juga berharap kawasan Teluk Pemedas dapat berkembang menjadi kampung wisata, terlebih dengan keberadaan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang diyakini akan memberi dampak ekonomi jangka panjang.

Ke depan, pengelola menargetkan pengembangan fasilitas tambahan seperti wahana air dan penyelesaian villa, dengan tetap melibatkan masyarakat sekitar sebagai bagian dari konsep ekowisata berkelanjutan.

“Harapannya bisa berkembang bertahap dan tetap melibatkan masyarakat sekitar,” tutup Sri Wahyuni. (MK)

Pewarta: Nuzul Saputra
Editor: Agus S

Pelantikan MATRA Kaltim di IKN Tegaskan Peran Adat dalam Pembangunan

0
Pengurus Matra dilantik dan dikukuhkan di Multifunction Hall Kemenko 3 IKN. (Istimewa)

NUSANTARA — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Majelis Adat Nusantara Kalimantan Timur resmi dikukuhkan di kawasan Ibu Kota Nusantara, Minggu (3/5/2026). Momentum ini tidak hanya menjadi seremoni organisasi, tetapi juga panggung untuk menegaskan posisi masyarakat adat dalam arus pembangunan yang kian masif.

Ketua DPW MATRA Kaltim, Bambang Arwanto, menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara investasi dan keberlangsungan hidup masyarakat adat. Ia mengingatkan bahwa eksploitasi sumber daya alam kerap berdampak pada menyempitnya ruang hidup hingga mengancam identitas budaya.

“Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar semboyan, tetapi menjadi fondasi dalam merawat persatuan di tengah keberagaman identitas adat dan budaya,” ujarnya.

Ia menegaskan, pengukuhan ini menjadi simbol komitmen bersama untuk menjadikan IKN sebagai pusat peradaban baru yang tetap berakar pada nilai-nilai adat dan budaya Nusantara.

Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, turut menyampaikan apresiasi atas pelantikan tersebut. Ia menekankan bahwa keberagaman adat dan suku di Indonesia tetap dapat disatukan melalui bahasa Indonesia sebagai identitas bersama.

“Ini sangat luar biasa. Dari berbagai adat dan suku, yang menyatukan kita adalah bahasa Indonesia. Ini sangat powerful,” ujarnya.

DPW MATRA Kaltim hadir sebagai wadah yang menghimpun komunitas masyarakat adat untuk melestarikan nilai-nilai budaya, mulai dari hukum adat, ritual, hingga kelembagaan tradisional seperti kesultanan dan kerajaan.

Organisasi ini juga mendorong pembangunan yang lebih inklusif dengan melibatkan masyarakat adat sebagai subjek utama, khususnya dalam pengelolaan sumber daya alam berbasis kearifan lokal.

Data menunjukkan, di Kalimantan Timur terdapat sedikitnya 237 komunitas masyarakat adat yang tersebar di 195 desa dan kelurahan. Namun hingga kini, baru sebagian kecil yang mendapatkan pengakuan resmi dari pemerintah daerah.

Sejumlah tokoh penting turut hadir dalam pengukuhan ini, di antaranya Akmal Malik, Brigjen TNI Anggara Sitompul, serta Ketua Umum DPP MATRA Andi Bau Malik Barammamase.

Selain itu, acara juga dihadiri unsur kesultanan dan pemangku adat, termasuk perwakilan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura dan sejumlah raja adat dari berbagai wilayah di Kalimantan Timur.

Pengukuhan ini diharapkan menjadi titik awal penguatan peran masyarakat adat dalam pembangunan IKN, sekaligus memastikan nilai-nilai budaya tetap hidup di tengah transformasi kawasan menuju pusat pemerintahan baru Indonesia. (MK)

Pewarta: Atmaja Riski
Editor: Agus S

Akmal Malik Dorong Komunitas Jadi Basis Kemandirian Pangan

0
Akmal Malik, direktur jenderal (Dirjen) Politik dan Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri. (Dok. Media Kaltim)

NUSANTARA — Akmal Malik menegaskan pentingnya kabupaten dan kota di Kalimantan Timur (Kaltim) membangun kemandirian pangan dalam menghadapi pembangunan Ibu Kota Nusantara.

Direktur Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri itu menilai penguatan ketahanan pangan dapat dilakukan melalui peran aktif komunitas masyarakat di berbagai daerah.

“Saya menyampaikan pesan Bapak Menteri Dalam Negeri pentingnya membangun kemandirian pangan melalui komunitas di berbagai daerah. Kerja sama dengan OIKN. Tolong mulai membangun budaya kemandirian pangan ini di IKN,” ujarnya saat menghadiri pelantikan dan pengukuhan DPW Matra Kaltim di Kemenko 3 IKN, Minggu (3/5/2026).

Menurut Akmal, kemandirian pangan menjadi aspek krusial mengingat posisi Kaltim sebagai wilayah penyangga utama IKN yang membutuhkan sistem ketahanan pangan yang kuat dan berkelanjutan.

Selama ini, kebutuhan pangan di Kaltim masih bergantung pada suplai dari luar daerah, terutama dari Pulau Jawa dan Sulawesi. Kondisi ini dinilai perlu segera diantisipasi agar tidak menjadi hambatan dalam mendukung pertumbuhan kawasan IKN.

Sejumlah langkah strategis pun mulai disiapkan untuk memperkuat sektor pangan di wilayah IKN. Salah satunya melalui koordinasi lintas lembaga yang dilakukan Otorita IKN bersama Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kalimantan Timur.

Melalui Direktorat Ketahanan Pangan Otorita IKN, sejumlah program dirancang untuk menyelaraskan pengembangan sektor pertanian, termasuk pendampingan wilayah oleh BRMP Kaltim serta penyuluh pertanian setempat.

Pendampingan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kapasitas petani sekaligus mendorong adopsi teknologi pertanian modern secara optimal.

Selain itu, dukungan perbenihan juga menjadi fokus utama, khususnya di wilayah Samboja yang dinilai memiliki potensi besar sebagai kawasan sentra pertanian penyangga IKN.

Dengan langkah tersebut, pemerintah berharap ketahanan dan kemandirian pangan di Kaltim dapat terbangun secara bertahap, sehingga mampu mendukung kebutuhan masyarakat sekaligus menjaga stabilitas pasokan di kawasan ibu kota baru. (MK)

Pewarta: Atmaja Riski
Editor: Agus S

WPFD 2026 Jadi Momentum Perkuat Perlindungan Jurnalis

0
Ilustrasi kebebasan pers dan aktivitas jurnalis. (Ist)

JAYAPURA — Komite Publisher Rights bersama komunitas pers di Papua menggelar peringatan World Press Freedom Day 2026 pada 4–5 Mei 2026 di Jayapura.

Ketua Komite Publisher Rights, Suprapto, menyatakan peringatan ini menjadi momentum global untuk menegaskan pentingnya kebebasan pers, perlindungan jurnalis, serta keberlangsungan media independen dalam kehidupan demokrasi.

“Dalam konteks Indonesia, tantangan kebebasan pers tidak dapat dipisahkan dari isu keberlanjutan media, baik dari sisi ketahanan ekonomi perusahaan pers maupun keselamatan jurnalis,” ujarnya, Minggu (3/5/2026).

WPFD 2026 di Indonesia mengusung tema “Pers Berkualitas Untuk Masa Depan Indonesia yang Damai dan Adil.” Tema tersebut menegaskan bahwa masa depan bangsa hanya dapat dicapai melalui karya jurnalistik berkualitas dengan jaminan kebebasan dan keberlanjutan media.

Anggota Komite Publisher Rights, Sasmito, menambahkan bahwa peringatan ini juga menegaskan kebebasan pers sebagai hak fundamental seluruh warga negara, termasuk di wilayah Papua yang memiliki tantangan sosial dan keamanan lebih kompleks.

“WPFD di Papua menjadi kesempatan penting untuk memperkuat komitmen keselamatan kerja jurnalis, mendorong standar perlindungan pers nasional, serta memastikan ruang kerja media yang aman dan bebas intimidasi,” ujarnya.

Dalam rangkaian kegiatan, panitia akan menggelar seminar nasional tentang keberlanjutan dan kebebasan pers, forum berbagi pengalaman antarperusahaan pers dalam bekerja sama dengan platform digital, stakeholder meeting, hingga pelatihan peningkatan kapasitas jurnalis dan perusahaan media.

