BONTANG – Komunitas Muslimah Muda Bontang menggelar seminar inspiratif bagi generasi muda dengan mengangkat tema tentang “Bahaya Seks Bebas”. Kegiatan tersebut mendapat antusiasme tinggi dari kalangan pelajar Kota Bontang, yang memenuhi hampir seluruh ruangan tempat seminar berlangsung di Gedung Auditorium Tiga Dimensi.
Ketua panitia kegiatan, Asna Abdullah mengatakan, seminar tersebut digelar sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi generasi muda, khususnya remaja di Bontang. Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh berbagai persoalan yang belakangan menjadi perhatian publik, termasuk kasus ‘anak melahirkan anak’, serta isu sosial lainnya yang melibatkan kalangan remaja.
“Kalau ditanya apa tujuan digelarnya seminar ini, jawabannya berangkat dari keprihatinan kami terhadap kondisi remaja di Bontang. Beberapa bulan yang lalu sempat viral video dari dokter Badi yang mengungkap bagaimana kondisi remaja di Bontang. Banyak kasus, ada anak melahirkan anak, kasus LGBT dan sebagainya,” ujarnya.
Hal tersebut kemudian menjadi salah satu pemantik bagi Komunitas Muslimah Muda Bontang, untuk mengambil peran melalui kegiatan edukasi. Ia menilai, persoalan tersebut tidak cukup hanya menjadi perhatian pemerintah maupun lembaga terkait. Masyarakat, termasuk komunitas keagamaan, juga memiliki tanggung jawab untuk ikut memberikan edukasi kepada generasi muda.
“Kami bergerak atas dasar konsekuensi keimanan. Ketika ada kemungkaran dan kerusakan diselesaikan. Ini bentuk kepedulian kami sebagai komunitas muslimah di Bontang, dengan cara mengedukasi remaja karena mereka merupakan penerus peradaban,” katanya.
Sebelum kegiatan digelar, pihak panitia juga telah berkomunikasi dengan sejumlah pihak yang dinilai kompeten untuk memastikan materi yang diberikan, kepada peserta dapat disampaikan secara tepat dan edukatif.
Kegiatan dikemas dalam bentuk seminar inspiratif, dimana peserta tidak hanya mendapatkan informasi mengenai risiko perilaku seksual bebas, tetapi juga diajak membangun kesadaran dan menjaga masa depan mereka.
Seminar tersebut secara khusus menyasar generasi muda, terutama pelajar tingkat SMP dan SMA. Sasaran itu dipilih lantaran berbagai persoalan yang menjadi perhatian publik juga banyak berkaitan dengan kalangan usia sekolah.
Panitia mengundang hampir seluruh sekolah di Kota Bontang. Dari masing-masing sekolah, terdapat sekitar lima hingga 10 pelajar yang hadir sebagai perwakilan. Selain pelajar, sejumlah guru pendamping juga turut mengikuti kegiatan
Kesempatan yang sama, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Bontang, Toetoek Pribadi Ekowati menyambut positif acara ini. Dalam sambutannya beliau menyampaikan masa remaja masa-masa yang rentan, kecerdasan saja tidak cukup, sebab dibutuhkan bimbingan akhlak dan agama dari orang tua dan guru di sekolah.
“Generasi muda harus berani bilang tidak terhadap serangan seks bebas, penyimpangan seksual, LGBT. Jangan korbankan masa remaja, karena masa remaja adalah pintu gerbang untuk sukses dunia dan akhirat,” jelasnya.
Sementara itu narasumber dari prespektif kesehatan, dokter spesialis penyakit dan kelamin, dr. Hilmiyah menjelaskan tentang dampak seks bebas dan LGBT adalah terjangkitnya berbagai penyakit menular seksual dan HIV/AIDS. Cara penularan dan pencegahan disampaikan agar para remaja, tetap waspada pada pergaulan bebas dan penyimpangan seksual.
Selain edukasi kesehatan. Peserta seminar juga dijelaskan oleh narasumber lainnya, meliputi ustadzah muda, Nur Ilahiyah, tentang serangan sekularisasi dan liberalisasi pemikiran yang menjadikan standar benar dan salah, pada remaja sesuai dengan barat, bukan standar agama yg benar.
“Para pelajar sangat antusias. Terlihat dari ruangan yang penuh dengan jumlah jumlah peserta 158 orang yang terdiri dari pelajar dan guru pembimbingnya,” ungkapnya.
Hal tersebut menunjukkan bahwa generasi muda memiliki rasa ingin tahu, sekaligus kepedulian terhadap persoalan yang sedang terjadi di lingkungan mereka.
Harapannya, pelajar yang mengikuti seminar dapat meneruskan informasi dan nilai-nilai positif yang diperoleh kepada teman-teman mereka di sekolah.
“Alhamdulillah antusiasnya luar biasa sekali. Ruangan hampir penuh. Ini menunjukkan bahwa adik adik antusias mengikuti acara ini,” ungkap panitia.
Di tengah berbagai pemberitaan mengenai persoalan remaja, panitia justru melihat adanya sisi positif dari keterlibatan para guru dan sekolah, dalam mendorong siswanya mengikuti kegiatan edukatif tersebut.
“Kalau melihat berita yang viral, seolah-olah ada generasi yang tidak peduli. Tapi bisa dilihat di seminar ini, masih ada generasi yg peduli dg permasalahan ini, disisi lain kami bersyukur dengan keterlibatan para ibu guru yang mendorong siswinya datang.” katanya.
Penyelenggara acara berharap seminar tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Edukasi mengenai pergaulan dan perlindungan generasi muda dinilai perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan keluarga, sekolah, komunitas, serta berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap masa depan anak-anak di Bontang.
“Kami melihat ini bagian dari tanggung jawab kami sebagai muslimah. Agar generasi ini selamat dan terhindar dari kerusakan, kami berupaya memberikan edukasi dr sisi kesehatan dan yg tidak kalah penting dari sisi solusi islamnya” pungkasnya.
Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam




