Beranda blog Halaman 30

Myrna Ingin Halaman Warga IKN Jadi Sumber Pangan Keluarga

0
Aksi korve sampah di KIPP IKN, Sabtu (6/6/2026) pagi. Foto: Atmaja Riski/Media Kaltim

NUSANTARA – Sedikitnya 330 kilogram sampah terpilah berhasil dikumpulkan dalam kegiatan korve massal yang digelar Otorita Ibu Kota Nusantara bersama sejumlah pihak di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN, Sabtu (6/6/2026) pagi.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang diperingati setiap 5 Juni dan dinilai sebagai indikator bahwa kebersihan kawasan inti IKN mulai terkendali.

Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, mengatakan jumlah sampah yang terkumpul menunjukkan kondisi kawasan Nusantara relatif bersih meski upaya menjaga lingkungan tetap harus diperkuat secara konsisten.

“Angka tersebut menunjukkan jika kondisi kebersihan di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan IKN sudah cukup terjaga,” ujar Basuki di lokasi kegiatan.

Menurut mantan Menteri PUPR itu, menjaga kebersihan dan lingkungan hidup di IKN akan terus diperketat sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.

Ia menegaskan kegiatan korve tidak boleh hanya dilakukan pada momentum tertentu, tetapi harus menjadi budaya sehari-hari bagi pejabat, pegawai, maupun masyarakat di kawasan IKN.

“Korve ini telah menjadi gaya hidup kami di IKN,” tegas Basuki.

Selain menjaga kebersihan, Otorita IKN juga terus mendorong gerakan penghijauan sebagai bagian dari pembangunan konsep smart forest city.

Penanaman pohon disebut mulai menjadi budaya dalam berbagai kegiatan seremonial di lingkungan IKN, termasuk pelantikan pejabat hingga perayaan ulang tahun aparatur sipil negara.

“Kalau ada yang ulang tahun, kami dorong menanam pohon. Kalau ada pelantikan pejabat, juga menanam pohon,” katanya.

Deputi Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Otorita IKN, Myrna Asnawati Safitri, menambahkan pihaknya juga membagikan bibit tanaman buah kepada masyarakat agar halaman rumah warga dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan sehat keluarga.

“Kami telah membagi-bagikan bibit tanaman buah-buahan kepada kelompok-kelompok masyarakat dengan harapan dilakukan penanaman di halaman masing-masing. Sehingga halaman itu juga bisa menjadi sumber pangan keluarga yang sehat,” ujar Myrna.

Puncak peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tahun 2026 sendiri dipusatkan di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Pramuka Cibubur, Jakarta Timur, yang diikuti sejumlah pemerintah daerah dan kepala daerah secara hybrid melalui telekonferensi.

Kegiatan di Cibubur turut dihadiri Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, serta Wakil Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Ahmad Riza Patria. (MK)

Pewarta: Atmaja Riski
Editor: Agus S

Tim Hukum Sebut Perusahaan Rita Sudah Berdiri Sejak 2006

0
Mantan Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari. Foto: Istimewa

JAKARTA – Mantan Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari terus memperjuangkan apa yang disebutnya sebagai upaya mencari keadilan atas pengembangan perkara gratifikasi dan tindak pidana pencucian uang (TPPU) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi.

Untuk mendukung klaim tersebut, tim kuasa hukum Rita mengaku telah menyiapkan berbagai dokumen yang menunjukkan perusahaan-perusahaan yang kini dipersoalkan merupakan usaha keluarga yang telah berdiri jauh sebelum Rita menjabat sebagai kepala daerah.

Rita Widyasari sebelumnya menegaskan bahwa tiga perusahaan yang menjadi objek pengembangan perkara KPK, yakni PT Sinar Kumala Naga (SKN), PT Alamjaya Barapratama (ABP), dan PT Bara Kumala Sakti (BKS), telah beroperasi sejak tahun 2006 atau sebelum dirinya menjadi Bupati Kutai Kartanegara.

Menurut Rita, PT SKN merupakan perusahaan miliknya bersama keluarga, sementara PT ABP merupakan milik kakaknya dan PT BKS merupakan perusahaan milik orang tuanya.

“Saat menerima hasil usaha itu, semuanya terkait PT Sinar Kumala Naga yang memang milik saya dan keluarga. Sedangkan PT Alamjaya sepenuhnya milik kakak saya, dan saya tidak pernah menerima apa pun dari sana,” kata Rita usai menjalani pemeriksaan di Gedung Merah Putih KPK, Rabu (3/6/2026).

Kuasa hukum Rita, Reza Fahruzi, mengatakan pihaknya telah mengumpulkan berbagai dokumen untuk membuktikan legalitas dan struktur kepemilikan perusahaan keluarga tersebut.

“Bukti yang kami miliki antara lain akta pendirian perusahaan dan akta yang menyatakan kepemilikan saham milik keluarga Rita Widyasari, serta dokumen-dokumen lainnya yang terkait dengan perusahaan tersebut,” ujar Reza saat dikonfirmasi, Sabtu (6/6/2026).

Menurutnya, dokumen tersebut menunjukkan perusahaan-perusahaan itu telah berdiri secara sah sebelum Rita menduduki jabatan publik.

Karena itu, pihaknya menilai penerimaan dana yang diperoleh Rita dari perusahaan tersebut merupakan hak sebagai pemegang saham dan bukan berkaitan dengan jabatan politiknya.

“Perlu diketahui bahwa penerimaan uang dari perusahaan tersebut murni dividen sebagai pemegang saham, bukan sebagai jabatannya sebagai bupati,” tegas Reza.

Rita juga mengaku tidak pernah terlibat dalam operasional perusahaan-perusahaan tersebut. Bahkan saat menjabat sebagai bupati, ia mengklaim pernah menghentikan operasional PT Alamjaya dan PT BKS karena persoalan lingkungan.

Selain itu, Rita menyebut izin usaha pertambangan PT SKN ditandatangani oleh Sulaiman Gofur dan tidak melibatkan ayahnya, Syaukani.

Ia berharap fakta-fakta tersebut dapat menjadi pertimbangan dalam proses hukum yang sedang berjalan.

“Saya hanya memohon keadilan yang seadil-adilnya,” tutup Rita. (MK)

Pewarta: Fajri
Editor: Agus S

Kuasa Hukum Minta Penegak Hukum Bedakan Dividen dan Gratifikasi

0
Mantan Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari. Foto: Istimewa

JAKARTA – Tim kuasa hukum Rita Widyasari mengkritik konstruksi hukum dalam pengembangan perkara gratifikasi dan tindak pidana pencucian uang (TPPU) yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi.

Menurut tim hukum, keuntungan yang berasal dari perusahaan keluarga yang sah tidak dapat serta-merta dipersamakan dengan hasil tindak pidana korupsi.

Rita Widyasari mengaku sedih karena namanya terus dikaitkan dengan perkara yang menurutnya berkaitan dengan perusahaan keluarga yang telah berdiri jauh sebelum dirinya menjabat sebagai kepala daerah.

Ia juga membantah berbagai tuduhan yang berkembang, termasuk soal kepemilikan 110 mobil mewah dan uang lebih dari Rp360 miliar yang disebut terkait penyidikan KPK.

“Yang paling menyedihkan, saya dituduh menerima uang dari usaha milik saya sendiri. Berita yang viral menyebutkan ada 110 mobil, padahal tak ada satu pun milik saya. Uang disita Rp360 miliar lebih itu juga bukan milik saya,” kata Rita sambil menangis.

Kuasa hukum Rita, Reza Fahruzi, menilai terdapat persoalan mendasar dalam cara aset perusahaan keluarga dikaitkan dengan dugaan korupsi.

“Ya, pola penanganan perkara yang menyangkakan aset dan dividen perusahaan keluarga yang sah dengan delik korupsi tidak masuk akal secara hukum,” kata Reza saat dikonfirmasi, Sabtu (6/6/2026).

Menurutnya, hukum pidana korupsi harus didasarkan pada adanya kerugian negara yang nyata dan bukan sekadar asumsi bahwa seseorang memperoleh keuntungan dari perusahaan yang dimilikinya.

“Tidak masuk akal jika seseorang langsung dituduh korupsi tanpa melihat indikator yang jelas. Hukum pidana korupsi itu substansinya adalah melihat ada atau tidaknya kerugian nyata bagi keuangan negara,” ujarnya.

Reza juga mengingatkan agar aparat penegak hukum tidak mencampuradukkan keuntungan perusahaan swasta yang legal dengan gratifikasi yang diduga berasal dari penyalahgunaan jabatan.

“Aparat penegak hukum harus jeli dan tidak boleh mencampuradukkan antara keuntungan murni perusahaan keluarga dengan gratifikasi yang disangkakan,” katanya.

Ia mempertanyakan logika hukum apabila seseorang dipersoalkan karena menerima dividen dari perusahaan yang telah dimiliki sebelum menduduki jabatan publik.

“Masa orang dihukum karena dia memiliki perusahaan sebelum menjabat sebagai bupati. Perlu diketahui bahwa penerimaan uang dari perusahaan tersebut murni dividen sebagai pemegang saham, bukan sebagai jabatannya bupati,” tegas Reza.

Terkait aset dan rekening yang telah disita KPK, pihak kuasa hukum mengaku telah menerima rincian data tersebut. Namun mereka menolak membeberkannya kepada publik karena dianggap menyangkut privasi keluarga Rita Widyasari.

“Kami sudah memiliki rincian daftar aset dan rekening yang disita oleh KPK. Namun rincian tersebut tidak dapat kami berikan karena bersifat confidential, mencakup nama-nama keluarga Ibu Rita dan untuk menjaga privasi keluarga beliau,” pungkasnya. (MK)

Pewarta: Fajri
Editor: Agus S

Otorita IKN Mulai Dorong Pengolahan Sampah Organik Rumah Tangga

0
Deputi LHSDA Otorita IKN, Myrna Asnawati Safitri. Foto: Atmaja Riski/Media Kaltim

NUSANTARA – Melalui Gerakan Indonesia Aman, Sehat, Resik, dan Indah (ASRI), Kementerian Lingkungan Hidup mengajak masyarakat menjadikan pemilahan sampah sebagai budaya baru dalam kehidupan sehari-hari.

Gerakan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran aksi iklim yang dinilai tidak selalu harus dilakukan melalui teknologi mahal maupun investasi besar, melainkan dapat dimulai dari perubahan perilaku sederhana yang dilakukan secara konsisten.

Menteri Lingkungan Hidup, Jumhur Hidayat, mengatakan semangat “No Generation Left Behind” menjadi bagian penting dalam gerakan tersebut.

“Tidak boleh ada satu generasi pun yang tertinggal dalam memahami, menghadapi, dan mengambil peran dalam mengatasi krisis lingkungan. Generasi hari ini memiliki tanggung jawab untuk memastikan generasi mendatang tetap memiliki akses terhadap lingkungan yang sehat, sumber daya alam yang lestari, dan kualitas hidup yang lebih baik,” ujarnya dalam telekonferensi, Sabtu (6/6/2026).

Sementara itu, di Otorita Ibu Kota Nusantara, pemilahan sampah mulai diterapkan sebagai bagian dari pembangunan kota berkelanjutan.

Deputi Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam (LHSDA) Otorita IKN, Myrna Asnawati Safitri, menegaskan IKN menargetkan minimal 60 persen sampah dapat dikelola menggunakan prinsip Reduce, Reuse, Recycle (3R).

Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sekaligus mendukung visi IKN sebagai kota net-zero karbon.

“Nah, per tahun ini kami juga sudah mulai untuk keluarga KIPP, tapi sifatnya masih himbauan kepada masyarakat untuk melakukan pemilahan sampah, terutama pengolahan sampah organik di rumah tangga masing-masing. Karena itu sangat penting,” ujar Myrna.

Ia menjelaskan, penerapan budaya memilah sampah di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) sebenarnya sudah dimulai sejak 2024 lalu. Kawasan tersebut dijadikan contoh penerapan kebiasaan pengelolaan sampah yang baik bagi masyarakat luas.

“Mengapa dari KIPP, ini tentu sesuai arahan bapak kepala. Kita harus memberi contoh,” katanya.

Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, menilai pembentukan budaya ASRI harus dilakukan melalui gerakan bersama yang konsisten dan melibatkan seluruh elemen masyarakat.

“Saya kira begitu. Ini harus bersama-sama, harus gerakan. Komitmennya harus keras,” ujar Basuki.

Saat ini, di kawasan KIPP telah tersedia tempat sampah terpilah berwarna hijau, merah, dan kuning. Selain itu, Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) IKN juga mulai menerapkan sistem pengolahan berbasis sampah terpilah dari sumbernya.

Pemerintah menargetkan penguatan berbagai kebijakan pengendalian perubahan iklim dan perlindungan lingkungan hidup dapat menjadi bagian penting menuju visi Indonesia Emas 2045 sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto. Namun keberhasilan program tersebut dinilai hanya dapat tercapai melalui partisipasi aktif seluruh masyarakat. (MK)

Pewarta: Atmaja Riski
Editor: Agus S

Menembus Jalur Tenggarong Seberang–Simpang Muara Badak: Sunyi, Berliku, dan Masih Berisiko

0
Salah satu ruas jalan cor di jalur alternatif Tenggarong Seberang–Simpang Muara Badak yang kini mulai banyak dilalui warga. Peta perjalanan saya dari Tenggarong Seberang hingga masuk jalur Batu Besaung menuju Simpang Muara Badak. Foto: Istimewa

Jumat (5/6/2026) kemarin, saya kembali melakukan perjalanan ke luar daerah. Kali ini ke Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar).

Seperti biasanya, setiap keluar daerah saya selalu berupaya menyempatkan singgah ke biro-biro Media Kaltim Network (MKN). Untuk berdiskusi langsung dengan tim di lapangan, melihat perkembangan daerah, sekaligus menjaga silaturahmi.

Dari Samarinda, perjalanan kami awali menuju Masjid Al Qamar di kawasan Teluk Dalam, Tenggarong Seberang. Setelah Salat Jumat, bersama istri dan anak, kami mulai mencari tempat makan khas Kutai.

Beberapa hari sebelumnya, istri sempat melihat review Rumah Makan Oemar di TikTok. Akhirnya saya meminta Direktur Radar Kukar, Muhammad Rafii, untuk sekalian memesankan tempat.

Dan ternyata memang layak dicoba.

Saat datang, pengunjung cukup ramai. Beberapa meja bahkan sudah terisi penuh. Menu yang tersaji di meja juga benar-benar khas Kutai.

Ada nila bakar, dan gence nila dengan bumbu yang terasa sampai ke dalam daging ikan. Lais goreng yang renyah. Sambal jaong dengan rasa pedas khas Kutai yang kuat. Sambal cacapan mangga yang segar. Ditambah sayur labu kuah kuning dan terong bakar yang jadi pelengkap pas.

Model masakannya terasa seperti masakan rumahan. Tidak terlalu banyak bumbu modern atau rasa instan. Justru ini yang bikin enak.

Saya bersama Direktur Radar Kukar Muhammad Rafii saat menikmati makan siang khas Kutai di Rumah Makan Oemar, Tenggarong Seberang. Foto: Rini/Media Kaltim

Sambil makan, saya dan Rafii juga berdiskusi banyak hal. Mulai perkembangan radarkukar.com, kondisi media saat ini, sampai jalur alternatif melalui Batu Besaung Tenggarong Seberang yang belakangan mulai ramai diperbincangkan warga Kukar dan Samarinda.

Dari obrolan itu akhirnya muncul niat spontan untuk mencoba langsung jalur tersebut menuju Simpang Muara Badak dan lanjut ke Bontang.

Harapannya, siapa tahu bisa memangkas waktu dibanding harus memutar lagi lewat Samarinda.

Apalagi saya memang sengaja menyiapkan dashcam sepanjang perjalanan. Rencananya perjalanan ini ingin saya dokumentasikan penuh dari awal sampai akhir. Mulai kondisi jalan, tikungan, titik rawan, sampai suasana jalur yang selama ini ramai dibicarakan di media sosial.

Siapa tahu bisa menjadi video eksklusif perjalanan jalur Tenggarong Seberang–Simpang Muara Badak yang benar-benar utuh menit per menit.

Namun ternyata ada kendala. Penyimpanan di dashcam penuh dan sistem rekam otomatisnya menimpa video lama. Akibatnya, yang tersimpan justru hanya bagian akhir perjalanan. Sementara rekaman awal hingga pertengahan jalur sebagian besar hilang.

Padahal justru di bagian awal itulah banyak momen menarik dan cukup menegangkan.

Bahkan awalnya saya sempat kelewatan sampai L4. Baru sadar setelah bertanya di sebuah warung bakso di pinggir jalan. Saat itu sempat terpikir untuk putar balik lagi ke Samarinda.

Namun setelah melihat plang besar yang menunjukkan arah Samarinda dan Batu Besaung di L2, perjalanan akhirnya tetap saya lanjutkan.

Dan terus terang, jalur ini memang belum sepenuhnya nyaman.

Awalnya saya mengira jalur ini sudah benar-benar mulus. Sebab dari berbagai review TikTok yang saya lihat, banyak yang mulai menyebut jalur ini sudah layak menjadi alternatif utama menuju Simpang Muara Badak, jalur poros Samarinda-Bontang.