“Kegiatan ini sejalan dengan mandat Komite Publisher Rights sebagaimana diatur dalam Perpres 32/2025,” jelas Sasmito.

Kegiatan WPFD 2026 melibatkan komunitas pers di Papua, pemerintah provinsi, serta pemangku kepentingan pers tingkat nasional.

Rangkaian acara akan ditutup dengan “Deklarasi Jayapura” yang berisi komitmen bersama dalam memperkuat keberlanjutan dan kebebasan pers di Indonesia.

Peringatan ini diharapkan menjadi langkah konkret dalam menjaga kualitas jurnalisme sekaligus memperkuat peran pers sebagai pilar demokrasi yang sehat dan berkeadilan. (MK)

Editor: Agus S

Akses Kesehatan di IKN Diperkuat, BPJS Siapkan Kantor Baru

0
Demi melihat langsung perkembangan dan potensi layanan kesehatan, jajaran BPJS Kesehatan sowan ke IKN. (Dok. Otorita)

NUSANTARA — BPJS Kesehatan berencana membangun kantor layanan khusus di Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai upaya memperkuat akses layanan kesehatan bagi peserta di kawasan ibu kota baru tersebut.

Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito, mengungkapkan bahwa pihaknya tengah melihat peluang pembangunan fasilitas tersebut seiring perkembangan kawasan IKN.

“Kami akan merencanakan pembangunan Kantor Layanan Khusus IKN, untuk perluasan akses layanan bagi peserta. Saat ini operasional pelayanan tatap muka terdekat dengan Kawasan Otorita IKN dapat dilayani di Kantor BPJS Kesehatan Kabupaten Penajam Paser Utara,” ujarnya, Minggu (3/5/2026).

Dalam kunjungan kerjanya ke IKN, jajaran BPJS Kesehatan juga meninjau sejumlah titik strategis, mulai dari lokasi persil kantor BPJS, hingga fasilitas publik seperti Masjid Negara dan Istana Negara.

Peninjauan tersebut memberikan gambaran langsung terkait kesiapan kawasan serta dukungan infrastruktur yang terus dikembangkan di Nusantara.

“Kami memberikan apresiasi terhadap pembangunan IKN. Ini menjadi kebanggaan karena Indonesia sudah memiliki ibu kota yang megah, tertata rapi, termasuk fasilitas rumah sakitnya,” tambahnya.

Kunjungan ini disambut langsung oleh Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, beserta jajaran. Ia berharap sinergi antara BPJS Kesehatan dan Otorita IKN terus diperkuat, khususnya dalam mendukung layanan kesehatan bagi masyarakat di kawasan tersebut.

“Terima kasih atas kunjungan BPJS Kesehatan di Ibu Kota Nusantara. Kami berharap koordinasi dan dukungan layanan kesehatan ke depan semakin kuat bagi warga Nusantara,” ujarnya.

Seiring dengan pesatnya pembangunan IKN, kehadiran fasilitas layanan kesehatan yang terintegrasi dinilai menjadi kebutuhan mendesak untuk menunjang kualitas hidup masyarakat dan mendukung keberlanjutan kawasan sebagai pusat pemerintahan baru. (MK)

Pewarta: Atmaja Riski
Editor: Agus S

Aksi Sopir Truk Warnai Balikpapan, Spanduk Kritik Dibentangkan

0
Aksi demo sopir truk angkutan barang. (Ist)

BALIKPAPAN — Ratusan sopir truk angkutan barang menggelar aksi protes di sejumlah ruas jalan kota, Senin (4/5/2026). Aksi tersebut ditandai dengan berhentinya kendaraan truk secara bersamaan hingga memicu antrean panjang dan mengganggu arus lalu lintas.

Pantauan di lapangan, sejumlah spanduk dibentangkan di badan truk berwarna kuning dan merah, berisi tuntutan serta kritik terhadap aparat penegak hukum. Para sopir menyuarakan keberatan atas kebijakan penertiban yang dinilai belum sepenuhnya mempertimbangkan kondisi di lapangan.

Aksi ini terjadi di tengah meningkatnya pengawasan terhadap kendaraan angkutan barang di wilayah Balikpapan.

Kapolresta Balikpapan, Jerrold Kumontoy, mengatakan pihak kepolisian tetap mengedepankan pendekatan persuasif dalam menyikapi aksi tersebut. Namun, ia mengingatkan agar penyampaian aspirasi tidak mengganggu ketertiban umum.

“Kami menghormati penyampaian pendapat di muka umum, tetapi harus tetap memperhatikan kepentingan masyarakat luas, khususnya pengguna jalan. Jangan sampai aktivitas ini justru menimbulkan kemacetan atau potensi kecelakaan,” ujarnya.

Ia menambahkan, penertiban terhadap angkutan barang merupakan bagian dari upaya menjaga keselamatan berlalu lintas. Pelanggaran seperti kelebihan muatan maupun ketidaksesuaian teknis kendaraan dinilai berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan di jalan raya.

Polisi memastikan akan terus melakukan pengawasan, namun tetap membuka ruang dialog dengan para sopir guna mencari solusi yang tidak merugikan semua pihak. (MK)

Penulis: Aprianto
Editor: Agus S

Anggaran Laundry Disorot, Pemprov Sebut untuk Enam Gedung Pemerintahan

0
Pelaksana Tugas Kepala Biro Umum Setdaprov Kaltim, Astri Intan Nirwany. (Hadi Winata/Radar Samarinda)

SAMARINDA — Anggaran laundry atau cuci perlengkapan rumah tangga Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) tahun 2026 sebesar Rp450 juta yang viral di media sosial menuai perhatian publik.

Menanggapi hal tersebut, Pelaksana Tugas Kepala Biro Umum Setdaprov Kaltim, Astri Intan Nirwany, meluruskan bahwa dana tersebut bukan diperuntukkan khusus untuk mencuci pakaian kepala daerah.

Astri menjelaskan bahwa anggaran tersebut sebenarnya dialokasikan untuk kebutuhan operasional enam gedung di kompleks Kantor Gubernur Kaltim, termasuk rumah jabatan yang digunakan secara aktif sepanjang tahun.

“Memang di Rencana Umum Pengadaan (RUP) tertulis belanja laundry kepala daerah, tetapi itu hanya nomenklatur. Penggunaannya untuk kebutuhan rumah tangga di gedung-gedung rumah jabatan,” ujarnya, Senin (4/5/2026).

Adapun enam gedung yang dimaksud berada di kawasan perkantoran gubernur, yakni Gedung Utama atau Pusat Administrasi yang terdiri dari dua bangunan, Lamin Etam (rumah jabatan gubernur), Olah Bebaya, Odah Etam, guest house untuk tamu, serta mushola.

Menurut Astri, gedung-gedung tersebut menjadi pusat berbagai kegiatan pemerintahan dan kemasyarakatan. Setiap hari, fasilitas itu digunakan untuk acara resmi, pertemuan organisasi, hingga kegiatan masyarakat umum.

Berbagai perlengkapan yang digunakan dalam kegiatan tersebut, seperti karpet, gorden, bed cover, dan taplak meja jamuan, memerlukan perawatan rutin melalui jasa laundry.

Ia menambahkan, kebutuhan tersebut meningkat sejak diberlakukannya kebijakan efisiensi anggaran. Banyak kegiatan yang sebelumnya dilaksanakan di hotel kini dialihkan ke gedung rumah jabatan.

“Sekarang kegiatan seremonial dan pertemuan tidak lagi dilaksanakan di hotel. Kami juga tidak memungut biaya dari masyarakat yang menggunakan fasilitas itu,” jelasnya.

Astri menegaskan bahwa anggaran Rp450 juta tersebut merupakan estimasi kebutuhan selama satu tahun untuk menunjang operasional enam gedung, bukan untuk kepentingan pribadi gubernur.

Meski demikian, pihaknya akan tetap melakukan evaluasi terhadap realisasi anggaran seiring dengan kebijakan efisiensi yang berjalan.

“Jadi, tidak benar jika disebut anggaran laundry kepala daerah Rp450 juta untuk kepentingan pribadi. Anggaran itu digunakan untuk sarana dan prasarana di enam gedung besar selama satu tahun. Nilainya memang demikian, tetapi ke depan akan kami evaluasi kembali sesuai kebijakan efisiensi,” tutupnya. (MK)

Penulis: Hadi Winata
Editor: Agus S

Guru Honorer Kutim Gelar Aksi Tagih Janji P3K

0
Puluhan Guru dan tenaga honorer turun menagih janji Pengangkatan. (Ist)

SANGATTA – Kesabaran puluhan guru dan tenaga kependidikan (tendik) honorer di Kutai Timur (Kutim) tampaknya sudah di ujung batas. Bertahun-tahun mengabdi tanpa kepastian status, mereka akhirnya turun ke jalan. Senin (4/5/2026), aksi solidaritas digelar di depan Kantor Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kutim.

Spanduk-spanduk tuntutan dibentangkan. Tulisan seperti “Harga Pengabdian Kami”, “Bersatu Berjuang”, hingga “Tuntut Keadilan Guru dan Tendik” menjadi simbol kegelisahan yang selama ini terpendam.

Koordinator aksi, Rahmat, menegaskan bahwa gerakan ini bukan sekadar unjuk rasa, melainkan bentuk perjuangan kolektif honorer murni yang merasa terus terpinggirkan.

“Kami hanya menuntut keadilan. Banyak dari kami sudah bekerja bertahun-tahun, tetapi belum juga mendapatkan kepastian status,” tegasnya lantang.

Menurutnya, honorer murni kerap luput dari prioritas kebijakan, terutama dalam rekrutmen Aparatur Sipil Negara (ASN) maupun Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K).

“Kami seperti tidak terlihat. Padahal kami tetap mengabdi di sekolah, menjalankan tugas seperti ASN,” lanjutnya.

Dalam aksi bertajuk Aksi Solidaritas Tuntutan Gerakan Honorer Murni itu, empat tuntutan utama disampaikan.

Pertama, mereka mendesak transparansi dalam proses analisis jabatan (anjab), pemetaan, hingga pembahasan status guru dan tenaga kependidikan honorer—termasuk operator Dapodik, tenaga administrasi sekolah, dan tenaga perpustakaan.

Kedua, honorer yang belum masuk dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik) diminta tetap diprioritaskan dalam seleksi ASN maupun P3K tahun 2026.

Ketiga, mereka menuntut kejelasan status hukum bagi honorer aktif di Kutim agar diakui sebagai tenaga honorer daerah dengan dasar hukum yang jelas.

Keempat, peningkatan kesejahteraan juga menjadi sorotan. Mereka meminta adanya tunjangan berbasis wilayah kerja serta pencairan yang dilakukan secara rutin setiap bulan.

Aksi berlangsung tertib, namun sarat emosi. Para honorer berharap suara mereka tidak lagi diabaikan. Sebab, bagi mereka, ini bukan sekadar soal status pekerjaan—tetapi juga masa depan.

“Kami akan terus mengawal tuntutan ini sampai ada kejelasan. Ini demi masa depan kami dan kualitas pendidikan di daerah,” tutup Rahmat.

Penulis: Ramlah
Editor: Yusva Alam

Kunjungi Badak LNG, Komisi A DPRD Bontang Sampaikan Aspirasi Warga dari Hasil Rases

0
Pertemuan Komisi A DPRD Bontang dengan pihak perusahaan Badak LNG. (Dwi S).

BONTANG – Komisi A DPRD Kota Bontang berkunjung ke Badak LNG, sebagai bagian dari fungsi pengawasan sekaligus upaya memperkuat komunikasi antara pemerintah daerah, perusahaan, dan masyarakat.

Dalam kunjungan tersebut, rombongan Komisi A DPRD Bontang menyampaikan bahwa agenda ini juga menjadi ajang silaturahmi dengan pihak perusahaan. Selain itu, kunjungan dilakukan usai masa reses, di mana para wakil rakyat telah menyerap berbagai aspirasi dari masyarakat.

“Pada prinsipnya kami menjalankan amanat undang-undang sebagai bagian dari fungsi pengawasan. Maka kami datang ke Badak LNG untuk menjalin silaturahmi, sekaligus menyampaikan aspirasi masyarakat yang kami terima saat reses,” ucap Ketua Komisi A DPRD Bontang, Heri Keswanto, Senin (4/5/2026).

Dari hasil reses tersebut, DPRD Bontang menerima berbagai keluhan dan masukan masyarakat, khususnya terkait pemanfaatan keberadaan perusahaan bagi warga Bontang, terutama di wilayah ring satu (free zone).

Aspirasi tersebut menjadi dasar bagi pihak DPRD Bontang, untuk bisa melakukan komunikasi langsung dengan pihak perusahaan, yakni Badak LNG.

Komisi A menilai, perlu adanya sinergi yang lebih kuat antara program perusahaan dan program pemerintah daerah. Kolaborasi tersebut dinilai penting, agar seluruh pihak dapat berjalan searah dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Kami juga mendorong adanya kolaborasi dengan program pemerintah, supaya kita satu frekuensi dan satu jalan. Dengan begitu, berbagai isu negatif yang berkembang di masyarakat bisa diminimalisir,” lanjutnya.

Dewan juga menyoroti, bahwa selama ini sejumlah kontribusi perusahaan kepada masyarakat sebenarnya sudah berjalan. Namun, informasi tersebut dinilai belum tersampaikan secara luas kepada publik.

“Bukan berarti perusahaan tidak berkontribusi. Faktanya ada andil dari perusahaan, hanya saja mungkin belum terpublikasi dengan baik, sehingga masyarakat kurang mendapatkan informasi,” tambahnya.

Melalui kunjungan kerja ini, Komisi A DPRD Bontang berharap aspirasi masyarakat dapat ditindaklanjuti, sekaligus memperkuat hubungan antara perusahaan dan masyarakat. Agar tercipta pembangunan yang lebih inklusif di Kota Bontang.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Anggaran Makan dan Minum di Kelurahan Teluk Lingga Bikin Heboh, Nilainya Capai Rp4,7 Miliar

0
Ilustrasi anggaran Rp4,7 miliar jadi sorotan. (AI)

SANGATTA – Anggaran belanja makan dan minum tamu sebesar Rp 4,7 miliar di Kelurahan Teluk Lingga, Sangatta Utara, mendadak jadi sorotan publik. Nilai fantastis itu tercantum dalam Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan (Sirup) LKPP dengan nomor pengadaan 65985446.

Sepintas, angka tersebut memantik tanda tanya. Dalam rincian, anggaran itu disebut untuk kebutuhan konsumsi rapat berupa makan dan kudapan (snack). Nilainya dinilai tidak wajar jika benar-benar hanya diperuntukkan bagi makan minum.

Camat Sangatta Utara Hasdiah pun angkat bicara. Ia menegaskan, anggaran Rp4,7 miliar itu bukan murni untuk konsumsi.

“Itu bukan hanya makan minum. Di dalamnya ada gabungan dana RT yang saat penyusunan belum dirinci secara detail,” jelasnya saat dikonfirmasi, Senin (4/5/2026).

Menurut Hasdiah, dana tersebut mencakup kebutuhan 56 rukun tetangga (RT) di Kelurahan Teluk Lingga. Karena disusun secara global, rincian penggunaan anggaran untuk masing-masing RT belum terlihat dalam dokumen awal.

“Memang kalau dilihat sekilas seolah hanya untuk konsumsi. Padahal di dalamnya ada berbagai kegiatan RT, seperti rapat, gotong royong, hingga peringatan 17 Agustus,” ujarnya.

Ia menambahkan, dalam dana RT terdapat tiga komponen utama yang wajib dijalankan, yakni sarana dan prasarana, infrastruktur, serta pemberdayaan masyarakat. Ketiga komponen tersebut sebelumnya digabung dalam satu pos anggaran.

Untuk menghindari kesalahpahaman, pihak kecamatan kini melakukan perbaikan melalui pergeseran anggaran. Usulan dari masing-masing RT yang masuk pada Februari 2026 mulai dirinci agar lebih transparan.

“Sekarang sudah kami pisahkan per kegiatan, termasuk pemberdayaan masyarakat. Jadi nanti terlihat jelas pembagian per RT, sekitar Rp250 juta,” katanya.

Hasdiah mengakui, penyusunan anggaran sebelumnya berpotensi menimbulkan persepsi yang kurang tepat di masyarakat. Karena itu, ia memastikan perbaikan mekanisme penganggaran akan terus dilakukan.

“Saya langsung ambil alih sebagai PA agar ke depan lebih akuntabel dan tidak menimbulkan anggapan seperti ini,” tegasnya.

Penulis: Ramlah
Editor: Yusva Alam