Beranda blog Halaman 522

Bontang 26 Tahun: Dari Kota Kecil Menuju Kota Kelas Dunia

0
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, menyampaikan sambutan pada Rapat Paripurna DPRD dalam rangka HUT ke-26 Pemerintah Kota Bontang. Foto: Istimewa

BONTANG – Suasana Auditorium 3 Dimensi, Jalan Awang Long, Rabu siang (15/10/2025), terasa khidmat ketika Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni dan Wakil Wali Kota Agus Haris menghadiri Rapat Paripurna ke-5 Masa Persidangan I DPRD Kota Bontang. Sidang ini digelar dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-26 Pemerintah Kota Bontang.

Rapat dipimpin Ketua DPRD Kota Bontang, Andi Faizal Sofyan Hasdam, didampingi Wakil Ketua Sitti Yara dan Maming, serta dihadiri 13 anggota dewan. Sejumlah tokoh penting turut hadir, di antaranya Forkopimda, mantan Wali Kota Andi Sofyan Hasdam, anggota DPRD Kaltim Shemmy Permata Sari, Sekda beserta pejabat eselon, perwakilan perusahaan, perbankan, partai politik, serta Tim Pemrakarsa Pemekaran Kota Administratif Bontang.

Dalam sambutannya, Wali Kota Neni Moerniaeni menyampaikan rasa syukur dan kebanggaan atas perjalanan panjang Bontang yang kini memasuki usia ke-26. Ia mengingatkan bahwa perjalanan Bontang tidaklah singkat — dimulai dari status kecamatan, menjadi kota administratif berdasarkan UU No. 20 Tahun 1989, hingga resmi menjadi kota otonom melalui UU No. 47 Tahun 1999.

“Peringatan HUT bukan sekadar seremonial, melainkan refleksi capaian pembangunan dan momentum perubahan menuju kota yang maju, sejahtera, dan berkelanjutan,” ujar Neni dalam sambutannya.

Tahun ini, Pemerintah Kota Bontang mengusung tema “Bersatu, Berbenah, Bontang Berjaya, Masyarakat Sejahtera.” Neni menjelaskan, tema tersebut mencerminkan solidaritas seluruh elemen masyarakat untuk terus memperbaiki diri di segala bidang — mulai dari pelayanan publik, penguatan SDM, hingga pengelolaan lingkungan hidup.

Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni bersama Ketua DPRD Andi Faizal Sofyan Hasdam dan Wakil Ketua DPRD Sitti Yara saat memimpin Rapat Paripurna HUT ke-26 Pemkot Bontang. Foto: Istimewa

Tahun 2025 juga menandai awal pelaksanaan RPJPD 2025–2045 dan RPJMD 2025–2029. Fokus pembangunan diarahkan pada transformasi sosial, ekonomi, dan tata kelola menuju standar kota kelas dunia, dengan tetap berpegang pada nilai-nilai lokal.

“Visi pembangunan Bontang adalah mewujudkan kota yang maju, sejahtera, dan berkelanjutan. Tahun ini menjadi titik awal menuju dua dekade transformasi besar,” tegasnya.

Dalam paparan kinerja, Neni menyebut pertumbuhan ekonomi nonmigas Bontang tahun 2024 mencapai 9,4%, sedangkan dengan migas tercatat -2,51% dan ditargetkan pulih ke kisaran 1,00–1,15% pada 2025. Pemerintah kini menitikberatkan pembangunan pada penguatan ekonomi lokal dan investasi produktif.

Di sisi lain, Neni juga menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan. Pemerintah berkomitmen mengembangkan ekonomi hijau, dibuktikan dengan raihan Adipura Kencana tiga tahun berturut-turut dan penghargaan Green Leadership Nirwasita Tantra.

Pada sektor sumber daya manusia, tingkat pengangguran berhasil ditekan menjadi 7,06% dari 9,46% pada 2020. Pemerintah juga menyiapkan Program Beasiswa UKT 2025 untuk memperluas akses pendidikan tinggi bagi putra-putri Bontang.

Dari sisi tata kelola pemerintahan, Neni menyampaikan capaian membanggakan: Bontang meraih opini WTP 11 kali berturut-turut dan nilai BB dalam SAKIP Award 2024. Capaian ini menunjukkan komitmen terhadap transparansi dan akuntabilitas birokrasi.

Ia menegaskan bahwa pembangunan Bontang tidak bisa berjalan sendiri. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan akademisi untuk menjalankan tujuh program unggulan daerah, yaitu Bontang Sehat, Bontang Pintar, Gerakan Ekonomi Bontang, Pelayanan Publik Prima, Menata Bontang, Komitmen Bontang, dan Inovasi Bontang dengan total 121 kegiatan unggulan.

“Semangat Bessai Berinta atau kebersamaan harus terus kita pelihara. Hanya dengan bersatu dan berbenah, Bontang akan berjaya dan masyarakatnya sejahtera,” tutup Neni.

Pewarta: Dwi S
Editor: Agus S

Pemkot Bagikan 1600 Tablet Bagi Siswa Kelas 3 SMP

0
Pembagian tablet bagi siswa kelas 3 SMP. (Syakurah/Radarbontang)

BONTANG – Selain tas, sepatu, dan seragam, Disdikbud juga menyalurkan tablet pembelajaran digital khusus siswa SMP kelas 3, usai upacara peringatan HUT ke-26 Kota Bontang, di Lapangan Bessai Berinta, Rabu (15/10/2025).

“Tablet itu untuk SMP kelas 3, karena statusnya belanja modal, jadi nanti diserahkan ke sekolah dengan sistem pinjam pakai,” jelasnya.

Artinya, perangkat tersebut tidak boleh dibawa pulang, melainkan digunakan di sekolah untuk mendukung proses belajar-mengajar.

“Kalau barangnya sudah datang ke Bontang, kita langsung distribusikan. Targetnya selesai Desember tahun ini,” tambahnya.

Disdikbud menyiapkan sekitar 1.600 unit tablet untuk tahap pertama, yang dialokasikan bagi SMP Negeri. Namun, Abdu Safa membuka peluang adanya penambahan perangkat pada tahun berikutnya.

“Kalau ada tambahan anggaran atau bantuan dari perusahaan, memungkinkan nanti kelas 1 dan 2 juga bisa memakai. Tapi buku-buku manual tetap digunakan, tidak boleh dihapus,” tegasnya.

Menurutnya, penggunaan tablet menjadi bagian dari upaya digitalisasi pendidikan di Kota Bontang, sejalan dengan semangat Kurikulum Merdeka yang mendorong pembelajaran kreatif dan mandiri.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Pemkot Distribusikan Seragam dan Sepatu ke Siswa SD dan SMP Pasca Upacara HUT ke-26 Kota Bontang

0
Pembagian seragam sepatu dan tablet untuk siswa SD dan SMP Kota Bontang. (Syakurah/Radarbontang)

BONTANG — Pemerintah Kota Bontang melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) mulai menyalurkan bantuan perlengkapan sekolah berupa seragam dan sepatu untuk siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Dasar (SD)

Pembagian tersebut dilaksanakan usai upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-26 Kota Bontang di Lapangan Bessai Berinta (Lang-Lang), Senin (14/10/2025).

Kepala Disdikbud Bontang, Abdu Safa Muha, mengatakan penyaluran bantuan ini merupakan bagian dari program peningkatan mutu pendidikan di daerah.

“Sampai hari ini yang belum selesai itu hanya tas untuk SD dan SMP. Kalau yang lainnya alhamdulillah sudah, termasuk seragamnya,” ujarnya.

Abdu Safa menyebutkan, seluruh siswa SMP sudah menerima seragam, sementara sepatu sekolah telah dibagikan lebih dulu pada tahun sebelumnya. Ia menargetkan seluruh bantuan perlengkapan siswa rampung dalam waktu dekat agar tidak mengganggu aktivitas belajar.

“Semoga distribusinya bisa sampai hari ini semua, jadi secepatnya dapat kita salurkan,” tuturnya.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Upacara HUT ke-26 Kota Bontang, Pemkot Bagikan Tas dan Seragam Batik TK dan PAUD

0
Pembagian tas dan seragam sekolah untuk TK dan PAUD Kota Bontang. (Syakurah/Radarbontang)

BONTANG — Pemerintah Kota Bontang membagikan tas dan seragam sekolah bagi peserta didik TK dan PAUD, usai upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-26 Kota Bontang yang digelar di Lapangan Bessai Berinta (Lang-lang), Rabu (15/10/2025).

Kegiatan ini menjadi salah satu rangkaian dari perayaan HUT Kota Bontang, sebagai bentuk perhatian pemerintah terhadap dunia pendidikan.

“Sampai hari ini yang belum selesai itu adalah tas untuk SD dan SMP. Kalau yang lainnya alhamdulillah sudah, termasuk seragamnya,” ujar Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bontang, Abdu Safa Muha

Ia menjelaskan, seluruh jenjang PAUD dan TK, termasuk sekolah swasta, telah menerima bantuan berupa tas dan seragam batik. Sedangkan sepatu sudah lebih dulu dibagikan pada tahun sebelumnya.

“Jadi sekarang tinggal tas SD dan SMP yang masih dalam proses, mudah-mudahan hari ini sudah sampai semua,” tambahnya.

Sementara itu, untuk seragam sekolah, seluruh jenjang pendidikan telah menerima bantuan tersebut. “Kalau pun ada yang belum, mungkin hanya satu dua sekolah saja,” terangnya.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Warga Temukan Botol Miras di Trotoar Jalan Ahmad Yani

0

Sejumlah warga Jalan Ahmad Yani, Bontang, dibuat resah dengan ditemukannya puluhan botol minuman keras (miras) bekas di trotoar depan sebuah kafe. Temuan ini langsung dilaporkan ke pihak kepolisian dan petugas kelurahan setempat. Diduga botol-botol tersebut berasal dari aktivitas pesta malam yang melanggar aturan ketertiban umum. Aparat berjanji akan menindaklanjuti laporan warga dan meningkatkan patroli malam di kawasan tersebut.

Pembaca Setia Radar Bontang!
Ingin tahu kabar terkini Koran Digital Radar Bontang?
Kunjungi link di bawah ini untuk membaca e-paper lengkapnya:

👉 E-Paper Lengkap
👉 Versi Mobile

Radar Bontang – Aktual & Terpercaya!

Ratusan Massa NU Kepung Kantor Trans7, Tuntut Permintaan Maaf atas Tayangan yang Dinilai Cemarkan Marwah Pesantren

0
Ratusan santri berunjuk rasa di depan gedung Trans Media. (Fajri/MKN)

JAKARTA — Ratusan massa dari Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta bersama alumni pesantren menggelar aksi besar di depan kantor Trans7, Jakarta Selatan, Rabu (15/10/2025). Mereka datang dengan satu tujuan tegas: menjaga marwah pesantren yang dinilai telah dicederai oleh pemberitaan di salah satu program televisi Trans7.

Sejak pagi, massa aksi mulai berdatangan dari berbagai titik dan berkumpul di depan gedung Trans7. Dalam barisan panjang itu, terbentang spanduk besar bertuliskan “Menciderai Marwah Pesantren, Tangkap Direksi Trans7.”
Sebagian peserta mengenakan busana putih khas santri, sementara lainnya memakai pakaian loreng, mempertegas semangat mereka dalam menyuarakan aspirasi.

Ketua PWNU DKI Jakarta, KH Samsul Ma’arif, memimpin orasi dari atas mobil komando di tengah teriknya matahari.
“Berkat pengajian dan pendidikan dari ulama pesantren sampai sekarang kita demikian kuat dan kokoh. Alhamdulillah kita hidup tenang,” serunya disambut pekik takbir, selawat, dan mars Nahdlatul Ulama dari massa yang memadati halaman kantor Trans7.

Aksi damai ini berlangsung tertib namun berdampak pada arus lalu lintas di sekitar kawasan Wolter Monginsidi hingga Gatot Subroto, yang sempat padat selama penyampaian aspirasi berlangsung.

Protes ini merupakan respons terhadap tayangan program “Xpose Uncensored” edisi 13 Oktober 2025, yang dinilai tidak proporsional dan merendahkan citra pesantren serta para kiai, khususnya di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur.

Menanggapi hal tersebut, Production Director Trans7, Andi Chairil, telah menyampaikan permintaan maaf secara terbuka melalui kanal YouTube resmi Trans7 Official, Selasa (14/10).
Dalam pernyataannya, Andi menegaskan bahwa tidak ada unsur kesengajaan untuk menyinggung atau merendahkan lembaga pesantren maupun tokoh agama.

Namun, permintaan maaf itu belum sepenuhnya diterima publik. Gelombang reaksi dari kalangan pesantren dan ormas Islam terus bermunculan, menegaskan bahwa kehormatan pesantren adalah harga mati dan tak bisa ditawar atau diabaikan. (MK)

Editor: Agus S

ESDM Kaltim Desak Pertamina dan Pemerintah Pusat Perbaiki Distribusi BBM Bersubsidi

0
Ilustrasi antrian bbm. (Ist)

SAMARINDA – Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Kalimantan Timur, Bambang Arwanto, menegaskan pentingnya ketepatan sasaran dalam penyaluran bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Ia menilai, efektivitas kebijakan subsidi harus benar-benar dirasakan oleh masyarakat yang membutuhkan.

“Kalau ada pihak-pihak yang merasa dirugikan atau tidak tepat sasaran, itu memang kewenangannya di pusat. Kita di daerah hanya bisa berkoordinasi dengan Pertamina dan pemerintah provinsi agar distribusi lebih tertib,” ujar Bambang, Rabu (15/10/2025) di Samarinda.

Bambang menambahkan, pemerintah daerah mendorong agar subsidi BBM tidak salah sasaran dan tidak menimbulkan antrean panjang di lapangan akibat penyalahgunaan distribusi.

“Subsidi itu harus tepat sasaran. Jangan sampai masyarakat yang seharusnya tidak berhak justru menikmati subsidi, sementara yang membutuhkan malah tidak dapat,” tegasnya.

Menurutnya, Pemerintah Provinsi Kaltim bersama ESDM terus berkoordinasi dengan Pertamina untuk memastikan mekanisme distribusi dan penyaluran subsidi berjalan sesuai regulasi yang berlaku.

“Kami tetap berkomunikasi dengan Pertamina dan Gubernur Kaltim agar kebijakan subsidi ini dijalankan dengan tertib, adil, dan sesuai kebutuhan masyarakat di daerah,” tutup Bambang. (MK)

Editor: Agus S

Ekonomi Hijau dan Digitalisasi, Bappenas Minta Negara Siapkan Tenaga Kerja Adaptif

0
Direktur Ketenagakerjaan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) RI, Nur Hygiawati Rahayu. (Foto: Hanafi/MKN)

SAMARINDA – Direktur Ketenagakerjaan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) RI, Nur Hygiawati Rahayu, menekankan pentingnya kesiapan tenaga kerja Indonesia menghadapi perubahan struktur ekonomi menuju pembangunan berkelanjutan atau ekonomi hijau.

Menurutnya, transformasi menuju industri hijau dan digitalisasi menciptakan dinamika baru di pasar kerja. Munculnya jenis pekerjaan baru (job gains) akan selalu diiringi dengan hilangnya jenis pekerjaan lama (job loss).

“Itu akan terus terjadi. Mungkin sekarang terasa makin cepat karena disrupsi teknologi dan arah menuju keberlanjutan juga semakin kuat. Tapi yang perlu kita pastikan, pekerjaannya boleh hilang, tapi orangnya tidak boleh hilang dari dunia kerja,” ujar Hygiawati saat diwawancarai di Samarinda, Rabu (15/10/2025).

Ia menuturkan, sektor pertambangan dan energi fosil yang saat ini masih menjadi tumpuan lapangan kerja di sejumlah daerah akan mengalami penurunan seiring kebijakan transisi energi nasional. Karena itu, pemerintah harus menyiapkan strategi yang lebih rinci dan terukur agar para pekerja terdampak tidak kehilangan mata pencaharian.

“Kalau kita tahu kapan penurunan produksi itu terjadi, berapa tenaga kerja yang berkurang, maka sebelum itu terjadi kita sudah bisa menyiapkan alternatif pekerjaan lain,” jelasnya.

Salah satu langkah yang tengah disiapkan Bappenas adalah program reskilling, yakni pelatihan untuk meningkatkan atau mengalihkan keterampilan tenaga kerja agar sesuai dengan kebutuhan industri hijau dan ekonomi digital.

Nur Hygiawati menegaskan, percepatan perubahan di era transisi ekonomi ini harus diimbangi dengan percepatan kebijakan, pelatihan, dan adaptasi tenaga kerja.

“Kita harus mengikuti cepatnya perubahan itu. Karena kalau tidak, kita akan tertinggal dari arah pembangunan berkelanjutan,” tutupnya. (MK)

Editor: Agus S

Akses Warga Terputus, Jalan Desa di Samboja Patah Akibat Longsor Area Tambang

0
Kerusakan jalan yang terjadi di Samboja. (Ist)

SAMARINDA – Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Kalimantan Timur memastikan penanganan cepat atas kerusakan jalan desa yang patah total akibat longsor di Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara. Longsor yang terjadi di wilayah RT 1 dan RW 5 itu memutus total akses warga dan menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat.

Kepala Dinas ESDM Kaltim, Bambang Arwanto, menjelaskan bahwa longsor tersebut terjadi akibat pergerakan tanah (landslide) di sekitar area operasi tambang milik PT Singlurus Pratama. Jalan yang rusak merupakan infrastruktur desa hasil pembangunan Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara.

“Jalan desa itu bukan sekadar longsor, tapi sudah patah. Kami bersama pemerintah kabupaten langsung turun ke lokasi dan meminta agar segera dilakukan perbaikan. Kami menargetkan perbaikan selesai dalam waktu satu minggu, meski pihak pelaksana awalnya meminta dua minggu,” ujar Bambang di Samarinda, Rabu (15/10/2025).

Ia menegaskan, selama proses perbaikan berlangsung, seluruh aktivitas tambang di sekitar lokasi dihentikan sementara untuk mencegah risiko tambahan. Di saat yang sama, tim Inspektur Tambang juga diturunkan untuk melakukan investigasi menyeluruh terhadap kegiatan penambangan di area tersebut.

“Inspektur tambang sedang memeriksa apakah kegiatan penambangan sudah sesuai dokumen Amdal dan rencana kerja perusahaan. Hasil investigasi akan kami sampaikan secara resmi, dan bila ditemukan pelanggaran, sanksinya akan dijatuhkan oleh Kementerian ESDM,” tegas Bambang.

Selain merusak jalan, pergerakan tanah itu juga menyebabkan kerugian ekonomi bagi warga sekitar. Sejumlah kebun pisang dan lahan pertanian dilaporkan rusak, dan sebagian warga telah menyampaikan tuntutan ganti rugi melalui DPRD setempat.

“Beberapa kebun warga ikut terdampak. Itu sedang dibahas melalui jalur DPRD. Tapi fokus utama kami saat ini adalah memastikan akses jalan masyarakat bisa kembali normal,” tambahnya.

Diketahui, jarak antara lokasi tambang dengan permukiman warga hanya sekitar 100 meter, sehingga menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan penduduk di sekitar wilayah operasi. Pemerintah daerah berharap hasil investigasi nantinya dapat menjadi dasar untuk penertiban aktivitas tambang di kawasan rawan bencana tersebut. (MK)

Editor: Agus S

Belajar dari Lirboyo: Saat Adab Tak Lagi Dihargai di Layar

0
Anak kedua saya, bersama teman-temannya sebelum lulus dari Pondok Modern Darussalam Gontor 3 Kediri. Foto: istimewa

Dua hari terakhir, jagad media sosial ramai memperbincangkan potongan tayangan sebuah program televisi nasional yang menggambarkan kehidupan di Pondok Pesantren Lirboyo dengan cara yang tidak pantas.

Dalam tayangan itu terdengar narasi yang menyebut, “santrinya minum susu aja kudu jongkok, emang gini kehidupan di pondok?” bahkan menyinggung soal santri yang “rela ngesot demi amplop dari kiai.”

Narasi itu dianggap melecehkan martabat kiai, santri, dan tradisi pesantren. Gelombang protes datang dari berbagai pihak. Alumni, pengasuh, hingga tokoh keagamaan. Tagar boikot sempat menjadi trending topic. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) pun diminta menindak tegas. Dalam mediasi, pihak penyiar meminta maaf dan mengakui keteledoran produksi, serta berjanji menarik tayangan tersebut. Namun yang lebih penting dari semua ini adalah luka moral yang ditinggalkan di hati umat.

Saya pribadi ikut prihatin. Sebagai orang tua dari anak-anak yang tumbuh di lingkungan pesantren, saya tahu betul kehidupan di sana. Anak kedua saya baru saja lulus dari Gontor dan kini mengabdi di Gontor 3 Kediri. Anak ketiga saya saat ini duduk di kelas 3 setingkat SMP di Pondok Daarul Ukhuwah Malang. Sedangkan anak pertama saya menempuh pendidikan SMP dan SMA di Daarul Hikmah Boarding School (DHBS) Bontang, dan kini sedang kuliah.

Sebagai orang tua, saya bersyukur anak-anak saya tumbuh dalam kultur pesantren. Jauh dari hiruk-pikuk kota, tapi dekat dengan nilai-nilai luhur. Mereka belajar disiplin, sederhana, dan menghormati guru. Mereka mencuci pakaian sendiri, tidur di kasur tipis, dan tetap bersemangat menjalani hari. Di pondok, satu sendok nasi yang tersisa bisa menjadi pelajaran tentang rasa syukur, bukan bahan olok-olok.

Saya sering mendengar langsung cerita mereka: bagaimana setiap kesalahan dijadikan bahan introspeksi, bukan tontonan. Bagaimana ilmu ditanamkan lewat contoh, bukan sekadar hafalan. Itulah mengapa saya sulit menerima jika kehidupan santri digambarkan dengan nada ejekan. Sebab pesantren bukan sekadar tempat belajar agama. Pesantren adalah tempat membentuk karakter dan kejujuran.

Di Kaltim, banyak pesantren berdiri di tengah geliat pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Dari Samarinda hingga Kutai Kartanegara, dari Bontang hingga Berau, para kiai dan guru ngaji membimbing generasi dengan sabar dan tulus. Mereka mungkin tidak populer, tapi kehadirannya nyata di tengah masyarakat.

Media boleh mengabarkan apa saja, tapi jangan sampai mengaburkan nilai. Karena di balik setiap santri yang jongkok minum air, ada adab yang sedang dijaga. Di balik setiap amplop yang diberikan kepada guru, ada rasa hormat yang sedang diajarkan.

Pesantren tidak sibuk mencari sensasi. Mereka hanya menjalankan tugasnya. Mendidik dengan ketulusan dan menjaga akhlak generasi. Dari sanalah kita belajar, bahwa kehormatan tidak perlu ditunjukkan, cukup dijaga dengan adab. (*)

Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.