Beranda blog Halaman 406

Kakorlantas Semprit Kaltim: Baru 32 Kamera ETLE, Idealnya 500 Unit

0
Kakorlantas Polri, Irjen Pol Agus Suryo.

BALIKPAPAN — Penegakan hukum lalu lintas berbasis elektronik di Kalimantan Timur dinilai jauh dari memadai. Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri, Irjen Pol Agus Suryo, menilai infrastruktur ETLE di Kaltim harus segera diperkuat, terutama menjelang Operasi Natal 2025 yang akan meningkatkan mobilitas kendaraan di berbagai daerah.

Dalam kunjungan ke ruang kontrol Satlantas Polresta Balikpapan, Irjen Agus menemukan bahwa Kaltim saat ini hanya memiliki 32 kamera ETLE, angka yang disebutnya tidak sebanding dengan kebutuhan pengawasan di wilayah seluas provinsi tersebut.

“Untuk wilayah sebesar Kalimantan Timur, idealnya terdapat 500 kamera ETLE. Dengan jumlah itu, penindakan pelanggaran lalu lintas berbasis elektronik bisa berjalan maksimal,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa Polri sedang mendorong revitalisasi besar-besaran dalam sistem penegakan hukum digital. Modernisasi ETLE dinilai menjadi keharusan agar pengawasan lebih objektif, akurat, dan dapat mengurangi potensi penyimpangan dalam penindakan manual.

Menurut Kakorlantas, standar ideal penegakan hukum lalu lintas di daerah padat mobilitas adalah 95 persen berbasis ETLE dan hanya 5 persen manual. Dengan dominasi kamera, kepatuhan pengendara diyakini meningkat karena sistem bekerja otomatis tanpa pandang bulu.

“Dengan dominasi ETLE, diharapkan para pengendara akan lebih patuh karena sistem bekerja secara objektif dan non-diskriminatif,” jelasnya.

Ia mengakui bahwa masih terdapat kekurangan teknis dalam sistem yang berjalan saat ini. Namun seluruh perangkat yang ada akan dimaksimalkan fungsinya untuk mendukung Operasi Natal 2025. Penguatan perangkat dipercaya dapat menekan angka pelanggaran dan kecelakaan.

Irjen Agus juga meminta dukungan pemerintah daerah serta pemerintah pusat agar pengadaan kamera ETLE tambahan dapat dipercepat hingga mencapai standar ideal.

“Kakorlantas Polri meminta dukungan pemerintah daerah maupun pusat agar segera menambah jumlah kamera ETLE demi memperkuat pengawasan lalu lintas dan menekan angka pelanggaran,” tutupnya. (ap)

Editor: Agus S

Sidak Pasar Merdeka, Wawali Samarinda Temukan Kenaikan Harga Bawang Merah dan Cabai Akibat Curah Hujan Tinggi

0
Wakil Wali Kota Samarinda Saefuddin Zuhri melihat 10 butir telur di Indogrosir. (Dimas/Media Kaltim)

SAMARINDA – Wakil Wali Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri, melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Pasar Merdeka pada Rabu (10/12) sekitar pukul 10.30 WITA, didampingi jajaran Pemerintah Kota Samarinda. Sidak ini digelar untuk mengantisipasi potensi lonjakan harga menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) seperti Natal dan Tahun Baru (Nataru), Imlek, hingga persiapan memasuki bulan Ramadan dan Idulfitri.

Hasil pemantauan menunjukkan harga sejumlah komoditas utama seperti daging, telur, dan ikan layang relatif stabil. Namun, kenaikan signifikan ditemukan pada beberapa komoditas sayuran, khususnya bawang merah dan cabai.

Wawali Saefuddin Zuhri menjelaskan bahwa peningkatan harga disebabkan oleh cuaca ekstrem di daerah penghasil yang berdampak pada produksi.

“Cabai dan bawang merah ini karena daerah produksi itu hujan, kan kena banjir. Otomatis harga pasti naik. Barang sedikit, permintaan banyak, ya naik,” terangnya.

Untuk bawang merah, variasi harga cukup terlihat di dalam pasar. “Ada yang Rp57.000, ada Rp52.000 sampai Rp49.000. Makanya itu nanti kita lihat perkembangannya,” tambahnya.

Pemerintah Kota Samarinda menilai penting menjaga stabilitas harga agar masyarakat tidak terdampak secara signifikan menjelang rangkaian hari besar keagamaan.

Asisten II Setda Kota Samarinda, Marnabas Patiroy, mengonfirmasi bahwa kenaikan harga dipicu curah hujan tinggi di sentra produksi. “Beberapa komoditas mengalami kenaikan, terutama bawang merah cukup tinggi karena curah hujan yang cukup tinggi,” ucapnya.

Sebagai respons, Pemerintah Kota membuka opsi intervensi harga melalui operasi pasar jika tren kenaikan terus berlanjut.

“Kita lihatin dulu. Kalau perlu operasi pasar, kita bisa operasi pasar. Insyaallah pemerintah kota berupaya agar harga tetap stabil,” tegas Wawali.

Saefuddin Zuhri juga memastikan ketersediaan Bahan Pokok Penting (Bapokting) di Samarinda saat ini dalam kondisi aman sehingga masyarakat tidak perlu khawatir menjelang HBKN. (dim)

Editor: Agus S

Borong 14 Medali, Pertina Kukar Jawara Umum BK Porprov Kaltim 2025 di Samarinda

0
Kontingen Pertina Kukar. (Istimewa)

TENGGARONG — Kutai Kartanegara (Kukar) kembali membuktikan diri sebagai lumbung petinju terbaik di Kalimantan Timur. Pada Babak Kualifikasi (BK) Porprov VIII Kaltim 2025 yang berlangsung di Samarinda, 4–10 Desember 2025, kontingen Pertina Kukar tampil dominan dan keluar sebagai juara umum dengan total 14 medali.

Dari arena pertandingan, atlet-atlet Kukar berhasil merebut 8 medali emas, 2 perak, dan 4 perunggu. Capaian mengesankan ini menegaskan bahwa pembinaan atlet tinju di Kukar berada pada jalur yang benar, meski persiapan dinilai belum maksimal.

Ketua Pertina Kukar, Aspian Noor, bersama Ketua Harian Afizar Dinata, turut hadir memberikan dukungan langsung. Kehadiran jajaran pengurus memberi suntikan motivasi bagi para petinju yang turun bertanding dengan mental kuat meski persiapan minim.

Pelatih tinju Kukar, Fahrudin, melalui Asisten Pelatih Ali Idrus, menyebut hasil ini sebagai pencapaian luar biasa. Dengan waktu persiapan yang terbatas, para atlet tetap mampu tampil meyakinkan.

“Alhamdulillah, kami sebagai pelatih sekaligus mewakili pengurus merasa sangat bangga dan sangat senang bisa meraih juara umum. Dengan persiapan yang sebenarnya tidak terlalu maksimal, ternyata kami bisa meraih hasil ini. Ini sangat luar biasa dan tentu membuat kami sangat bahagia,” ujar Ali Idrus, Rabu (10/12/2025).

Bahkan sejumlah atlet hanya berlatih sekitar tiga minggu karena kesibukan pekerjaan. Namun semangat, disiplin, serta mental juara membuat mereka tetap mampu tampil kompetitif.

“Ke depan, kami akan melakukan latihan yang lebih rutin dan disiplin, agar atlet-atlet Kukar lebih siap secara fisik dan mental, serta memiliki strategi yang lebih matang,” lanjutnya.

Ali juga menyampaikan apresiasi kepada Pemkab Kukar, Dispora, KONI, dan Pertina pusat atas dukungan yang diberikan. Ia berharap pembinaan jangka panjang, fasilitas latihan, serta dukungan anggaran dapat ditingkatkan untuk menghadapi level kompetisi berikutnya.

“Target kami setelah Porprov adalah menuju Pra-PON. Jika lolos, kami akan bekerja lebih keras lagi,” tegasnya.

Asisten Pelatih Decky Samuel Entamoi menambahkan bahwa capaian ini bahkan melampaui target awal.

“Perasaan kami tentu sangat bangga, karena hasil ini sudah melebihi target. Artinya, atlet-atlet menunjukkan kerja keras dan latihan yang luar biasa,” ujarnya.

Decky menjelaskan bahwa latihan rutin empat kali sepekan dan intensifikasi menjelang BK Porprov berhasil mengembalikan ritme serta ketajaman teknik atlet. Evaluasi tetap akan dilakukan untuk memperkuat stamina dan strategi bertanding pada setiap kelas.

“Tinju Kukar punya potensi besar untuk kembali seperti dulu, dikenal sebagai gudangnya tinju di Kaltim. Tapi kuncinya, atlet tidak boleh cepat puas dan harus terus meningkatkan kemampuan,” tegasnya. (ady)

Daftar Penyumbang Emas Kukar:

  • Putra: Afrian Naufal Afaaf Manoppo (57 kg), Marquez Juan Christiano Tobias (67 kg), Dhevint Hosea Raythan Rawung (71 kg), Azipa Syahrul Huda (92 kg)
  • Putri: Queen Angels Lumempouw (52 kg), Tasya Isna Saqbani (54 kg), Hadistita Juniva Robinson (57 kg).

Editor: Agus S

DPRD Kaltim Kecam Pembukaan Lahan di Tahura Bukit Soeharto

0
Baharuddin Demmu, Anggota Komisi I DPRD Provinsi Kaltim, saat diwawancarai di Samarinda. (K. Irul Umam/MKN)

SAMARINDA — Aktivitas pembukaan lahan di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Soeharto kembali menuai sorotan. Kegiatan yang terlihat jelas dari jalur penghubung Samarinda–Balikpapan itu mendapat kecaman keras dari Anggota Komisi I DPRD Kaltim, Baharuddin Demmu. Ia menegaskan bahwa segala bentuk alih fungsi kawasan Tahura adalah tindakan ilegal.

“Kalau Bukit Soeharto secara aturan, sebelum dikelola oleh OIKN, setahu saya di sana tidak boleh ada izin. Taman Hutan Rakyat itu tidak boleh ada izin,” ujar Bahar pada Rabu (10/12/2025).

Berdasarkan informasi yang dihimpun Media Kaltim, aktivitas di lokasi tersebut diduga terkait pembukaan lahan perkebunan. Pola pengkotak-kotakkan lahan yang muncul menimbulkan pertanyaan serius mengenai legalitas dan izin pemanfaatan kawasan.

Bahar menegaskan, jika benar ada pihak yang mengeluarkan izin, maka perlu segera diusut dan ditindak tegas.
“Kalau saat ini misalnya ada yang bilang diberikan izin, ya seharusnya pemerintah bertindak. Lama-lama Bukit Soeharto ini akan habis kalau tidak ada pencegahan dini,” tegas politisi PAN itu.

Ia mengingatkan bahwa Tahura merupakan kawasan pelestarian alam yang seharusnya digunakan untuk penelitian, pendidikan, pariwisata, konservasi flora-fauna, serta penyediaan oksigen. Dengan fungsi tersebut, pemanfaatan untuk aktivitas ekstraktif seperti perkebunan jelas dilarang.

“Kalau sekarang terjadi pembukaan besar-besaran di Tahura, itu sebenarnya ya ilegal. Apapun bentuknya! Tidak ada legalitas yang dipegang itu,” tegas Bahar.

Meski Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) telah memasang pelang larangan pada 3 Desember 2025 sebagai bentuk pengawasan, Bahar menilai langkah tersebut belum cukup menghentikan aktivitas ilegal.

“Itu enggak mempan. Yang mempan itu orang yang bekerja di dalam, diberi pemahaman bahwa ini tidak boleh dikebunkan. Kalau hanya pelang, ya pelangnya itu tidak diapa-apain. Harusnya diberikan pemahaman untuk rakyat menjaga kawasan hutan itu,” jelasnya.

Menurut Bahar, pengawasan yang lebih intensif dan edukasi kepada masyarakat setempat menjadi kunci menjaga Bukit Soeharto agar tetap sesuai fungsinya sebagai kawasan konservasi dan penyangga ekologis bagi Kaltim. (um)

Editor: Agus S

Pemkab Paser dan Kejari Paser Sepakati PKS Penerapan Pidana Kerja Sosial Berbasis Restorative Justice

0
Penandatanganan PKS penerapan pidana kerja sosial antara Pemerintah Kabupaten Paser dan Kejaksaan Negeri Paser. (Nash)

PASER — Pemerintah Kabupaten Paser bersama Kejaksaan Negeri Paser resmi menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) terkait penerapan **pidana kerja sosial** sebagai alternatif hukuman bagi pelaku tindak pidana ringan. Kebijakan ini merupakan tindak lanjut dari Surat Kepala Kejaksaan Tinggi Kalimantan Timur Nomor B-5843/0.4/Es.1/11/2025 tertanggal 25 November 2025.

Kepala Bagian Kerja Sama Pemkab Paser, **Soraya**, menjelaskan bahwa nota kesepahaman dan PKS tersebut menjadi langkah konkret Pemkab dalam mendukung implementasi pidana kerja sosial sebagai bentuk hukuman yang lebih membina.

“Ini adalah bentuk bantuan bagi para pelaku tindak pidana ringan agar tidak selalu dikenakan hukuman kurungan. Namun, diarahkan untuk menjalani hukuman kerja sosial yang dibimbing dan diawasi, sekaligus dibekali keterampilan, pengetahuan, dan keahlian,” ujarnya, Rabu (10/12/2025).

Soraya menegaskan bahwa skema pidana kerja sosial merupakan bagian dari **Restorative Justice** yang menekankan perbaikan, edukasi, dan pemberdayaan, bukan semata-mata hukuman fisik.

Melalui program ini, ia berharap pelaku tindak pidana ringan dapat memperoleh kesempatan kedua untuk memperbaiki diri dan mampu kembali memberikan kontribusi positif kepada masyarakat.

“Objek kerja sama ini meliputi penerapan, pembimbingan, pengawasan, serta evaluasi pelaksanaan pidana kerja sosial dengan melibatkan perangkat daerah terkait,” katanya.

Ruang lingkup PKS tersebut mencakup:

  • Koordinasi dan pelaksanaan pidana kerja sosial antara Pemkab dan Kejaksaan;
  • Penyediaan personel, lokasi, serta kegiatan kerja sosial yang edukatif dan tidak merendahkan martabat;
  • Pengawasan langsung atas proses pembimbingan;
  • Penyediaan data dan informasi pendukung;
  • Penyampaian laporan berkala pelaksanaan kerja sosial;
  • Sosialisasi kepada masyarakat dan instansi terkait mengenai penerapan pidana kerja sosial;
  • Kegiatan lain yang disepakati kedua belah pihak.

“Dengan ditandatanganinya PKS ini, Pemkab Paser siap berperan aktif dalam pelaksanaan pidana kerja sosial, memastikan bahwa program ini berjalan efektif, manusiawi, dan bermanfaat,” pungkas Soraya. (nash)

Editor: Agus S

Usulan Kepala Daerah Dipilih DPRD Menguat, Rudy Mas’ud Pilih Ikuti Kebijakan Pemerintah Pusat

0
(Kiri) Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia; (kanan) Gubernur Kaltim, Rudy Mas'ud.

SAMARINDA — Ketua DPP Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, kembali menyuarakan usulan agar pemilihan kepala daerah dilakukan melalui DPRD. Hal itu ia sampaikan dalam pidatonya pada HUT ke-61 Partai Golkar di Jakarta, Jumat (5/12/2025), di hadapan Presiden Prabowo Subianto.

“Setelah kita mengkaji, alangkah lebih baiknya memang kita lakukan sesuai dengan pemilihan lewat DPR kabupaten/kota biar tidak lagi pusing-pusing. Saya yakin ini perlu kajian mendalam,” ujar Menteri ESDM tersebut. (um)

Usulan ini bukan hal baru. Presiden Prabowo sendiri pernah menyampaikan gagasan serupa pada 12 Desember 2024. Gagasan itu menuai perdebatan karena dinilai berpotensi mengurangi peran langsung rakyat dalam memilih pemimpin daerah, meski alasan efisiensi anggaran turut menjadi pertimbangan.

Menanggapi hal tersebut, Ketua DPD Partai Golkar Kaltim sekaligus Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud, memilih tak bersikap keras. Menurutnya, mekanisme pemilihan kepala daerah nantinya sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah pusat melalui regulasi nasional.

“Apakah nanti pemilihan secara langsung ataupun melalui DPRD itu nanti kita serahkan kepada pemerintah pusat. Intinya apa saja yang enggak ada masalah,” kata Rudy.

Rudy juga tidak memberikan komentar tambahan mengenai sikap politiknya terhadap usulan tersebut. Ia menegaskan bahwa Golkar Kaltim akan mengikuti keputusan pusat dan arahan partai.

“Kami akan mendukung apapun kebijakan daripada pemerintah pusat,” tegasnya. (um)

Editor: Agus S

Pesan Neni di Puncak 16 HAKTP: Kemajuan Kota Diukur dari Bagaimana Memperlakukan Warga Rentan

0
Wali Kota Neni saat menghadiri puncak peringatan 16 HAKTP. (Ist)

BONTANG – Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, menegaskan, kemajuan kota tidak diukur dari gedung pencakar langit, melainkan dari bagaimana ia memperlakukan warganya yang paling rentan. Hal itu ia sampaika saat menghadiri Puncak Peringatan 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16 HAKTP) dan Hari Disabilitas Internasional (HDI) Tahun 2025 beberapa waktu lalu.

“Ketika perempuan dihargai dan penyandang disabilitas diberikan ruang untuk tumbuh, maka sesungguhnya kota ini sedang bergerak menuju kemajuan,” ujar Wali Kota Neni, disambut anggukan setuju dari para hadirin.

Namun, di balik perayaan inklusivitas tersebut, terselip data yang menjadi “alarm” bagi kita semua. Kepala DP3AKB, Eddy Foreswanto, membuka fakta bahwa grafik kasus kekerasan di Bontang masih fluktuatif. Setelah sempat turun di 2023, angka kasus kembali naik menjadi 140 pada 2024, dan tercatat 88 kasus hingga Oktober 2025.

Menanggapi hal ini, Wali Kota Neni menyoroti tantangan baru di era digital. Mengutip survei PIK-R 2025, sebanyak 56,9 persen remaja mengalami tekanan psikis akibat konten berisiko.
“Orang tua adalah madrasah pertama. Kualitas kebersamaan dan pemahaman literasi digital di rumah adalah benteng utama untuk melindungi anak dari risiko kekerasan, baik di dunia nyata maupun daring,” pesannya mengingatkan peran keluarga.

Acara ini bukan sekadar seremonial. Komitmen pemerintah dipertegas dengan rencana penandatanganan Pengarusutamaan Gender (PUG) dan peluncuran semangat “SAKTI” (Stop menyakiti, Awasi, Kasih empati, Teguhkan hati, dan Inovasi digital).

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Neni: Aktivitas Ekonomi Tak Boleh Mematikan Masa Depan Ekologi

0
Wali Kota Neni saat ikut menanam pohon. (Ist)

BONTANG – Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, mengingatkan bahwa aktivitas ekonomi tidak boleh mematikan masa depan ekologi. Hal itu diungkapkan saat menghadiri seremonial Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) 2025 yang digelar oleh PT Indominco Mandiri, Senin pagi (8/12/2025).

Neni menekankan poin krusial mengenai tanggung jawab korporasi. Menurutnya, pemanfaatan sumber daya alam harus berjalan seirama dengan upaya konservasi.
“Pemeliharaan lingkungan adalah bagian dari pembangunan berkelanjutan. Tidak boleh ada eksploitasi tanpa diimbangi pemulihan,” ujar Neni dengan nada tegas dalam sambutannya.

Neni juga menyoroti peran vital mangrove sebagai benteng alami pesisir Bontang. Ia menyebut mangrove bukan sekadar tumbuhan, melainkan penyedia oksigen, penahan abrasi, dan penopang utama kehidupan laut.

Namun, wali kota mengingatkan bahwa menanam pohon tidak boleh hanya menjadi ritual seremonial yang dilakukan setahun sekali.
“Menanam bukan hanya pada tanggal tertentu. Menanam harus menjadi kebiasaan harian kita sebagai wujud tanggung jawab terhadap generasi berikutnya,” pesannya.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Kuota BBM Surplus, tapi Tetap Mengular, Salah Siapa?

0
Ilustrasi (Ist)

BONTANG – Antrean panjang Bahan Bakar Minyak (BBM) hampir menjadi pemandangan sehari-hari di Kota Bontang. Tidak hanya antrean pertalite, truk-truk pemburu solar pun saban hari terlihat ‘nongkrong’ di sekitar SPBU.

Banyak faktor menyebabkan antrean mengular: mulai persoalan kuota, maraknya pengetab BBM, hingga distribusi yang tidak presisi. Persoalan ini ibarat benang kusut yang saling berkaitan.

Beberapa pekan terakhir, antrean kembali terjadi di berbagai SPBU. Melihat kondisi ini, Anggota Komisi B DPRD Bontang menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Pertamina, pengelola SPBU, dan Pemkot Bontang.

DPRD: PENYEBABNYA BUKAN KUOTA
Anggota Komisi B menyoroti sejumlah penyebab masyarakat sulit mendapatkan BBM.

Wakil Ketua Komisi B DPRD Bontang, Winardi, mengatakan antrean terjadi karena stok BBM di SPBU cepat habis pada pagi hingga siang hari, lalu kosong hingga sore. Ia menilai kondisi ini tidak wajar karena secara data, kuota BBM Bontang justru selalu surplus.

“Di lapangan, jam 9 sampai 10 pagi sudah mulai habis, baru terisi lagi sore hari. Ini yang membuat antrean sangat panjang,” ujarnya.

Anggota Komisi B, Nursalam, juga menyoroti lemahnya perencanaan distribusi. Jika stok diperkirakan habis pada siang hari, mobil tangki seharusnya diberangkatkan lebih awal agar tidak terjadi jeda pasokan.

Sementara itu, Suharno menegaskan bahwa hingga November 2025, konsumsi Pertalite dan Solar masih jauh di bawah kuota tahunan.

Untuk Pertalite, kuota 2025 sebesar 226.287 kl, namun hingga November baru terpakai 216.667 kl. Dengan konsumsi rata-rata 1.967 kl per bulan, masih tersisa sekitar 4.620 kl untuk Desember.

“Jika kebutuhan Desember sekitar 2.000 kl, berarti ada sisa sekitar 2.600 kl yang tidak terpakai. Pertanyaannya, ini mau ke mana? Sementara Januari 2026 sudah masuk kuota baru,” tegasnya.

Hal serupa terjadi pada Solar. Dari kuota 15.667 kl, hingga November baru terealisasi 12.580 kl. Dengan kebutuhan riil 1.143 kl per bulan, diperkirakan ada sisa 1.800–2.000 kl di akhir tahun.

Ia menegaskan antrean BBM di Bontang bukan disebabkan kurangnya kuota, tetapi persoalan teknis distribusi.

“Kalau stoknya masih sisa, berarti ini bukan soal kuota. Ini murni teknis. Misalnya SPBU buka jam enam, tapi mobil tangki baru datang jam delapan. Itu harus dibenahi,” ujarnya.

Pernyataan anggota dewan ini diperkuat perwakilan SPBU Tanjung Laut, Buyung. Ia mengatakan pasokan dari depot tidak selalu sesuai kebutuhan riil.

“Dulu kami menerima 24 kiloliter per hari. Sekarang hanya 16 kl lalu diselingi 8 kl. Akibatnya stok cepat habis. Kalau buka jam enam pagi, jam satu siang sudah kosong,” jelasnya.

DISTRIBUSI JADI PEMICU ANTREAN
Perwakilan Checker Pertamina wilayah Bontang, Rahman, mengakui distribusi menjadi faktor utama antrean.

Ia menjelaskan keterlambatan pasokan dipicu cuaca buruk di Terminal BBM (TBBM). Kapal tangki terlambat sandar di TBBM Samarinda sehingga distribusi ke SPBU ikut tertunda.

“Selama ini mobil tangki berangkat dari Samarinda pada shift siang, sehingga baru tiba di Bontang sore hari. Sekarang sudah kami ubah ke shift pagi agar tiba sekitar jam 10 pagi,” terangnya.

Pertamina juga memperketat pemeriksaan kualitas dan kuantitas BBM menyusul kasus kontaminasi BBM di Jawa. Proses ini membuat waktu bongkar muat lebih lama, namun dinilai perlu untuk menjaga mutu.

AKAR MASALAH DISTRIBUSI TAK TEPAT WAKTU
Komisi B DPRD Bontang menyimpulkan antrean panjang bukan disebabkan kesalahan SPBU, melainkan distribusi yang tidak tepat waktu dan sistem pelayanan yang lambat.

“Koordinasi antara Pertamina, depot, dan SPBU harus diperbaiki. Kota ini kecil, seharusnya distribusi bisa diatur lebih presisi agar masyarakat tidak terus dirugikan,” tegas Winardi.

Meski kuota secara administrasi masih tersisa, Winardi menilai persoalan utama bukan pada angkanya, tetapi pengawasan distribusi di lapangan.

“Kalau secara angka kita surplus, tapi masyarakat tetap antre, berarti ada masalah distribusi. Tugas kita bukan hanya mengawal kuota, tapi memastikan penyalurannya berjalan,” ujarnya.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Stok BBM Bontang Dipastikan Aman hingga Akhir Tahun, Distribusi Non-Subsidi Kembali Lancar

0
Ilustrasi. (ist)

BONTANG – Ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Kota Bontang dipastikan dalam kondisi aman menjelang akhir tahun. Pemerintah Kota Bontang menegaskan, masyarakat tidak perlu khawatir, termasuk jelang perayaan Nataru

Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam (PSDA) Setda Bontang, Moch. Arif Rokhman menyampaikan, bahwa hasil rapat bersama tim menunjukkan kuota BBM subsidi masih tersisa cukup besar. “Stok BBM aman sampai akhir tahun, terutama untuk jenis subsidi,” ujarnya, Rabu (10/12/2025)

Dalam laporan tahunan, Bontang memperoleh jatah solar sebesar 18.751 kiloliter (KL) dari usulan 41.681 KL. Untuk pertalite, kuota yang disetujui mencapai 26.907 KL dari pengajuan 76.768 KL

Hingga November 2025, penyaluran solar telah mencapai 15.568 KL, sementara pertalite terserap 22.233 KL. Dengan demikian, masih tersedia 3.183 KL solar dan 4.674 KL pertalite. Jumlah tersebut dinilai lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga pergantian tahun

Ia mengatakan, konsumsi BBM di wilayah Bontang tidak terlalu besar. Dalam satu bulan, pemakaian solar rata-rata 1.500 KL dan pertalite sekitar 2.000 KL yang didistribusikan ke enam SPBU.

“Rata-rata realisasi SPBU tiap bulan memang tidak tinggi. Karena itu, kuota yang tersisa sangat mencukupi,” jelasnya.

Ia juga menjelaskan, bahwa beberapa waktu lalu distribusi Pertamax ke Bontang sempat tersendat akibat masalah teknis dari pemasok. Kondisi tersebut menyebabkan keterlambatan sementara pengiriman BBM non-subsidi.

“Sekarang sudah tidak ada kendala. Distribusi Pertamax dan BBM non-subsidi lainnya kembali normal,” tegasnya.

Ia memastikan persediaan seluruh jenis BBM non-subsidi juga aman hingga akhir tahun, karena tidak dibatasi kuota seperti BBM subsidi. Menurutnya, pasokan non-subsidi sepenuhnya bergantung pada permintaan dan kemampuan suplai masing-masing SPBU. “Kalau subsidi ada batasnya, tapi untuk non-subsidi sesuai kebutuhan lapangan,” tambahnya.

Penulis; Syakurah
Editor: Yusva Alam