Beranda blog Halaman 481

Pilkada ke DPRD: Kita Pernah Mencoba, dan Gagal!

0
Saya bersama Saipul (dua dari kiri), Muzarobbi Renfli (dua dari kanan), dan Aldy Artrian (paling kanan) saat berdiskusi santai di The Bahagia Kaffee, Bontang. Foto: Istimewa

Meski komunikasi kami tak lagi seintens saat saya masih berkiprah di Bawaslu Kota Bontang, saya tetap menjaga hubungan baik dengan Dr. Saipul, S.Sos., M.Si., dosen Universitas Mulawarman sekaligus mantan Ketua Bawaslu Kaltim dua periode. Karena itu, ketika ia memberi kabar sedang berada di Bontang, sesibuk apa pun agenda, saya berusaha menyempatkan diri untuk menemaninya.

Rabu (17/12) malam, kami bertemu sambil ngopi di The Bahagia Kaffee. Turut hadir Muzarrobi Renfly, Ketua KPU Bontang, dan Aldy Artrian, Ketua Bawaslu Bontang. Suasananya cair. Obrolan mengalir ringan. Khas pertemuan lama yang tak perlu banyak basa-basi.

Namun ketika percakapan mulai menyentuh isu politik kebijakan, Aldy memilih menjaga posisi. Ia tertawa sambil menggeleng pelan. “Kalau soal itu, saya no comment ya,” ucapnya singkat. Sikap yang wajar bagi penyelenggara pemilu yang harus berdiri di jarak aman. Muzarobbi pun mengambil sikap serupa. Diskusi soal politik akhirnya lebih banyak saya lanjutkan bersama Saipul.

Isu yang kami bicarakan malam itu sebenarnya sudah lebih dulu ramai di ruang lain. Saya tergabung dalam sebuah grup WhatsApp jurnalis nasional bersama Perludem, bernama Jaringan Pemilu. Beberapa hari terakhir, grup itu dipenuhi pertanyaan yang sama. Wacana mengembalikan pemilihan presiden dan kepala daerah ke DPR RI dan DPRD. Apakah demokrasi langsung dianggap gagal? Apakah efisiensi dijadikan alasan sah untuk menarik kembali hak pilih rakyat?

Wacana ini menguat setelah disampaikan langsung oleh Prabowo Subianto dalam sejumlah pernyataan yang membuka ruang diskusi tentang kemungkinan mengembalikan pemilihan presiden dan kepala daerah ke mekanisme perwakilan. Pernyataan itu segera memantik respons luas—dari politisi, akademisi, pegiat demokrasi, hingga jurnalis. Bukan semata karena substansinya, tetapi karena sinyal tersebut datang dari Presiden.

Diskusi yang mengemuka di Jaringan Pemilu itulah yang membuat saya semakin tertarik mendengar pandangan Saipul secara langsung.

Saipul memulai dari sejarah. Pemilihan kepala daerah oleh DPRD, kata Saipul, bukan hal baru. Indonesia sudah pernah mengalaminya, baik pada masa Orde Lama maupun Orde Baru. Bahkan menjelang runtuhnya Orde Baru, mekanisme pemilihan melalui DPRD sudah berjalan cukup luas.

Masalahnya, pengalaman itu meninggalkan catatan pahit. Kepala daerah yang dipilih DPRD cenderung lebih loyal kepada pihak yang memilihnya, bukan kepada rakyat. Kepentingan publik kerap tersisih karena pertanggungjawaban politik berhenti di ruang-ruang elite.

Fakta itulah yang kemudian melahirkan tuntutan Reformasi 1998. Kepala daerah harus dipilih langsung oleh rakyat agar mandatnya jelas dan keberpihakannya terukur.

Pilkada langsung mulai dijalankan setelah lahirnya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan diimplementasikan pada 2005. Kaltim termasuk daerah awal yang melaksanakannya. Tentu saja sistem ini tidak steril dari masalah. Politik uang, konflik, dan partisipasi yang fluktuatif adalah realitas yang tidak bisa dipungkiri.

