BONTANG – Dinas Kesehatan Kota Bontang masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang diduga berkaitan dengan kasus puluhan siswa mengalami mual, muntah, dan diare beberapa waktu lalu.
Kepala Dinas Kesehatan Bontang, Toetoek Pribadi Ekowati, menjelaskan sampel makanan berupa nasi, sayur, sambal, serundeng, dan ayam diterima Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) pada Kamis (6/8/2026) dalam kondisi beku. Sampel tersebut kemudian diperiksa untuk mendeteksi kemungkinan adanya bakteri penyebab keracunan pangan, seperti Salmonella, Shigella, Escherichia coli (E. coli), dan Staphylococcus.
Sehari setelahnya, sampel telah dimasukkan ke dalam inkubator untuk proses pembiakan mikrobiologi. Menurut Toetoek, pemeriksaan tersebut membutuhkan waktu minimal dua kali 24 jam, sehingga hasilnya baru dapat dibaca pada Senin (10/8/2026).
“Hasil pemeriksaan laboratorium tidak bisa diperoleh secara instan karena harus menunggu proses inkubasi selesai, agar dapat diketahui ada atau tidaknya pertumbuhan bakteri,” ujarnya.
Ia menegaskan, keluarnya hasil laboratorium bukan berarti proses penanganan selesai. Justru hasil tersebut akan menjadi dasar bagi Dinas Kesehatan untuk menentukan langkah lanjutan dalam investigasi dugaan keracunan pangan.
Ia menjelaskan, hasil laboratorium harus dianalisis bersama hasil penyelidikan epidemiologi. Tim akan mencocokkan agen pencemar yang ditemukan dengan pola gejala para siswa, waktu munculnya keluhan, jenis makanan yang dikonsumsi, hingga hasil pemeriksaan spesimen penderita apabila tersedia.
“Kesimpulan tidak hanya didasarkan pada hasil laboratorium semata, tetapi harus didukung bukti epidemiologi sehingga dapat diketahui apakah kejadian tersebut benar berkaitan dengan kontaminasi pada makanan,” jelasnya.
Apabila hasil investigasi mengarah pada dugaan keracunan pangan, Dinas Kesehatan akan melanjutkan sejumlah langkah, mulai dari memantau seluruh siswa terdampak hingga dinyatakan pulih, memastikan tidak muncul kasus baru, mendokumentasikan seluruh data kasus, serta melaporkan hasil investigasi kepada Dinas Kesehatan Provinsi sebagai tindak lanjut laporan kewaspadaan.
Selain itu, Dinas Kesehatan juga akan berkoordinasi dengan puskesmas, sekolah, BPOM, dan pihak pengelola dapur MBG sesuai kebutuhan. Pemeriksaan terhadap tempat pengelolaan pangan juga akan dilakukan, meliputi aspek higiene sanitasi, kualitas air, bahan baku, penyimpanan, proses pengolahan, suhu distribusi, kebersihan peralatan, hingga higiene para penjamah makanan.
Menurut Toetoek, rangkaian tersebut merupakan prosedur standar dalam penanganan dugaan keracunan pangan yang mencakup pelayanan terhadap korban, penyelidikan epidemiologi, pemeriksaan laboratorium, pemantauan kasus, serta pengendalian faktor risiko agar kejadian serupa tidak terulang.
Diberitakan sebelumnya, siswa SDN 012 Bontang Selatan dan beberapa siswa dari sekolah lainnya mengalami sakit mual hingga diare. Kondisi itu diduga pascs memakan MBG. Maka SPPG serta pemko pun mulai melakukan penyelidikan terhadap kasus tersebut.
Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam




