Beranda blog Halaman 36

Puncak Kemarau Diperkirakan hingga September, BPBD Bontang Perkuat Antisipasi Karhutla

0
Ilustrasi kemarau. (AI)

BONTANG – Puncak musim kemarau di Kota Bontang diperkirakan masih berlangsung hingga Agustus-September 2026. Kondisi tersebut membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bontang, meningkatkan langkah pencegahan dan kesiapsiagaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Bontang, Kasful Anwar, mengatakan sejumlah langkah telah dilakukan untuk mengantisipasi dampak kemarau, baik di kawasan permukiman maupun di luar permukiman.

“Sudah melakukan beberapa hal terkait pencegahan dan kesiapsiagaan karhutla, di beberapa kawasan pemukiman maupun di luar kawasan pemukiman,” ujarnya.

Selain melakukan pemantauan dan kesiapsiagaan, BPBD juga memberikan edukasi serta sosialisasi kepada masyarakat. Petugas turut membagikan selebaran dan materi imbauan mengenai pencegahan kebakaran hutan dan lahan.

Kasful menyebut puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September. Meski demikian, pihaknya berharap kondisi cuaca ekstrem dan kemarau di Bontang tidak berlangsung terlalu lama.

“Mudah-mudahan setidak-tidaknya ada pencegahan dini dan kita berharap serta berdoa, semoga segera ada perubahan iklim cuaca mengarah ke musim hujan di Kota Bontang,” katanya.

Di sisi lain, kondisi kemarau juga menjadi perhatian karena dapat meningkatkan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Berdasarkan laporan BPBD, terdapat sejumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan yang tercatat sejak Januari hingga Juni 2026.

“Sekitar 8 kasus karhutla sampai Juni ini, tapi beberapa hari terakhir sempat ada juga,” tuturnya.

Pewarta: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Dua Tahun Delapan Bulan Tuntaskan S3, Ahmad Aznem Raih Doktor dengan IPK 3,97

0
Dua Tahun Delapan Bulan Tuntaskan S3, Ahmad Aznem Raih Doktor dengan IPK 3,97

Saya sebenarnya mendapat undangan khusus menghadiri Sidang Terbuka Promosi Doktor H. Ahmad Aznem, S.E., M.Si. di Universitas Mulawarman (Unmul), Selasa (18/8/2026). Sayangnya, belum bisa hadir karena masih banyak urusan di Bontang.

Meski demikian, saya tahu persis bagaimana perjalanan akademik Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, dan Pertanian (DKP3) Kota Bontang ini.

Beberapa kali gagasan yang menjadi bagian dari riset doktornya kami muat di MediaKaltim.com. Karena itu, ketika Pak Aznem membagikan video penyerahan ijazah di grup WhatsApp, saya langsung menontonnya.

Tuntas sudah perjuangan akademiknya. Ahmad Aznem resmi menyandang gelar doktor setelah dinyatakan lulus dalam Sidang Terbuka Promosi Doktor Program Doktor Manajemen Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Mulawarman.

Hasilnya juga istimewa. Dalam pembacaan berita acara sidang terbuka disebutkan, Ahmad Aznem memperoleh indeks prestasi kumulatif selama pembelajaran 3,96.

Nilai ujian tertutup 3,95, sedangkan pada ujian terbuka ia meraih nilai sempurna 4,00. Nilai akhir IPK-nya 3,97 dengan predikat cumlaude atau dengan pujian. Lebih istimewa lagi, program doktor itu diselesaikannya hanya dalam waktu dua tahun delapan bulan.

“Sekali lagi selamat kepada saudara Doktor Ahmad Aznem,” ucap Rektor Unmul Prof. Dr. H. Abdunnur, S.I.P., M.Si., ASEAN Eng. dalam prosesi sebelum penyerahan ijazah secara simbolis.

Dalam sidang tersebut juga disebutkan salah satu persyaratan akademiknya berupa publikasi jurnal internasional terindeks Scopus telah disubmit ke jurnal internasional Leadership in Education terbitan Inggris.

Yang menarik bukan hanya gelar doktor yang sekarang berada di depan namanya. Topik yang dipilih Aznem sangat dekat dengan pekerjaan yang selama ini dijalaninya di Bontang.

Disertasinya berjudul “Pengembangan Model Manajemen Sekolah dalam Pengelolaan Program Pertanian Terintegrasi untuk Meningkatkan Ketahanan Pangan Keluarga Siswa Sekolah Dasar di Kota Bontang”. Gagasan ini pernah beberapa kali kami angkat di MediaKaltim.com sebelum ia sampai ke meja ujian doktor.

Pada Juni lalu, Media Kaltim menurunkan tulisan mengenai FGD Ketahanan Pangan Masuk Sekolah yang mempertemukan kepala sekolah dasar se-Kota Bontang. Dari forum itu terlihat bahwa penelitian Aznem tidak berhenti sebagai konsep akademik.

Ia mencoba menghubungkan sekolah, pertanian, gizi anak dan ketahanan pangan keluarga. Konsep tersebut kemudian dikenal dengan Smartani Goes to School.

Sekolah ditempatkan sebagai titik awal. Anak-anak tidak hanya diajak menanam, tetapi mengenal bagaimana pangan diproduksi, dirawat, dipanen hingga dikonsumsi. Orang tua dan rumah tangga siswa kemudian menjadi bagian dari mata rantai berikutnya.

Modelnya disesuaikan dengan kondisi sekolah. SDN 009 Bontang Utara, misalnya, dikembangkan dengan hidroponik vertikal untuk menyiasati lahan sempit. SDN 005 Bontang Selatan menggunakan model akuaponik bioflok untuk karakter wilayah pesisir, sedangkan SDN 002 Bontang Barat dikembangkan melalui pembenihan dan kebun darat terbuka.

Ada pula konsep One Student One Polybag. Setiap siswa didorong memiliki media tanam sendiri agar kegiatan pertanian tidak berhenti di sekolah, tetapi bisa dibawa ke lingkungan keluarga.

Aznem pernah menulis sendiri gagasan tersebut di MediaKaltim.com melalui tulisan “Smartani Goes to School: Integrasi Pendidikan, Ketahanan Pangan, dan Neurosains Anak”.

Dalam tulisannya, ia menyoroti paradoks Bontang. Kota ini memiliki kekuatan ekonomi sebagai kota industri, tetapi sebagian kebutuhan pangan segarnya masih bergantung pada pasokan dari luar daerah, terutama Sulawesi dan Jawa.

Ketergantungan itu membuat rumah tangga rentan ketika rantai distribusi terganggu akibat cuaca, persoalan logistik maupun fluktuasi harga. Persoalan pangan kemudian tidak berdiri sendiri karena berhubungan dengan kualitas konsumsi keluarga dan gizi anak.

775426308 1462713389015572 4594966520289994994 n
Ahmad Aznem bersama dewan penguji dan tamu undangan usai Sidang Terbuka Promosi Doktor di Universitas Mulawarman, Selasa (18/8/2026). (Istimewa)

Dari situlah gagasan membawa ketahanan pangan masuk ke sekolah menjadi relevan. Jadi, disertasi yang dipertahankan Aznem bukan semata untuk mengejar gelar doktor. Ada persoalan Bontang yang coba dijawab melalui penelitian.

Sidang terbuka berlangsung di Ruang Rapat 1 Lantai 3 Rektorat Universitas Mulawarman, mulai pukul 09.00 hingga 12.00 WITA.

Komposisi dewan pengujinya juga menarik. Rektor Universitas Mulawarman Prof. Dr. H. Abdunnur, S.I.P., M.Si., ASEAN Eng. bertindak sebagai Ketua Dewan Penguji.

Ada pula anggota DPR RI asal Kaltim, Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian, MPP, yang kini menjabat Ketua Komisi X DPR RI. Hetifah hadir sebagai penguji eksternal dalam promosi doktor Aznem.

Dekan FKIP Unmul Prof. Dr. H. Susilo, M.Pd. juga menjadi penguji. Sedangkan Koordinator Program Studi S3 Manajemen Pendidikan FKIP Unmul Prof. Dr. Hasbi Sjamsir, M.Hum. bertindak sebagai promotor.

Dr. H. Usfandi Haryaka, M.Pd. menjadi kopromotor. Tim penguji lainnya terdiri dari Prof. Dr. H. Muh Amir Masruhin, M.Kes.; Prof. Dr. Hj. Widyatmike Gede Mulawarman, M.Hum.; serta Dr. H. Ahmadi, M.Kes.

Bukan hanya jajaran akademisi yang hadir. Sejumlah tokoh Bontang ikut menyaksikan langsung sidang terbuka tersebut. Di antaranya Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni.

Hadir pula mantan Wali Kota Bontang yang kini menjadi anggota DPD RI asal Kalimantan Timur, Sofyan Hasdam, yang merupakan suami Neni.

Kehadiran Neni dan Sofyan Hasdam tentu menjadi perhatian tersendiri. Keduanya ikut menyaksikan salah satu fase penting perjalanan akademik Aznem, yang selama ini menjadi bagian dari jajaran Pemkot Bontang.

Setelah seluruh proses sidang selesai, keputusan dibacakan. Aznem dinyatakan lulus. Ijazah kemudian diserahkan secara simbolis. Sejak saat itu, lengkap sudah gelar di depan namanya: Dr. H. Ahmad Aznem, S.E., M.Si.

Sehari setelah sidang, ucapan selamat juga terus berdatangan di grup WhatsApp. “Selamat dan sukses untuk Mas Asnem KKSS. Semoga ilmunya bermanfaat dan berkah, aamiin,” tulis salah seorang anggota grup.

Ada pula yang memberikan ucapan, “Selamat dan sukses untuk Ketua. Semoga ilmunya bermanfaat bagi masyarakat dan negara serta penuh keberkahan, aamiin.”

Wajar kalau banyak yang ikut senang. Selain sebagai pejabat Pemkot Bontang, Aznem selama ini juga aktif di tengah masyarakat. Ia merupakan Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kota Bontang.

Selamat, Pak Doktor Ahmad Aznem.

Gelar itu tentu membanggakan. Apalagi diraih dengan IPK 3,97 dan pendidikan yang bisa dituntaskan hanya dalam dua tahun delapan bulan. Tetapi yang lebih penting setelah ini adalah bagaimana model yang sudah ditelitinya benar-benar hidup di sekolah-sekolah Bontang.

Jika berhasil, disertasinya tidak hanya akan tersimpan di perpustakaan kampus. Anak-anak Bontang yang menanam, merawat dan memanen pangannya sendiri justru akan menjadi bukti paling nyata dari penelitian itu. (*)

Oleh: Agus Susanto

Hasil Uji Lab Menu MBG SMP Vidatra Ditemukan Bakteri

0

Pembaca Setia Radar Bontang!

Ingin tahu kabar terkini Koran Digital Radar Bontang? Kunjungi link di bawah ini untuk membaca e-paper lengkapnya:

👉 E-Paper Lengkap
https://koran.radarbontang.com

👉 Versi Mobile
https://digital.radarbontang.com/rb19agt2026/mobile/

Setelah Lima Hari Pencarian, Nelayan Bontang Kuala Ditemukan Meninggal di Perairan Kutim

0
Saat BPBD melakukan pencarian Jainuddin. (ist)

BONTANG – Nelayan asal Bontang Kuala, Jainuddin (60), yang sebelumnya dilaporkan hilang saat melaut, akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di perairan Tanjung Prancis, Teluk Lombok, Kutai Timur (Kutim), Selasa (18/8/2026).

Kepala Pelaksana BPBD Kota Bontang, Usman melalui Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Ismail, mengatakan jenazah Jainuddin ditemukan oleh tim gabungan. Karena kondisi air sedang surut, proses evakuasi dilakukan menggunakan ambulans dari Kutai Timur.

“Setelah ditemukan, jenazah langsung dibawa ke darat menggunakan ambulans dari Kutai Timur. Dari sana kemudian diantar ke rumah duka di Bontang Kuala,” terang Ismail.

Sebelumnya, Jainuddin dilaporkan hilang setelah pergi melaut dan tak kunjung kembali. Tim gabungan kemudian melakukan pencarian di sejumlah titik perairan.

Pada hari pertama pencarian, petugas menemukan kapal milik Jainuddin. Pencarian kemudian dilanjutkan pada hari berikutnya, hingga ditemukan mesin kapal yang berjarak sekitar satu kilometer dari lokasi ditemukannya kapal.

Setelah lima hari pencarian, Jainuddin akhirnya ditemukan meninggal dunia di perairan Tanjung Prancis, Kutim, sebelum kemudian dievakuasi dan diserahkan kepada pihak keluarga.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Tenaga Kerja Asing (TKA): Solusi atau Ancaman?

0
Desy Arisanti, S.Si. (Dok Pribadi)

Oleh:
Desy Arisanti, S.Si

Keberadaan Tenaga Kerja Asing (TKA) di proyek pembangunan pabrik Soda Ash sempat menyita perhatian publik usai inspeksi mendadak (sidak) oleh pihak Imigrasi. Menanggapi hal tersebut, Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kota Bontang akhirnya buka suara untuk meluruskan kesimpangsiuran data di lapangan.

Disnaker meluruskan bahwa angka 260 TKA yang sempat mencuat bukanlah pekerja asing yang semuanya menumpuk di proyek Soda Ash, melainkan jumlah akumulasi TKA yang terdaftar di wilayah Kota Bontang.

Pengantar Kerja Disnaker Bontang, Siti Mutoharoh, menyampaikan berdasarkan rekapitulasi data terakhir per Juni, total pekerja asing di Bontang berjumlah 272 orang.

Dari total tersebut, rinciannya terdiri dari 196 TKA di proyek Soda Ash, 71 orang di PT Graha Power Kaltim (GPK), dan 5 orang di PT Indominco Mandiri.

Siti menerangkan, seluruh pendataan TKA terhubung langsung dengan sistem aplikasi TKA Daerah milik Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) RI. Selain itu, setiap perusahaan pengguna wajib memberikan laporan rutin keberadaan pekerja asing mereka.

Mengenai legalitas dokumen seperti RPTKA dan IMTA serta kualifikasi keahlian, Siti menegaskan bahwa kewenangan verifikasi sepenuhnya berada di tingkat Kemenaker RI. Sementara Disnaker di daerah menjalankan fungsi pemantauan rutin bulanan. (Bekesah.co, 30/07/2026)

TKA di Indonesia

Tenaga Kerja Asing (TKA) adalah warga negara asing pemegang visa dengan maksud bekerja di Indonesia. Landasan hukumnya berdasarkan Peraturan Presiden No.20 / 2018 tentang Penggunaan Tenaga Kerja Asing (Perpres No.20 / 2018) dan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No.10 / 2018 tentang Tata Cara Penggunaan Tenaga Kerja Asing (TKA) (Permenaker No.10/2018).

Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker), jumlah tenaga kerja asing yang bekerja di Indonesia mencapai 183.964 pada tahun 2024 dan turun sebanyak 0,77 persen pada tahun 2025, yaitu sebanyak 182.564.

Menurut wilayah penempatannya, TKA banyak ditempatkan di Sulawesi Tengah sebanyak 21.330 orang dan DKI Jakarta sebesar 15.057 pada tahun 2024. TKA ini banyak bekerja di bidang industri dan jasa.

Tujuannya antara lain memenuhi kebutuhan tenaga kerja profesional dan terampil pada bidang tertentu, yang belum dapat diisi
oleh tenaga kerja lokal atau Tenaga Kerja Indonesia (TKI), dan mempercepat proses pembangunan nasional dengan cara proses alih teknologi atau alih ilmu pengetahuan, terutama di bidang industri.

Maraknya TKA, Gaya Hidup Liberal

Tidak dapat dihindari kebutuhan negara akan TKA. Namun, tidak dapat kita pungkiri bahwa fenomena banyaknya TKA di Indonesia memberi dampak dan pengaruh di tengah kehidupan masyarakat. Salah satunya adalah terkait dengan gaya hidup.

Kebanyakan TKA yang datang, mengadopsi gaya hidup liberal yang sangat jauh berbeda dengan kehidupan masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim. Bagi mereka agama cukup diyakini secara pribadi, tidak perlu agama dibawa ke ranah publik untuk mengatur kehidupan. Walhasil, lahirlah kehidupan yang serba bebas. Mulai dari kebebasan beragama, kebebasan bertingkah laku dan kebebasan berbicara.

Yang nampak menonjol adalah pengaruh kebebasan bertingkah laku yang melahirkan gaya hidup liberal, hedonis dan permisif. Maka tak heran semakin marak pergaulan bebas, minuman keras, klub-klub malam, dan lainnya. Gaya hidup ini tentu sangat bertentangan dengan norma-norma ketimuran juga agama.

Maraknya TKA Versus Penganguran Tinggi

Hal lain yang menjadi perhatian terhadap maraknya TKA di Indonesia adalah masih banyaknya masyarakat lokal yang tidak memiliki pekerjaan alias pengangguran. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pengangguran terbuka di Indonesia pada Mei 2026 mencapai 7,22 juta orang. Angka yang cukup tinggi dan tingkat kemiskinan pun kian naik seiring dengan kondisi perekonomian negara.

Memang, sebagiannya adalah tenaga kerja profesional yang dibutuhkan. Namun, tak sedikit TKA yang menjadi tenaga kerja kasar, yang sebenarnya rakyat Indonesia juga mampu untuk melakukannya.

Nampak bahwa keberpihakan dan kepedulian negara terhadap rakyatnya masih kurang. Political will negara masih diragukan. Hal ini menunjukkan gagalnya negara dalam menjamin lapangan pekerjaan bagi rakyatnya.

Biang Kapitalisme

Inilah pengaturan negara saat ini yang berasaskan sekuler kapitalisme. Dalam sistem ini, negara hanyalah regulator yang menghubungkan kepentingan-kepentingan para konglomerat terhadap sumberdaya yang dimiliki. Negara tidak hadir untuk melayani rakyat.

Alhasil, lahirlah kolaborasi kuat antara penguasa dan pengusaha dalam menjalankan roda pemerintahan. Penguasa bisa duduk di tampuk kekuasaan berkat pertolongan pengusaha. Sebagai balas budinya, penguasa memberikan jalan yang mulus bagi para pengusaha untuk menguasai sumber daya alam, memasarkan produk mereka, atau mengirimkan tenaga kerja mereka. Maka wajar, negara lebih mengutamakan kepentingan para pengusaha ini dibandingkan rakyatnya sendiri

Sistem Islam Mengatur Ketenagakerjaan

Islam sebagai sebuah sistem kehidupan memiliki aturan yang komprehensif, tidak sebatas akidah dan ibadah semata. Islam mengatur seluruh aspek dalam kehidupan.

Dalam Islam, seorang penguasa memiliki tanggung jawab untuk mengurusi seluruh urusan rakyat dan akan dimintai pertanggungjawaban kelak. Sebagaimana yang terdapat dalam hadits: “Imam atau pemimpin adalah penggembala dan ia akan diminta pertanggungjawaban atas gembalaannya. ” (HR. Bukhari)

Maka, negara dalam Islam akan menjamin rakyatnya agar terpenuhi seluruh kebutuhan hidupnya. Salah satunya dengan memberikan lapangan pekerjaan. Tidak hanya itu, negara pun akan menyiapkan para pencari nafkah dengan skill tertentu agar mereka memiliki keahlian. Hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan dalam Islam.

Negara Islam adalah negara yang independen dan tidak bergantung pada negara lain. Sehingga, negara akan menyiapkan secara maksimal terkait kebutuhannya terhadap SDM yang berkualitas. Negara menyelenggarakan pendidikan dalam rangka mewujudkan SDM yang berkualitas tadi. Bahkan negara akan menyiapkan berbagai fasilitas untuk mendukung tujuan tersebut.

Adapun ketika negara betul-betul membutuhkan TKA misalnya karena keahlian tertentu yang belum dimiliki tenaga kerja lokal, maka negara akan memastikan bahwa semuanya berlandaskan syariat Islam. Keberadaan TKA dipastikan tidak membawa ancaman maupun keburukan bagi kehidupan rakyat.

Demikianlah, Islam mengatur perihal ketenagakerjaan. Dimana negara akan memprioritaskan warga negaranya dan tidak bergantung pada negara lain.

Wali Kota Bontang Harap Dana Transfer dari Pemerintah Pusat Segera Disalurkan

0
Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni setelah Upacara HUT RI ke 81. (Syakurah)

BONTANG – Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni berharap pemerintah pusat segera menyalurkan dana transfer ke daerah, termasuk Dana Bagi Hasil (DBH) yang menjadi salah satu sumber penting pendapatan Kota Bontang.

Neni mengatakan, Bontang memiliki kontribusi besar terhadap pemerintah pusat melalui sektor yang menjadi sumber dana bagi hasil. Karena itu, ia berharap hak daerah yang masih belum tersalurkan dapat segera masuk ke APBD Kota Bontang.

“Kami bermohon dan tentunya permohonan kami berulang-ulang kami sampaikan untuk dana transfer, dana kurang salur itu disalurkan ke APBD Kota Bontang,” ujar Neni setelah upacara HUT RI, Senin (17/8/2026).

Penyaluran dana tersebut diperlukan, agar Pemkot Bontang dapat melanjutkan berbagai program yang telah masuk dalam visi dan misi pemerintah daerah serta tertuang dalam RPJMD.

Neni juga berharap dukungan pemerintah pusat tetap berjalan melalui berbagai program pembangunan di daerah, termasuk revitalisasi puskesmas, rumah sakit, dan sekolah sebagaimana yang disampaikan presiden dalam pidatonya.

Pemkot Bontang akan terus berupaya membangun kolaborasi dengan pemerintah pusat. Sejumlah program pembangunan di Bontang juga telah mendapat dukungan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK).

“Kami berharap dana transfer dan dana kurang salur itu bisa disalurkan, sehingga kami bisa melanjutkan program-program visi misi yang sudah tertuang di dalam RPJMD Kota Bontang,” katanya.

Sebelumnya diketahui, Pemkot Bontang masih menunggu penyaluran sekitar Rp402 miliar dana kurang salur yang bersumber dari DBH pemerintah pusat. Dana tersebut diharapkan segera disalurkan, agar dapat mendukung keberlanjutan program pembangunan di Kota Bontang.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Hasil Uji Lab Menu MBG SMP Vidatra Ditemukan Bakteri, Dinkes Masih Terus Cari Penyebabnya

0
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bontang Toetoek (kanan), didampingi Kabid P2P Sudirman. (Syakurah)

BONTANG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bontang masih menelusuri sumber kontaminasi pada makanan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikonsumsi Murid dan Guru SMP YPVDP.

Penelusuran dilakukan setelah hasil pemeriksaan laboratorium menemukan bakteri Escherichia coli (E. coli) pada menu ayam suwir kemangi yang diproduksi SPPG Bontang Selatan 5.

Sampel tersebut merupakan makanan yang dibagikan kepada penerima manfaat pada Senin (10/8/2026). Selain ayam suwir kemangi, Dinkes juga memeriksa tiga menu lain, yakni nasi uduk, tahu goreng dan tumis wortel.

Dari empat sampel itu, hanya ayam suwir kemangi yang menunjukkan adanya bakteri patogen.

Kepala Dinkes Bontang, Toetoek Pribadi Ekowati, mengatakan hasil tersebut belum cukup untuk memastikan bahwa E. coli menjadi penyebab keluhan kesehatan yang dialami siswa.

Keberadaan E. coli perlu dilihat lebih lanjut, karena bakteri tersebut memiliki berbagai jenis. Sebagian dapat ditemukan secara normal pada saluran pencernaan manusia dan hewan, sementara jenis tertentu dapat memicu gangguan kesehatan.

Karena itu, pemeriksaan tidak berhenti pada sampel makanan. Dinkes akan melihat kembali tahapan pengolahan makanan di dapur SPPG.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Bontang, Sudirman, mengatakan terdapat sejumlah tahapan kini menjadi perhatian, termasuk proses pendinginan dan pemorsian.

Dalam pemeriksaan lapangan, petugas mendapati kedua proses tersebut dilakukan di ruangan yang sama.

“Kemungkinan ada saat proses memasak menggunakan kemangi mentah. Penggunaan air untuk mencuci sayuran juga akan kami pantau,” jelasnya

Selain itu, Dinkes akan berkoordinasi dengan DKP3 Bontang untuk mengevaluasi bahan pangan yang digunakan, termasuk ayam beku sebagai bahan baku.

“Kalau kami kan meninjau medisnya. Tapi terkait bahan pangan, itu tupoksi Dinas Ketahanan Pangan, yang harus mengevaluasi penggunaan ayam frozen,” tambah Toetoek.

Rangkaian distribusi makanan juga menjadi perhatian. Dinkes menilai jeda waktu yang panjang antara makanan selesai dimasak dan diterima siswa, dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keamanan pangan.

“Proses memasak sampai ke penerima manfaat membutuhkan waktu yang lama. Bahkan bisa sampai 10 jam. Ini juga mungkin menjadi faktor utamanya,” katanya.

Meski demikian, Dinkes belum menarik kesimpulan mengenai hubungan langsung antara temuan E. coli dan keluhan kesehatan penerima MBG.

Makanan yang terkontaminasi tidak selalu menimbulkan gejala yang sama pada setiap orang. Kondisi tubuh dan daya tahan masing-masing individu, turut memengaruhi respons terhadap paparan bakteri.

Saat ini, penelusuran diarahkan untuk mengetahui pada tahapan mana kontaminasi kemungkinan terjadi, mulai dari bahan baku, pencucian, proses memasak, pendinginan, pemorsian hingga distribusi makanan.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Polres Bontang Ungkap 19 Kasus 3C, Empat Motor Curian Dikembalikan ke Pemilik

0
Pengembalian barang bukti curanmor usai konferensi press Polres Bontang. (Syakurah)

BONTANG – Polres Bontang mengungkap 19 kasus kejahatan jalanan yang masuk kategori 3C, yakni pencurian dengan pemberatan (curat), pencurian dengan kekerasan (curas), dan pencurian kendaraan bermotor (curanmor), sepanjang periode Juni hingga Agustus 2026.

Kapolres Bontang, AKBP Anak Agung Gede Wibowo Sitepu mengatakan, pengungkapan tersebut melibatkan 22 tersangka yang kini telah diamankan.

Dari 19 kasus tersebut, sebanyak 12 kasus merupakan pencurian dengan pemberatan, satu kasus pencurian dengan kekerasan, dua kasus pencurian biasa, dan empat kasus pencurian kendaraan bermotor.

Ia menyebut, tujuh perkara telah dilimpahkan kepada jaksa penuntut umum dalam tahap II. Sementara 12 perkara lainnya masih dalam proses pemberkasan oleh penyidik Satreskrim Polres Bontang.

Pengungkapan kasus tersebar di sejumlah wilayah. Bontang Selatan menjadi wilayah dengan jumlah kasus terbanyak, yakni enam kasus, disusul Bontang Barat lima kasus dan Bontang Utara empat kasus. Sementara dua kasus terjadi di Marangkayu dan dua kasus lainnya di Muara Badak.

Para tersangka yang diamankan berusia antara 18 hingga 50 tahun. Adapun pelaku tidak hanya berasal dari Bontang, tetapi juga Marangkayu, Muara Badak, Samarinda hingga Jawa Timur.

Motif yang paling dominan adalah faktor ekonomi. Namun, dalam sejumlah kasus, kebutuhan ekonomi tersebut juga berkaitan dengan gaya hidup dan aktivitas judi online.

“Bukan sekadar kebutuhan dasar, tapi gaya hidup menjadi salah satu motif daripada para pelaku,” katanya.

Modus yang digunakan para pelaku cukup beragam. Mulai dari mengambil uang maupun barang dari toko yang dalam keadaan kosong, hingga mencuri kabel power yang digunakan untuk fasilitas penerangan jalan umum.

“Pencurian kabel tersebut dilakukan dengan cara memotong kabel pada malam hari,” terangnya.

Dari pengungkapan itu, Satreskrim Polres Bontang turut mengamankan sejumlah barang bukti, di antaranya empat unit sepeda motor berbagai merek dan uang tunai sebesar Rp600 ribu.

Empat sepeda motor hasil pengungkapan kasus curanmor tersebut juga dikembalikan kepada pemiliknya.

Para tersangka dijerat dengan ketentuan pidana sesuai jenis kejahatan yang dilakukan, termasuk Pasal 476 juncto Pasal 481, Pasal 477 ayat (2), dan Pasal 479 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).

Pewarta: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Upacara HUT Ke-81 RI di Bontang Berlangsung Khidmat, Merah Putih Sukses Berkibar

0

Pembaca Setia Radar Bontang!

Ingin tahu kabar terkini Koran Digital Radar Bontang? Kunjungi link di bawah ini untuk membaca e-paper lengkapnya:

👉 E-Paper Lengkap
https://koran.radarbontang.com

👉 Versi Mobile
https://digital.radarbontang.com/rb18agt2026/mobile/

Kebakaran Lahan di Kilo 3 Berhasil Dipadamkan, Polres Bontang Bakal Usut Jika Terbukti Ada Kelalaian

0
Petugas damkar saat proses pemadaman. (Yusva Alam)

BONTANG – Kebakaran lahan yang terjadi di Jalan Arif Rahman Hakim, Kilometer 3, Kelurahan Belimbing atau tepatnya di seberang Perumahan Lembah Asri, Senin (17/8/2026) malam berhasil dipadamkan petugas pemadam kebakaran (damkar).

Kebakaran yang diketahui awal mula terjadi sekira pukul 18.00 wita ini, berhasil dipadamkan sekira pukul 20.15 wita.

Walaupun di awal mula pemadaman petugas damkar Bontang kesulitan memadamkan api, namun setelah dibantu Petugas Damkar PKT dan BPBD Bontang, api berhasil dipadamkan.

Salahsatu Petugas Damkar Bontang, M Irfan menjelaskan awalnya pihaknya kesulitan memadamkan api karena lokasi api yang jauh dan akses yang sulit digapai.

“Posisinya ketutupan rimbunan pohon dan jurang. Tapi setelah dibantu tim lain kami bisa padamkan apinya,” bebernya.

Hingga berita ini tayang, petugas damkar belum mengetahui pasti penyebab kebakaran lahan tersebut. Petugas hanya menduga ada warga yang lalai membakar lahan kemudian ditinggal, ditambah lagi cuaca panas yang memudahkan api cepat menyala.

Sementara itu, Ipda Arif Hidayat, Pamapta 1 Polres Bontang menyebut jika memang ada bukti-bukti kelaian manusia dari penyebab kebakaran ini, Polres Bontang akan melakukan pengusutan pelakunya.

“Karena sudah sering sekali terjadi hal seperti ini. Saya sering menemukan kasus yang sama ketika piket,” ujarnya.

Ia meminta masyarakat untuk berhati-hati saat membakar lahan ataupun sampah. Karena cuaca sekarang memudahkan api cepat membesar.

“Kalau membakar lahan atau sampah harus dijaga betul sampai dipastikan aman baru ditinggal,” sarannya.

Pewarta/Editor: Yusva Alam