Kepala Bidang Koperasi dan Usaha Mikro DKUMPP, Muhammad Takwin. (ist)
BONTANG – Dinas Koperasi Usaha Mikro Perindustrian dan Perdagangan (DKUMPP) Kota Bontang mendorong seluruh unit usaha Koperasi Merah Putih yang telah terbentuk di setiap kelurahan, agar menyelaraskan usahanya dengan potensi ekonomi lokal di wilayahnya masing-masing.
Kepala Bidang Koperasi dan Usaha Mikro DKUMPP, Muhammad Takwin, mengatakan bahwa pengembangan usaha koperasi harus berangkat dari potensi unggulan yang ada di lingkungan sekitar, baik di sektor pertanian, perkebunan, maupun bidang lainnya.
“Semisal di wilayahnya terdapat potensi pertanian atau perkebunan, maka unit usahanya bisa bergerak di sektor tersebut. Namun pada intinya, semua tergantung kesepakatan pengurus dan anggota koperasi,” ujar Takwin.
Untuk memperkuat permodalan, DKUMPP memberikan peluang bagi pengurus Koperasi Merah Putih untuk mengajukan bantuan dana ke Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) seperti BNI, BRI, Bank Mandiri, dan BTN.
Skema pembiayaan tersebut, menurut Takwin, merupakan bagian dari arahan Menteri Perekonomian. Namun, sebelum mengajukan bantuan, koperasi wajib menyusun proposal bisnis yang lengkap, mencakup analisis usaha, proyeksi keuntungan, dan kebutuhan modal.
“Nanti pihak bank akan melakukan survei dan mengukur kemampuan pengurus dalam mengembalikan pinjaman. Untuk plafon anggaran maksimalnya Rp3 miliar,” jelasnya.
Seminar dan Pelatihan Kewirausahaan Mandiri UMKM yang digelar Indomaret di Hotel Tiara Surya, beberapa waktu lalu. (Yusva Alam)
BONTANG – Dinas Koperasi, Usaha Mikro Perindustrian dan Perdagangan (DKUMPP) Bontang bersinergi dengan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Bontang untuk memitrakan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dengan perusahaan besar yang ada di bontang.
Keseriusan ini dibuktikan melalui keberhasilan DKUMPP memfasilitasi 75 UMKM binaannya untuk bermitra dengan PT Indomarco Prismatama (Indomaret). Dalam kegiatan Seminar dan Pelatihan Kewirausahaan Mandiri UMKM yang digelar di Hotel Tiara Surya, beberapa waktu lalu.
Kepala Bidang Koperasi Usaha Mikro DKUMPP Bontang, Muh Takwin, mengatakan kolaborasi dengan Indomaret menjadi langkah awal untuk membuka akses pemasaran produk lokal ke jaringan ritel modern.
“Melalui kegiatan yang didukung penuh oleh Indomaret ini, kami berharap dapat menjadi pencetus kebangkitan UMKM Bontang agar siap bermitra dengan berbagai perusahaan di daerah,” ujar Takwin.
Menurutnya, Indomaret yang memiliki sejumlah gerai di Kota Bontang telah menyatakan komitmennya untuk memfasilitasi produk-produk UMKM agar dapat dipasarkan di rak toko mereka.
“Sebanyak 75 UMKM binaan Pemkot sudah memiliki produk yang siap dipasarkan hingga luar daerah. Indomaret menyambut baik hal itu dengan beberapa syarat dan ketentuan yang disepakati,” tambahnya.
Takwin juga mengungkapkan bahwa Indomaret menjadi perusahaan pertama yang resmi bermitra dengan UMKM Bontang. Perusahaan ritel tersebut tak hanya membuka akses pemasaran, tetapi juga memberikan pembinaan agar produk UMKM dapat menembus pasar nasional.
“Kegiatan seminar dan pembinaan ini juga difasilitasi langsung oleh Indomaret. Ke depan, kami akan terus berkoordinasi dengan DPMPTSP untuk memperluas kemitraan dengan perusahaan besar lainnya,” ungkapnya.
Melalui langkah sinergis antara DPMPTSP, DKUMPP, dan pihak swasta ini, Pemerintah Kota Bontang berharap UMKM lokal dapat naik kelas, memperluas pasar, dan menjadi bagian dari rantai ekonomi yang berkelanjutan.
BONTANG – Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian dan Perdagangan (DKUMPP) Kota Bontang mengingatkan kepada para pelaku usaha yang memiliki gudang, bahwa pengurusan Tanda Daftar Gudang (TDG) cukup mudah.
Kepala Bidang Perdagangan DKUMPP Kota Bontang, Sunita Sinaga menerangkan, proses penerbitan TDG kini dilakukan melalui sistem Online Single Submission (OSS) yang telah terintegrasi dengan instansi teknis lainnya.
Di sistem OSS ini, pelaku usaha dapat mendaftarkan dan mengurus izin secara mandiri, mulai dari pembuatan akun, pemilihan jenis perizinan, hingga pengajuan TDG yang secara otomatis akan terhubung ke DKUMPP.
Namun sebelum mengajukan TDG, pemilik gudang wajib memiliki Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) izin yang sebelumnya dikenal sebagai Izin Mendirikan Bangunan (IMB).
“Dalam OSS itu proses perizinan sudah dipermudah, tapi pelaku usaha tetap harus memastikan persyaratan dasarnya lengkap, termasuk PBG. Jika semua terpenuhi, pengurusan TDG bisa dilakukan dengan cepat,” tambahnya.
Ditambahkan, kepemilikan TDG bukan hanya soal kepatuhan terhadap regulasi, tetapi juga bagian dari pendataan dan pengawasan aktivitas pergudangan di Kota Bontang.
“Kalau TDG sudah terbit, data gudang di Bontang akan lebih tertata, dan pengawasan dari pemerintah bisa dilakukan lebih efektif,” pungkasnya.
BONTANG – Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Bontang melakukan pengawasan rutin terhadap kegiatan usaha di wilayahnya.
Saat ini, terdapat lebih dari 200 unit usaha yang diawasi, mencakup tiga sektor utama, yakni kesehatan, perizinan berusaha, dan bangunan.
Isma Istihari, Jabatan Fungsional Penata Perizinan DPMPTSP Kota Bontang, mengatakan bahwa pengawasan dilakukan secara berkala untuk memastikan seluruh pelaku usaha mematuhi ketentuan izin yang dimiliki.
“Ada perizinan sektor kesehatan, ada perizinan berusaha, dan ada sektor bangunan. Jumlah ketiganya ada 200 lebih,” ujarnya, Jumat (7/11/2025).
Pengawasan tersebut mengacu pada Peraturan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Nomor 5 Tahun 2021 tentang Pedoman dan Tata Cara Pengawasan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko. Kegiatan ini bertujuan memastikan pelaku usaha memenuhi persyaratan dan kewajiban sebagaimana tertuang dalam izin yang dimiliki.
Dalam pelaksanaannya, DPMPTSP Bontang menilai dua indikator utama, yakni kepatuhan teknis dan kepatuhan administratif.
Kepatuhan teknis meliputi pemenuhan persyaratan dan kewajiban teknis dalam perizinan berusaha.
Kepatuhan administratif mencakup sejumlah aspek, seperti rasio realisasi penanaman modal, penyampaian laporan berkala, penyerapan tenaga kerja Indonesia, kemitraan dengan koperasi dan UMKM, serta pemanfaatan fasilitas dan insentif yang diberikan pemerintah
Selain menilai indikator tersebut, pengawasan juga dilakukan untuk memastikan pelaku usaha menyampaikan Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) secara berkala. Laporan ini menjadi dasar evaluasi terhadap realisasi investasi dan perkembangan usaha di daerah.
“Kami awasi juga kesesuaian antara izin dan jenis usaha yang dijalankan. Misalnya, izinnya konstruksi tapi kegiatan yang dijalankan justru berbeda, tentu akan kami tindaklanjuti,” tambahnya
Selain memastikan kepatuhan, DPMPTSP juga melakukan pembinaan bagi perusahaan yang menghadapi kendala dalam kegiatan usaha maupun pelaporan LKPM. Jika ditemukan pelanggaran, maka dapat dikenakan sanksi administratif sesuai ketentuan.
Suasana tenang dan tertata rapi, salah satu desa terbersih di dunia.
Perjalanan ini berawal bukan dari rencana liburan. Tujuan utama saya ke Bali adalah menjenguk kakak kedua yang sedang sakit cukup serius. Ia tinggal di daerah Legian. Sudah lama kami tidak bertemu, dan saat mendengar kabarnya, saya merasa harus datang. Saya berangkat bersama istri dan putri saya, ditemani kakak saya yang nomor tujuh. Saya sendiri anak kedelapan.
Setiba di Denpasar, kami langsung menuju rumahnya. Kondisinya belum pulih, tapi ia masih bisa tersenyum menyambut kami. Saya hanya bisa berdoa agar ia diberi kesembuhan dan kekuatan. Tentang perjalanan batin ini, mungkin akan saya tulis lebih panjang di lain waktu.
Karena sudah berada di Bali, saya memanfaatkan waktu empat hari untuk sekadar “berlibur tipis-tipis”. Tidak ada jadwal ketat, tidak ada target wisata tertentu. Saya hanya ingin menikmati suasana Pulau Dewata tanpa tergesa.
Di Bebek Tepi Sawah, menikmati makan siang di tengah hujan dengan pemandangan hijau yang menenangkan.
Kami menginap di Harris Hotel Kuta Galleria, hotel yang cukup strategis dan nyaman untuk keluarga. Hujan turun hampir setiap hari, tapi udara lembap dan langit mendung justru memberi ketenangan. Bali di musim hujan terasa lebih lembut dan lebih manusiawi.
Saya memulai perjalanan menuju Desa Adat Penglipuran di Bangli, salah satu desa terbersih di dunia. Begitu tiba, kesan pertama adalah keteraturan. Jalan batu tersusun rapi, rumah bambu berjajar simetris, dan aroma dupa memenuhi udara. Warga tampak berbincang santai sambil menata bunga persembahan, sementara ratusan siswa tengah melakukan studi tur. “Kami diminta mencari tahu tradisi di sini,” kata seorang siswa kelas 8 dari MTS Surakarta. Di Penglipuran, kebersihan bukan sekadar program, tapi sudah menjadi budaya. Desa ini hidup dalam keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan.
Dari Penglipuran, saya melanjutkan perjalanan ke Kintamani dengan harapan menikmati kopi panas sambil menatap Gunung Batur. Namun langit mendadak gelap, hujan deras turun tanpa jeda, dan kabut menutupi pemandangan. Saya memutuskan turun ke arah Ubud dan berhenti di restoran Bebek Tepi Sawah. Suasananya tenang, diapit hamparan sawah yang basah. Aroma sambal matah dan rempah khas Bali menyeruak dari dapur. Makan siang di tengah hujan itu menjadi momen paling berkesan. Kadang, perjalanan tak harus sempurna untuk meninggalkan kenangan yang baik.
Warga melaksanakan sembahyang menghadap laut, suasana spiritual di tepi ombak Pantai Sanur.
Sore harinya, kami menuju Pantai Sanur. Ombak kecil berkejaran di tepi pantai, beberapa warga berpakaian putih sembahyang menghadap laut. Saya duduk diam, memperhatikan mereka. Laut di Bali bukan sekadar tempat wisata, tapi ruang spiritual di mana doa dan alam saling menyapa.
Keesokan harinya, hujan kembali turun. Saya memilih berkunjung ke The Keranjang dan Krisna Oleh-Oleh. Dua tempat yang sama-sama ramai, tapi punya karakter berbeda. The Keranjang tampil modern dan artistik, sementara Krisna tetap jadi favorit karena harganya bersahabat. Kami membeli beberapa oleh-oleh seperti pie susu, kopi, dan kacang Bali.
Setelah itu, kami singgah ke Pantai Kuta. Kontras dengan Sanur, Kuta lebih hidup. Turis berseliweran, musik kafe berdentum, pedagang asongan menawarkan jasa pijat dan minuman. Namun menjelang senja, suasana berubah lembut. Langit oranye keemasan, matahari perlahan tenggelam di balik laut, dan siluet patung kesatria Bali di gerbang pantai tampak gagah. Di bawah langit senja Kuta, saya merasa kembali pulang, bukan ke rumah, tapi ke rasa syukur.
Patung kesatria Bali berdiri megah menyambut senja di Pantai Sanur.
Malamnya, saya sempat bertemu sahabat lama, Lukas Banu, alumni SMA 5 Balikpapan yang kini sukses sebagai lawyer internasional. Kami berbincang santai soal profesi dan rencana kecil mengembangkan SiaranBali.com, media hukum dan budaya yang sedang kami bangun bersama. Pertemuan itu singkat tapi berkesan. Mengingatkan bahwa perjalanan sering kali mempertemukan kita dengan masa lalu yang membawa inspirasi baru.
Empat hari di Bali berlalu cepat. Saya tak mengunjungi banyak tempat, tapi setiap langkah punya cerita. Bali kali ini bukan tentang petualangan besar, melainkan perjalanan kecil untuk menenangkan diri dan berterima kasih atas hidup.
Soal biaya, banyak yang mengira perjalanan lintas negara itu mahal. Faktanya, dengan perencanaan matang, semuanya bisa diatur tetap hemat. Total biaya perjalanan ini sudah termasuk tiket pesawat, sewa kendaraan, dan akomodasi — bertiga selama di Bali, serta berdua selama di Singapura dan Kuala Lumpur.
Tiket pesawat Balikpapan–Denpasar sekitar Rp1,8 juta, sewa mobil empat hari Rp1,3 juta, tiket Denpasar–Singapura Rp2,4 juta, bus Singapura–Kuala Lumpur Rp1 juta, dan tiket pulang Kuala Lumpur–Balikpapan Rp3,4 juta. Untuk penginapan: Harris Hotel Denpasar Rp1,8 juta (4 hari), Hotel Boss Singapura Rp4,8 juta (3 malam), dan Berjaya Times Square Kuala Lumpur Rp2,4 juta (2 malam).
Jika dijumlahkan, total keseluruhan perjalanan selama 9 hari ke tiga negara ini mencapai sekitar Rp19 juta. Apabila biaya hotel dipisahkan, maka biaya transportasi dan aktivitas wisata hanya sekitar Rp9,5 juta, masih tergolong hemat untuk perjalanan lintas negara dengan pengalaman penuh selama di Bali, Singapura, dan Kuala Lumpur.
Bersama Lukas Banu, sahabat lama yang kini menjadi lawyer internasional, berbincang santai di Denpasar.
Bagi yang ingin lebih irit, banyak penginapan alternatif yang tetap nyaman. Di Singapura, ada Hotel 81 Bugis, The Pod Capsule Hostel, dan Beary Best Chinatown dengan tarif mulai Rp400–900 ribu per malam. Sementara di Kuala Lumpur, bisa memilih Citin Seacare Pudu, Hotel Sentral KL, atau Ahyu Hotel Chinatown dengan harga Rp350–550 ribu per malam. Dengan pilihan ini, biaya perjalanan bisa ditekan hingga 40 persen tanpa kehilangan kenyamanan.
Setelah urusan di Bali selesai, saya dan istri melanjutkan perjalanan ke Singapura, lalu ke Kuala Lumpur. Anak saya lebih dulu kembali ke Balikpapan karena kuliah. Sejak awal, saya memang ingin mencoba perjalanan lintas negara dengan gaya backpacker — berjalan kaki, naik grab, naik MRT, dan menikmati kota dengan langkah perlahan.
Perjalanan di Singapura baru saya mulai Jumat (7/11) hari ini. Dan seperti biasa, setiap langkah baru selalu membawa rasa penasaran yang sama: tentang tempat yang belum dikunjungi, orang yang belum ditemui, dan cerita yang menunggu untuk ditulis. (bersambung)
Tahap akhir uji kompetensi peserta pelatihan pengolahan kerang yang diadakan DKUMPP Bontang. (Yusva Alam)
BONTANG — Para peserta pelatihan kerajinan kerang diharapkan tidak hanya mengaplikasikan keterampilan yang diajarkan untuk berwirausaha, namun juga untuk manfaat yang lain seperti sebagai pengajar.
Hal itu diungkapkan Kepala Bidang Perindustrian Dinas Koperasi Usaha Mikro Perindustrian dan Perdagangan (DKUMPP) Bontang, Muh Ridwan saat memantau tahap akhir pelatihan kerajinan kerang, yaitu uji kompetensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
Ia menyebutkan, DKUMPP memang berharap skill membuat kerajinan kerang yang diajarkan di pelatihan ini dapat digunakan peserta untuk berwirausaha. Sehingga mampu menambah pendapatan atau perekonomian keluarga mereka.
Namun begitu, karena pelatihan juga menyediakan uji kompetensi dari BNSP, maka peserta yang berhasil lulus diakui secara nasional telah memiliki keterampilan membuat kerajinan kerang berstandar nasional.
“Dengan sertifikasi itu, diharapkan peserta bisa menjadi pengajar keterampilan membuat kerajinan kerang. Sehingga juga bisa memiliki nilai ekonomi bagi peserta,” ujar Ridwan.
Diketahui, proses sertifikasi tersebut bertujuan memastikan kemampuan teknis dan profesional para peserta benar-benar sesuai dengan standar nasional.
“Sertifikasi ini tidak hanya formalitas. Peserta akan melalui uji kompetensi yang ketat, meliputi kemampuan teknis, pemahaman prosedur, serta penerapan standar kerja di lapangan,” ujarnya, Kamis (6/11/2025).
Ia menambahkan, sertifikasi BNSP menjadi langkah penting dalam pemberdayaan masyarakat pesisir dan peningkatan kualitas tenaga kerja lokal, khususnya di sektor pengolahan hasil laut.
DKUMPP Bontang saat mendampingi DPPKUKM Kaltim Lakukan Pengawasan Penyaluran dan Penggunaan Pupuk Subsidi di agen dan penerima manfaat. (Ist)
BONTANG – Dinas Koperasi Usaha Mikro Perindustrian dan Perdagangan (DKUMPP) Bontang bersama Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan dan Pertanian (DKP3) Bontang, serta Satpol PP Kota Bontang mendampingi Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi Usaha Kecil dan Menengah (DPPKUKM) Kaltim dan Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Holtikultura Kaltim melakukan pengawasan penyaluran dan penggunaan pupuk bersubsidi, Kamis (6/11/2025).
Diketahui, kegiatan ini merupakan lanjutan dari kegiatan Rabu (5/11/2025) kemarin terkait sosialisasi Perpres Nomor 6 Tahun 2025.
Kali ini, pengawasan penyaluran dan penggunaan subsidi terhadap 1 Agen dan 2 Kelompok Tani sebagai penerima manfaat pupuk bersubsidi.
Pengawasan meliputi izin-izin usaha, pendistribusian pupuk subsidi dari distributor, dan administrasi penyaluran pupuk bersubsidi ke petani.
Penata Layanan Operasional Dinas Pangan Tanaman Pangan dan Holtikultura Kaltim, Novi mengingatkan agar penyesuaian HET Pupuk Bersubsidi disosialisasikan kepada petani, dan penjualan pupuk bersubsidi harus sesuai HET. “Jika ada penambahan karena adanya biaya angkut, agar dibuatkan administrasi tersendiri,” ujarnya.
Saat dilakukan pengawasan ke Agen Pupuk Bersubsidi Kota Bontang, CV Awal Borneo Raya di Jalan Soekarno Hatta RT. 001, Kanaan. Agus yang mewakili agen menyebutkan bahwa, petani mengambil sendiri ke lokasi agen sehingga tidak dibebankan biaya angkut dan harga sesuai dengan HET.
Kemudian kunjungan dilakukan ke penerima manfaat dalam hal ini kelompok usaha bersama (Kube) Bintang Bercahaya di Jalan Damai dan Kube Karya Bersama di Jalan Kol.
Disampaikan oleh ketuanya, bahwa pembelian pupuk saat ini sangat mudah tidak susah seperti sebelumnya. Cukup membawa KTP saja, dan mereka hanya menebus pupuk sesuai dengan kebutuhan dan luasan lahan tanam.
Lalu terkait penyesuaian HET Pupuk, mereka sudah diinformasikan oleh agen maupun penyuluh dari Dinas Pangan Kota Bontang.
Para peserta pelatihan pembuatan empek-empek mendengarkan materi BPOM. (Yusva Alam)
BONTANG – Para peserta pelatihan pembuatan empek-empek mulai menjalani pelatihan di hari pertama, Kamis (6/11/2025) di Guest House Halal Square. Kegiatan ini diadakan Dinas Koperasi Usaha Mikro Perindustrian dan Perdagangan (DKUMPP) Bontang bekerjasama dengan LPK Madinah Smart.
Kepala Bidang Perindustrian DKUMPP Bontang, Muh Ridwan menjelaskan, pelatihan kali ini diikuti 70 peserta. Dimana peserta akan belajar membuat empek-empek selama 2 hari, Kamis dan Jumat (7/11/2025) besok.
Di hari pertama, selain mendapat teori pembuatan kuliner asal Palembang ini, peserta juga diberikan materi seputar aturan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
“Peserta perlu tahu aturan BPOM. Agar setelah bisa membuat produk empek-empek bisa memahami aturan produk yang diperbolehkan diperjual belikan,” ungkapnya.
Sementara di hari kedua, peserta langsung praktik membuat empek-empek.
Pihaknya pun berharap, para peserta bisa menerapkan keterampilan yang diajarkan. Agar dapat berwirausaha dengan keterampilan tersebut.
“Semoga bisa membantu perekonomian keluarga mereka,” pungkasnya.
Pembukaan pelatihan olahan hasil laut di Ex Kantor PHM. (Yusva Alam)
BONTANG – Sebanyak 26 peserta mulai menjalani pelatihan olahan hasil laut, Kamis (6/11/2025) di Ex Kantor PHM. Pelatihan ini diinisiasi oleh Dinas Koperasi Usaha Mikro Perindustrian dan Perdagangan (DKUMPP) Bontang.
Muh Ridwan, Kepala Bidang Perindustrian DKUMPP Bontang menjelaskan, peserta akan mengikuti pelatihan selama 2 hari, Kamis dan Jumat (7/11/2025). Para peserta akan diajarkan membuat dimsum berbahan ikan.
Pelatihan yang mengangkat tema ‘Mengolah hasil laut, Meningkatkan nilai, Membangun UMKM Bontang hebat’ ini, diadakan berdasarkan pada salahsatu program prioritas Pemkot Bontang, yaitu hilirisasi industri.
Dijelaskannya, hilirisasi industri yang dimaksud adalah bagaimana bisa mengolah potensi SDA yang ada di Kota Bontang.
“Karena potensi SDA Bontang terbesarnya adalah hasil laut, maka pelatihan ini diadakan untuk mengajarkan bagaimana membuat beragam hasil laut menjadi produk jadi seperti dimsum,” ujarnya.
Selain itu, pihaknya juga berharap, hasil dari pelatihan ini peserta dapat mengaplikasikan keterampilan yang diajarkan untuk menambah pendapat keluarga.
“Pesertanya sebagian besar ibu-ibu. Semoga bisa bantu menambah perekonomian mereka,” pungkasnya.
BONTANG – Demi menjaga mutu pelayanan di Rumah Sakit (RS), RSUD Taman Husada Bontang telah konsisten dalam kepatuhan terhadap standar keselamatan dan kesehatan di lingkungannya.
Kepala Bidang Pelayanan Medik dan Pengendalian Mutu RSUD Taman Husada, dr. Tri Ratna Paramita menyampaikan bahwa, selain komitmen menjaga mutu pelayanan, pihaknya juga memastikan bahwa semua kegiatan di RS termasuk dengan pengelolaan limbah berjalan dengan standar keselamatan dan kesehatan lingkungan.
“Pastinya dari aspek keselamatan pasien, serta dengan kesehatan lingkungan menjadi prioritas bagi kami,” ucapnya, Kamis (6/11/2025).
Pihaknya juga menegaskan, jika posisinya sebagai salah satu rumah sakit rujukan di Kalimantan Timur (Kaltim), terus mengedepankan pelayanan berkualitas, aman, dan ramah lingkungan.
“Jadi untuk bagian limbah di lingkungan RSUD telah dipastikan sesuai dengan standar yang telah berlaku, walaupun hasil resminya belum dirilis oleh Labkesda. Akan tetapi, masih dalam batas normal,” tutupnya. (Dwi/Adv)