Beranda blog Halaman 40

Satpol PP Gerebek Dua Pasangan Bukan Suami Istri di Penginapan, Satu Pasang Berasal Dari Kutim

0
Ilustrasi. (AI).

BONTANG – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Bontang mendapati pasangan bukan suami istri sah di salah satu penginapan di wilayah Kecamatan Bontang Barat, Rabu (4/3/2025) malam.

Dalam razia tersebut, petugas mendapati dua pasangan bukan suami istri yang sedang berada di kamar hotel. Satu pasangan diketahui merupakan warga Bontang, sementara pasangan lainnya berasal dari Kabupaten Kutai Timur (Kutim), lebih tepatnya Sangatta, yang ditemukan di hotel yang berbeda.

Kepala Seksi Bina Pengawasan dan Penyuluhan (Binwaslu) Satpol PP Bontang, Irwan Febrayana mengatakan bahwa kedua pasangan tersebut langsung diamankan ke Kantor Satpol PP Kota Bontang, untuk didata dan menjalani pemeriksaan lebih lanjut, termasuk dengan menjalani tes urine bagi yang terjaring razia.

“Keduanya bukan pasangan suami istri sah. Saat ini sedang dilakukan asesmen, termasuk tes narkoba oleh BNNK Bontang,” ucapnya, Kamis (5/3/2026).

Terlebih lagi, kegiatan razia yang turut melibatkan instansi lain seperti BNNK Bontang, TNI, Pengadilan Negeri Bontang, Dinas Perhubungan (Dishub), Kementerian Agama (Kemenag), Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat (FKPM) Bontang Barat, pihak kecamatan, serta Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMTSP) Kota Bontang.

“Jadi sangat diharapkan mampu menghadirkan pengawasan yang lebih menyeluruh, mulai dari aspek perizinan usaha, ketertiban administrasi, hingga pembinaan moral masyarakat,” paparnya.

Tak hanya itu, petugas juga memastikan patroli dan operasi serupa akan terus dilakukan hingga akhir Ramadan. Sasaran razia meliputi hotel, penginapan, tempat hiburan malam, serta sejumlah titik yang dinilai rawan pelanggaran.

“Pemeriksaan identitas dilakukan secara selektif dan profesional, tanpa mengganggu tamu hotel lain yang tidak terkait,” tutupnya.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Pengawasan Penginapan Diperketat Selama Ramadan, Dua Pasangan Bukan Suami Istri Terjaring Razia

0
Ilustrasi. (AI).

BONTANG – Petugas Satpol PP berhasil menjaring dua pasangan yang bukan suami istri, di dua hotel yang berbeda, saat razia Rabu (4/3/2026) malam tadi.

Kepala Seksi Bina Pengawasan dan Penyuluhan (Binwaslu) Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Bontang, Irwan Febrayana mengatakan bahwa dalam razia yang digelar oleh tim gabungan, langkah ini dilakukan guna menjaga ketertiban umum, dan memastikan suasana kota tetap kondusif saat masyarakat menjalankan ibadah puasa.

Dalam patroli tersebut, petugas Satpol PP Bontang turut melibatkan Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK), untuk memastikan tidak ada aktivitas lain yang melanggar hukum, termasuk penyalahgunaan narkotika.

“Sudah dilakukan tes urine kepada pasangan yang terjaring dan yang bersangkutan menunjukkan hasilnya negatif. Di salah satu hotel juga ada pengunjung yang langsung dites urine, dan hasilnya sama,” jelasnya saat dihubungi, Kamis (5/3/2026).

Razia ini dilaksanakan sesuai surat edaran wali kota, terkait pembatasan aktivitas Tempat Hiburan Malam (THM), penginapan, serta tempat biliar selama bulan Ramadan berlangsung. Tujuannya untuk menjaga ketertiban masyarakat yang sedang menjalankan ibadah puasa.

Selain itu, Irwan menambahkan bahwa razia yang dilakukan tidak hanya bersifat penindakan saja, akan tetapi juga sebagai upaya edukasi sekaligus memberikan efek jera kepada masyarakat agar tidak mengulangi lagi perbuatannya.

“Pasangan yang terjaring langsung diberikan pembinaan oleh petugas, agar tidak mengulanginya lagi,” tutupnya.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Hujan Deras Picu Longsor di Kanaan, Dua Rumah Warga Terdampak

0
Lokasi tanah longsor di wilayah pemukiman warga, di Kanaan. (Ist).

BONTANG – Hujan deras dengan intensitas tinggi mengguyur Bontang, memicu terjadinya tanah longsor di Jalan Pendidikan, RT.03, Kelurahan Kanaan, Kecamatan Bontang Barat, Rabu (4/3/2026) malam kemarin, sekitar pukul 23.00 Wita.

Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bontang, Ismail mengatakan bahwa saat tanah longsor terjadi, telah menyebabkan dua unit rumah warga terdampak. Berdasarkan hasil laporan, terdapat dua Kepala Keluarga (KK) dengan 13 jiwa yang tinggal di rumah terkena dampak dari longsoran tanah.

Dari data yang dihimpun, rumah pertama milik Ibu Sarlota Lumba (60), dimana dirinya tinggal bersama delapan anggota keluarganya, terdiri dari lima anak serta tiga cucu.

Sementara rumah kedua yang ikut terdampak, ialah rumah milik Bapak Marten (65), yang tinggal bersama istrinya beserta dengan kedua cucunya.

“Longsor terjadi diduga akibat curah hujan yang tinggi dan berlangsung cukup lama, sehingga menyebabkan tanah di sekitar pemukiman menjadi tidak stabil. Sehingga kondisi tersebut membuat material tanah bergerak dan mengenai rumah warga di sekitar lokasi,” jelasnya saat dikonfirmasi.

Kini tim gabungan yang terdiri dari BPBD Bontang bersama masyarakat setempat, telah melakukan pemantauan langsung ke lokasi kejadian untuk memastikan kondisi rumah yang terdampak, dimana dapat berpotensi bahaya lanjutan.

“Dari hasil pemantauan sementara, longsor masih berpotensi meluas dan mengancam rumah warga lainnya di sekitar area tersebut,” tambahnya.

Sebagai langkah penanganan, BPBD Bontang telah berkoordinasi dengan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman untuk penanganan lebih lanjut. Selain itu, pemantauan kondisi cuaca juga terus dilakukan dengan mengacu pada informasi dari BMKG.

“Dengan itu kami turut mengimbau masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi untuk tetap waspada, terutama saat hujan deras, serta menghindari area yang berpotensi mengalami longsor,” tutupnya.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Hilang Dua Hari, Perempuan Asal Pinrang Ditemukan Mengapung di Laut Paser

0
Proses evakuasi korban tenggelam yang ditemukan mengapung di perairan Adang Bay, Kabupaten Paser. Foto: Istimewa

PASER — Upaya pencarian terhadap seorang perempuan yang dilaporkan tenggelam di Muara Sungai Telake, Desa Maruat, Kecamatan Long Kali, akhirnya berakhir duka. Setelah dua hari pencarian oleh tim gabungan, korban bernama Puji (50) ditemukan dalam kondisi meninggal dunia mengapung di perairan Adang Bay, Rabu (4/3/2026).

Korban yang merupakan warga Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, ditemukan oleh petugas UPP Kelas II Tana Paser di titik koordinat 01°44’152” S – 116°37’426” E, atau sekitar 10,18 mil laut dari lokasi awal korban dilaporkan tenggelam di Muara Sungai Telake.

Kepala Polres Paser AKBP Novy Andi Wibowo melalui Kasat Polairud Polres Paser Andi Ferial menjelaskan bahwa informasi awal mengenai penemuan korban diterima dari kru kapal FC Mitra Pacific yang melintas di kawasan perairan tersebut.

“Selesai menerima laporan, tim gabungan bergerak menuju lokasi dan pada pukul 13.25 Wita jenazah berhasil ditemukan dan dievakuasi. Proses evakuasi selesai pukul 14.40 Wita dan jenazah diserahkan kepada pihak keluarga,” katanya, Rabu (4/3/2026).

Proses evakuasi dilakukan oleh tim SAR gabungan yang terdiri dari Satpolairud Polres Paser, TNI AL, UPP Kelas II Tana Paser, Polsek Long Kali, Basarnas, BPBD, Damkar, tim PT Kideco Jaya Agung, PT Contrans Asia, serta masyarakat sekitar.

Sebelumnya korban dilaporkan tenggelam pada Senin (2/3/2026) sekitar pukul 20.00 Wita. Saat itu Puji bersama Kasirli Tiro (18) berangkat dari pondok tambak di muara Sungai Telake menuju pemukiman Desa Maruat untuk membeli kebutuhan sehari-hari.

Namun ketika dalam perjalanan kembali menuju pondok tambak, mesin perahu yang mereka gunakan mendadak mati. Di saat bersamaan, ombak besar menghantam perahu hingga terbalik dan tenggelam.

Kasirli Tiro sempat berupaya menolong Puji. Namun karena kondisi ombak yang kuat serta keterbatasan tenaga, korban akhirnya tenggelam.

Kasirli kemudian berusaha menyelamatkan diri dengan berenang menuju daratan. Setelah berhasil mencapai darat, ia segera melaporkan kejadian tersebut kepada keluarga serta warga sekitar. Informasi itu kemudian ditindaklanjuti dengan operasi pencarian oleh tim SAR gabungan di perairan sekitar Muara Telake.

Setelah jenazah korban ditemukan dan dievakuasi, pihak keluarga menyatakan menerima peristiwa tersebut sebagai musibah.

“Pihak keluarga menerima kejadian ini sebagai musibah dan menyatakan tidak melanjutkan proses hukum serta menolak dilakukan pemeriksaan medis,” tutupnya.

Pewarta: Nash
Editor: Agus S

Pemerintah Dorong Koperasi Pesantren Perkuat Sektor Riil

0
Menteri Koperasi Ferry Juliantono (berpeci hitam) saat menghadiri Nusantara Sharia Economic Forum di Jakarta. Foto: Fajri/MKN

JAKARTA — Pemerintah menilai koperasi yang berkembang di lingkungan pondok pesantren memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak sektor riil dalam ekosistem ekonomi syariah nasional.

Hal tersebut disampaikan Menteri Koperasi Ferry Juliantono saat menghadiri Nusantara Sharia Economic Forum yang berlangsung di Jakarta, Rabu (4/3/2026).

Menurut Ferry, perkembangan ekonomi syariah Indonesia selama dua dekade terakhir lebih banyak ditopang oleh sektor industri halal dan jasa keuangan syariah. Ke depan, pemerintah ingin memperkuat sektor riil yang berkaitan langsung dengan kegiatan produksi dan distribusi barang.

“Perkembangan koperasi pondok pesantren sangat besar dan bisa menjadi prototipe pengembangan sektor riil ekonomi syariah,” ujar Ferry.

Ia menilai sejumlah koperasi pesantren telah menunjukkan perkembangan signifikan dengan mengelola berbagai unit usaha yang bahkan telah berkembang hingga skala industri.

Beberapa koperasi pesantren diketahui telah mengelola jaringan ritel, fasilitas produksi, hingga pusat distribusi yang melayani kebutuhan masyarakat luas.

Ferry mencontohkan koperasi pesantren di Lamongan yang telah memiliki fasilitas produksi dan kawasan industri. Di Jawa Timur, jaringan ritel Basmala yang dikelola pesantren juga terus berkembang pesat.

Sementara itu, koperasi pesantren Nurul Jadid di Probolinggo telah mengoperasikan pusat distribusi besar yang memasok kebutuhan berbagai jaringan usaha.

Di Jawa Barat, koperasi pesantren Al-Ittifaq bahkan berhasil menembus pasar modern melalui produk hortikultura seperti sayuran dan buah-buahan.

Menurut Ferry, pemerintah berencana mengintegrasikan pengembangan koperasi pesantren dengan program Koperasi Desa Merah Putih.

Dalam skema tersebut, koperasi desa akan berfungsi sebagai jaringan ritel di tingkat lokal, sedangkan koperasi pesantren berperan sebagai pusat produksi maupun distribusi barang.

Ia juga menekankan pentingnya pengaturan sektor ritel agar tidak sepenuhnya didominasi oleh jaringan ritel modern, terutama di wilayah pedesaan.

Dengan memperkuat koperasi desa dan pesantren, keuntungan ekonomi diharapkan dapat kembali kepada masyarakat setempat.

Selain memperluas distribusi produk, Kementerian Koperasi juga mendorong lahirnya lebih banyak produk UMKM halal, mulai dari makanan hingga kebutuhan rumah tangga.

Dukungan pembiayaan akan disalurkan melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) serta lembaga keuangan berbasis syariah.

“Yang kurang sekarang bukan nasabah bank syariah, tetapi debiturnya. Kita perlu lebih banyak pelaku usaha yang memproduksi barang,” katanya.

Ferry menilai peningkatan kapasitas produksi dari koperasi pesantren berpotensi membuka peluang pasar yang lebih luas, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan domestik tetapi juga menembus pasar internasional.

Pasar Timur Tengah disebut sebagai salah satu tujuan ekspor yang memiliki peluang besar bagi produk-produk halal dari Indonesia.

Dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia dinilai memiliki peluang besar membangun ekosistem ekonomi syariah yang terintegrasi. Dalam konteks tersebut, koperasi pesantren dipandang dapat menjadi fondasi pengembangan sektor riil ekonomi syariah sekaligus mendorong pemerataan kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang.(MK)

Pewarta: Fajri
Editor: Agus S

Sikap Baru PKB Kaltim, Fahmi Fadli Mulai Diperhitungkan

0
Bupati Paser Fahmi Fadli. Foto: Istimewa

PASER — Pernyataan sikap politik Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kalimantan Timur yang memastikan tidak akan lagi mengusung pasangan Rudy Mas’ud–Seno Aji pada periode mendatang memunculkan berbagai spekulasi politik di daerah.

Sikap tersebut disampaikan langsung oleh Ketua DPW PKB Kaltim, Syafruddin, saat menghadiri silaturahmi yang dirangkai dengan buka puasa bersama insan pers di Samarinda, Senin (2/3/2026).

Meski pada Pilkada 2024 PKB menjadi salah satu partai pengusung pasangan Rudy Mas’ud–Seno Aji, kini partai tersebut memastikan akan menempuh arah politik berbeda untuk kontestasi ke depan.

“Intinya ke depan, PKB tidak akan dukung Rudy–Seno lagi karena kami memiliki kader sendiri,” tegas Syafruddin.

Anggota DPR RI Komisi XII itu menegaskan bahwa keputusan tersebut merupakan bagian dari langkah konsolidasi partai menjelang Pilkada dan Pemilu 2029.

Meski belum mengungkapkan secara terbuka siapa kader yang akan diusung, Syafruddin memberi gambaran bahwa PKB tengah menyiapkan figur internal yang dinilai memiliki kapasitas untuk maju dalam kontestasi politik mendatang.

Pernyataan tersebut memunculkan berbagai spekulasi mengenai sosok yang dimaksud. Salah satu nama yang cukup menonjol adalah Fahmi Fadli, yang saat ini menjabat sebagai Bupati Paser.

Fahmi Fadli diketahui merupakan kader PKB sekaligus menjabat sebagai Ketua DPC PKB Paser. Ia juga menjadi satu-satunya kader PKB di Kalimantan Timur yang saat ini menduduki jabatan eksekutif sebagai kepala daerah.

Selain itu, nama Fahmi Fadli beberapa kali disebut oleh Syafruddin dalam berbagai kesempatan sebagai figur yang dinilai memiliki peluang untuk maju pada kontestasi politik 2029 mendatang.

Sekretaris DPC PKB Paser, Zulfikar Yusliskatin, saat dikonfirmasi menilai keputusan PKB untuk mengusung kader sendiri justru akan memperkaya dinamika demokrasi di Kalimantan Timur.

“Saya pikir ini hal yang baik agar masyarakat Kaltim memiliki banyak pilihan-pilihan dalam menentukan pemimpin ke depan. Semakin banyak pilihan semakin seru dan meriah pesta demokrasi kita,” ujarnya, Rabu (4/3/2026).

Meski demikian, ia mengaku belum dapat memastikan siapa kader yang akan diusung secara resmi oleh PKB.

Namun ia tidak menampik kemungkinan bahwa Fahmi Fadli, yang saat ini menjabat dua periode sebagai kepala daerah di Kabupaten Paser, dapat menjadi salah satu kandidat yang dipertimbangkan untuk maju pada Pemilihan Gubernur Kalimantan Timur 2029.

Menurut Zulfikar, jika Fahmi Fadli benar-benar diusung, Kalimantan Timur berpotensi menghadirkan model kepemimpinan yang berbeda.

“Kalau memang benar Fahmi Fadli yang dimaksud, maka kita punya model calon pemimpin yang tidak suka flexing atau pencitraan. Dia tidak terlalu banyak bicara tapi lebih bekerja. Beliau berpengalaman di politik dan berlatar belakang dokter,” pungkasnya.(MK)

Pewarta: TB Sihombing
Editor: Agus S

Program SAPA Hadir di Samarinda, Relawan Dampingi Siswa

0
Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama Program SAPA antara Disdikbud Kota Samarinda dan DPC IPPRISIA Samarinda di Kantor Disdikbud Samarinda. Foto: Istimewa

SAMARINDA — Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Samarinda menjalin kerja sama dengan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Ikatan Penata Persona Indonesia (IPPRISIA) Kota Samarinda dalam pelaksanaan Program SAPA (Sahabat Aksi Peduli Anak).

Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang berlangsung di Kantor Disdikbud Kota Samarinda, Jalan Biola. Kegiatan ini turut disaksikan oleh perwakilan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) IPPRISIA Kalimantan Timur sebagai bentuk dukungan terhadap implementasi program pendampingan pendidikan berbasis partisipasi masyarakat.

Kepala Disdikbud Kota Samarinda Asli Nuryadin mengatakan kolaborasi tersebut menjadi langkah strategis untuk memperkuat ekosistem pendidikan dengan melibatkan masyarakat serta organisasi profesi.

“Pendidikan tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah dan pemerintah. Perlu kolaborasi dengan masyarakat dan organisasi profesi. Program SAPA diharapkan dapat membantu meningkatkan motivasi belajar serta memperkuat karakter peserta didik,” ujarnya.

Program SAPA merupakan inisiatif pendampingan pendidikan yang menghadirkan relawan profesional sebagai sahabat pendamping anak di satuan pendidikan. Program ini bertujuan mendukung proses pembelajaran agar lebih inklusif, humanis, dan inspiratif.

Ketua DPC IPPRISIA Kota Samarinda drg. Deasy Evriyani menegaskan bahwa relawan SAPA tidak menggantikan peran guru di sekolah.

“Relawan hadir untuk mendukung sekolah dalam menciptakan lingkungan belajar yang lebih suportif. Fokusnya pada penguatan karakter, peningkatan motivasi belajar, serta pengembangan potensi peserta didik,” katanya.

Dalam implementasinya, relawan SAPA akan terlibat dalam berbagai kegiatan pendidikan, mulai dari pendampingan pembelajaran di kelas, bimbingan belajar kelompok kecil, penguatan literasi dan numerasi, hingga pengembangan karakter dan keterampilan hidup siswa.

Sementara itu, Ketua DPD IPPRISIA Kalimantan Timur Marliana Wahyuningrum mengapresiasi terjalinnya sinergi antara organisasi profesi dengan pemerintah daerah dalam mendukung pembangunan sektor pendidikan.

Menurutnya, kolaborasi lintas sektor seperti ini menjadi kunci menghadirkan inovasi pendidikan yang berkelanjutan.

“Program SAPA menunjukkan bahwa keterlibatan organisasi profesi dapat menjadi penguat dalam mendukung pendidikan anak,” ujarnya.

Dengan ditandatanganinya PKS tersebut, Program SAPA direncanakan segera diimplementasikan di sejumlah sekolah di Kota Samarinda. Kolaborasi ini diharapkan mampu memberikan pendampingan belajar yang lebih personal sekaligus membangun karakter positif bagi para peserta didik.(MK)

Pewarta: RSF
Editor: Agus S

Langka, Orang Utan Kembar Ditemukan di Kutai Timur

0
Proses evakuasi orang utan betina bernama Jane bersama dua bayi kembarnya di wilayah Perdau, Kutai Timur. Foto: Dok. BKSDA

NUSANTARA — Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur bersama Conservation Action Network (CAN) Borneo mengevakuasi seekor orang utan betina dewasa bersama dua bayi kembarnya di wilayah Perdau, Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur.

Induk orang utan tersebut diberi nama Jane, sementara dua bayi kembarnya dinamai Andrianto dan Parlin.

Kepala BKSDA Kaltim Ari Wibawanto, yang turut terlibat dalam proses evakuasi, menjelaskan bahwa langkah penyelamatan dilakukan setelah tim melihat kondisi habitat hutan di lokasi penemuan yang sudah terfragmentasi dan tidak lagi mendukung kehidupan satwa tersebut.

“Prosesnya dilakukan secara ketat dan terukur. Kemudian kita lakukan pemeriksaan kesehatan dan hasilnya sangat baik. Sehingga tiga jam setelah pemeriksaan kami langsung melakukan pelepasliaran kembali di lokasi yang menurut kita aman yang sudah kami lakukan kajian terkait kelayakan lokasi,” ujar Ari dalam keterangan yang diterima redaksi, Rabu (4/3/2026).

Lokasi penemuan Jane dan dua bayi kembarnya berada tidak jauh dari Simpang Perdau, Kecamatan Bengalon, kawasan yang dalam beberapa waktu terakhir cukup sering dilaporkan menjadi tempat kemunculan orang utan yang turun hingga mendekati jalan.

Berdasarkan hasil pemeriksaan tim, Jane diperkirakan berusia 15 hingga 20 tahun, sedangkan kedua bayinya diperkirakan berumur sekitar 2 hingga 3 tahun.

Direktur CAN Borneo, Paulinus Kristianto, mengatakan timnya pertama kali menerima laporan dari masyarakat mengenai keberadaan induk orang utan yang terlihat turun ke area terbuka.

Saat dilakukan pengecekan pada hari pertama, tim belum menemukan keberadaan satwa tersebut. Namun pada pencarian berikutnya, Jane akhirnya berhasil ditemukan bersama dua bayinya.

“Ternyata bayinya dua. Awalnya kami bingung apakah ini bayi orang utan lain atau memang bayinya si induk itu. Tapi setelah dilihat ukuran tubuhnya sama, akhirnya dipastikan itu bayi kembar,” ujarnya.

Paulinus menjelaskan bahwa kelahiran orang utan kembar merupakan peristiwa yang sangat langka.

Dalam catatan konservasi, kasus serupa terakhir terjadi pada tahun 2020 di Taman Nasional Tanjung Puting.

“Ini satu dari sekian ratus kasus bayi orang utan kembar yang pernah tercatat,” jelasnya.

Setelah menerima laporan tersebut, tim gabungan dari BKSDA dan CAN langsung melakukan analisis kondisi habitat menggunakan citra satelit. Hasil kajian menunjukkan bahwa hutan di lokasi penemuan Jane sudah tidak cukup mendukung untuk keberlangsungan hidup induk dan dua bayi tersebut.

“Apalagi dengan kondisi ibu yang harus merawat bayi kembar. Artinya kebutuhan makan induk menjadi dua kali lipat karena harus memproduksi susu untuk dua anaknya, sementara habitatnya tidak memungkinkan,” katanya.

Atas pertimbangan tersebut, tim memutuskan untuk mengevakuasi Jane dan bayi kembarnya guna dipindahkan ke habitat yang lebih aman dan layak.

Menariknya, proses penyelamatan berlangsung relatif cepat dan tanpa kendala berarti. Biasanya orang utan yang sudah berada di pohon tinggi akan sulit diturunkan, namun kali ini situasinya berbeda.

“Keajaibannya mereka seperti ingin sekali diselamatkan dan seakan menyerahkan diri. Jadi evakuasi berjalan cepat,” ungkap Paulinus.

Setelah menjalani pemeriksaan kesehatan dan dinyatakan dalam kondisi baik, Jane bersama kedua bayinya kemudian dilepasliarkan kembali ke habitat baru yang telah melalui kajian kelayakan oleh tim konservasi.(MK)

Pewarta: Atmaja Riski
Editor: Agus S

Pemkab Mahulu Tajamkan Indikator RPJMD 2025–2029

0
Wakil Bupati Mahakam Ulu Suhuk membacakan sambutan tertulis Bupati Mahakam Ulu Angela Idang Belawan pada kegiatan FGD pemaduserasian indikator RPJMD 2025–2029 di Samarinda. Foto: Istimewa

UJOH BILANG — Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu melalui Badan Perencanaan, Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappedalitbangda) menggelar Focus Group Discussion (FGD) Pemaduserasian Indikator Kinerja Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025–2029 sebagai langkah strategis memperkuat arah pembangunan daerah lima tahun ke depan.

Kegiatan tersebut dibuka oleh Wakil Bupati Mahakam Ulu, Suhuk, di Ruang Pertemuan Mandapa II Hotel Fugo, Samarinda, Selasa (3/3/2026). Dalam kesempatan tersebut, Suhuk membacakan sambutan tertulis Bupati Mahakam Ulu Angela Idang Belawan.

Dalam sambutan tersebut disampaikan bahwa RPJMD merupakan dokumen penting yang menjadi kompas pembangunan daerah, karena memuat arah kebijakan serta prioritas program pembangunan yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“FGD ini memiliki peran strategis dalam proses penyusunan RPJMD, khususnya dalam melakukan pendalaman, penyelarasan, dan penajaman indikator kinerja. Dengan demikian, dokumen perencanaan yang dihasilkan diharapkan benar-benar berkualitas, terukur, efektif, dan tepat sasaran,” ujar Suhuk saat membacakan sambutan Bupati Mahulu.

Ia menambahkan bahwa Kabupaten Mahakam Ulu masih menghadapi berbagai tantangan pembangunan, mulai dari kondisi geografis yang sulit dijangkau, keterbatasan infrastruktur, hingga kesenjangan ekonomi antarwilayah.

Karena itu, seluruh peserta FGD diminta untuk berpikir visioner namun tetap realistis dengan mempertimbangkan kondisi daerah, kapasitas fiskal, serta kemampuan kelembagaan pemerintah daerah.

Selain itu, penyusunan indikator kinerja yang terukur, relevan, dan implementatif dinilai sangat penting sebagai alat evaluasi terhadap capaian pembangunan daerah selama periode RPJMD.

Wabup juga mengingatkan seluruh perangkat daerah untuk meningkatkan kualitas data dukung yang digunakan dalam penyusunan dokumen perencanaan.

“Data yang digunakan harus valid, akurat, dan terverifikasi sehingga kebijakan yang diambil benar-benar berbasis kondisi riil di lapangan,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya integrasi visi dan misi kepala daerah ke dalam dokumen RPJMD, sehingga arah pembangunan tetap selaras dengan komitmen politik pemerintah daerah sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Suhuk turut menyampaikan apresiasi kepada tim penyusun RPJMD, perangkat daerah, serta seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam proses penyusunan dokumen perencanaan pembangunan tersebut.

Kegiatan FGD ini turut menghadirkan narasumber dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan diikuti oleh jajaran perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu.

Melalui kegiatan ini, pemerintah daerah berharap dokumen RPJMD Mahakam Ulu 2025–2029 dapat disusun secara lebih komprehensif, terarah, dan mampu menjadi pedoman pembangunan daerah yang efektif dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.(MK)

Pewarta: Ichal
Editor: Agus S

19 dari 37 SPAM di Mahulu Tidak Berfungsi

0
Ilustrasi air bersih yang mengalir dari kran sebagai gambaran layanan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM). Foto: Istimewa

UJOH BILANG — Kondisi Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) masih menjadi persoalan utama dalam penyediaan layanan air bersih bagi masyarakat.

Berdasarkan hasil identifikasi terbaru, dari 37 unit SPAM yang terdata di wilayah tersebut, sebanyak 19 unit tidak berfungsi, sementara 18 unit lainnya masih beroperasi. Unit yang tidak berfungsi umumnya sudah lama tidak aktif sehingga membutuhkan intervensi berupa pemeliharaan, rehabilitasi, serta peningkatan sarana pendukung.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPU-PR) Mahulu, Didik Subagya, menjelaskan bahwa keberlanjutan layanan air minum sangat dipengaruhi oleh kapasitas pengelolaan serta kondisi teknis di lapangan.

“Unit yang tidak berfungsi umumnya sudah lama tidak aktif. Karena itu diperlukan intervensi pemeliharaan, rehabilitasi, peningkatan sarana pendukung, serta pendampingan teknis bagi pengelola SPAM agar layanan dapat kembali berjalan,” ujarnya kepada Media ini melalui pesan WhatsApp, Selasa malam (3/3/2026).

Didik mengungkapkan bahwa dari sisi kelembagaan, pengelolaan SPAM di Mahulu masih didominasi oleh kelompok masyarakat yang tergabung dalam Kelompok Pengelola Sistem Penyediaan Air Minum (KPSPAM/KASPAMS) dengan persentase sekitar 75,7 persen.

Sementara itu, Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) hanya mengelola sekitar seperempat dari total unit yang ada.

Menurut Didik, dominasi pengelolaan oleh masyarakat tidak lepas dari kondisi geografis Mahulu yang cukup menantang.

“Sulitnya kondisi geografis antarpermukiman menyebabkan pengelolaan oleh UPTD air minum mengalami banyak kendala. Karena itu masyarakat menjadi pihak yang lebih dekat dengan operasional di lapangan,” jelasnya.

Namun kondisi tersebut juga menghadirkan tantangan, terutama terkait kapasitas teknis dan administrasi pengelola, yang masih perlu ditingkatkan melalui pendampingan dan pelatihan dari pemerintah daerah.

Dari sisi sumber air baku, mayoritas SPAM di Mahulu masih bergantung pada air permukaan, khususnya sungai.

“Sumber air baku terbesar berasal dari air permukaan dengan persentase sekitar 81,1 persen, yang seluruhnya berasal dari sungai. Sementara mata air dan sumur gali kontribusinya jauh lebih kecil,” terangnya.

Ketergantungan yang tinggi terhadap air sungai juga menghadirkan risiko terhadap kualitas air baku, terutama pada musim hujan ketika kekeruhan air meningkat.

Selain itu, sistem produksi air minum di sebagian besar unit SPAM masih bersifat non-Instalasi Pengolahan Air (IPA). Hanya sekitar 29,7 persen unit yang memiliki fasilitas pengolahan air.

Akibatnya, masih banyak masyarakat yang memanfaatkan sumber air tanpa melalui proses penyaringan atau pengolahan sesuai standar.

“Risiko kualitas air minum yang tidak memenuhi baku mutu masih terjadi. Karena itu peningkatan kapasitas serta pembangunan instalasi pengolahan air menjadi langkah strategis untuk memastikan kualitas layanan,” jelasnya.

Didik juga menyebutkan bahwa kondisi geografis Mahulu yang berbukit dan terpencil mempengaruhi sistem distribusi air.

Sebagian besar SPAM di daerah tersebut menggunakan sistem gravitasi, dengan persentase sekitar 56,8 persen, diikuti kombinasi sistem gravitasi dan pompa, serta sistem pompa tunggal.

“Sistem gravitasi relatif hemat energi, namun memiliki keterbatasan tekanan, terutama pada wilayah dengan kontur yang kompleks. Sedangkan sistem pompa membutuhkan sumber energi yang stabil,” ungkapnya.

Persoalan lain yang dihadapi adalah keterbatasan sumber energi. Banyak unit SPAM tidak memiliki sumber listrik khusus untuk mendukung operasional sistem.

Pemanfaatan listrik PLN, genset, maupun solar cell masih sangat terbatas, sehingga fleksibilitas sistem untuk meningkatkan layanan melalui pompa atau teknologi pengolahan mekanis menjadi rendah.

Untuk mengatasi berbagai persoalan tersebut, pemerintah daerah telah menyusun sejumlah tahapan penanganan layanan air minum.

Pertama, meningkatkan cakupan sambungan rumah melalui perluasan jaringan distribusi, terutama di wilayah dengan kesenjangan layanan tinggi seperti Kecamatan Long Apari dan sejumlah kampung yang belum terlayani.

Program tersebut direncanakan dibiayai melalui kombinasi APBD, dana desa, dan program berbasis masyarakat agar percepatan pelayanan dapat dilakukan secara bertahap.

Kedua, pemerintah akan melakukan identifikasi teknis mendalam terhadap unit SPAM yang tidak berfungsi, termasuk pemeriksaan komponen sistem seperti jaringan distribusi, bak penampung, pompa, dan unit pengolahan.

Ketiga, pemerintah daerah akan menyusun rencana aksi rehabilitasi serta pemeliharaan preventif dengan dukungan pembiayaan rutin.

Bagi unit SPAM yang sudah lama tidak berfungsi, akan dilakukan audit kelayakan untuk menentukan apakah unit tersebut layak direhabilitasi atau harus dihentikan operasionalnya.

Melalui langkah-langkah tersebut, pemerintah berharap layanan air minum di Kabupaten Mahakam Ulu dapat terus ditingkatkan sehingga masyarakat di wilayah pedalaman tetap mendapatkan akses air bersih yang layak dan berkelanjutan.(MK)

Pewarta: Ichal
Editor: Agus S