Beranda blog Halaman 321

Dari Wisuda STITEK Bontang (4–Habis): Kampus Teknologi, Ikhtiar Jadi ITB-nya Indonesia Bagian Timur

0
Jajaran pimpinan STITEK Bontang, senat akademik, perwakilan pemerintah, industri, serta wisudawan berfoto bersama usai Sidang Terbuka Senat Wisuda Angkatan XIV di Hotel Grand Mutiara Bontang, Sabtu (24/1/2026).

Prosesi wisuda Angkatan XIV berlangsung tanpa euforia berlebihan. Di balik pelepasan 87 wisudawan, perhatian justru tertuju pada arah kampus ke depan. Wisuda ini jadi momentum untuk melihat langkah STITEK Bontang saat bertransformasi menjadi universitas.

Pesan itu datang dari berbagai pihak. Ketua Pembina Yayasan Pendidikan Bessai Berinta, Yhenda Permana, berbicara dari sisi visi dan pengalaman panjang mengawal kampus.

Ketua LLDIKTI Wilayah XI Kalimantan, Dr. Muhammad Akbar, menekankan tanggung jawab akademik yang ikut membesar seiring perubahan status.

Ketua LLDIKTI Wilayah XI Kalimantan, Dr. Muhammad Akbar, menyampaikan sambutan pada Sidang Terbuka Senat Wisuda Angkatan XIV STITEK Bontang.

Sementara Pemkot Bontang, melalui sambutan Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni yang dibacakan Pj Sekda Ahmad Suharto, menegaskan komitmen Pemkot terhadap pendidikan tinggi yang selaras dengan kebutuhan lokal.

Intinya sama: STITEK tidak boleh berhenti pada pergantian nama.

Dalam sambutannya, Yhenda Permana mengingatkan bahwa wisuda bukan titik akhir perjalanan. “Justru ini awal dari perjuangan yang lebih berat,” ujarnya di hadapan wisudawan.

Ia menegaskan bahwa gelar sarjana tidak boleh berhenti sebagai simbol akademik. “Gelar itu harus dibawa ke dunia kerja, ke persoalan nyata, dan memberi manfaat,” pesannya.

Yhenda juga merefleksikan perjalanan STITEK yang telah ia kawal lebih dari satu dekade. Dari dua program studi hingga kini enam program studi aktif. Dari kampus kecil hingga institusi yang bersiap naik kelas.

Dalam konteks itulah ia menyebut satu arah besar yang ingin dituju. “Kita ingin STITEK, kelak Universitas Sains dan Teknologi Bontang, menjadi ITB-nya Indonesia bagian timur,” ucapnya.

Bukan meniru bentuk, tetapi meniru watak. Watak kampus yang kuat pada riset terapan, dekat dengan industri, dan relevan dengan kebutuhan daerah. Menurut Yhenda, di kota industri seperti Bontang, kampus harus berani membuka program studi yang benar-benar dibutuhkan.

“Kita punya LNG, pabrik pupuk, energi. Kenapa kampus tidak menyiapkan SDM-nya dari sekarang?” katanya.

Ia juga menyinggung pentingnya riset yang membumi. “Riset itu tidak harus besar dan rumit. Mulai saja dari masalah di sekitar kita,” ujarnya.

Yhenda memberi contoh pengelolaan sampah menjadi energi yang ia lihat langsung di luar negeri. “Kalau di sana (Jerman, Red.) bisa, kenapa kita tidak mulai dari TPA kita sendiri? Riset kecil dulu, tapi nyata,” katanya.

Ketua LLDIKTI Wilayah XI Kalimantan, Dr. Muhammad Akbar, memberikan arahan terkait peran perguruan tinggi dalam peningkatan mutu pendidikan dan penguatan riset.

Ketua LLDIKTI Wilayah XI Kalimantan, Dr. Muhammad Akbar, menguatkan arah tersebut. Ia mengapresiasi capaian STITEK, termasuk penambahan dua program studi baru dan konsistensi dosen dalam riset serta pengabdian.

Menurut Akbar, kualitas perguruan tinggi sangat ditentukan oleh dosennya. “Dosen adalah aset utama perguruan tinggi. Kalau dosennya kuat, kampusnya akan maju,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa perubahan status membawa tanggung jawab yang lebih besar. “Universitas tidak cukup hanya mengajar. Riset harus diperkuat, publikasi ditingkatkan, dan kerja sama industri diperluas,” katanya.

Akbar menegaskan bahwa pemerintah telah membuka ruang pendanaan riset yang lebih besar. “Tinggal keberanian kampus untuk mengambil peran,” ujarnya.

Sementara itu, Pemkot Bontang melalui sambutan Wali Kota yang dibacakan Sekda Ahmad Suharto menegaskan dukungan terhadap pendidikan tinggi. “Pemerintah Kota Bontang menempatkan pendidikan sebagai investasi jangka panjang,” ucapnya.

Pj Sekda Bontang Ahmad Suharto menyampaikan sambutan mewakili Wali Kota Bontang pada Sidang Terbuka Senat Wisuda Angkatan XIV STITEK Bontang.

Program beasiswa, kebijakan serapan tenaga kerja lokal, hingga keberpihakan pada SDM lokal disebut sebagai upaya agar lulusan kampus tidak terputus dari dunia kerja. “Kami ingin lulusan perguruan tinggi di Bontang punya ruang kerja yang nyata,” kata Sekda membacakan sambutan Wali Kota.

Semua pesan tersebut memperlihatkan posisi STITEK Bontang saat ini. Kampus ini sedang berada pada fase penentuan. Perubahan yang ditempuh bukan semata soal status kelembagaan, melainkan tentang arah universitas yang ingin dibangun.

Di kota industri seperti Bontang, kampus teknologi dituntut lebih dari sekadar meluluskan sarjana. Kampus harus mampu menumbuhkan riset dan inovasi yang dekat dengan kebutuhan daerah serta dunia usaha di sekitarnya.

Wisuda Angkatan XIV menandai berakhirnya satu tahap perjalanan STITEK Bontang. Jika proses transformasi berjalan sesuai rencana, ini menjadi wisuda terakhir dengan nama sekolah tinggi. Setelah itu, langkah berikutnya akan ditempuh dengan nama Universitas Sains dan Teknologi Bontang.

Ikhtiar menjadi ITB-nya Indonesia bagian timur akan diuji oleh waktu. Namun dari wisuda ini terlihat, arah perubahan STITEK sedang disiapkan secara serius. (Habis)

Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.

Dari Wisuda STITEK Bontang (3): Logo Universitas, Prestasi Mahasiswa dan Dosen

0
Logo pemenang sayembara USTB ditampilkan dalam visualisasi penerapan pada gedung kampus.

Momen wisuda juga dimanfaatkan Sekolah Tinggi Teknologi (STITEK) Bontang untuk memberi apresiasi atas satu proses penting lain dalam perjalanan menuju universitas: penetapan logo Universitas Sains dan Teknologi Bontang (USTB).

Di hadapan forum wisuda, panitia mengumumkan pemenang sayembara logo yang akan menjadi identitas resmi universitas ke depan. Pengumuman ini menjadi tahap akhir dari rangkaian penjurian yang telah dilaksanakan sebelumnya.

Dari belasan karya yang masuk, dewan juri terlebih dahulu menetapkan lima besar logo terbaik. Penilaian dilakukan secara bertahap, mencakup kekuatan konsep, kejelasan visual, kedalaman filosofi, serta kesesuaiannya dengan visi Universitas Sains dan Teknologi Bontang.

Proses penjurian melibatkan unsur yayasan dan pimpinan kampus. Saya dilibatkan sebagai juri eksternal untuk memberi sudut pandang di luar struktur internal kampus.

Logo yang akhirnya ditetapkan sebagai juara pertama merupakan karya Belva Pranama Sriwibowo, mahasiswa Teknik Informatika angkatan 2023. Karyanya dinilai paling mampu merepresentasikan arah perubahan STITEK menjadi universitas. Baik dari sisi konsep, keterbacaan visual, maupun kesesuaian dengan karakter kampus sains dan teknologi.

Logo pemenang sayembara USTB ditampilkan pada jas almamater, kop surat dan amplop.

Secara visual, logo pemenang menampilkan bentuk perisai akademik yang diperkaya elemen simbolik. Di dalamnya tergambar nilai sains, teknologi, kolaborasi, serta kebajikan akademik. Desainnya sederhana namun kuat, mudah dikenali, dan tidak lekang ketika diterapkan pada berbagai media.

Dalam simulasi penerapannya, logo ini telah ditampilkan pada beragam kebutuhan kelembagaan. Mulai dari sampul dokumen resmi, kop surat dan amplop, pin dan jas almamater, hingga visual gedung kampus. Ini memberi nilai lebih, karena logo memang disiapkan untuk digunakan dalam keseharian kampus

Selain juara pertama, dewan juri juga menetapkan Muhammad Salvatore, S.Pd., staf humas STITEK Bontang, sebagai juara kedua. Sementara juara ketiga diraih Irfani Zuhrufillah, S.Kom., M.Kom., dosen Sistem Informasi STITEK Bontang. Ketiga karya tersebut dinilai menonjol karena memiliki konsep yang jelas, visual yang rapi, serta mampu menjelaskan keterkaitan desain dengan visi universitas.

Apresiasi di forum wisuda ini tidak berhenti pada karya logo semata. STITEK Bontang juga memberikan penghargaan kepada mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan yang mencatatkan prestasi di berbagai level.

Sejumlah mahasiswa menerima apresiasi atas capaian mereka dalam bidang inovasi dan teknologi tepat guna.

Di antaranya Muhammad Shafdan Alfas, S.T., yang meraih Gold Winner kategori eksternal pada Pupuk Kaltim Innovation Summit 2024, serta Izhar Meidiansyah, S.T., yang menorehkan prestasi di berbagai ajang inovasi, mulai dari tingkat kota hingga provinsi. Sementara Azwa Liza, S.T. mencatatkan prestasi melalui lomba Teknologi Tepat Guna, baik di tingkat kecamatan maupun Kota Bontang pada 2025.

Penghargaan juga diberikan kepada dosen berprestasi penerima hibah DPPM Kemdiktisaintek, baik pada skema penelitian, pengabdian kepada masyarakat, maupun program Kosabangsa.

Nama-nama seperti Nur Imansyah, S.Kom., M.Kom., Hardianto, S.T., M.Eng., dan Akbar, S.Pd., M.Pd. disebut sebagai bagian dari tim yang mengharumkan institusi melalui kerja akademik yang konsisten.

Apresiasi turut diberikan kepada tenaga kependidikan berdedikasi tinggi, Ibu Hajjah Farida Ariana, S.T., atas pengabdian dan kontribusinya bagi kampus.

Rangkaian apresiasi ini menunjukkan bahwa perubahan STITEK Bontang tidak hanya soal pergantian nama. Di tengah proses menuju universitas, kampus juga memberi ruang pada prestasi mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan yang selama ini bekerja nyata di balik layar.

Logo baru menandai arah perubahan. Prestasi mahasiswa dan dosen menunjukkan kualitasnya. Dari keduanya, langkah STITEK menuju Universitas Sains dan Teknologi Bontang mulai terlihat. (Bersambung)

Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.

Dari Wisuda STITEK Bontang (2): Teknologi, Riset, dan Masa Depan STITEK

0
Dr. Rino R. Mukti memaparkan pengalaman riset dan kolaborasi internasional dalam pengembangan teknologi dan material industri. Foto: Agus S

Salah satu bagian yang paling menyita perhatian dalam Wisuda Sekolah Tinggi Teknologi Bontang (STITEK) Bontang Angkatan XIV adalah sesi orasi ilmiah. Bukan semata karena siapa yang tampil, tetapi karena isi yang dibawa terasa tepat dengan posisi STITEK saat ini. Sebuah kampus teknologi yang sedang bersiap melangkah ke fase berikutnya sebagai universitas.

Forum wisuda ini dihadiri sejumlah tokoh penting. Pemkot Bontang diwakili Pj Sekda Bontang Ahmad Suharto. Hadir pula Ketua LLDIKTI Wilayah XI Kalimantan Dr. Muhammad Akbar, jajaran pembina dan pengurus Yayasan Pendidikan Besai Berinta yang menaungi STITEK Bontang, pimpinan perguruan tinggi di Kota Bontang, perwakilan industri, termasuk dari PT Badak NGL, serta senat akademik, pimpinan kampus, dosen, dan tentu para wisudawan beserta keluarga.

Orasi ilmiah disampaikan Dr. Rino R. Mukti, dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Rino Mukti merupakan alumnus ITB yang melanjutkan studi magister di Malaysia dan pendidikan doktoral di Jerman. Ia sempat menjalani program postdoktoral di Jepang sebelum kembali ke Indonesia dan mengabdikan diri sebagai dosen dan peneliti di ITB.

Dalam kesehariannya, Rino membimbing mahasiswa dari jenjang sarjana hingga doktoral. Fokus risetnya berada pada material berpori, bidang yang banyak dimanfaatkan dalam industri energi, pupuk, hingga lingkungan.

Suasana sidang terbuka wisuda STITEK Bontang Angkatan XIV yang dihadiri senat akademik, pimpinan kampus, dan tamu undangan. Foto: Agus S

Di hadapan forum wisuda, Rino membuka orasinya dengan satu gagasan: tidak ada negara maju tanpa teknologi, dan teknologi tidak lahir tanpa riset yang dikerjakan secara konsisten. Gagasan itu ia jabarkan dengan berbagai contoh. Dari sejarah hingga riset mutakhir, disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami.

Ia menjelaskan bahwa banyak teknologi besar justru lahir dari riset yang pada awalnya tidak terlihat praktis. Salah satunya material berpori seperti zeolit, bidang yang ia tekuni. Ia menggambarkan material ini sebagai bahan dengan rongga sangat halus dan luas permukaan yang besar, sehingga mampu menyerap, mempercepat reaksi, dan berfungsi sebagai katalis di berbagai sektor industri.

Dari situ, Rino mengaitkan riset dengan kebutuhan nyata. Ia menyinggung pengembangan material yang dapat meningkatkan efisiensi pupuk pertanian, hingga riset yang memungkinkan air diekstraksi dari udara, solusi yang relevan bagi wilayah dengan keterbatasan sumber air. Semua disampaikan lebih sebagai gambaran arah teknologi ke depan.

Pada bagian lain orasinya, Rino mengangkat contoh konkret dari Jerman. Ia bercerita tentang sebuah kawasan tempat pembuangan sampah yang diubah menjadi pusat riset, edukasi, sekaligus destinasi wisata. Gunung sampah yang sebelumnya menjadi masalah lingkungan, diolah dengan pendekatan teknologi dan riset hingga mampu menghasilkan energi, ruang belajar, dan area rekreasi.

Materi orasi ilmiah tentang transformasi institusi pendidikan teknologi di Eropa dari politeknik menuju universitas berbasis riset. Foto: Agus S

Transformasi itu, menurutnya, tidak terjadi secara instan. Kuncinya, keberanian menjadikan masalah sebagai objek riset, lalu melibatkan kampus, industri, dan pemerintah dalam satu ekosistem. Dari tempat yang dulu dihindari, kawasan tersebut justru berubah menjadi ruang publik yang bernilai ekonomi dan edukatif.

Contoh itu ia sampaikan untuk menegaskan bahwa teknologi bukan konsep jauh dari kehidupan sehari-hari. Dengan riset yang tepat, persoalan lingkungan, energi, hingga tata kota dapat diubah menjadi peluang.

Rino juga mengajak forum wisuda menengok sejarah sains. Ia mengulas bagaimana lonjakan besar peradaban manusia, termasuk pertumbuhan penduduk dunia, tidak lepas dari penemuan teknologi seperti sintesis amonia yang menjadi dasar pupuk modern. Teknologi, menurutnya, bukan sekadar alat, tetapi penentu arah hidup manusia.

Ia turut berbagi pengalaman saat berdiskusi dengan almarhum Presiden ke-3 RI, B.J. Habibie. Rino menyebut Habibie bukan hanya memahami teknologi secara umum, tetapi mengikuti perkembangan sains hingga ke detail, termasuk katalis dan material berpori. Sosok Habibie, baginya, menunjukkan bahwa pemimpin yang memahami sains akan melihat teknologi sebagai kebutuhan strategis, bukan pelengkap.

Slide presentasi orasi ilmiah yang menampilkan contoh kampus teknologi di Jerman sebagai rujukan pengembangan riset dan kolaborasi industri. Foto: Agus S

Dalam konteks perubahan STITEK menuju universitas, Rino berpesan bahwa perubahan bentuk kelembagaan tidak boleh berhenti pada urusan administrasi dan nama. Jika ingin naik kelas menjadi universitas, maka budaya riset juga harus naik kelas.

Kampus teknologi, menurutnya, harus berani hidup dari riset. Dosen aktif meneliti, mahasiswa dilibatkan, dan kampus hadir menyelesaikan persoalan nyata di sekitarnya, terutama di daerah industri seperti Bontang.

Di kota industri seperti Bontang, tantangan kampus teknologi bukan sekadar meluluskan sarjana, tetapi membuktikan bahwa riset bisa tumbuh, hidup, dan menjawab persoalan nyata di sekitarnya.

Di akhir orasi, Rino menyinggung bahwa Indonesia sejatinya memiliki jejak panjang dalam dunia sains. Tantangannya bukan pada kemampuan, melainkan pada konsistensi dan keberanian membangun ekosistem riset yang berkelanjutan, dimulai dari kampus, dosen, dan mahasiswa.

Dari orasi ilmiah ini, arah STITEK ke depan mulai terbaca. Bukan sekadar soal berganti nama, tetapi soal pilihan. Apakah berhenti sebagai sekolah tinggi yang diperluas, atau benar-benar tumbuh sebagai universitas yang hidup dari teknologi, riset, dan kebermanfaatan nyata. (Bersambung)

Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.

Dari Wisuda STITEK Bontang (1) Menjawab Kebutuhan Industri, Bersiap Menjadi Universitas

0
Ketua STITEK memimpin prosesi pemindahan tali toga sebagai tanda kelulusan wisudawan STITEK Bontang Angkatan XIV. Foto: Agus S

Sabtu (24/1), saya menghadiri prosesi Wisuda Sekolah Tinggi Teknologi Bontang (STITEK) Angkatan XIV yang digelar di Hotel Grand Mutiara Bontang. Saya hadir sebagai undangan resmi dan masuk dalam jajaran undangan VIP. Ini pengalaman pertama saya menghadiri wisuda bukan sebagai wisudawan, tapi tamu perguruan tinggi.

Undangan VIP diisi jajaran Pembina, Pengawas, dan Pengurus Yayasan Pendidikan Bessai Berinta, Ketua LLDIKTI Wilayah XI, unsur Pemkot Bontang, dan pimpinan perusahaan yang beroperasi di Bontang. Hadir juga mewakili perbankan, rumah sakit, pimpinan perguruan tinggi, dan organisasi alumni. Kehadiran lintas unsur ini memperlihatkan posisi STITEK sebagai kampus yang memiliki keterkaitan langsung dengan dunia industri, pemerintah daerah, dan ekosistem pendidikan tinggi di Bontang.

Saya pernah dua kali mengikuti prosesi wisuda, yakni saat menyelesaikan studi S1 di Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman Samarinda, dan saat lulus S2 Ilmu Hukum di Universitas Merdeka (Unmer) Malang. Untuk S1 Ilmu Hukum di Universitas Trunajaya Bontang, saya hanya mengikuti yudisium dan tidak mengikuti prosesi wisuda. Karena itulah, menghadiri wisuda kali ini dari sisi undangan memberi perspektif berbeda.

Prosesi sidang terbuka senat Wisuda STITEK Bontang Angkatan XIV di Hotel Grand Mutiara Bontang. Foto: Agus S

Prosesi wisuda berlangsung tertib sejak pagi. Jajaran senat STITEK terlebih dahulu memasuki ruang sidang terbuka dan seluruh hadirin berdiri. Setelah senat menempati tempat duduk, tarian penyambutan khas daerah ditampilkan sebagai bagian dari pembukaan acara.

Saya masuk bersama iring-iringan senat STITEK, mengikuti alur prosesi akademik. Setelah itu, jajaran pimpinan kampus dan senat duduk berbaris di depan panggung, sementara undangan VIP telah disiapkan kursi sofa di baris depan.

Tarian penyambutan ditampilkan usai senat menempati ruang sidang terbuka Wisuda STITEK Bontang Angkatan XIV. Foto: Agus S

Prosesi pemindahan tali toga kepada wisudawan dilakukan secara bergantian. Satu per satu nama dipanggil. Wisudawan naik ke panggung, menjalani pemindahan tali toga sebagai tanda kelulusan, menerima dokumen kelulusan, lalu kembali ke tempat duduk masing-masing.

Raut tegang bercampur lega tampak jelas. Baik dari wisudawan maupun keluarga yang menyaksikan dari kursi undangan.

Wisuda Angkatan XIV meluluskan 87 wisudawan dari Program Studi Teknik Informatika dan Teknik Elektro. Jumlah ini meningkat dibanding tahun sebelumnya dan menunjukkan konsistensi tingkat kelulusan STITEK dalam beberapa tahun terakhir.

Ketua STITEK Bontang, Zaini, dalam sambutannya menyampaikan arah kebijakan kampus ke depan. Ia menyebut periode 2025 hingga awal 2026 sebagai fase awal kepemimpinannya dalam melanjutkan penguatan tata kelola institusi.

“Usia STITEK yang akan memasuki 21 tahun menjadi momentum untuk memperkuat fondasi kelembagaan dan tata kelola kampus secara lebih matang,” ujar Zaini.

STITEK Bontang akan memasuki usia 21 tahun pada Mei 2026. Pada usia ini, STITEK dinilai telah memiliki fondasi kelembagaan dan sistem manajemen yang semakin mapan untuk melangkah ke fase pengembangan berikutnya, termasuk rencana transformasi menjadi universitas.

BACA JUGA :  Spektakuler di Teras Mahakam, Beleng-Beleng dan Sponsor Buktikan Golf Bisa Menyatukan Semua

Fokus pengembangan STITEK diarahkan pada peningkatan mutu tridharma perguruan tinggi serta keterkaitannya dengan kebutuhan industri, pemerintah daerah, dan masyarakat. Zaini menegaskan bahwa kampus harus mampu menjawab kebutuhan riil daerah.

“Kampus tidak boleh berjalan sendiri. STITEK harus relevan dengan kebutuhan industri, pemerintah daerah, dan masyarakat,” katanya.

Dalam sambutannya, Zaini juga menyampaikan sejumlah capaian STITEK sepanjang 2025 hingga awal 2026. Di antaranya peningkatan jabatan fungsional dosen, bertambahnya dosen bersertifikasi, serta penguatan sumber daya manusia melalui studi lanjut. STITEK juga memperoleh hibah penelitian dan pengabdian, termasuk pendanaan riset kolaboratif dengan perusahaan di Kota Bontang.

Salah satu poin penting yang disampaikan adalah dibukanya dua program studi baru mulai Januari 2026, yakni Teknik Industri dan Teknik Lingkungan. Dengan tambahan ini, STITEK kini memiliki enam program studi aktif.

“Pembukaan program studi ini merupakan bagian dari upaya STITEK menyesuaikan diri dengan kebutuhan industri dan tantangan pembangunan daerah,” ujar Zaini.

Ketua STITEK juga menyampaikan bahwa institusinya telah memperoleh rekomendasi atas usulan perubahan bentuk menjadi Universitas Sains dan Teknologi Bontang. Proses tersebut masih berjalan, namun secara administratif dan akademik telah memasuki tahap penting dalam pengembangan kelembagaan.

Wisudawan terbaik STITEK Bontang Angkatan XIV menerima penghargaan dari pimpinan kampus disaksikan orang tua. Foto: Agus S

Dalam wisuda ini diumumkan wisudawan terbaik dari masing-masing program studi. Wisudawan terbaik Program Studi Teknik Informatika diraih oleh Sherly Rahmawati Putri, S.Kom., dengan IPK 3,80. Sementara wisudawan terbaik Program Studi Teknik Elektro diraih oleh Izhar Meidiansyah, S.T., dengan IPK 3,47. Keduanya mendapat apresiasi khusus dari pimpinan kampus sebagai representasi capaian akademik tertinggi pada Wisuda Angkatan XIV.

Di akhir sambutannya, Zaini menyampaikan pesan kepada para wisudawan agar menjaga integritas dan tanggung jawab setelah menyandang gelar sarjana.

“Gelar akademik bukan akhir dari proses belajar, tetapi awal untuk berkontribusi di tengah masyarakat dan dunia kerja,” ujarnya.

Prosesi wisuda juga dirangkai dengan orasi ilmiah, pengumuman, serta pemberian penghargaan kepada mahasiswa dan dosen berprestasi. Panitia juga mengumumkan dan menyerahkan hadiah kepada pemenang sayembara logo universitas sebagai bagian dari tahapan perubahan bentuk kelembagaan.

Wisuda Angkatan XIV ini sekaligus menjadi wisuda terakhir yang digelar dengan nama Sekolah Tinggi Teknologi Bontang, dengan catatan proses perubahan bentuk kelembagaan berjalan sesuai target. Jika tahapan tersebut dapat dituntaskan, mulai tahun depan STITEK direncanakan bertransformasi menjadi Universitas Sains dan Teknologi Bontang. Artinya, prosesi wisuda berikutnya akan dilaksanakan atas nama universitas. (bersambung)

Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.

Diduga Lawan Arus, Dua Pengendara Motor Tabrakan di Jalan DI Panjaitan

0
Polisi mengangkut sepeda motor korban kecelakaan. (Dwi/RadarBontang).

BONTANG – Terjadi kecelakaan lalu lintas di Jalan Mayjend DI Panjaitan, tepatnya di depan Eramart, Sabtu (24/1/2026), sekitar pukul 22.45 Wita.

Kecelakaan terjadi akibat pengendara Yamaha Jupiter mencoba untuk melawan arus, saat ingin berbelok dengan kecepatan cukup tinggi. Akan tetapi, dari arah berlawanan bertepatan dengan motor Yamaha Mio Soul sedang melintas. Tak dapat dihindarkan, akibatnya kedua motor bertabrakan.

Petugas Public Safety Center (PSC) 119 Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bontang, Dewi mengatakan bahwa kedua korban yang bertabrakan mengalami luka-luka lecet di bagian kaki. Akan tetapi, dari salah satu korban sempat mengalami tekanan darah yang cukup tinggi.

“Untuk kondisi kedua korban masih terbilang stabil, namun ibu-ibu yang nabrak mengalami tensi yang cukup tinggi tadi. Mungkin karena syok,” ucapnya.

Kesempatan yang sama, Petugas Satlantas Polres Bontang, Bripda Dheki Bayu mengatakan, akibat dari kecelakaan tersebut menyebabkan kerusakan cukup parah pada kedua motor para korban. Sehingga petugas dari kepolisian mengangkut kedua motor, ke mobil patroli untuk dibawa ke Mako Polres Bontang.

“Kerusakan fisik motor cukup signifikan. Kami mengimbau pengendara agar selalu mematuhi aturan lalu lintas dan tidak melawan arus demi keselamatan bersama,” tutupnya.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Jalur Pesisir Muara Badak, Alternatif Bontang–Samarinda yang Lebih Waras

0
Ruas jalan pesisir Muara Badak yang kini mulus dan nyaman dilalui, dengan marka jalan jelas dan lingkungan permukiman di sekitarnya. Foto: Agus S

Saya biasanya menghindari jalur pesisir Muara Badak. Terlalu banyak cerita tentang jalan rusak dan perjalanan yang melelahkan.

Namun kali ini justru jalur inilah yang saya sarankan, termasuk kepada rombongan karyawan Media Kaltim Network yang beberapa waktu lalu menghadiri kegiatan Family Gathering di Bontang.

Saran itu saya sampaikan setelah lebih dulu menerima informasi dari sejumlah orang yang rutin melintas. Mereka menyebut kondisi jalur pesisir Muara Badak sudah jauh membaik.

Awalnya saya ragu. Pengalaman lama masih membekas. Jalan sempit, rusak di banyak titik, dan membuat perjalanan terasa lebih panjang dari jarak sebenarnya. Tapi rasa penasaran akhirnya mendorong saya memastikan sendiri, pada Selasa (20/1) lalu.

Saya melintas langsung. Dan ternyata benar. Jalur yang dulu saya hindari kini terasa jauh lebih layak.

Saya masih ingat betul, kerusakan jalan di jalur ini dulu cukup parah, terutama di sejumlah titik pesisir. Aspal terkelupas, badan jalan bergelombang, dan saat musim hujan kerap menyulitkan kendaraan. Bahkan di akhir 2025, ketika terakhir saya melewatinya, perbaikan masih berjalan. Alat berat berjajar di bahu jalan, dan kenyamanan belum sepenuhnya terasa.

Peningkatan jalan dengan konstruksi rigid beton di jalur pesisir Muara Badak, mempermudah mobilitas warga dan kendaraan roda dua. Foto: Agus S

Kini kondisinya berubah cukup signifikan.

Perbaikan besar dilakukan pada 2025 oleh Pemprov Kaltim, seiring perubahan status ruas jalan dari jalan kabupaten menjadi jalan provinsi. Perbaikan tidak hanya menyasar wilayah Kutai Kartanegara, tetapi juga titik-titik perbatasan Bontang–Kukar. Mulai dari gerbang Perumahan Korpri hingga jembatan conveyor PT Indominco Mandiri, kawasan yang dulu dikenal sebagai bagian paling menyiksa kini jauh lebih nyaman.

Di area ini, kerusakan jalan pernah jauh lebih berat dibanding titik lain.

Karena kondisi itulah, saya sempat lama meninggalkan jalur pesisir dan kembali memilih poros utama Bontang–Samarinda. Apalagi saat itu kondisi poros utama relatif masih baik dan minim kerusakan.

Namun situasi berubah belakangan. Jalur utama kini justru sering bermasalah, bukan karena rusak, tetapi akibat lalu lintas kendaraan berat yang tak terkendali. Soal ini sudah saya tulis di bagian lain.

Jembatan di jalur pesisir Muara Badak dengan permukaan jalan yang sudah diperbaiki dan aman dilintasi kendaraan. Foto: Agus S

Kembali ke jalur pesisir Muara Badak.

Secara jarak, saya uji langsung menggunakan pengukur kilometer mobil. Titik nol saya ambil di simpang RSUD Taman Husada Bontang. Menuju arah Bontang Lestari, kondisi jalan sudah baik. Kalaupun ada kerusakan, hanya spot kecil dan tidak mengganggu laju kendaraan.

Setelah Kantor Wali Kota Bontang, yang beberapa tahun lalu jalannya cukup parah, kondisinya kini jauh berubah. Peningkatan jalan dengan rigid beton membuat permukaannya mulus, meski baru selesai satu jalur perbaikannya. Mendekati area conveyor memang masih ada beberapa bagian yang belum sempurna, tetapi saat saya melintas, perbaikan kembali terlihat berjalan.

Memasuki wilayah Kukar, kondisi jalan terasa semakin konsisten. Ada beberapa titik perbaikan, tetapi hanya di bagian tertentu. Selebihnya, hampir sepanjang kurang lebih 80 kilometer hingga simpang Muara Badak, jalan relatif mulus dan nyaman dilalui.

Memang, jalur ini tidak memungkinkan laju kendaraan seperti poros utama. Kecepatan rata-rata tak bisa dipacu tinggi, terutama saat melewati kawasan permukiman. Namun justru di situ letak kenyamanannya.

Jalan lurus, tanpa tanjakan panjang, tanpa tikungan tajam, dan tidak menuntut konsentrasi ekstra seperti poros utama yang kini rawan kecelakaan dan macet mendadak.

Perjalanan terasa lebih santai. Tidak membuat tegang, juga tidak membosankan. Meski memutar, selisih jarak tempuh tidak terlalu jauh. Yang berbeda hanya waktu, sedikit lebih lambat. Namun itu harga yang masuk akal dibanding risiko terjebak berjam-jam hanya karena satu trailer melintang di tanjakan poros utama.

Pekerjaan perbaikan dan pelebaran jalan di salah satu titik jalur pesisir Muara Badak, bagian dari peningkatan infrastruktur tahun 2025. Foto: Agus S

Jalur pesisir Muara Badak sejatinya bukan sekadar jalan alternatif. Jalur ini merupakan koridor penting mobilitas warga pesisir, logistik lokal, hingga aktivitas ekonomi perikanan. Ruas ini menghubungkan Muara Badak, Marangkayu, hingga Bontang. Beban jalannya jelas tidak kecil.

Karena itu, perhatian pemerintah dalam dua tahun terakhir patut dicatat. Pada 2025, Pemprov Kaltim mengalokasikan anggaran sekitar Rp4,7 miliar untuk perbaikan bahu jalan dan pelebaran di titik-titik kritis. Lebar bahu ditambah sekitar 1,2 hingga 1,5 meter, terutama di akses permukiman dan kawasan usaha yang padat aktivitas.

Proyek ini memang sempat disorot. DPRD Kaltim menyinggung dugaan penggunaan material yang tidak sesuai spesifikasi, bahkan disebut ada campuran air laut pada material tertentu. Akibatnya, sebagian pekerjaan harus dibongkar dan diperbaiki. Namun dari situ pengawasan diperketat, dan hasilnya kini mulai terasa di lapangan.

Pada 2026, pekerjaan belum berhenti. Pemerintah menargetkan perbaikan lanjutan sejak awal tahun, termasuk penanganan kerusakan struktural seperti retak buaya. Ada pula rencana peningkatan status beberapa ruas jalan kabupaten menjadi jalan provinsi, dengan potensi pelebaran hingga sembilan meter bila struktur badan jalan memungkinkan.

Gubernur dan Wakil Gubernur Kaltim juga telah meninjau langsung jalur pesisir Anggana–Muara Badak–Marangkayu–Bontang. Jalur ini dinilai penting karena menopang distribusi logistik dan aktivitas ekonomi masyarakat pesisir.

Dari pengalaman melintas langsung, saya melihat jalur pesisir Muara Badak kini bukan lagi jalan darurat. Jalur ini sudah menjadi pilihan rasional, terutama di tengah kondisi poros Bontang–Samarinda yang makin tak menentu. Memang memutar, tetapi lebih tenang, lebih bisa diprediksi, dan yang terpenting, lebih aman dari kejutan.

Kadang, jalan yang sedikit lebih jauh justru membawa kita sampai dengan selamat.

Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.

Teror Jalan Poros Bontang–Samarinda dan Bahaya yang Dibiarkan

0
Trailer pembawa alat berat melintang dan menutup total Jalan Poros Bontang–Samarinda, menyebabkan arus lalu lintas lumpuh dan antrean panjang kendaraan. Foto: Istimewa

Jalan Poros Bontang–Samarinda sekarang tidak aman. Berbahaya. Bukan semata karena kerusakan jalan, tetapi karena kombinasi tanjakan, kondisi permukaan, dan lalu lintas kendaraan berat yang makin padat. Situasi ini membuat kecelakaan berulang dan kemacetan panjang bisa terjadi kapan saja.

Faktanya, dalam beberapa bulan terakhir, poros Samarinda–Bontang sering lumpuh. Penyebabnya bukan hal baru. Masalah yang sama terus terulang. Setiap kali truk gagal menanjak atau trailer melintang, jalan langsung lumpuh. Syukur-syukur kalau masih bisa dilalui bergantian.

Situasi ini bukan peristiwa sekali. Setiap kejadian selalu berakhir dengan pola yang sama. Arus dua arah terhenti, kendaraan terjebak berjam-jam, dan risiko kecelakaan susulan meningkat.

Kondisi inilah yang membuat banyak pengendara kini selalu mencari informasi lebih awal tentang keadaan Jalan Poros Bontang–Samarinda sebelum bepergian. Sebagian bahkan langsung memilih jalur alternatif yang dinilai lebih aman, meski harus menempuh waktu lebih lama. Termasuk saya.

Selasa (20/1) lalu, saya melakukan perjalanan dari Bontang menuju Samarinda–Balikpapan dan kembali ke Bontang pada Jumat (23/1). Pengalaman seringnya kecelakaan di jalur utama membuat saya memilih jalur Muara Badak atau yang dikenal sebagai jalur pantai. Pulang-pergi saya gunakan jalur ini.

Ternyata kondisinya saat ini jauh lebih baik dibandingkan beberapa kali saya melintas sebelumnya. Soal jalur ini, akan saya tulis di bagian lain.

Keputusan memilih jalur Muara Badak terasa tepat. Sebab, saat perjalanan kembali ke Bontang, Jumat sore (23/1), grup redaksi kembali menginformasikan terjadi kecelakaan di poros Samarinda–Bontang. Kejadiannya sore hari, saat saya masih melintas di kawasan Marangkayu pantai.

Jalan poros kembali macet panjang akibat trailer pembawa alat berat yang melintang di badan jalan. Kali ini terjadi di KM 22, Desa Santan Ulu.

Dalam catatan kami, kejadian semacam ini berulang. Pada 7 Januari 2026, truk pengangkut tiang beton gagal menanjak di KM 59, Desa Perangat, Kecamatan Marangkayu. Truk melintang dan menutup dua arah. Jalan lumpuh total.

Pada 16 Januari 2026, truk kontainer kembali tidak kuat menanjak di KM 68. Proses evakuasi memakan waktu hampir delapan jam. Arus lalu lintas baru bergerak menjelang siang, itu pun dengan antrean panjang dari dua arah.

Sebelumnya, pada 4 Desember 2025, kemacetan panjang terjadi di KM 43, Muara Badak. Rekaman antrean kendaraan menyebar luas di media sosial.

Pada November 2025, kecelakaan trailer di sekitar KM 32 Marangkayu membuat poros nyaris lumpuh hingga sembilan jam. Titik-titik lain juga kerap menjadi bottleneck, termasuk di KM 84 dekat Masjid Abah Nanang.

Jika dirunut, penyebabnya hampir selalu sama. Kendaraan berat dipaksa melintas di tanjakan dengan kondisi jalan yang tidak mendukung. Aspal bergelombang mengurangi daya cengkeram.

Saat truk kehilangan tenaga dan berhenti, tidak ada ruang untuk manuver. Jalan yang sempit membuat satu kendaraan saja cukup untuk menutup seluruh badan jalan.

Gambaran ini senada dengan keluhan yang disampaikan salah satu pejabat Pemkot Bontang. Ia menyebut, setidaknya empat kali trailer pengangkut paku bumi mengalami masalah di jalur Samarinda–Bontang.
Muatan tersebut diduga terkait proyek industri besar, termasuk pembangunan pabrik Soda Ash. Dalam satu perjalanan malam, ia mengaku bisa berpapasan dengan lima hingga enam trailer serupa, bahkan lebih.
Artinya, hampir setiap malam kendaraan berat dengan muatan ekstrem melintas di poros ini sampai kebutuhan proyek terpenuhi. Menurutnya, tanpa ketegasan pemerintah, terutama di tingkat provinsi, kejadian serupa akan terus berulang.

BACA JUGA :  Inflasi Bontang Terkendali Hingga Akhir 2025, TPID Siapkan Intervensi Jelang Tutup Tahun

Dengan kualitas jalan, kontur tanjakan, dan sarana prasarana yang ada saat ini, poros Samarinda–Bontang seharusnya memiliki pembatasan yang jelas terkait jenis, muatan, dan waktu kendaraan berat melintas.

Jika tidak, puluhan kejadian trailer amblas dan jalan lumpuh hanya tinggal menunggu waktu.

Masalah lain yang tak kalah serius adalah lamanya proses evakuasi. Alat berat tidak selalu siaga di sekitar titik rawan. Petugas baru bergerak setelah jalan terlanjur lumpuh. Akibatnya, kemacetan berlangsung berjam-jam dan risiko kecelakaan susulan semakin besar.

Poros Bontang–Samarinda saat ini menanggung beban lalu lintas yang tidak seimbang. Truk kontainer, trailer alat berat, kendaraan pribadi, dan angkutan umum bercampur di jalur yang sama tanpa pengaturan ketat.

Solusi jangka pendek sebenarnya bisa segera dilakukan jika ada kemauan. Pembatasan jam operasional kendaraan berat di segmen rawan harus diterapkan secara tegas, terutama pada jam padat pagi dan sore. Kendaraan bermuatan besar tidak seharusnya melintas bebas pada waktu risiko tertinggi.

Pengangkutan alat berat dan trailer lowbed perlu pengawalan nyata. Pengawalan harus disertai kesiapan alat derek di radius dekat agar evakuasi bisa dilakukan cepat sebelum kemacetan memanjang.

Pos siaga permanen juga perlu dibangun di titik-titik rawan seperti KM 22, KM 32, KM 59, dan KM 68—pos yang benar-benar diisi personel, peralatan komunikasi, dan perlengkapan evakuasi dasar.

Di luar itu, pengawasan muatan dan kondisi kendaraan harus diperketat. Banyak truk dipaksa bekerja di ambang kemampuan mesin dan rem. Di jalan datar mungkin masih lolos, tetapi di tanjakan poros ini, kesalahan kecil bisa berdampak besar.

Namun solusi jangka pendek tidak cukup. Evaluasi desain geometrik jalan di segmen tanjakan harus menjadi perencanaan serius. Pelebaran jalur di titik kritis, perbaikan elevasi, hingga penyediaan jalur lambat khusus kendaraan berat bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan keselamatan.

Langkah semacam ini sebenarnya sudah dilakukan di beberapa titik. Seperti di kawasan Tanah Datar dan Gunung Menangis, di mana elevasi jalan dipangkas signifikan dan kini jauh lebih landai. Artinya, perbaikan serupa bukan hal mustahil untuk diterapkan di titik rawan lainnya.

Jalan Poros Bontang–Samarinda adalah urat nadi mobilitas dan ekonomi. Ketika jalan ini terus lumpuh, yang dirugikan bukan hanya pengguna jalan, tetapi aktivitas masyarakat secara luas. Keselamatan tidak boleh bergantung pada keberuntungan memilih jalur.

Keluhan tentang kondisi poros ini juga saya dengar secara langsung dari Zulkifli, Pembina STITEK sekaligus mantan Kepala Bappeda Kota Bontang, saat menghadiri Wisuda STITEK Bontang, Sabtu (24/1). Ia mengaku terpaksa menunda perjalanan ke Bontang setelah menerima informasi trailer pembawa alat berat melintang di poros utama. Ia baru berangkat setelah subuh, dengan pertimbangan kondisi jalan lebih memungkinkan. Inilah yang membuatnya terlambat hadir di acara wisuda.

Kejadian ini menunjukkan bahwa persoalan Jalan Poros Bontang–Samarinda sudah berdampak langsung pada aktivitas publik, bukan lagi sekadar keluhan pengguna jalan.

Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.

DLH Kaltim Luruskan Polemik Void Tambang: Tak Semua Lubang Wajib Ditutup

0
Ilustrasi lubang bekas tambang di Kalimantan Timur. (Istimewa)

SAMARINDA — Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Kaltim menegaskan bahwa kewajiban reklamasi pascatambang tidak selalu berarti menutup seluruh lubang bekas tambang atau void. Penjelasan ini disampaikan untuk meluruskan persepsi publik yang kerap menyamakan reklamasi dengan penimbunan total lubang tambang.

Kepala DLH Kaltim, Joko Istanto, menjelaskan bahwa secara konsep, reklamasi bertujuan memastikan kawasan pascatambang kembali memiliki fungsi dan nilai guna bagi masyarakat, bukan sekadar menghilangkan lubang bekas aktivitas tambang.

“Reklamasi itu bukan berarti semua lubang harus ditutup. Secara logika, material yang diambil dari dalam tanah tidak mungkin cukup untuk menutup kembali seluruh lubang. Yang penting adalah bagaimana area tersebut dimanfaatkan secara aman dan bermanfaat,” ujar Joko di Samarinda, Sabtu.

Menurutnya, void yang tidak ditutup dapat dialihfungsikan untuk berbagai kepentingan publik, sepanjang memenuhi ketentuan lingkungan dan tata ruang. Beberapa pemanfaatan yang dimungkinkan antara lain sebagai sumber air baku, kawasan wisata, area budidaya perikanan, hingga peruntukan lain sesuai rencana pascatambang.

Joko mencontohkan salah satu void di sekitar Kota Bontang yang kini dimanfaatkan sebagai sumber air baku utama bagi kebutuhan masyarakat. Pemanfaatan tersebut dinilai lebih memberikan manfaat jangka panjang dibandingkan sekadar penimbunan lubang tambang.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa penentuan rona akhir pascatambang tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Setiap rencana pemanfaatan void wajib didukung kajian teknis dan dokumen perencanaan yang komprehensif.

Dokumen tersebut meliputi studi teknoekonomi, feasibility study (FS), rencana reklamasi (RR), rencana penutupan tambang, serta Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). AMDAL, kata Joko, memegang peranan penting untuk menilai dampak signifikan, termasuk lokasi dan luasan void yang akan ditinggalkan.

“Semua itu sudah diatur secara jelas dalam Permen ESDM Nomor 26 Tahun 2018 dan Kepmen ESDM Nomor 1827 Tahun 2018. Regulasi membolehkan void ditinggalkan selama ada rencana pascatambang yang jelas dan sesuai peruntukan ruang,” jelasnya.

Meski regulasi memberi ruang, DLH Kaltim memastikan pengawasan tetap dilakukan secara ketat. Perusahaan tambang wajib menjalankan seluruh komitmen lingkungan sesuai dokumen yang telah disetujui pemerintah.

“Kalau pelaksanaannya tidak sesuai dokumen, sanksi administratif hingga paksaan pemerintah akan dijatuhkan,” tegas Joko.

Ia juga menyoroti persoalan lubang tambang akibat aktivitas pertambangan ilegal. Menurutnya, kasus ini berbeda karena tidak memiliki dokumen lingkungan maupun jaminan reklamasi, sehingga sepenuhnya menjadi beban lingkungan dan merugikan negara.

“Lubang dari tambang ilegal masuk ranah pidana. Tidak ada jaminan reklamasi, dan dampaknya sangat merugikan,” ujarnya.

DLH Kaltim, lanjut Joko, terus berkoordinasi dengan kementerian terkait serta Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) untuk memastikan pengawasan lingkungan di wilayah Kalimantan Timur berjalan maksimal, khususnya di kawasan yang bersinggungan dengan aktivitas pertambangan dan pembangunan strategis nasional. (MK)

Editor: Agus S

Pengguna QRIS di Kaltim Tembus 841 Ribu, Transaksi Digital Kian Menguat

0
Ilustrasi penggunaan QRIS sebagai metode pembayaran digital di Kalimantan Timur. (Istimewa)

SAMARINDA — Akselerasi digitalisasi sistem pembayaran di Kalimantan Timur terus menunjukkan tren positif. Hingga November 2025, jumlah pengguna Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di Benua Etam tercatat mencapai 841,6 ribu pengguna, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di angka 832,6 ribu pengguna.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kalimantan Timur, Budi Widihartanto, menjelaskan bahwa pertumbuhan pengguna QRIS tersebut sejalan dengan semakin luasnya adopsi di sisi merchant atau pelaku usaha. Ekosistem pembayaran digital dinilai semakin matang dan diterima oleh masyarakat.

“Per November 2025, merchant yang telah menggunakan QRIS di Kalimantan Timur mencapai 780,6 ribu unit. Angka ini meningkat dari bulan sebelumnya sebanyak 763,1 ribu merchant,” ujar Budi di Samarinda, Sabtu.

Menurutnya, peningkatan jumlah pengguna dan merchant QRIS mencerminkan tingginya kepercayaan masyarakat terhadap sistem pembayaran digital yang dinilai lebih efisien, aman, dan praktis. Hal ini juga terlihat dari nilai transaksi QRIS yang sepanjang November 2025 mencatatkan pertumbuhan yang cukup signifikan.

“Kenaikan ini menunjukkan bahwa QRIS semakin menjadi pilihan utama masyarakat dan pelaku usaha dalam bertransaksi. Nominal transaksi QRIS sepanjang November juga mencatatkan capaian yang sangat positif,” jelasnya.

Namun demikian, Budi mengungkapkan bahwa secara umum volume transaksi sistem pembayaran nontunai di Kalimantan Timur justru mengalami tekanan. Pada periode yang sama, transaksi nontunai secara agregat tercatat mengalami kontraksi sebesar 20,6 persen secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan capaian bulan sebelumnya.

Di sisi lain, penggunaan uang kartal masih relatif dominan di masyarakat. Hal ini tercermin dari posisi net outflow uang kartal di Kalimantan Timur yang mencapai Rp491,2 miliar. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun pembayaran digital terus berkembang, kebutuhan masyarakat terhadap uang tunai masih cukup tinggi. (MK)

Editor: Agus S

Diskominfo Kaltim Matangkan EPSS 2026, Perangkat Daerah Diminta Lengkapi Bukti Dukung Sejak Dini

0
Suasana Coaching Evaluasi Penyelenggaraan Statistik Sektoral (EPSS) Tahap I Tahun 2026 di Ruang Wiek Diskominfo Kaltim. (Istimewa)

SAMARINDA — Pemprov Kaltim terus memperkuat tata kelola statistik sektoral sebagai fondasi perencanaan pembangunan berbasis data. Melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kaltim, upaya tersebut diwujudkan dengan menggelar Coaching Evaluasi Penyelenggaraan Statistik Sektoral (EPSS) Tahap I Tahun 2026, di Ruang Wiek Diskominfo Kaltim, Kamis (22/1/2026).

Kegiatan ini menjadi langkah awal dalam mempersiapkan pelaksanaan evaluasi EPSS Tahun 2026, dengan fokus pada penguatan pemahaman perangkat daerah terhadap domain-domain penilaian EPSS. Pembahasan meliputi kualitas data, aspek kelembagaan, hingga penyelenggaraan statistik sektoral agar selaras dengan sistem statistik nasional.

Statistisi Ahli Muda Diskominfo Kaltim, Ika Wahyuni, menjelaskan bahwa tahapan inventarisasi bukti dukung EPSS 2026 telah dimulai. Melalui coaching ini, seluruh perangkat daerah didorong untuk aktif menginput dan melengkapi bukti dukung sesuai indikator pada masing-masing domain penilaian.

“Kami sudah mulai menginventarisir bukti dukung EPSS 2026. Hari ini kita bersama-sama memasukkan bukti dukung dan menyisir satu per satu domain EPSS,” ujar Ika.

Ia menegaskan, kelengkapan bukti dukung menjadi faktor penting dalam meningkatkan nilai evaluasi EPSS. Karena itu, perangkat daerah diharapkan tidak menunda proses penginputan dan segera menyesuaikan dokumen yang dibutuhkan sesuai indikator penilaian.

Coaching EPSS Tahap I ini juga menghadirkan narasumber dari Badan Pusat Statistik (BPS), Muhammad Syahril, Pranata Komputer Madya. Dalam paparannya, ia menekankan bahwa evaluasi EPSS merupakan instrumen penting untuk mengukur sejauh mana penyelenggaraan statistik sektoral telah berjalan secara sistematis dan terintegrasi di lingkungan pemerintah provinsi.

“Evaluasi EPSS ini sudah kami sampaikan sejak Desember lalu. Evaluasi akan mengukur penyelenggaraan statistik sektoral di pemerintah provinsi. Diharapkan nilai yang diperoleh semakin meningkat, sehingga apa yang sudah didiskusikan dan disiapkan perlu terus dievaluasi,” jelas Syahril.

Melalui kegiatan coaching ini, Diskominfo Kaltim mendorong terbangunnya sinergi dan komitmen seluruh perangkat daerah dalam memperkuat penyelenggaraan statistik sektoral yang berkualitas, terintegrasi, dan akuntabel.

Penguatan statistik sektoral tersebut diharapkan mampu menghasilkan data yang andal dan konsisten, sehingga dapat menjadi dasar yang kuat dalam perencanaan, pengendalian, serta pengambilan kebijakan pembangunan daerah di Kaltim. (MK)

Editor: Agus S