Beranda blog Halaman 498

Pesan Neni di Puncak 16 HAKTP: Kemajuan Kota Diukur dari Bagaimana Memperlakukan Warga Rentan

0
Wali Kota Neni saat menghadiri puncak peringatan 16 HAKTP. (Ist)

BONTANG – Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, menegaskan, kemajuan kota tidak diukur dari gedung pencakar langit, melainkan dari bagaimana ia memperlakukan warganya yang paling rentan. Hal itu ia sampaika saat menghadiri Puncak Peringatan 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16 HAKTP) dan Hari Disabilitas Internasional (HDI) Tahun 2025 beberapa waktu lalu.

“Ketika perempuan dihargai dan penyandang disabilitas diberikan ruang untuk tumbuh, maka sesungguhnya kota ini sedang bergerak menuju kemajuan,” ujar Wali Kota Neni, disambut anggukan setuju dari para hadirin.

Namun, di balik perayaan inklusivitas tersebut, terselip data yang menjadi “alarm” bagi kita semua. Kepala DP3AKB, Eddy Foreswanto, membuka fakta bahwa grafik kasus kekerasan di Bontang masih fluktuatif. Setelah sempat turun di 2023, angka kasus kembali naik menjadi 140 pada 2024, dan tercatat 88 kasus hingga Oktober 2025.

Menanggapi hal ini, Wali Kota Neni menyoroti tantangan baru di era digital. Mengutip survei PIK-R 2025, sebanyak 56,9 persen remaja mengalami tekanan psikis akibat konten berisiko.
“Orang tua adalah madrasah pertama. Kualitas kebersamaan dan pemahaman literasi digital di rumah adalah benteng utama untuk melindungi anak dari risiko kekerasan, baik di dunia nyata maupun daring,” pesannya mengingatkan peran keluarga.

Acara ini bukan sekadar seremonial. Komitmen pemerintah dipertegas dengan rencana penandatanganan Pengarusutamaan Gender (PUG) dan peluncuran semangat “SAKTI” (Stop menyakiti, Awasi, Kasih empati, Teguhkan hati, dan Inovasi digital).

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Neni: Aktivitas Ekonomi Tak Boleh Mematikan Masa Depan Ekologi

0
Wali Kota Neni saat ikut menanam pohon. (Ist)

BONTANG – Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, mengingatkan bahwa aktivitas ekonomi tidak boleh mematikan masa depan ekologi. Hal itu diungkapkan saat menghadiri seremonial Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) 2025 yang digelar oleh PT Indominco Mandiri, Senin pagi (8/12/2025).

Neni menekankan poin krusial mengenai tanggung jawab korporasi. Menurutnya, pemanfaatan sumber daya alam harus berjalan seirama dengan upaya konservasi.
“Pemeliharaan lingkungan adalah bagian dari pembangunan berkelanjutan. Tidak boleh ada eksploitasi tanpa diimbangi pemulihan,” ujar Neni dengan nada tegas dalam sambutannya.

Neni juga menyoroti peran vital mangrove sebagai benteng alami pesisir Bontang. Ia menyebut mangrove bukan sekadar tumbuhan, melainkan penyedia oksigen, penahan abrasi, dan penopang utama kehidupan laut.

Namun, wali kota mengingatkan bahwa menanam pohon tidak boleh hanya menjadi ritual seremonial yang dilakukan setahun sekali.
“Menanam bukan hanya pada tanggal tertentu. Menanam harus menjadi kebiasaan harian kita sebagai wujud tanggung jawab terhadap generasi berikutnya,” pesannya.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Kuota BBM Surplus, tapi Tetap Mengular, Salah Siapa?

0
Ilustrasi (Ist)

BONTANG – Antrean panjang Bahan Bakar Minyak (BBM) hampir menjadi pemandangan sehari-hari di Kota Bontang. Tidak hanya antrean pertalite, truk-truk pemburu solar pun saban hari terlihat ‘nongkrong’ di sekitar SPBU.

Banyak faktor menyebabkan antrean mengular: mulai persoalan kuota, maraknya pengetab BBM, hingga distribusi yang tidak presisi. Persoalan ini ibarat benang kusut yang saling berkaitan.

Beberapa pekan terakhir, antrean kembali terjadi di berbagai SPBU. Melihat kondisi ini, Anggota Komisi B DPRD Bontang menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Pertamina, pengelola SPBU, dan Pemkot Bontang.

DPRD: PENYEBABNYA BUKAN KUOTA
Anggota Komisi B menyoroti sejumlah penyebab masyarakat sulit mendapatkan BBM.

Wakil Ketua Komisi B DPRD Bontang, Winardi, mengatakan antrean terjadi karena stok BBM di SPBU cepat habis pada pagi hingga siang hari, lalu kosong hingga sore. Ia menilai kondisi ini tidak wajar karena secara data, kuota BBM Bontang justru selalu surplus.

“Di lapangan, jam 9 sampai 10 pagi sudah mulai habis, baru terisi lagi sore hari. Ini yang membuat antrean sangat panjang,” ujarnya.

Anggota Komisi B, Nursalam, juga menyoroti lemahnya perencanaan distribusi. Jika stok diperkirakan habis pada siang hari, mobil tangki seharusnya diberangkatkan lebih awal agar tidak terjadi jeda pasokan.

Sementara itu, Suharno menegaskan bahwa hingga November 2025, konsumsi Pertalite dan Solar masih jauh di bawah kuota tahunan.

Untuk Pertalite, kuota 2025 sebesar 226.287 kl, namun hingga November baru terpakai 216.667 kl. Dengan konsumsi rata-rata 1.967 kl per bulan, masih tersisa sekitar 4.620 kl untuk Desember.

“Jika kebutuhan Desember sekitar 2.000 kl, berarti ada sisa sekitar 2.600 kl yang tidak terpakai. Pertanyaannya, ini mau ke mana? Sementara Januari 2026 sudah masuk kuota baru,” tegasnya.

Hal serupa terjadi pada Solar. Dari kuota 15.667 kl, hingga November baru terealisasi 12.580 kl. Dengan kebutuhan riil 1.143 kl per bulan, diperkirakan ada sisa 1.800–2.000 kl di akhir tahun.

Ia menegaskan antrean BBM di Bontang bukan disebabkan kurangnya kuota, tetapi persoalan teknis distribusi.

“Kalau stoknya masih sisa, berarti ini bukan soal kuota. Ini murni teknis. Misalnya SPBU buka jam enam, tapi mobil tangki baru datang jam delapan. Itu harus dibenahi,” ujarnya.

Pernyataan anggota dewan ini diperkuat perwakilan SPBU Tanjung Laut, Buyung. Ia mengatakan pasokan dari depot tidak selalu sesuai kebutuhan riil.

“Dulu kami menerima 24 kiloliter per hari. Sekarang hanya 16 kl lalu diselingi 8 kl. Akibatnya stok cepat habis. Kalau buka jam enam pagi, jam satu siang sudah kosong,” jelasnya.

DISTRIBUSI JADI PEMICU ANTREAN
Perwakilan Checker Pertamina wilayah Bontang, Rahman, mengakui distribusi menjadi faktor utama antrean.

Ia menjelaskan keterlambatan pasokan dipicu cuaca buruk di Terminal BBM (TBBM). Kapal tangki terlambat sandar di TBBM Samarinda sehingga distribusi ke SPBU ikut tertunda.

“Selama ini mobil tangki berangkat dari Samarinda pada shift siang, sehingga baru tiba di Bontang sore hari. Sekarang sudah kami ubah ke shift pagi agar tiba sekitar jam 10 pagi,” terangnya.

Pertamina juga memperketat pemeriksaan kualitas dan kuantitas BBM menyusul kasus kontaminasi BBM di Jawa. Proses ini membuat waktu bongkar muat lebih lama, namun dinilai perlu untuk menjaga mutu.

AKAR MASALAH DISTRIBUSI TAK TEPAT WAKTU
Komisi B DPRD Bontang menyimpulkan antrean panjang bukan disebabkan kesalahan SPBU, melainkan distribusi yang tidak tepat waktu dan sistem pelayanan yang lambat.

“Koordinasi antara Pertamina, depot, dan SPBU harus diperbaiki. Kota ini kecil, seharusnya distribusi bisa diatur lebih presisi agar masyarakat tidak terus dirugikan,” tegas Winardi.

Meski kuota secara administrasi masih tersisa, Winardi menilai persoalan utama bukan pada angkanya, tetapi pengawasan distribusi di lapangan.

“Kalau secara angka kita surplus, tapi masyarakat tetap antre, berarti ada masalah distribusi. Tugas kita bukan hanya mengawal kuota, tapi memastikan penyalurannya berjalan,” ujarnya.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Stok BBM Bontang Dipastikan Aman hingga Akhir Tahun, Distribusi Non-Subsidi Kembali Lancar

0
Ilustrasi. (ist)

BONTANG – Ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Kota Bontang dipastikan dalam kondisi aman menjelang akhir tahun. Pemerintah Kota Bontang menegaskan, masyarakat tidak perlu khawatir, termasuk jelang perayaan Nataru

Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam (PSDA) Setda Bontang, Moch. Arif Rokhman menyampaikan, bahwa hasil rapat bersama tim menunjukkan kuota BBM subsidi masih tersisa cukup besar. “Stok BBM aman sampai akhir tahun, terutama untuk jenis subsidi,” ujarnya, Rabu (10/12/2025)

Dalam laporan tahunan, Bontang memperoleh jatah solar sebesar 18.751 kiloliter (KL) dari usulan 41.681 KL. Untuk pertalite, kuota yang disetujui mencapai 26.907 KL dari pengajuan 76.768 KL

Hingga November 2025, penyaluran solar telah mencapai 15.568 KL, sementara pertalite terserap 22.233 KL. Dengan demikian, masih tersedia 3.183 KL solar dan 4.674 KL pertalite. Jumlah tersebut dinilai lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga pergantian tahun

Ia mengatakan, konsumsi BBM di wilayah Bontang tidak terlalu besar. Dalam satu bulan, pemakaian solar rata-rata 1.500 KL dan pertalite sekitar 2.000 KL yang didistribusikan ke enam SPBU.

“Rata-rata realisasi SPBU tiap bulan memang tidak tinggi. Karena itu, kuota yang tersisa sangat mencukupi,” jelasnya.

Ia juga menjelaskan, bahwa beberapa waktu lalu distribusi Pertamax ke Bontang sempat tersendat akibat masalah teknis dari pemasok. Kondisi tersebut menyebabkan keterlambatan sementara pengiriman BBM non-subsidi.

“Sekarang sudah tidak ada kendala. Distribusi Pertamax dan BBM non-subsidi lainnya kembali normal,” tegasnya.

Ia memastikan persediaan seluruh jenis BBM non-subsidi juga aman hingga akhir tahun, karena tidak dibatasi kuota seperti BBM subsidi. Menurutnya, pasokan non-subsidi sepenuhnya bergantung pada permintaan dan kemampuan suplai masing-masing SPBU. “Kalau subsidi ada batasnya, tapi untuk non-subsidi sesuai kebutuhan lapangan,” tambahnya.

Penulis; Syakurah
Editor: Yusva Alam

Ketua DPRD Soroti Kutim Tertinggi Kedua Angka Pengangguran di Kaltim

0
Sektor UMKM bisa menjadi solusi jangka panjang dalam menekan angka pengangguran serta mengurangi kemiskinan. (Ramlah)

SANGATTA — Ketua DPRD Kutai Timur (Kutim), Jimmi menyoroti Kutim yang berada di posisi kedua di Provinsi Kaltim untuk angka pengangguran tertinggi.

Kondisi ini disebutnya sebagai persoalan serius yang membutuhkan penanganan cepat dan terarah.

Jimmi mengungkapkan bahwa sektor pertambangan masih menjadi penopang terbesar serapan tenaga kerja di Kutim. Ia menegaskan bahwa DPRD telah berkomunikasi dengan perusahaan-perusahaan tambang untuk mencegah terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) di tengah dinamika ekonomi global maupun regional.

“Ruang untuk penyerapan tenaga kerja paling besar memang di industri tambang. Kami sudah sampaikan kepada perusahaan untuk memitigasi potensi PHK, atau minimal mengalokasikan pekerja agar tetap bisa bekerja,” ujarnya.

Menurutnya, lonjakan pengangguran ini juga dipengaruhi oleh meningkatnya jumlah angkatan kerja baru, terutama dari kelompok usia produktif seiring pertumbuhan penduduk. Jika tidak diimbangi dengan penciptaan lapangan kerja yang memadai, tekanan terhadap pasar tenaga kerja akan semakin besar.

Karena itu, Jimmi mendorong pemerintah daerah untuk mempercepat pengembangan sektor ekonomi kecil dan menengah (UMKM) sebagai solusi jangka panjang dalam menekan angka pengangguran serta mengurangi kemiskinan.

“Pelaku ekonomi kecil-menengah harus didorong untuk tumbuh. Ini penting agar bisa mengurangi dampak meningkatnya pengangguran. Kita ingin masyarakat lebih kreatif,” tegasnya.

Jimmi berharap pemerintah daerah tidak hanya bergantung pada sektor tambang, tetapi mulai memperluas sumber ekonomi baru yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan berkelanjutan.

Penulis: Ramlah
Editor: Yusva Alam

Rendi Pimpin PDIP, Aulia Merapat ke Gerindra: Jangan Biarkan Pemerintahan Kukar Limbung

0
Bupati Kukar dr. Aulia Rahman Basri dan Wakil Bupati Rendi Solihin

ANGIN politik di Kutai Kartanegara (Kukar) bergerak lebih cepat daripada yang dibayangkan. Sejak Pilkada 2024 yang penuh kejutan, termasuk diskualifikasi pasangan Edi Damansyah–Rendi Solihin, membawa Kukar ke fase transisi yang sulit ditebak. Dua poros yang dulu berjalan beriringan kini berbeda arah.

Terpilihnya Rendi Solihin sebagai Ketua DPC PDIP Kukar periode 2025–2030 bukan sekadar pergantian kepengurusan. Ini regenerasi besar dalam tubuh PDIP Kukar. Rendi adalah figur muda kelahiran 1991 yang pernah menjadi anggota DPRD termuda dengan suara terbesar pada Pemilu 2019. Kini, ia memimpin mesin politik banteng moncong putih di Kukar.

Yang sering luput dari pengamatan publik, Rendi adalah kader yang memang tumbuh dari PDIP. Sebelum naik ke legislatif, ia menjabat Wakil Ketua Bidang Pemuda dan Olahraga DPC PDIP Kukar. Sekarang, sebagai Wakil Bupati, ia menjadi wajah muda yang mendapat mandat keberlanjutan partai di pemerintahan.

Dalam Konferda–Konfercab 8 Desember 2025, DPP menetapkan Rendi bersama Andi Faisal sebagai Sekretaris dan Sugeng Hariadi sebagai Bendahara. Pernyataan Andi Faisal menguatkan arah PDIP Kukar: “Kami tetap tegak lurus pada perintah DPP, dan tegak lurus pada arahan Dewan Penasihat Partai, Edi Damansyah.”

Pernyataan ini menunjukkan bahwa pengaruh Edi Damansyah tetap menjadi pilar konsolidasi PDIP Kukar. Regenerasi berjalan lewat Rendi, tetapi fondasi lama masih berfungsi sebagai penyangga arah partai. Dukungan PDIP terhadap pemerintahan Aulia–Rendi pun kembali ditegaskan: “Fraksi PDIP akan memastikan kebijakan Bapak Aulia berjalan untuk kepentingan masyarakat.”

Saat PDIP merapatkan barisan, di sisi lain Bupati Aulia Rahman Basri bergerak ke jalur berbeda. Aulia, yang secara administratif masih tercatat sebagai kader PDIP, hadir dalam Rakerda Gerindra Kaltim pada 23 November 2025 lalu. Dan ini jelas bukan sekadar hadir sebagai tamu.

dr. Aulia Rahman Basri dan Rendi Solihin bersama kader PDIP saat pendaftaran di Pilkada Kukar 2024. Foto: Istimewa

Ketua DPD Gerindra Kaltim, Seno Aji, secara gamblang menyebut bahwa Aulia sudah memiliki KTA Gerindra. “Keinginan bergabung itu sudah disampaikan sejak beliau dilantik sebagai Bupati Kukar,” ucap Seno.

Saat ditanya wartawan, Aulia memilih menjawab diplomatis. “Apa pun yang kita lakukan hari ini, kita ingin memberikan kesempatan pembangunan yang terbaik untuk Kukar.”

Sementara itu, Ketua DPC Gerindra Kukar, Alif Turiadi, memberi sinyal kuat bergabungnya Aulia ke Gerindra dengan mengirim foto KTA sambil menjawab singkat. “Insya Allah.” Itu cukup bagi publik untuk membaca arah pergerakannya. Proses hijrah politik itu, tampaknya, tinggal menunggu pengumuman resmi saja.

Menariknya, dua pergerakan poltik ini terjadi hanya dalam beberapa pekan. PDIP merapikan struktur di bawah kepemimpinan Rendi, sementara Gerindra memperkuat barisannya dengan masuknya Aulia.

Satu poros menguat lewat energi muda, poros lainnya menambah kekuatan, lewat figur kepala daerah. Jika dinamika ini tidak dikelola dengan kehati-hatian, relasi politik di dalam pemerintahan Aulia–Rendi bisa berubah menjadi tarik-menarik antara dua agenda partai besar.

Sejak awal, publik sudah membaca bahwa Aulia dan Rendi datang dari latar politik yang berbeda. Kini perbedaan langkah politik keduanya makin terlihat. Pemerintahan membutuhkan kecermatan, agar perbedaan itu tidak berubah menjadi dikotomi birokrasi atau gesekan dalam pelayanan publik.

Terlebih ketika bayangan kontestasi 2029 sudah mulai terasa hari ini. Jika tensi politik meningkat sejak dini, tak mustahil program-program besar dalam RPJMD justru terdesak di tengah tarik-menarik dua arus politik.

Agenda seperti Rp150 juta per-RT, layanan berobat gratis cukup dengan KTP, serta beasiswa siswa–mahasiswa, harus tetap menjadi prioritas yang tidak boleh terjebak dalam silang kepentingan partai.

Regenerasi PDIP lewat Rendi adalah energi baru bagi Kukar. Hijrah politik Aulia ke Gerindra adalah realitas yang harus diterima. Keduanya sah dalam dinamika politik. Namun dua arus ini jangan sampai mengaburkan fokus pemerintah daerah yang seharusnya tetap solid bekerja untuk rakyat.

Kukar tidak membutuhkan pola konflik. Kukar membutuhkan ketenangan, konsistensi, dan keberanian menjaga ritme kerja. Pemerintahan harus berdiri di atas konstitusi dan mandat rakyat, bukan mengikuti arus kepentingan partai mana pun. Politik boleh berubah arah, tetapi pemerintahan tidak boleh ikut limbung. (*)

Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.

Joni Alla Padang Pimpin DPC PDIP Bontang Masa Jabatan 2025–2030

0

Joni Alla Padang resmi menahkodai DPC PDIP Bontang untuk periode 2025–2030. Pelantikan berlangsung dalam suasana khidmat, dihadiri jajaran pengurus dan kader partai. Dengan kepemimpinan baru ini, struktur DPC PDIP Bontang menargetkan konsolidasi organisasi serta penguatan peran politik di tingkat daerah menjelang agenda pemilu mendatang.

Pembaca Setia Radar Bontang!

Ingin tahu kabar terkini Koran Digital Radar Bontang? Kunjungi link di bawah ini untuk membaca e-paper lengkapnya:

👉 E-Paper Lengkap
https://koran.radarbontang.com

👉 Versi Mobile
https://digital.radarbontang.com/rb10des2025/mobile/

Radar Bontang – Aktual & Terpercaya!

Kondisi Fiskal Turun Drastis, Pj Sekda Tantang ASN Tetap Bisa Berinovasi

0
Pj Sekda saat memimpin apel pagi. (Ist)

BONTANG – Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah, Akhmad Suharto, menantang para ASN di bawahnya agar mampu berinovasi di tengah efisiensi. Hal itu diungkapkan saat memimpin apel pagi, Senin (8/12).

Tantangan itu dilontarkan mengingat kondisi fiskal Bontang yang mengalami penurunan drastis, dari Rp2,8 triliun menjadi Rp1,9 triliun.

Penurunan hampir Rp1 triliun ini memicu keluhan di berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
“Wah, luar biasa ngeluhnya. Ada yang bilang kalau kami tidak jalan, kami pasang mobil di luar,” ungkap Suharto menirukan keluhan yang masuk.

Menghadapi hal ini, Suharto meminta ASN berhenti mengeluh dan mulai berpikir kreatif.

“Jangan kita marah kalau tidak ada uang, tidak jalan. Kita harus berpikir bagaimana menjadi pemimpin pengganda,” tegasnya.

Ia juga menyoroti pemborosan di masa lalu, seperti permintaan makan dan transportasi berlebihan untuk acara seremonial, yang kini harus dipangkas habis.

Selain isu anggaran, Suharto juga mengingatkan tentang ancaman yang sering terlupakan karena hiruk-pikuk politik global: bencana lingkungan.
“Kita mungkin hanya bisa bercerita, dulu masa saya bisa melihat beruang atau bekantan. Sekarang enggak ada lagi, habis,” renungnya.

Namun, ia mengaku bangga karena tradisi hijau di Bontang mendapat pujian dari provinsi. Kebijakan mewajibkan ASN menanam pohon saat naik pangkat atau menikah dinilai sebagai langkah visioner yang harus terus dijaga.
“Jadi, kita harus berpikir ke depan seperti apa. Kalau pemerintah minta tanam pohon, itu jangan dipikir keterpaksaan. Itu investasi masa depan,” pungkasnya.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Wawali Minta DWP Bantu Terapkan Jam Belajar Malam ke Anak-Anak

0
Wawali menghadiri Hari Ulang Tahun (HUT) ke-26 Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemenag Kota Bontang, di Aula Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Bontang. (Ist)

BONTANG – Wawali Agus Haris menyuarakan pentingnya disiplin waktu bagi anak-anak di tengah gempuran pergaulan bebas. Hal itu diungkapkannya saat menghadiri Hari Ulang Tahun (HUT) ke-26 Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemenag Kota Bontang, di Aula Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Bontang, Senin (8/12/2025).

Ia menitipkan pesan khusus kepada para ibu DWP untuk disiplin menerapkan Jam Wajib Belajar Malam pukul 19.00–21.00.
“Kita semua memiliki tanggung jawab yang sama. Saya imbau agar anak tidak keluar rumah setelah pukul 18.00 demi menghindarkan mereka dari pergaulan berisiko. Ibu adalah madrasah pertama, peran ibu menjadi kunci kualitas karakter anak,” ujar Agus Haris.

Selain isu pendidikan, Wawali juga mengingatkan anggota DWP untuk menjadi teladan kesederhanaan dan menghindari gaya hidup konsumtif.

Penampilan yang baik itu penting sebagai bentuk penghargaan diri, namun kontribusi nyata dalam penurunan stunting dan pemberdayaan ekonomi keluarga jauh lebih utama.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Perkuat Kepastian Hukum dan Tata Kelola Pemerintahan Bersih, Wali Kota Bontang Teken MoU Bersama Kejati Kaltim

0
Wali Kota Neni usai menandatangani MoU dengan Kejati Kalimantan Timur. (Ist)

BONTANG – Pemerintah Kota Bontang menjadi salah satu daerah yang menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) antara Kejaksaan Tinggi (Kejati) Kalimantan Timur dengan Pemerintah Provinsi Kaltim, serta kerja sama antara Kejaksaan Negeri dan pemerintah kabupaten/kota se-Kaltim. Kegiatan berlangsung di Ruang Ruhui Rahayu Lantai 1 Kantor Gubernur Kaltim, Samarinda, Selasa (9/12).

Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, hadir langsung dan menjadi salah satu kepala daerah yang paling awal menandatangani dokumen kerja sama dengan Kejaksaan Negeri Bontang.

Kehadiran Neni menegaskan komitmen Pemkot Bontang dalam memperkuat tata kelola pemerintahan, pengawasan, serta pendampingan hukum di seluruh sektor pembangunan kota.

“Kerja sama ini sangat penting untuk memastikan setiap program pemerintah berjalan transparan, akuntabel, dan sesuai aturan. Pemkot Bontang sangat terbuka untuk pendampingan dari Kejaksaan,” ujar Neni usai penandatanganan.

Sementara MoU tingkat provinsi ditandatangani langsung oleh Gubernur Kalimantan Timur, Rudi Mas’ud, bersama Kepala Kejaksaan Tinggi Kaltim, Prof. Supardi. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan penandatanganan kerja sama antara seluruh kepala daerah kabupaten/kota se-Kaltim dengan masing-masing Kejaksaan Negeri.

Wali Kota Bontang menyampaikan bahwa pendampingan hukum menjadi kebutuhan vital, terutama untuk percepatan pembangunan daerah, termasuk proyek strategis dan pelayanan publik. Ia berharap kolaborasi ini semakin menguatkan integritas pemerintah daerah.
“Kami ingin setiap rupiah anggaran benar-benar berdampak bagi masyarakat. Melalui kolaborasi dengan Kejaksaan, Bontang dapat bekerja lebih aman, cepat, dan tepat,” ujarnya.

Dengan penandatanganan ini, Pemkot Bontang memastikan diri berada di garis depan dalam memperkuat kepastian hukum dan tata kelola yang bersih demi pembangunan kota yang lebih maju.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam