Beranda blog Halaman 252

Pemkot Imbau Perusahaan Bayar THR Tepat Waktu, Posko Pengaduan Disiapkan

0

BONTANG – Pemerintah Kota Bontang mengimbau seluruh perusahaan, agar membayarkan Tunjangan Hari Raya (THR) kepada pekerja tepat waktu sesuai ketentuan yang berlaku.

Plt Sekda Bontang, Akhmad Suharto, menegaskan bahwa pembayaran THR merupakan kewajiban perusahaan yang harus dipenuhi menjelang Hari Raya Idulfitri.

“Kita harapkan perusahaan memberikan THR sesuai dengan waktu yang telah ditentukan,” tegasnya.

Untuk mengantisipasi adanya keterlambatan atau pelanggaran pembayaran, pemerintah melalui dinas terkait akan membuka posko pengaduan THR. Posko ini dapat dimanfaatkan pekerja apabila menemukan kendala dalam pencairan hak mereka.

“Kalau memang ada yang belum dibayar atau ada permasalahan, bisa datang ke posko THR untuk ditindaklanjuti, posko nanti disediakan Disnaker,” jelasnya.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Peringati Hari Peduli Sampah Nasional, Dispopar Gelar Kegiatan Pungut Sampah di Mangrove Berbas Pantai

0
Kegiatan aksi bersih-bersih di Kawasan Mangrove Berbas Pantai. (Ist).

BONTANG – Memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPNS) 2026, Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Dispopar) Bontang menggelar aksi bersih-bersih di Kawasan Mangrove Berbas Pantai, Jumat (27/2/2026) pagi.

Kepala Dispopar, Eko Mashudi mengatakan bahwa dalam aksi kegiatan bersih-bersih dan pemungutan sampah di Kawasan Mangrove tersebut, lokasi yang menjadi sasaran utama untuk dibersihkan seperti area di bawah jembatan sepanjang kawasan mangrove, yang dimana masih terdapat sampah akibat terbawa air ketika pasang surut.

Terlebih lagi seperti sampah plastik, yakni sisa minuman dari botol-botol plastik bekas atau makanan lainnya pastinya akan ikut hanyut terbawa air laut, ketika air laut sedang pasang melalui titik-titik yang belum dipasang jaring penahan.

“Jadi masih ada beberapa bagian dari jaring penahan yang robek akibat ombak. Dari situ, biasanya sampah terbawa masuk ke area mangrove. Sehingga, sampah larut dan kembali mengotori kawasan tersebut,” ucapnya, Jumat (27/2/2026).

Melalui kegiatan ini, Eko sangat berharap lewat aksi bersih-bersih dan pemungutan sampah, mampu meningkatkan kesadaran kolektif serta menjadi contoh positif bagi masyarakat, untuk tetap terus menjaga kebersihan lingkungan. Demi mewujudkan lingkungan yang sehat dan bersih, dari program Gerakan Sampahku Itu Tanggung Jawabku (GESIT).

Adapun terkait dengan kesadaran masyarakat tentang kepedulian terhadap pengelolaan sampah, memang seharusnya selalu dibangun dan patut untuk di sosialisasikan. Karena sampah saat ini sudah menjadi perhatian pemerintah, mulai dari tingkat desa atau kelurahan, gubernur, wali kota hingga presiden.

“Saya menghimbau masyarakat untuk tidak lagi membuang sampah ke laut, maupun lingkungan. Karena selain dapat merusak alam dan lingkungan laut, turut menjauhkan kita dari rezeki, karena ikan akan semakin jauh ke tengah laut. Serta menjadikan orang lain untuk tidak lagi berkunjung wisata ke Bontang,” jelasnya.

Sehingga mari kita kelola sampah dengan penempatan sesuai pada tempatnya, dan waktu yang sesuai dengan saat pengangkutannya.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Aktivitas Berburu Takjil Nyaris Lumpuhkan Lalu Lintas, Sat Lantas Sigap Amankan Tiga Titik Rawan

0
Sejumlah Personel diterjunkan melakukan pemantauan dan pengaturan lalu lintas (panturlalin) di tiga titik rawan kepadatan. (Ramlah/Radar Bontang)

SANGATTA – Euforia berburu takjil jelang berbuka puasa membuat arus lalu lintas di Sangatta Utara nyaris lumpuh, Jumat (27/2/2026). Kendaraan roda dua dan roda empat mengular di sejumlah titik, terutama di sekitar Pasar Ramadan yang menjadi magnet warga setiap sore.

Situasi itu langsung direspons cepat jajaran Satuan Lalu Lintas (Sat Lantas) Polres Kutai Timur (Kutim). Sejak pukul 16.30 WITA, belasan personel Regu II diterjunkan melakukan pemantauan dan pengaturan lalu lintas (panturlalin) di tiga titik rawan kepadatan.

Tiga lokasi yang menjadi prioritas pengamanan yakni depan Kantor Kecamatan Sangatta Utara, depan Kantor Desa Sangatta Utara, serta Simpang 4 Hotel Kutai Permai. Persimpangan tersebut dikenal sebagai salah satu simpul kendaraan terpadat saat jam pulang kerja dan menjelang magrib.

Kasat Lantas Polres Kutai Timur AKP Rezky Nur Harismeihendra menegaskan, peningkatan volume kendaraan di bulan Ramadan memang tak terhindarkan. Karena itu, pihaknya memilih langkah proaktif agar kepadatan tidak berubah menjadi kemacetan total.

“Setiap sore volume kendaraan meningkat drastis karena masyarakat berburu takjil. Kehadiran personel di lapangan untuk memastikan arus tetap bergerak dan masyarakat merasa aman,” tegasnya.

Ia menambahkan, kepadatan bukan hanya dipicu kendaraan yang parkir di bahu jalan, tetapi juga tingginya aktivitas penyeberang jalan di sekitar Pasar Ramadan. Kondisi ini membuat arus kendaraan sempat padat merayap.

“Kami minta pengendara tetap sabar, jangan saling mendahului secara egois, dan selalu utamakan keselamatan. Banyak pejalan kaki yang menyeberang, jadi kewaspadaan harus ditingkatkan,” imbaunya.

Kehadiran polisi lalu lintas di lapangan terbukti mampu mengurai kepadatan dan mencegah kemacetan panjang yang berpotensi mengganggu kenyamanan warga selama Ramadan.

Penulis: Ramlah
Editor: Yusva Alam

Disdikbud Ingatkan PAUD, Kelalaian Kelola Dapodik Berujung Pemangkasan Bantuan!

0
Kepala Bidang Pembinaan PAUD dan PNF Disdikbud Kutim, Heri Purwanto. (Ramlah/Radar Bontang)

SANGATTA – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutai Timur (Disdikbud Kutim) memberi peringatan keras kepada seluruh pengelola PAUD. Kesalahan atau kelalaian dalam mengelola Data Pokok Pendidikan (Dapodik) bisa berujung pada pemangkasan bantuan.

Data kini menjadi “tiket masuk” utama untuk memperoleh bantuan pemerintah, baik fisik maupun operasional. Jika tidak valid dan tidak diperbarui tepat waktu, peluang mendapatkan dukungan anggaran bisa langsung tertutup.

Kepala Bidang Pembinaan PAUD dan PNF Disdikbud Kutim, Heri Purwanto, menegaskan bahwa penentuan bantuan revitalisasi tidak dilakukan secara subjektif oleh pemerintah daerah. Data calon penerima dikirim langsung dari pemerintah pusat melalui aplikasi Data Sahabat, lalu diverifikasi di lapangan.

“Daerah tidak menentukan seenaknya. Data dari pusat, kami hanya cek kesesuaiannya dengan kondisi riil sekolah,” tegas Heri saat ditemui di ruang kerjanya, Jum’at (27/2/2026).

Sebanyak 20 satuan PAUD di Kutim telah terverifikasi sebagai calon penerima bantuan fisik. Penetapan itu sepenuhnya berbasis data yang diinput sekolah masing-masing.

Karena itu, Heri mengingatkan pentingnya ketelitian operator dan pengelola dalam mengisi Dapodik. “Mau dapat bantuan atau tidak, tergantung bagaimana mengelola Dapodik. Kalau datanya bagus dan valid, peluangnya terbuka,” ujarnya.

Tak hanya soal data siswa dan sarana, Disdikbud Kutim juga menyoroti kedisiplinan pelaporan dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP). Masih ada sekolah yang terlambat menyampaikan laporan penggunaan dana hingga harus ditegur tim verifikator.

Keterlambatan itu berdampak langsung pada alokasi tahun berikutnya. Jika ada dana yang tidak terlaporkan, pagu anggaran bisa otomatis terpotong.

“Misalnya tahun ini ada Rp5 juta yang belum terlapor, maka tahun depan jumlah itu bisa langsung dikurangi dari alokasi yang seharusnya diterima,” jelasnya.

Untuk memperkuat akuntabilitas, Disdikbud Kutim juga mendorong penerapan sistem Coretax bagi bendahara sekolah. Sistem tersebut mencakup registrasi, pembuatan kode billing deposit, hingga pelaporan SPT unifikasi secara digital dan transparan.

Langkah ini diharapkan mampu meminimalkan potensi temuan audit dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), sekaligus mempercepat digitalisasi tata kelola administrasi pendidikan.

Di sisi lain, Pemkab Kutim juga tengah berpacu menekan angka Anak Tidak Sekolah (ATS) yang masih mencapai 10.197 anak. Targetnya, jumlah tersebut turun drastis menjadi sekitar 2.000 anak pada Desember 2026.

Disdikbud Kutim pun mengajak masyarakat ikut berperan aktif. Anak usia 5–6 tahun yang belum terdaftar diminta segera didorong masuk PAUD agar hak pendidikannya terpenuhi.

“Kalau ada anak usia sekolah yang belum masuk PAUD, segera ajak dan daftarkan. Ini tanggung jawab bersama,” pungkas Heri.

Penulis: Ramlah
Editor: Yusva Alam

Diduga Cemburu, Pria Ini Nekat Melakukan Percobaan Bunuh Diri

0
Ilustrasi. (Ist).

BONTANG – Seorang pria berinisial GRS (30) salah satu warga di Kelurahan Gunung Elai, Kecamatan Bontang Utara, nekat melakukan percobaan bunuh diri. Diduga akibat dugaan cemburu terhadap sang istri.

Korban ditemukan langsung oleh kepolisian di Kamis (26/2/2026) sekitar pukul 16.30 Wita, dalam keadaan kedua tangan yang telah tersayat pisau dapur. Petugas kepolisian mendapatkan informasi tersebut melalui layanan 110.

Sebelumnya salah satu saksi, yakni Yulius hendak pulang ke rumah atau Tempat Kejadian Perkara (TKP), dan sesampainya di rumah, saksi langsung melihat ada bercak darah dimana korban sudah dalam kondisi terkapar.

Selain itu, kondisi pada mulut korban pun tercium adanya bau minuman keras (miras). Setelah ditelusuri lebih lanjut oleh saksi, ternyata korban melakukan percobaan bunuh diri akibat kecemburuannya.

“Dengan dugaan cemburu sama istrinya, sebab istrinya telah dibantu dicarikan pekerjaan oleh temannya. Temannya ini pun selain kenal dengan istrinya, dia juga kenal dengan korban,” ucap Kasat Reskrim Polres Bontang, AKP Randy Anugrah Putranto, Jumat (27/2/2026).

Adanya insiden tersebut, warga sekitar beserta dengan petugas pihak kepolisian langsung membawa korban menuju Rumah Sakit (RS) Yabis, untuk mendapatkan penanganan medis. Saat ini korban masih menjalani masa perawatan, dan kondisi korban pun selamat.

“Alhamdulillah korban berhasil terselamatkan, kemungkinan akibat pengaruh alkohol jadi korban melakukan percobaan bunuh diri dengan emosi yang tidak stabil,” tutupnya.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Lansia di Muara Badak Diduga Cabuli ABG Sampai Hamil

0

Pembaca Setia Radar Bontang!

Ingin tahu kabar terkini Koran Digital Radar Bontang? Kunjungi link di bawah ini untuk membaca e-paper lengkapnya:

👉 E-Paper Lengkap
https://koran.radarbontang.com

👉 Versi Mobile
https://digital.radarbontang.com/rb27feb2026/mobile/

Radar Bontang – Aktual & Terpercaya!

MBG, Takjil Gratis Minus Gizi

0
Hafsah. (Ist)

Oleh:
Hafsah
Aktivis dan Penulis

Distribusi Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Bontang tetap berjalan selama bulan Ramadan. Namun, skema penyaluran diubah dari makanan basah menjadi paket makanan kering.

Kepala SPPG wilayah Berbas Pantai, David Diva Wijaya, mengatakan selama Ramadan MBG tetap dibagikan kepada siswa. Perbedaannya, menu yang diberikan berupa susu, buah, dan roti yang dikemas dalam totebag.

Ia menjelaskan, penyaluran MBG tetap dilakukan pada hari efektif sekolah atau bukan hari libur nasional. Waktu distribusi disesuaikan dengan permintaan masing-masing sekolah.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris, mengingatkan seluruh SPPG di Bontang untuk menjaga kualitas dan kandungan gizi makanan yang dibagikan selama Ramadan. (Kitamudamedia)

MBG dengan Segala Kisruh

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah program unggulan pemerintahan terbaru dari pusat. Daerah otomatis mengikuti tanpa mampu menolak, Pemda justru harus seiya sekata dengan pusat. Minggu pertama puasa laman media lokal maupun nasional mengupdate terkait menu MBG. Hampir semua orang tua protes dengan menu yang ditawarkan, yaitu makanan kering atau siap saji, bukan menu harian yang dimasak oleh staff dapur MBG seperti hari biasa. Alasannya, agar makanan tidak basi dan mubazir.

Yang mengherankan, masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim sedang melaksanakan ibadah puasa. Anak-anak tentu telah paham bagaimana hukum berpuasa, terutama yang sudah Aqil baligh. Namun program ini harus tetap berjalan tanpa menerima alasan dari masyarakat. Jadilah MBG tetap berjalan tanpa bisa ditolak.

Alasan yang lebih masuk akal kenapa program ini tetap berjalan adalah keuntungan. Banyak pihak dilibatkan seolah program ini kebutuhan mendesak. Kita hidup dalam sistem Kapitalis sekuler dimana tolak ukur hidup diukur dengan materi, lebih mulia lagi yaitu manfaat. Maslahat tentu urusan belakang apalagi halal haram menjadi urusan individu. Maka MBG tetap berjalan meski unsur gizi dan manfaatnya terbilang minus.

Jika melihat temanya, yakni makanan bergizi tentu harus dicermati ulang. Melihat dihampir seluruh daerah mengupdate makanan yang dibagikan kepada siswa menuai kecewa. Sebab makanan yang digadang-gadang bergizi tidak sesuai dengan faktanya. Lalu bagaimana peran para ahli gizi pada proyek MBG yang rencananya akan dikukuhkan menjadi pegawai PPPK yang digaji dari uang rakyat? Mungkin masyarakat tidak terlalu peduli, yang menjadi perhatian adalah nilai gizi yang terkandung dalam makanan gratis tersebut.

Semenjak Presiden terpilih dikukuhkan, janji kepada rakyat ditunaikan. Namun janji ini sejatinya adalah janji politik kepada para relawan untuk bagi-bagi proyek atas nama rakyat. Padahal, belum lama negeri ini disuguhi bencana alam yang perlu penanganan ekstra untuk membantu para korban dan pemulihan infrastruktur kepada wilayah terdampak. Bahkan bencana ini harusnya jadi bencana nasional tapi justru MBG yang dapat perhatian lebih dimana masyarakat penerima tidak sedang dalam kondisi kritis.
Itulah watak sistem Kapitalis dan para pengembannya. Bila tidak menguntungkan maka itu bukan prioritas.

Kesejahteraan Rakyat Tanggung Jawab Pemimpin

Islam sebagai agama juga sebagai ideologi yang mengatur kehidupan rakyat, tentu punya mekanisme dalam memenuhi kebutuhan masyarakatnya. Negara sebagai pelindung akan memastikan setiap kepala rumah tangga mendapatkan pekerjaan. Negara juga memastikan mana yang mampu memenuhi hajat hidup keluarganya dan mana yang fakir sehingga harus dibantu. Bantuan bisa datang dari pihak keluarga yang terbilang mampu, jika tidak ada maka Baitul mall akan bertanggung jawab untuk memenuhinya. Dengan mekanisme tersebut dipastikan kebutuhan dasar akan terpenuhi.

Islam memandang memandang pemenuhan kebutuhan hidup secara individu, bukan perkepala keluarga. Sebab setiap keluarga akan berbeda kebutuhannya. Saat negara membantu masyarakat fakir dan miskin terlebih dahulu memahami fungsinya sebagai pengayom rakyat. Artinya tidak ada timbal balik atau mencari keuntungan saat membantu sebab itu adalah tanggung jawabnya dihadapan Allah SWT.

Rasulullah Saw bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya” (HR. Bukhari 7150, Muslim 1829)

Islam telah menanamkan rasa takut kepada para pengurus rakyat sebagai ra’in. Sebab landasan bernegara yaitu aqidah Islam menjadi sumpah selagi menjabat. Dengan begitu, anggaran yang dipakai atas nama rakyat benar difungsikan untuk kemaslahatan rakyat. Prioritas negara adalah memastikan setiap individu terjamin hidupnya berikut kebutuhan kesehatan dan pendidikannya.

Anggaran yang ada di Baitul mall benar-benar difungsikan.

Berdasarkan buku Sistem Keuangan Negara khilafah karya Syekh Abdul Qadim Zallum, pemasukan negara berasal dari tiga bagian, yaitu fa’i dan kharaj, kepemilikan umum, dan zakat.
Fa’i dan kharaj terdiri dari seksi ghonimah, kharaj, status tanah, jizyah, fa’i dan dhoribah.

Bagian kepemilikan umum terdiri dari seksi migas, listrik, pertambangan, laut, sungai, perairan dan mata air, hutan dan padang rumput serta aset yang diproteksi negara.

Bagian zakat terdiri dari zakat uang, dan perdagangan, zakat pertanian dan buah-buahan serta zakat ternak seperti sapi, unta dan kambing.

Dengan sumber pendapatan yang memadai dari berbagai sektor, dipastikan kas negara dalam keadaan aman. Terlebih negara juga memastikan pendapatan tiap kepala rumah tangga terpenuhi dengan penyediaan lapangan pekerjaan.
Penguasa memposisikan diri sebagai pelayan bagi rakyat dengan menjaga keamanan harta tiap individu tanpa menyentuh apalagi merampasnya apapun alasannya.

Wallahu a’lam bisshowab

Pengamanan di Bulan Puasa, Polres Bontang Turunkan 200 Personel Gabungan

0
Kapolres Bontang, AKBP Widho Anriano. (Dwi S).

BONTANG – Dalam rangka menjaga keamanan dan ketertiban selama bulan suci Ramadan, Polres Bontang bakal menurunkan sebanyak 200 personel gabungan.

Ratusan personel tersebut akan disiagakan di sejumlah titik strategis, guna memastikan masyarakat dapat menjalankan ibadah puasa dengan aman dan nyaman.

Kapolres Bontang, AKBP Widho Anriano menyampaikan bahwa, untuk kegiatan pengamanan diawali dengan pelaksanaan apel gelar pasukan, Rabu (25/2/2026) kemarin. Jumlah personel yang diterjunkan melibatkan unsur Polri, TNI, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Dinas Perhubungan (Dishub), hingga instansi terkait lainnya.

“Terkait penggelaran apel, kami akan menerjunkan sebanyak 200 personel gabungan, sama seperti halnya pengamanan di tahun baru kemarin,” ujarnya.

Sehingga Polres Bontang akan membuat lima pos pengamanan (Pospam) yang nantinya didirikan di sejumlah lokasi, yakni di kawasan Ramayana, Citimall (BCM), Pelabuhan Loktuan, Marangkayu, dan Muara Badak.

“Titik-titik tersebut dinilai memiliki tingkat mobilitas masyarakat yang cukup tinggi, terutama selama Ramadan hingga menjelang Idulfitri,” tambahnya.

Sementara itu, pihak kepolisian tidak menempatkan pos pengamanan di kawasan Tugu Selamat Datang. Pasalnya, jalur tersebut dinilai hanya sebagai lintasan kendaraan dan bukan titik kumpul masyarakat.

“Untuk di daerah Loktuan, karena terdapat pelabuhan dan mobilitas orang maupun barang cukup tinggi, maka kami tempatkan Pospam di sana,” jelasnya.

Polres Bontang menegaskan bahwa pengamanan ini bertujuan untuk menciptakan situasi kamtibmas yang kondusif, agar masyarakat dapat menjalankan ibadah puasa dengan khusyuk tanpa adanya gangguan keamanan.

Dengan kesiapsiagaan aparat, sangat diharapkan seluruh rangkaian kegiatan selama bulan Ramadan di Kota Bontang, dapat berjalan dengan lancar, hingga di perayaan Idulfitri mendatang.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Data Pedagang Dipersoalkan, Pasar Baru Sepaku Terancam Tertunda

0
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sempat meninjau pembangunan Pasar Sepaku dan berdialog dengan beberapa pedagang lama. (Dok. Media Kaltim)

NUSANTARA – Rencana penempatan pedagang ke Pasar Segar Sepaku, bangunan baru yang telah rampung dibangun Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN), masih menyisakan polemik. Persoalan data pedagang disebut menjadi sumber perdebatan yang belum tuntas.

Sejumlah pedagang lama menilai proses pendataan penerima kios dan lapak belum sepenuhnya akurat. Tim kecil yang sebelumnya mendata nama-nama pedagang dianggap belum mencerminkan skala prioritas yang disepakati.

Informasi yang dihimpun, Rabu (25/2/2026) malam, berlangsung pertemuan terbatas di Balai Kota IKN. Sedikitnya empat pedagang lama yang dikoordinatori Wijiono alias Gepeng menyampaikan aspirasi kepada Deputi Sosial, Budaya dan Pemberdayaan Masyarakat OIKN, Alimuddin.

Dalam pertemuan tersebut, pedagang lama mengajukan tiga skala prioritas sebagai acuan penempatan di pasar baru. Pertama, pedagang lama yang selama ini beraktivitas di Pasar Sepaku. Kedua, pedagang yang terdampak koridor. Ketiga, pedagang yang terdampak langsung pembangunan pasar.

“Tiga poin ini yang diminta tokoh pasar ke Bapak Deputi sebagai acuan,” ujar Umar Rizcy Maico, pemuda Desa Suka Raja yang ikut mengawal proses relokasi pedagang.

Menurut Umar, persoalan utama terletak pada validitas data. Selama data belum dinilai clear and clean, sebagian pedagang menyatakan keberatan apabila pasar diresmikan.

“Sampai hari ini masalah pasar belum clear. Kalau mau diresmikan, resmikan saja, tapi kita tutup pasarnya,” kata Umar menirukan pernyataan sejumlah tokoh pasar.

Dalam pertemuan tersebut, Deputi OIKN disebut menyetujui perlunya pendataan ulang. Namun, pedagang lama meminta agar proses tersebut dilakukan oleh tim baru yang dinilai lebih netral, dengan pengawasan melibatkan tokoh pasar.

“Tokoh-tokoh pasar minta tim baru yang mendata secara netral dan pengawasannya melibatkan perwakilan pedagang lama,” jelas Umar.

Hingga pukul 22.46 Wita, pertemuan antara perwakilan pedagang dan pihak OIKN dikabarkan masih berlangsung. Polemik ini berpotensi memengaruhi jadwal peresmian Pasar Segar Sepaku yang sebelumnya digadang-gadang menjadi simbol penguatan ekonomi lokal di kawasan IKN. (MK)

Editor: Agus S

PNBP Perhutanan Sosial Belum Optimal, BPHL XIII Minta Pendampingan Diperkuat

0
Suasana Diskusi Reguler “Optimalisasi PNBP dalam Skema Perhutanan Sosial di Provinsi Kalimantan Timur” yang digelar di Hotel Mercure Samarinda. (K. Irul Umam/mediakaltim)
SAMARINDA – Partisipasi pembayaran Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari skema perhutanan sosial di Kalimantan Timur masih tergolong rendah. Balai Pengelolaan Hutan Lestari (BPHL) Wilayah XIII Samarinda menilai peningkatan kesejahteraan masyarakat menjadi prasyarat utama sebelum mendorong optimalisasi setoran PNBP.
Hal tersebut disampaikan Kepala BPHL Wilayah XIII Samarinda, M. Jandi Pinem, dalam Diskusi Reguler “Optimalisasi PNBP dalam Skema Perhutanan Sosial di Provinsi Kalimantan Timur” di Hotel Mercure Samarinda, Kamis (26/2/2026).
Menurut Jandi, pengelolaan kehutanan di Kaltim terbagi dalam dua pendekatan, yakni skema korporasi dan perhutanan sosial (PS) berbasis masyarakat.
“Untuk korporasi ada BPWPH. Selama ini di Kaltim masih didominasi hasil hutan kayu. Ke depan kita arahkan tidak hanya kayu, tetapi juga usaha kehutanan lainnya,” ujarnya.

M. Jandi Pinem, Kepala Balai Pengelolaan Hutan Lestari (BPHL) Wilayah XIII Samarinda. (K. Irul Umam/mediakaltim)
Sementara pada skema perhutanan sosial yang mayoritas dikelola masyarakat, potensi hasil hutan bukan kayu (HHBK) dinilai lebih besar. Namun, implementasi di lapangan belum sepenuhnya optimal, termasuk dalam kontribusi terhadap PNBP.
“Dari data yang ada memang belum berjalan dengan baik. Karena itu kita dorong masyarakat untuk berpartisipasi membayar PNBP ke negara, walaupun jumlahnya relatif kecil,” katanya.
Ia menyebutkan, dari total izin perhutanan sosial di Kaltim, sekitar 45 persen yang tergolong aktif. Kondisi tersebut menjadi tantangan agar kelompok tani hutan dan pengelola PS dapat lebih produktif.
Jandi menegaskan, peningkatan produktivitas tidak bisa berjalan sendiri. Diperlukan peran multipihak mulai dari Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), Dinas Kehutanan, mitra pembangunan, hingga unit pelaksana teknis kementerian.
“Yang utama adalah meningkatkan pendapatan masyarakat dulu. Kalau kesejahteraan mereka meningkat, kewajiban membayar PNBP tentu tidak menjadi beban,” tegasnya.
Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya penguatan hutan adat di Kaltim. Saat ini tercatat enam usulan hutan adat dalam proses penetapan, salah satunya di Kabupaten Paser seluas sekitar 7.000 hektare, serta beberapa wilayah di Kutai Barat dengan luasan ratusan hektare.
“Kita sangat mendukung hutan adat, karena masyarakat di tapak sudah menjalankan kehidupan sesuai tradisi mereka. Itu harus kita lindungi,” ujarnya.
Secara keseluruhan, capaian perhutanan sosial di Kaltim telah menembus lebih dari 300 ribu hektare. Meski demikian, BPHL XIII menilai optimalisasi PNBP dan peningkatan kesejahteraan masyarakat harus berjalan beriringan.
“Kita optimistis sampai waktu yang ditentukan target itu bisa tercapai,” tutupnya. (MK)
Editor: Agus S