Beranda blog Halaman 47

Mobil Rp8,5 M Batal Dibeli, Mekanisme Pengembalian Jadi Sorotan

0
Foto: Ilustrasi (AI)

SAMARINDA — Keputusan Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud membatalkan pembelian mobil dinas senilai Rp8,5 miliar memang meredakan tekanan publik. Namun, polemiknya belum sepenuhnya selesai. Dari kesepakatan pengembalian dana (refund) oleh penyedia, simpang siur keberadaan unit, hingga kritik soal mekanisme hukum, kasus ini masih menyisakan pertanyaan mendasar tentang tata kelola anggaran.

Mobil yang dimaksud adalah Range Rover 3.0 LWB Autobiography PHEV P460e senilai Rp8,49 miliar. Unit tersebut telah diserahterimakan pada 20 November 2025. Meski begitu, Pemprov Kaltim menyatakan kendaraan itu belum pernah digunakan untuk operasional gubernur.

Keputusan pembatalan diumumkan langsung oleh Rudy melalui rekaman suara di akun media sosial pribadinya, Senin (2/3/2026).

“Pemerintah yang baik adalah pemerintah yang mau mendengar dan berani mengambil keputusan yang tepat demi kepentingan rakyat,” tegasnya, sembari menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat, khususnya warga Kaltim.

Ia memastikan pembatalan tersebut tidak mengganggu roda pemerintahan. “Pelayanan publik tetap berjalan optimal. Fokus kita tetap pada kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Refund Disepakati, Dana Dikembalikan 14 Hari

Direktur CV Afisera Samarinda, Subhan, menyatakan menerima pengembalian unit tanpa keberatan. Surat pengembalian diterima pada 28 Februari 2026.

“Kami menerima proses pengembalian. Dana akan dikembalikan sesuai jumlah yang telah dikeluarkan kas daerah,” ujarnya dalam konferensi pers bersama Kepala Diskominfo Kaltim, Muhammad Faisal.

Mekanisme yang ditempuh adalah serah terima kembali unit kendaraan disertai penandatanganan berita acara. Dana dikembalikan maksimal 14 hari sesuai prosedur administrasi.

“Tidak ada pihak yang dirugikan. Ini juga soal norma. Kalau norma berbicara, bisa di atas hukum,” ucap Subhan.

Faisal menambahkan, pembatalan dimungkinkan setelah pemerintah membuka kembali kajian regulasi.

“Kami cek ulang, ternyata memungkinkan sepanjang penyedia bersedia menerima kembali unit tersebut,” jelasnya.

Pemprov menargetkan proses administrasi rampung sebelum tenggat laporan keuangan daerah pada 20–22 Maret 2026.

Mobil di Jakarta? Badan Penghubung Tak Tahu

Sebelumnya, Pemprov menyebut unit mobil masih berada di Jakarta. Namun penelusuran wartawan Media Kaltim ke Kantor Badan Penghubung Kaltim tidak menemukan kendaraan tersebut.

Seorang petugas keamanan mengaku tak pernah melihat mobil yang menjadi sorotan itu. “Kalau ada pasti saya tahu,” ujarnya.

Plt Tata Usaha Badan Penghubung, Ari, juga menyatakan tidak mengetahui keberadaan unit tersebut. Pantauan di lokasi hanya menunjukkan kendaraan dinas seperti Avanza, Innova, Hyundai IONIQ 5, dan Pajero Sport Dakar.

Viral Range Rover Putih KT 1

Di tengah proses pengembalian, publik kembali dihebohkan kemunculan Range Rover putih berpelat KT 1 yang digunakan Rudy saat menghadiri pelantikan Kadin Kaltim di IKN.

Faisal kembali meluruskan. “Itu mobil pribadi gubernur. Ada dua kendaraan pribadi beliau, yang putih dan Defender hitam,” tegasnya.

Ia memastikan mobil dinas yang dibatalkan belum pernah digunakan dan masih berada di Jakarta.

Subhan mengakui kendaraan yang viral kemungkinan jenisnya sama, namun spesifikasi belum tentu identik.

Meski klarifikasi disampaikan, persepsi publik telanjur terbentuk: pembelian dibatalkan, tetapi simbol kendaraan mewah tetap terlihat.

Dimensi Hukum dan Politik

Pengamat hukum Universitas Mulawarman, Herdiansyah Hamzah, menilai dalam hukum positif tidak dikenal istilah pembatalan transaksi setelah pembayaran menggunakan uang negara.

“Begitu dibayar dengan uang negara, peristiwanya selesai. Kalau mau dilepas, mekanismenya melalui lelang negara,” ujarnya.

Menurutnya, jika nilai jual kembali lebih rendah, potensi selisih harga bisa menjadi persoalan pertanggungjawaban.

Dari sisi politik, Ketua DPW PKB Kaltim Syafruddin mempertanyakan mekanisme teknis pengembalian. “Kita dengar ada itikad baik. Tapi mekanismenya bagaimana? Ini harus jelas agar tidak menimbulkan persoalan baru,” tegasnya.

Pewarta: Tim Redaksi MKN
Editor: Agus S

Hasil Penertiban Penjualan Miras: 57 Botol Ilegal Disita

0
Polisi saat melakukan penertiban penjualan miras. (Ist).

BONTANG – Polres Bontang melalui Satuan Samapta, melakukan penertiban penjualan minuman beralkohol tanpa izin di sejumlah titik di wilayah Kota Bontang, Kamis (26/2/2026) malam lalu.

Operasi berlangsung mulai pukul 22.00 Wita hingga pukul 02.00 Wita. Petugas mengamankan sebanyak 57 botol minuman keras (miras) pabrikan.

Adapun lokasi yang menjadi sasaran penertiban meliputi beberapa toko di wilayah Bontang Barat dan Bontang Utara. Petugas memeriksa sebanyak empat toko yang menjadi operasi pengamanan miras, meliputi salah satu toko, Jalan Damai, Kelurahan Kanaan, Bontang Barat.

Selanjutnya di salah satu toko yang berada di Jalan Soekarno Hatta, tepatnya di depan RSUD Taman Husada, Kelurahan Kanaan, Bontang Barat. Toko di Jalan Brigjen Katamso, Kelurahan Belimbing, Bontang Barat. Hingga sampai di toko, Jalan Aip II KS Tubun, RT 15, Bontang Kuala, Bontang Utara.

“Jadi dalam pemeriksaan di empat lokasi tersebut, petugas menemukan berbagai jenis minuman beralkohol yang dijual tanpa izin resmi. Seluruh barang bukti langsung diamankan oleh petugas, dan dibawa langsung ke Mako Polres Bontang untuk proses lebih lanjut,” ucap Kasat Sat Samapta Polres Bontang, AKP Mohamad Yazid, Senin (2/3/2026).

Secara keseluruhan, barang bukti yang disita terdiri dari 20 botol bir hitam merek Guinnes, 8 botol anggur merah merek Orang Tua, 7 botol bir putih merek Singaraja, 4 botol anggur merah gold merek Orang Tua, 3 botol bir putih merek Bintang, 3 botol bir merek Colessom.

Adapun 3 botol anggur putih merek Api, 3 botol anggur hijau merek Kawa Kawa, 2 botol anggur leci merek Atlas, 2 botol anggur leci merek Arcadia, serta masing-masing 1 botol anggur merek Alexis dan Balega. Maka secara keseluruhan terdapat 57 botol miras pabrikan.

“Selain melakukan penyitaan, kami juga mendata para pemilik warung dan memberikan pembinaan agar tidak lagi menjual miras tanpa izin,” tambahnya.

Selanjutnya, AKP Mohamad Yazid turut menegaskan bahwa penertiban ini merupakan bagian dari upaya menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) di Bontang, terutama menjelang berbagai momentum kegiatan masyarakat.

“Selama kegiatan berlangsung situasi Kamtibmas di wilayah hukum Polres Bontang dalam keadaan aman, tertib, dan terkendali. Tidak ditemukan adanya perlawanan maupun kendala yang menghambat jalannya operasi,” ujarnya.

Polres Bontang mengimbau masyarakat untuk turut berperan aktif, agar masyarakat dapat melaporkan apabila menemukan adanya peredaran miras ilegal di masing-masing lingkungan.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Tercover BPJS, Kini Korban Gigitan Buaya di Loktuan Berangsur Membaik

0
Kondisi korban gigitan buaya mulai membaik. (Dwi/RadarBontang).

BONTANG – Bocah korban serangan buaya di wilayah rawa-rawa, Kelurahan Loktuan, Kota Bontang beberapa waktu lalu kini telah mendapatkan jaminan pelayanan BPJS Kesehatan.

Sebelumnya, korban diketahui tidak memiliki BPJS maupun Kartu Keluarga (KK), sehingga sempat mengalami kendala dalam proses administrasi di Rumah Sakit (RS) maupun pembiayaan perawatan medis.

Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni menjelaskan bahwa untuk saat ini kondisi korban mulai berangsur membaik. Akan tetapi korban masih sangat membutuhkan perawatan insentif di RS.

“Awalnya korban tidak punya BPJS, bahkan KK pun juga tidak ada. Jadi kami terus berkoordinasi agar bisa dibikinkan BPJS. Alhamdulillah, dua hari lalu BPJS-nya sudah aktif,” ucapnya saat ditemui, Selasa (3/3/2026).

Selain itu, Neni membeberkan bahwa apabila tidak ada jaminan seperti BPJS Kesehatan, maka untuk biaya perawatannya di RS mencapai Rp 28 Juta. Seluruh biaya tersebut harus ditanggung secara mandiri. Namun setelah kepesertaan aktif, biaya pengobatan kini telah tercover oleh BPJS Kesehatan.

“Kebetulan ini anaknya masuk kategori kurang mampu bahkan KK pun tidak punya, dan kebetulan ada keluarganya yang bekerja di Setwan paruh waktu. Jadi sudah biasa mengurus-ngurus, dibikinkan lah BPJS-nya. Sekarang sudah aman, tinggal masa pemulihan,” tambahnya.

Pihak keluarga mengapresiasi dukungan Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang yang membantu memproses administrasi. Mengingat kondisi ekonomi keluarga yang kurang mampu, pengurusan administrasi pun dipercepat, termasuk pembuatan KK yang sebelumnya belum dimiliki korban.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Kemenhaj Bontang Tak Miliki Data Jemaah Umrah Terdampak Perang AS-Israel dan Iran, Ini Alasannya

0
Ilustrasi. (AI)

BONTANG – Isu penutupan bandara di Arab Saudi beredar luas dan memicu kekhawatiran terkait keberangkatan jemaah haji dan umrah, termasuk dari wilayah Kalimantan Timur. Menanggapi hal tersebut, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kota Bontang memastikan belum ada jemaah haji asal Bontang yang terdampak.

Kepala Kemenhaj Kota Bontang, Najamuddin, menjelaskan bahwa jadwal keberangkatan haji untuk kloter pertama masih pada 22 April mendatang.

“Kalau haji, kloter pertama kita berangkat 22 April. Jadi masih sekitar satu bulan setengah lagi. Untuk kloter berikutnya bahkan di Bulan Mei,” ujarnya, Senin (2/3/2026).

Menurutnya, dengan rentang waktu tersebut, pihaknya berharap situasi di Timur Tengah segera mereda sebelum jadwal keberangkatan tiba.

Ia juga menyinggung pengalaman sebelumnya saat terjadi ketegangan antara Israel dan Iran pada tahun lalu. Kala itu, ada jemaah dari salah satu daerah di Pulau Jawa yang sempat tertahan satu hingga dua hari karena jadwal kepulangan bertepatan dengan situasi konflik.

“Pengalaman sebelumnya memang ada yang tertunda satu dua hari. Termasuk waktu pandemi Covid-19, ada juga penundaan. Tapi prinsipnya, kalau sampai terjadi penundaan, jemaah tetap prioritas sesuai nomor urut keberangkatan,” jelasnya.

Untuk saat ini, Najamuddin memastikan tidak ada jemaah haji asal Bontang yang sedang berada di Tanah Suci.

Sementara itu, terkait jemaah umrah, pihaknya mengakui pendataan lebih sulit dilakukan. Pasalnya, pelaksanaan umrah berada di bawah koordinasi Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia yang kini terpisah dari Kementerian Agama Republik Indonesia.

“Umrah ini melalui travel. Travel bisa dari Bontang atau luar daerah. Bahkan sekarang ada umrah mandiri, tanpa travel. Jadi makin sulit terdata,” terangnya.

Ke depan, lanjutnya, ada rencana agar seluruh jemaah umrah diinapkan terlebih dahulu di asrama haji sebelum keberangkatan. Kebijakan ini bertujuan untuk memudahkan pendataan dan pengawasan jemaah secara nasional.

“Supaya data jemaah lebih jelas dan tidak terkesan lepas begitu saja,” tambahnya.

Travel Pastikan Jemaah Aman

Di sisi lain, salah satu perwakilan travel umrah di Kota Bontang, Wiwik memastikan jemaah mereka dalam kondisi aman.

“Alhamdulillah yang di Tanah Suci masih ibadah, aman saja. Sebagian juga sudah kembali sebelum serangan,” ujarnya

Ia menambahkan, seluruh jemaah pulang sesuai jadwal, termasuk yang kembali hari ini. Adapun pembatalan penerbangan disebut hanya terjadi pada penerbangan transit dari dan menuju beberapa bandara di kawasan Timur Tengah.

“Alhamdulillah jemaah kami yang berangkat 28 Februari sudah sampai Madinah semua,” ungkapnya.

Sejauh ini, belum ada laporan resmi terkait jumlah warga Bontang yang tertunda ibadah umrahnya akibat isu penutupan bandara tersebut. Pihak Kemenhaj pun terus melakukan koordinasi dan pemantauan perkembangan situasi untuk memastikan keamanan dan kelancaran ibadah jemaah.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Isu Rp 9 M untuk Satu Ambulans Mencuat, Ini Penjelasan Pemkab Kutim

0
Anggaran Rp 9 miliar itu diperuntukkan bagi 40 unit ambulans operasional. (Istimewa)

SANGATTA – Isu pengadaan ambulans Rp9 miliar yang disebut-sebut hanya untuk satu unit kendaraan sempat bikin gaduh ruang publik. Informasi itu cepat menyebar di media sosial dan memantik tanda tanya warga. Namun, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) tak tinggal diam, pemerintah langsung angkat bicara.

Faktanya? Anggaran Rp9 miliar tersebut bukan untuk satu ambulans, melainkan untuk 40 unit ambulans operasional.

Kepala Bagian Umum Setkab Kutim, Uud Sudiharjo, menegaskan kabar yang beredar tidak utuh sehingga menimbulkan tafsir keliru di masyarakat.

“Anggaran Rp9 miliar itu diperuntukkan bagi 40 unit ambulans operasional, bukan satu unit seperti yang beredar. Seluruh proses pengadaan sudah sesuai ketentuan dan dapat dipertanggungjawabkan,” tegasnya, Senin (2/3/2026).

Jika dihitung rata-rata, nilai per unit ambulans sekitar Rp225 juta. Spesifikasi kendaraan disesuaikan untuk pelayanan kesehatan dasar dan kebutuhan operasional sosial di lapangan. Artinya, ambulans tersebut bukan kendaraan mewah, melainkan unit standar layanan kesehatan masyarakat.

Langkah pengadaan ini, lanjut Uud, merupakan bagian dari strategi memperluas jangkauan pelayanan kesehatan di Kutim yang memiliki wilayah geografis luas. Keberadaan ambulans dinilai krusial untuk mempercepat mobilitas pasien menuju fasilitas kesehatan, terutama dalam kondisi darurat.

Tak hanya ditempatkan di fasilitas kesehatan formal, 40 unit ambulans itu juga disalurkan ke berbagai elemen masyarakat. Rinciannya: sembilan masjid, sembilan kerukunan, tiga yayasan, lima desa, enam RT, Palang Merah Indonesia (PMI), serta sejumlah organisasi kemasyarakatan dan keagamaan lainnya.

Distribusi ini dimaksudkan agar akses layanan darurat makin dekat dengan warga. Dengan ambulans yang tersebar di titik-titik komunitas, respons terhadap warga sakit atau kondisi genting diharapkan lebih cepat.

Teguh, pengurus Masjid Al Hidayah di Jalan APT Pranoto, Sangatta, mengaku bantuan tersebut sangat membantu aktivitas sosial di lingkungannya.

“Kami sangat bersyukur menerima ambulans ini. Sekarang kalau ada warga yang membutuhkan penanganan cepat, kami bisa langsung bergerak,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan Siswanto, pengurus Masjid Baabul Jannah di Teluk Rawa, Kabo Jaya. Menurutnya, keberadaan ambulans menjadi sarana vital bagi masyarakat sekitar.

“Ambulans ini sangat penting untuk membantu warga yang sakit atau dalam keadaan darurat. Manfaatnya langsung dirasakan,” katanya.

Di sisi lain, Pemkab Kutim menegaskan komitmennya terhadap prinsip transparansi dan akuntabilitas anggaran. Setiap penggunaan APBD, termasuk pengadaan ambulans, dapat diawasi sesuai mekanisme oleh DPRD maupun lembaga pengawas lainnya.

Melalui klarifikasi ini, pemerintah daerah mengimbau masyarakat agar tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi. Di tengah derasnya arus informasi, sumber resmi dinilai menjadi rujukan utama agar publik mendapatkan gambaran yang utuh dan tidak terjebak pada potongan data yang menyesatkan.

Penulis: Ramlah
Editor: Yusva Alam

Datang ke IKN, Gubernur Rudy Setir Sendiri Range Rover Putih

0
Mobil yang dinaiki Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud saat menghadiri pelantikan pengurus Kadin Kaltim di Kemenko 3 KIPP IKN, Senin (2/3/2026). (Atmaja Riski)

NUSANTARA – Pelantikan pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kalimantan Timur di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) Ibu Kota Nusantara (IKN), Senin (2/3/2026), diwarnai perhatian pada kendaraan yang digunakan Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud.

Rudy tiba di Kemenko 3 menggunakan Range Rover putih bermotif cokelat keemasan dengan nomor polisi KT 1 (pelat putih). Selama kegiatan berlangsung di Multifunction Hall, kendaraan tersebut tampak terparkir di bagian depan gedung.

Momen menarik terjadi saat gubernur hendak meninggalkan lokasi acara. Sejumlah pengurus Kadin yang mengantarnya ke luar gedung sempat melontarkan candaan.

“Inikah mobil itu,” celetuk salah seorang di antaranya.

Rudy pun menanggapi dengan santai sambil tertawa. “Sebelum mobil itu datang, sudah mobil kita yang turun,” ujarnya sembari menepuk bagian pintu kiri kendaraan. Suasana pun langsung riuh oleh gelak tawa.

Gubernur diketahui menyetiri sendiri kendaraan tersebut saat datang maupun meninggalkan lokasi.

Kemunculan mobil itu tak lepas dari perbincangan publik, menyusul polemik mobil dinas Gubernur Kaltim yang sempat menjadi sorotan karena nilai pengadaannya mencapai Rp8,5 miliar dan kini dalam proses pengembalian.

Berdasarkan penelusuran harga pasar, kendaraan Range Rover dengan spesifikasi serupa berada pada kisaran Rp7,66 miliar hingga Rp10,94 miliar, tergantung tipe dan variannya. (MK)

Editor: Agus S

Video Range Rover Putih Hebohkan Publik, Diskominfo: Itu Kendaraan Pribadi

0
Mobil Gubernur Kaltim berpelat KT 1 terparkir di kawasan Kemenko 3 IKN saat pelantikan Kadin Kaltim, Senin (2/3/2026). (Rizky/Media Kaltim)

SAMARINDA — Polemik mobil dinas Gubernur Kaltim kembali memanas. Di tengah proses pengembalian unit Range Rover senilai Rp8,49 miliar, publik dihebohkan dengan video viral yang memperlihatkan kendaraan berwarna putih berpelat KT 1 melintas di Samarinda dan kawasan IKN.

Video tersebut memicu spekulasi. Banyak warganet menduga kendaraan itu adalah unit mobil dinas yang sebelumnya diumumkan dibatalkan pembeliannya. Padahal, Pemprov Kaltim telah menyatakan mobil dinas tersebut masih berada di Jakarta dan belum pernah digunakan.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kaltim, Muhammad Faisal, langsung memberikan klarifikasi tegas. Ia memastikan kendaraan yang viral bukanlah mobil dinas yang sedang dalam proses pengembalian.

“Tidak sama. Coba lihat dari samping, pelatnya KT 1. Itu mobil pribadi gubernur. Ada dua kendaraan pribadi beliau, yang putih dan Defender hitam,” tegas Faisal, Senin (2/3/2026).

Menurutnya, mobil dinas yang dibatalkan hingga kini belum keluar dari Jakarta. Bahkan, kata dia, kendaraan tersebut belum dipasangi pelat nomor dan belum pernah dioperasikan.

Range Rover putih berpelat KT 1 yang digunakan Gubernur Kaltim saat menghadiri pengukuhan Kadin Kaltim di IKN. (Rizky/Media Kaltim)

“Mobil itu belum jalan sama sekali. Masih di Jakarta, plastik pelindungnya pun masih ada. Saya jamin itu bukan mobil yang kami rilis hari ini,” ujarnya.

Faisal menambahkan, kesamaan merek atau tipe kendaraan tidak otomatis menunjukkan kesamaan status kepemilikan.

“Kalau seseorang punya mobil perusahaan dan mobil pribadi dengan merek sama, tetap saja beda kepemilikan. Ini jangan dicampuradukkan,” katanya.

Sementara itu, Direktur CV Afisera Samarinda selaku penyedia, Subhan, mengakui kendaraan yang viral kemungkinan memiliki jenis yang serupa. Namun ia menegaskan spesifikasi teknis tidak bisa dipastikan hanya dari tampilan luar.

“Itu jenis yang sama mungkin, tapi spesifikasinya belum tentu sama dengan unit yang dikembalikan,” jelasnya.

Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud meninggalkani lokasi pelantikan Kadin Kaltim di Kemenko 3 IKN, Senin (2/3/2026). (Rizky Maulana/Media Kaltim)

Sebelumnya, CV Afisera menyatakan siap menerima pengembalian unit dan mengembalikan dana sepenuhnya ke kas daerah setelah proses administrasi selesai.

Di tengah sorotan publik, Pemprov memastikan Gubernur Rudy Mas’ud tetap beraktivitas menggunakan kendaraan operasional lama milik pemerintah daerah. Faisal menyebut, dalam beberapa kesempatan, gubernur juga menggunakan kendaraan pribadi saat meninjau lapangan.

“Pak gubernur tidak ada masalah. Untuk operasional, beliau gunakan kendaraan yang ada. Kalau medan berat, beliau kadang pakai kendaraan pribadi karena memang senang menyetir sendiri,” tutupnya.(MK)

Editor: Agus S

Hasil Mediasi, Ojol Diperbolehkan Masuk Melalui Tiga Pintu di PC PKT

0
VP Keamanan di PKT, I Made Darmadi Giri saat ditemui awak media. (Dwi/RadarBontang).

BONTANG – Aksi ratusan pengemudi ojek online (ojol) meminta kejelasan kebijakan akses masuk ke perumahan PC PKT membuahkan hasil.

Usai mediasi antara pihak keamanan PC PKT dengan ojol, kebijakan berubah dari yang tadinya hanya 1 pintu diperluas jadi 3 pintu.

VP Keamanan PKT, I Made Darmadi Giri menyampaikan bahwa saat ini pintu GOR untuk sementara waktu tetap ditutup. Sementara itu, akses masuk untuk dilalui oleh ojol bakal dibuka, melalui pintu Bontang Kuring, Seruni, dan Wanatirta.

“Untuk di GOR tetap kita tutup sementara, karena ada kegiatan umum yang masih kita batasi. Mulai per hari ini, untuk akses masuk ojol menjadi tiga pintu dari hasil pertemuan tadi,” ucapnya, Senin (2/3/2026) siang.

Made menjelaskan, kebijakan sebelumnya yang hanya membuka satu pintu dilakukan semata-mata demi alasan keamanan di Perumahan PC PKT. Namun setelah dilakukan mediasi bersama dengan para ojol Bontang, telah diputuskan adanya kelonggaran dengan membuka kembali tiga pintu akses tersebut.

Selain itu, pihak keamanan juga memberikan kemudahan prosedur bagi pihak yang hendak melintas. Jika sebelumnya harus meninggalkan sejumlah identitas seperti SIM dan STNK, kini hanya cukup meninggalkan KTP saja, saat melewati pos penjagaan.

“Kalau mau lewat, cukup tinggalkan KTP. Tidak perlu lagi meninggalkan kartu identitas lainnya,” tegasnya.

Sehingga pihak-pihak yang ingin masuk ke kawasan tersebut sudah terdata, dan telah tergabung dalam grup komunikasi WhatsApp bersama dirinya. Hal itu memudahkan koordinasi apabila ditemukan tindakan yang dinilai tidak sesuai kesepakatan, termasuk jika ada oknum petugas keamanan yang bertindak tidak semestinya.

“Mereka sudah masuk dengan kita, sudah terdata, dan punya kontak saya. Kalau ada tindakan negatif di luar kesepakatan dari petugas keamanan, maka silahkan laporkan. Saya punya amanah sebagai pimpinan keamanan di wilayah ini. Kalau anggota saya salah, pasti akan saya tindak dan ingatkan,” bebernya.

Selain itu, Made turut menegaskan bahwa dari hasil mediasi ini, menjadi solusi bersama agar keamanan tetap terjaga tanpa menghambat aktivitas yang telah disepakati.

“Intinya dari satu pintu sekarang menjadi tiga pintu, dan ada kelonggaran cukup meninggalkan KTP saja. Semua ini tetap demi menjaga keamanan,” pungkasnya.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Pasca 12 Tahun Diresmikan, Bandara Uyang Lahai Masih Terkendala Lahan

0
Landasan Bandara Uyang Lahai yang masih berupa tanah membuat pesawat tidak dapat mendarat saat hujan. (Istimewa)

SANGATTA – Sudah diresmikan sejak 19 September 2013, namun hingga kini Bandara Uyang Lahai belum benar-benar bisa berfungsi optimal. Masalah klasiknya belum berubah: landasan pacu masih berupa tanah.

Setiap kali hujan turun, aktivitas penerbangan langsung terhenti. Permukaan runway berubah licin dan berisiko bagi keselamatan pendaratan. Dampaknya, akses udara untuk wilayah pedalaman seperti Kongbeng, Muara Wahau, dan Telen ikut lumpuh.

Bandara yang mulai dibangun sejak 1976 itu sebenarnya digadang-gadang menjadi penghubung strategis kawasan pedalaman Kutai Timur (Kutim). Namun, setelah 12 tahun diresmikan, fasilitas dasarnya belum juga tuntas.

Dari total lahan sepanjang 2.300 meter, landasan yang terbangun baru sekitar 820 meter. Itu pun belum dilapisi aspal ataupun beton. Alhasil, hanya pesawat kecil berkapasitas delapan hingga sembilan penumpang yang bisa mendarat – itupun dengan catatan cuaca bersahabat.

Camat Kongbeng, Petrus Ivung, tak menampik kondisi tersebut sudah berlangsung lama. Ia menilai, pengerasan landasan menjadi solusi mendesak agar bandara tak lagi bergantung pada cuaca.

“Kalau landasan ini sudah dicor, saya yakin pasti tidak ada kendala,” tegas Petrus Ivung saat dikonfirmasi, Senin (2/3/2026).

Menurutnya, keberadaan bandara sangat dibutuhkan, bukan hanya oleh masyarakat pedalaman, tetapi juga perusahaan-perusahaan perkebunan di sekitar wilayah itu. Akses udara dinilai mampu memangkas waktu tempuh dan meningkatkan konektivitas ekonomi.

“Yang seharusnya ini bandara kita sudah dipakai, sudah dimanfaatkan oleh perusahaan-perusahaan sekitar termasuk masyarakat di beberapa kecamatan,” ujarnya.

Tak hanya persoalan fisik, administrasi bandara juga belum sepenuhnya rampung. Dokumen Register Bandar Udara (RBU) belum selesai, sehingga bandara perintis tersebut belum masuk dalam sistem navigasi nasional secara penuh. Kondisi ini membuat operasionalnya belum maksimal.

Padahal, letaknya yang strategis membuat Uyang Lahai berpotensi menjadi simpul transportasi penting di kawasan pedalaman Kutim. Tanpa pengerasan landasan dan kelengkapan administrasi, potensi tersebut masih tertahan.

Pemerintah kecamatan mengaku terus berkoordinasi dengan Pemkab Kutim dan Kementerian Perhubungan untuk mempercepat pembangunan.

“Kita komunikasi dengan pihak kementerian, dan koordinasi dengan pihak Kabupaten Kutim juga. Kita akan bersama-sama,” pungkas Petrus.

Penulis: Ramlah
Editor: Yusva Alam

Jelang Lebaran, Kapolres Kutim Sidak Terminal Bus

0
Kapolres Kutim, AKBP Fauzan Arianto saat melakukan pengecek di terminal dan Armada Bus. (Istimewa)

SANGATTA – Tak mau kecolongan jelang puncak arus mudik Lebaran, jajaran Polres Kutai Timur (Kutim) bergerak cepat. Kapolres Kutai Timur, Fauzan Arianto, melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Terminal Sangatta, Senin (2/3/2026).

Satu per satu armada bus diperiksa. Mulai dari kondisi ban, sistem pengereman, lampu, hingga kelengkapan administrasi kendaraan dan sopir. Tak ada toleransi bagi kendaraan yang tak memenuhi standar keselamatan.

Kapolres menegaskan, langkah ini bagian dari komitmen pengamanan arus mudik melalui Operasi Ketupat Mahakam 2026. Targetnya jelas: menekan angka kecelakaan lalu lintas selama arus mudik dan balik.

“Keselamatan penumpang adalah prioritas utama. Jangan sampai ada kelalaian yang berujung fatal,” tegas Fauzan di sela pengecekan.

Menurutnya, mudik bukan sekadar perjalanan biasa. Ada ribuan harapan dan kebahagiaan keluarga yang dipertaruhkan dalam setiap keberangkatan.

“Pergi harus selamat, berkumpul dengan keluarga dengan bahagia, dan kembali pun harus selamat,” ujarnya.

Tak hanya memeriksa fisik kendaraan, jajaran Satlantas juga mengingatkan para sopir agar menjaga kondisi fisik, tidak memaksakan diri saat lelah, serta tidak ugal-ugalan demi mengejar target setoran.

Pengamanan arus mudik tahun ini diperkuat dengan tiga pendekatan utama. Pertama, rekayasa lalu lintas yang adaptif untuk mengantisipasi lonjakan kendaraan. Kedua, pemanfaatan teknologi pemantauan digital di titik rawan. Ketiga, koordinasi lintas instansi guna memastikan jalur dan fasilitas umum dalam kondisi layak.

Dengan sidak mendadak ini, Polres Kutai Timur berharap masyarakat bisa melakukan perjalanan mudik dengan rasa aman dan nyaman. Target zero kecelakaan bukan sekadar slogan, tetapi komitmen yang terus dikawal hingga arus balik usai.

“Kami tidak ingin ada kabar duka saat Lebaran. Pastikan kendaraan laik jalan, sopir dalam kondisi prima, dan patuhi aturan. Keselamatan penumpang adalah yang utama,” tegas Fauzan.

Penulis: Ramlah
Editor: Yusva Alam