Wali Kota Neni saat membuka kegiatan Peningkatan Kapasitas Lini Lapangan Program Bangga Kencana. (Ist)
BONTANG – Wali Kota Neni menekankan pentingnya penguatan kapasitas petugas lapangan dalam mendukung keberhasilan pelaksanaan Program Bangga Kencana (Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana. red) di Kota Bontang.
Hal itu disampaikan Bunda Neni saat membuka secara resmi kegiatan Peningkatan Kapasitas Lini Lapangan Program Bangga Kencana yang digelar Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kota Bontang, di Ballroom Hotel Tiara Surya, Bontang Utara, beberapa waktu lalu.
Menurutnya, para kader dan tenaga lapangan merupakan ujung tombak yang berperan langsung dalam memberikan edukasi dan pelayanan kepada masyarakat.
“Petugas lini lapangan adalah garda terdepan dalam mewujudkan keluarga berkualitas. Karena itu, peningkatan kapasitas seperti ini sangat penting agar mereka dapat beradaptasi dengan dinamika sosial dan perkembangan zaman,” ujar Neni.
Melalui kegiatan ini, diharapkan program keluarga berencana dapat semakin efektif menekan angka stunting, meningkatkan kesejahteraan keluarga, dan mewujudkan ketahanan keluarga di Bontang.
Replika Mumi Fir’aun yang dipamerkan di Masjid Agung Al-Fatuq. (Ramlah)
SANGATTA – Warga Sangatta silih berganti datang ke Masjid Agung al-Faruq Sangatta sejak Minggu (16/11/2025) pagi untuk menyaksikan pameran bertajuk “Perjalanan Sejarah Nabi dan Rasul” yang digelar oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Timur (Kutim).
Pameran ini menjadi magnet baru masyarakat, bukan hanya karena menampilkan jejak peradaban Islam, tetapi juga menghadirkan replika mumi Fir’aun berukuran asli yang langsung mencuri perhatian pengunjung.
Dibalut kaca dan kain putih, replika mumi Fir’aun tersebut menjadi salah satu spot paling ramai. Meski hanya salah satu bagian dari ratusan miniatur di lokasi, kehadirannya berhasil memancing rasa penasaran warga, khususnya anak-anak dan pelajar yang melihatnya untuk pertama kali. Replika ini turut menguatkan pesan pameran: mengajak masyarakat memahami perjalanan panjang sejarah Islam secara visual dan mudah dipahami.
Pameran dibuka secara resmi oleh Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman. Ia mengungkapkan bahwa kegiatan ini merupakan agenda besar yang telah direncanakan sejak tahun lalu dan ditujukan untuk semua kalangan.
“Pameran ini sudah kami rencanakan dari setahun lalu. Pameran ini bukan hanya untuk anak-anak, tapi untuk yang dewasa juga,” tegas Bupati Ardiansyah Sulaiman.
Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kutim, Padliansyah, menjelaskan bahwa program ini merupakan upaya membangun masyarakat yang lebih berpengetahuan tentang sejarah Islam. Ia berharap pameran ini menjadi pintu pembelajaran baru bagi umat Muslim di Kutai Timur.
“Melalui miniatur, replika, ilustrasi, sejarah Nabi dan Rasul, kami mengajak seluruh umat Muslim Kutai Timur untuk lebih memahami kebudayaan Islam,” ujar Padliansyah.
Selain replika mumi, pameran ini juga menampilkan miniatur peradaban Nabi Muhammad SAW, perjalanan dakwah para sahabat, hingga sejarah masuknya Islam di Kutai Timur. Pameran berlangsung selama sepekan, dari 16 hingga 22 November 2025, lengkap dengan seminar kebudayaan Islam dan berbagai perlombaan untuk jenjang TK, SD, dan SMP.
Selama tujuh hari ke depan, Masjid Agung al-Faruq resmi menjadi ruang pembelajaran sejarah Islam yang hidup, interaktif, dan menginspirasi bagi masyarakat Kutai Timur.
SANGATTA – Kebakaran hebat menghanguskan permukiman warga di Desa Muara Bengkal Ulu, RT 07, Kecamatan Muara Bengkal, Kutai Timur, pada Sabtu malam (15/11/2025). Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 20.13 WITA itu membakar habis empat rumah dan merusak dua rumah lainnya. Total enam unit rumah terdampak, dengan 12 kepala keluarga kehilangan tempat tinggal. Beruntung, tidak ada korban jiwa.
Kasi Pemadaman, Pengendali Operasi, dan Komunikasi Disdamkartan Kutim, Eko Purnomo membenarkan bahwa sumber api berasal dari sebuah rumah kosong yang dalam kondisi tidak berpenghuni. “Titik awal api berasal dari rumah yang tidak ditempati. Dari keterangan sementara di lapangan, diduga pemicunya korsleting listrik,” ujarnya kepada Media Kaltim, Minggu (16/11/2025).
Eko menjelaskan, material bangunan yang mayoritas berbahan kayu membuat api cepat menjalar ke bangunan sekitar. Warga yang pertama kali melihat api mencoba melakukan pemadaman seadanya sembari menunggu petugas tiba. “Kami langsung melakukan pengendalian begitu sampai. Kondisi angin sempat menyulitkan, tetapi api berhasil dipadamkan sekitar pukul 21.35 WITA,” paparnya.
Ia menambahkan bahwa jarak bangunan yang berdekatan menjadi kendala terbesar dalam upaya pemadaman. “Rumah-rumah yang berdekatan membuat api cepat merembet. Namun berkat kerja sama warga dan petugas, kobaran tidak meluas lebih jauh,” kata Eko.
Saat ini pemerintah desa, kecamatan, dan tim kebencanaan tengah melakukan pendataan terhadap kerugian material serta kebutuhan darurat bagi warga terdampak. Sementara itu, korban yang kehilangan rumah mengungsi ke tempat keluarga terdekat.
Eko mengimbau warga untuk melakukan pengecekan rutin instalasi listrik, terutama pada rumah kosong atau jarang ditempati. “Rumah tidak berpenghuni sering kali luput dari perawatan dan pengecekan. Ini harus menjadi perhatian bersama agar kejadian serupa tidak terulang,” tegasnya.
Pendataan lanjutan masih dilakukan otoritas setempat. Pemerintah daerah memastikan penanganan darurat segera disiapkan untuk membantu warga terdampak kebakaran.
Kerja Bakti menutup celah di turap yang berada di RT 14 Kelurahan Gunung elai (ist)
BONTANG – Kelurahan Gunung elai melaksanakan kerja bakti untuk mencegah banjir sementara, mengatasi kerusakan turap di RT 14.
Kerja bakti ini dilakukan bersama dengan Forum RT, Dinas PUPRK, BPBD, Batalyon 007 ABC, Polres Bontang, SDN 010 BU, Ponpes Taman Firdaus, PKK, Karang Taruna, FKPM, LINMAS dan warga yang terdampak banjir.
Kegiatan ini merupakan tindak lanjut atas tinjuan lapangan pihak kelurahan beberapa waktu lalu, dimana pihaknya menelusuri penyebab banjir yang kerap terjadi di RT 14.
Terdapat pergeseran atau retakan di turap yang berada di sana, sehingga perlu dilakukan pencegahan sementara.
Lurah Gunung Elai, Sulistyo menyebutkan mereka bergotong royong melakukan penutupan turap menggunakan tumpukan karung yang diisi oleh pasir dan batu.
“Sekitar 100 meter sepanjang turap itu kita tutup, makanya wilayah situ banjir terus, padahal sudah ada turap, apalagi ada SDN 10 juga kena,” pungkasnya, Minggu (16/11/2025).
Kerja bakti ini dilaksanakan selama dua hari. Pada Sabtu (15/11/2025) kemarin mereka bersama-sama membuat karung yang diisi batu dan pasir tersebut. Keesokannya mereka meletakkan karung-karung tersebut.
Sebelumnya, pihak kelurahan telah berkoordinasi dengan dinas terkait untuk melakukan pembenahan.
“Mereka bilang insyaallah di murni akan dianggarkan,” ujarnya.
BONTANG – Panji Beber kembali menggelar Lomba Bekesahan pada 2025, namun dengan konsep yang berbeda dari tahun sebelumnya. Jika pada 2024 lomba ditujukan untuk pelajar tingkat SLTA se-Kota Bontang dengan tema Pusaka Nusantara, maka tahun ini perlombaan diikuti oleh para guru SLTA dengan mengangkat tema Pahlawan.
Acara ini berlangsung pada Sabtu, 15 November 2025, di Resto Bontang Nusantara dan berjalan sukses serta penuh antusiasme.
Ketua Panitia, Jeprianto Mambua, menjelaskan bahwa perubahan tema dilakukan berdasarkan masukan dari berbagai pihak agar lebih relevan dengan momentum Hari Pahlawan. “Untuk Lomba Bekesahan tahun 2025 ini bukan lagi tentang Pusaka Nusantara. Temanya beralih menjadi Pahlawan untuk menyemarakkan Hari Pahlawan. Pesertanya adalah Bapak dan Ibu Guru se-Kota Bontang. Semua peserta mendapatkan apresiasi berupa uang saku, sertifikat, dan plakat,” ujarnya.
Ketua Umum Panji Beber, Begawan Ciptaning Mintaraga, menekankan bahwa lomba tahun ini memiliki kaitan kuat dengan Hari Pahlawan sekaligus Hari Guru. Menurutnya, guru merupakan pahlawan tanpa tanda jasa yang perannya sangat besar dalam membentuk karakter generasi bangsa. “Tanpa peran guru, kita tidak bisa menjadi seperti sekarang. Terlebih maraknya fenomena kriminalisasi terhadap guru di beberapa daerah menjadi bahan renungan kita semua. Karena itu Panji Beber membuat acara ini sebagai bentuk apresiasi kepada guru-guru tingkat SLTA di Bontang,” terangnya.
Lomba Bekesahan Pahlawan Nasional yang dilaksanakan di Ruang Dayak, Resto Bontang Nusantara, dibuka secara resmi oleh Komandan Batalyon Arhanud 7/ABC Bontang, Letkol Arh Bayu Adiswisuda. Dalam sambutannya, ia menyinggung keterkaitan Hari Pahlawan dengan sejarah Arhanud. Disebutkannya, pada 10 November 1945 para pemuda berani melawan sekutu dengan menggunakan meriam rampasan Jepang. Peristiwa itu kemudian melandasi penetapan 10 Desember sebagai Hari Artileri Nasional oleh Letjen Oerip Soemohardjo.
Lomba ini menghadirkan tiga juri utama, yakni Agus Susanto, Tommy Johan Agusta, dan Sugeng Suedi — para penggiat seni budaya di lingkungan PT Pupuk Kalimantan Timur yang tergabung dalam Pancanaka. Dewan juri menetapkan Ibu Darmawati dari MAN Bontang sebagai Juara 1 dengan cerita “Colliq Pujie” atau Retna Kencana Colliq Pujie Arung Pancana Toa Matinroe ri Tucae, sosok penyunting naskah Lontara Bugis Kuno yang sangat berpengaruh.
Keberhasilan penyelenggaraan Lomba Bekesahan Pahlawan 2025 ini kian mengukuhkan program Panji Beber dalam menghadirkan edukasi budaya kepada generasi muda secara rutin. Panitia menyampaikan terima kasih kepada PT Pupuk Kaltim, PT Kaltim Multi Boga Utama, Kopkar PKT, dan berbagai pihak yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan.
Panji Beber berharap lomba ini menjadi agenda yang selalu dinantikan oleh para pelajar maupun para guru di Kota Bontang sebagai wadah pelestarian budaya dan penghargaan terhadap para pahlawan bangsa.(rls/darman)
BONTANG – Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Bontang, Muhammad Aspiannur, menegaskan bahwa seluruh proses penerbitan izin usaha di Kota Bontang hanya dapat dilakukan setelah adanya rekomendasi dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) teknis terkait.
Menurut Aspiannur, DPMPTSP tidak memiliki kewenangan dalam aspek teknis seperti konstruksi, tata ruang, dan lingkungan. Dinasnya hanya bertugas memastikan kelengkapan administrasi dan penerbitan izin melalui sistem yang berlaku.
“Setiap izin yang kami terbitkan harus berdasarkan kajian dan rekomendasi dari OPD teknis. Kami hanya mengurusi administrasi perizinannya. Soal teknis bangunan atau konstruksi sepenuhnya berada di perangkat daerah terkait,” jelasnya.
Aspiannur menyebutkan bahwa, pada tahun 2025 ini seluruh pengurusan izin masih mengacu pada Online Single Submission Risk Based Approach (OSS RBA). Melalui sistem tersebut, validasi teknis akan otomatis melibatkan sejumlah OPD sesuai jenis usaha dan tingkat risikonya.
Ia mencontohkan pada proses permohonan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (KKPR). Setelah permohonan masuk, DPMPTSP akan meneruskan ke Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota (DPUPRK) serta Badan Pertanahan Nasional (BPN) untuk menentukan kesesuaian lahan.
“Kalau lahan dinyatakan sesuai oleh DPUPRK dan BPN, barulah izin KKPR dapat kami terbitkan. Setelah itu investor harus menuntaskan izin berikutnya di OPD lain seperti lingkungan hidup, perhubungan, hingga permukiman,” terangnya.
Ia juga menegaskan, bahwa pelaku usaha memiliki dua pilihan dalam proses perizinan: mengurus secara daring melalui OSS RBA atau datang langsung ke kantor DPMPTSP jika membutuhkan pendampingan.
“Tidak semua pelaku usaha paham cara mengurus izin secara online. Karena itu kami membuka pelayanan konsultasi di kantor, agar semua proses tetap berjalan sesuai aturan,” tambahnya.
Aspiannur menuturkan, kolaborasi antar-OPD menjadi kunci dalam memastikan bahwa setiap investasi yang masuk ke Bontang, telah sesuai regulasi dan tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari.
Suasana antrean di Oriental Kopi KLIA2, salah satu lokasi favorit penumpang sebelum terbang.
Rabu, 12 November siang, kami bersiap meninggalkan Kuala Lumpur. Dua malam memang terasa singkat, tetapi cukup untuk menambah cerita baru setelah perjalanan panjang dari Bali dan Singapura. Seperti biasa, kami tidak terburu-buru. Kami memastikan tak ada barang tertinggal, turun ke lobi, menyelesaikan proses check-out, lalu memesan Grab menuju bandara.
Grab memang sangat penting untuk perjalanan gaya backpacker di Malaysia dan Singapura. Metode pembayaran wajib tertaut dengan benar, dan sejak awal saya memilih menggunakan kartu kredit agar tidak perlu menukar uang tunai terlalu banyak. Kuala Lumpur sangat nyaman untuk perjalanan cashless; cukup pesan, naik, turun—semua otomatis terbayar.
Sebelum berangkat, kami menghitung sisa ringgit yang tinggal sedikit. Biasanya memang sengaja saya atur seperti itu. Uang tunai hampir habis menjelang pulang; daripada ditukar kembali dan rugi kurs, lebih baik dipakai untuk membeli oleh-oleh kecil di bandara.
Deretan gerai kuliner dan toko oleh-oleh di area publik KLIA2 yang selalu ramai penumpang.
Perjalanan ke KLIA2 lancar. Terminal ini besar, modern, dan menjadi pusat maskapai low-cost seperti AirAsia. Begitu memasuki area keberangkatan, kami langsung menuju mesin self check-in.
KLIA2 memakai sistem otomatis untuk seluruh proses AirAsia, mulai dari mencetak boarding pass hingga label bagasi. Kami tinggal memindai paspor, memilih penerbangan, dan mesin mencetak boarding pass serta bag tag.
Setelah memasang label pada koper, kami menuju area self baggage drop. Cukup meletakkan koper di belt, memindai boarding pass, lalu sistem langsung menimbang dan mengirim bagasi ke jalur pengangkutan. Prosesnya cepat dan teratur. Seorang petugas berjaga di area itu, sesekali membantu penumpang yang kesulitan. Karena saya sudah membeli jatah 20 kg, koper langsung lolos tanpa masalah.
Setelah itu kami diarahkan menuju pintu keberangkatan. Di bagian ini ada pemeriksaan tambahan. Beberapa penumpang terlihat tertahan karena berat tas kabin mereka melebihi batas 7 kg yang diperbolehkan. Ketika giliran kami, tas ransel saya dan istri tidak diminta ditimbang lagi. Petugas langsung mempersilakan lewat.
Ulasan tentang ketatnya aturan bagasi di KLIA2 sangat membantu kami. Karena sudah menyiapkan semuanya sejak awal, urusan bagasi dan bawaan tidak lagi menjadi masalah. Alhasil, proses hari itu berjalan mulus tanpa hambatan.
Dengan urusan bagasi selesai, kami mengikuti petunjuk menuju Gate L, area keberangkatan internasional. Lokasinya berada cukup jauh di sayap kanan bawah KLIA2 sehingga perlu berjalan melalui koridor panjang dan beberapa eskalator.
Begitu tiba di area Gate L, saya langsung paham mengapa banyak penumpang menyebut ruang tunggunya terasa sempit. Area ini memang tidak sebesar koridor shopping “gateway@KLIA2”. Kursi disusun rapat dan hampir semuanya terisi. Penumpang dari berbagai rute internasional—Bangkok, Jakarta, Hanoi, Manila—berkumpul di area yang sama. Meski padat, suasananya tetap tertib. Kami beruntung menemukan dua kursi kosong untuk menunggu waktu boarding.
Sisa ringgit kami akhirnya dibelanjakan untuk membeli cokelat dan dua minuman dingin. Hal kecil seperti ini justru membuat perjalanan backpacker terasa menyenangkan.
Pesawat AirAsia bersiap di apron KLIA2 menjelang keberangkatan.
Pesawat dijadwalkan lepas landas pukul 15.30 dan tidak ada perubahan jadwal. Namun sesampainya di Bandara Balikpapan pukul 18.30 Wita, saya justru tertahan cukup lama di pemeriksaan imigrasi.
Petugas menjelaskan bahwa mulai Oktober 2025, seluruh WNI yang kembali dari luar negeri wajib mengisi formulir digital kedatangan melalui alamat allindonesia.imigrasi.go.id. Mirip e-Customs, tetapi versi baru ini mencakup juga klaim barang bawaan yang dihitung dalam bea cukai. Formulir ini sudah bisa diisi tiga hari sebelum keberangkatan. Karena tidak membaca aturan terbaru, saya sama sekali tidak mengisinya.
Akibatnya, saya harus mengisi formulir itu langsung di area imigrasi. Prosesnya sebenarnya tidak rumit, tetapi tetap memakan waktu. Setelah saya selesai mengisi, data istri sempat tidak terbaca di sistem sehingga petugas harus membantu memperbaikinya. Ada rasa menyesal juga karena hal seperti ini seharusnya bisa diantisipasi sejak awal.
Pelajarannya jelas: selalu cek aturan terbaru sebelum pulang ke Indonesia. Sistem digital sekarang berubah cepat, dan jauh lebih nyaman mengisi formulir dari hotel daripada terburu-buru di depan pemeriksaan imigrasi.
Setelah melewati imigrasi, semuanya terasa lebih ringan. Tinggal mengambil bagasi dan berjalan menuju pintu keluar. Di kepala saya terlintas kembali perjalanan tiga kota—Bali, Singapura, dan Kuala Lumpur—yang ternyata menyimpan banyak catatan kecil namun berharga.
Perjalanan backpacker kali ini mungkin tidak penuh destinasi besar, tetapi justru itu yang membuatnya terasa lebih santai: berjalan, melihat, dan merasakan. Sisanya menjadi cerita—perjalanan tanpa target, tetapi kaya pengalaman. (habis)
Petugas pemadam kebakaran bergerak cepat memadamkan api di lokasi kejadian. (Ist)
SANGATTA – Kebakaran hebat menghanguskan permukiman warga di Desa Muara Bengkal Ulu, RT 07, Kecamatan Muara Bengkal, Kutai Timur, Sabtu malam (15/11/2025). Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 20.13 WITA itu membakar empat rumah hingga rata dengan tanah dan merusak dua rumah lainnya. Total enam unit rumah terdampak, menyebabkan 12 kepala keluarga kehilangan tempat tinggal. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.
Kasi Pemadaman, Pengendali Operasi, dan Komunikasi Disdamkartan Kutim, Eko Purnomo, menyampaikan bahwa sumber api berasal dari sebuah rumah kosong yang tidak ditempati. “Titik awal api berasal dari rumah yang tidak ditempati. Dari keterangan sementara di lapangan, diduga pemicunya korsleting listrik,” ujarnya, Minggu (16/11/2025).
Menurut Eko, bangunan yang dominan berbahan kayu membuat api cepat menjalar ke rumah lain. Warga yang lebih dulu melihat kobaran mencoba memadamkan api dengan peralatan seadanya sebelum petugas tiba di lokasi. “Kami langsung melakukan pengendalian begitu sampai. Kondisi angin sempat menyulitkan, tetapi api berhasil dipadamkan sekitar pukul 21.35 WITA,” jelasnya.
Jarak bangunan yang berdekatan juga mempercepat perambatan api sehingga pemadaman membutuhkan tenaga ekstra. “Rumah-rumah yang berdekatan membuat api cepat merembet. Namun berkat kerja sama warga dan petugas, kobaran tidak meluas lebih jauh,” imbuh Eko.
Saat ini pemerintah desa, kecamatan, serta tim kebencanaan Kabupaten Kutim masih melakukan pendataan kerugian material dan kebutuhan darurat bagi warga. Para korban yang kehilangan rumah sementara mengungsi ke tempat keluarga terdekat.
Eko mengimbau masyarakat untuk rutin memeriksa instalasi listrik, terutama di rumah yang jarang dihuni atau dibiarkan kosong. “Rumah tidak berpenghuni sering kali luput dari perawatan dan pengecekan. Ini harus menjadi perhatian bersama agar kejadian serupa tidak terulang,” tegasnya.
Pendataan lanjutan masih berlangsung dan pemerintah daerah memastikan penanganan darurat segera disiapkan untuk membantu warga terdampak kebakaran.
Peserta World Diabetes Day Fun Run 2025 tampil penuh warna dalam sesi Zumba massal setelah menyelesaikan rute lari di Samarinda. Foto: Dimas/MKN.
SAMARINDA – Ratusan warga Kota Samarinda memadati kawasan Jalan Ahmad Yani, tepatnya di area Mitra10, Minggu pagi pukul 06.00 Wita, untuk mengikuti World Diabetes Day Fun Run 2025. Acara yang digagas Tropicana Slim ini menjadi bagian dari kampanye nasional untuk mengajak masyarakat lebih aktif bergerak dan menerapkan pola hidup sehat guna mencegah diabetes.
Ratusan peserta memadati area Mitra10 Jalan Ahmad Yani saat mengikuti World Diabetes Day Fun Run 2025. Foto: Dimas/MKN.
Sejak flag off dimulai, antusiasme peserta langsung terlihat. Fun Run tahun ini menghadirkan dua kategori: lari jarak 8K untuk peserta muda dan berpengalaman, serta rute 3K yang dirancang ramah bagi keluarga dan anak-anak.
Usai berlari dan berjalan santai, rangkaian acara berlanjut dengan Zumba massal yang dipimpin instruktur di area panggung utama. Suasana semakin meriah ketika peserta bergabung dalam Health Talk bersama dokter dan ahli gizi yang membahas pentingnya deteksi dini serta pola makan yang tepat untuk mencegah diabetes. Panitia kemudian menutup kegiatan dengan pembagian doorprize menarik.
Wiradetia, Area Marketing Manager Nutrifood Region Kalimantan, mengatakan Fun Run ini merupakan agenda tahunan Tropicana Slim yang digelar serentak di 25 kota di Indonesia. Tahun 2025 menjadi tahun kedua penyelenggaraan di Samarinda.
“Event ini memang event tahunan Tropicana Slim. Tahun ini kami mengadakan di 25 kota di seluruh Indonesia, termasuk di Samarinda. Kami membagi lari menjadi dua kategori: 8K untuk teman-teman yang masih muda, dan 3K untuk keluarga, supaya mereka sama-sama bergerak untuk mencegah diabetes,” jelasnya.
Ia menambahkan, kegiatan ini mengusung kampanye tiga pilar hidup sehat: menjaga asupan gula, menjaga asupan garam, dan menjaga asupan lemak—sebagai fondasi untuk mencegah berbagai penyakit degeneratif, termasuk diabetes.
Wiradetia juga menilai penyelenggaraan tahun ini lebih variatif dibanding tahun sebelumnya. Selain olahraga, acara turut menghadirkan talk show gizi, cek kesehatan, dan ruang interaksi keluarga.
“Pengecekan kesehatan tetap ada. Ini untuk mendukung program pemerintah dalam screening masyarakat. Tujuannya bukan untuk menakuti, tapi menyadarkan bahwa kita harus tetap sehat. Salah satunya dengan cek kesehatan,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan serupa dapat kembali digelar dengan skala lebih besar dan semakin banyak masyarakat Samarinda yang terlibat aktif dalam gerakan hidup sehat. (MK)
Petugas Satpol PP gabungan mengamankan minuman keras dan barang bukti lain dari warung remang-remang di sepanjang Jalan Poros Samarinda–Bontang. Foto: Dimas/MKN.
TENGGARONG – Operasi Cipta Kondisi (Cipkon) dan Penyakit Masyarakat (Pekat) kembali menyasar warung-warung remang-remang yang dikenal sebagai tempat praktik “kopi pangku” di sepanjang Jalan Poros Samarinda–Bontang. Operasi yang melibatkan Satpol PP Provinsi Kaltim, Satpol PP Kota Samarinda, dan Satpol PP Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) ini digelar Sabtu malam (15/11) pukul 22.00 WITA.
Dalam operasi gabungan tersebut, petugas menemukan sejumlah barang bukti yang menguatkan dugaan praktik prostitusi terselubung. Tim mengamankan 20 botol bir hitam, tiga botol anggur merah, serta alat kontrasepsi dari beberapa warung yang diperiksa.
Kepala Bidang Trantibum Satpol PP Kaltim, Edwin Noviansyah Rachim, menyebut temuan tersebut mengonfirmasi laporan masyarakat terkait aktivitas pekat di jalur tersebut.
“Kita kolaborasi Satpol PP Provinsi Kaltim bersama Satpol Kota Samarinda dan Satpol Kabupaten Kutai Kartanegara. Dalam pelaksanaan tadi kita sudah menemukan target, dengan barang bukti sebanyak 20 bir hitam, anggur merah 3, dan alat kontrasepsi yang ditemukan di lokasi,” ujarnya.
Sebanyak tujuh orang terjaring dalam operasi itu, terdiri dari enam perempuan dan satu laki-laki. Pendataan dilakukan langsung di tempat, sementara Dinas Kesehatan Kukar melakukan tes urin terhadap seluruh yang diamankan.
Edwin menegaskan kondisi di Poros Samarinda–Kukar menunjukkan tingkat prostitusi yang cukup tinggi sehingga membutuhkan penanganan serius dari pemerintah.
“Artinya di Jalan Poros Samarinda dan Kutai Kartanegara ternyata prostitusinya sangat tinggi, sehingga ini menjadi perhatian kita di Provinsi Kaltim. Ini tidak bisa dibiarin,” tegasnya.
Selain penindakan rutin, Satpol PP Kaltim juga menyiapkan langkah jangka panjang terkait keberadaan bangunan liar yang digunakan sebagai warung remang-remang tersebut. Penertiban akan dilakukan melalui mekanisme resmi, mulai dari pemberian surat peringatan hingga pembongkaran.
“Jelas tujuan akhirnya tempat ngopi remang-remang yang biasa disebut ‘kopi pangku’ pasti kami bongkar karena itu termasuk bangunan liar juga di situ,” jelas Edwin.
Satpol PP memastikan operasi serupa akan digencarkan untuk menekan praktik prostitusi jalanan dan memperbaiki ketertiban di wilayah poros tersebut. (MK)