Dan memang sebagian besar jalan sudah jauh berubah.

Banyak ruas sudah dicor beton dan diperlebar. Beberapa bagian jalan provinsi bahkan cukup nyaman dilalui mobil keluarga seperti Veloz, Avanza, atau Innova. Tapi untuk jenis sedan, saya pribadi belum terlalu merekomendasikan.

Begitu masuk kawasan Batu Besaung, suasananya langsung berubah.

Jalan mulai menyempit. Tikungan demi tikungan muncul cukup panjang. Di kanan kiri didominasi hutan, kebun sawit, lembah, dan sesekali rumah warga yang berjauhan.

Ada satu simpang yang sempat membuat bingung. Antara arah Batu Cermin dan Batu Besaung. Untung masih sempat bertanya.

Memang sekitar 90 persen jalur sudah cukup baik. Tetapi masih ada beberapa titik yang menurut saya cukup rawan.

Ada tanjakan curam berbatu walaupun jaraknya mungkin hanya sekitar 100 meter. Ada juga badan jalan yang tinggal separuh akibat longsoran di sisi tebing.

Di satu titik bahkan sempat terlihat seperti jalan putus karena badan jalan menyempit cukup ekstrem.

Kalau malam hari atau saat hujan deras, saya pribadi benar-benar tidak merekomendasikan jalur ini untuk kendaraan atau motor yang belum familiar dengan medan.

Karena selain minim penerangan, suasananya juga sangat sepi. Di beberapa titik bahkan nyaris tidak ada rumah penduduk. Sinyal telepon juga kadang hilang muncul. Kalau kendaraan bermasalah di tengah jalan malam hari, situasinya tentu cukup berisiko.

Belum lagi potensi tindak kejahatan tentu tidak bisa diabaikan. Jalur yang panjang, sepi, dan jauh dari permukiman memang selalu menyimpan potensi kerawanan tersendiri, apalagi jika melintas sendirian pada malam hari.

Jalur alternatif Tenggarong Seberang–Simpang Muara Badak mulai ramai digunakan sebagai akses menuju Bontang tanpa masuk Kota Samarinda. Foto: Istimewa

Karena itu, kalau memang harus melintas, saya pribadi lebih menyarankan dilakukan siang atau sore hari. Pastikan kendaraan benar-benar prima dan BBM cukup sebelum masuk jalur ini.

Meski begitu, saya melihat jalur ini sangat penting untuk masa depan konektivitas Kukar, Samarinda hingga Bontang.

Karena sebenarnya titik rawannya tidak banyak. Hanya sekitar lima titik yang memang perlu benar-benar diselesaikan pemerintah. Sisanya sudah cukup layak.

Dari berbagai review yang saya lihat sebelumnya, beberapa bulan lalu jalur ini masih dipenuhi aktivitas alat berat dan pekerjaan jalan. Namun saat saya melintas kemarin, praktis sudah tidak terlihat lagi pekerjaan berarti di sepanjang jalur tersebut.

Artinya progresnya memang sudah jauh berkembang.

Hanya saja jalur ini masih membutuhkan sentuhan akhir. Terutama pengaman longsor, pelebaran beberapa titik sempit, penerangan, dan rambu penunjuk arah yang lebih jelas.

Soal waktu tempuh sendiri ternyata tidak terlalu berbeda jauh dibanding jalur biasa lewat Samarinda. Dari Tenggarong Seberang menuju Simpang Muara Badak berkisar sekitar 60–70 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam, tergantung kondisi jalan dan cuaca. Saat saya melintas, cuaca cukup cerah sehingga perjalanan relatif lancar.

Tetapi perjalanan ini tetap memberi pengalaman berbeda. Sunyi. Hijau. Berliku. Kadang membuat waswas, tapi sekaligus menarik.

Dan mungkin justru karena rekaman dashcam itu tidak tersimpan utuh, perjalanan ini akhirnya lebih banyak tersimpan di ingatan dibanding di video. (*)

Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.

Harga Bahan Pokok dan Oli Merangkak Naik, UMKM Bontang Hadapi Keluhan Pelanggan

0
Ilustrasi. (AI)
BONTANG – Kenaikan harga sejumlah bahan pokok dan kebutuhan usaha mulai dirasakan pelaku UMKM di Bontang. Pedagang sayur hingga pemilik bengkel mengaku biaya modal meningkat dalam beberapa waktu terakhir, sementara pelanggan mulai mempertanyakan kenaikan harga yang mereka terapkan.
Pedagang sayur di Bontang, Tri, mengatakan beberapa komoditas mengalami kenaikan, terutama minyak goreng dan bawang merah.
Ia menjelaskan harga minyak goreng yang sebelumnya sekitar Rp19 ribu per liter kini menjadi Rp21 ribu. Sementara bawang merah yang semula dibeli Rp50 ribu per kilogram kini naik menjadi Rp60 ribu per kilogram.
Menurutnya, kenaikan tersebut membuat banyak pelanggan, termasuk pembeli tetap, mengeluhkan harga yang semakin tinggi.
“Pembeli sering mengeluh, langganan juga banyak yang bertanya kenapa sekarang mahal. Tapi kami juga mengikuti harga dari pemasok,” ujarnya.
Tri menduga kenaikan harga dipengaruhi meningkatnya biaya distribusi akibat lonjakan harga BBM dan kondisi ekonomi. Ia juga mulai mengantisipasi kemungkinan kenaikan harga tahu dan tempe setelah mendengar harga kedelai mengalami peningkatan.
“Iya biasanya kalau mau naik ada pemberitahuan atau sosialisasi dulu. Dulu waktu harga plastik naik juga begitu. Tidak tahu nanti kalau kedelai benar-benar naik,” katanya.
Keluhan serupa juga dirasakan pemilik bengkel kecil di Bontang, Yanto. Ia mengatakan harga oli mengalami kenaikan sejak sekitar satu bulan terakhir setelah distributor menaikkan harga hingga Rp9 ribu per kemasan.
“Sekarang di distributor saja sudah Rp55 ribu. Kami bingung menyampaikan ke konsumen karena takut dikira sengaja menaikkan harga, karena tidak mungkin kami jual segitu juga, tidak ada untung” ungkapnya.
Selain oli, harga ban luar juga mengalami kenaikan meski tidak terlalu signifikan. Kondisi tersebut membuat pelanggan mulai mempertanyakan biaya servis maupun penggantian suku cadang yang dinilai lebih mahal dibanding sebelumnya.
Menurut Yanto, pelaku usaha kecil berada dalam posisi yang sulit karena harus menyesuaikan harga mengikuti distributor, sementara di sisi lain mereka juga harus menjelaskan kepada pelanggan bahwa kenaikan tersebut bukan berasal dari kebijakan bengkel.
Pelaku UMKM berharap harga bahan baku dan barang kebutuhan usaha dapat kembali stabil, sehingga aktivitas perdagangan berjalan normal dan masyarakat tidak semakin terbebani oleh kenaikan harga di berbagai sektor.
Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Mayat Tinggal Tulang Ditemukan di Sarang Walet

0
Penemuan mayat yang tinggal kerangka dalam sarang walet di Sangatta. (dok. Polres Kutim)

SANGATTA – Warga Gang Ma’arif, Kecamatan Sangatta Utara, Kabupaten Kutai Timur (Kutim) digegerkan dengan penemuan sesosok mayat laki-laki di dalam gedung sarang burung walet, Sabtu (6/6/2026). Saat ditemukan, kondisi jasad sudah tinggal tulang sehingga menyulitkan proses identifikasi.

Mayat tersebut pertama kali ditemukan oleh Zulkifli, penjaga gedung walet yang mendapat amanah untuk mengawasi bangunan tersebut. Ia mengaku terakhir kali masuk ke dalam gedung sekitar enam bulan lalu.

Siang itu, sekitar pukul 13.00 Wita, Zulkifli bermaksud melakukan pengecekan rutin. Namun setibanya di dalam bangunan, ia mendapati ruang mesin dalam kondisi berantakan. Temuan itu memunculkan kecurigaan sehingga ia memutuskan memeriksa bagian dalam gedung lebih lanjut.

“Ruang mesin berantakan. Saya curiga, lalu buka pintu kedua. Baru melangkah dua langkah dan menyenter ke dalam, ternyata ada orang sudah meninggal,” ujar Zulkifli, Sabtu (6/6/2026).

Temuan tersebut sontak membuatnya terkejut. Ia kemudian melaporkan kejadian itu kepada pihak kepolisian melalui layanan Call Center 110 Polres Kutai Timur.

Selain jasad korban, petugas juga menemukan sejumlah barang di sekitar lokasi. Di antaranya sebuah senter, pisau, tali, tangga dari tali, serta hasil panen sarang burung walet yang diduga berada di dekat korban.

Laporan diterima polisi sekitar pukul 13.18 Wita. Tidak lama berselang, personel Polres Kutai Timur langsung bergerak menuju lokasi untuk melakukan penanganan awal.

Setibanya di tempat kejadian perkara (TKP), petugas segera memasang pengamanan guna mencegah warga memasuki area penemuan mayat. Langkah tersebut dilakukan agar proses identifikasi dan penyelidikan tidak terganggu.

Polisi kemudian melakukan olah TKP awal, memeriksa saksi-saksi, serta mengumpulkan berbagai barang yang ditemukan di sekitar lokasi sebagai bahan penyelidikan.

Kapolres Kutai Timur, AKBP Fauzan Arianto, mengatakan pihaknya masih melakukan pendalaman untuk mengungkap identitas korban dan penyebab kematian.

“Korban telah dievakuasi untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Kami masih menunggu hasil identifikasi dan pendalaman petugas guna mengetahui identitas maupun penyebab kematian korban,” ujarnya.

Menurut Fauzan, kondisi jasad yang sudah menjadi kerangka membuat proses identifikasi memerlukan waktu lebih lama. Karena itu, polisi belum dapat menyimpulkan apakah korban meninggal akibat kecelakaan, tindak pidana, atau sebab lainnya.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk tidak berspekulasi mengenai penyebab kematian korban sebelum hasil penyelidikan dan pemeriksaan forensik keluar.

Di sisi lain, Fauzan mengapresiasi peran masyarakat yang cepat melaporkan kejadian melalui layanan darurat kepolisian. Menurutnya, respons cepat petugas berawal dari informasi yang disampaikan warga.

“Layanan Call Center 110 disiapkan untuk memudahkan masyarakat menyampaikan informasi maupun laporan kejadian yang membutuhkan kehadiran polisi secara cepat. Begitu laporan diterima, personel langsung bergerak menuju lokasi untuk melakukan penanganan awal,” tegasnya.

Hingga Sabtu sore, Unit Identifikasi bersama Satreskrim Polres Kutai Timur masih melakukan serangkaian penyelidikan guna mengungkap misteri penemuan mayat tersebut. Polisi berharap identitas korban dan penyebab pasti kematiannya segera terungkap setelah hasil pemeriksaan lebih lanjut diterima.

Penulis: Ramlah
Editor: Yusva Alam

Smartani Goes to School, Jadi Laboratorium Pertanian Siswa

0

Pembaca Setia Radar Bontang!

Ingin tahu kabar terkini Koran Digital Radar Bontang? Kunjungi link di bawah ini untuk membaca e-paper lengkapnya:

👉 E-Paper Lengkap
https://koran.radarbontang.com

👉 Versi Mobile
https://digital.radarbontang.com/rb6juni2026/mobile/

Dua pelaku Perusakan Pot Bunga di Trotoar Jl Ahmad Yani Diamankan Polisi

0
Dua pelaku remaja yang merusak fasilitas umum di wilayah Gunung Sari, berhasil diamankan. (Ist).

BONTANG – Dua remaja yang terekam kamera pengawas (CCTV) saat merusak pot bunga, di trotoar Jalan Ahmad Yani, Gunung Sari, Kecamatan Bontang Utara, akhirnya berhasil diamankan aparat gabungan.

Bhabinkamtibmas Kelurahan Api-Api, Brigpol Edo Olo Vrenson Limbong mengatakan, bahwa kedua remaja tersebut telah diamankan dan selanjutnya diserahkan kepada Satpol PP Bontang untuk menjalani pembinaan.

Kedua pelaku diketahui berinisial EA (19) dan AM (15), dimana salah satunya masih berstatus sebagai pelajar. Mereka diamankan setelah video aksi perusakan fasilitas umum tersebut, viral di media sosial dan menuai kecaman dari masyarakat.

“Keduanya sudah diamankan dan untuk sanksinya kewenangan Satpol PP, sebab pihak Polres Bontang sudah mengembalikannya langsung ke orang tua masing-masing. Terkait pembinaan yang akan diberikan, akan dilanjutkan oleh dinas terkait,” jelasnya, Sabtu (6/6/2026).

Berdasarkan dari hasil pemeriksaan awal, kedua pelaku mengaku bahwa telah melakukan aksi perusakan fasilitas umum tersebut, saat berada di bawah pengaruh minuman beralkohol.

“Selain diamankan, kedua remaja juga telah diminta membuat surat pernyataan, agar tidak mengulangi perbuatannya di kemudian hari,” tambahnya.

Sebelumnya, telah beredar rekaman CCTV yang memperlihatkan aksi dua remaja merusak pot bunga di trotoar Jalan Ahmad Yani, Gunung Sari, tepat di Kamis (4/6/2026) dini hari.

Dimana dalam rekaman tersebut, keduanya telah merusak pot bunga sebagai fasilitas umum yang berada di atas trotoar. Sebab dalam kejadian ini, hal tersebut sangat tidak dibenarkan.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Modus Investasi Bodong Berkedok Nasabah Prioritas, Oknum Bhayangkari Diduga Tipu Nasabah Rp1,15 Miliar

0
Ilustrasi nasabah bank di Bontang yang diduga tertipu kasus investasi bodong. (AI).

BONTANG – Salah satu bank di Kota Bontang yang seharusnya menjadi tempat aman bagi nasabah, justru menjadi awal petaka bagi seorang warga.

Seorang nasabah berinisial A (34), mengaku kehilangan uang sebesar Rp1,15 miliar, setelah diduga menjadi korban investasi fiktif yang ditawarkan oleh seorang staf layanan prioritas bank di wilayah Bontang, berinisial YWN.

Kuasa hukum korban, Eko Yulianto mengatakan bahwa terkait dengan kasus dugaan dan penipuan ini, pihaknya secara resmi telah melayangkan laporan tersebut ke Polres Bontang, Kamis (4/6/2026) kemarin.

“Untuk laporan kami sudah bikin suratnya, berupa bentuk fisik dan PDF. Tinggal tunggu panggilan saja dari Polres. Nanti untuk verifikasi, korban pun juga turut ada dan saya hanya mendampingi,” ungkapnya saat dihubungi, Sabtu (6/6/2026).

Diketahui, untuk terlapor bukan sosok sembarangan. Selain bekerja sebagai salah satu staf Layanan Prioritas di bank tersebut, YWN juga diketahui merupakan anggota Bhayangkari dan istri seorang anggota Polri yang bertugas di Polres Bontang.

Eko menjelaskan, persoalan bermula pada awal 2025 ketika kliennya ditingkatkan statusnya menjadi nasabah prioritas oleh YWN. Dari hubungan profesional tersebut, keduanya kemudian semakin dekat, hingga akhirnya korban ditawari sebuah proyek usaha yang diklaim memiliki keuntungan besar.

Korban disebut dijanjikan imbal hasil sebesar 10 persen setiap bulan dari investasi yang ditawarkan. Untuk meyakinkan korban, YWN disebut turut membawa-bawa latar belakang keluarganya, yang memiliki hubungan dengan institusi kepolisian.

“Terlapor menyebut proyek ini aman, karena mendapat dukungan keluarga yang merupakan anggota Polri. Ini yang membuat korban akhirnya percaya,” tambah Eko.

Dengan berbagai janji keuntungan dan jaminan keamanan tersebut, korban akhirnya menginvestasikan dana yang merupakan milik orang tuanya. Namun, seiring berjalannya waktu, keuntungan yang dijanjikan tidak pernah terealisasi, dan dana yang telah disetorkan diduga tidak dapat dikembalikan.

Akibat peristiwa tersebut, korban mengalami kerugian mencapai Rp1,15 miliar, serta memilih menempuh jalur hukum dengan melaporkan dugaan penipuan atas penggelapan itu ke Polres Bontang.

Dikonfirmasi secara terpisah, Kapolres Bontang, AKBP Widho Anriano, melalui Kanit Tipidum Satreskrim Polres Bontang, Ipda Markus Sihotang menyampaikan bahwa benar adanya laporan yang masuk terkait dugaan investasi bodong.

“Infonya baru masuk ke Polres, tapi belum masuk ke unit saya. Sehingga belum kami langkahkan,” bebernya.

Sehingga pihaknya masih akan melakukan pemeriksaan laporan terlebih dahulu, terkait dengan adanya laporan yang masuk dugaan investasi bodong. Ipda Markus pun membenarkan, untuk dugaan terlapor merupakan salah satu anggota bhayangkari atau istri dari anggota Polri.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam