Beranda blog Halaman 502

Kajati Kaltim Ungkap Modus “Dokumen Terbang” Batu Bara

0
Kepala Kejaksaan Tinggi Kalimantan Timur (Kajati), Supardi saat diwawancarai di Gedung Kejati di Samarinda. (K. Irul Umam/MKN)

SAMARINDA — Kepala Kejaksaan Tinggi Kalimantan Timur (Kejati Kaltim), Supardi, mengungkap salah satu modus paling rumit dalam kejahatan pertambangan di daerah ini: praktik “dokumen terbang” batu bara. Fenomena ini merujuk pada dokumen legalitas yang tampak resmi—lengkap dengan kop dan format standar—namun tidak pernah tercatat dalam sistem dan tidak memiliki aktivitas penambangan yang nyata di lapangan.

Supardi menegaskan bahwa dokumen terbang menjadi tantangan terbesar penegakan hukum karena sering kali tampak valid dan sulit ditelusuri asal-usulnya.

“Dokumen terbang ini akan lebih baik kalau tertangkap tangan. Dokumen terbang kan sudah dalam bentuk dokumen, enggak masuk ke aplikasinya untuk mendeteksi belakang kan susah,” ujar Supardi.

Ia menjelaskan bahwa praktik tersebut hadir dalam beragam bentuk. Ada perusahaan yang memiliki IUP resmi namun membeli batu bara dari pihak lain, perusahaan yang tidak menambang sama sekali tetapi menjual batu bara, hingga perusahaan yang menambang tidak sesuai rencana kerja sehingga menutup kekurangan dengan membeli batu bara di luar lokasi.

“Tambang resmi membeli tambang-tambang yang tidak resmi. Atau dia sebenarnya punya IUP, dia enggak nambang, dia cukup beli. Atau dia juga nambang tapi enggak sesuai RKB karena jumlahnya kurang beli tempat lain,” jelasnya.

Menurut Supardi, pengungkapan modus ini sangat bergantung pada kecermatan membandingkan data legal dengan kondisi lapangan. Pemetaan menjadi instrumen kunci, meski implementasinya tidak selalu sederhana.

“Tinggal bandingkan peta saja, itu salah satu yang kita lakukan,” ujarnya.

Namun, Supardi mengingatkan bahwa tidak semua kasus dokumen terbang otomatis dapat diproses sebagai tindak pidana korupsi. Ada prasyarat yang harus dipenuhi, termasuk keterlibatan penyelenggara negara.

“Konstruksinya itu tidak gampang, kita harus mengkaitkan dengan penyelenggara negara, itu baru bisa masuk korupsi,” ungkapnya.

Keterbatasan personel juga menjadi kendala bagi Kejati Kaltim dalam mengawasi seluruh rantai aktivitas pertambangan. Karena itu, ia mendorong kolaborasi aktif dengan instansi teknis, seperti Dinas ESDM, yang memiliki tenaga lapangan lebih banyak untuk membantu pemetaan dan pengawasan.

“Tidak bisa hanya mengandalkan penegak hukum, dinas juga harus bertanggung jawab. Kolaborasi bisa saling support data,” tegasnya.

Editor: Agus S

Ratusan UMKM Antre Kredit 0 Persen Paser Tuntas, BPD Kaltimtara Mulai Verifikasi Pengajuan

0
Kepala Cabang BPD Kaltimtara Paser, Noor Mahfud. (Nash)

PASER – Program Kredit 0 Persen Paser Tuntas yang digagas Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Paser sebagai dorongan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menunjukkan progres positif. Penyaluran perdana bahkan ditargetkan dapat dimulai bulan ini.

Kepala Cabang BPD Kaltimtara Paser, Noor Mahfud, mengatakan pihaknya saat ini tengah memproses ratusan berkas pengajuan yang telah diterima dari Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disperindagkop-UKM) Kabupaten Paser.

“Alhamdulillah sudah berprogres. Support dari Disperindagkop sangat luar biasa. Ada sekitar 280 pengajuan yang sudah masuk kepada kami,” ujarnya, Senin (8/12/2025).

Menurut Mahfud, bank kini memasuki tahapan krusial yaitu verifikasi data perbankan calon penerima kredit. Proses ini berjalan, namun tetap menemui beberapa kendala, terutama terkait pengecekan kelayakan data nasabah.

“Memang ada kendala-kendala. Kita akan verifikasi seperti BI checking, terkait tarikan data yang bisa disalurkan dan yang tidak. Itu sesuai dengan MOU yang sudah kita sepakati dengan Pemkab,” jelasnya.

Ia berharap sebagian UMKM yang sudah mengajukan dapat menerima penyaluran Kredit 0 Persen sebagai kado menjelang Hari Ulang Tahun (HUT) Paser ke-66, meski waktu yang tersisa menuju akhir tahun sangat terbatas.

“Mengingat waktu yang tersisa tidak memungkinkan memproses semua ajuan UMKM, kemungkinan kredit nol persen yang disalurkan tidak keseluruhan. Yang penting berprogres,” tambahnya.

Terkait Petunjuk Teknis (Juknis) dari pusat yang sebelumnya sempat menjadi kendala, Mahfud memastikan penyempurnaan sudah hampir selesai dan segera dapat digunakan sebagai dasar operasional penyaluran.

“Mudah-mudahan di akhir tahun nanti Juknis-nya sudah selesai dan ada yang segera kita realisasikan kreditnya,” tutup Mahfud. (nash)

Editor: Agus S

Beras Premium Subsidi Tiba di Balikpapan, Pemerintah Pasang Rem Atasi Harga Nakal

0
Beras premium subsidi dari Bapanas saat dibongkar muat.

BALIKPAPAN — Pasokan beras premium subsidi dari Badan Pangan Nasional (Bapanas) akhirnya mendarat di Balikpapan. Dua kontainer berisi beras premium langsung dibongkar di gudang distributor UD Gunung Sari pada Senin (8/12/2025), menandai dimulainya operasi penstabilan harga yang kini menjadi fokus pemerintah.

Pembongkaran dilakukan dengan pengawasan ketat aparat Polda Kaltim, Polresta Balikpapan, Dinas Perdagangan (Disdag), dan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Balikpapan. Kota ini menjadi prioritas setelah Bapanas menemukan adanya penjualan beras premium melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET).

Kabid Ketahanan Pangan DKP3 Balikpapan, Wahidin Alaudin, menegaskan bahwa penyaluran beras subsidi premium merupakan langkah cepat untuk memulihkan stabilitas harga.

“Beras subsidi premium ini merupakan upaya pemerintah menstabilkan harga dan memastikan masyarakat memperoleh beras premium sesuai HET,” ujarnya.

Pada tahap pertama, 50 ton beras disalurkan kepada dua distributor lokal. Pemerintah menyiapkan tahap kedua dengan volume serupa sehingga total pasokan untuk Balikpapan mencapai 100 ton.

Salah satu distributor penerima, Tan Yudi Hartanto, menegaskan komitmennya mendukung kebijakan pemerintah. Ia mewajibkan seluruh pengecer menandatangani surat pernyataan bahwa mereka tidak akan menjual beras melebihi HET.

“Kami sertakan surat pernyataan bagi pengecer, agar penjualan beras premium ini sesuai harga resmi dan tidak melebihi HET,” jelas Tan Yudi.

Sebagai bentuk pengawasan, distributor akan menyerahkan daftar pengecer kepada pihak kepolisian. Aparat dapat menelusuri dan menindak jika ditemukan pelanggaran harga.

Tan Yudi memastikan bahwa pengecer yang nekat menjual di atas HET tidak hanya merugikan masyarakat, tetapi juga berpotensi terjerat sanksi hukum.

