Beranda blog Halaman 480

Km 15 Poros Bontang–Samarinda Kian Rusak, Mana Janji Kampanye?

0
Kondisi Km 15 Poros Bontang–Samarinda makin memprihatinkan. Jalan rusak parah memaksa kendaraan bergantian melintas, bahkan dimanfaatkan anak-anak untuk mengatur lalu lintas, Minggu (21/12). Foto: istimewa

TULISAN tentang Jalan Poros Samarinda–Bontang ini bukan catatan baru. Saya pernah menuliskannya Agustus lalu. Dari pengalaman bertahun-tahun melintasi jalur ini sejak 2010.

Saat itu, saya sudah mencatat kerusakan yang terus berulang, titik-titik rawan kecelakaan, serta perbaikan yang hampir selalu sifatnya sementara.

Hari ini saya menuliskannya lagi. Sebab, kondisinya ternyata tidak membaik, justru makin parah. Terutama di Km 15 dari arah Bontang menuju Samarinda.

Hampir tiap pekan saya melintasi ruas ini. Antrean kendaraan hampir selalu terjadi di titik ini. Truk-truk besar kerap berhenti saling berhadapan, sedangkan para sopir menunggu celah aman untuk bergerak satu per satu.

Siang ini (21/12), gambaran yang sama kembali saya lihat lewat kiriman video dari ketua BKL Perum BSD Bontang, Supriyadi, yang baru saja melintas. Antrean memanjang, jalan berlumpur, dan kendaraan harus bergantian melaju dengan jarak sangat sempit.

Yang lebih memprihatinkan, kondisi ini bahkan dimanfaatkan anak-anak turun ke titik jalan rusak itu. Seolah mengatur lalu lintas, dengan harapan mendapat uang dari pengendara.

Apa yang saya tulis berbulan-bulan lalu kini terbukti. Tingkat kerusakannya semakin berat.

Harapan warga tentu ingin jalan ini segera ditangani serius oleh Pemprov Kaltim. Namun yang tampak justru sebaliknya.

Tambal sulam memang ada, tetapi sering kali bukan di bagian paling rusak. Lubang-lubang besar di Km 15 masih dibiarkan, dan kondisinya makin parah ketika hujan turun. Praktis, jalan ini berubah menjadi jalur berisiko tinggi. Bukan hanya karena macet, tetapi juga karena rawan kecelakaan.

Ruas ini sudah lama mencatat korban. Pengendara motor terperosok lubang, kendaraan bertabrakan karena saling menghindar, hingga truk besar kehilangan kendali di permukaan jalan yang licin. Ini sudah menyangkut keselamatan.

Saya masih ingat janji kampanye Rudy Mas’ud yang menyebut jalan trans provinsi Samarinda–Bontang perlu ditingkatkan kualitasnya. Bahkan diwacanakan menjadi dua jalur demi keamanan, mengingat padatnya lalu lintas truk besar.

“Kalau tidak ada halangan, kami akan buatkan dua jalur dari Samarinda ke Bontang agar aksesnya lebih gampang dan lebih aman, karena jalur ini kerap dilalui truk-truk besar,” janji Rudy Mas’ud saat itu. Janji itu dicatat publik, termasuk warga yang setiap hari bergantung pada jalur ini.

Kini waktu berjalan. Tidak perlu dua jalur dulu. Mulus saja sudah cukup. Jalan ini menghubungkan Berau, Sangatta, Bontang, Samarinda, hingga Balikpapan dan Kutai Kartanegara. Sebab jalan ini sangat vital sebagai lalu lintas ekonomi, logistik, pendidikan, dan aktivitas harian ribuan warga.

Tulisan ini bukan untuk menyalahkan, tetapi mengingatkan. Bahwa persoalan ini sudah lama, sudah sering disuarakan, dan masih dibiarkan berulang.

Pemprov memiliki peran koordinatif, balai jalan memegang mandat teknis. Bukankah para pejabat provinsi juga kerap melintas di jalur ini? Apalagi pejabat Pemkot Bontang dan Pemkab Kutai Timur.

Yang dibutuhkan adalah perbaikan menyeluruh di titik-titik kritis. Pembenahan struktur dasar jalan, drainase yang benar-benar berfungsi, serta pengaturan lalu lintas selama pekerjaan berlangsung—bukan perbaikan sementara.

Setiap kali hujan turun, antrean itu kembali terlihat. Kendaraan merayap. Orang-orang melintas dengan sangat hati-hati. Km 15 sudah memberi sinyal keras. Tinggal apakah kita memilih mendengar dan bertindak sekarang, atau kembali menunggu sampai kerusakan ini memakan korban berikutnya. Jangan lagi berlindung di balik alasan akhir tahun, anggaran habis, dan menunggu tahun depan. (*)

Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.

MB PKT Road to TWMC 2025 (5-selesai): Berakhir Manis dengan Raihan 3 Tropi

0
Penampilan MB PKT di partai final pada kategori Marching Field Show dan Indoor Marching Arts – Winds. (Ist)

SISAKET, THAILAND – Perjalanan panjang Marching Band Pupuk Kaltim (MB PKT) mengikuti Event Thailand World Music Championship (TWMC) 2025 berakhir manis. 3 tropi selama perhelatan event di Kota Sisaket sejak 17-20 Desember 2025 itu berhasil direngkuh.

Di awal pertandingan, MB PKT langsung menyabet tropi Drumline Battle Professional Class Champion untuk pertandingan kategori drum battle. Kemudian menyusul tropi juara 1 untuk kategori Indoor Marching Arts – Winds.

Terakhir, MB PKT meraih The Gold Level di kategori Marching Field Show, sekaligus menasbihkan diri masuk pada jajaran band kelas dunia.

Marching Field Show merupakan kategori yang paling penuh tantangan dan bergengsi, penampilan dilakukan di lapangan dengan waktu penampilan maksimal 12 Menit.

MBPKT pada pertandingan Open Field berada di posisi 2nd place, namun memperoleh kategori penilaian Gold dan telah diakui sebagai World Class band, yang dimana tidak semua band dapat melampauinya.

“MBPKT mencapai The Gold Level, dengan nilai 89 dan naik ke kategori World Class.
Penampilan malam tersebut sangat prima dan anak-anak mencurahkan penampilan mereka yang telah dipersiapkan hampir 1 tahun untuk bersaing di Thailand,” ungkap Ketua Umum MB PKT, Dwi Agung Wibowo dengan rasa bangga.

Dijelaskan Agung, bertanding di kategori
Marching Field Show ini, anak-anak asuhnya menampilkan tema “ONE STEP” yang bercerita tentang langkah ke depan, agar MBPKT terus menapaki masa depan dan terus menjaga nama legendaris MBPKT.

“Anak-anak sudah memberikan upaya sangat maksimal, dan kami selaku pengurus sangat bangga dan bersyukur team dapat membawa 3 piala. Terima kasih dukungan masyarakat seluruh Indonesia, khususnya warga kota Bontang atas dukungan penuh, doa, dan semangat yang menyertai team dari awal hingga titik ini,” paparnya.

Usai menjalani partai final yang berakhir malam hari pada 20 Desember 2025 kemarin, seluruh personel MB PKT mengemasi barang hingga pukul 03.00 dini hari. Langsung berangkat menuju Kota Bangkok yang diperkirakan memakan waktu 10 jam.

MB PKT Road to TWMC 2025 (5-selesai): Berakhir Manis dengan Raihan 3 Tropi

Diperkirakan tiba di Bangkok, Minggu (21/12/2025) sore, lalu tim beristirahat untuk terbang ke Jakarta Senin keesokan harinya. Diperkirakan tiba di Jakarta tanggal 23 Desember dan kembali terbang ke Samarinda.

“Jadi perjuangan yang melelahkan dan perjalanan sangat panjang buat anak-anak. Syukur, semua kelelahan ini terbayarkan dengan sangat memuaskan,” pungkasnya.

MB PKT menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia di ajang TWMC 2025. Dengan kekuatan 135 personel secara keseluruhan, yang terdiri dari pemain, pelatih, serta official.

MB PKT tampil di dalam tiga kategori, meliputi Drumline Battle (Professional), Indoor Marching Arts – Winds (Independent), serta Marching Field Show (World Class).

Penulis/Editor: Yusva Alam

Neni Imbau Masyarakat Jaga Kelestarian Laut

0
Pembukaan Pesta Laut 2025. (Ist)

BONTANG – Wali Kota Neni mengimbau masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan laut. Hal itu diungkapkan saat membuka Pesta Laut 2025 yang digelar di Pelataran Bontang Kuala beberapa waktu lalu.

“Jangan membuang sampah sembarangan, apalagi ke laut. Jangan sampai suatu saat nanti jumlah sampah lebih banyak daripada ikan di laut kita,” tegasnya.

Bunda Neni juga mengingatkan para nelayan agar menangkap ikan dengan cara yang ramah lingkungan dan tidak menggunakan bahan peledak.

“Jika terumbu karang rusak, maka biota laut lainnya juga akan rusak. Ini akan merugikan kita semua,” tambahnya.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Wali Kota Minta Semua Pihak Bersama Majukan Pariwisata Bontang

0
Pembukaan Pesta Laut 2025. (Ist)

BONTANG – Wali Kota Neni Moerniaeni mengajak seluruh pihak bersama-sama memajukan pariwisata Kota Bontang, khususnya kawasan Bontang Kuala yang memiliki kekayaan budaya dan tradisi pesisir. Hal itu diungkapkan saat membuka Pesta Laut 2025 yang digelar di Pelataran Bontang Kuala beberapa waktu lalu.

Ia menegaskan bahwa Pesta Laut merupakan tradisi yang telah ada jauh sebelum Kota Bontang berdiri.

“Pesta laut ini sudah dilaksanakan untuk ke-29 kalinya, sementara usia Kota Bontang masih 26 tahun. Artinya, tradisi ini lebih tua dari usia kota kita. Ini adalah warisan budaya yang diinisiasi oleh para pemangku adat dan masyarakat pesisir Bontang Kuala,” ujar Neni.

Menurutnya, Pemerintah Kota Bontang berkomitmen untuk terus melestarikan budaya sebagai akar identitas bangsa.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Pelataran Beka Tahap II Diresmikan, Tandai Komitmen Pemkot Menata Kawasan Pesisir

0
Pelataran Bontang Kuala tahap II. (Ist)

BONTANG – Wali Kota Neni Moerniaeni menyampaikan bahwa pembangunan Pelataran Bontang Kuala merupakan bagian dari komitmen Pemkot Bontang, dalam menata kawasan pesisir agar lebih representatif sebagai pusat kegiatan budaya, sosial, dan pariwisata.

Hal itu disampaikan saat meresmikan Pelataran Bontang Kuala tahap II, Rabu (17/12).

“Pelataran ini tidak hanya menjadi ruang publik, tetapi juga etalase budaya masyarakat pesisir Bontang Kuala. Kami ingin kawasan ini menjadi tempat berkumpul, beraktivitas, sekaligus destinasi wisata yang membanggakan,” ujar Neni.

Ia menambahkan, sinergi antara pelestarian adat dan pembangunan infrastruktur menjadi kunci dalam menjaga identitas daerah di tengah laju pembangunan. Pemerintah Kota Bontang, lanjutnya, akan terus mendukung peran lembaga adat sebagai mitra strategis dalam pembangunan yang berlandaskan nilai-nilai budaya lokal.

Momentum ini sekaligus menegaskan komitmen Pemerintah Kota Bontang, dalam memperkuat adat istiadat serta mendorong pengembangan kawasan pesisir sebagai salah satu ikon wisata budaya Kota Bontang.

Peresmian ditandai dengan pemotongan pita oleh Sultan Kutai Ing Martadipura ke 21, Sultan Aji Muhammad Arifin dan penandatanganan prasasti oleh Wali Kota dan Wakil Wali Kota, disaksikan tamu kehormatan, jajaran Forkopimda, tokoh adat, serta masyarakat adat Bontang Kuala.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

DPD PKS Bontang Gelar Rakerda, Bahas Kebijakan dan Program Kerja

0
Kegiatan Rakerda DPD PKS Bontang. (Ist).

BONTANG – Dewan Pengurus Daerah (DPD) PKS Bontang menggelar Rapat Kerja Daerah (Rakerda) membahas terkait kebijakan dan program kerja, yang berlangsung di Kantor DPD PKS Bontang, Jalan KS. Tubun, Kelurahan Api-Api, Kecamatan Bontang Utara, Sabtu (20/12/2025).

Ketua DPD PKS Bontang, Saeful Rizal menyampaikan bahwa hasil dari Rakerda tersebut menghasilkan beberapa poin rekomendasi, dimana dalam kesimpulannya membuat yang terbaik untuk masyarakat Bontang dengan berbagai program-programnya yang ada.

Salah satu program prioritas yang dibahas dalam Rakerda ialah memperbaiki kualitas kader-kader PKS Bontang, dalam rangka memperbaiki pelayanan ke masyarakat. Contohnya, pemberian bekal ke calon-calon anggota legislatif untuk pemilu yang akan datang.

“Nantinya semua yang kami bahas di rapat tadi, akan kami gerakkan ke pemberian pelayanan ke masyarakat. Untuk kader yang disiapkan dalam hal lain, termasuk bagian dari kegiatan PKS,” ungkapnya saat ditemui.

Diketahui PKS bekerja bukan hanya untuk politik saja, akan tetapi juga meningkatkan kualitas kader untuk pelayanan ke masyarakat yang sangat diperlukan.

“Yang nantinya rutin kami lakukan di PKS untuk setahun ke depan seperti peningkatan pendidikan spiritual, intelektual, fisikal sebagai upaya pembekalan ke setiap kader. Makanya di lakukan Rakerda untuk bisa bertumpang tindih satu sama lain,” ungkapnya.

Selain itu, Saeful mengharapkan ke depannya, PKS Bontang bisa meningkatkan pelayanan ke masyarakat, dan terus berupaya untuk memberikan kontribusi besar di bidang politik.

“Selain itu, PKS Bontang juga bisa memberikan pelayanan di bidang dakwah keagamaan ke masyarakat,” tambahnya.

Kesempatan yang sama, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI), Aus Hidayat Nur mengatakan, bahwa kader-kader di PKS Bontang telah siap untuk bekerja di lima tahun ke depan.

Adapun dengan targetnya ke depan, juga memikirkan bagaimana di pemilihan mendatang, para kader bisa didasari oleh kekuatan yang kader-kader miliki. Bahkan meningkatkan kualitas kader di dunia politik.

“Intinya di PKS sendiri bagaimana mengikuti kaderisasi pembinaan, untuk kader di politik dengan keimanan serta ketaqwaan. Paling penting, kader PKS dibekali oleh keikhlasan, kerelawanan, dan kesetiakawanan,” tutupnya.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Polres Kutim Sediakan Layanan Penitipan Kendaraan Gratis Selama Nataru

0
Kapolres Kutim, AKBP Fauzan Arianto. (Ramlah)

SANGATTA – Mengantisipasi meningkatnya kasus pencurian kendaraan bermotor (curanmor) dan kejahatan rumah kosong saat musim mudik, Kepolisian Resor Kutai Timur (Polres Kutim) membuka layanan penitipan kendaraan bermotor gratis bagi masyarakat selama libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru).

Layanan penitipan kendaraan tersebut tersedia di Markas Polres Kutim serta seluruh Polsek jajaran di wilayah Kutim, sehingga dapat diakses oleh masyarakat di berbagai kecamatan.

Kapolres Kutim AKBP Fauzan Arianto mengatakan, fasilitas ini ditujukan bagi warga yang hendak bepergian ke luar daerah dan merasa khawatir meninggalkan kendaraannya tanpa pengawasan.

“Momentum libur panjang sering dimanfaatkan pelaku kejahatan. Karena itu, kami membuka layanan penitipan kendaraan gratis di Polres dan seluruh Polsek jajaran agar masyarakat bisa mudik dengan rasa aman,” ujar AKBP Fauzan Arianto, Sabtu (20/12/2025).

Ia menjelaskan, layanan penitipan ini mencakup kendaraan roda dua maupun roda empat. Prosedurnya dibuat sederhana agar mudah dimanfaatkan masyarakat.

“Warga cukup membawa fotokopi KTP serta menunjukkan STNK dan BPKB sebagai bukti kepemilikan yang sah. Kendaraan akan didata oleh petugas dan pemilik diberikan tanda terima,” jelasnya.

Kapolres memastikan kendaraan yang dititipkan akan dijaga secara ketat oleh petugas piket selama 24 jam di lingkungan kantor kepolisian yang memiliki sistem pengamanan berlapis.

“Daripada ditinggal di rumah kosong yang rawan, lebih baik dititipkan di kantor polisi. Kami berharap layanan ini dapat menekan angka curanmor dan memberi rasa aman bagi masyarakat,” tegasnya.

Layanan penitipan kendaraan gratis ini berlaku mulai saat ini hingga berakhirnya Operasi Lilin Mahakam 2025, setelah perayaan Tahun Baru 2026.

Penulis: Ramlah
Editor: Yusva Alam

Air Sungai Meluap, Jalan Jetski di Belakang Bank Dhanarta Terendam Banjir

0
Sungai yang meluap di wilayah belakang Bank Dhanarta. (Dwi/RadarBontang).

BONTANG – Jalan Jetski I yang berada di belakang Bank Dhanarta, RT.8, Kelurahan Api-Api, Kecamatan Bontang Utara, saat ini terendam banjir akibat air sungai yang meluap.

Salah satu warga yang tak ingin disebutkan namanya mengatakan, air naik sekitar pukul 15.30 Wita, dimana air tersebut naik secara tiba-tiba melalui arus sungai. Maka beberapa akses jalan yang berada di wilayah tersebut, sebagiannya telah terendam banjir.

Parahnya lagi, air yang meluap membawa sejumlah tumpukan sampah, sehingga banyak sekali sampah yang mengapung dan terseret arus ke batas jembatan.

“Naik airnya tadi sekitar jam 3 lewat, airnya ini datang secara tiba-tiba. Kemungkinan akibat hujan deras semalam,” ucapnya saat ditemui, Sabtu (20/12/2025).

Selain itu, air sungai yang meluap saat ini masih terbilang masih awalan. Sebab jika air sudah mulai tinggi, maka jembatan hingga batas trotoar pastinya bakal ikut terendam banjir.

“Kita sedang antisipasi mbak, takut airnya naik dan masuk ke dalam rumah. Soalnya ini baru awalan aja, belum terbilang tinggi. Apalagi arusnya cukup deras,” tutupnya.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Persiapan Porprov 2026, 350 Atlet Kutim Ikuti Uji Fisik dan Mental

0
Ketua KONI Kutim, Rudi Hartono. (Ist)

SANGATTA – Sebanyak 350 atlet dari berbagai cabang olahraga mengikuti asesmen tahap awal yang digelar selama dua hari, Sabtu–Minggu (20–21/12/2025), di Kantor KONI Kutim, Kompleks Olahraga Kudungga, Sangatta.

Kegiatan ini merupakan langkah Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kutai Timur (Kutim) memantapkan langkah menuju Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) VIII Kalimantan Timur (Kaltim) 2026 dengan menggelar uji fisik dan psikologi bagi atlet daerah.

Ketua Umum KONI Kutai Timur, Rudi Hartono, menyatakan bahwa kegiatan ini menjadi fondasi penting dalam membangun sistem pembinaan atlet yang lebih terukur dan berbasis data. Menurutnya, pendekatan ilmiah menjadi kebutuhan mutlak dalam olahraga prestasi modern.

“Tes fisik dan mental ini kami lakukan untuk mengetahui kemampuan riil atlet. Dengan data yang akurat, pembinaan ke depan tidak lagi dilakukan secara umum, tetapi disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing atlet,” ujar Rudi Hartono.

Ia menegaskan, hasil asesmen akan menjadi bahan evaluasi dalam penyusunan program latihan, peningkatan kapasitas atlet, hingga penentuan strategi menghadapi Porprov VIII Kaltim 2026 di Kabupaten Paser.

Selain kondisi fisik, aspek mental juga menjadi perhatian utama KONI Kutim. Rudi Hartono menilai, ketangguhan psikologis atlet sangat menentukan performa saat bertanding, terutama ketika menghadapi tekanan kompetisi.

“Fisik dan teknik yang baik harus dibarengi mental bertanding yang kuat. Fokus, kepercayaan diri, dan daya tahan psikologis sering kali menjadi pembeda di lapangan,” jelasnya.

Rudi Hartono menambahkan, asesmen tahap pertama ini belum mencakup seluruh atlet Kutai Timur. KONI Kutim akan melanjutkan uji fisik dan psikologi pada tahap berikutnya agar seluruh atlet dari semua cabang olahraga dapat terdata secara menyeluruh.

“Baru sekitar 350 atlet yang kami uji. Ke depan akan ada tahap lanjutan agar seluruh atlet Kutai Timur memiliki data yang terukur sebagai dasar pembinaan jangka panjang,” tambahnya.

Dalam pelaksanaan kegiatan, KONI Kutim menggandeng tim konsultan Sport Education Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (FKIP-UMKT) yang dipimpin Dr. Galih Priyambada, S.Pd., M.Pd., AIFMO, dengan dukungan keahlian di bidang sport science dan kebugaran atlet.

Sementara itu, asesmen psikologi dilakukan oleh Na’ita Faulinna, M.Psi., Psikolog, yang menguji serta mendampingi atlet dalam aspek mental, mulai dari motivasi, konsentrasi, kepercayaan diri, hingga kemampuan menghadapi tekanan saat bertanding.

Melalui uji fisik dan mental ini, KONI Kutai Timur berharap proses pembinaan atlet dapat berjalan lebih sistematis, terarah, dan berkelanjutan. Dengan fondasi data yang kuat sejak awal, Kutai Timur optimistis mampu menyiapkan atlet yang kompetitif dan berdaya saing tinggi pada Porprov VIII Kaltim 2026 maupun ajang olahraga lainnya.

Penulis: Ramlah
Editor: Yusva Alam

Pilkada ke DPRD: Kita Pernah Mencoba, dan Gagal!

0
Saya bersama Saipul (dua dari kiri), Muzarobbi Renfli (dua dari kanan), dan Aldy Artrian (paling kanan) saat berdiskusi santai di The Bahagia Kaffee, Bontang. Foto: Istimewa

Meski komunikasi kami tak lagi seintens saat saya masih berkiprah di Bawaslu Kota Bontang, saya tetap menjaga hubungan baik dengan Dr. Saipul, S.Sos., M.Si., dosen Universitas Mulawarman sekaligus mantan Ketua Bawaslu Kaltim dua periode. Karena itu, ketika ia memberi kabar sedang berada di Bontang, sesibuk apa pun agenda, saya berusaha menyempatkan diri untuk menemaninya.

Rabu (17/12) malam, kami bertemu sambil ngopi di The Bahagia Kaffee. Turut hadir Muzarrobi Renfly, Ketua KPU Bontang, dan Aldy Artrian, Ketua Bawaslu Bontang. Suasananya cair. Obrolan mengalir ringan. Khas pertemuan lama yang tak perlu banyak basa-basi.

Namun ketika percakapan mulai menyentuh isu politik kebijakan, Aldy memilih menjaga posisi. Ia tertawa sambil menggeleng pelan. “Kalau soal itu, saya no comment ya,” ucapnya singkat. Sikap yang wajar bagi penyelenggara pemilu yang harus berdiri di jarak aman. Muzarobbi pun mengambil sikap serupa. Diskusi soal politik akhirnya lebih banyak saya lanjutkan bersama Saipul.

Isu yang kami bicarakan malam itu sebenarnya sudah lebih dulu ramai di ruang lain. Saya tergabung dalam sebuah grup WhatsApp jurnalis nasional bersama Perludem, bernama Jaringan Pemilu. Beberapa hari terakhir, grup itu dipenuhi pertanyaan yang sama. Wacana mengembalikan pemilihan presiden dan kepala daerah ke DPR RI dan DPRD. Apakah demokrasi langsung dianggap gagal? Apakah efisiensi dijadikan alasan sah untuk menarik kembali hak pilih rakyat?

Wacana ini menguat setelah disampaikan langsung oleh Prabowo Subianto dalam sejumlah pernyataan yang membuka ruang diskusi tentang kemungkinan mengembalikan pemilihan presiden dan kepala daerah ke mekanisme perwakilan. Pernyataan itu segera memantik respons luas—dari politisi, akademisi, pegiat demokrasi, hingga jurnalis. Bukan semata karena substansinya, tetapi karena sinyal tersebut datang dari Presiden.

Diskusi yang mengemuka di Jaringan Pemilu itulah yang membuat saya semakin tertarik mendengar pandangan Saipul secara langsung.

Saipul memulai dari sejarah. Pemilihan kepala daerah oleh DPRD, kata Saipul, bukan hal baru. Indonesia sudah pernah mengalaminya, baik pada masa Orde Lama maupun Orde Baru. Bahkan menjelang runtuhnya Orde Baru, mekanisme pemilihan melalui DPRD sudah berjalan cukup luas.

Masalahnya, pengalaman itu meninggalkan catatan pahit. Kepala daerah yang dipilih DPRD cenderung lebih loyal kepada pihak yang memilihnya, bukan kepada rakyat. Kepentingan publik kerap tersisih karena pertanggungjawaban politik berhenti di ruang-ruang elite.

Fakta itulah yang kemudian melahirkan tuntutan Reformasi 1998. Kepala daerah harus dipilih langsung oleh rakyat agar mandatnya jelas dan keberpihakannya terukur.

Pilkada langsung mulai dijalankan setelah lahirnya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan diimplementasikan pada 2005. Kaltim termasuk daerah awal yang melaksanakannya. Tentu saja sistem ini tidak steril dari masalah. Politik uang, konflik, dan partisipasi yang fluktuatif adalah realitas yang tidak bisa dipungkiri.

Namun menurut Saipul, persoalan itu tidak bisa dijadikan alasan untuk menarik kembali kedaulatan rakyat. Justru sejak awal, ia melihat ada ketidakikhlasan elite politik terhadap pilkada langsung. Undang-undang tahun 2014 yang sempat mengembalikan pilkada ke DPRD menjadi bukti.

Reaksi publik kala itu keras. Demonstrasi mahasiswa, kritik akademisi, penolakan pegiat pemilu. Pemerintah akhirnya menerbitkan Perppu yang kemudian disahkan menjadi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 dan menandai pilkada serentak langsung.

Dalam pandangan Saipul, setiap kali pilkada bermasalah, sasaran kritik selalu mengarah ke rakyat atau penyelenggara. Padahal hulunya sering justru berada di partai politik. Partai menentukan calon dari tingkat pusat, bukan dari aspirasi daerah. Ketika kandidat yang diusung tidak dikehendaki publik, partisipasi menurun adalah konsekuensi logis.

Sebelum meninggalkan Bontang, Saipul menyempatkan makan siang di Nasi Pecel Bu Choirul Jalan HM Ardans. Kali ini turut hadir Nasrullah (paling kiri), mantan Ketua Bawaslu Bontang. Foto: Istimewa

Soal manipulasi politik pun demikian. Mayoritas kandidat pemenang berasal dari partai. Mesin kampanye, tim sukses, hingga praktik curang di lapangan juga digerakkan oleh struktur partai. Sementara calon perseorangan jumlahnya sangat kecil dan hampir selalu kalah.

Persoalan profesionalitas penyelenggara, menurut Saipul, juga kerap dibaca secara tidak adil. Penyelenggara ad hoc dibayar minim, dituntut bekerja profesional di bawah tekanan politik yang kuat, lalu disalahkan ketika sistem tidak ideal. Belum lagi proses pembekalan dan rekrutmen yang sering kali lebih mempertimbangkan afiliasi dibanding kapasitas.

Pandangan itu mendapat penguatan dari diskusi di grup Jaringan Pemilu. Salah satu respons yang cukup komprehensif datang dari Haekal, peneliti Perludem.

Ia menegaskan bahwa kualitas dan integritas calon kepala daerah pada prinsipnya sangat ditentukan oleh proses kaderisasi dan kandidasi di partai politik.

Masalahnya, proses itu hari ini banyak yang tidak berjalan. Popularitas dan kemampuan finansial sering kali lebih menentukan dibanding kapasitas dan rekam jejak.

Karena itu, menurut Haekal, keliru jika kegagalan tersebut lalu dibebankan kepada sistem pilkada langsung.

Ia juga menggarisbawahi soal mahalnya biaya politik. Biaya tinggi dalam pilkada bukan disebabkan oleh mekanisme pemilihan langsung, melainkan oleh biaya politik “gelap” yang mendominasi kontestasi.

Pertanyaannya, apakah jika pemilihan dikembalikan ke DPRD persoalan itu otomatis selesai? Jawabannya tidak! Selama watak politik partai masih sama, perubahan sistem hanya akan memindahkan biaya politik gelap ke DPRD dan justru memperparah wajah demokrasi lokal.

Haekal menutup dengan catatan penting: tidak ada jaminan bahwa pemilihan kepala daerah melalui DPRD akan menghasilkan pemimpin yang lebih berintegritas. Bahkan kecenderungannya adalah meningkatnya transaksi politik di ruang tertutup yang pada akhirnya menyandera kepala daerah ketika menjabat.

Dari meja kopi di Bontang hingga diskusi di grup Jaringan Pemilu, benang merahnya jelas. Kritik terhadap pilkada langsung sah dan perlu. Tetapi solusi dengan menarik kembali kedaulatan rakyat ke ruang elite, tanpa membenahi partai politik dan tata kelola kekuasaan, bukanlah jawaban.

Jika persoalan hulunya adalah partai politik, maka memperbaiki demokrasi seharusnya dimulai dari sana. Bukan dengan memotong hak rakyat untuk memilih, lalu berharap hasilnya otomatis lebih baik.

Sejarah sudah memberi pelajaran. Kita pernah mencoba. Kita tahu hasilnya. Mengulanginya dengan dalih efisiensi hanya akan membawa kita mundur, bukan maju.

Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.