Beranda blog Halaman 386

Taman Kopi Bintang Sejahtera Diresmikan, Lahan Kosong Disulap Jadi Kawasan Penghasil Sayur dan Ikan.

0
Peresmian Taman Kopi Bintang Sejahtera. (Ist)

BONTANG — Taman Kopi Bintang Sejahtera di Jalan Damai, Gang Arraudhoh RT 09, Kelurahan Kanaan, Jumat (19/12) diresmikan Pemkot Bontang.

Kegiatan tersebut diresmikan oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kota Bontang, Sony Suwito Adicahyono, mewakili Wali Kota Bontang.

Taman Kopi Bintang Sejahtera merupakan program binaan PT Kaltim Parna Industri (KPI) yang berkolaborasi dengan Puskesmas Bontang Barat dan Kelurahan Kanaan. Uniknya, istilah “Kopi” bukan merujuk pada tanaman kopi, melainkan akronim dari Kolaborasi Organik Pemberdayaan Inovatif.

Mewakili Wali Kota, Sony mengapresiasi inisiatif warga RT 09 Kanaan yang mampu menyulap lahan kosong menjadi kawasan produktif penghasil sayur dan ikan.

Program ini dinilai berperan penting dalam mendukung pemenuhan gizi balita, sekaligus meningkatkan ketahanan pangan keluarga.

“Taman Kopi Bintang Sejahtera membuktikan bahwa masyarakat adalah subjek utama pembangunan. Ini bukan sekadar taman, tetapi simbol kemandirian pangan dan kesehatan yang harus kita jaga,” ujar Sony.

Ia menjelaskan, inovasi ini merupakan pengembangan dari program Kolak Pisang (Kolaborasi Aksi Pergerakan Masyarakat Hidup Sehat) yang sebelumnya berhasil mengantarkan Puskesmas Bontang Barat meraih prestasi di tingkat Provinsi Kalimantan Timur.

Atas keberhasilan tersebut, Sony menginstruksikan para camat dan lurah untuk mereplikasi model pemberdayaan serupa di wilayah lain.

Hal senada disampaikan Camat Bontang Barat, Ida Idris, yang menilai program ini sangat relevan diterapkan di wilayah dengan keterbatasan lahan. Pemanfaatan pekarangan melalui media polybag dan sistem hidroponik dinilai tidak hanya menyehatkan lingkungan, tetapi juga memberikan nilai tambah ekonomi bagi keluarga.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Tes Urine Positif Narkoba: Dua TKD Dipecat, 2 P3K Paruh Waktu Terancam PHK

0
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni. (Syakurah)

BONTANG – Hasil tes urine mendadak di lingkungan Pemerintah Kota Bontang, berujung pada sanksi tegas terhadap empat pegawai non-ASN yang dinyatakan positif narkoba.

Dua Tenaga Kerja Daerah (TKD) langsung diberhentikan, sementara dua P3K paruh waktu terancam pemutusan hubungan kerja.

Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, memastikan keempat pegawai tersebut bukan berasal dari kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN). Mereka berasal dari P3K paruh waktu dan TKD dengan masa kerja di bawah dua tahun.

“Tidak ada ASN yang terlibat. Yang terkena sanksi adalah P3K paruh waktu dan TKD,” ujarnya.

Dua TKD yang bertugas di Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkartan) Kota Bontang, dipastikan langsung dipecat.

Sementara itu, dua pegawai P3K paruh waktu dari Dinas Perhubungan dan Disdamkartan masih menunggu hasil asesmen Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) sebelum sanksi akhir dijatuhkan.

Sebelumnya, BNNK Bontang melaksanakan tes urine mendadak yang digelar di Pendopo Rumah Jabatan Wali Kota Bontang pada Kamis (18/12/2025).

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Banjir Rob di Bontang Mulai Surut, BPBD Pastikan Situasi Aman dan Terkendali

0
Pemantauan BPBD Bontang. (ist)

BONTANG — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bontang memastikan kondisi banjir rob yang sempat melanda sejumlah wilayah pesisir pada Sabtu (20/12/2025), telah sepenuhnya surut dan tidak menimbulkan dampak serius bagi masyarakat.

Pemantauan dilakukan BPBD Bontang sejak Sabtu sore, bertepatan dengan jadwal pasang surut air laut. Adapun wilayah yang terdampak banjir rob meliputi Kelurahan Guntung, Kelurahan Gunung Elai, dan Kelurahan Bontang Kuala.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Bontang, Ismail mengatakan, berdasarkan laporan petugas di lapangan sekitar pukul 17.22 WITA, banjir rob terpantau berangsur surut. Meski masih ditemukan genangan air sisa di beberapa titik jalan, situasi secara umum dinyatakan aman dan terkendali.

“Tidak ada korban jiwa maupun laporan kerugian material akibat kejadian ini. Aktivitas masyarakat juga telah kembali berjalan normal,” ujarnya.

Selama kejadian, tim BPBD melakukan pemantauan langsung di titik-titik rawan, mendokumentasikan kondisi lapangan, serta melaporkan perkembangan secara real-time kepada Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) Kota Bontang.

BPBD Bontang mengimbau masyarakat pesisir untuk tetap waspada terhadap potensi banjir rob, khususnya pada jam-jam rawan pasang air laut. Monitoring rutin akan terus dilakukan sebagai langkah antisipasi jika terjadi kejadian serupa.

“Koordinasi lintas sektor juga terus diperkuat untuk memastikan kesiapsiagaan menghadapi potensi banjir rob yang berulang,” tutup BPBD.

Berdasarkan pantauan media, banjir rob di beberapa titik rawan seperti di belakang Bank Dhanarta tidak naik hingga ke jalanan, volume air sungai dan parit cenderung masih tinggal namun tidak membanjiri wilayah sekitar.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

PKS Kutim Gelar Rekerda, Lantik DPC di 18 Kecamatan

0
Ketua DPW PKS Kaltim, Ardiansyah Sulaiman saat menghadiri rakerda PKS Kutim. (Ramlah)

SANGATTA — Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kutai Timur (Kutim) menggelar Rapat Kerja Daerah (Rakerda) yang dirangkaikan dengan pelantikan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PKS di 18 kecamatan se-Kutai Timur. Kegiatan tersebut berlangsung di Hotel Royal Victoria, Sangatta, Minggu (21/12/2025).

Sekretaris DPD PKS Kutim, Akbar Tanjung, menyebut Rakerda menjadi momentum konsolidasi internal sekaligus penguatan komitmen kader dalam mengawal pembangunan daerah. Menurutnya, perjuangan politik membutuhkan fokus, kekompakan, serta kolaborasi dengan berbagai pihak.

“PKS memiliki 14 bidang dengan konsentrasi kerja masing-masing. Rakerda ini sekaligus pelantikan DPC di 18 kecamatan. Kami optimistis PKS dapat terus eksis di tengah masyarakat dan konsisten mengawal pembangunan dari berbagai aspek,” ujar Akbar.

Sementara itu, Ketua DPD PKS Kutim, Akhmad Wasrip, menegaskan Rakerda harus menjadi arah dan pedoman perjuangan partai, bukan sekadar agenda seremonial. Ia mengingatkan seluruh struktur agar program yang dirumuskan dapat dijalankan secara konsisten.

“Rakerda adalah kompas arah perjuangan. Kompas itu kini berada di tangan kepala-kepala bidang. Komitmen kita adalah mengawal pembangunan Kutai Timur serta menyukseskan program Bupati dan Wakil Bupati,” tegasnya.

Wasrip juga menekankan pentingnya kerja kolektif dalam tubuh partai. Menurutnya, PKS memiliki tiga modal utama, yakni kader yang militan dan istikamah, struktur partai yang solid hingga tingkat desa, serta kerja sama dan amal kolektif.

“Jangan sampai kita kuat di satu tempat, tetapi kosong di tempat lain. PKS harus bergerak secara kolektif,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua DPW PKS Kaltim, Ardiansyah Sulaiman, mengingatkan pentingnya komitmen bersama yang dibarengi kerja nyata. Ia menegaskan bahwa keberhasilan program tidak cukup hanya dengan wacana, melainkan harus diwujudkan melalui tindakan konkret.

“Tidak cukup hanya berbicara, tetapi harus dikerjakan bersama. Kekuatan komitmen harus diwujudkan dalam kerja nyata,” katanya.

Ardiansyah juga mendorong para kader untuk memperkuat energi spiritual melalui silaturahmi dan aktivitas keagamaan. Selain agenda organisasi, PKS Kutim turut menyerahkan donasi kemanusiaan sebesar Rp96 juta untuk korban banjir di Sumatera.

Adapun DPC PKS Kutim yang dilantik akan menjalankan masa bakti kepengurusan periode 2025–2030.

Penulis: Ramlah
Editor: Yusva Alam

KLH Pantau Langsung Pengelolaan Sampah Bontang, Capaian Tinggi tapi Tantangan Masih Nyata

0
Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni berdialog dengan perwakilan KLH/BPLH saat audiensi pengelolaan sampah di Rumah Jabatan Wali Kota. Foto: Prokompim Bontang

BONTANG — Upaya Pemkot Bontang membangun sistem pengelolaan sampah dan lingkungan yang berkelanjutan mendapat perhatian langsung dari pemerintah pusat. Hal ini ditandai dengan kunjungan kerja dan audiensi Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) ke Kota Bontang pada Minggu (21/12/2025).

Rombongan KLH/BPLH dipimpin Direktur Pengelolaan Limbah B3 dan Non B3, Amsor. Audiensi yang berlangsung di Rumah Jabatan Wali Kota Bontang tersebut menjadi bagian dari agenda monitoring dan evaluasi pengelolaan sampah serta program lingkungan hidup yang dijalankan pemerintah daerah, sekaligus forum dialog strategis antara pusat dan daerah.

Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, menerima langsung rombongan KLH/BPLH didampingi Penjabat Sekretaris Daerah Kota Bontang Akhmad Suharto, jajaran Sekretariat Daerah, Dinas Lingkungan Hidup, serta sejumlah organisasi perangkat daerah terkait. Dalam pertemuan tersebut, Wali Kota memaparkan kondisi aktual pengelolaan sampah Kota Bontang melalui presentasi kepada Tim ADIPURA KLH/BPLH.

Dalam paparannya, dijelaskan bahwa timbulan sampah Kota Bontang mencapai sekitar 120 ton per hari atau setara 39.216 ton per tahun. Sampah rumah tangga masih menjadi penyumbang terbesar dengan volume sekitar 82,20 ton per hari, disusul sampah dari fasilitas dan pabrik sebesar 3,03 ton per hari, serta sumber tradisional lainnya.

Dari sisi komposisi, sampah plastik mendominasi dengan porsi sekitar 40 persen. Sampah organik berada di kisaran 30 persen, sementara kertas dan kardus mencapai 15 persen. Pemerintah Kota Bontang sendiri telah memanfaatkan mesin pengolahan sampah sejak 2008, namun sebagian besar peralatan tersebut kini berusia lebih dari 17 tahun dan membutuhkan pembaruan teknologi.

Pengelolaan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) juga menjadi sorotan dalam audiensi tersebut. Zona Redfield TPA dengan luas sekitar 2,5 hektare saat ini baru mampu mengolah sekitar 30 persen dari total kapasitas. Sejak 2009, total sampah yang berhasil diolah tercatat mencapai 410.229 ton, dengan dukungan tenaga kerja sekitar 20–22 orang, termasuk Petugas Pemilah Awal.

Menariknya, aktivitas pemilahan sampah plastik oleh warga di sekitar TPA turut memberikan dampak ekonomi. Masyarakat setempat mampu memperoleh tambahan penghasilan hingga Rp2 juta per bulan dari kegiatan tersebut, sekaligus berkontribusi mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA.

Secara umum, Pemkot Bontang mencatat capaian pengelolaan sampah yang relatif tinggi. Sekitar 99 persen sampah telah terkelola, sementara sampah tidak terkelola berada di kisaran 0,29 persen. Keberadaan TPS 3R, TPS 3D, rumah kompos, dan bank sampah menjadi tulang punggung dalam mendorong pengurangan sampah dari sumbernya.

Dari aspek pendanaan, dukungan Corporate Social Responsibility perusahaan mencapai sekitar Rp4 miliar. Namun kontribusi tersebut baru sekitar 4,6 persen dari kebutuhan ideal. Pemkot Bontang juga tengah menjajaki kerja sama internasional, antara lain dengan Pemerintah Provinsi Jeju dan KOICA Korea Selatan, serta mengoptimalkan nilai ekonomi sampah yang berkisar Rp100–200 ribu per transaksi.

Berbagai inovasi berbasis partisipasi masyarakat terus dikembangkan. Saat ini tercatat 321 bank sampah aktif dengan jumlah nasabah sekitar 1.824 orang, termasuk bank sampah di wilayah pesisir. Program JELITA (Jemput, Beli, dan Timbang Sampah Organik dan Anorganik) menjadi salah satu penggerak utama keterlibatan warga, diperkuat dengan Program GESIT (Gerakan Sampahku Itu Tanggung Jawabku) sesuai Instruksi Wali Kota Nomor 600.4.15.1/1355/DLH/2025, serta didukung program Jumat Bersih.

Wali Kota Bontang menegaskan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah tidak bisa dicapai secara parsial. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha menjadi kunci agar Bontang benar-benar bergerak menuju kota yang bersih dan berkelanjutan.

Rangkaian kunjungan kerja KLH/BPLH berlanjut pada 22 Desember 2025 dengan peninjauan langsung ke sejumlah fasilitas strategis, mulai dari TPA Bontang Lestari, TPST Bessai Berinta, bank sampah, rumah kompos, ruang terbuka hijau, hingga kelurahan berpredikat Bersih dan Hijau Tahun 2025. Kunjungan ini diharapkan memperkuat sinergi pusat dan daerah dalam membangun pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan di Kota Bontang. (MK)

Editor: Agus S

Km 15 Poros Bontang–Samarinda Kian Rusak, Mana Janji Kampanye?

0
Kondisi Km 15 Poros Bontang–Samarinda makin memprihatinkan. Jalan rusak parah memaksa kendaraan bergantian melintas, bahkan dimanfaatkan anak-anak untuk mengatur lalu lintas, Minggu (21/12). Foto: istimewa

TULISAN tentang Jalan Poros Samarinda–Bontang ini bukan catatan baru. Saya pernah menuliskannya Agustus lalu. Dari pengalaman bertahun-tahun melintasi jalur ini sejak 2010.

Saat itu, saya sudah mencatat kerusakan yang terus berulang, titik-titik rawan kecelakaan, serta perbaikan yang hampir selalu sifatnya sementara.

Hari ini saya menuliskannya lagi. Sebab, kondisinya ternyata tidak membaik, justru makin parah. Terutama di Km 15 dari arah Bontang menuju Samarinda.

Hampir tiap pekan saya melintasi ruas ini. Antrean kendaraan hampir selalu terjadi di titik ini. Truk-truk besar kerap berhenti saling berhadapan, sedangkan para sopir menunggu celah aman untuk bergerak satu per satu.

Siang ini (21/12), gambaran yang sama kembali saya lihat lewat kiriman video dari ketua BKL Perum BSD Bontang, Supriyadi, yang baru saja melintas. Antrean memanjang, jalan berlumpur, dan kendaraan harus bergantian melaju dengan jarak sangat sempit.

Yang lebih memprihatinkan, kondisi ini bahkan dimanfaatkan anak-anak turun ke titik jalan rusak itu. Seolah mengatur lalu lintas, dengan harapan mendapat uang dari pengendara.

Apa yang saya tulis berbulan-bulan lalu kini terbukti. Tingkat kerusakannya semakin berat.

Harapan warga tentu ingin jalan ini segera ditangani serius oleh Pemprov Kaltim. Namun yang tampak justru sebaliknya.

Tambal sulam memang ada, tetapi sering kali bukan di bagian paling rusak. Lubang-lubang besar di Km 15 masih dibiarkan, dan kondisinya makin parah ketika hujan turun. Praktis, jalan ini berubah menjadi jalur berisiko tinggi. Bukan hanya karena macet, tetapi juga karena rawan kecelakaan.

Ruas ini sudah lama mencatat korban. Pengendara motor terperosok lubang, kendaraan bertabrakan karena saling menghindar, hingga truk besar kehilangan kendali di permukaan jalan yang licin. Ini sudah menyangkut keselamatan.

Saya masih ingat janji kampanye Rudy Mas’ud yang menyebut jalan trans provinsi Samarinda–Bontang perlu ditingkatkan kualitasnya. Bahkan diwacanakan menjadi dua jalur demi keamanan, mengingat padatnya lalu lintas truk besar.

“Kalau tidak ada halangan, kami akan buatkan dua jalur dari Samarinda ke Bontang agar aksesnya lebih gampang dan lebih aman, karena jalur ini kerap dilalui truk-truk besar,” janji Rudy Mas’ud saat itu. Janji itu dicatat publik, termasuk warga yang setiap hari bergantung pada jalur ini.

Kini waktu berjalan. Tidak perlu dua jalur dulu. Mulus saja sudah cukup. Jalan ini menghubungkan Berau, Sangatta, Bontang, Samarinda, hingga Balikpapan dan Kutai Kartanegara. Sebab jalan ini sangat vital sebagai lalu lintas ekonomi, logistik, pendidikan, dan aktivitas harian ribuan warga.

Tulisan ini bukan untuk menyalahkan, tetapi mengingatkan. Bahwa persoalan ini sudah lama, sudah sering disuarakan, dan masih dibiarkan berulang.

Pemprov memiliki peran koordinatif, balai jalan memegang mandat teknis. Bukankah para pejabat provinsi juga kerap melintas di jalur ini? Apalagi pejabat Pemkot Bontang dan Pemkab Kutai Timur.

Yang dibutuhkan adalah perbaikan menyeluruh di titik-titik kritis. Pembenahan struktur dasar jalan, drainase yang benar-benar berfungsi, serta pengaturan lalu lintas selama pekerjaan berlangsung—bukan perbaikan sementara.

Setiap kali hujan turun, antrean itu kembali terlihat. Kendaraan merayap. Orang-orang melintas dengan sangat hati-hati. Km 15 sudah memberi sinyal keras. Tinggal apakah kita memilih mendengar dan bertindak sekarang, atau kembali menunggu sampai kerusakan ini memakan korban berikutnya. Jangan lagi berlindung di balik alasan akhir tahun, anggaran habis, dan menunggu tahun depan. (*)

Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.

MB PKT Road to TWMC 2025 (5-selesai): Berakhir Manis dengan Raihan 3 Tropi

0
Penampilan MB PKT di partai final pada kategori Marching Field Show dan Indoor Marching Arts – Winds. (Ist)

SISAKET, THAILAND – Perjalanan panjang Marching Band Pupuk Kaltim (MB PKT) mengikuti Event Thailand World Music Championship (TWMC) 2025 berakhir manis. 3 tropi selama perhelatan event di Kota Sisaket sejak 17-20 Desember 2025 itu berhasil direngkuh.

Di awal pertandingan, MB PKT langsung menyabet tropi Drumline Battle Professional Class Champion untuk pertandingan kategori drum battle. Kemudian menyusul tropi juara 1 untuk kategori Indoor Marching Arts – Winds.

Terakhir, MB PKT meraih The Gold Level di kategori Marching Field Show, sekaligus menasbihkan diri masuk pada jajaran band kelas dunia.

Marching Field Show merupakan kategori yang paling penuh tantangan dan bergengsi, penampilan dilakukan di lapangan dengan waktu penampilan maksimal 12 Menit.

MBPKT pada pertandingan Open Field berada di posisi 2nd place, namun memperoleh kategori penilaian Gold dan telah diakui sebagai World Class band, yang dimana tidak semua band dapat melampauinya.

“MBPKT mencapai The Gold Level, dengan nilai 89 dan naik ke kategori World Class.
Penampilan malam tersebut sangat prima dan anak-anak mencurahkan penampilan mereka yang telah dipersiapkan hampir 1 tahun untuk bersaing di Thailand,” ungkap Ketua Umum MB PKT, Dwi Agung Wibowo dengan rasa bangga.

Dijelaskan Agung, bertanding di kategori
Marching Field Show ini, anak-anak asuhnya menampilkan tema “ONE STEP” yang bercerita tentang langkah ke depan, agar MBPKT terus menapaki masa depan dan terus menjaga nama legendaris MBPKT.

“Anak-anak sudah memberikan upaya sangat maksimal, dan kami selaku pengurus sangat bangga dan bersyukur team dapat membawa 3 piala. Terima kasih dukungan masyarakat seluruh Indonesia, khususnya warga kota Bontang atas dukungan penuh, doa, dan semangat yang menyertai team dari awal hingga titik ini,” paparnya.

Usai menjalani partai final yang berakhir malam hari pada 20 Desember 2025 kemarin, seluruh personel MB PKT mengemasi barang hingga pukul 03.00 dini hari. Langsung berangkat menuju Kota Bangkok yang diperkirakan memakan waktu 10 jam.

MB PKT Road to TWMC 2025 (5-selesai): Berakhir Manis dengan Raihan 3 Tropi

Diperkirakan tiba di Bangkok, Minggu (21/12/2025) sore, lalu tim beristirahat untuk terbang ke Jakarta Senin keesokan harinya. Diperkirakan tiba di Jakarta tanggal 23 Desember dan kembali terbang ke Samarinda.

“Jadi perjuangan yang melelahkan dan perjalanan sangat panjang buat anak-anak. Syukur, semua kelelahan ini terbayarkan dengan sangat memuaskan,” pungkasnya.

MB PKT menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia di ajang TWMC 2025. Dengan kekuatan 135 personel secara keseluruhan, yang terdiri dari pemain, pelatih, serta official.

MB PKT tampil di dalam tiga kategori, meliputi Drumline Battle (Professional), Indoor Marching Arts – Winds (Independent), serta Marching Field Show (World Class).

Penulis/Editor: Yusva Alam

Neni Imbau Masyarakat Jaga Kelestarian Laut

0
Pembukaan Pesta Laut 2025. (Ist)

BONTANG – Wali Kota Neni mengimbau masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan laut. Hal itu diungkapkan saat membuka Pesta Laut 2025 yang digelar di Pelataran Bontang Kuala beberapa waktu lalu.

“Jangan membuang sampah sembarangan, apalagi ke laut. Jangan sampai suatu saat nanti jumlah sampah lebih banyak daripada ikan di laut kita,” tegasnya.

Bunda Neni juga mengingatkan para nelayan agar menangkap ikan dengan cara yang ramah lingkungan dan tidak menggunakan bahan peledak.

“Jika terumbu karang rusak, maka biota laut lainnya juga akan rusak. Ini akan merugikan kita semua,” tambahnya.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Wali Kota Minta Semua Pihak Bersama Majukan Pariwisata Bontang

0
Pembukaan Pesta Laut 2025. (Ist)

BONTANG – Wali Kota Neni Moerniaeni mengajak seluruh pihak bersama-sama memajukan pariwisata Kota Bontang, khususnya kawasan Bontang Kuala yang memiliki kekayaan budaya dan tradisi pesisir. Hal itu diungkapkan saat membuka Pesta Laut 2025 yang digelar di Pelataran Bontang Kuala beberapa waktu lalu.

Ia menegaskan bahwa Pesta Laut merupakan tradisi yang telah ada jauh sebelum Kota Bontang berdiri.

“Pesta laut ini sudah dilaksanakan untuk ke-29 kalinya, sementara usia Kota Bontang masih 26 tahun. Artinya, tradisi ini lebih tua dari usia kota kita. Ini adalah warisan budaya yang diinisiasi oleh para pemangku adat dan masyarakat pesisir Bontang Kuala,” ujar Neni.

Menurutnya, Pemerintah Kota Bontang berkomitmen untuk terus melestarikan budaya sebagai akar identitas bangsa.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Pelataran Beka Tahap II Diresmikan, Tandai Komitmen Pemkot Menata Kawasan Pesisir

0
Pelataran Bontang Kuala tahap II. (Ist)

BONTANG – Wali Kota Neni Moerniaeni menyampaikan bahwa pembangunan Pelataran Bontang Kuala merupakan bagian dari komitmen Pemkot Bontang, dalam menata kawasan pesisir agar lebih representatif sebagai pusat kegiatan budaya, sosial, dan pariwisata.

Hal itu disampaikan saat meresmikan Pelataran Bontang Kuala tahap II, Rabu (17/12).

“Pelataran ini tidak hanya menjadi ruang publik, tetapi juga etalase budaya masyarakat pesisir Bontang Kuala. Kami ingin kawasan ini menjadi tempat berkumpul, beraktivitas, sekaligus destinasi wisata yang membanggakan,” ujar Neni.

Ia menambahkan, sinergi antara pelestarian adat dan pembangunan infrastruktur menjadi kunci dalam menjaga identitas daerah di tengah laju pembangunan. Pemerintah Kota Bontang, lanjutnya, akan terus mendukung peran lembaga adat sebagai mitra strategis dalam pembangunan yang berlandaskan nilai-nilai budaya lokal.

Momentum ini sekaligus menegaskan komitmen Pemerintah Kota Bontang, dalam memperkuat adat istiadat serta mendorong pengembangan kawasan pesisir sebagai salah satu ikon wisata budaya Kota Bontang.

Peresmian ditandai dengan pemotongan pita oleh Sultan Kutai Ing Martadipura ke 21, Sultan Aji Muhammad Arifin dan penandatanganan prasasti oleh Wali Kota dan Wakil Wali Kota, disaksikan tamu kehormatan, jajaran Forkopimda, tokoh adat, serta masyarakat adat Bontang Kuala.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam