Beranda blog Halaman 48

Musda XI Golkar Samarinda Himpun 1.200 Relawan dan 10 Ketua Kecamatan

0
Ketua Panitia Musda XI Partai Golkar Kota Samarinda, Arie Wibowo. (Nuzul/Media Kaltim)

SAMARINDA – Musyawarah Daerah (Musda) XI Partai Golkar Kota Samarinda menjadi ajang konsolidasi kekuatan partai. Sebanyak 10 ketua pengurus kecamatan dan sekitar 1.200 relawan hadir dalam Musda yang digelar di Hotel Fugo, Jalan Untung Suropati, Samarinda, Sabtu (8/8/2026).

Ketua Panitia Musda XI Golkar Kota Samarinda, Arie Wibowo, mengatakan seluruh rangkaian kegiatan telah dipersiapkan melalui koordinasi antara panitia, Fraksi Golkar Samarinda, tim event organizer (EO), hingga manajemen hotel.

Ia mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan Musda.

“Teman-teman Fraksi Golkar Samarinda, tim EO serta manajemen hotel telah bekerja dengan terkoordinasi mulai dari tahap perencanaan hingga kegiatan ini terlaksana,” ujar Arie.

Menurutnya, kerja bersama tersebut menjadi salah satu kunci kelancaran Musda. Meski demikian, Arie mengakui masih terdapat kekurangan dalam penyelenggaraan dan menyampaikan permohonan maaf apabila terdapat pelayanan yang kurang berkenan.

Musda XI mengusung tema “Golkar Maju Menuju Samarinda Baru”. Arie mengatakan forum tersebut tidak hanya menjadi agenda organisasi, tetapi juga momentum untuk menentukan langkah dan arah perjuangan Golkar Samarinda ke depan.

Kehadiran sekitar 1.200 relawan bersama 10 ketua pengurus kecamatan, menurutnya, menunjukkan besarnya dukungan sekaligus menjadi modal untuk memperkuat konsolidasi partai.

Arie menegaskan Golkar harus semakin dekat dengan masyarakat dan memastikan kerja politik partai memberikan manfaat bagi rakyat.

“Golkar harus menjadi dekat dengan rakyat, hadir di tengah masyarakat, dan terus berjuang untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat,” tegasnya.

Ia kemudian menyerukan seluruh kader dan relawan menjaga kekompakan setelah Musda.

“Bersatu, solid, Golkar maju, rakyat sejahtera,” serunya.

Musda XI menjadi bagian dari konsolidasi Golkar Samarinda untuk memperkuat struktur dan basis dukungan. Setelah forum tersebut, kepengurusan partai diharapkan mampu menerjemahkan tema “Golkar Maju Menuju Samarinda Baru” melalui kerja organisasi dan politik di tengah masyarakat.

Reporter: K Irul Umam
Editor: Agus S.

Mengapa Harus Jauh?

0

ADA satu pertanyaan yang belakangan ini sering muncul di kepala saya. Mengapa harus jauh?

Mengapa harus terbang ke luar negeri untuk mencari pantai yang indah? Mengapa harus ke kota lain untuk menikmati festival, mencoba kuliner, atau menginap di hotel yang nyaman? Padahal, banyak jawabannya justru ada di Kalimantan Timur (Kaltim).

Mungkin karena kita terlalu dekat. Terlalu sering melihatnya, sehingga lupa bahwa banyak orang dari luar justru ingin datang ke sini.

Lewat edisi perdana Weekend ini, kami ingin mengajak pembaca melihat Kaltim dari sudut yang berbeda. Bukan dari berita politik dan bukan pula dari angka-angka investasi. Tetapi dari tempat-tempat yang bisa dinikmati bersama keluarga, sahabat, maupun orang-orang terdekat.

Di halaman-halaman berikutnya, ada Wedding Festival Week yang memperlihatkan geliat industri kreatif. Ada Pulau Segajah di Bontang yang muncul dan menghilang mengikuti pasang surut air laut. Ada Batoq Tenevang di Mahakam Ulu yang menyimpan perpaduan alam dan budaya Dayak. Ada sensasi menikmati Sungai Mahakam dengan jetski listrik. Ada pula cerita tentang industri perhotelan yang terus berbenah menyambut semakin banyaknya kunjungan ke Kaltim.

Semuanya menunjukkan bahwa Kaltim punya banyak hal menarik untuk dinikmati.

Pariwisata hari ini bukan lagi sekadar soal destinasi. Hotel, restoran, kafe, pelaku UMKM, fotografer, event organizer, transportasi, hingga komunitas kreatif saling terhubung. Ketika wisatawan datang, bukan hanya tempat wisata yang mendapat manfaat. Banyak usaha lain ikut bergerak.

Karena itu, Weekend kami hadirkan untuk menceritakan sisi lain Kaltim. Cerita tentang wisata, kuliner, hotel, event, industri kreatif, dan banyak hal menarik lainnya yang mungkin selama ini belum banyak kita ketahui.

Saya ingin Weekend juga membuat kita lebih tertarik menikmati akhir pekan di daerah sendiri. Datang ke destinasi lokal. Mencoba kulinernya. Menginap di hotelnya. Menghadiri event yang digelar. Ujungnya, perputaran ekonomi juga kembali ke masyarakat.

Kaltim punya banyak tempat menarik untuk dikunjungi dan banyak cerita untuk dinikmati.

Jadi, mengapa harus jauh?

Oleh:
Agus Susanto

Ter?

0

Catatan:
SB Silaban

40 persen kios dan lapak masih kosong.
Pembeli tak sesuai harapan. Omzet kecil. Syukur-syukur kalau cukup untuk makan.

Itulah kabar tentang Pasar Pagi (baru) Samarinda. Bangunannya megah sekali untuk kelas pasar. Tujuh lantai. 2.500 kios dan lapak. Eskalator. Eksterior yang cukup menarik.

Baru-baru ini, ketua dan anggota sebuah komisi di DPRD Samarinda berkeliling di sini. Empat jam. Kesimpulan sementara: pasar ini belum memberi hasil secara signifikan bagi (sebagian besar) pedagang.

Sejak awal, saya termasuk yang heran kenapa Pasar Pagi dibangun dalam skala yang sekarang. Dengan biaya hampir Rp500 miliar. Saya membatin: untuk apa? Kenapa tak merenovasi total 3-4 pasar lainnya? Agar konsumen tak menumpuk di situ.

Saat membaca rencana pembangunannya beberapa tahun lalu, saya terpikir tentang perubahan pola belanja masyarakat yang sebagian bergeser ke belanja online.

Lalu: kebutuhan menyebarkan lebih banyak pusat belanja di antara 10 kecamatan di kota ini. Kaitannya dengan memecah kepadatan agar tak menumpuk di titik tertentu.

Beberapa bulan lalu, Pasar Pagi pun selesai dibangun. Setelah ditempati, dalam tiga bulan terakhir, tiap kali ada pemberitaan tentang Pasar Pagi, di luar kisruh pembagian kios dan lapak, saya agak jarang menemukan apresiasi seperti ini: Bangunan baru pasti mendatangkan cuan lebih besar. Pasar begini yang dibutuhkan masyarakat. Pas untuk perkembangan kota. Dan lain-lain dengan apresiasi senada itu.

Tentu terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa kondisi “kurang cuan” saat ini akan terus begitu. Atau lebih jelek. Bisa saja tahun depan situasinya bikin sebagian besar pedagang tersenyum lebar.

Namun, jika yang terjadi adalah kondisi stagnan dan situasi kurang cuan terus berlangsung, Pasar Pagi tampaknya akan menjadi catatan minus bagi Andi Harun sebagai wali kota.

Pasar Pagi yang megah, yang diharapkan sebagai landmark Samarinda, justru bisa menjadi penanda buram era Andi Harun yang menjabat sejak 2020.

Saya hampir yakin, Andi Harun pasti ingin dikenang lewat warisannya ini. Seperti juga Terowongan Samarinda. Dua proyek Andi Harun dengan biaya terbesar.

Saya kerap membayangkan, Samarinda punya 3-4 pasar yang mantap. Bangunan maupun fasilitasnya. Selain Pasar Pagi (yang tak perlu sebesar itu), satu di Samarinda Utara dan satu lagi di Samarinda Seberang.

Kenapa? Agar jangkauan publik lebih mudah. Yang di Samarinda Seberang untuk konsumen hingga ke Loa Janan dan Palaran, yang di Samarinda Utara menjangkau hingga 2-3 kecamatan terdekat. Selain tentu, merenovasi Pasar Segiri agar layak sebagai pasar di ibu kota provinsi.

Andi Harun dan jajarannya harus bekerja keras untuk membuat Pasar Pagi benar-benar hidup.

Dengan cara apa? Biarlah mereka yang berpikir, tak perlu pembaca Media Kaltim.

Satu hal: Pemkot Samarinda tampaknya tak belajar dari kegagalan Pasar Pandan Sari Balikpapan. Dibangun hingga menjadi lima lantai, yang “laku” hanya dua lantai. Pedagang ogah ke lantai 3 dan seterusnya, apalagi pembeli.

Saya khawatir Pasar Pagi Samarinda itu berkategori: T.
Terlalu terlambat hadir. (Saat belanja online sudah jadi kebiasaan).
Terlalu besar. (Biaya perawatannya tak murah).
Terlalu menuruti kemauan yang punya gawe.

Oh ya, tarif parkir di Pasar Pagi juga mahal. Jauh di atas tarif di mal-mal pada umumnya. Rp10 ribu untuk motor, mobil Rp25.000. Truk? Rp35.000. Tarif yang bisa disimpulkan dengan satu kata: terlalu.

*/Praktisi jurnalistik

Jangan Jual Wisata Sendiri-sendiri

0
Bersama Kepala Dinas Pariwisata Kaltim Muhammad Faisal, didampingi Direktur Media Kaltim Rini Ernawati dan Direktur Radar Media Adhi Abdian, di Kantor Dinas Pariwisata Kaltim, Selasa (4/8).

SAYA mengenal Muhammad Faisal bukan setelah ia menjadi kepala dinas di Pemprov Kaltim. Jauh sebelum itu.

Waktu itu ia masih di bagian protokol Pemkot Samarinda. Saya juga masih wartawan lapangan dan kebetulan mendapat pos liputan di Pemkot Samarinda.

Kami cukup sering berkomunikasi. Terutama kalau berkaitan dengan agenda wali kota. Maklum, wartawan yang ngepos di pemkot memang hampir setiap hari berurusan dengan humas dan protokol.

Setelah itu, karier Pak Faisal terus naik. Ia menjadi Kabag Humas dan Protokol, kemudian beberapa kali memimpin organisasi perangkat daerah di Pemkot Samarinda.

Saya pun akhirnya meninggalkan pos liputan Kota Samarinda dan mendapat penugasan ke berbagai daerah. Mulai dari Balikpapan, Kutai Kartanegara, kemudian Bontang. Setelah itu, saya mulai membangun media sendiri. Kesibukan masing-masing membuat komunikasi kami tak lagi seintens ketika masih sering bertemu di lapangan.

Pak Faisal kemudian pindah ke Pemprov Kaltim dan enam tahun memimpin Dinas Komunikasi dan Informatika. Kami sesekali masih bertemu. Namun tentu tidak lagi sesering dulu.

Selasa (4/8) lalu, saya kembali bertemu Pak Faisal. Kali ini di kantornya yang baru: Dinas Pariwisata Kaltim. Saya datang bersama Direktur Media Kaltim Rini Ernawati dan Direktur Radar Media Adhi Abdian.

Pak Faisal baru dilantik menjadi Kepala Dinas Pariwisata Kaltim pada 29 Juni lalu. Pariwisata sebenarnya bukan barang baru. Ia pernah menjadi Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Kominfo Kota Samarinda, kemudian Kepala Dinas Pariwisata Samarinda. Istilah Pak Faisal: back to basic.

Menariknya, sebelum kepindahan Pak Faisal ke Dinas Pariwisata, saya dan teman-teman di Media Kaltim Network sebenarnya sudah cukup banyak berdiskusi tentang pariwisata.

Kami sedang mencoba memperbanyak tulisan wisata. Bukan sekadar memberitakan sebuah objek wisata, tetapi bagaimana membuat orang tertarik datang.

Karena itu, ketika ngobrol dengan Pak Faisal, pembicaraan cepat nyambung. Salah satunya soal pesut Mahakam.

Kalau kita hanya menulis ada pesut di Sungai Mahakam, mungkin biasa saja. Tetapi bagaimana kalau cara bercerita kita ubah?

Bahwa pesut Mahakam merupakan salah satu populasi lumba-lumba air tawar yang sangat langka di dunia. Bahwa wisatawan punya kesempatan melihat satwa langka itu langsung di habitatnya. Nilai ceritanya langsung berbeda.

Begitu juga Danau Kakaban di Berau. Orang selama ini mengenal Kakaban karena danaunya dan ubur-uburnya. Tetapi berapa banyak orang di luar Kaltim yang tahu bahwa wisatawan bisa berenang bersama ubur-ubur yang tidak menyengat di sana?

Hal-hal seperti itulah yang kami bicarakan cukup panjang. Kaltim sebenarnya tidak kekurangan objek wisata. Yang masih kurang adalah bagaimana mengemasnya menjadi alasan bagi orang untuk datang.

Pak Faisal kemudian memberi contoh yang lebih sederhana. Erau di Tenggarong. Selama ini masing-masing daerah cenderung mempromosikan acaranya sendiri. Tenggarong mempromosikan Erau. Samarinda mempromosikan Samarinda. Balikpapan juga berjalan sendiri.

Padahal wisatawan tidak mengenal batas administrasi seperti itu. Orang yang datang menonton Erau bisa saja menginap dua malam di Samarinda. Dari Samarinda disediakan transportasi pergi-pulang ke Tenggarong. Malam kembali lagi ke Samarinda.

Siapa yang mendapat uang? Hotel dapat. Rumah makan dapat. Sopir dapat. Pedagang oleh-oleh dapat. Tempat hiburan dapat. Tenggarong juga tetap mendapat kunjungan.

Satu wisatawan saja bisa mengeluarkan uang untuk hotel, makan beberapa kali sehari, transportasi, tiket, oleh-oleh, kopi, sampai hiburan.

Kalau datang satu keluarga? Kalau 20 orang? Kalau satu bus? Hitungannya tentu semakin besar.

Dari situ pembicaraan kami masuk ke persoalan yang menurut saya justru paling penting: ekosistem. Pak Faisal memberi contoh Jogja.

Wisatawan bisa ditawari becak dengan harga murah. Mengapa tukang becak mau? Karena perjalanan tidak berhenti pada ongkos becak. Wisatawan dibawa ke tempat batik, bakpia, kaus, dan tempat belanja lainnya. Semua kebagian.

Begitu pula paket wisata di banyak negara. Hotel memberikan harga khusus kepada travel. Restoran memberikan harga rombongan. Transportasi masuk dalam paket. Objek wisata ikut bergabung.

Masing-masing mungkin mendapat margin lebih kecil. Tetapi kalau wisatawannya jauh lebih banyak, semuanya tetap kebagian.

Di Kaltim, pola seperti ini yang masih perlu diperkuat. Hotel jangan hanya berpikir menjual kamar. Travel jangan hanya menjual perjalanan. Restoran jangan hanya menunggu orang datang. Pemerintah daerah juga jangan hanya sibuk mempromosikan objek wisatanya sendiri. Semua harus disambungkan.

Saya tertarik dengan cara Pak Faisal menghitung wisatawan. Bukan sekadar jumlah kunjungan.

Satu orang datang ke Kaltim berarti ada kursi pesawat yang terisi. Ada mobil yang digunakan. Ada kamar hotel yang terjual. Ada sarapan, makan siang dan makan malam. Ada kopi yang diminum. Ada oleh-oleh yang dibeli. Uangnya menyebar ke mana-mana.

Karena itulah pariwisata tidak bisa dikerjakan sendirian oleh Dinas Pariwisata.

Media juga punya bagian. Kami bisa membantu membuat orang tahu bahwa Pulau Segajah di Bontang hanya muncul ketika air laut surut. Bahwa Mahakam Ulu punya bentang alam dan budaya Dayak yang luar biasa. Bahwa Berau bukan hanya Derawan. Bahwa wisata Sungai Mahakam tidak berhenti pada melihat sungai dari tepian.

Bahkan orang Kaltim sendiri mungkin masih banyak yang belum tahu.

Obrolan kami sore itu akhirnya ke mana-mana. Dari pesut, Kakaban, Erau, hotel, travel, televisi, media digital, sampai bagaimana sebuah daerah seharusnya menjual pariwisatanya.

Tetapi ujungnya sama. Kaltim sudah punya bahannya. Tinggal dikemas. Dipromosikan. Lalu yang paling penting: jangan jalan sendiri-sendiri.

Pak Faisal baru kembali ke dunia pariwisata. Saya dan teman-teman Media Kaltim Network juga sedang semakin serius memberi ruang lebih besar untuk wisata melalui tulisan, video, hingga Weekend yang baru kami terbitkan.

Jadi ketika bertemu lagi setelah perjalanan panjang masing-masing, ternyata frekuensinya masih sama. Dulu kami sering berkomunikasi soal jadwal wali kota. Sekarang yang dibicarakan sudah berbeda: bagaimana membuat orang datang ke Kaltim. (*)

Oleh: Agus Susanto

MHU Dinobatkan sebagai Perusahaan Pertambangan Batubara dengan Reputasi PR Terbaik

0

Jakarta – PT Multi Harapan Utama (MHU), anak perusahaan MMS Group Indonesia (MMSGI), kembali memperoleh pengakuan nasional atas upayanya membangun reputasi perusahaan melalui komunikasi korporat yang kredibel, transparan, dan berkelanjutan.

Pada ajang 7th Indonesia Public Relations Awards 2026 yang diselenggarakan oleh The Iconomics di Auditorium Dhanapala, Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Kamis (6/8), MHU meraih PR Popular Companies Awards 2026 untuk kategori Perusahaan Pertambangan Batubara.

Penghargaan tersebut diberikan kepada perusahaan yang dinilai mampu membangun dan menjaga reputasi positif di mata publik melalui komunikasi yang konsisten, adaptif, serta hubungan yang baik dengan para pemangku kepentingan. Penilaian dilakukan berdasarkan riset independen berbasis persepsi publik dan analisis reputasi digital yang melibatkan responden dari berbagai sektor.

Dalam penilaian tersebut, MHU mencatatkan capaian positif pada sejumlah indikator reputasi, antara lain Business & Commercial Reputation, People & Leadership Reputation, serta Social & Citizenship Reputation. Capaian tersebut mencerminkan persepsi positif terhadap kinerja perusahaan, kepemimpinan, dan kontribusi sosial yang dijalankan MHU.

Penghargaan diterima oleh GM Mining Support and Compliance PT Multi Harapan Utama, Wiwin Suhartanto, yang hadir mewakili perusahaan.

Wiwin mengatakan penghargaan tersebut menjadi salah satu bentuk pengakuan atas komitmen MHU dalam membangun kepercayaan melalui komunikasi yang bertanggung jawab serta kinerja perusahaan yang berkelanjutan.

“Bagi MHU, komunikasi bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi membangun kepercayaan melalui konsistensi tindakan. Penghargaan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus menjalankan operasional pertambangan yang bertanggung jawab, menerapkan Good Mining Practice, serta memperkuat hubungan yang konstruktif dengan seluruh pemangku kepentingan. Reputasi yang baik dibangun dari komitmen yang dijalankan secara nyata setiap hari,” ujarnya.

Sebagai perusahaan pertambangan yang mengedepankan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), MHU terus memperkuat keterbukaan informasi mengenai berbagai aspek operasional perusahaan, mulai dari pengelolaan lingkungan, pemberdayaan masyarakat, keselamatan pertambangan, hingga berbagai inisiatif keberlanjutan.

Informasi tersebut disampaikan melalui berbagai kanal komunikasi perusahaan serta didukung dengan hubungan yang aktif bersama media dan para pemangku kepentingan. Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya MHU untuk memastikan publik memperoleh informasi perusahaan yang akurat, relevan, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Fungsi Corporate Communications dan Public Relations turut berperan dalam membangun narasi perusahaan berbasis fakta serta menjembatani komunikasi antara perusahaan dan para pemangku kepentingan. Melalui pendekatan yang proaktif dan kolaboratif, MHU terus memperkuat hubungan dengan media, pemerintah, akademisi, masyarakat, dan mitra usaha.

Pada kesempatan yang sama, Wiwin Suhartanto juga menerima Popular PR Person Awards 2026. Penghargaan tersebut diberikan sebagai apresiasi kepada figur yang dinilai berkontribusi dalam memperkuat reputasi organisasi melalui kepemimpinan, kolaborasi lintas pemangku kepentingan, serta dukungan terhadap implementasi komunikasi perusahaan yang efektif.

Pencapaian tersebut menegaskan bahwa reputasi perusahaan dibangun melalui sinergi antara kepemimpinan, budaya perusahaan, kinerja operasional, serta komunikasi yang dijalankan secara konsisten. Bagi MHU, reputasi bukan sekadar memperoleh pengakuan, tetapi menjaga kepercayaan publik melalui praktik pertambangan yang aman, bertanggung jawab, dan berkelanjutan.

Sebagai bagian dari MMSGI, PT Multi Harapan Utama akan terus memperkuat komunikasi yang adaptif dan berbasis nilai, sejalan dengan komitmen perusahaan untuk menciptakan manfaat jangka panjang bagi masyarakat, lingkungan, dan pembangunan nasional. (MK/ADV)

Editor: Agus S.

Labkesda Masih Inkubasi Sampel MBG, Hasil Pemeriksaan Dijadwalkan Keluar 10 Agustus

0
Ilustrasi MBG. (Syakurah)

BONTANG – Dinas Kesehatan Kota Bontang masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang diduga berkaitan dengan kasus puluhan siswa mengalami mual, muntah, dan diare beberapa waktu lalu.

Kepala Dinas Kesehatan Bontang, Toetoek Pribadi Ekowati, menjelaskan sampel makanan berupa nasi, sayur, sambal, serundeng, dan ayam diterima Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) pada Kamis (6/8/2026) dalam kondisi beku. Sampel tersebut kemudian diperiksa untuk mendeteksi kemungkinan adanya bakteri penyebab keracunan pangan, seperti Salmonella, Shigella, Escherichia coli (E. coli), dan Staphylococcus.

Sehari setelahnya, sampel telah dimasukkan ke dalam inkubator untuk proses pembiakan mikrobiologi. Menurut Toetoek, pemeriksaan tersebut membutuhkan waktu minimal dua kali 24 jam, sehingga hasilnya baru dapat dibaca pada Senin (10/8/2026).

“Hasil pemeriksaan laboratorium tidak bisa diperoleh secara instan karena harus menunggu proses inkubasi selesai, agar dapat diketahui ada atau tidaknya pertumbuhan bakteri,” ujarnya.

Ia menegaskan, keluarnya hasil laboratorium bukan berarti proses penanganan selesai. Justru hasil tersebut akan menjadi dasar bagi Dinas Kesehatan untuk menentukan langkah lanjutan dalam investigasi dugaan keracunan pangan.

Ia menjelaskan, hasil laboratorium harus dianalisis bersama hasil penyelidikan epidemiologi. Tim akan mencocokkan agen pencemar yang ditemukan dengan pola gejala para siswa, waktu munculnya keluhan, jenis makanan yang dikonsumsi, hingga hasil pemeriksaan spesimen penderita apabila tersedia.

“Kesimpulan tidak hanya didasarkan pada hasil laboratorium semata, tetapi harus didukung bukti epidemiologi sehingga dapat diketahui apakah kejadian tersebut benar berkaitan dengan kontaminasi pada makanan,” jelasnya.

Apabila hasil investigasi mengarah pada dugaan keracunan pangan, Dinas Kesehatan akan melanjutkan sejumlah langkah, mulai dari memantau seluruh siswa terdampak hingga dinyatakan pulih, memastikan tidak muncul kasus baru, mendokumentasikan seluruh data kasus, serta melaporkan hasil investigasi kepada Dinas Kesehatan Provinsi sebagai tindak lanjut laporan kewaspadaan.

Selain itu, Dinas Kesehatan juga akan berkoordinasi dengan puskesmas, sekolah, BPOM, dan pihak pengelola dapur MBG sesuai kebutuhan. Pemeriksaan terhadap tempat pengelolaan pangan juga akan dilakukan, meliputi aspek higiene sanitasi, kualitas air, bahan baku, penyimpanan, proses pengolahan, suhu distribusi, kebersihan peralatan, hingga higiene para penjamah makanan.

Menurut Toetoek, rangkaian tersebut merupakan prosedur standar dalam penanganan dugaan keracunan pangan yang mencakup pelayanan terhadap korban, penyelidikan epidemiologi, pemeriksaan laboratorium, pemantauan kasus, serta pengendalian faktor risiko agar kejadian serupa tidak terulang.

Diberitakan sebelumnya, siswa SDN 012 Bontang Selatan dan beberapa siswa dari sekolah lainnya mengalami sakit mual hingga diare. Kondisi itu diduga pascs memakan MBG. Maka SPPG serta pemko pun mulai melakukan penyelidikan terhadap kasus tersebut.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Komunitas Muslimah Muda Bontang Gelar Seminar Inspiratif Bahaya Seks Bebas, Pelajar Antusias Hadiri Kegiatan

0
Kegiatan seminar Komunitas Muslimah Muda Bontang di Gedung Auditorium Tiga Dimensi. (Dwi S).

BONTANG – Komunitas Muslimah Muda Bontang menggelar seminar inspiratif bagi generasi muda dengan mengangkat tema tentang “Bahaya Seks Bebas”. Kegiatan tersebut mendapat antusiasme tinggi dari kalangan pelajar Kota Bontang, yang memenuhi hampir seluruh ruangan tempat seminar berlangsung di Gedung Auditorium Tiga Dimensi.

Ketua panitia kegiatan, Asna Abdullah mengatakan, seminar tersebut digelar sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi generasi muda, khususnya remaja di Bontang. Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh berbagai persoalan yang belakangan menjadi perhatian publik, termasuk kasus ‘anak melahirkan anak’, serta isu sosial lainnya yang melibatkan kalangan remaja.

“Kalau ditanya apa tujuan digelarnya seminar ini, jawabannya berangkat dari keprihatinan kami terhadap kondisi remaja di Bontang. Beberapa bulan yang lalu sempat viral video dari dokter Badi yang mengungkap bagaimana kondisi remaja di Bontang. Banyak kasus, ada anak melahirkan anak, kasus LGBT dan sebagainya,” ujarnya.

Hal tersebut kemudian menjadi salah satu pemantik bagi Komunitas Muslimah Muda Bontang, untuk mengambil peran melalui kegiatan edukasi. Ia menilai, persoalan tersebut tidak cukup hanya menjadi perhatian pemerintah maupun lembaga terkait. Masyarakat, termasuk komunitas keagamaan, juga memiliki tanggung jawab untuk ikut memberikan edukasi kepada generasi muda.

“Kami bergerak atas dasar konsekuensi keimanan. Ketika ada kemungkaran dan kerusakan diselesaikan. Ini bentuk kepedulian kami sebagai komunitas muslimah di Bontang, dengan cara mengedukasi remaja karena mereka merupakan penerus peradaban,” katanya.

Sebelum kegiatan digelar, pihak panitia juga telah berkomunikasi dengan sejumlah pihak yang dinilai kompeten untuk memastikan materi yang diberikan, kepada peserta dapat disampaikan secara tepat dan edukatif.

Kegiatan dikemas dalam bentuk seminar inspiratif, dimana peserta tidak hanya mendapatkan informasi mengenai risiko perilaku seksual bebas, tetapi juga diajak membangun kesadaran dan menjaga masa depan mereka.

Seminar tersebut secara khusus menyasar generasi muda, terutama pelajar tingkat SMP dan SMA. Sasaran itu dipilih lantaran berbagai persoalan yang menjadi perhatian publik juga banyak berkaitan dengan kalangan usia sekolah.

Panitia mengundang hampir seluruh sekolah di Kota Bontang. Dari masing-masing sekolah, terdapat sekitar lima hingga 10 pelajar yang hadir sebagai perwakilan. Selain pelajar, sejumlah guru pendamping juga turut mengikuti kegiatan

Kesempatan yang sama, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Bontang, Toetoek Pribadi Ekowati menyambut positif acara ini. Dalam sambutannya beliau menyampaikan masa remaja masa-masa yang rentan, kecerdasan saja tidak cukup, sebab dibutuhkan bimbingan akhlak dan agama dari orang tua dan guru di sekolah.

“Generasi muda harus berani bilang tidak terhadap serangan seks bebas, penyimpangan seksual, LGBT. Jangan korbankan masa remaja, karena masa remaja adalah pintu gerbang untuk sukses dunia dan akhirat,” jelasnya.

Sementara itu narasumber dari prespektif kesehatan, dokter spesialis penyakit dan kelamin, dr. Hilmiyah menjelaskan tentang dampak seks bebas dan LGBT adalah terjangkitnya berbagai penyakit menular seksual dan HIV/AIDS. Cara penularan dan pencegahan disampaikan agar para remaja, tetap waspada pada pergaulan bebas dan penyimpangan seksual.

Selain edukasi kesehatan. Peserta seminar juga dijelaskan oleh narasumber lainnya, meliputi ustadzah muda, Nur Ilahiyah, tentang serangan sekularisasi dan liberalisasi pemikiran yang menjadikan standar benar dan salah, pada remaja sesuai dengan barat, bukan standar agama yg benar.

“Para pelajar sangat antusias. Terlihat dari ruangan yang penuh dengan jumlah jumlah peserta 158 orang yang terdiri dari pelajar dan guru pembimbingnya,” ungkapnya.

Hal tersebut menunjukkan bahwa generasi muda memiliki rasa ingin tahu, sekaligus kepedulian terhadap persoalan yang sedang terjadi di lingkungan mereka.

Harapannya, pelajar yang mengikuti seminar dapat meneruskan informasi dan nilai-nilai positif yang diperoleh kepada teman-teman mereka di sekolah.

“Alhamdulillah antusiasnya luar biasa sekali. Ruangan hampir penuh. Ini menunjukkan bahwa adik adik antusias mengikuti acara ini,” ungkap panitia.

Di tengah berbagai pemberitaan mengenai persoalan remaja, panitia justru melihat adanya sisi positif dari keterlibatan para guru dan sekolah, dalam mendorong siswanya mengikuti kegiatan edukatif tersebut.

“Kalau melihat berita yang viral, seolah-olah ada generasi yang tidak peduli. Tapi bisa dilihat di seminar ini, masih ada generasi yg peduli dg permasalahan ini, disisi lain kami bersyukur dengan keterlibatan para ibu guru yang mendorong siswinya datang.” katanya.

Penyelenggara acara berharap seminar tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Edukasi mengenai pergaulan dan perlindungan generasi muda dinilai perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan keluarga, sekolah, komunitas, serta berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap masa depan anak-anak di Bontang.

“Kami melihat ini bagian dari tanggung jawab kami sebagai muslimah. Agar generasi ini selamat dan terhindar dari kerusakan, kami berupaya memberikan edukasi dr sisi kesehatan dan yg tidak kalah penting dari sisi solusi islamnya” pungkasnya.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Disnaker Bontang Tak Punya Data PHK Karyawan Tambang

0

Pembaca Setia Radar Bontang!

Ingin tahu kabar terkini Koran Digital Radar Bontang? Kunjungi link di bawah ini untuk membaca e-paper lengkapnya:

👉 E-Paper Lengkap
https://koran.radarbontang.com

👉 Versi Mobile
https://digital.radarbontang.com/rb8agt2026/mobile/

Warga Perum DLI Keluhkan Timbunan Tanah Bekas Galian Jargas: Kalau Hujan Becek, Panas Berdebu. Kapan Diselesaikan?

0
Timbunan tanah bekas galian jargas di Perum DLI. (Yusva Alam)

BONTANG – Warga Perumahan Damai Lestari Indah (DLI) mengeluhkan kondisi jalanan di perumahan, yang banyak timbunan tanah bekas galian jargas. Lantaran timbunan itu menyebabkan jalan perumahan kerap kotor dan berdebu.

Retno, salahsatu warga perumahan yang berlokasi di RT 41 Kelurahan Belimbing, Kilometer 3 mengungkapkan, beberapa bulan lalu ada penggarapan instalasi jaringan gas (jargas). Termasuk salahsatunya membuat galian-galian untuk menyambungkan pipa jargas dari rumah ke pipa utama di jalanan perumahan.

Namun sayangnya, galian yang sudah dikerjakan beberapa bulan lalu itu belum juga dilanjutkan untuk diselesaikan. Tak ayal, gunungan-gunungan tanah bekas galian tampak di sepanjang jalan perumahan.

“Akhirnya kan jalannya jadi mudah kotor. Pas hujan becek kalau panas berdebu,” ujarnya.

Ia pun mempertanyakan kapan galian ini akan diselesaikan. Pasalnya ia mendapat kabar kalau di daerah lain sudah mendapatkan pembagian kompor jargas. Diapun menduga di daerah lain sudah selesai instalasi jargas.

“Terus kapan di daerah kami. Sampai kapan kondisinya dibiarkan kotor terus begini,” tanyanya.

Menanggapi kondisi tersebut, Mulya Munir, Constraction Manager PT Nooreal Idea selaku kontraktor jargas di Bontang menjelaskan, bahwa memang ada kendala khusus di area Perum DLI. Kontur tanah di wilayah itu diduga mengandung batu bara, sehingga pihaknya masih belum bisa melanjutkan pengerjaan jargas.

“Takutnya kalau ada percikan api akan berbahaya, karena ini jargas,” ujarnya saat dikonfirmasi.

Ditambahkannya, jargas di wilayah DLI ini sebenarnya sudah mau disambungkan dengan sistem pemipaan jargas utama yang berada di jalan besar. Namun karena ada kendala itu maka pihaknya belum berani melanjutkan.

“Ada area sekitar 20 meteran yang belum disambungkan. Kami masih menunggu tim ahli untuk memastikan keamanan penyambungan ke sistem utama,” pungkasnya.

Penulis/Editor: Yusva Alam

Sawit Melimpah, Potensi Ekonomi Masih Bocor ke Luar Kaltim

0
Wagub Kaltim Seno Aji didampingi Ketua Umum GAPKI Eddy Martono, Ketua GAPKI Kaltim Rahmat Perdana Angga, serta sejumlah pemangku kepentingan membuka 9th Borneo Forum 2026 di Ballroom Platinum Hotel Balikpapan, Kamis (6/8/2026). Foto: Istimewa

BALIKPAPAN – Kaltim menghasilkan sekitar 4,3 hingga 4,9 juta ton crude palm oil (CPO) setiap tahun, hampir 10 persen dari produksi nasional. Luas perkebunan sawitnya mencapai sekitar 1,6 juta hektare. Namun, sebagian nilai tambah dari produksi sebesar itu belum dinikmati di daerah. CPO masih banyak dipasarkan sebagai bahan baku, sementara industri pengolahan dan produk turunannya di Kaltim belum berkembang sebanding dengan besarnya produksi.

Di tingkat pekebun, persoalannya berbeda. Pekebun rakyat masih banyak bergantung pada pabrik kelapa sawit (PKS) milik perusahaan untuk menjual hasil panen. Posisi tawar yang terbatas membuat persoalan harga tandan buah segar (TBS) masih kerap dikeluhkan.

Persoalan itu mengemuka dalam pembukaan 9th Borneo Forum 2026 yang digelar Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Cabang Kaltim di Ballroom Platinum Hotel Balikpapan, Kamis (6/8/2026). Forum yang berlangsung hingga 8 Agustus ini menjadi ajang bertemunya pemerintah, pelaku usaha, akademisi, peneliti, investor, hingga penyedia teknologi untuk membahas arah baru industri sawit Kalimantan.

Mengusung tema “Resilience, Innovation and Transformation: Empowering the Palm Oil Industry Beyond Sustainability”, forum tahun ini tidak hanya berbicara mengenai peningkatan produksi. Pembahasan berkembang pada hilirisasi, keberlanjutan, investasi, tata niaga sawit, digitalisasi perkebunan, hingga posisi pekebun rakyat di tengah perubahan kebijakan global.

Wagub Kaltim Seno Aji yang membuka forum secara resmi menyampaikan apresiasi kepada GAPKI Kalimantan Timur yang kembali menghadirkan forum tersebut di Bumi Etam. Menurut Seno, tema yang diusung sangat sesuai dengan kondisi industri sawit saat ini. Ketahanan, inovasi, dan transformasi dinilai menjadi kunci agar industri sawit tetap mampu tumbuh sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar.

Ia menjelaskan, perkebunan kelapa sawit telah menjadi salah satu sektor strategis di berbagai daerah. Di Kaltim luas perkebunan sawit mencapai sekitar 1,6 juta hektare, sedangkan di Pulau Kalimantan secara keseluruhan mencapai sekitar 6 juta hektare.

Produksi CPO Kaltim saat ini berkisar 4,3 hingga 4,9 juta ton per tahun, atau hampir 10 persen produksi nasional. Namun, besarnya produksi tersebut, menurut Seno, belum sepenuhnya diikuti pemerataan manfaat bagi seluruh pelaku usaha, terutama pekebun rakyat.

Salah satu persoalan yang masih dihadapi adalah keterbatasan akses terhadap pabrik kelapa sawit. “Kebun rakyat umumnya tidak memiliki pabrik kelapa sawit sendiri. Karena itu, forum ini diharapkan dapat membahas dan mengakomodasi berbagai solusi, termasuk tata cara dan standar operasional pendirian pabrik kelapa sawit nonkebun di daerah masing-masing,” ungkapnya.

Menurut Seno, persoalan itu juga berdampak terhadap posisi tawar petani saat menjual tandan buah segar (TBS). Ia mengaku masih sering menerima keluhan dari pekebun rakyat mengenai harga TBS yang lebih rendah ketika dijual ke PKS milik perusahaan.

“Kita perlu mendengarkan aspirasi pekebun rakyat. Forum Petani Kelapa Sawit juga membutuhkan perhatian bersama agar tercipta keadilan dalam tata niaga sawit,” ujarnya.

Selain memperkuat posisi petani, Seno juga mendorong percepatan hilirisasi industri sawit di Kaltim. Menurutnya, daerah tidak boleh hanya menjadi penghasil tandan buah segar maupun CPO, tetapi juga harus mampu mengembangkan industri pengolahan sehingga nilai tambah dinikmati di daerah.

Kehadiran Ibu Kota Nusantara (IKN), lanjutnya, menjadi peluang besar untuk mendorong investasi sekaligus membangun ekosistem industri hilir berbasis sawit di Kaltim.

Meski masih menghadapi berbagai tantangan, ia mengapresiasi hubungan yang selama ini terjalin antara Pemprov Kaltim dan pelaku usaha sawit melalui komunikasi yang intensif bersama Dinas Perkebunan.

TANTANGAN MAKIN KOMPLEKS

Ketua Umum GAPKI Eddy Martono mengatakan industri sawit Indonesia kini menghadapi tantangan yang semakin besar. Implementasi European Union Deforestation Regulation (EUDR), tuntutan penurunan emisi karbon, kampanye negatif terhadap sawit, hingga persaingan global menjadi persoalan yang harus dihadapi bersama.

Karena itu, peningkatan produktivitas dinilai jauh lebih penting dibanding terus melakukan perluasan lahan. Industri sawit harus bergerak melalui inovasi, efisiensi, serta penerapan prinsip keberlanjutan agar tetap kompetitif di pasar internasional.

Sementara Ketua GAPKI Kaltim Rahmat Perdana Angga menurutnya Borneo Forum bukan sekadar agenda tahunan. Forum ini menjadi ruang bersama untuk mempertemukan pemerintah, perusahaan, akademisi, peneliti, investor, hingga penyedia teknologi guna mencari solusi atas berbagai persoalan industri sawit. Dari forum ini diharapkan lahir rekomendasi yang dapat memperkuat daya saing industri sawit Kalimantan, sekaligus memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat dan daerah.

Perwakilan Kementerian Pertanian dalam forum tersebut juga mendorong percepatan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), penggunaan bibit unggul, serta digitalisasi perkebunan guna meningkatkan produktivitas tanpa membuka lahan baru.

Sementara dari Kementerian Keuangan menekankan pentingnya penguatan tata kelola industri, optimalisasi penerimaan negara dari sektor sawit, serta pemanfaatan dana sawit untuk mendukung keberlanjutan dan meningkatkan daya saing industri nasional.

PAMERAN, JOB FAIR HINGGA GAPKI Run

Borneo Forum tahun ini tidak hanya diisi seminar dan pembahasan kebijakan. Selama dua hari, 6–7 Agustus, panitia juga menggelar Palm Oil Exhibition yang mempertemukan perusahaan perkebunan, penyedia teknologi, produk dan jasa pendukung, hingga pelaku industri lainnya.

Pameran menjadi bagian dari upaya mempertemukan pelaku usaha sekaligus membuka peluang jaringan bisnis dan kolaborasi. Berbagai perkembangan teknologi dan inovasi yang berkaitan dengan industri perkebunan sawit turut diperkenalkan selama forum berlangsung.

Rangkaian lainnya yang cukup menyita perhatian adalah Regional Job Fair Kalimantan 2026. GAPKI Kaltim membuka akses langsung bagi pencari kerja, khususnya putra-putri daerah, untuk bertemu perusahaan perkebunan yang sedang membutuhkan tenaga kerja.

Enam grup perusahaan besar ikut membuka lowongan, yakni PT Dharma Satya Nusantara Tbk Group, PT Triputra Agro Persada Group, PT Eagle High Plantations Tbk Group, PT Gawi Makmur Kalimantan atau Wings Group, PT Kencana Agri Group, serta KLK Group atau PT Kuala Lumpur Kepong Group.

Sekitar 34 posisi jabatan ditawarkan. Dua grup perusahaan juga membuka kesempatan khusus bagi lulusan baru melalui program Management Training atau Management Trainee.

Sekretaris Eksekutif GAPKI Kaltim Dedy Aspian Nur mengatakan job fair tersebut sengaja digelar untuk memperbesar kesempatan tenaga kerja lokal masuk ke industri perkebunan. “Kami membuka akses seluas-luasnya secara langsung bagi putra-putri daerah. Perusahaan anggota kami hadir untuk memfasilitasi kebutuhan ini,” ujarnya.

Jumlah tenaga kerja yang akan direkrut belum ditetapkan. Masing-masing perusahaan masih menjalankan proses rekrutmen, termasuk di daerah lain.

Selain bursa kerja, rangkaian Borneo Forum juga diisi workshop dan pembahasan pengembangan sumber daya manusia. Agenda tersebut menjadi bagian dari upaya menyiapkan tenaga kerja perkebunan menghadapi perubahan teknologi dan kebutuhan industri yang terus berkembang.

Seluruh rangkaian kemudian ditutup dengan GAPKI Run 2026 pada Sabtu (8/8/2026). Lomba lari 5 kilometer itu digelar di kawasan Grand City Balikpapan dengan mengusung tema “Berlari untuk Energi, Bergerak untuk Negeri”.

GAPKI Run terbuka untuk kategori umum dan junior. Panitia menargetkan sekitar 1.200 peserta. Selain medali finisher dan berbagai fasilitas peserta, hadiah juga disiapkan bagi pelari terbaik di masing-masing kategori.

Rangkaian kegiatan tersebut membuat Borneo Forum tidak hanya menjadi tempat membahas kebijakan dan masa depan industri sawit. GAPKI juga membawanya ke persoalan yang lebih langsung: membuka peluang kerja, mempertemukan pelaku usaha, memperkenalkan perkembangan teknologi, sekaligus mendekatkan industri sawit dengan masyarakat.

Reporter: Andrie Aprianto
Editor: Agus S.