SAYA mengenal Muhammad Faisal bukan setelah ia menjadi kepala dinas di Pemprov Kaltim. Jauh sebelum itu.
Waktu itu ia masih di bagian protokol Pemkot Samarinda. Saya juga masih wartawan lapangan dan kebetulan mendapat pos liputan di Pemkot Samarinda.
Kami cukup sering berkomunikasi. Terutama kalau berkaitan dengan agenda wali kota. Maklum, wartawan yang ngepos di pemkot memang hampir setiap hari berurusan dengan humas dan protokol.

Setelah itu, karier Pak Faisal terus naik. Ia menjadi Kabag Humas dan Protokol, kemudian beberapa kali memimpin organisasi perangkat daerah di Pemkot Samarinda.
Saya pun akhirnya meninggalkan pos liputan Kota Samarinda dan mendapat penugasan ke berbagai daerah. Mulai dari Balikpapan, Kutai Kartanegara, kemudian Bontang. Setelah itu, saya mulai membangun media sendiri. Kesibukan masing-masing membuat komunikasi kami tak lagi seintens ketika masih sering bertemu di lapangan.
Pak Faisal kemudian pindah ke Pemprov Kaltim dan enam tahun memimpin Dinas Komunikasi dan Informatika. Kami sesekali masih bertemu. Namun tentu tidak lagi sesering dulu.
Selasa (4/8) lalu, saya kembali bertemu Pak Faisal. Kali ini di kantornya yang baru: Dinas Pariwisata Kaltim. Saya datang bersama Direktur Media Kaltim Rini Ernawati dan Direktur Radar Media Adhi Abdian.
Pak Faisal baru dilantik menjadi Kepala Dinas Pariwisata Kaltim pada 29 Juni lalu. Pariwisata sebenarnya bukan barang baru. Ia pernah menjadi Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Kominfo Kota Samarinda, kemudian Kepala Dinas Pariwisata Samarinda. Istilah Pak Faisal: back to basic.
Menariknya, sebelum kepindahan Pak Faisal ke Dinas Pariwisata, saya dan teman-teman di Media Kaltim Network sebenarnya sudah cukup banyak berdiskusi tentang pariwisata.
Kami sedang mencoba memperbanyak tulisan wisata. Bukan sekadar memberitakan sebuah objek wisata, tetapi bagaimana membuat orang tertarik datang.
Karena itu, ketika ngobrol dengan Pak Faisal, pembicaraan cepat nyambung. Salah satunya soal pesut Mahakam.
Kalau kita hanya menulis ada pesut di Sungai Mahakam, mungkin biasa saja. Tetapi bagaimana kalau cara bercerita kita ubah?
Bahwa pesut Mahakam merupakan salah satu populasi lumba-lumba air tawar yang sangat langka di dunia. Bahwa wisatawan punya kesempatan melihat satwa langka itu langsung di habitatnya. Nilai ceritanya langsung berbeda.
Begitu juga Danau Kakaban di Berau. Orang selama ini mengenal Kakaban karena danaunya dan ubur-uburnya. Tetapi berapa banyak orang di luar Kaltim yang tahu bahwa wisatawan bisa berenang bersama ubur-ubur yang tidak menyengat di sana?
Hal-hal seperti itulah yang kami bicarakan cukup panjang. Kaltim sebenarnya tidak kekurangan objek wisata. Yang masih kurang adalah bagaimana mengemasnya menjadi alasan bagi orang untuk datang.
Pak Faisal kemudian memberi contoh yang lebih sederhana. Erau di Tenggarong. Selama ini masing-masing daerah cenderung mempromosikan acaranya sendiri. Tenggarong mempromosikan Erau. Samarinda mempromosikan Samarinda. Balikpapan juga berjalan sendiri.
Padahal wisatawan tidak mengenal batas administrasi seperti itu. Orang yang datang menonton Erau bisa saja menginap dua malam di Samarinda. Dari Samarinda disediakan transportasi pergi-pulang ke Tenggarong. Malam kembali lagi ke Samarinda.
Siapa yang mendapat uang? Hotel dapat. Rumah makan dapat. Sopir dapat. Pedagang oleh-oleh dapat. Tempat hiburan dapat. Tenggarong juga tetap mendapat kunjungan.
Satu wisatawan saja bisa mengeluarkan uang untuk hotel, makan beberapa kali sehari, transportasi, tiket, oleh-oleh, kopi, sampai hiburan.
Kalau datang satu keluarga? Kalau 20 orang? Kalau satu bus? Hitungannya tentu semakin besar.
Dari situ pembicaraan kami masuk ke persoalan yang menurut saya justru paling penting: ekosistem. Pak Faisal memberi contoh Jogja.
Wisatawan bisa ditawari becak dengan harga murah. Mengapa tukang becak mau? Karena perjalanan tidak berhenti pada ongkos becak. Wisatawan dibawa ke tempat batik, bakpia, kaus, dan tempat belanja lainnya. Semua kebagian.
Begitu pula paket wisata di banyak negara. Hotel memberikan harga khusus kepada travel. Restoran memberikan harga rombongan. Transportasi masuk dalam paket. Objek wisata ikut bergabung.
Masing-masing mungkin mendapat margin lebih kecil. Tetapi kalau wisatawannya jauh lebih banyak, semuanya tetap kebagian.
Di Kaltim, pola seperti ini yang masih perlu diperkuat. Hotel jangan hanya berpikir menjual kamar. Travel jangan hanya menjual perjalanan. Restoran jangan hanya menunggu orang datang. Pemerintah daerah juga jangan hanya sibuk mempromosikan objek wisatanya sendiri. Semua harus disambungkan.
Saya tertarik dengan cara Pak Faisal menghitung wisatawan. Bukan sekadar jumlah kunjungan.
Satu orang datang ke Kaltim berarti ada kursi pesawat yang terisi. Ada mobil yang digunakan. Ada kamar hotel yang terjual. Ada sarapan, makan siang dan makan malam. Ada kopi yang diminum. Ada oleh-oleh yang dibeli. Uangnya menyebar ke mana-mana.
Karena itulah pariwisata tidak bisa dikerjakan sendirian oleh Dinas Pariwisata.
Media juga punya bagian. Kami bisa membantu membuat orang tahu bahwa Pulau Segajah di Bontang hanya muncul ketika air laut surut. Bahwa Mahakam Ulu punya bentang alam dan budaya Dayak yang luar biasa. Bahwa Berau bukan hanya Derawan. Bahwa wisata Sungai Mahakam tidak berhenti pada melihat sungai dari tepian.
Bahkan orang Kaltim sendiri mungkin masih banyak yang belum tahu.
Obrolan kami sore itu akhirnya ke mana-mana. Dari pesut, Kakaban, Erau, hotel, travel, televisi, media digital, sampai bagaimana sebuah daerah seharusnya menjual pariwisatanya.
Tetapi ujungnya sama. Kaltim sudah punya bahannya. Tinggal dikemas. Dipromosikan. Lalu yang paling penting: jangan jalan sendiri-sendiri.
Pak Faisal baru kembali ke dunia pariwisata. Saya dan teman-teman Media Kaltim Network juga sedang semakin serius memberi ruang lebih besar untuk wisata melalui tulisan, video, hingga Weekend yang baru kami terbitkan.
Jadi ketika bertemu lagi setelah perjalanan panjang masing-masing, ternyata frekuensinya masih sama. Dulu kami sering berkomunikasi soal jadwal wali kota. Sekarang yang dibicarakan sudah berbeda: bagaimana membuat orang datang ke Kaltim. (*)
Oleh: Agus Susanto




