Beranda blog Halaman 475

PPIKN 2025 Dibuka ke Publik, Otorita IKN Tegaskan Arah Pembangunan Nusantara Berbasis Data

0
Sosialisasi hasil PPIKN bersama Kementerian Dalam Negeri dan Badan Pusat Statistik Nasional di KIPP IKN, Senin (22/12/2025). Agenda ini untuk memastikan kebijakan pembangunan kawasan IKN ke depan berbasis data. (Dok. OIKN)

NUSANTARA — Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) menegaskan komitmennya membangun Kota Nusantara dengan pendekatan berbasis data melalui sosialisasi hasil Pendataan Penduduk Ibu Kota Nusantara (PPIKN) 2025. Data tersebut resmi dibuka dan disampaikan kepada pemerintah provinsi serta kabupaten/kota di Kalimantan Timur sebagai dasar perencanaan kebijakan pembangunan ke depan.

Sosialisasi yang digelar di Kantor Kemenko 1 Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN, Senin (22/12/2025), diikuti sekitar 250 peserta lintas instansi. Peserta terdiri dari perwakilan pemerintah provinsi, kabupaten/kota, tujuh camat, serta perwakilan 53 desa dan kelurahan yang masuk wilayah delineasi IKN.

Forum ini digelar untuk memastikan seluruh kebijakan pembangunan di kawasan IKN dan sekitarnya disusun secara tepat sasaran, inklusif, dan berkelanjutan dengan menjadikan data sebagai pijakan utama.

Berdasarkan hasil PPIKN 2025 yang dihimpun oleh Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk di wilayah IKN tercatat sebanyak 147.427 jiwa. Komposisinya relatif seimbang, dengan 51 persen penduduk laki-laki dan 49 persen perempuan.

Dari sisi struktur demografi, penduduk IKN didominasi kelompok usia produktif. Sebanyak 27 persen merupakan generasi Z, disusul generasi milenial sebesar 23 persen. Selain itu, sekitar 41 persen penduduk IKN tercatat sebagai penduduk migran.

Deputi Bidang Statistik Sosial BPS RI, Ateng Hartono, menilai komposisi tersebut menjadi modal penting bagi pembangunan jangka panjang IKN, terutama dalam merancang kebijakan ketenagakerjaan, pendidikan, dan layanan publik.

“Pada tahun 2025, setengah dari penduduk IKN merupakan generasi X dan milenial. Ini menunjukkan potensi besar sumber daya manusia usia produktif yang harus dikelola dengan perencanaan matang dan berbasis data,” ujar Ateng.

Sementara itu, Deputi Bidang Transformasi Hijau dan Digital Otorita Ibu Kota Nusantara, Agung Indrajit, menekankan bahwa keterbukaan data harus diiringi dengan kemampuan dan integritas dalam pemanfaatannya.

“Mari kita terus belajar menggunakan data ini dengan cara yang benar dan berintegritas. Kita ingin menunjukkan kepada Indonesia dan dunia bahwa Indonesia mampu membangun kota modern yang benar-benar berbasis data,” tegas Agung.

Menurutnya, PPIKN bukan sekadar data statistik, melainkan fondasi penting dalam merumuskan kebijakan lintas sektor, mulai dari perencanaan infrastruktur, pelayanan dasar, hingga pengembangan sosial dan ekonomi masyarakat di kawasan IKN.

Sosialisasi ini juga dirancang sebagai ruang dialog antar pemangku kepentingan, agar data PPIKN dapat dimanfaatkan secara optimal hingga ke tingkat desa dan kelurahan. Dengan demikian, sinergi pembangunan dapat terbangun secara berjenjang dari tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, hingga pemerintahan desa.

Sebagai informasi, peserta sosialisasi berasal dari Bappeda Provinsi Kalimantan Timur, BPS, P2KB, Dinas Kesehatan, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Provinsi Kalimantan Timur, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kabupaten Kutai Kartanegara, para camat, serta perwakilan 53 desa di wilayah delineasi IKN.

Hadir sebagai narasumber antara lain Deputi Bidang Statistik Sosial BPS RI, perwakilan Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri, serta jajaran pimpinan Otorita IKN. (riz)

Editor: Agus S.

Disorot di DPRD, Joko Istanto Tegaskan Data Kawasan Hutan Bukan Kewenangan Provinsi

0
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kalimantan Timur, Joko Istanto. (Hanafi/MKN)

SAMARINDA — Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kalimantan Timur, Joko Istanto, meluruskan polemik terkait sikapnya yang sempat dinilai “diam” saat berada di DPRD Kaltim. Ia menegaskan, kehati-hatian tersebut bukan bentuk penghindaran, melainkan karena persoalan yang ditanyakan berada di luar kewenangan pemerintah provinsi.

Ditemui usai pelantikannya sebagai Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kalimantan Timur pada Senin (22/12/2025), mantan Kepala Dinas Kehutanan Kaltim periode 2023–2025 itu menjelaskan bahwa data kehutanan, termasuk penghitungan deforestasi dan rehabilitasi hutan, sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah pusat.

“Kalau soal data kehutanan yang menghitung kementerian, kami di provinsi tidak punya kewenangan menghitung. Wali data itu Kementerian Kehutanan melalui direktorat jenderal terkait,” ujar Joko Istanto.

Ia menegaskan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur tidak memiliki otoritas untuk mengaktifkan atau menonaktifkan data kehutanan, termasuk angka deforestasi. Karena itu, pihaknya memilih menunggu rilis resmi dari kementerian agar informasi yang disampaikan tidak keliru.

“Kalau ada angka deforestasi sekian, itu bukan kewenangan provinsi, tapi kewenangan kementerian. Makanya saya berhati-hati dan menunggu data resmi,” jelasnya.

Menurut Joko, pembagian kewenangan tersebut merujuk pada Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, yang mengatur bahwa seluruh urusan di dalam kawasan hutan berada di bawah kewenangan pemerintah pusat.

“Dalam kawasan hutan, termasuk pendanaan, rehabilitasi, dan reforestasi, itu kewenangan Kementerian Kehutanan melalui UPT seperti BPDAS Mahakam Berau yang ada di Kaltim,” katanya.

Sementara itu, peran pemerintah provinsi, termasuk DLH dan Dinas Kehutanan Provinsi, berada pada aktivitas di luar kawasan hutan. Area tersebut meliputi perkebunan berstatus HGU, pertambangan, serta kegiatan usaha lainnya yang melibatkan berbagai instansi.

“Di luar kawasan hutan, kami berbagi peran dengan UPTD dan instansi lain sesuai tugas masing-masing,” lanjutnya.

Terkait penghitungan emisi dan pencemaran lingkungan, Joko menjelaskan bahwa mekanismenya berbeda antar sektor. Untuk emisi gas rumah kaca, misalnya, terdapat sistem dan portal khusus yang digunakan sesuai bidang.

“Di sistem seperti FCPP ada portal MRV untuk menghitung emisi. DLH fokus pada emisi dari sampah dan pencemaran lingkungan, sementara sektor kehutanan dan perkebunan memiliki metode penghitungan sendiri,” paparnya.

Ia juga menekankan bahwa kegiatan penanaman tidak bisa dilakukan sembarangan oleh semua dinas karena telah ada pembagian kewenangan yang jelas.

“Menanam itu ada tugasnya. Kewenangan penanaman ada di Dinas Kehutanan. Tidak bisa semua dinas melakukan penanaman,” tegas Joko.

Dengan penjelasan tersebut, Joko berharap publik dan pemangku kepentingan memahami batas kewenangan masing-masing instansi, sehingga tidak terjadi kesalahpahaman terkait peran DLH Kaltim dalam isu kehutanan dan lingkungan hidup. (hnf)

Editor: Agus S.

Benturan Subuh di Sungai Mahakam, Pelindo–SPJM Tarik Tongkang dari Jembatan Mahulu

0
Kejadian tabrakan kapal tongkang dengan Jembatan Mahulu, kapal tongkang tampak penyok di sisi depan dan tersandar di tiang jembatan. (Sc)

SAMARINDA – Insiden tabrakan tongkang bermuatan batu bara ke Jembatan Mahulu pada Selasa subuh memicu respons darurat dari operator pelayaran. PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 4 Samarinda bersama Pelindo Jasa Maritim (SPJM) langsung melakukan evakuasi untuk mengamankan struktur jembatan, keselamatan pelayaran, dan kelancaran arus di Sungai Mahakam.

Peristiwa terjadi sekitar pukul 05.30 WITA di alur sungai, ketika tongkang menghantam kaki penyangga Jembatan Mahulu. Begitu menerima laporan, Pelindo Regional 4 Samarinda berkoordinasi dengan SPJM serta instansi terkait untuk memastikan penanganan berlangsung cepat dan terkontrol.

Sebagai langkah tanggap darurat, SPJM mengerahkan dua kapal tunda—TB Herlin II dan TB HNJ 09—untuk menarik dan mengamankan tongkang ke lokasi labuh yang aman. Upaya ini ditujukan mencegah risiko lanjutan terhadap jembatan dan aktivitas transportasi air di sekitar lokasi kejadian.

General Manager Pelindo Regional 4 Samarinda, Capt. Suparman, menegaskan prioritas utama adalah keselamatan. “Sejak awal kejadian kami langsung berkoordinasi dan menurunkan dukungan operasional yang dibutuhkan. Keselamatan jembatan, pengguna sungai, dan masyarakat menjadi fokus, dengan seluruh proses sesuai standar keselamatan pelayaran,” ujarnya.

Pelindo Regional 4 Samarinda juga menyatakan terus berkomunikasi dengan pihak berwenang untuk mendukung proses investigasi dan memastikan kondisi alur pelayaran tetap terkendali pascakejadian.

Sementara itu, Sekretaris Perusahaan SPJM, Tubagus Patrick, menjelaskan pengerahan kapal tunda merupakan bagian dari kesiapsiagaan layanan maritim. “Begitu menerima informasi, kami segera mengerahkan TB Herlin II dan TB HNJ 09 untuk menarik serta mengamankan tongkang, sehingga potensi risiko lanjutan dapat diminimalkan,” jelasnya.

Menurutnya, koordinasi lintas pihak menjadi kunci agar penanganan insiden efektif, dengan tetap mengutamakan keselamatan kerja, perlindungan lingkungan, dan kelancaran pelayaran.

Pelindo Regional 4 Samarinda dan SPJM menyampaikan keprihatinan atas insiden tersebut serta menegaskan komitmen memperkuat mitigasi risiko ke depan. Sebagai BUMN kepelabuhanan dan layanan maritim nasional, Pelindo menyatakan akan terus hadir dalam situasi darurat untuk memastikan operasional kepelabuhanan dan pelayaran berlangsung aman, andal, dan berkelanjutan. (hnf)

Editor: Agus S.

Aktivis Lingkungan Ingatkan Raperda Mahakam: Sungai Bukan Komoditas, Konservasi Harus Diutamakan

0
Sungai Mahakam dan lalu lintasnya dipotret dari Bukit Lonceng Samarinda. (K. Irul Umam/MKN)

SAMARINDA – Rencana pengesahan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Pengelolaan Sungai Mahakam mendapat sorotan dari kalangan pegiat lingkungan. Mereka mengingatkan agar regulasi tersebut tidak menjadikan sungai semata sebagai ruang ekonomi, melainkan menempatkan konservasi dan perlindungan ekologi sebagai orientasi utama.

Ketua Gerakan Memungut Sehelai Sampah (GMSS) Karang Mumus, Misman, menilai meski naskah akademik Raperda memuat aspek ekonomi dan ekologi, pendekatan pengelolaan Sungai Mahakam seharusnya lebih tegas berpihak pada penyelamatan lingkungan.

“Kalau bicara sungai, sebaiknya fokus ke konservasi. Ruang-ruang pemanfaatan harus dibatasi dengan jelas. Begitu ekonomi praktis didorong terlalu jauh, sungai pelan-pelan akan dihabisi,” ujarnya.

Misman mengingatkan pengalaman di sejumlah daerah aliran sungai (DAS) di Sumatera yang rusak akibat pendekatan ekonomi semata. Kerusakan hulu, kata dia, berujung pada sedimentasi berat dan degradasi sungai di hilir, hingga memicu bencana berulang.

Ia juga menyoroti persoalan kewenangan pengelolaan Sungai Mahakam yang saat ini berada di pemerintah pusat. Menurutnya, daerah yang menanggung dampak langsung justru memiliki ruang terbatas untuk mengatur dan melindungi sungai.

“Yang merasakan dampaknya masyarakat di sini, tapi yang mengelola bukan daerah. Logika ini harus diubah. Tidak cukup hanya berpegang pada payung hukum, tapi juga akal sehat,” tegasnya.

Misman menilai hukum kerap dapat berubah mengikuti kepentingan, sementara kerusakan ekologi akan diwariskan lintas generasi. Karena itu, ia mendorong Raperda Mahakam benar-benar memperkuat argumentasi akademik untuk penguatan peran daerah, dengan alasan konservasi dan perlindungan lingkungan.

Meski kritis, Misman menyatakan dukungannya terhadap inisiatif penyusunan Raperda Pengelolaan Sungai Mahakam. Namun ia menegaskan regulasi tersebut tidak boleh berhenti sebagai dokumen normatif.

“Saya setuju ada Raperda, tapi jangan hanya jadi tumpukan aturan yang tak dijalankan. Banyak perda yang nasibnya seperti itu,” katanya.

Terkait wacana pengerukan Sungai Mahakam dan Sungai Karang Mumus, Misman menilai langkah tersebut keliru jika tidak dibarengi perbaikan menyeluruh di wilayah hulu. Sumber utama sedimentasi, menurutnya, justru berasal dari kerusakan DAS yang luas.

“Kalau Mahakam dikeruk sementara hulunya rusak, itu seperti gali lubang tutup lubang. Anggaran besar seharusnya difokuskan pada konservasi,” ujarnya.

Ia juga mengkritik proyek normalisasi sungai yang dinilai kurang sensitif terhadap ekosistem, termasuk pemasangan beton dan sheet pile di sejumlah titik Sungai Karang Mumus.

“Sungai harus dirawat, bukan dirusak ekosistemnya. Kadang yang tidak normal itu bukan sungainya, tapi manusianya,” pungkas Misman. (um)

Editor: Agus S.

Jembatan Mahulu Ditabrak Tongkang, DPRD Kaltim Nilai Pengawasan Lalu Lintas Sungai Lalai

0
Kerusakan tongkang batu bara setelah menghantam tiang Jembatan Mahulu Samarinda. (Ist)

SAMARINDA – Insiden tabrakan kapal tongkang kembali terjadi di Sungai Mahakam dan kali ini menghantam infrastruktur vital Kota Samarinda. Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu), satu-satunya jembatan yang dapat dilalui angkutan berat, ditabrak tongkang bermuatan batu bara pada Selasa dini hari (23/12/2025), sekitar pukul 05.00 WITA, sesaat setelah waktu Subuh.

Tongkang bernomor lambung M80-1302 yang ditarik tugboat bertuliskan KD 2018 dilaporkan menghantam langsung kaki penyangga jembatan. Dalam rekaman video yang beredar luas dan direkam dari atas perahu ketinting milik relawan, terlihat jelas bagian haluan tongkang robek akibat benturan keras dengan struktur jembatan.

“Persis telak menabrak tiang Jembatan Mahulu,” ujar salah seorang relawan dalam video tersebut.

Benturan terjadi tanpa adanya fender atau pelindung pada kaki jembatan, sehingga ponton langsung mengenai dua pilar penyangga. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius, mengingat Jembatan Mahulu merupakan akses utama bagi kendaraan bertonase besar di Samarinda. Jembatan yang mulai dibangun sejak 2006 itu juga tercatat bukan kali pertama menjadi korban tabrakan kapal.

Rentetan insiden serupa kembali membuka sorotan terhadap lemahnya pengawasan lalu lintas sungai, khususnya terhadap kapal dan tongkang bermuatan besar yang melintas di bawah jembatan-jembatan strategis di Sungai Mahakam.

Ketua Komisi II DPRD Kalimantan Timur, Sabaruddin Panrecalle, menegaskan bahwa kejadian ini tidak bisa lagi dianggap sebagai peristiwa biasa. Ia menilai insiden tersebut merupakan bentuk kelalaian serius dalam pengawasan dan pengendalian lalu lintas sungai.

“Sudah berulang kali jembatan kita ditabrak ponton maupun tongkang. Ini menunjukkan ada kelalaian. Kontrol di lapangan jelas tidak maksimal,” ujar Sabaruddin, Selasa (23/12/2025).

Menurutnya, kecelakaan semacam ini seharusnya bisa dicegah jika prosedur pengolongan kapal dijalankan secara konsisten, termasuk penggunaan kapal pandu dan kapal assist sesuai ketentuan.

“Kalau konsisten ada kapal pandu dan assist yang melakukan pengawalan, kejadian seperti ini tidak akan terjadi. Jika pengolongan dilakukan di luar jam yang diinstruksikan atau tanpa pandu, itu jelas pelanggaran,” tegasnya.

Sabaruddin juga menepis anggapan bahwa insiden tersebut disebabkan faktor alam. Ia menilai tabrakan murni akibat kesalahan manusia dan lemahnya pengawasan.

“Jangan dikategorikan sebagai faktor alam. Ini human error. Jangan hanya sibuk mengeruk bumi Kalimantan Timur, tapi mengabaikan keselamatan dan hajat hidup orang banyak,” sindirnya.

Komisi II DPRD Kaltim, lanjut Sabaruddin, berencana segera menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan seluruh pihak terkait, mulai dari regulator hingga operator pelayaran. Namun, pelaksanaan RDP masih terkendala jadwal libur Natal dan cuti bersama.

“Kami ingin RDP secepatnya, bahkan kalau perlu 24 jam. Tapi saat ini terkendala karena libur Natal dan cuti bersama. Banyak anggota Komisi II, pihak perusahaan, dan instansi terkait yang belum berada di tempat,” jelasnya.

Meski demikian, ia memastikan DPRD Kaltim tidak akan berhenti mendorong pertanggungjawaban atas insiden tersebut.

“Saya tidak akan patah semangat. Kami akan kejar sampai semua pihak bisa hadir dan bertanggung jawab. Ini menyangkut keselamatan masyarakat Kaltim dan tidak boleh dibiarkan berlalu begitu saja,” pungkasnya. (um)

Editor: Agus S

Wali Kota: Pengelolaan Sampah Jangan Hanya Andalkan Pemerintah, Tapi Tanggung Jawab Bersama!

0
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni. (Dwi/RadarBontang).

BONTANG – Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni menegaskan, bahwa keberhasilan dalam pengelolaan sampah tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah saja, tetapi sampah merupakan tanggung jawab bersama. Sehingga keberhasilan pengelolaan sampah tak bisa dicapai secara parsial.

“Jadi, sampah ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja, akan tetapi semuanya juga turut bertanggung jawab, antara masyarakat, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan. Agar Bontang menjadi kota yang bersih dan berkelanjutan,” ucapnya, Senin (22/12/2025).

Sebelumnya, Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang telah mencatat capaian pengelolaan sampah yang cukup signifikan. Sekitar kurang lebih 99 persen sampah telah dikelola, sementara untuk sampah yang tidak dikelola berada pada angka kurang lebih 0,29 persen.

Adapun berbagai inovasi berbasis partisipasi masyarakat akan terus dikembangkan, di antaranya keberadaan 321 bank sampah aktif dengan jumlah nasabah sekitar 1.824 orang, yang termasuk bank sampah di wilayah pesisir.

Terlebih lagi dalam upaya memperkuat pelaksanaan program Gerakan Sampahku Menjadi Tanggung Jawabku (GESIT), ialah salah satu program yang mendorong keterlibatan aktif warga adalah Jemput, Beli, dan Timbang Sampah Organik dan Anorganik (JELITA).

“Contohnya seperti kegiatan di Jumat Bersih sebagian dari gerakan bersama dalam menjaga kebersihan lingkungan,” tutupnya.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Pengurus RT di Kelurahan Satimpo Resmi Dilantik, Maryono Tekankan Peran RT sebagai Ujung Tombak Pelayanan

0
Proses pelantikan RT di Kelurahan Satimpo. (ist)

BONTANG – Kelurahan Satimpo resmi mengukuhkan dan melantik Ketua, Sekretaris, dan Bendahara Rukun Tetangga (RT) se-Kelurahan Satimpo untuk masa bakti 2026–2030. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Selasa (23/12/2025).

Pelantikan dihadiri oleh pengurus RT lama dan pengurus RT terpilih, serta sejumlah mitra kelurahan, di antaranya LPM, PKK, Karang Taruna, Posyandu, Posyantek, KIM, FKUB, Forum Anak, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas Kelurahan Satimpo.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan Surat Keputusan Lurah Satimpo Nomor 90 Tahun 2025 tentang Penetapan Ketua, Sekretaris, dan Bendahara RT Kelurahan Satimpo Masa Bakti 2026–2030. Selanjutnya, pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan dipimpin langsung oleh Lurah Satimpo, Maryono.

Penandatanganan naskah pelantikan dan berita acara sumpah jabatan dilakukan oleh perwakilan Ketua RT 16 dan Ketua RT 23, serta disaksikan oleh Pj. Sekretaris Daerah Kota Bontang, anggota DPRD Kota Bontang, dan Plt. Camat Bontang Selatan.

Lurah Satimpo, Maryono menyampaikan harapan agar pengurus RT yang baru dilantik dapat menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab serta mengedepankan pelayanan kepada masyarakat.

“RT merupakan ujung tombak pelayanan di lingkungan. Saya berharap pengurus RT periode 2026–2030 dapat bersinergi dengan kelurahan, menjaga kekompakan, serta aktif membantu menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat di wilayah masing-masing,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya peran RT dalam mendukung program pembangunan dan menjaga kondusivitas lingkungan. Menurutnya, komunikasi yang baik dan kerja sama yang solid menjadi kunci untuk mewujudkan pelayanan publik yang optimal di Kelurahan Satimpo.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Dari Karhutla hingga Banjir Rob: Bontang di Bawah Bayang-Bayang Bencana

0

BONTANG — Penurunan tajam kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Bontang sepanjang 2025 tidak serta-merta menandakan situasi aman. Justru, deretan data banjir, longsor, kebakaran permukiman, hingga banjir rob menunjukkan bahwa Kota Bontang masih berada dalam pusaran ancaman bencana yang kompleks. Di tengah kondisi alam yang kian tak terprediksi, mitigasi dini menjadi satu-satunya pilihan rasional untuk menjaga keselamatan warga dan keberlanjutan kota.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bontang mencatat, sepanjang 2025 hanya terjadi delapan kejadian karhutla. Angka ini menurun signifikan dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 40 kejadian. Faktor cuaca dengan intensitas hujan tinggi dinilai menjadi penyebab utama meredanya kebakaran lahan tahun ini.

Namun laporan tersebut seharusnya tidak membuat pemerintah daerah maupun masyarakat lengah. Bencana banjir besar yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra dalam beberapa waktu terakhir menjadi pengingat keras bahwa kondisi alam tidak pernah benar-benar bisa dikendalikan. Apalagi, ulah manusia yang lalai dan abai terhadap lingkungan turut memperbesar potensi bencana.

Kota Bontang, yang kerap dijuluki Kota Taman, justru termasuk wilayah dengan tingkat kerawanan bencana yang tinggi. Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Bontang, Eko Mashudi, menjelaskan bahwa terdapat empat jenis bencana utama yang berpotensi terjadi di Bontang, yakni banjir, tanah longsor, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta cuaca ekstrem berupa angin kencang dan gelombang laut tinggi.

“Selain itu, ada pula potensi kegagalan teknologi mengingat keberadaan kawasan industri petrokimia, petroleum, gas, dan pengolahan minyak kelapa sawit,” ungkap Eko, September 2025 lalu.

BPBD mencatat, sepanjang September 2025 saja telah terjadi dua kali banjir, tujuh kejadian karhutla, dan enam peristiwa tanah longsor di sejumlah wilayah seperti Tanjung Laut, Gunung Elai, Belimbing, dan Telihan. Meski sebagian berskala kecil, kejadian tersebut cukup mengganggu aktivitas masyarakat dan menimbulkan kerugian material.

Angka Bencana Sepanjang 2025

Pernyataan BPBD tersebut selaras dengan data kebencanaan yang dihimpun sepanjang 2025 oleh BPBD dan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkartan) Kota Bontang, baik akibat faktor alam ekstrem maupun kelalaian manusia.

Untuk kasus kebakaran permukiman, Disdamkartan mencatat 56 kejadian kebakaran sepanjang Januari hingga November 2025. Korsleting listrik menjadi penyebab dominan dengan 27 kejadian, disusul kelalaian manusia sebanyak sembilan kasus, serta pembakaran disengaja sebanyak delapan kejadian. Selain itu, kebocoran bahan bakar atau saluran gas tercatat sebanyak tiga kasus.

BPBD juga menetapkan tujuh kelurahan di Kota Bontang sebagai wilayah rawan tanah longsor. Penetapan ini disampaikan dalam sosialisasi penanggulangan bencana di Auditorium 3D, November 2025, berdasarkan kajian manajemen risiko.

“Kelurahan Belimbing, Gunung Telihan, dan Kanaan di Kecamatan Bontang Barat masuk kategori rawan longsor. Di Bontang Utara ada Kelurahan Gunung Elai dan Loktuan. Sementara di Bontang Selatan, kawasan Tanjung Laut dan Berebas Tengah juga termasuk rawan,” jelas Eko.

Ancaman lain yang tak kalah serius adalah banjir rob. Fenomena alam ini rutin terjadi dua kali dalam sebulan di wilayah pesisir Bontang. BPBD bahkan telah mengeluarkan peringatan potensi peningkatan banjir rob pada pertengahan Desember 2025, seiring dengan meningkatnya curah hujan dan pasang laut.

Berdasarkan analisis cuaca, BPBD memperkirakan banjir rob akan kembali terjadi pada 17–20 Desember dengan ketinggian air mencapai sekitar tiga meter. Peringatan ini menyusul banjir rob sebelumnya yang melanda pesisir Bontang pada 4–7 Desember dan merendam sejumlah permukiman warga.

Dalam catatan tiga tahun terakhir, BPBD menyebut Kelurahan Api-Api dan Perumahan Bontang Permai sebagai wilayah paling sering terdampak banjir permukiman. Bahkan, Perumahan Bontang Permai tercatat mengalami genangan terlama hingga 12 jam pada kejadian terakhir.

Wilayah lain seperti Guntung, Gunung Telihan, serta sejumlah kawasan cekungan juga kerap tergenang, terutama saat hujan deras bertepatan dengan pasang laut. Sementara di kawasan pesisir seperti Tanjung Laut, Berbas Pantai, dan Gusung, masyarakat lebih sering berhadapan dengan ancaman banjir rob.

Selain itu, angin puting beliung juga menjadi bencana yang cukup sering terjadi, khususnya di wilayah pesisir seperti Malahing dan Tihi-Tihi. Namun kawasan perkotaan pun tidak luput dari ancaman serupa.

“Beberapa waktu lalu sempat ada TK yang atapnya terangkat karena puting beliung. Itu salah satu contoh kejadian di darat,” ujar Eko.

Langkah Mitigasi

Deretan kejadian bencana tersebut menjadi alarm serius bagi Pemerintah Kota Bontang untuk memperkuat mitigasi sebagai langkah pencegahan dan kesiapsiagaan menghadapi bencana yang tidak bisa diprediksi waktunya.

Sejumlah program mitigasi pun digelar, di antaranya Sosialisasi dan Pelatihan Penanggulangan Bencana bagi siswa SMA, SMK, MAN, dan sederajat se-Kota Bontang pada November 2025.

Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris, menegaskan pentingnya pendidikan kebencanaan sejak dini. Menurutnya, pemahaman mitigasi tidak hanya sebatas teori, tetapi juga kesiapan mental dan keterampilan menghadapi situasi darurat.

“Saya minta kalian siap siaga dan memiliki ilmu penyelamatan diri,” pesan Agus Haris kepada para pelajar.

Tak hanya menyasar pelajar, BPBD Bontang juga menggelar sosialisasi penanggulangan bencana bagi masyarakat umum di Auditorium 3D, November 2025. Dalam kegiatan ini, masyarakat didorong untuk melakukan rehabilitasi lingkungan, termasuk penambahan area resapan air serta pengawasan ketat terhadap aktivitas yang berpotensi merusak lingkungan.

Edukasi kesiapsiagaan ini akan terus dilakukan untuk memastikan warga di wilayah rawan mampu merespons dengan cepat dan tepat saat bencana terjadi. Upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan Pemkot Bontang dalam meningkatkan kapasitas masyarakat serta memperkuat kolaborasi lintas sektor.

Penguatan mitigasi juga ditegaskan melalui Focus Group Discussion (FGD) dan Rapat Koordinasi Pembentukan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) 2025 yang digelar pada Agustus 2025.

Kepala Pelaksana BPBD Bontang, Usman HM, menyampaikan bahwa FPRB diharapkan menjadi wadah strategis yang menghimpun seluruh pemangku kepentingan, mulai dari OPD terkait, TNI, Polri, dunia usaha, hingga relawan.

Melalui forum ini, berbagai upaya dapat dimaksimalkan, seperti penyusunan SOP, pelatihan dan simulasi kesiapsiagaan, penguatan sistem peringatan dini terpadu, sinkronisasi bantuan korban bencana, hingga evaluasi Indeks Ketahanan Daerah (IKD).

Langkah lainnya adalah Sosialisasi Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) Rawan Bencana yang digelar di Balai Benih Ikan (BBI) Tanjung Laut Indah, November 2025.

“Harapannya, para relawan, masyarakat, dan pemerintah kelurahan sebagai ujung tombak pelayanan publik semakin mampu mengenali ancaman, melakukan kesiapsiagaan terencana, merespons cepat dan tepat, serta berdaya dalam pemulihan pascabencana,” ujar Anwar Sadat.

Asisten Administrasi Pemerintahan dan Kesra, Dasuki, turut memperkenalkan konsep Triple Helix sebagai kunci keberhasilan mitigasi bencana ke depan, yang menekankan sinergi antara pemerintah, perusahaan swasta, dan masyarakat.

“Partisipasi perusahaan dan masyarakat, terutama Ketua RT, sangat penting untuk mengontrol warga yang berpotensi tinggi mengalami insiden,” tegas Dasuki.

Penulis: Dwi S – Syakurah
Editor: Yusva Alam

Pos Simpang Tiga Pendidikan Siaga 24 Jam, Dipastikan Siap Jekang Nataru

0
Pos Simpang Tiga Pendidikan Siaga 24 Jam jelang Nataru. (Ramlah)

SANGATTA – Kepolisian Resor Kutai Timur (Polres Kutim) memastikan Pos Pelayanan Natal dan Tahun Baru di Simpang Tiga Pendidikan beroperasi penuh selama 24 jam, jelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.

Pengamanan tersebut merupakan bagian dari Operasi Lilin Mahakam 2025, yang difokuskan pada pengamanan titik-titik strategis, pengendalian arus lalu lintas, serta peningkatan pelayanan publik selama momentum libur akhir tahun.

Pos Pelayanan Simpang Tiga Pendidikan ditempatkan sebagai salah satu simpul utama pengamanan karena posisinya yang menjadi jalur padat aktivitas masyarakat. Personel gabungan dari Polri, TNI, Satpol PP, Dinas Perhubungan, Senkom, hingga Pramuka dikerahkan secara bergantian di bawah komando Kepala Posko, IPDA Wilson Tanjung.

Berdasarkan pemantauan di lapangan, situasi kamtibmas di sekitar lokasi terpantau aman dan terkendali. Arus lalu lintas berjalan lancar, sementara aktivitas masyarakat berlangsung normal dengan pengawasan intensif dari petugas gabungan.

Kapolres Kutim AKBP Fauzan Arianto menegaskan bahwa seluruh jajaran Polres Kutim telah diperintahkan untuk siaga penuh tanpa celah pengamanan selama Nataru berlangsung.

“Pos pelayanan ini kami siagakan 24 jam. Fungsinya tidak hanya pengamanan, tetapi juga pelayanan kepada masyarakat, termasuk informasi, bantuan kepolisian, dan penanganan keadaan darurat,” ujar AKBP Fauzan, Selasa (23/12/2025).

Ia juga menginstruksikan peningkatan patroli, penguatan pengaturan lalu lintas, serta koordinasi lintas sektor guna mengantisipasi kemacetan dan potensi gangguan kamtibmas, terutama pada jam-jam rawan.

Kapolres turut mengimbau masyarakat agar mematuhi aturan lalu lintas, menjaga ketertiban umum, serta tidak ragu memanfaatkan pos pelayanan apabila membutuhkan bantuan.

“Keamanan dan kenyamanan Nataru hanya bisa terwujud dengan disiplin dan kerja sama semua pihak,” tegasnya.

Hingga pengamanan berlangsung, seluruh personel di Pos Pelayanan Natal dan Tahun Baru Simpang Tiga Pendidikan dinyatakan dalam kondisi siap operasional penuh demi menjaga stabilitas keamanan wilayah Kutai Timur selama perayaan Natal dan Tahun Baru.

Penulis: Ramlah
Editor: Yusva Alam

Panitia Pupuk Kaltim Porwada III Dibubarkan, Wartawan Bontang Peraih Medali Terima Bonus Juara Umum

0
Ketua Panitia Pupuk Kaltim Porwada III, Adiel Kundhara (kiri) saat menyerahkan bonus kepada salahsatu wartawan peraih medali. (Ist)

BONTANG – Panitia pelaksana Pupuk Kaltim Pekan Olahraga Wartawan Daerah (Porwada) III resmi menuntaskan seluruh rangkaian tugasnya. Sebagai penutup, panitia menggelar kegiatan pembubaran yang dirangkai dengan pemberian bonus kepada para peraih medali, Senin (22/12/2025).

Kegiatan tersebut menjadi bentuk apresiasi atas suksesnya pelaksanaan Porwada III, sekaligus capaian gemilang kontingen wartawan Bontang yang keluar sebagai juara umum pada ajang tahunan antarwartawan se-Kalimantan Timur tersebut. Porwada III sendiri berlangsung pada 17–19 Oktober 2025 lalu.

Dalam ajang tersebut, kontingen Bontang tampil dominan dengan mengoleksi total 19 medali, terdiri dari 10 medali emas, 7 perak, dan 2 perunggu. Raihan tersebut mengantarkan Bontang berada di puncak klasemen akhir.

Sepuluh medali emas diraih dari berbagai cabang dan nomor pertandingan, yakni lari 100 meter putri, bulutangkis ganda putra, bulutangkis ganda putri, bulutangkis ganda campuran, tenis meja tunggal putra, tenis meja ganda putra, catur cepat, catur kilat, serta dua kategori jurnalistik yakni jurnalistik video dan jurnalistik tulis.

Ketua Panitia Pupuk Kaltim Porwada III, Adiel Kundhara, menyampaikan terima kasih kepada seluruh panitia dan pihak yang terlibat dalam menyukseskan kegiatan tersebut. Ia mengapresiasi dedikasi rekan-rekan wartawan yang tetap meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran di tengah padatnya aktivitas peliputan.

“Panitia begitu luar biasa. Di tengah kesibukan masing-masing, masih bisa menyisihkan waktu dan energi dengan semangat untuk menjadi tuan rumah yang baik,” ujar Adiel.

Ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh kontingen peserta dari daerah lain, apabila selama pelaksanaan Porwada III di Bontang masih terdapat kekurangan dalam pelayanan maupun teknis kegiatan.

Sementara itu, Ketua PWI Bontang, Suriadi Said, menuturkan bahwa pemberian bonus kepada peraih medali merupakan bentuk penghargaan atas kerja keras para wartawan yang telah membawa nama baik Bontang. Total bonus yang diberikan mencapai puluhan juta rupiah.

“Kerja keras dan latihan selama ini tentunya berbuah hasil yang sangat baik. Ini patut diapresiasi,” kata pria yang akrab disapa Isur tersebut.

Lebih lanjut, Isur juga mengajak seluruh wartawan Bontang untuk tidak cepat berpuas diri, dan terus menjaga semangat latihan demi mempertahankan gelar juara umum pada ajang Porwada berikutnya.

Diketahui, Porwada IV yang akan digelar pada tahun depan dijadwalkan berlangsung di Kota Balikpapan.

“Mari tetap latihan supaya predikat juara umum ini bisa kita pertahankan,” pungkasnya.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam