Beranda blog Halaman 320

Kunjungan Posyandu Masih Minim, Dinkes Kutim Terapkan Strategi Jemput Bola

0
Kesadaran ibu membawa bayi dan balita ke Posyandu masih rendah. (Istimewa)

SANGATTA — Rendahnya tingkat kunjungan ibu membawa bayi dan balita ke Posyandu masih menjadi tantangan serius dalam upaya percepatan penurunan stunting di Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Kondisi ini mendorong Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim mengintensifkan strategi jemput bola agar pemantauan tumbuh kembang anak tidak terputus.

Kepala Dinkes Kutim, dr. Yuwana Sri Kurniawati, mengungkapkan bahwa partisipasi masyarakat terhadap layanan Posyandu hingga saat ini belum sesuai dengan target yang diharapkan. Padahal, penimbangan dan pengukuran rutin di Posyandu merupakan langkah awal untuk mendeteksi gangguan pertumbuhan anak, termasuk stunting.

“Jumlah ibu yang membawa bayinya ke Posyandu masih kurang, masih jauh dari harapan kita,” ujarnya.

Menurut Yuwana, rendahnya kunjungan Posyandu dipengaruhi oleh berbagai faktor. Kesibukan orang tua yang bekerja menjadi alasan paling dominan. Selain itu, faktor psikologis juga berperan, seperti rasa malu ketika anak dinilai mengalami masalah gizi.

“Ketika ibu sudah merasa malu, mereka justru enggan kembali ke Posyandu. Ini berbahaya, karena anak akhirnya tidak terpantau secara berkala,” jelasnya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Dinkes Kutim memperkuat peran Dasawisma sebagai ujung tombak pendekatan langsung ke masyarakat. Dasawisma yang mencakup sekitar 10 rumah tangga dinilai efektif untuk menjangkau keluarga secara personal dan persuasif.

“Melalui Dasawisma, kader akan mendatangi rumah warga, menanyakan alasan ibu tidak datang ke Posyandu, lalu melakukan pendekatan agar mau kembali memeriksakan anaknya,” kata Yuwana.

Selain itu, Dinkes Kutim juga mendorong Posyandu tampil lebih ramah anak. Suasana pelayanan dibuat lebih menyenangkan dengan penyediaan mainan dan aktivitas pendukung, sehingga anak tidak takut dan ibu merasa lebih nyaman untuk datang.

Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur turut memperkuat intervensi melalui program unggulan di bidang kesehatan. Salah satunya adalah pemberian susu dan buah gratis bagi anak sekolah serta ibu hamil, yang masuk dalam 50 program unggulan Bupati Kutim.

“Program ini bukan hanya pencegahan, tapi juga intervensi. Ada Gerimis atau Gerakan Minum Susu untuk anak sekolah, dan ada pangan olahan khusus bagi anak dengan kondisi gizi bermasalah,” terangnya.

Program Gerimis menyasar siswa SD, SMP, serta TK dan PAUD, dengan penyaluran susu secara rutin setiap pekan langsung ke sekolah. Namun demikian, pengawasan tetap menjadi perhatian agar program benar-benar tepat sasaran.

“Yang penting diminum oleh anaknya. Jangan sampai justru dikonsumsi orang tuanya,” tegas Yuwana.

Ia menambahkan, seluruh upaya penanganan stunting ini dilakukan secara kolaboratif dengan Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB), terutama dalam pendampingan keluarga berisiko stunting.

Dengan penguatan Posyandu, penerapan strategi jemput bola melalui Dasawisma, serta dukungan program unggulan daerah, Pemkab Kutim berharap percepatan penurunan stunting dapat berjalan lebih efektif dan berdampak nyata di lapangan.

“Kalau anak tidak pernah ditimbang dan diukur, kita tidak tahu ada masalah atau tidak. Karena itu, kami berharap ibu-ibu mau datang ke Posyandu. Jika tidak bisa datang, kami yang akan mendatangi,” pungkas Yuwana. (MK)

Editor: Agus S

Jembatan Mahakam Ulu Dihantam Tongkang untuk Ketiga Kalinya, DPUPR Kaltim Turunkan Tim Darurat

0
Seorang nelayan merekam detik-detik tongkang batubara menabrak Jembatan Mahakam Ulu dari atas ketinting/kapal klotok. (Istimewa)

SAMARINDA — Insiden tabrakan tongkang batubara kembali terjadi di Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu), Samarinda. Pada Minggu pagi (25/1/2026), tongkang Marine Power 3066 dilaporkan menghantam struktur jembatan, menjadikannya insiden ketiga dalam kurun waktu kurang dari satu bulan.

Peristiwa terbaru ini menambah daftar panjang kecelakaan serupa, setelah sebelumnya jembatan tersebut ditabrak tongkang pada 23 Desember 2025 dan kembali terjadi pada 4 Januari 2026. Rentetan kejadian ini memicu kekhawatiran serius terhadap keselamatan dan ketahanan struktur jembatan yang menjadi salah satu penghubung vital di Kota Samarinda.

Kepala Bidang Bina Marga DPUPR-Pera Kalimantan Timur, Muhammad Muhran, menegaskan bahwa langkah pertama yang harus segera dilakukan adalah evakuasi tongkang yang masih berada di sekitar pilar jembatan.

“Tongkang harus segera dipindahkan. Saat ini posisinya masih melintang di antara fender dan pilar. Jika dibiarkan, arus Sungai Mahakam yang cukup deras akan terus mendorong lambung kapal ke arah pilar, dan itu sangat berisiko,” kata Muhran saat dikonfirmasi.

DPUPR Kaltim telah berkoordinasi dengan sejumlah pihak terkait, mulai dari Polairud, Dinas Perhubungan, hingga Satlantas, untuk mengamankan lokasi kejadian dan memastikan keselamatan lalu lintas di sekitar jembatan.

Selain evakuasi, tim teknis dan konsultan struktural juga langsung disiagakan untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh. Inspeksi awal dilakukan secara visual guna memastikan tidak terjadi kerusakan serius yang membahayakan pengguna jembatan.

Beberapa aspek krusial yang menjadi fokus pemeriksaan antara lain kondisi geometris pilar untuk memastikan tetap tegak dan tidak mengalami pergeseran, kondisi elemen atas seperti trotoar, expansion joint, dan parapet, serta stabilitas pilar jembatan untuk mendeteksi adanya retakan atau deformasi akibat benturan.

“Karena ini sudah kejadian ketiga dalam waktu yang sangat singkat, ada kekhawatiran struktur mengalami pergeseran. Tidak menutup kemungkinan kami akan melakukan pengujian lanjutan, baik secara dinamis maupun statis, untuk memastikan tingkat keamanannya,” ujar Muhran.

DPUPR Kaltim juga membuka kemungkinan penerapan langkah pengamanan tambahan demi keselamatan masyarakat. Pembatasan beban kendaraan hingga penutupan sementara jembatan dapat diberlakukan apabila hasil pemeriksaan menunjukkan adanya risiko yang membahayakan.

“Kami tidak ingin mengambil risiko. Jika hasil pengecekan lapangan menunjukkan potensi bahaya, pembatasan bahkan penutupan sementara bisa saja dilakukan,” tegasnya. (MK)

Editor: Agus S

Aklamasi di IKN, Yulianus Henock Sumual Resmi Nahkodai PDKT Lima Tahun ke Depan

0
Yulianus Henock Sumual (ketiga dari kanan) terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum PDKT periode 2026–2031. (Istimewa)

NUSANTARA — Musyawarah Besar (Mubes) VII Persekutuan Dayak Kalimantan Timur (PDKT) yang digelar di Ibu Kota Nusantara (IKN) menetapkan Anggota DPD RI asal Kalimantan Timur, Yulianus Henock Sumual, sebagai Ketua Umum PDKT periode 2026–2031. Henock terpilih secara aklamasi setelah seluruh cabang PDKT se-Kaltim menyatakan dukungan penuh.

Mubes VII PDKT berlangsung di Multifunction Hall Kementerian Koordinator (Kemenko) 3, IKN, selama 23–25 Januari 2026. Penetapan Henock sekaligus menandai berakhirnya masa kepemimpinan Sjaharie Jaang, mantan Wali Kota Samarinda, yang sebelumnya menjabat Ketua Umum PDKT.

Dalam sambutannya usai ditetapkan sebagai ketua umum, Henock menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan seluruh elemen organisasi. Ia menegaskan komitmennya untuk memperkuat konsolidasi internal dan menjaga persatuan masyarakat Dayak di Kalimantan Timur.

“Terima kasih atas kepercayaan yang diberikan. Ke depan, semoga silaturahmi kita semakin erat dan konsolidasi organisasi semakin solid,” ujar Henock.

Mubes VII PDKT diawali dengan penyampaian laporan pertanggungjawaban pengurus periode sebelumnya, dilanjutkan dengan agenda pemilihan ketua umum untuk masa bakti lima tahun ke depan. Seluruh peserta Mubes sepakat menetapkan Henock secara aklamasi, mengingat rekam jejak dan perannya sebelumnya sebagai Sekretaris Umum PDKT Kaltim.

Ketua Umum PDKT demisioner, Sjaharie Jaang, turut menyampaikan apresiasi kepada Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, atas dukungan dan fasilitasi tempat pelaksanaan Mubes di kawasan IKN.

“Terima kasih kepada Pak Basuki Hadimuljono yang dengan rendah hati memberikan fasilitas sehingga Mubes ini dapat terselenggara dengan baik,” kata Jaang.

Melalui Mubes ini, PDKT kembali menegaskan komitmennya sebagai wadah pemersatu masyarakat Dayak Kalimantan Timur yang berdaya saing, berkarakter, dan berkontribusi nyata dalam pembangunan daerah. PDKT juga menyatakan kesiapan mendukung pembangunan IKN sebagai calon ibu kota negara baru Republik Indonesia.

Sejumlah tokoh penting turut hadir dalam pembukaan Mubes VII PDKT, di antaranya Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono, Wakil Gubernur Kalimantan Timur Seno Aji, Kepala Staf Korem yang mewakili Danrem, Firminus Kunum mewakili Ketua Majelis Adat Dayak Nasional (MADN), Ketua Umum Dewan Adat Dayak (DAD) Viktor Yuan, para ketua adat Dayak, pimpinan PDKT kabupaten/kota, serta tokoh adat dari berbagai daerah.

Rangkaian kegiatan Mubes dilanjutkan dengan malam syukur perayaan Natal dan Tahun Baru yang diisi dengan pujian serta nyanyian sebagai bentuk ungkapan kebersamaan dan persatuan seluruh peserta. (MK)

Editor: Agus S

Api Dini Hari Lumat Permukiman Lambung Mangkurat, Empat Rumah Warga Samarinda Ludes Terbakar

0
Api membara di sebuah rumah kosong di Jalan Lambung Mangkurat, Gang Jamhari, Samarinda. (Istimewa)

SAMARINDA — Kebakaran hebat melanda kawasan padat penduduk di Jalan Lambung Mangkurat, Gang Jamhari, Kelurahan Sungai Pinang Dalam, Samarinda, Minggu (25/1/2026) dini hari. Api yang berkobar sekitar pukul 01.20 WITA menghanguskan empat rumah warga dan memicu kepanikan penghuni sekitar.

Salah seorang warga terdampak, Yusuf Setiawan, mengaku terbangun saat api sudah membesar dari rumah kosong yang berada tepat di sebelah kediamannya. Saat kejadian, ia dan keluarganya tengah tertidur lelap.

Petugas pemadam berupaya memadamkan sisa api di Jalan Lambung Mangkurat, Gang Jamhari. (istimewa)

“Saya terbangun karena dengar suara dari kamar anak saya. Begitu bangun, api sudah besar dari rumah kosong di sebelah kiri. Rumah itu sudah lama tidak dihuni, saya juga tidak tahu masih ada aliran listrik atau tidak,” ujarnya di lokasi kejadian.

Dalam situasi panik, Yusuf memilih menyelamatkan anggota keluarga, hewan peliharaan, serta kendaraan yang masih bisa diamankan. Ia menyebut api dengan cepat merembet ke bangunan lain di sekitarnya.

“Saya fokus menyelamatkan mobil, motor, dan kucing peliharaan. Api cepat sekali menjalar ke tiga rumah lainnya,” katanya.

Petugas Pemadam Kebakaran Kota Samarinda yang menerima laporan segera bergerak ke lokasi kejadian. Kepala Pos 1 Damkar Samarinda, Poli Rahman, menyampaikan bahwa pihaknya mengerahkan delapan hingga sepuluh unit armada pemadam untuk menjinakkan api.

“Kami menerima laporan sekitar pukul 01.20 WITA. Ada empat bangunan permanen di RT 02 yang mengalami kerusakan berat. Kendala utama, unit besar tidak bisa masuk ke gang, namun dukungan relawan dan Redkar sangat membantu,” jelas Poli.

Berkat kerja cepat tim gabungan, kobaran api berhasil dikendalikan dalam waktu kurang lebih 20 menit sehingga tidak meluas ke rumah-rumah lain di kawasan tersebut.

Hingga berita ini diturunkan, penyebab pasti kebakaran belum dapat dipastikan. Dugaan awal mengarah pada rumah kosong yang menjadi titik awal api, namun pihak pemadam menyerahkan sepenuhnya proses penyelidikan kepada kepolisian.

Tidak ada laporan korban jiwa dalam peristiwa ini, namun kerugian material diperkirakan cukup besar. (MK)

Editor: Agus S

Dari Penjajakan hingga Deal Rp4 Triliun, Ayedh Dejem Butuh 9 Bulan Mantap Berinvestasi di IKN

0
Kunjungan awal delegasi Ayedh Dejem Group ke IKN untuk melihat langsung potensi investasi di Nusantara, Mei 2025. (Dok. OIKN)

NUSANTARA — Masuknya investasi raksasa properti asal Uni Emirat Arab (UEA), Ayedh Dejem Group, ke Ibu Kota Nusantara (IKN) bukan proses instan. Dibutuhkan waktu hampir sembilan bulan sejak penjajakan awal hingga akhirnya kesepakatan investasi senilai Rp4 triliun resmi diteken bersama Otorita IKN.

Penjajakan tersebut dimulai pada awal Mei 2025. Saat itu, delegasi Ayedh Dejem Group datang langsung ke Nusantara untuk melihat kondisi lapangan, menilai kesiapan kawasan, serta meraba potensi pengembangan bisnis di calon ibu kota baru Indonesia.

Kunjungan perdana itu berlangsung sekitar 8 Mei 2025 dan menjadi titik awal ketertarikan serius Ayedh Dejem Group terhadap IKN. Beberapa hari setelah kunjungan lapangan, kedua belah pihak menandatangani Non-Disclosure Agreement (NDA) atau perjanjian kerahasiaan sebagai landasan awal kerja sama.

Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, kala itu menyambut positif minat investasi dari Dejem Group. Ia menegaskan bahwa momentum pembangunan IKN merupakan waktu yang tepat bagi investor global untuk masuk dan mengambil peran.

“Saya perlu sampaikan bahwa ini adalah saat yang tepat untuk berinvestasi di IKN,” ujar Basuki dalam pertemuan tersebut.

Penandatanganan NDA dilakukan sebagai tindak lanjut pertemuan antara Basuki Hadimuljono dengan delegasi Ayedh Dejem Group yang dipimpin langsung oleh Chairman Ayedh Dejem Group, Ayedh Dejem. Dokumen tersebut ditandatangani oleh Deputi Bidang Pendanaan dan Investasi Otorita IKN saat itu, Agung Wicaksono, bersama CEO Dejem Group, Zed Ayesh, dan disaksikan langsung oleh Kepala Otorita IKN.

Dalam tahap awal penjajakan, Dejem Group menyatakan minat mengembangkan kawasan bisnis di atas lahan sekitar 10 hektare di wilayah IKN. Rencana pengembangan mencakup pusat perbelanjaan dan kawasan campuran (mixed-use) yang berlokasi strategis. Bahkan, sekitar dua hektare lahan disiapkan khusus untuk pembangunan masjid sebagai bagian dari dukungan terhadap aspek spiritual dan sosial kawasan.

Proses kajian, komunikasi intensif, serta penyesuaian rencana akhirnya bermuara pada kesepakatan final. Pada Jumat, 23 Januari 2026, Ayedh Dejem Group dan Otorita IKN resmi menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) di Dubai, dengan nilai investasi mencapai Rp4 triliun.

Kerja sama tersebut mencakup pemanfaatan lahan seluas 9,7 hektare di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) 1A, tepat di sebelah Plaza Bhinneka Tunggal Ika. Di kawasan ini, Ayedh Dejem Group akan membangun kompleks perkantoran, kawasan komersial, pusat perbelanjaan, serta fasilitas ibadah berupa masjid.

Kesepakatan ini menandai babak baru keterlibatan investor Timur Tengah dalam pembangunan IKN. Masuknya Ayedh Dejem Group sekaligus memperkuat posisi Nusantara sebagai magnet investasi global dan mengukuhkan visi IKN sebagai “Kota Dunia untuk Semua” yang dibangun melalui kolaborasi pemerintah dan mitra swasta internasional. (MK)

Editor: Agus S

Investor UEA Masuk IKN, OIKN Gandeng Ayedh Dejem Bangun Kawasan Bisnis Rp4 Triliun

0
Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Otorita IKN dan Ayedh Dejem Group, Jumat (23/1/2026). (Dok. OIKN)

NUSANTARA — Arus investasi asing ke Ibu Kota Nusantara (IKN) kembali menguat. Otorita IKN resmi menjalin kerja sama strategis dengan Ayedh Dejem Group (ADG), perusahaan konstruksi dan pengembang real estat asal Uni Emirat Arab (UEA), untuk membangun kawasan komersial terpadu dengan nilai investasi sekitar Rp4 triliun.

Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Deputi OIKN Bidang Pendanaan dan Investasi, Sudiro Roi Santoso, dan Chairman Ayedh Dejem Group, Sheikh Ayedh Dejem, pada Jumat (23/1/2026).

Investasi ini akan memanfaatkan lahan seluas 9,7 hektare di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) 1A, tepat di sisi Plaza Bhinneka Tunggal Ika, salah satu kawasan paling strategis di jantung Nusantara. Di atas lahan tersebut, Ayedh Dejem Group akan mengembangkan kompleks perkantoran modern, kawasan komersial, pusat perbelanjaan, serta fasilitas ibadah berupa masjid.

Sheikh Ayedh Dejem menyampaikan optimismenya terhadap prospek ekonomi Indonesia, khususnya di IKN yang tengah dibangun sebagai pusat pemerintahan dan pertumbuhan ekonomi baru.

“Terdapat pertumbuhan signifikan dalam perekonomian Indonesia. Insyaallah, perekonomian di IKN akan tumbuh pesat, sehingga membutuhkan proyek-proyek berskala besar untuk menjawab permintaan tersebut,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa sektor real estat menjadi fokus utama perusahaannya. Dengan populasi Indonesia yang besar serta posisi strategis IKN, pihaknya melihat peluang pertumbuhan jangka panjang yang sangat menjanjikan.

“Bidang kami adalah pengembangan real estat. Melihat besarnya Indonesia dan pengalaman kami dari Dubai, kami menaruh harapan besar terhadap perkembangan kawasan Nusantara,” tambahnya.

Deputi OIKN Bidang Pendanaan dan Investasi, Sudiro Roi Santoso, menyebut penandatanganan PKS ini sebagai tonggak penting dalam pengembangan kawasan komersial di IKN. Ia menegaskan bahwa kerja sama ini menunjukkan kepercayaan investor global terhadap masa depan Nusantara.

“Alhamdulillah, hari ini OIKN bersama Ayedh Dejem telah menandatangani perjanjian alokasi lahan strategis seluas 9,7 hektare dengan nilai investasi sekitar Rp4 triliun,” kata Sudiro.

Ia menjelaskan, tahapan awal proyek akan dimulai dari perencanaan dan penyusunan desain detail, dilanjutkan dengan proses perizinan serta penunjukan kontraktor. Seluruh tahapan pra-konstruksi tersebut diperkirakan memakan waktu sekitar satu setengah tahun sejak penandatanganan perjanjian.

“Konstruksi fisik direncanakan mulai pertengahan 2027 dan akan berlangsung secara bertahap selama kurang lebih lima tahun,” jelasnya. (MK)

Editor: Agus S

Dari Wisuda STITEK Bontang (4–Habis): Kampus Teknologi, Ikhtiar Jadi ITB-nya Indonesia Bagian Timur

0
Jajaran pimpinan STITEK Bontang, senat akademik, perwakilan pemerintah, industri, serta wisudawan berfoto bersama usai Sidang Terbuka Senat Wisuda Angkatan XIV di Hotel Grand Mutiara Bontang, Sabtu (24/1/2026).

Prosesi wisuda Angkatan XIV berlangsung tanpa euforia berlebihan. Di balik pelepasan 87 wisudawan, perhatian justru tertuju pada arah kampus ke depan. Wisuda ini jadi momentum untuk melihat langkah STITEK Bontang saat bertransformasi menjadi universitas.

Pesan itu datang dari berbagai pihak. Ketua Pembina Yayasan Pendidikan Bessai Berinta, Yhenda Permana, berbicara dari sisi visi dan pengalaman panjang mengawal kampus.

Ketua LLDIKTI Wilayah XI Kalimantan, Dr. Muhammad Akbar, menekankan tanggung jawab akademik yang ikut membesar seiring perubahan status.

Ketua LLDIKTI Wilayah XI Kalimantan, Dr. Muhammad Akbar, menyampaikan sambutan pada Sidang Terbuka Senat Wisuda Angkatan XIV STITEK Bontang.

Sementara Pemkot Bontang, melalui sambutan Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni yang dibacakan Pj Sekda Ahmad Suharto, menegaskan komitmen Pemkot terhadap pendidikan tinggi yang selaras dengan kebutuhan lokal.

Intinya sama: STITEK tidak boleh berhenti pada pergantian nama.

Dalam sambutannya, Yhenda Permana mengingatkan bahwa wisuda bukan titik akhir perjalanan. “Justru ini awal dari perjuangan yang lebih berat,” ujarnya di hadapan wisudawan.

Ia menegaskan bahwa gelar sarjana tidak boleh berhenti sebagai simbol akademik. “Gelar itu harus dibawa ke dunia kerja, ke persoalan nyata, dan memberi manfaat,” pesannya.

Yhenda juga merefleksikan perjalanan STITEK yang telah ia kawal lebih dari satu dekade. Dari dua program studi hingga kini enam program studi aktif. Dari kampus kecil hingga institusi yang bersiap naik kelas.

Dalam konteks itulah ia menyebut satu arah besar yang ingin dituju. “Kita ingin STITEK, kelak Universitas Sains dan Teknologi Bontang, menjadi ITB-nya Indonesia bagian timur,” ucapnya.

Bukan meniru bentuk, tetapi meniru watak. Watak kampus yang kuat pada riset terapan, dekat dengan industri, dan relevan dengan kebutuhan daerah. Menurut Yhenda, di kota industri seperti Bontang, kampus harus berani membuka program studi yang benar-benar dibutuhkan.

“Kita punya LNG, pabrik pupuk, energi. Kenapa kampus tidak menyiapkan SDM-nya dari sekarang?” katanya.

Ia juga menyinggung pentingnya riset yang membumi. “Riset itu tidak harus besar dan rumit. Mulai saja dari masalah di sekitar kita,” ujarnya.

Yhenda memberi contoh pengelolaan sampah menjadi energi yang ia lihat langsung di luar negeri. “Kalau di sana (Jerman, Red.) bisa, kenapa kita tidak mulai dari TPA kita sendiri? Riset kecil dulu, tapi nyata,” katanya.

Ketua LLDIKTI Wilayah XI Kalimantan, Dr. Muhammad Akbar, memberikan arahan terkait peran perguruan tinggi dalam peningkatan mutu pendidikan dan penguatan riset.

Ketua LLDIKTI Wilayah XI Kalimantan, Dr. Muhammad Akbar, menguatkan arah tersebut. Ia mengapresiasi capaian STITEK, termasuk penambahan dua program studi baru dan konsistensi dosen dalam riset serta pengabdian.

Menurut Akbar, kualitas perguruan tinggi sangat ditentukan oleh dosennya. “Dosen adalah aset utama perguruan tinggi. Kalau dosennya kuat, kampusnya akan maju,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa perubahan status membawa tanggung jawab yang lebih besar. “Universitas tidak cukup hanya mengajar. Riset harus diperkuat, publikasi ditingkatkan, dan kerja sama industri diperluas,” katanya.

Akbar menegaskan bahwa pemerintah telah membuka ruang pendanaan riset yang lebih besar. “Tinggal keberanian kampus untuk mengambil peran,” ujarnya.

Sementara itu, Pemkot Bontang melalui sambutan Wali Kota yang dibacakan Sekda Ahmad Suharto menegaskan dukungan terhadap pendidikan tinggi. “Pemerintah Kota Bontang menempatkan pendidikan sebagai investasi jangka panjang,” ucapnya.

Pj Sekda Bontang Ahmad Suharto menyampaikan sambutan mewakili Wali Kota Bontang pada Sidang Terbuka Senat Wisuda Angkatan XIV STITEK Bontang.

Program beasiswa, kebijakan serapan tenaga kerja lokal, hingga keberpihakan pada SDM lokal disebut sebagai upaya agar lulusan kampus tidak terputus dari dunia kerja. “Kami ingin lulusan perguruan tinggi di Bontang punya ruang kerja yang nyata,” kata Sekda membacakan sambutan Wali Kota.

Semua pesan tersebut memperlihatkan posisi STITEK Bontang saat ini. Kampus ini sedang berada pada fase penentuan. Perubahan yang ditempuh bukan semata soal status kelembagaan, melainkan tentang arah universitas yang ingin dibangun.

Di kota industri seperti Bontang, kampus teknologi dituntut lebih dari sekadar meluluskan sarjana. Kampus harus mampu menumbuhkan riset dan inovasi yang dekat dengan kebutuhan daerah serta dunia usaha di sekitarnya.

Wisuda Angkatan XIV menandai berakhirnya satu tahap perjalanan STITEK Bontang. Jika proses transformasi berjalan sesuai rencana, ini menjadi wisuda terakhir dengan nama sekolah tinggi. Setelah itu, langkah berikutnya akan ditempuh dengan nama Universitas Sains dan Teknologi Bontang.

Ikhtiar menjadi ITB-nya Indonesia bagian timur akan diuji oleh waktu. Namun dari wisuda ini terlihat, arah perubahan STITEK sedang disiapkan secara serius. (Habis)

Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.

Dari Wisuda STITEK Bontang (3): Logo Universitas, Prestasi Mahasiswa dan Dosen

0
Logo pemenang sayembara USTB ditampilkan dalam visualisasi penerapan pada gedung kampus.

Momen wisuda juga dimanfaatkan Sekolah Tinggi Teknologi (STITEK) Bontang untuk memberi apresiasi atas satu proses penting lain dalam perjalanan menuju universitas: penetapan logo Universitas Sains dan Teknologi Bontang (USTB).

Di hadapan forum wisuda, panitia mengumumkan pemenang sayembara logo yang akan menjadi identitas resmi universitas ke depan. Pengumuman ini menjadi tahap akhir dari rangkaian penjurian yang telah dilaksanakan sebelumnya.

Dari belasan karya yang masuk, dewan juri terlebih dahulu menetapkan lima besar logo terbaik. Penilaian dilakukan secara bertahap, mencakup kekuatan konsep, kejelasan visual, kedalaman filosofi, serta kesesuaiannya dengan visi Universitas Sains dan Teknologi Bontang.

Proses penjurian melibatkan unsur yayasan dan pimpinan kampus. Saya dilibatkan sebagai juri eksternal untuk memberi sudut pandang di luar struktur internal kampus.

Logo yang akhirnya ditetapkan sebagai juara pertama merupakan karya Belva Pranama Sriwibowo, mahasiswa Teknik Informatika angkatan 2023. Karyanya dinilai paling mampu merepresentasikan arah perubahan STITEK menjadi universitas. Baik dari sisi konsep, keterbacaan visual, maupun kesesuaian dengan karakter kampus sains dan teknologi.

Logo pemenang sayembara USTB ditampilkan pada jas almamater, kop surat dan amplop.

Secara visual, logo pemenang menampilkan bentuk perisai akademik yang diperkaya elemen simbolik. Di dalamnya tergambar nilai sains, teknologi, kolaborasi, serta kebajikan akademik. Desainnya sederhana namun kuat, mudah dikenali, dan tidak lekang ketika diterapkan pada berbagai media.

Dalam simulasi penerapannya, logo ini telah ditampilkan pada beragam kebutuhan kelembagaan. Mulai dari sampul dokumen resmi, kop surat dan amplop, pin dan jas almamater, hingga visual gedung kampus. Ini memberi nilai lebih, karena logo memang disiapkan untuk digunakan dalam keseharian kampus

Selain juara pertama, dewan juri juga menetapkan Muhammad Salvatore, S.Pd., staf humas STITEK Bontang, sebagai juara kedua. Sementara juara ketiga diraih Irfani Zuhrufillah, S.Kom., M.Kom., dosen Sistem Informasi STITEK Bontang. Ketiga karya tersebut dinilai menonjol karena memiliki konsep yang jelas, visual yang rapi, serta mampu menjelaskan keterkaitan desain dengan visi universitas.

Apresiasi di forum wisuda ini tidak berhenti pada karya logo semata. STITEK Bontang juga memberikan penghargaan kepada mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan yang mencatatkan prestasi di berbagai level.

Sejumlah mahasiswa menerima apresiasi atas capaian mereka dalam bidang inovasi dan teknologi tepat guna.

Di antaranya Muhammad Shafdan Alfas, S.T., yang meraih Gold Winner kategori eksternal pada Pupuk Kaltim Innovation Summit 2024, serta Izhar Meidiansyah, S.T., yang menorehkan prestasi di berbagai ajang inovasi, mulai dari tingkat kota hingga provinsi. Sementara Azwa Liza, S.T. mencatatkan prestasi melalui lomba Teknologi Tepat Guna, baik di tingkat kecamatan maupun Kota Bontang pada 2025.

Penghargaan juga diberikan kepada dosen berprestasi penerima hibah DPPM Kemdiktisaintek, baik pada skema penelitian, pengabdian kepada masyarakat, maupun program Kosabangsa.

Nama-nama seperti Nur Imansyah, S.Kom., M.Kom., Hardianto, S.T., M.Eng., dan Akbar, S.Pd., M.Pd. disebut sebagai bagian dari tim yang mengharumkan institusi melalui kerja akademik yang konsisten.

Apresiasi turut diberikan kepada tenaga kependidikan berdedikasi tinggi, Ibu Hajjah Farida Ariana, S.T., atas pengabdian dan kontribusinya bagi kampus.

Rangkaian apresiasi ini menunjukkan bahwa perubahan STITEK Bontang tidak hanya soal pergantian nama. Di tengah proses menuju universitas, kampus juga memberi ruang pada prestasi mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan yang selama ini bekerja nyata di balik layar.

Logo baru menandai arah perubahan. Prestasi mahasiswa dan dosen menunjukkan kualitasnya. Dari keduanya, langkah STITEK menuju Universitas Sains dan Teknologi Bontang mulai terlihat. (Bersambung)

Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.

Dari Wisuda STITEK Bontang (2): Teknologi, Riset, dan Masa Depan STITEK

0
Dr. Rino R. Mukti memaparkan pengalaman riset dan kolaborasi internasional dalam pengembangan teknologi dan material industri. Foto: Agus S

Salah satu bagian yang paling menyita perhatian dalam Wisuda Sekolah Tinggi Teknologi Bontang (STITEK) Bontang Angkatan XIV adalah sesi orasi ilmiah. Bukan semata karena siapa yang tampil, tetapi karena isi yang dibawa terasa tepat dengan posisi STITEK saat ini. Sebuah kampus teknologi yang sedang bersiap melangkah ke fase berikutnya sebagai universitas.

Forum wisuda ini dihadiri sejumlah tokoh penting. Pemkot Bontang diwakili Pj Sekda Bontang Ahmad Suharto. Hadir pula Ketua LLDIKTI Wilayah XI Kalimantan Dr. Muhammad Akbar, jajaran pembina dan pengurus Yayasan Pendidikan Besai Berinta yang menaungi STITEK Bontang, pimpinan perguruan tinggi di Kota Bontang, perwakilan industri, termasuk dari PT Badak NGL, serta senat akademik, pimpinan kampus, dosen, dan tentu para wisudawan beserta keluarga.

Orasi ilmiah disampaikan Dr. Rino R. Mukti, dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Rino Mukti merupakan alumnus ITB yang melanjutkan studi magister di Malaysia dan pendidikan doktoral di Jerman. Ia sempat menjalani program postdoktoral di Jepang sebelum kembali ke Indonesia dan mengabdikan diri sebagai dosen dan peneliti di ITB.

Dalam kesehariannya, Rino membimbing mahasiswa dari jenjang sarjana hingga doktoral. Fokus risetnya berada pada material berpori, bidang yang banyak dimanfaatkan dalam industri energi, pupuk, hingga lingkungan.

Suasana sidang terbuka wisuda STITEK Bontang Angkatan XIV yang dihadiri senat akademik, pimpinan kampus, dan tamu undangan. Foto: Agus S

Di hadapan forum wisuda, Rino membuka orasinya dengan satu gagasan: tidak ada negara maju tanpa teknologi, dan teknologi tidak lahir tanpa riset yang dikerjakan secara konsisten. Gagasan itu ia jabarkan dengan berbagai contoh. Dari sejarah hingga riset mutakhir, disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami.

Ia menjelaskan bahwa banyak teknologi besar justru lahir dari riset yang pada awalnya tidak terlihat praktis. Salah satunya material berpori seperti zeolit, bidang yang ia tekuni. Ia menggambarkan material ini sebagai bahan dengan rongga sangat halus dan luas permukaan yang besar, sehingga mampu menyerap, mempercepat reaksi, dan berfungsi sebagai katalis di berbagai sektor industri.

Dari situ, Rino mengaitkan riset dengan kebutuhan nyata. Ia menyinggung pengembangan material yang dapat meningkatkan efisiensi pupuk pertanian, hingga riset yang memungkinkan air diekstraksi dari udara, solusi yang relevan bagi wilayah dengan keterbatasan sumber air. Semua disampaikan lebih sebagai gambaran arah teknologi ke depan.

Pada bagian lain orasinya, Rino mengangkat contoh konkret dari Jerman. Ia bercerita tentang sebuah kawasan tempat pembuangan sampah yang diubah menjadi pusat riset, edukasi, sekaligus destinasi wisata. Gunung sampah yang sebelumnya menjadi masalah lingkungan, diolah dengan pendekatan teknologi dan riset hingga mampu menghasilkan energi, ruang belajar, dan area rekreasi.

Materi orasi ilmiah tentang transformasi institusi pendidikan teknologi di Eropa dari politeknik menuju universitas berbasis riset. Foto: Agus S

Transformasi itu, menurutnya, tidak terjadi secara instan. Kuncinya, keberanian menjadikan masalah sebagai objek riset, lalu melibatkan kampus, industri, dan pemerintah dalam satu ekosistem. Dari tempat yang dulu dihindari, kawasan tersebut justru berubah menjadi ruang publik yang bernilai ekonomi dan edukatif.

Contoh itu ia sampaikan untuk menegaskan bahwa teknologi bukan konsep jauh dari kehidupan sehari-hari. Dengan riset yang tepat, persoalan lingkungan, energi, hingga tata kota dapat diubah menjadi peluang.

Rino juga mengajak forum wisuda menengok sejarah sains. Ia mengulas bagaimana lonjakan besar peradaban manusia, termasuk pertumbuhan penduduk dunia, tidak lepas dari penemuan teknologi seperti sintesis amonia yang menjadi dasar pupuk modern. Teknologi, menurutnya, bukan sekadar alat, tetapi penentu arah hidup manusia.

Ia turut berbagi pengalaman saat berdiskusi dengan almarhum Presiden ke-3 RI, B.J. Habibie. Rino menyebut Habibie bukan hanya memahami teknologi secara umum, tetapi mengikuti perkembangan sains hingga ke detail, termasuk katalis dan material berpori. Sosok Habibie, baginya, menunjukkan bahwa pemimpin yang memahami sains akan melihat teknologi sebagai kebutuhan strategis, bukan pelengkap.

Slide presentasi orasi ilmiah yang menampilkan contoh kampus teknologi di Jerman sebagai rujukan pengembangan riset dan kolaborasi industri. Foto: Agus S

Dalam konteks perubahan STITEK menuju universitas, Rino berpesan bahwa perubahan bentuk kelembagaan tidak boleh berhenti pada urusan administrasi dan nama. Jika ingin naik kelas menjadi universitas, maka budaya riset juga harus naik kelas.

Kampus teknologi, menurutnya, harus berani hidup dari riset. Dosen aktif meneliti, mahasiswa dilibatkan, dan kampus hadir menyelesaikan persoalan nyata di sekitarnya, terutama di daerah industri seperti Bontang.

Di kota industri seperti Bontang, tantangan kampus teknologi bukan sekadar meluluskan sarjana, tetapi membuktikan bahwa riset bisa tumbuh, hidup, dan menjawab persoalan nyata di sekitarnya.

Di akhir orasi, Rino menyinggung bahwa Indonesia sejatinya memiliki jejak panjang dalam dunia sains. Tantangannya bukan pada kemampuan, melainkan pada konsistensi dan keberanian membangun ekosistem riset yang berkelanjutan, dimulai dari kampus, dosen, dan mahasiswa.

Dari orasi ilmiah ini, arah STITEK ke depan mulai terbaca. Bukan sekadar soal berganti nama, tetapi soal pilihan. Apakah berhenti sebagai sekolah tinggi yang diperluas, atau benar-benar tumbuh sebagai universitas yang hidup dari teknologi, riset, dan kebermanfaatan nyata. (Bersambung)

Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.

Dari Wisuda STITEK Bontang (1) Menjawab Kebutuhan Industri, Bersiap Menjadi Universitas

0
Ketua STITEK memimpin prosesi pemindahan tali toga sebagai tanda kelulusan wisudawan STITEK Bontang Angkatan XIV. Foto: Agus S

Sabtu (24/1), saya menghadiri prosesi Wisuda Sekolah Tinggi Teknologi Bontang (STITEK) Angkatan XIV yang digelar di Hotel Grand Mutiara Bontang. Saya hadir sebagai undangan resmi dan masuk dalam jajaran undangan VIP. Ini pengalaman pertama saya menghadiri wisuda bukan sebagai wisudawan, tapi tamu perguruan tinggi.

Undangan VIP diisi jajaran Pembina, Pengawas, dan Pengurus Yayasan Pendidikan Bessai Berinta, Ketua LLDIKTI Wilayah XI, unsur Pemkot Bontang, dan pimpinan perusahaan yang beroperasi di Bontang. Hadir juga mewakili perbankan, rumah sakit, pimpinan perguruan tinggi, dan organisasi alumni. Kehadiran lintas unsur ini memperlihatkan posisi STITEK sebagai kampus yang memiliki keterkaitan langsung dengan dunia industri, pemerintah daerah, dan ekosistem pendidikan tinggi di Bontang.

Saya pernah dua kali mengikuti prosesi wisuda, yakni saat menyelesaikan studi S1 di Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman Samarinda, dan saat lulus S2 Ilmu Hukum di Universitas Merdeka (Unmer) Malang. Untuk S1 Ilmu Hukum di Universitas Trunajaya Bontang, saya hanya mengikuti yudisium dan tidak mengikuti prosesi wisuda. Karena itulah, menghadiri wisuda kali ini dari sisi undangan memberi perspektif berbeda.

Prosesi sidang terbuka senat Wisuda STITEK Bontang Angkatan XIV di Hotel Grand Mutiara Bontang. Foto: Agus S

Prosesi wisuda berlangsung tertib sejak pagi. Jajaran senat STITEK terlebih dahulu memasuki ruang sidang terbuka dan seluruh hadirin berdiri. Setelah senat menempati tempat duduk, tarian penyambutan khas daerah ditampilkan sebagai bagian dari pembukaan acara.

Saya masuk bersama iring-iringan senat STITEK, mengikuti alur prosesi akademik. Setelah itu, jajaran pimpinan kampus dan senat duduk berbaris di depan panggung, sementara undangan VIP telah disiapkan kursi sofa di baris depan.

Tarian penyambutan ditampilkan usai senat menempati ruang sidang terbuka Wisuda STITEK Bontang Angkatan XIV. Foto: Agus S

Prosesi pemindahan tali toga kepada wisudawan dilakukan secara bergantian. Satu per satu nama dipanggil. Wisudawan naik ke panggung, menjalani pemindahan tali toga sebagai tanda kelulusan, menerima dokumen kelulusan, lalu kembali ke tempat duduk masing-masing.

Raut tegang bercampur lega tampak jelas. Baik dari wisudawan maupun keluarga yang menyaksikan dari kursi undangan.

Wisuda Angkatan XIV meluluskan 87 wisudawan dari Program Studi Teknik Informatika dan Teknik Elektro. Jumlah ini meningkat dibanding tahun sebelumnya dan menunjukkan konsistensi tingkat kelulusan STITEK dalam beberapa tahun terakhir.

Ketua STITEK Bontang, Zaini, dalam sambutannya menyampaikan arah kebijakan kampus ke depan. Ia menyebut periode 2025 hingga awal 2026 sebagai fase awal kepemimpinannya dalam melanjutkan penguatan tata kelola institusi.

“Usia STITEK yang akan memasuki 21 tahun menjadi momentum untuk memperkuat fondasi kelembagaan dan tata kelola kampus secara lebih matang,” ujar Zaini.

STITEK Bontang akan memasuki usia 21 tahun pada Mei 2026. Pada usia ini, STITEK dinilai telah memiliki fondasi kelembagaan dan sistem manajemen yang semakin mapan untuk melangkah ke fase pengembangan berikutnya, termasuk rencana transformasi menjadi universitas.

BACA JUGA :  Spektakuler di Teras Mahakam, Beleng-Beleng dan Sponsor Buktikan Golf Bisa Menyatukan Semua

Fokus pengembangan STITEK diarahkan pada peningkatan mutu tridharma perguruan tinggi serta keterkaitannya dengan kebutuhan industri, pemerintah daerah, dan masyarakat. Zaini menegaskan bahwa kampus harus mampu menjawab kebutuhan riil daerah.

“Kampus tidak boleh berjalan sendiri. STITEK harus relevan dengan kebutuhan industri, pemerintah daerah, dan masyarakat,” katanya.

Dalam sambutannya, Zaini juga menyampaikan sejumlah capaian STITEK sepanjang 2025 hingga awal 2026. Di antaranya peningkatan jabatan fungsional dosen, bertambahnya dosen bersertifikasi, serta penguatan sumber daya manusia melalui studi lanjut. STITEK juga memperoleh hibah penelitian dan pengabdian, termasuk pendanaan riset kolaboratif dengan perusahaan di Kota Bontang.

Salah satu poin penting yang disampaikan adalah dibukanya dua program studi baru mulai Januari 2026, yakni Teknik Industri dan Teknik Lingkungan. Dengan tambahan ini, STITEK kini memiliki enam program studi aktif.

“Pembukaan program studi ini merupakan bagian dari upaya STITEK menyesuaikan diri dengan kebutuhan industri dan tantangan pembangunan daerah,” ujar Zaini.

Ketua STITEK juga menyampaikan bahwa institusinya telah memperoleh rekomendasi atas usulan perubahan bentuk menjadi Universitas Sains dan Teknologi Bontang. Proses tersebut masih berjalan, namun secara administratif dan akademik telah memasuki tahap penting dalam pengembangan kelembagaan.

Wisudawan terbaik STITEK Bontang Angkatan XIV menerima penghargaan dari pimpinan kampus disaksikan orang tua. Foto: Agus S

Dalam wisuda ini diumumkan wisudawan terbaik dari masing-masing program studi. Wisudawan terbaik Program Studi Teknik Informatika diraih oleh Sherly Rahmawati Putri, S.Kom., dengan IPK 3,80. Sementara wisudawan terbaik Program Studi Teknik Elektro diraih oleh Izhar Meidiansyah, S.T., dengan IPK 3,47. Keduanya mendapat apresiasi khusus dari pimpinan kampus sebagai representasi capaian akademik tertinggi pada Wisuda Angkatan XIV.

Di akhir sambutannya, Zaini menyampaikan pesan kepada para wisudawan agar menjaga integritas dan tanggung jawab setelah menyandang gelar sarjana.

“Gelar akademik bukan akhir dari proses belajar, tetapi awal untuk berkontribusi di tengah masyarakat dan dunia kerja,” ujarnya.

Prosesi wisuda juga dirangkai dengan orasi ilmiah, pengumuman, serta pemberian penghargaan kepada mahasiswa dan dosen berprestasi. Panitia juga mengumumkan dan menyerahkan hadiah kepada pemenang sayembara logo universitas sebagai bagian dari tahapan perubahan bentuk kelembagaan.

Wisuda Angkatan XIV ini sekaligus menjadi wisuda terakhir yang digelar dengan nama Sekolah Tinggi Teknologi Bontang, dengan catatan proses perubahan bentuk kelembagaan berjalan sesuai target. Jika tahapan tersebut dapat dituntaskan, mulai tahun depan STITEK direncanakan bertransformasi menjadi Universitas Sains dan Teknologi Bontang. Artinya, prosesi wisuda berikutnya akan dilaksanakan atas nama universitas. (bersambung)

Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.