Beranda blog Halaman 405

Harga Cabai dan Bawang Merah Meroket Jelang Nataru

0

Harga cabai dan bawang merah di sejumlah pasar di Kota Bontang mengalami kenaikan signifikan menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru). Lonjakan harga ini dipicu meningkatnya permintaan masyarakat serta terganggunya pasokan dari daerah penghasil, sehingga berdampak langsung pada daya beli warga.

Pembaca Setia Radar Bontang!

Ingin tahu kabar terkini Koran Digital Radar Bontang?
Kunjungi link di bawah ini untuk membaca e-paper lengkapnya:

👉 E-Paper Lengkap
https://koran.radarbontang.com

👉 Versi Mobile
https://digital.radarbontang.com/rb11des2025/mobile/

Radar Bontang – Aktual & Terpercaya!

RTH Bontang Capai 58 Persen, Wali Kota: Harus Dipertahankan di Tengah Pengembangan Kota

0
Ilustrasi. (ist)

BONTANG – Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, menjelaskan ketersediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota Bontang saat ini berada sekitar 58 persen. Capaian tersebut dinilai cukup besar dibandingkan banyak kota lain, dan harus tetap dijaga meskipun pembangunan kota terus berkembang.

Neni menyebut, angka 58 persen itu merujuk pada ketentuan dalam Peraturan Menteri ATR Nomor 14 Tahun 2022, yang memasukkan berbagai elemen lingkungan dalam kategori RTH. Termasuk di dalamnya sungai, danau, serta kawasan hutan lindung masyarakat.

“RTH kita sesuai yang disampaikan Kepala Dinas Lingkungan itu sekitar 58 persen. Karena berdasarkan Permen ATR 14 Tahun 2022, sungai dan danau masuk RTH, termasuk hutan lindung masyarakat,” jelasnya.

Menurut Neni, ketersediaan RTH menjadi faktor penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan di Bontang, terutama mengingat daerah ini tidak memiliki mata air alami dan sangat bergantung pada air tanah. RTH dianggap berperan dalam mempertahankan kemampuan tanah menyerap air serta mencegah kerusakan lingkungan yang lebih besar.

Meski pengembangan kota akan terus berjalan, Neni menegaskan kawasan RTH tidak boleh dikurangi. Sungai, sebagai salah satu elemen RTH, menurutnya harus tetap dijaga kondisinya dan tidak boleh dibiarkan mengalami pendangkalan.

“Kalau sungai, pastilah tidak mungkin hilang. Tapi ya harus dikeruk kalau terjadi pendangkalan,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa komitmen menjaga RTH merupakan bagian dari upaya jangka panjang pemerintah, dalam menjaga kelestarian lingkungan di Bontang. Kawasan hijau, menurutnya, tidak hanya berfungsi secara ekologis, tetapi juga menjadi benteng penting untuk mencegah berbagai risiko lingkungan di masa mendatang.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Air Bersih Bontang Bergantung Pada Sumur Dalam, Neni Sebut Debit Air Tanah Menurun

0
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni. (Syakurah)

BONTANG – Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, menyoroti kondisi ketersediaan air tanah di Kota Taman yang dinilai semakin menipis. Sejumlah sumur dalam (deep well) di beberapa wilayah bahkan mulai mengalami krisis dan tidak lagi dapat disedot secara optimal.

Ia menyebutkan, penurunan debit air tanah sudah terjadi dalam beberapa tahun terakhir, termasuk di wilayah Bontang Lestari yang sebelumnya dikenal memiliki pasokan air bawah tanah lebih stabil.

“Beberapa sumur di Kota Bontang itu sudah krisis, sudah tidak bisa lagi disedot. Di Bontang Lestari masih ada, tetapi mulai berkurang. Semakin menipis,” ujarnya.

Menurut Neni, kondisi ini tidak terlepas dari minimnya sumber air permukaan di Bontang. Kota ini hanya bergantung pada air tanah dalam atau deep well tanpa adanya perputaran air dari mata air alami. Di sisi lain, kebutuhan air terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk.

“Kalau penduduk bertambah menjadi 200 ribu, sementara satu orang memakai sekitar 50 liter, itu berarti 1 juta liter disedot dari bawah tanah setiap hari. Kita tidak punya mata air, semuanya deep well,” jelasnya.

Ia mengingatkan, tanpa pelestarian lingkungan yang masif, penyedotan air tanah bisa menimbulkan rongga besar di bawah permukaan. Risiko penurunan tanah hingga intrusi air laut juga semakin mungkin terjadi.

“Kalau kita tidak tanam dan pelihara pohon, akan terjadi rongga besar. Bisa terjadi penurunan tanah. Lalu ada intrupsi air laut, sehingga air tanah bisa menjadi asin,” tegasnya.

Menjalankan program pelestarian lingkungan melalui penanaman pohon, rehabilitasi mangrove, hingga peningkatan Ruang Terbuka Hijau (RTH) dapat dilakukan untuk meningkatkan volume air di bawah tanah.

Jika sebelumnya kampanye lingkungan mewajibkan satu orang menanam satu pohon, kini ia mendorong agar setiap orang menanam lima pohon. Program ini juga diterapkan bagi ASN dan warga pada momen tertentu.

“Yang mau nikah, naik pangkat, ulang tahun, semua komit untuk menanam pohon,” tambahnya.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Wali Kota Sayangkan Trotoar Sudah Dipercantik, Tapi Masih Banyak yang Parkir di Atasnya

0
Kendaraan yang masih parkir liar di atas trotoar, di Jalan Ahmad Yani, Gunung Sari. (Dwi/RadarBontang).

BONTANG – Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni sangat menyayangkan atas tindakan pemilik kendaraan, yang masih memarkir di atas trotoar.

Trotoar merupakan jalur yang disediakan khusus bagi pejalan kaki. Agar para pejalan kaki bisa melintas di tempat yang seharusnya, tanpa mengganggu kendaraan yang sedang berlalu lalang.

“Sudah jelas ya, trotoar itu untuk pengguna pejalan kaki. Bukan tempat parkir kendaraan. Apalagi trotoarnya sudah diperbaiki sebagus mungkin, dengan tambahan kursi untuk duduk,” ucapnya saat dikonfirmasi, Rabu (10/12/2025).

Menurutnya, seharusnya dengan adanya perbaikan trotoar yang sudah berjalan ini, yang telah ditambah kursi dan lampu untuk mempercantik kota, seluruh masyarakat bisa paham akan kesadaran itu, agar tidak lagi parkir liar sembarangan.

“Tidak hanya masyarakat yang sering ngumpul saja, pasti nantinya akan kami beri peringatan bagi pelaku usaha juga, agar pembeli atau pengunjung tak lagi parkir di atas trotoar,” tutupnya.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Ambil Langkah Preventif Jelang Nataru, Satbinmas Kutim Sisir Pasar hingga Ruang Publik

0
Personel Satbinmas saat turun langsung memberikan penyuluhan ke pedagang dan sambang masyarakat. (Ist)

SANGATTA — Langkah preventif dijalankan Satbinmas Polres Kutim jelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026. Hal ini untuk menjaga stabilitas kamtibmas di wilayah Sangatta.

Dua personel Satbinmas, Bripda Edwin Mari Padang dan Bripda Lundu Manalu, diterjunkan untuk melaksanakan penyuluhan lapangan dan sambang masyarakat di sejumlah titik keramaian, pada Rabu (10/12/2025).

Penyisiran dimulai dari Pasar Sangatta Seberang, salah satu pusat aktivitas warga yang kerap padat menjelang liburan. Personel memberikan imbauan langsung kepada pedagang dan pengunjung terkait pencegahan premanisme, bahaya penyalahgunaan narkoba, hingga maraknya kasus kecanduan judi online yang semakin menyasar berbagai kalangan.

Tidak hanya itu, masyarakat juga diingatkan agar meningkatkan kewaspadaan selama meninggalkan rumah, terutama dalam memastikan kelistrikan, kompor gas, serta peralatan elektronik dalam kondisi aman. Satbinmas menyebutkan bahwa kelalaian di sektor ini masih menjadi penyebab utama kebakaran rumah di musim liburan.

Usai dari pasar, kegiatan dilanjutkan di sepanjang Jalan Yos Sudarso 2 dan kawasan Simpang 3 Yos Sudarso 1, yang dikenal sebagai jalur padat pengguna kendaraan. Di titik ini, personel menyampaikan imbauan mengenai keselamatan berkendara, penggunaan alat keselamatan, serta pentingnya menjaga konsentrasi mengingat angka kecelakaan lalu lintas di Kutai Timur masih cukup tinggi.

Satbinmas juga mengingatkan masyarakat untuk menjaga solidaritas dan toleransi antarumat beragama, mengingat perayaan Nataru umumnya meningkatkan interaksi lintas komunitas. Warga pun diminta mewaspadai cuaca ekstrem yang belakangan sering terjadi dan berpotensi memicu gangguan keamanan maupun kecelakaan.

Selain memberikan edukasi keamanan, Satbinmas turut melakukan pemantauan ketersediaan pangan dan stabilitas harga bahan pokok penting di Pasar Sangatta Seberang. Monitoring ini dilakukan guna mengantisipasi potensi kenaikan harga yang kerap terjadi menjelang libur akhir tahun.

Kapolres Kutai Timur AKBP Fauzan Arianto menegaskan bahwa kegiatan patroli dialogis dan penyampaian imbauan langsung merupakan bagian dari upaya preemtif dan preventif dalam menciptakan situasi yang aman dan kondusif.

“Menjelang Nataru, mobilitas warga meningkat dan tingkat kerawanan bertambah. Kehadiran personel Satbinmas di pasar dan ruang publik adalah langkah pencegahan untuk memastikan keamanan masyarakat terjaga,” ujarnya.

Kegiatan berlangsung selama lebih dari satu jam dengan respons positif dari masyarakat. Satbinmas menyatakan akan terus melakukan kegiatan serupa hingga masa liburan Nataru berakhir.

Penulis: Ramlah
Editor: Yusva Alam

Harga Cabai Rawit Tembus Rp 85 Ribu, Bawang Merah Naik ke Rp 55 Ribu per Kg

0
Pasar Taman Rawa Indah. (Syakurah)

BONTANG – Sejumlah harga komoditas pangan di Pasar Induk Rawa Indah kembali naik menjelang Natal dan Tahun Baru 2025. Dua komoditas mengalami kenaikan signifikan yakni cabai rawit dan bawang merah.

Berdasarkan laporan enumerator DKP3 Bontang, Abdul Karim, Rabu (10/12/2025), harga cabai rawit tercatat Rp85.000 per kilogram, melonjak dari posisi pekan sebelumnya di kisaran Rp45.000 hingga Rp 70.000.

Sementara bawang merah juga mengalami kenaikan dari Rp50.000 menjadi Rp55.000 per kilogram.

Kabid Ketahanan Pangan DKP3 Bontang, Debora menjelaskan, kenaikan harga cabai karena pasokan lokal yang menurun, sementara permintaan meningkat menjelang akhir tahun.

“Cabai lokal naik terus. Dari petani saja sudah Rp65 ribu. Jadi wajar di pasar sampai Rp85 ribu,” terangnya.

Ia menambahkan, cabai dari Samarinda memang tersedia dengan harga lebih rendah, namun kualitasnya banyak yang merupakan barang sortiran kadang sudah tidak segar, sehingga produk lokal tetap jadi pilihan utama konsumen.

Untuk bawang merah, kenaikan terjadi akibat terbatasnya stok dari pemasok utama di tingkat distributor.

Sementara itu, komoditas lain seperti beras dinyatakan tetap stabil. Harga beras premium berada di angka Rp18.000, sedangkan medium Rp15.500 per kilogram.

DKP3 menegaskan, bahwa kenaikan hanya terjadi pada beberapa komoditas seperti cabai dan bawang, bukan pada bahan pokok strategis lainnya.

Namun, cabai rawit menjadi komoditas yang paling dicari masyarakat. Bahkan dalam kegiatan GPM yang digelar DKP3, rencana menjual cabai terpaksa dibatalkan karena harga dari petani sudah terlalu tinggi.

“Rencananya kami jual di GPM, tapi harga modal saja sudah Rp65 ribu. Bisa-bisa tidak terserap. Makanya tidak jadi,” ujarnya.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

GPM Digelar Jelang Nataru, DKP3 Bontang Sediakan 7 Ton Beras dan Puluhan Komoditas Murah

0
GPM oleh DKP3. (dok.DKP3)

BONTANG – Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, dan Pertanian (DKP3) menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) di Kelurahan Kanaan, Rabu (10/12/2025). Kegiatan ini digelar untuk menjaga stabilitas harga, dan memastikan ketersediaan bahan pokok menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Lokasi GPM dipusatkan di Rumah Tongkonan, mengingat wilayah Kanaan merupakan salah satu kawasan mayoritas umat Nasrani di Kota Bontang.

Kepala Bidang Ketahanan Pangan DKP3, Debora kristiani mengatakan, pihaknya membawa 7 ton beras dari Bulog, “Sementara total beras yang tersedia di GPM termasuk milik mitra dan agen mencapai sekitar 10 ton,” ujarnya.

Ia memastikan stok beras di Kota Bontang dalam kondisi aman. Distribusi beras banyak ditopang agen dan distributor yang juga menambah stok melebihi kebutuhan harian.

Harga beras premium dalam GPM hari ini dijual Rp11.600 per kilogram, jauh lebih rendah dari harga pasar sekitar Rp15.500 hingga Rp 18.000.

“Alhamdulillah masyarakat terbantu. Di pasar premium Rp15 ribuan, kami lepas Rp11.600,” jelasnya.

Selain beras, GPM juga menyediakan sejumlah bahan pokok, seperti:
Tepung: Rp10.000/kg
Minyak goreng kemasan Saro: Rp37.000/2 liter
Minyak goreng kemasan lainnya: Rp39.000/2 liter
Serta gula, telur lokal, dan sejumlah kebutuhan lainnya.

Telur lokal menjadi salah satu komoditas yang cepat habis. Pemerintah memberikan subsidi Rp5.000, dari harga pasar Rp60.000 menjadi Rp55.000 per piring, dengan total 300 piring terjual dalam waktu sekitar dua jam.

“Minyak dan tepung juga paling cepat habis,” tambahnya.

Pihaknya berencana menjadwalkan dua kali kegiatan GPM. “Selain DKP3, nanti dari DKUMPP juga ada, namanya Wartek In,” tambahnya.

Selain itu, pemerintah membuka peluang penyelenggaraan GPM di wilayah pesisir atau permukiman atas laut, jika ada usulan dari kelurahan atau RT.

“Kami menunggu pengajuan. Kalau ada permintaan, pasti kami pertimbangkan. Pernah yang paling aktif itu Bontang Lestari, sampai dua kali kami lakukan GPM di sana,” sebutnya.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Akses Tol Menuju IKN Difungsionalkan Saat Nataru, Hanya untuk Kendaraan Golongan I

0
Jalan Tol IKN/Jalan Bebas Hambatan. (Dok. BBPJN Kaltim)

NUSANTARA — Menjelang libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, pemerintah membuka akses Jalan Tol dan Jalan Bebas Hambatan (JBH) menuju dan dari Ibu Kota Nusantara (IKN) secara terbatas. Jalan bebas hambatan tersebut hanya boleh dilintasi kendaraan Golongan I (non-bus dan non-truk) dengan jam operasional dibatasi pukul 06.00–18.00 Wita.

Kebijakan ini diumumkan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Kalimantan Timur sebagai langkah antisipasi lonjakan mobilitas selama libur akhir tahun. Selain memperlancar arus mudik, fungsionalisasi ini memberikan alternatif rute bagi perjalanan jalur darat antara Kalimantan Timur (Kaltim) dan Kalimantan Selatan (Kalsel).

Pembukaan terbatas ini berlaku 20 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026, dengan imbauan kepada seluruh pengendara untuk mematuhi batas kecepatan maksimal 60 km/jam demi menjaga keselamatan.

Berikut daftar ruas tol dan JBH IKN yang difungsionalkan:
– Tol IKN Seksi 3A: Karang Joang – KKT Kariangau (13,400 km)
– Tol IKN Seksi 3B: KKT Kariangau – Simpang Tempadung (7,347 km)
– Tol IKN Seksi 5A: Simpang Tempadung – Jembatan Pulau Balang (6,717 km)
– Jembatan Pulau Balang, bentang panjang & pendek (3,318 km)
– JBH Seksi 5B: Jembatan Pulau Balang – Simpang Riko (13,275 km)
– JBH Seksi 6A: Simpang Riko – rencana Outer Ring Road IKN (6,170 km)

Sebelumnya, Wakil Menteri PUPR, Diana Kusumastuti, dalam rapat kerja dengan Komisi V DPR RI (Senin, 8/12/2025) menyampaikan bahwa total panjang ruas tol yang difungsionalkan secara nasional pada periode Nataru tahun ini mencapai 142,587 kilometer. Ruas tersebut tersebar di Tol Trans Sumatra, Tol Trans Jawa, dan IKN.

“Pada periode Nataru 2025/2026, akan ada lima ruas tol yang difungsionalkan dengan panjang mencapai 142,587 km,” ujar Diana.

Kebijakan ini diharapkan dapat memperlancar arus perjalanan masyarakat, sekaligus mendukung kesiapan konektivitas menuju Ibu Kota Nusantara pada momen liburan panjang akhir tahun. (riz)

Editor: Agus S

Baru 4 Kilometer Rampung, Warga Kecamatan Telen Batal Nikmati Akses Darat Layak

0
Camat Telen, Petrus Ivung saat diwawancara awak media. (Ist)

SANGATTA — Harapan warga Kecamatan Telen untuk menikmati akses darat yang layak kembali tertahan. Proyek pembangunan jalan poros yang digadang-gadang menjadi jalur utama mobilitas masyarakat pedalaman justru tersendat dan jauh dari target penyelesaian. Alhasil, akses antardesa masih terputus, sementara aktivitas ekonomi warga berjalan tersendat.

Camat Telen, Petrus Ivung, mengakui bahwa progres pembangunan jalan poros belum sesuai rencana. Dari total panjang enam kilometer yang ditargetkan, hingga saat ini baru empat kilometer yang rampung dikerjakan.

“Untuk jalan poros masih belum layak sepenuhnya. Tahun lalu sempat satu paket dengan program jembatan, tapi banyak kendala,” ujarnya.

Dua kilometer sisanya tidak tersentuh akibat hambatan teknis dan kondisi geografis yang menyulitkan pengerjaan. Tahun ini, pemerintah daerah hanya menambahkan satu kilometer anggaran lanjutan, namun penyelesaian total tetap terasa jauh dari harapan warga.

“Dari rencana enam kilometer, yang selesai hanya empat kilometer, dua kilometer terpotong. Tahun ini ditambah lagi satu kilometer,” jelas Petrus.

Lebih memprihatinkan, masih terdapat tujuh kilometer ruas jalan yang melintasi kawasan tertentu dan tidak dapat dibiayai menggunakan dana pemerintah. Hingga kini, belum ada solusi konkret mengenai bagaimana status kawasan tersebut dapat diselesaikan agar proyek bisa dilanjutkan.

“Ada tujuh kilometer dari poros Jalan Trans Kaltim yang tidak bisa dibiayai dana pemerintah karena masuk kawasan tertentu,” tambahnya.

Akibatnya, proyek berjalan parsial dan terhenti di batas kawasan tersebut, membuat warga di wilayah yang lebih dalam tetap bergantung pada jalur transportasi yang buruk dan rawan putus terutama saat hujan.

Sejumlah warga dan tokoh masyarakat menyuarakan kekecewaan mereka. Mereka menilai pemerintah harus mengambil langkah lebih berani dan terukur, termasuk koordinasi antarlembaga serta mencari alternatif pendanaan jika diperlukan.

“Jangan hanya menunggu. Kami butuh jalan ini untuk ekonomi dan kebutuhan harian,” keluh Daniel, salah satu warga.

Warga berharap pemerintah daerah bergerak cepat, tidak hanya mengumbar janji progres. Akses jalan merupakan urat nadi perekonomian, terutama bagi masyarakat pedalaman yang bergantung pada mobilitas hasil pertanian, perkebunan, hingga logistik antardesa.

Tanpa percepatan dan solusi nyata, proyek jalan poros Telen berpotensi terus terkatung-katung, meninggalkan warga dalam kondisi yang sama terisolasi di tengah derasnya pembangunan daerah lain.

Penulis: Ramlah
Editor: Yusva Alam

Sidak LPG di Samarinda, Wawali Temukan Tabung Kurang Timbangan hingga 1 Kilogram

0
Wakil Wali Kota Samarinda Saefuddin Zuhri melakukan sidak terhadap SPBE di Jalan Sentosa Samarinda. (Dimas/Media Kaltim)

SAMARINDA — Wakil Wali Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri, melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah titik distribusi kebutuhan pokok, termasuk Indogrosir, Pasar Merdeka, serta Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Jalan Sentosa pada Rabu (10/12), sekitar pukul 11.00 WITA. Sidak ini difokuskan untuk memastikan ketersediaan dan kualitas Bahan Pokok Penting (Bapokting), khususnya elpiji dan BBM.

Salah satu temuan utama terjadi saat tim melakukan penimbangan acak tabung gas LPG 12 kilogram di SPBU Jalan Sentosa. Dari pemeriksaan lapangan, berat tabung kosong berkisar di angka 15 kilogram lebih. Dengan demikian, tabung berisi penuh seharusnya memiliki total berat sekitar 27 kilogram. Namun, ketika ditimbang ulang, sejumlah tabung hanya menunjukkan berat 26 hingga 26,5 kilogram, menandakan potensi kekurangan isi mencapai 1 kilogram.

Menanggapi temuan tersebut, Wawali Saefuddin Zuhri menjelaskan bahwa kondisi tabung yang digunakan pihak SPBU diduga merupakan tabung lama, sehingga bisa memengaruhi pembacaan berat secara keseluruhan.

“Gas tadi kan ada yang kurang 1 kilo, harus setengah kilo. Ya gini, kalau gas itu kita lihatin dari tabungnya. Dari tabungnya itu ada tabung itu kan 15,1 dan itu tabung itu karena kita melihatnya tabung bekas, itu mungkin ada sisa atau gimana kita tidak tahu,” ujar Saefuddin Zuhri.

Meski demikian, Zuhri menilai secara umum situasi sembako dan energi di Samarinda tetap aman dan terkendali.
“Kalau kita ngelihatin secara semuanya, itu secara global, itu aman,” tambahnya. Ia juga memastikan stok LPG 3 kilogram tersedia dan tidak menunjukkan tanda-tanda kelangkaan.

Asisten II Pemerintah Kota Samarinda, Marnabas Patiroy, menegaskan bahwa temuan tersebut akan segera ditindaklanjuti dengan sidak lanjutan yang lebih teknis ke Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE). Pemeriksaan akan dilakukan dengan metode pengukuran standar untuk memastikan akurasi pengisian tabung.

“Tim akan mengambil sampel tabung penuh, menimbangnya, lalu membuang isinya dan menimbang tabung kosong. Intinya adalah Alhamdulillah lewat sidak ini kondisi Samarinda aman dan terkendali. Jika terjadi lonjakan harga yang tidak signifikan, kami akan turun melakukan operasi pasar,” jelas Marnabas.

Sementara itu, perwakilan Pertamina yang diinformasikan hadir dalam rombongan sidak tidak berhasil ditemui wartawan untuk mengklarifikasi temuan kekurangan berat LPG tersebut. (Dim)

Editor: Agus S