Dengan distribusi tahap awal ini, pemerintah berharap alur suplai beras premium subsidi berjalan terkendali, tepat sasaran, dan mampu menutup ruang bagi praktik permainan harga di pasar. (ap)

Editor: Agus S

Distribusi Perdana di Desa Wanasari, 1.042 Siswa di Wanasari Nikmati Makan Bergizi Gratis

0
Distribusi MBG di 3 sekolah di Desa Wanasari, Muara Wahau berjalan lancar.

SANGATTA — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) perdana didistribusikan ke sebanyak 1.042 siswa di Desa Wanasari, Kecamatan Muara Wahau, Kutai Timur (Kutim), Senin (8/12/2025). Penyaluran berlangsung tertib dan lancar di tiga satuan pendidikan.

Tiga sekolah yang menjadi lokasi distribusi yaitu SDN 008 Muara Wahau dengan 489 penerima, SMP Bina Insan dengan 137 penerima, serta SMAN 2 Muara Wahau dengan 416 penerima. Setiap sekolah dipantau langsung oleh tim lapangan SPPG, aparat kepolisian, dan petugas terkait untuk memastikan penyaluran sesuai prosedur.

Kepala SPPG Muara Wahau, Pedro Gonzalez Yosep Lewo Karoko, menyampaikan bahwa distribusi perdana berjalan sesuai standar dan tanpa hambatan. Ia memastikan kualitas makanan dan ketepatan sasaran menjadi prioritas utama pihaknya.

Aparat kepolisian dari Polsek Muara Wahau juga hadir di setiap titik penyaluran untuk menjaga keamanan. Kapolsek Muara Wahau Iptu Sumartono menegaskan dukungan penuh terhadap program nasional ini.

“Kami memastikan seluruh rangkaian kegiatan penyaluran MBG di Desa Wanasari berjalan kondusif. Kehadiran personel bertujuan memberikan rasa aman bagi penyelenggara maupun para siswa,” ujarnya.

Meski berlangsung tanpa seremoni resmi, SPPG Muara Wahau telah menjadwalkan launching formal program MBG pada pekan depan.

Sementara itu, Kapolres Kutai Timur AKBP Fauzan Arianto mengapresiasi kolaborasi antara petugas lapangan, sekolah, dan kepolisian dalam mendukung kelancaran kegiatan.

“Program MBG merupakan langkah strategis meningkatkan gizi dan kesehatan pelajar. Polres Kutim akan terus mendukung pengawasan dan distribusinya, terutama di sekolah-sekolah yang menjadi sasaran,” ungkapnya.

Dengan bergulirnya Program MBG di Muara Wahau dan wilayah lainnya di Kabupaten Kutai Timur, pemerintah menargetkan terciptanya Generasi Emas 2045, yakni generasi yang lebih sehat, cerdas, dan siap menghadapi masa depan.

Penulis: Ramlah
Editor: Yusva Alam

‘Alamak’ Rizky Febian Tutup Pesta Rakyat

0

Penampilan Rizky Febian menjadi penutup meriah Pesta Rakyat yang digelar di Bontang. Ribuan penonton memenuhi area panggung untuk menyaksikan aksi panggung dan suara khas putra Sule itu. Antusiasme masyarakat terlihat dari awal hingga akhir acara, menjadikan malam penutupan berlangsung semarak dan penuh sorakan.

Pembaca Setia Radar Bontang!

Ingin tahu kabar terkini Koran Digital Radar Bontang? Kunjungi link di bawah ini untuk membaca e-paper lengkapnya:

👉 E-Paper Lengkap
https://koran.radarbontang.com

👉 Versi Mobile
https://digital.radarbontang.com/rb8des2025/mobile/

Radar Bontang – Aktual & Terpercaya!

Banjir Rob Diprediksi Kembali Terjadi 17–20 Desember, Warga Diminta Siaga

0
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Bontang, Eko Mashudi. (Syakurah)

BONTANG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bontang memperingatkan potensi meningkatnya curah hujan dan gelombang banjir rob pada pertengahan Desember 2025.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Bontang, Eko Mashudi mengungkapkan berdasarkan analisis data cuaca, BPBD memperkirakan banjir rob akan kembali terjadi pada 17–20 Desember, dengan ketinggian air yang diperkirakan mencapai sekitar 3 meter.

Peringatan ini dirilis setelah banjir rob sebelumnya melanda pesisir Bontang pada 4–7 Desember, yang menyebabkan sejumlah permukiman pesisir terendam.

BPBD menyebut banjir rob merupakan kejadian rutin yang muncul dua kali setiap bulan, namun pada Desember 2025 fenomena ini diperkirakan lebih intens akibat kombinasi fase bulan dan peningkatan curah hujan.

“Desember adalah periode intensitas hujan tertinggi. Walaupun banjir permukiman belum muncul bulan ini, banjir rob sudah terjadi dan kemungkinan akan berulang,” katanya.

Masyarakat terdampak diminta mengantisipasi, termasuk memindahkan barang-barang penting, mengamankan peralatan rumah tangga, serta menghindari aktivitas di area yang berisiko saat air pasang.

BPBD juga mengingatkan warga, untuk memantau informasi perkembangan cuaca dari pihak berwenang, agar dapat melakukan tindakan cepat bila situasi memburuk.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

BPBD Paparkan Sejumlah Wilayah Rentan Banjir, Rob, Longsor, dan Puting Beliung di Bontang

0
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Bontang, Eko Mashudi. (Syakurah)

BONTANG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bontang, membeberkan daftar wilayah paling rentan bencana berdasarkan catatan tiga tahun terakhir. Sejumlah titik di Bontang tercatat kerap mengalami banjir, banjir rob, tanah longsor, hingga angin puting beliung.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Bontang, Eko Mashudi menyatakan kondisi ini menjadi perhatian utama BPBD, menjelang puncak musim hujan di Bulan Desember.

Untuk kategori banjir permukiman, wilayah Kelurahan Api-Api dan Perumahan Bontang Permai menjadi titik yang paling sering tergenang. Perumahan Bontang Permai bahkan tercatat sebagai lokasi dengan durasi genangan paling lama, mencapai 12 jam dalam kejadian terakhir.

Sementara itu wilayah seperti Kelurahan Guntung, Gunung Telihan, serta area cekungan lainnya juga berulang kali menjadi lokasi banjir, terutama ketika hujan deras bersamaan dengan air pasang.

Di kawasan pesisir, seperti Tanjung Laut, Berbas Pantai, hingga Gusung, masyarakat lebih sering dihadapkan pada ancaman banjir rob. Bencana ini biasanya terjadi dua kali setiap bulan dengan ketinggian air yang cukup mengganggu aktivitas warga.

Tak hanya banjir, BPBD juga menyoroti sejumlah titik rawan longsor seperti Gunung Telihan, Mas Darling, dan wilayah perbukitan di Kecamatan Bontang Selatan. Kontur tanah yang curam dan intensitas hujan tinggi menjadi faktor pemicu utama longsor di kawasan tersebut.

Selain itu, angin puting beliung juga menjadi salah satu bencana yang kerap terjadi, terutama di daerah pesisir seperti Malahing dan Tihi Tihi. Namun wilayah perkotaan tidak luput dari ancaman yang sama.

“Beberapa waktu lalu kan sempat ada TK yang atapnya terangkat karena puting beliung, nah itu salah satu contoh yang terjadi di darat,” terangnya.

Mengacu pada data historis tersebut, BPBD mengimbau warga di titik-titik rawan untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama pada periode puncak musim hujan.

“Wilayah-wilayah ini menjadi prioritas penanganan karena frekuensi kejadiannya paling tinggi,” tambahnya.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

APBD 2026: Tahun Ketika Kaltim Dipaksa Lebih Hemat

0

Hampir seluruh daerah di Kaltim kini memasuki tahap pembahasan hingga pengesahan RAPBD Tahun Anggaran 2026. Dari laporan wartawan MediaKaltim.com di 10 kabupaten/kota, ditambah penelusuran melalui sejumlah media nasional dan dokumen resmi pemerintah, terlihat gambaran jelas bahwa tahun anggaran 2026 membuka babak baru bagi Kaltim.

Bukan dengan gegap-gempita pembangunan seperti yang diharapkan publik, tetapi dengan kenyataan bahwa seluruh daerah—tanpa terkecuali—dipaksa menurunkan ambisi dan menata ulang prioritas. Tidak ada satu pun kabupaten atau kota yang lolos dari tekanan fiskal nasional. Tidak ada daerah yang mampu menahan derasnya penurunan Dana Bagi Hasil (DBH) dan Transfer ke Daerah (TKD).

Saya mengikuti dinamika ini sejak awal, dan kondisi provinsi menggambarkan situasi sebenarnya. Kaltim, provinsi yang selama ini menjadi lumbung migas nasional, justru merasakan kontraksi paling tajam. APBD Provinsi Kaltim 2026 hanya Rp15,15 triliun, jauh lebih kecil dari tahun-tahun sebelumnya.

Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud bahkan sudah mengingatkan lebih awal bahwa pemotongan DBH “tidak kurang dari 50 persen,” sebuah sinyal bahwa tahun ini tidak ada ruang kemewahan fiskal seperti sebelumnya. Sekda Kaltim Sri Wahyuni juga menegaskan bahwa meski anggaran menyusut drastis, pemerintah provinsi tetap harus menjaga kualitas layanan dasar dan memastikan APBD tetap “responsif terhadap kebutuhan masyarakat.” Dua pernyataan ini memperlihatkan bahwa tekanan bukan sekadar wacana, tetapi sudah diprediksi dan disiapkan sejak tahap awal.

Pemangkasan DBH lebih dari Rp4 triliun bukan sekadar angka yang turun di atas kertas. Praktis, pemotongan itu berubah menjadi penundaan program, revisi agenda pembangunan, hingga penyusutan ruang gerak pemerintah daerah dalam menentukan arah pembangunan. Dan hal yang sama terjadi di seluruh kabupaten/kota.

Kukar adalah contoh paling ekstrem. Dari Rp11,3 triliun menjadi Rp7,016 triliun—penurunan yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Ini bukan hanya koreksi, tapi amputasi fiskal. Kukar, yang bertahun-tahun hidup dari limpahan migas, mau tidak mau menahan diri, memangkas kegiatan, dan merombak cara kerja agar 17 program prioritas tetap berjalan.

Kutai Timur mengalami kondisi serupa. Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman sudah menegaskan bahwa APBD 2026—yang hanya Rp5,71 triliun—tetap harus menjadi “pondasi pembangunan,” meski belanja dipangkas hampir separuh dari tahun sebelumnya. Kutim yang tahun lalu hampir menyentuh Rp10 triliun kini harus merasionalisasi TPP ASN, memangkas kegiatan non-prioritas, dan memperketat arah pembangunan.

Paser, yang dulu menikmati APBD hingga Rp5 triliun, kini bekerja dengan Rp3,9 triliun. Penurunan tajam ini memaksa daerah memperketat belanja dan memaksimalkan PAD demi menjaga stabilitas layanan dasar. Ironinya, tiga daerah dengan kontribusi migas terbesar justru menjadi yang paling terpukul. Ini menunjukkan betapa rapuhnya fondasi fiskal daerah ketika terlalu bergantung pada komoditas. Ketika kebijakan pusat bergeser, anggaran daerah ikut merosot.

Kota-kota industri pun tidak lepas dari tekanan. Samarinda—ibu kota provinsi—harus puas dengan APBD Rp3,18 triliun, padahal rancangan awal tahun lalu sempat dikisaran Rp5 triliun. Pemangkasan dua triliun lebih membuat pemerintah kota menahan banyak proyek sambil memastikan pendidikan, kesehatan, dan layanan publik tetap aman.

Balikpapan juga menghadapi kenyataan yang sama. Dengan APBD hanya Rp2,9 triliun, kota penyangga IKN ini mau tidak mau menunda sejumlah agenda besar. Fokus diarahkan pada banjir, sanitasi, dan perbaikan jalan, sementara program lain harus menunggu. Bontang—kota industri yang sangat dipengaruhi dinamika perusahaan besar—mengelola Rp1,9 triliun, turun hampir satu triliun. Dalam kondisi seperti ini, pemerintah kota harus benar-benar selektif menentukan program mana yang berdampak nyata dan mana yang perlu dihentikan sementara.

Daerah-daerah lain juga merasakan tekanan serupa. Berau dengan APBD Rp3,425 triliun tetap harus memfokuskan pembangunan pada pariwisata, pertanian, dan layanan dasar. Kubar berada di angka Rp3,521 triliun, sementara Mahulu hanya Rp1,596 triliun—daerah yang lebih dari 80 persen pendapatannya berasal dari transfer pusat. PPU, yang ironisnya menjadi kawasan paling dekat dengan geliat IKN, hanya memiliki Rp1,48 triliun. Turun lebih dari satu triliun, padahal beban layanan publik meningkat pesat.

Melihat semua angka ini, maka jelas, menjadi peringatan keras bagi Kaltim. Penurunan APBD 2026 bukan rutinitas fiskal. Ini sinyal bahwa ketergantungan pada DBH migas tidak lagi bisa menjadi pola pembangunan jangka panjang. Komoditas tidak bisa terus menjadi tumpuan anggaran daerah. Kaltim membutuhkan PAD yang kuat, ekonomi yang lebih beragam, dan pola belanja yang lebih rasional.

Penurunan APBD harus dibaca sebagai momentum membenahi arah pembangunan. Setiap rupiah harus menghasilkan manfaat. Program harus tepat sasaran. Belanja harus efisien. Pengawasan harus kuat. Dan penguatan PAD harus dibangun dengan rencana yang terukur, bukan sekadar menaikkan retribusi atau tarif tertentu.

Tantangan fiskal ini hadir bersamaan dengan momentum besar: hadirnya Ibu Kota Nusantara. Mobilitas penduduk naik, biaya layanan publik bertambah, kebutuhan infrastruktur melebar, dan persaingan tenaga kerja makin ketat. Dengan anggaran yang mengecil, hanya daerah yang cepat beradaptasi yang akan bertahan. Yang lambat akan tertinggal jauh.

Tahun 2026 adalah ujian sesungguhnya bagi para kepala daerah di Kaltim. Kemampuan manajerial justru tampak ketika fiskal menyempit. Ketika harus memilih mana yang penting dan mana yang harus ditunda. Di situlah kualitas kepemimpinan terlihat.

Kaltim berada di titik perubahan. Jika momentum ini dikelola dengan bijak, kita dapat memasuki fase pembangunan yang lebih efisien, tepat sasaran, dan berkelanjutan. Tahun yang berat bukan akhir, justru dari sinilah fondasi baru dibangun.

Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.

Turunnya Tekanan Pipa Induk, Suplai Jargas Kota Bontang Terhenti

0
Salah satu jargas rumah warga Bontang. (ist)

BONTANG – Penurunan tekanan pada pipa gas induk jargas Kota Bontang menyebabkan matinya aliran gas bagi warga Bontang sejak pagi, Senin (08/12/2025).

Pengumuman tersebut disiarkan PT Bontang Migas dan Energi (BME) dan saat ini tim maintenance sedang melakukan perbaikan di lokasi, kawasan Manifold (MS Tugu).

Direktur PT BME, Erwin mengungkapkan pihaknya sedang mengusahakan agar seluruh kelurahan yang saat ini mengalami mati jargas, sesegera mungkin bisa menggunakan kembali fasilitas tersebut.

“Tim sudah melakukan maintenance saat ini, mohon maaf atas ketidaknyamanan,” pungkasnya.

Salah satu warga RT 34 Kelurahan Gunung Elai, Anggi mengungkapkan bahwa dengan matinya jargas saat ini, ia kesulitan untuk melakukan kegiatan memasak yang tentunya menjadi kebutuhan pemenuhan tiap pagi.

“Saat ini belum bisa masak atau masak air, jadi sementara beli dahulu, tadi juga sudah lihat ada pengumuman,” tuturnya.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Kebakaran Landa Ruko di Sirad Salman, Jeritan Minta Tolong Terdengar dari Lantai Dua

0
Api membara di sebuah ruko di Jalan Sirad Salman, Samarinda. (Dimas/MKN)

SAMARINDA – Kebakaran besar menghanguskan dua bangunan, termasuk sebuah ruko yang difungsikan sebagai coffee shop, di Jalan Sirad Salman, Kelurahan Air Putih, Samarinda Ulu, Minggu malam (7/12). Insiden yang terjadi sekitar pukul 19.00 WITA itu berlangsung cepat dan memaksa petugas pemadam serta relawan bergerak ekstra di tengah kondisi listrik PLN yang masih menyala.

Petugas dan relawan berupaya memadamkan api di lokasi kejadian. (Dimas/MKN)

Pantauan Media Kaltim di lokasi menunjukkan api pertama kali muncul dari lantai dua ruko yang menjadi tempat nongkrong anak muda. Salah seorang saksi mata, Saldi, mengungkapkan bahwa api yang awalnya kecil tiba-tiba berkobar dalam hitungan menit.

“Saya lihat api dari atas lantai 2, awalnya kecil aja padahal. Terus, selang lima menit apinya makin membesar dari lantai 2,” ucap Saldi.

Ia juga mengaku mendengar suara teriakan dari penghuni di lantai dua, tepat sebelum api membesar. “Dia minta tolong sambil teriak. Tadi ada suara ledakan, tapi cuman kecil aja pas sudah besar apinya,” tuturnya.

Kepala Bidang Pemadam dan Penyelamatan Disdamkar Samarinda, Ahmad Supriyanto, menjelaskan bahwa pihaknya menerima laporan pada pukul 19.00 WITA dan langsung mengerahkan pasukan dari dua posko berbeda.

“Kita langsung meluncurkan unit dari Posko 3, kemudian karena melihat situasi yang ada, kita meminta bantuan dari Posko 1 dengan meluncurkan dua unit. Jadi totalnya dua posko yang diturunkan,” terang Ahmad Supriyanto.

Ruko berlantai tiga dengan empat pintu itu menjadi titik pusat api, sementara satu ruko di sampingnya turut terdampak. Para petugas harus berhati-hati dalam pemadaman karena listrik PLN belum diputus ketika tim mulai bekerja, sehingga beberapa relawan menerapkan teknik pemadaman khusus agar aman dari sengatan listrik.

Meski demikian, kerja cepat tim pemadam membuahkan hasil. Api berhasil dilokalisir dalam waktu kurang dari satu jam sebelum memasuki tahap pendinginan.

“Kendala dalam pemadaman karena posisi di pinggir jalan raya, dan air juga lumayan banyak, jadi agak mudah aja kita melakukan penanganan. Hampir setengah jam sudah mulai tahap pendinginan, alhamdulillah,” jelasnya.

Dugaan awal penyebab kebakaran adalah korsleting listrik. Tidak ada korban jiwa dalam insiden ini, tetapi kerugian material diperkirakan cukup besar. (dm)

Editor: Agus S