Namun menurut Saipul, persoalan itu tidak bisa dijadikan alasan untuk menarik kembali kedaulatan rakyat. Justru sejak awal, ia melihat ada ketidakikhlasan elite politik terhadap pilkada langsung. Undang-undang tahun 2014 yang sempat mengembalikan pilkada ke DPRD menjadi bukti.

Reaksi publik kala itu keras. Demonstrasi mahasiswa, kritik akademisi, penolakan pegiat pemilu. Pemerintah akhirnya menerbitkan Perppu yang kemudian disahkan menjadi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 dan menandai pilkada serentak langsung.

Dalam pandangan Saipul, setiap kali pilkada bermasalah, sasaran kritik selalu mengarah ke rakyat atau penyelenggara. Padahal hulunya sering justru berada di partai politik. Partai menentukan calon dari tingkat pusat, bukan dari aspirasi daerah. Ketika kandidat yang diusung tidak dikehendaki publik, partisipasi menurun adalah konsekuensi logis.

Sebelum meninggalkan Bontang, Saipul menyempatkan makan siang di Nasi Pecel Bu Choirul Jalan HM Ardans. Kali ini turut hadir Nasrullah (paling kiri), mantan Ketua Bawaslu Bontang. Foto: Istimewa

Soal manipulasi politik pun demikian. Mayoritas kandidat pemenang berasal dari partai. Mesin kampanye, tim sukses, hingga praktik curang di lapangan juga digerakkan oleh struktur partai. Sementara calon perseorangan jumlahnya sangat kecil dan hampir selalu kalah.

Persoalan profesionalitas penyelenggara, menurut Saipul, juga kerap dibaca secara tidak adil. Penyelenggara ad hoc dibayar minim, dituntut bekerja profesional di bawah tekanan politik yang kuat, lalu disalahkan ketika sistem tidak ideal. Belum lagi proses pembekalan dan rekrutmen yang sering kali lebih mempertimbangkan afiliasi dibanding kapasitas.

Pandangan itu mendapat penguatan dari diskusi di grup Jaringan Pemilu. Salah satu respons yang cukup komprehensif datang dari Haekal, peneliti Perludem.

Ia menegaskan bahwa kualitas dan integritas calon kepala daerah pada prinsipnya sangat ditentukan oleh proses kaderisasi dan kandidasi di partai politik.

Masalahnya, proses itu hari ini banyak yang tidak berjalan. Popularitas dan kemampuan finansial sering kali lebih menentukan dibanding kapasitas dan rekam jejak.

Karena itu, menurut Haekal, keliru jika kegagalan tersebut lalu dibebankan kepada sistem pilkada langsung.

Ia juga menggarisbawahi soal mahalnya biaya politik. Biaya tinggi dalam pilkada bukan disebabkan oleh mekanisme pemilihan langsung, melainkan oleh biaya politik “gelap” yang mendominasi kontestasi.

Pertanyaannya, apakah jika pemilihan dikembalikan ke DPRD persoalan itu otomatis selesai? Jawabannya tidak! Selama watak politik partai masih sama, perubahan sistem hanya akan memindahkan biaya politik gelap ke DPRD dan justru memperparah wajah demokrasi lokal.

Haekal menutup dengan catatan penting: tidak ada jaminan bahwa pemilihan kepala daerah melalui DPRD akan menghasilkan pemimpin yang lebih berintegritas. Bahkan kecenderungannya adalah meningkatnya transaksi politik di ruang tertutup yang pada akhirnya menyandera kepala daerah ketika menjabat.

Dari meja kopi di Bontang hingga diskusi di grup Jaringan Pemilu, benang merahnya jelas. Kritik terhadap pilkada langsung sah dan perlu. Tetapi solusi dengan menarik kembali kedaulatan rakyat ke ruang elite, tanpa membenahi partai politik dan tata kelola kekuasaan, bukanlah jawaban.

Jika persoalan hulunya adalah partai politik, maka memperbaiki demokrasi seharusnya dimulai dari sana. Bukan dengan memotong hak rakyat untuk memilih, lalu berharap hasilnya otomatis lebih baik.

