Beranda blog Halaman 32

Beban APBD Makin Berat, Bontang Usulkan Gaji 2.500 PPPK Dibiayai Pusat

0
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni saat diwawancarai awak media. (Syakurah)

BONTANG – Tingginya kebutuhan belanja pegawai menjadi perhatian Pemerintah Kota Bontang, di tengah kondisi fiskal daerah yang tertekan akibat pemangkasan dana transfer ke daerah.

Pemkot Bontang kini mendorong adanya skema pembiayaan dari pemerintah pusat, untuk gaji ribuan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

Wali Kota Bontang Neni Moernaeni mengatakan, kebutuhan gaji dan Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) di lingkungan Pemkot Bontang mencapai sekitar Rp640 miliar. Dari kebutuhan tersebut, sekitar Rp500 miliar dialokasikan untuk gaji ASN.

Kebutuhan itu membuat pemerintah daerah harus menyiapkan anggaran sekitar Rp46 miliar setiap bulan untuk pembayaran gaji dan TPP. Perhitungan tersebut mencakup pembayaran hingga 14 kali dalam setahun berikut tunjangan.

Beban APBD juga bertambah dengan keberadaan PPPK paruh waktu, yang membutuhkan dukungan belanja barang dan jasa.

“Kalau seluruh gaji bisa dibiayai APBN, tentu akan sangat membantu daerah,” katanya.

Pemkot Bontang telah menyiapkan data sekitar 2.500 PPPK untuk diajukan kepada pemerintah pusat. Rinciannya sekitar 1.000 orang merupakan PPPK penuh waktu, sementara 1.424 lainnya berstatus paruh waktu.

Neni menyebut terdapat selisih kebutuhan pembiayaan sekitar Rp150 miliar yang masih harus ditutup menggunakan APBD. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Pemkot berharap pemerintah pusat mengambil alih pembiayaan gaji PPPK.

Di tengah persoalan tersebut, pemerintah pusat juga tengah membahas perubahan skema kepegawaian. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi sebelumnya menyampaikan adanya rencana pemindahan status guru PPPK, yang selama ini berada di bawah pemerintah daerah menjadi pegawai pemerintah pusat.

Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya Sugiarto juga menyebut dukungan fiskal untuk pembayaran pegawai menjadi salah satu aspirasi yang disampaikan kepala daerah kepada pemerintah pusat.

Selain itu, kepala daerah mendorong agar guru PPPK paruh waktu dapat dialihkan menjadi penuh waktu, sementara PPPK penuh waktu diarahkan menjadi ASN.

Bagi Pemkot Bontang, realisasi kebijakan tersebut dinilai dapat mengurangi tekanan belanja pegawai sekaligus memberikan ruang lebih besar bagi APBD untuk membiayai program pembangunan lainnya.

Pewarta: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Mengenang Kampung Adat Sade, 129 Rumah Hangus dalam Semalam

0
Kondisi Kampung Adat Sade setelah kebakaran menghanguskan 129 rumah, Sabtu (22/8/2026) malam. (Istimewa)

Dua tahun lalu, saya pernah berkeliling di Kampung Adat Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Rumah-rumah beratap ilalang berdiri rapat. Lorong kecil membelah perkampungan. Di beranda rumah, kain tenun Sasak berwarna-warni dipajang dan dijual kepada wisatawan.

Saya datang ke Sade pada 5 Februari 2024, saat mengikuti Media Gathering Pertamina Hulu Energi di Lombok. Sade menjadi salah satu tempat yang kami kunjungi.

Kampung ini memang berbeda. Dari depan sudah terlihat bangunan beratap ilalang. Masuk lebih dalam, rumah-rumah tradisional Suku Sasak berdiri berdekatan. Sebagian sudah berusia puluhan tahun. Bambu, kayu dan anyaman menjadi bagian utama bangunan.

Lantainya juga menarik perhatian. Pemandu menjelaskan lantai rumah dibuat dari tanah yang secara tradisional dirawat menggunakan campuran kotoran sapi atau kerbau.

PHOTO 2026 08 24 16 18 22
Rumah-rumah adat Sade dengan bangunan tradisional yang masih terjaga sebelum kebakaran. (Dok. Agus Susanto)

Di dalam kampung, aktivitas warga masih terasa kuat. Di salah satu rumah, saya melihat seorang perempuan duduk di depan alat tenun tradisional.

Tangannya terus bekerja menyusun benang menjadi kain. Di belakangnya, puluhan kain tenun berbagai motif dan warna memenuhi dinding.

Rumah bukan hanya tempat tinggal. Bagian depannya sekaligus menjadi tempat berdagang. Ada kain tenun, gelang, kalung, pakaian dan berbagai suvenir khas Lombok.

Wisatawan datang, melihat warga menenun, lalu berbelanja. Itulah Sade yang saya lihat pada 2024. Kampung yang hidup dari adat sekaligus pariwisata.

PHOTO 2026 08 24 16 18 22 1
Warga Sade menenun kain tradisional yang juga dijual kepada wisatawan. (Dok. Agus Susanto)

Ada satu lagi yang menarik perhatian saya saat berkeliling. Sebuah pohon tua tanpa daun berdiri di antara rumah-rumah adat. Warga mengenalnya sebagai Pohon Cinta. Pemandu bercerita, pohon itu dulu menjadi tempat bertemu muda-mudi Sade sebelum menjalani Merariq atau tradisi kawin lari masyarakat Sasak.

Selain pohon itu, ada satu hal yang masih saya ingat. Rumah-rumah di Sade berdiri rapat dengan atap ilalang kering yang tebal. Saya bahkan sempat bertanya soal risiko kebakaran.

Pemandu ketika itu bercerita kebakaran pernah terjadi pada satu rumah. Namun, warga dengan cepat melokalisasi api sehingga tidak merembet ke bangunan lain.

Tidak terpikir dua tahun kemudian kebakaran benar-benar datang dalam skala jauh lebih besar. Sabtu malam, 22 Agustus 2026, Kampung Adat Sade dilalap api.

Kebakaran membesar dengan cepat. Rumah-rumah beratap ilalang satu per satu menjadi jalur rambatan api.

Puluhan mobil pemadam dikerahkan. Bantuan datang dari sejumlah daerah di Pulau Lombok. Pemadaman berlangsung berjam-jam hingga Minggu dini hari. Tidak ada korban jiwa. Tetapi kerusakannya sangat besar.

Data terakhir menyebut 129 rumah adat terbakar dan sekitar 320 warga terdampak. Kawasan yang setiap hari didatangi wisatawan berubah menjadi hamparan puing.

PHOTO 2026 08 24 16 18 23
Aktivitas wisatawan di antara deretan rumah tradisional Kampung Adat Sade sebelum kebakaran. (Istimewa)

Sehari setelah api padam, warga mulai membersihkan puing dan mencari barang yang masih bisa diselamatkan.

Penyebab kebakaran belum dipastikan. Polisi masih menyelidiki titik awal api, termasuk dugaan korsleting maupun api dari dapur.

Pemerintah memastikan Sade akan dibangun kembali. Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan bentuk dan ciri khas kampung adat tersebut tetap dipertahankan.

Pekerjaannya tentu tidak mudah. Bentuk rumah, atap ilalang, anyaman bambu hingga susunan permukiman menjadi bagian dari identitas Sade.

Di sisi lain, kebakaran ini menjadi pelajaran untuk memperkuat perlindungan terhadap kampung adat yang sebagian besar bangunannya menggunakan material mudah terbakar.

Saya juga teringat Pohon Cinta yang saya lihat dua tahun lalu. Entah bagaimana kondisinya setelah api menghanguskan sebagian besar kampung.

PHOTO 2026 08 24 16 18 22 2
Pohon Cinta berdiri di antara rumah adat Sade sebelum kebakaran. Pohon tua ini dikenal dalam cerita tradisi Merariq masyarakat Sasak. (Istimewa)

Saya berharap suatu saat bisa kembali ke Sade. Melihat kampung itu kembali berdiri dan warga menjalani aktivitas seperti sebelumnya.

Sade akan dibangun kembali. Yang penting, ciri khasnya tetap terjaga dan kejadian seperti ini tidak terulang.

Oleh: Agus Susanto

Bengkel dan Rumah di Sukarahmat Terbakar, Seorang Warga Dilarikan ke Rumah Sakit

0
Kondisi Rumah yang terbakar di Desa Suka Rahmat, Kutai Timur. (Syakurah)

BONTANG – Kebakaran melanda sebuah bengkel motor dan mobil yang berada di RT 11, Desa Sukarahmat, Kutai Timur (Kutim), di Jalan Poros Bontang-Kutim, Senin (24/8/2026).

Kejadian diperkirakan sekitar pukul 12.00 Wita. Bangunan tersebut juga menjadi tempat tinggal keluarga pemilik bengkel. Kobaran api yang muncul secara tiba-tiba membuat penghuni rumah panik dan bergegas keluar.

Pemilik rumah, Hariani (43), mengatakan saat kejadian dirinya bersama keluarga berada di bagian depan rumah. Api pertama kali terlihat dari arah belakang kamar yang sedang kosong.

Dalam upaya menyelamatkan barang, suami Hariani, Lubis (52), mengalami luka pada bagian punggung, tangan, dan kaki. Ia kemudian dibawa ke Rumah Sakit PKT untuk mendapatkan perawatan.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkartan) Bontang, Amiluddin, mengatakan penyebab kebakaran masih dalam pemeriksaan. Namun, dugaan awal mengarah pada korsleting listrik.

Ia juga mengingatkan pemilik usaha bengkel untuk memperhatikan aspek keselamatan, salah satunya dengan menyediakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR).

Adapun ia mengungkapkan kondisi rumah yang sepenuhnya terbakar dikarenakan terlambatnya laporan, “Sekitar 20 menit kejadin baru ada laporan masuk, andai lebih cepat, rumah tidak akan habis,” katanya.

Satu rumah yang menempel juga terdampak, “Pemilik rumah satunya juga sama, itu terdampak karena menempel,” tutupnya.

Pewarta: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Kasus Karhutla Bontang Melonjak, 26 Kejadian Tercatat Hingga Agustus 2026

0

Pembaca Setia Radar Bontang!

Ingin tahu kabar terkini Koran Digital Radar Bontang? Kunjungi link di bawah ini untuk membaca e-paper lengkapnya:

👉 E-Paper Lengkap
https://koran.radarbontang.com

👉 Versi Mobile
https://digital.radarbontang.com/rb24agt2026/mobile/

Bakar Ban dan Sampah, Api Menyebar ke Semak Belukar

0
BPBD melakukan pemadaman kebakaran lahan. (Istimewa)

BONTANG – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di Jalan Selat Lombok, Kelurahan Tanjung Laut, Kecamatan Bontang Selatan, Minggu (23/8/2026).

Kepala BPBD Kota Bontang, Usman, melalui Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Ismail mengatakan, berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bontang, kejadian dilaporkan sekitar pukul 11.05 WITA melalui Call Centre 112. Tim BPBD kemudian menuju lokasi menggunakan satu unit mobil KPHH.

Setibanya di lokasi, petugas menemukan api membakar area semak belukar. Hasil penanganan di lapangan menyebutkan api berasal dari ban dan sampah yang berada di sekitar lokasi.

“Warga sempat panik yang lewat situ, tapi proses pemadaman berlangsung tanpa kendala,” ujarnya

Api berhasil dipadamkan dan kondisi lokasi dinyatakan aman serta terkendali. Tidak ada laporan korban dalam kejadian tersebut.

Kebakaran ini menjadi perhatian, terutama di tengah kondisi lahan yang relatif kering. Sampah maupun material yang mudah terbakar sebaiknya tidak dibakar sembarangan, karena api dapat dengan cepat merambat ke semak atau lahan di sekitarnya.

“Cuaca terik jangan asal membakar, bisa cepat meluas, apalagi kering sekitanya,” tutupnya.

Penanganan kejadian melibatkan BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) dan kepolisian.

Pewarta: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Seleksi Sekda Bontang Mengerucut, Ini 6 Pejabat Lolos Asesmen Berikutnya

0
Pelantikan pejabat Kota Bontang beberapa waktu lalu. (Syakurah)

BONTANG – Proses seleksi calon Sekretaris Daerah (Sekda) Bontang mulai mengerucut. Enam pejabat dinyatakan lolos seleksi wawancara, dan akan melanjutkan tahapan uji kompetensi manajerial atau assessment center.

Keenam pejabat tersebut akan mengikuti asesmen pada 27-28 Agustus 2026 di Balai Pengukuran Kompetensi Pegawai Badan Kepegawaian Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Enam calon yang lolos yakni:
Ahmad Yani Y yang menjabat Kepala Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat,
Heru Triatmojo sebagai Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Much Cholis Edy Prabowo yang merupakan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang. Sony Suwito Adicahyono selaku Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah, Sudi Priyanto yang menjabat Kepala BKPSDM, serta
dr Suhardi selaku Direktur RSUD Taman Husada.

Nama-nama tersebut tercantum dalam Pengumuman Komite Talenta ASN Kota Bontang Nomor 4/KTT.Bontang/2026 yang ditetapkan 18 Agustus 2026.

Pj Sekretaris Daerah Kota Bontang, Akhmad Suharto mengatakan, keenam nama tersebut merupakan hasil penyaringan dari 15 kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), yang sebelumnya mengikuti proses seleksi.

Setelah mengikuti asesmen, hasil penilaian akan diolah Tim Manajemen Talenta Pemkot Bontang, untuk menentukan tiga kandidat terbaik. Selanjutnya , untuk 6 besar hingga 3 besar, nama-nama pejabat kami simpan hingga waktu pengumuman.

Ia menjelaskan, rangkaian tersebut mengikuti arahan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN-RB).

Seluruh peserta juga diwajibkan hadir sehari sebelum asesmen berlangsung. Biaya pelaksanaan asesmen ditanggung melalui anggaran BKPSDM Bontang. Sementara biaya transportasi dan akomodasi menjadi tanggungan masing-masing perangkat daerah.

Akhmad menargetkan seluruh tahapan seleksi Sekda Bontang selesai pada Oktober 2026. Target tersebut berkaitan dengan masa purna tugas dirinya sebagai Sekda.

“Proses menuju pelantikkan dilaksanakan sambil menunggu surat permohonan pelantikan ke Kemendagri, jadi kita lakukan sambil berjalan,” katanya.

Sementara itu, Wali Kota Bontang Neni Moernaeni sebelumnya menegaskan proses pemilihan Sekda akan dilakukan secara transparan melalui sistem Manajemen Talenta.

Menurutnya, calon Sekda harus memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan Pemkot Bontang, terutama dalam menjalankan program-program prioritas pemerintah.

“Pada Oktober 2026 pemkot menargetkan seluruh proses tersebut selesai dan pelantikan dapat dilaksanakan ” tutupnya.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Dari GolXsport ke XSport

0

MINGGU lalu saya sudah menulis soal GolXsport. Mulai pekan ini, produk olahraga Media Kaltim Network tidak lagi hadir setiap hari. Kami memilih menerbitkannya seminggu sekali.

Edisi mingguan pertamanya terbit pekan ini. Ada satu perubahan lagi. Namanya bukan lagi GolXsport, tetapi XSport.

Kenapa berubah? Karena kami ingin isinya lebih luas. Nama GolXsport sejak awal memang sangat dekat dengan sepak bola. Ada kata “gol” di sana. Sementara banyak cabang olahraga lain yang juga menarik untuk ditulis.

Sepak bola tetap penting. Apalagi di Kaltim ada Borneo FC. Liga Indonesia, timnas sampai sepak bola Eropa tetap kami ikuti.

Tapi ada banyak cerita lain. Pekan ini, misalnya, laporan utama kami tentang padel.

Olahraga ini sedang ramai di Samarinda dan Balikpapan. Sebenarnya sudah ada juga di beberapa daerah lain di Kaltim, tapi perkembangannya belum seramai dua kota ini. Lapangan baru bermunculan. Komunitas tumbuh. Jam bermain ramai. Bisnis di sekitarnya juga ikut bergerak, dari sewa lapangan, pelatih, raket, kafe sampai turnamen.

Kami mencoba melihatnya lebih jauh. Berapa tarif bermain padel, berapa investasi membangun lapangan, siapa saja yang bermain, sampai harga raket untuk mereka yang baru ingin mencoba.

Itu salah satu yang ingin kami kerjakan lewat XSport.

Iklan XSPORT

Kalau terbit setiap hari, kami akan kembali sibuk mengejar hasil pertandingan. Siapa menang, siapa kalah, berapa skornya. Padahal semua itu sekarang bisa diketahui beberapa saat setelah pertandingan selesai.

Dengan terbit mingguan, kami punya waktu untuk memilih. Tidak semua berita olahraga harus masuk. Kami ambil yang paling menarik dalam sepekan.

Pekan ini ada Borneo FC yang bersiap menjamu klub-klub Asia di Stadion Segiri. Dancesport Kaltim membawa pulang 10 medali dari kejurnas. Ada hoki, panjat tebing, hingga Akbar Paudie, atlet e-sports asal Samarinda yang bersama Elga Cahya membawa Indonesia ke FIFAe World Cup 2026.

Kami juga merangkum isu olahraga nasional dan sepak bola internasional yang menarik sepanjang pekan.

Saya kira format ini lebih pas. Berita olahraga harian tetap berjalan di portal Media Kaltim. Sementara XSport hadir setiap akhir pekan dengan pilihan berita, cerita dan tren olahraga yang layak dibaca lebih dalam.

Namanya memang lebih pendek. Dari GolXsport menjadi XSport. Tapi isinya justru lebih luas. (*)

Agus Susanto
Founder Media Kaltim Network

Sehari Dua Karhutla di Sangatta Utara, Api Muncul di Singa Gembara dan Kenyamukan

0
Tim gabungan melakukan pemadaman kebakaran lahan di belakang SMAN 2, Desa Singa Gembara, Kecamatan Sangatta Utara, Kamis (20/8/2026). (Dok. BPBD Kutim)

SANGATTA – Dua kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi dalam sehari di Kecamatan Sangatta Utara, Kutai Timur (Kutim), Kamis (20/8/2026). Titik pertama muncul di belakang SMAN 2, Desa Singa Gembara, kemudian disusul kebakaran lahan di kawasan Kenyamukan.

Kebakaran di belakang SMAN 2 dilaporkan sekitar pukul 13.30 WITA. Api membakar lahan kering dengan luas diperkirakan mencapai satu hektare.

Tim gabungan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutim langsung dikerahkan ke lokasi.

Sebanyak sembilan personel diterjunkan, terdiri atas empat personel pemadam dan lima personel BPBD. Masing-masing instansi juga mengerahkan satu unit kendaraan untuk membantu proses pemadaman.

Setelah sekitar satu jam penanganan, api berhasil dikendalikan sekitar pukul 14.30 WITA.

Namun, belum lama setelah titik pertama ditangani, laporan kebakaran kembali diterima. Kali ini api muncul di kawasan Kenyamukan.

Petugas kembali melakukan pemadaman untuk mencegah kobaran api menjalar ke lahan di sekitarnya. Hingga laporan terakhir, proses penanganan di titik kedua masih berlangsung.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kutim Muhammad Naim mengatakan kondisi lahan yang sangat kering membuat api mudah menyebar.

Menurutnya, belum ditemukan indikasi kebakaran disebabkan faktor alam. Kelalaian manusia menjadi salah satu kemungkinan yang perlu diwaspadai.

“Kalau dilihat dari lokasi, tidak ada tanda-tanda yang mengarah akibat faktor alam. Bisa jadi karena puntung rokok atau kelalaian manusia,” kata Naim.

Kondisi cuaca juga memperbesar risiko karhutla. Minimnya hujan membuat semak belukar dan vegetasi mengering sehingga api dapat dengan cepat membesar ketika mendapatkan pemicu.

“Sekarang tidak ada hujan, kemarau panjang, jadi semua lahan kering. Sedikit pemicu saja akan mudah terbakar,” ujarnya.

Naim meminta masyarakat tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran di lahan terbuka. Puntung rokok juga tidak boleh dibuang sembarangan, terutama di kawasan dengan vegetasi kering.

BPBD turut mengingatkan orang tua untuk mengawasi aktivitas anak-anak yang berhubungan dengan api. Sebelumnya, kebakaran lahan di Sangatta Selatan diduga bermula ketika anak-anak membakar sarang tawon.

“Seperti halnya beberapa waktu lalu di Sangatta Selatan, terjadi kebakaran lahan karena kelalaian anak-anak yang membakar sarang tawon dan apinya terjatuh,” jelas Naim.

Munculnya dua titik kebakaran dalam sehari menjadi peringatan meningkatnya ancaman karhutla di Kutim selama kondisi lahan mengering.

BPBD meminta masyarakat segera melapor apabila menemukan titik api atau kepulan asap. Penanganan sejak dini dinilai penting untuk mencegah api meluas dan semakin sulit dikendalikan.

Penulis: Ramlah
Editor: Agus S.

Cari Kerja? Job Fair Bontang Digelar 1–4 September, 28 Perusahaan Sudah Daftar

0
Pelaksanaan Job Fair Kota Bontang pada 2025. Tahun ini Disnaker Bontang kembali menggelar Job Fair pada 1–4 September 2026 di Gedung Koperasi Pupuk Kaltim. (Syakurah/Media Kaltim)

BONTANG – Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kota Bontang kembali menggelar Job Fair pada 1–4 September 2026 di Gedung Koperasi Pupuk Kaltim. Sebanyak 28 perusahaan telah menyatakan ikut dan jumlahnya ditargetkan bertambah menjadi 32 perusahaan.

Kabid Penempatan dan Pelatihan Kerja Disnaker Bontang Takdir Manan mengatakan komunikasi masih dilakukan dengan sejumlah perusahaan untuk menambah peserta.

“Kami baru mau komunikasi dengan beberapa perusahaan yang diharapkan bisa ikut berpartisipasi,” ujarnya, Kamis (20/8/2026).

Salah satu yang masih dijajaki adalah perusahaan kontraktor proyek Soda Ash. Disnaker berharap perusahaan tersebut dapat bergabung sekaligus membuka peluang kerja dalam Job Fair.

Pelaksanaan tahun ini dibuat lebih sederhana dibandingkan 2025. Kegiatan hanya berlangsung hingga pukul 16.00 WITA. Sejumlah acara tambahan seperti perlombaan juga ditiadakan karena efisiensi anggaran.

“Tahun ini hanya sampai jam 4 saja karena efisiensi. Mungkin seperti lomba-lomba itu tidak ada di tahun ini,” jelas Takdir.

Meski sejumlah kegiatan dikurangi, seminar ketenagakerjaan tetap direncanakan. Salah satu sasaran kegiatan adalah pelajar tingkat akhir yang akan segera memasuki dunia kerja.

“Insya Allah seminar tetap ada. Mungkin tentang masalah tenaga kerja. Kami mungkin mengundang anak-anak sekolah yang sudah mau lulus, jadi sebelum mereka lulus ada sedikit pembekalan dari kami,” katanya.

Disnaker juga masih mempersiapkan program pelatihan dan sertifikasi kerja. Jumlah peserta maupun jenis pelatihan belum ditetapkan karena masih dalam tahap penyusunan.

Selain agenda yang disiapkan Disnaker, perusahaan peserta diberikan peluang menggelar kegiatan pendukung masing-masing selama Job Fair berlangsung.

Dengan 28 perusahaan yang telah menyatakan bergabung dan target mencapai 32 perusahaan, Job Fair diharapkan kembali menjadi ruang pertemuan langsung antara pencari kerja dan perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja di Bontang.

Pewarta: Syakurah
Editor: Agus S.

Hetifah Pindah Komisi, Warga Kaltim yang Ribut

0
Hetifah Sjaifudian menjadi penguji eksternal Promosi Doktor H. Ahmad Aznem, SE., M.Si. pada Program Studi Manajemen Pendidikan FKIP Universitas Mulawarman, Samarinda, 18 Agustus 2026. (Foto: Istimewa)

SAYA cukup lama membaca kolom komentar Instagram Komisi X DPR RI. Awalnya, hanya ingin melihat pengumuman pergantian Ketua Komisi X dari Hetifah Sjaifudian kepada Agung Widyantoro.

Ternyata yang menarik justru komentar di postingan itu. Ramai. Banyak sekali yang menyebut nama Hetifah. Sebagian besar mengaku dari Kaltim.

Ada guru. Ada orang tua siswa. Ada yang pernah mendapat beasiswa. Ada pula yang sekadar mengaku mengikuti kiprah Hetifah selama memimpin Komisi X.

Komentarnya hampir sama: menyesalkan.

“Berita ini sungguh membuat saya dan warga Kaltim kaget,” tulis salah satu akun.

Akun lain mempertanyakan pergantian tersebut. “Kenapa sih diganti? Padahal luar biasa sekali pengabdian beliau yang kami rasakan sebagai warga Kaltim, terkhusus di bidang pendidikan.”

“Ibu Hetifah tetap di hati,” tulis akun lainnya.

Saya terus scroll ke bawah. Masih sama.

Ada yang meminta Hetifah jangan diganti. Ada yang berterima kasih karena program pendidikan yang diperjuangkannya pernah dirasakan anak-anak mereka.

Ada yang menyebut bantuan PIP. Ada yang bicara beasiswa. Ada pula yang berharap program pendidikan yang selama ini masuk ke Kaltim tetap berlanjut.

Bahkan beberapa komentar mulai membawa-bawa Golkar. Ada yang terang-terangan mengaku kecewa dengan keputusan partai. Ada pula yang mempertanyakan mengapa orang yang menurut mereka banyak membantu pendidikan di Kaltim justru dipindahkan.

Sampai Kamis (20/8) sore, komentar di postingan Komisi X tersebut sudah menembus 500. Sebagian besar yang saya baca memang berisi dukungan, ucapan terima kasih, atau mempertanyakan perpindahan Hetifah.

Tentu komentar media sosial tidak bisa dijadikan ukuran tunggal menilai kinerja seorang anggota DPR. Tetapi reaksi spontan sebanyak itu juga tidak muncul begitu saja.

Tak bisa dimungkiri, Hetifah memang punya jejak cukup panjang di Kaltim. Terutama di bidang pendidikan.

Saya sendiri cukup sering berkomunikasi dengannya. Kadang soal pendidikan. Kadang kegiatan di Kaltim. Kadang hanya konfirmasi singkat ketika ada isu yang perlu dijelaskan.

Karena itu, Ketika kabar pergantian itu muncul kemarin, saya langsung menghubunginya. Jawabannya baru saya terima pagi tadi (20/8).

Saya ingin tahu, setelah bertahun-tahun mengurus pendidikan dan terakhir menjadi Ketua Komisi X, bagaimana ia melihat penugasan barunya?

Jawabannya cukup panjang. Hetifah menjelaskan, sejak 18 Agustus 2026 dirinya mendapat konfigurasi penugasan baru di DPR RI. Ia menjadi anggota Komisi VIII sekaligus Wakil Ketua Fraksi Partai Golkar bidang kesejahteraan rakyat. Bidang yang dikoordinasikannya mencakup Komisi VIII, IX, dan X.

Artinya, meski meninggalkan Komisi X, pendidikan sebenarnya belum sepenuhnya lepas dari tangannya.

Hetifah juga tidak menutupi bahwa perpindahan tersebut merupakan perubahan cukup besar.

Maklum saja. Ia sudah lama berada di Komisi X. Mulai anggota, kemudian Wakil Ketua, hingga akhirnya dipercaya menjadi Ketua Komisi X DPR RI periode 2024–2029.

Komisi inilah yang selama ini berhubungan langsung dengan pendidikan, kebudayaan, pendidikan tinggi, riset, pemuda, olahraga dan sejumlah urusan pembangunan sumber daya manusia.

Rabu (19/8), pergantian itu resmi dilakukan. Agung Widyantoro ditetapkan sebagai Ketua Komisi X menggantikan Hetifah. Wakil Ketua DPR RI Cucun Ahmad Syamsurijal yang memimpin penetapan bahkan menyampaikan terima kasih atas dedikasi Hetifah selama memimpin Komisi X.

Saya sempat bertanya soal alasan di balik perpindahan tersebut. Hetifah tidak mau berspekulasi.

Menurutnya, soal pertimbangan pergantian lebih tepat dijelaskan pimpinan Fraksi Golkar. Ia memilih menerima penugasan tersebut dan bekerja di tempat baru.

“Dalam perjalanan politik, ada saat kita mendapat amanah memimpin dan ada saat kita menjalankan peran yang berbeda,” kurang lebih begitu penjelasannya kepada saya.

Saya kira sikap seperti itu memang paling tepat. Sebab jabatan di DPR bukan milik pribadi. Fraksi bisa melakukan rotasi kapan saja. Hari ini menjadi ketua, besok bisa menjadi anggota. Hari ini di satu komisi, besok pindah ke komisi lain.

Yang kemudian dinilai masyarakat tentu bukan lagi kursinya. Tetapi apa yang dikerjakan setelah pindah.

Ternyata Hetifah tidak membutuhkan waktu lama. Baru pindah ke Komisi VIII, Hetifah sudah masuk Panitia Kerja Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji atau Panja BPIH 2027.

Saya membaca pernyataannya soal ini di sejumlah media. Isunya juga menarik. Pemerintah mengusulkan BPIH 2027 sebesar Rp107,34 juta per jemaah. Naik hampir Rp20 juta dibanding tahun sebelumnya.

Hetifah langsung mempertanyakan kenaikan itu. Ia meminta setiap komponen biaya dibedah. Harus jelas dasar kenaikannya. Harus rasional. Dan yang paling penting, harus benar-benar memberikan manfaat kepada jemaah.

Ada lagi yang menurut saya menarik. Dari usulan Rp107,34 juta tersebut, sekitar Rp42,94 juta atau 40 persen direncanakan dibayar langsung oleh jemaah. Sisanya sekitar Rp64,40 juta atau 60 persen menggunakan Nilai Manfaat dana haji.

Hetifah mengingatkan jangan sampai penggunaan Nilai Manfaat terlalu besar justru menggerus hak jemaah yang masih mengantre. Nah, ini sudah masuk wilayah yang benar-benar baru baginya. Dari urusan PIP, sekolah, guru, perguruan tinggi dan olahraga, sekarang masuk ke biaya haji.

Kamis (20/8) hari ini, giliran aktivitas Hetifah yang melintas di story Instagram saya. Ia sudah ikut kunjungan kerja spesifik Komisi VIII ke UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.

Yang dibahas pengembangan perguruan tinggi keagamaan, peningkatan kualitas dosen dan mahasiswa, hingga bagaimana PTKIN bisa menuju world class university.

Ternyata masih ada benang merah dengan pekerjaan lamanya. Pendidikan.

Bedanya, sekarang masuk melalui pendidikan keagamaan. Madrasah, pesantren, hingga perguruan tinggi keagamaan.

Hetifah sendiri mengatakan kepada saya bahwa perpindahan ke Komisi VIII tidak berarti perhatiannya terhadap pendidikan berhenti.

Apalagi posisi barunya sebagai Wakil Ketua Fraksi Golkar bidang kesejahteraan rakyat juga membuatnya mengoordinasikan bidang Komisi VIII, IX dan X. Jadi jalurnya masih ada.

Hanya ruang kerjanya yang sekarang jauh lebih luas. Ada agama. Sosial. Haji dan umrah. Penanggulangan bencana. Perlindungan perempuan dan anak. Kelompok rentan. Ditambah koordinasi pendidikan, kesehatan dan ketenagakerjaan melalui tugasnya di fraksi.

Justru ini jadi tantangan Hetifah berikutnya. Selama bertahun-tahun, namanya telanjur identik dengan pendidikan. Banyak masyarakat Kaltim mengenalnya lewat PIP, beasiswa, sekolah, guru, kampus, pemuda dan olahraga.

Itu pula yang terlihat dari ramainya komentar di Instagram Komisi X. Ada yang anaknya pernah mendapat bantuan pendidikan. Ada yang sekolahnya merasa terbantu. Ada yang berterima kasih. Ada yang meminta Hetifah tetap memperjuangkan pendidikan. Bahkan ada yang sampai kecewa kepada Golkar karena pergantian tersebut.

Hetifah sudah menjawabnya. Meski pindah ke Komisi VIII, perhatian terhadap pendidikan tidak berhenti.

Sekarang tinggal melihat kerjanya.

Dua hari pertama sudah terlihat. Kemarin bicara biaya haji. Hari ini sudah ikut kunjungan kerja membahas perguruan tinggi keagamaan.

Kursinya memang berganti. Tetapi masyarakat Kaltim tentu berharap perjuangan Hetifah untuk Kaltim jangan ikut pindah. (*)

Oleh: Agus Susanto