Sejarah sudah memberi pelajaran. Kita pernah mencoba. Kita tahu hasilnya. Mengulanginya dengan dalih efisiensi hanya akan membawa kita mundur, bukan maju.

Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.

STITEK Bontang Berpeluang Jadi Universitas

0
STITEK Bontang Berpeluang Jadi Universitas

Sekolah Tinggi Teknologi (STITEK) Bontang membuka peluang besar untuk bertransformasi menjadi universitas. Rencana ini menjadi bagian dari penguatan sektor pendidikan tinggi di Kota Bontang, sekaligus menjawab kebutuhan sumber daya manusia lokal yang semakin kompetitif di masa depan.

Pembaca Setia Radar Bontang!

Ingin tahu kabar terkini dari Koran Digital Radar Bontang?
Langsung baca e-paper lengkapnya melalui tautan berikut:

👉 E-Paper Lengkap
https://koran.radarbontang.com

👉 Versi Mobile
https://digital.radarbontang.com/rb20des2025/mobile/

Radar Bontang – Aktual & Terpercaya!

Perkuat Ketahanan Pangan, Kapal Rute Bontang – Mamuju Juga Diharap Bisa Angkut Bahan Pokok

0
Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris saat ditemui beberapa waktu lalu. (Dwi/RadarBontang).

BONTANG – Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang telah mematangkan perencanaan rute kapal laut Bontang – Mamuju, yang diperkirakan beroperasi di 2026 mendatang. Hal ini disampaikan secara langsung oleh Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris.

Dia menyampaikan bahwa pihaknya akan memantau secara langsung dan memastikan, di pelabuhan mana nantinya yang pas dengan kapal sesuai dengan keinginan yang dimau.

“Kalau tidak sempat di minggu ini kita kesana, paling lambat rencananya di minggu depan. Untuk memastikan pelabuhannya yang mana yang pas,” ucapnya, Jumat (19/12/2025).

Selain itu, Agus Haris juga mengatakan bahwa kapal itu nantinya tidak hanya mengangkut para penumpang saja, akan tetapi juga bisa mengangkut barang-barang seperti bahan pokok, maupun kendaraan. Sehingga kapal ini multifungsi.

Dengan begitu diharapkan, Bontang bisa mendapatkan pasokan bahan pokok tidak hanya dari Pulau Jawa saja, akan tetapi juga dari Sulawesi untuk memperkuat ketahanan pangan di wilayah Kota Bontang.

“Jadi untuk stok pun kita tidak bergantung dari pulau Jawa saja, harus juga ada dari Sulawesi,” tutupnya.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Kajian Rute Bontang – Mamuju Terus Dimatangkan, 2 Operator Swasta Berminat

0
Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris. (Dwi/RadarBontang).

BONTANG – Pemkot Bontang terus mengkaji rute Bontang – Mamuju yang diperkirakan akan dibuka. Mulai dari kapasitas penumpang hingga operator kapal.

Kapal dengan rute Bontang – Mamuju diperkirakan mampu menampung sekitar 300 sampai 500 penumpang.

Diketahui ada sejumlah pihak swasta yang telah menyatakan minat mengoperasikan rute Bontang – Mamuju tersebut, di antaranya seperti PT Global Indo dan ASDP dari Balikpapan.

Akan tetapi, Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang akan tegas dan sangat selektif dalam menentukan operator. Sebab, yang paling utama ialah terkait dengan keselamatan, kondisi fisik kapal, hingga pelayanan dan kualitas.

“Nantinya kita akan melihat terlebih dahulu, mana yang bisa menjanjikan. Jadi tidak sembarangan dalam memilih dan mengambil keputusan,” ungkap Wawali Agus Haris.

Terlebih lagi dengan kapal laut untuk rute Bontang – Mamuju, bisa langsung mendapatkan keuntungan sekitar 19 persen dalam pelayaran pertama.

Mengingat kapal tersebut tidak hanya mampu menampung penumpang saja, akan tetapi juga mampu untuk menampung pengiriman barang bahan pokok, atau pun kendaraan.

“Jadi kita jangan hanya bergantung bahan pokok ke pulau Jawa saja, harus bisa juga dari Sulawesi,” tambahnya.

Perlu diketahui dalam rute Bontang – Surabaya masih dinilai sangat berat, karena membutuhkan subsidi sekitar Rp 1 miliar per bulannya, pada tahun pertama.

Maka dengan kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang sekarang, menjadi bahan pertimbangan, dimana yang lolos dalam kajian di Kementerian Perhubungan adalah rute Bontang – Mamuju.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Polres Bontang Turunkan 300 Personel dalam Pengamanan Nataru

0
Kegiatan apel yang berlangsung di Lapangan Mako Polres Bontang. (Ist).

BONTANG – Dalam pengamanan perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru), Polres Bontang menurunkan sebanyak 300 personel.

Selain Polres Bontang, personel gabungan lainnya meliputi TNI, Dinas Perhubungan (Dishub), Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta instansi terkait lainnya.

Kesiapan ini ditandai dengan pelaksanaan Apel Gelar Pasukan Operasi Lilin 2025, yang berlangsung di Halaman Mapolres Bontang, Jumat (19/12/2025) pagi.

Kegiatan apel turut dihadiri oleh Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bontang, Akhmad Suharto, yang mewakili Wali Kota Bontang.

“Apel Gelar Pasukan ini merupakan bentuk pengecekan akhir kesiapan personel, maupun sarana prasarana. Kita berharap seluruh rangkaian dalam pengamanan perayaan Nataru, nantinya dapat berjalan optimal dan kondusif,” ucap Kapolres Bontang, AKBP Widho Anriano saat apel berlangsung.

Operasi Lilin 2025 akan berlangsung selama 14 hari ke depan, dimulai dari 20 Desember 2025 hingga 2 Januari 2026. Untuk lokasi pengamanan mencakup tempat ibadah dengan melibatkan Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) keagamaan, sebagai wujud toleransi, deteksi dini ancaman terorisme, serta pengamanan pusat keramaian.

“Tentunya saat pengamanan berlangsung, personel yang telah disiapkan nantinya akan menyebar di titik-titik penjagaan. Kami juga telah menyediakan dua pos terpadu, dua pos pelayanan, serta satu pos pengamanan,” tambahnya.

Disarankan bila ada masyarakat yang ingin bepergian untuk mudik, sangat diharapkan bisa meninggalkan rumah dengan keadaan yang aman. Tidak meninggalkan barang berharga di tempat yang tak semestinya.

“Maka dari itu, kami juga mengimbau ke masyarakat yang hendak bepergian jauh, untuk menitipkan kendaraannya di kantor polisi terdekat demi keamanan,” tutupnya.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Tahun Depan Bontang Terancam Kekurangan Guru, Ini Tanggapan Anggota Komisi X DPR RI

0
Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian. (Syakurah)

BONTANG — Kota Bontang diperkirakan akan menghadapi kekurangan tenaga pendidik pada tahun depan seiring banyaknya guru yang memasuki masa pensiun. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran, terutama karena kebutuhan guru belum sepenuhnya dapat dipenuhi dalam waktu dekat.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, mengatakan pemerintah pusat tengah menyiapkan langkah restrukturisasi kewenangan dalam hal rekrutmen, penggajian, hingga penempatan guru. Menurutnya, ke depan pemerintah pusat akan berperan lebih besar agar tidak terjadi ketimpangan kesejahteraan dan distribusi guru antarwilayah.

“Bukan berarti sentralisasi, tapi ada penataan ulang kewenangan supaya tidak ada perbedaan kesejahteraan maupun perlakuan antara kota dan kabupaten, termasuk perbedaan antarjenjang sekolah seperti SD, SMP, dan SMA,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dengan sistem rekrutmen terpusat, pemerintah dapat memetakan secara jelas kekurangan guru di setiap daerah. Dari situ, formasi akan dibuka sesuai kebutuhan, dan guru yang direkrut harus siap ditempatkan di mana pun dibutuhkan.

“Kalau direkrut langsung dari pusat, otomatis mereka harus siap ditempatkan di mana saja. Tapi harapannya, kalau bisa putra daerah, seperti orang Bontang, ya ditempatkan di Bontang,” jelasnya.

Namun Hetifah mengakui, proses rekrutmen guru membutuhkan waktu, sementara kekurangan guru di Bontang diperkirakan sudah mencapai sekitar 100 orang pada tahun depan. Untuk sementara, solusi jangka pendek masih perlu dipikirkan secara matang.

Ia juga menyinggung kebijakan agar daerah tidak lagi mengangkat guru honorer baru, yang dinilai bukan solusi jangka panjang. “Ini memang harus ada jalan keluar. Tidak mungkin juga dibiarkan berlarut-larut,” tegasnya.

Kondisi ini menjadi perhatian serius, mengingat keberlangsungan proses belajar mengajar sangat bergantung pada ketersediaan guru yang memadai. Pemerintah daerah pun diharapkan terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk memastikan kebutuhan guru di Kota Bontang dapat terpenuhi.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Pimpin Rakorda High Level Meeting TPID Semester II 2025, Neni Tekankan Pentingnya Koordinasi Hadapi Dinamika Ekonomi

0
Rakorda High Level Meeting TPID Semester II 2025. (Ist)

BONTANG — PSDA Bagian Ekonomi Setda Kota Bontang menggelar Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Semester II Tahun 2025 di Pendopo Rumah Jabatan Wali Kota Bontang, Rabu (17/12) pagi.

Kegiatan strategis ini dipimpin langsung oleh Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, didampingi Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kota Bontang, Sony Suwito Adi Cahyono. Rakorda tersebut menjadi forum penting dalam memperkuat sinergi lintas sektor guna menjaga stabilitas harga dan mengendalikan laju inflasi di Kota Bontang.

PSDA Bagian Ekonomi Setda Kota Bontang selaku pelaksana kegiatan, yang dipimpin Arif Rohman bersama jajaran, menghadirkan narasumber dari Bank Indonesia untuk memberikan pemaparan terkait perkembangan inflasi terkini, tantangan ekonomi regional, serta strategi pengendalian inflasi di daerah.

Dalam arahannya, Wali Kota Neni Moerniaeni menekankan pentingnya koordinasi yang solid antarperangkat daerah dan pemangku kepentingan dalam merespons dinamika ekonomi, khususnya menjelang periode rawan inflasi seperti hari besar keagamaan dan akhir tahun.

“Pengendalian inflasi membutuhkan kolaborasi yang kuat, langkah antisipatif, serta kebijakan yang tepat sasaran agar daya beli masyarakat tetap terjaga,” ujarnya.

Sementara itu, pemaparan dari Bank Indonesia memberikan gambaran kondisi inflasi daerah serta rekomendasi kebijakan yang dapat diimplementasikan pemerintah daerah melalui penguatan ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan stabilisasi harga komoditas strategis.

Rakorda High Level Meeting TPID Semester II Tahun 2025 ini diharapkan dapat menghasilkan langkah-langkah konkret dan terintegrasi dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah serta mendukung pertumbuhan ekonomi Kota Bontang yang berkelanjutan.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Urban Farming Berbasis Sampah Organik Diluncurkan, Lukman: Bisa Jadi Motor Penggerak Ekonomi Rumah Tangga

0
Staf Ahli Bidang Perekonomian, Keuangan, dan Sumber Daya Manusia (PKSDM), Lukman saat launching Urban Farming Program Pengelolaan Sampah Organik dari Sumbernya. (Ist)

BONTANG — Launching Urban Farming Program Pengelolaan Sampah Organik dari Sumbernya resmi digelar di RT 06 Kelurahan Guntung, Kecamatan Bontang Utara, Rabu (17/12) pagi. Program ini menjadi langkah nyata dalam mendorong pengelolaan sampah berkelanjutan sekaligus penguatan ketahanan pangan berbasis rumah tangga.

Kegiatan tersebut dihadiri Direktur Operasi PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) F. Purwanto beserta jajaran, perwakilan Kecamatan Bontang Utara, Lurah Guntung Denny Febrian, Ketua RT 06 Kelurahan Guntung, serta sejumlah kelompok masyarakat dan kelompok tani, di antaranya Kelompok Wanita Tani (KWT) Loktungsi, Sidrap Damai, Keluarga Cemara, dan Rukun Tani.

Pada kesempatan tersebut, PT Pupuk Kalimantan Timur juga menyerahkan bantuan sarana pendukung pengelolaan sampah organik kepada masyarakat kelompok tani.

Bantuan yang diserahkan berupa satu unit mesin pencacah sampah organik, serta masing-masing 15 paket Biodek dan Ecofert yang akan digunakan dalam proses pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos dan media tanam.

Mewakili Pemerintah Kota Bontang, Staf Ahli Bidang Perekonomian, Keuangan, dan Sumber Daya Manusia (PKSDM), Lukman, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada PT Pupuk Kalimantan Timur atas kontribusi strategis dan dedikasi nyata dalam mengelaborasi inisiatif keberlanjutan lingkungan melalui program urban farming berbasis pengelolaan sampah organik dari sumbernya.

“Iklim global kini menjadi tantangan nyata yang menguji ketahanan setiap kota. Pertumbuhan populasi yang berbanding lurus dengan peningkatan konsumsi melahirkan konsekuensi logis berupa peningkatan timbulan sampah yang terus meningkat,” ujar Lukman.

Ia menegaskan bahwa persoalan sampah saat ini tidak lagi sekadar isu kebersihan, melainkan telah berkembang menjadi persoalan sosial, ekonomi, dan terutama keberlanjutan lingkungan. Karena itu, konsep ekonomi sirkular dinilai sebagai paradigma transformatif yang perlu diadopsi dengan menggeser pola linear ambil–konsumsi–buang menuju pemanfaatan kembali sumber daya hingga nol residu atau zero waste.

Menurut Lukman, program urban farming dapat menjadi motor penggerak ekonomi sirkular skala mikro di tingkat rumah tangga. Limbah organik diolah secara mandiri menjadi pupuk kompos dan media tanam yang mendukung produksi pangan keluarga, sekaligus mengurangi beban sampah kota.

Ia juga mengajak seluruh pemangku kepentingan, mulai dari perangkat daerah, dunia usaha, perguruan tinggi, komunitas, hingga masyarakat Kota Bontang, untuk bergerak bersama dan mengambil peran aktif dalam pengelolaan sampah berbasis sumber.

Melalui sinergi lintas sektor ini, diharapkan program urban farming tidak hanya mampu menekan volume sampah organik, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya keberlanjutan lingkungan dan kemandirian pangan di Kota Bontang.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Wali Kota Dukung STITEK Bontang Jadi Universitas

0
Sosialisasi dan Diseminasi Kebijakan Perubahan Bentuk STITEK Bontang menjadi Universitas. (Ist)

BONTANG — Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni bersama Ketua Komisi I DPD RI, Dr. Andi Sofyan Hasdam, menghadiri Sosialisasi dan Diseminasi Kebijakan Perubahan Bentuk STITEK Bontang menjadi Universitas pada Kamis (19/12) pagi. Kegiatan ini digelar oleh Sekolah Tinggi Teknologi Industri (STITEK) Bontang di Pendopo Rumah Jabatan Wali Kota.

Dalam sambutannya, Neni menegaskan STITEK Bontang telah menunjukkan dedikasi panjang sejak berdiri pada 2005, dengan dua program studi andalan Teknik Elektro dan Teknik Informatika yang konsisten menyuplai kebutuhan industri di Bontang. Menurutnya, hal tersebut menjadi fondasi kuat bagi transformasi STITEK menjadi universitas.

“Selama hampir dua dekade, STITEK membuktikan komitmennya mencetak SDM industri. Ini modal penting untuk naik kelas menjadi universitas,” ujar Neni.
Ia menyebut, pengembangan STITEK terus berlanjut dengan penambahan dua program studi baru pada 2024, yakni Sistem Informasi dan Bisnis Digital. Sementara pada 2025, tiga program studi tambahan—Teknik Industri, Teknik Lingkungan, dan Kewirausahaan—menunggu penerbitan SK, sehingga total menjadi tujuh program studi.

“Kesiapan ini menjadi dasar logis perubahan STITEK menjadi Universitas Sains dan Teknologi Bontang, sejalan dengan visi Bontang sebagai kota industri, jasa, dan mitra strategis IKN,” tegasnya.

Neni juga menekankan bahwa momentum sosialisasi tersebut merupakan titik awal sejarah baru pendidikan tinggi di Bontang. Transformasi STITEK, katanya, bukan sekadar perubahan nama, melainkan lompatan visi untuk menjadikan Bontang sebagai penghasil inovasi sains dan teknologi.

Dalam kegiatan itu, Ketua Komisi X DPR RI, Dr. Hetifah Sjaifudian, hadir sebagai pembicara utama dan menyatakan dukungan, seraya menekankan pentingnya kesiapan akademik dan tata kelola.

Hal senada disampaikan Direktur Kelembagaan Ditjen Dikti, Prof. Mukhamad Najib, yang menilai STITEK Bontang berada di jalur tepat menuju universitas.
Sosialisasi tersebut dihadiri sebagian besar mahasiswa STITEK Bontang, sejumlah alumni, serta jajaran yayasan dan pimpinan STITEK sebagai bentuk dukungan terhadap rencana transformasi kelembagaan.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Polres Kutai Timur Musnahkan Barang Bukti Hasil Operasi Patuh, Zebra, dan KRYD

0
Proses pemusnahan barang bukti oleh Kapolres Kutim, AKBP Fauzan Arianto bersama Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman. (Ramlah)

SANGATTA — Sebagai bentuk komitmen dalam menegakkan hukum serta menjaga
keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), Polres Kutai Timur (Kutim) memusnahkan barang bukti hasil Operasi Patuh, Operasi Zebra, dan Kegiatan Rutin yang Ditingkatkan (KRYD), Jumat (19/12/2025).

Barang bukti yang dimusnahkan meliputi 72 unit knalpot brong, dengan rincian 30 unit hasil Operasi Patuh, 25 unit hasil Operasi Zebra, dan 17 unit hasil KRYD. Selain itu, turut dimusnahkan 887 botol minuman keras (miras) serta narkotika seberat 246,5 gram.

Seluruh barang bukti tersebut merupakan hasil penindakan jajaran Polres Kutim selama pelaksanaan berbagai operasi kepolisian yang digelar dalam beberapa waktu terakhir.

Kapolres Kutai Timur, AKBP Fauzan Arianto, menegaskan bahwa pemusnahan barang bukti ini merupakan wujud nyata keseriusan Polri dalam menekan pelanggaran lalu lintas, peredaran minuman keras ilegal, serta penyalahgunaan narkotika yang berpotensi mengganggu stabilitas kamtibmas.

“Pemusnahan barang bukti ini adalah bagian dari komitmen kami untuk menegakkan hukum secara tegas dan konsisten. Knalpot brong, miras, dan narkoba terbukti menimbulkan dampak negatif bagi keselamatan, ketertiban, dan keamanan masyarakat,” tegas AKBP Fauzan Arianto.

Ia menambahkan, Polres Kutim akan terus meningkatkan upaya preventif dan represif melalui operasi kepolisian terpadu. Di sisi lain, masyarakat juga diharapkan berperan aktif dengan mematuhi aturan hukum dan mendukung upaya penegakan hukum.

“Keberhasilan menciptakan situasi yang aman dan kondusif tidak terlepas dari dukungan masyarakat. Kami mengimbau agar bersama-sama menjaga kamtibmas dan menjauhi segala bentuk pelanggaran hukum,” pungkasnya.

Pemusnahan barang bukti ini diharapkan tidak hanya memberikan efek jera bagi pelanggar, tetapi juga memperkuat kepercayaan publik terhadap kinerja Polres Kutai Timur dalam menjaga keamanan dan ketertiban di wilayah Kutim.

Penulis: Ramlah
Editor: Yusva Alam