BONTANG – Petugas Teknisi Pasar Taman Citramas Loktuan, ketahuan melakukan pungutan liar (Pungli) terhadap pedagang.
Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pasar, Bontang Nurfaidah mengatakan aksi ilegal yang dilakukan oknum ini ketahuan setelah ia mendapatkan laporan dari sejumlah pihak.
Katanya ada tiga korban yang dimintai sejumlah uang untuk membayar lapak sewa.
“Ada tiga pedagang baru yang dimintai. Dia tarik uang tanpa sepengetahuan kami,” ungkap saat dihubungi via WhatsApp, Minggu (05/10/2025).
Oknum tersebut merupakan berposisi sebagai teknisi di pasar tersebut. Dalam aksinya oknum mendatangi korban ke rumahnya. Agar korban percaya, dia juga membawa nama kepala UPT. Lalu terjadilah transaksi pembayaran di rumah korban tanpa sepengetahuan pihak UPT Pasar.
Ia sudah beraksi sejak Agustus 2025 lalu. Korban pertama ditawarkan tiga lapak dengan nilai Rp 8,5 Juta. Korban kedua Rp 2,5 Juta untuk satu lapaknya. Terakhir korban ketiga Rp 3 juta untuk satu lapak. Dengan total kerugian Rp 14 juta
Diketahui tarif resmi retribusi untuk lapak kue Rp 2,5 juta, sayur Rp 3,5, dan lapak basah Rp 4,5 juta dan dilakukan UPT Pasar untuk sekali pembayaran selama mengisi lapak tersebut.
“Padahal untuk pembayaran seharusnya dilakukan dilakukan secara resmi di UPT, bukan di luar pasar atau rekening pribadi,” tegasnya
Atas perbuatannya oknum ini akan diajukan pemecatan lantaran pelaku sudah mendapatkan SP 1 dan 2 dalam setiap laporan yang diterima kepala UPT. ” Saya sudah sering berikan toleransi, kalau diakumulasi secara laporan sudah 3 SP, ini kami sudah ajukan untuk pemecatan,” pungkasnya.
Saya dan istri berlari di jalur utama IKN dalam Swissotel Nusantara Anniversary Run 2025. Foto: Istimewa
MINGGU (5/10), kami datang ke IKN bukan sebagai panitia event lari. Kali ini hadir sebagai peserta, sekaligus bagian dari media partner dalam gelaran Swissotel Nusantara Anniversary Run 2025.
Rasanya berbeda. Biasanya kami hanya merancang dan mengawal jalannya event, meliput, lalu menyajikan berita. Kali ini justru ikut masuk ke barisan ribuan pelari, benar-benar merasakan atmosfer ajang lari di jantung Ibu Kota Nusantara.
Pengalaman ini mengingatkan pada Media Kaltim Nusantara Fun Run yang kami gelar 4 Mei 2025 lalu. Bedanya, kali ini saya datang bersama istri dan tim Media Kaltim sebagai peserta resmi. Kami menginap di sebuah villa di Sepaku yang dikelola Atmaja Riski Maulana, Kepala Biro IKN. Selepas subuh pukul 05.30 Wita, kami berangkat ke lokasi. Kantong parkir sudah disiapkan panitia, dan mobil kami bisa parkir persis di seberang kantor OIKN.
Saya bersama tim Media Kaltim berpose di depan Kantor OIKN usai mengikuti lari 8K. Foto: Istimewa/MKN
Sejak pagi, ribuan orang dengan jersey merah khas event memenuhi garis start. Kepala OIKN Basuki Hadimuljono memimpin pelepasan pelari. “Bukan hanya jadi pelopor hotel di sini, tapi juga jadi pelopor ekonomi dan kehidupan di Nusantara. Jadi kita doakan bersama semoga tetap eksis walaupun sebentar lagi akan ada beberapa hotel lain yang muncul,” ujarnya.
Start dan finish ditetapkan di Swissotel Nusantara, Jalan Sumbu Kebangsaan Timur, dengan rute 8 kilometer melewati kantor OIKN, bundaran Sumbu Kebangsaan Barat, Jalan Grande Kawasan Istana, hingga simpang Tower Kemensetneg. Udara pagi yang sejuk, jalanan mulus, dan gedung pemerintahan yang menjulang memberi kesan nyata tentang wajah baru IKN.
General Manager Swissotel Nusantara, Chrestian Pesik, menegaskan filosofi di balik lomba ini. “Kenapa lari 8 kilometer? Karena angka delapan itu bagus, alurnya tidak terputus. Sama seperti harapan kami agar keberadaan Swissotel juga terus berkelanjutan di IKN,” katanya.
Ekspresi peserta menjadi cerita tersendiri, dari pelari putri yang tersenyum lebar saat memutus pita finish, peserta mancanegara yang tampak kelelahan namun puas, hingga anak muda yang tetap berlari sampai garis akhir.
Di panggung utama, Basuki Hadimuljono menyerahkan hadiah Rp3 juta kepada juara putri pertama, Noor Aliya, disusul Zahra dan Keysa di posisi kedua dan ketiga. Untuk kategori putra, Lauri, Dasmin, dan Sejati Ginting menjadi yang tercepat.
Sebagai peserta, kali ini saya justru menjadi objek lensa puluhan fotografer di sepanjang lintasan. Hanya dalam hitungan jam, foto-foto sudah bisa diakses lewat aplikasi Fotoyu, tinggal memilih dan menebus sesuai keinginan.
Start Swissotel Nusantara Anniversary Run 2025 di IKN. (foto: riski/MKN)Basuki Hadimuljono menyerahkan hadiah juara kepada pelari putri. (foto: riski/MKN)
Usai berlari, suasana tak berhenti di garis finish. Semua peserta mendapat medali finisher sebagai apresiasi. Ribuan orang berkumpul di panggung utama, disambut penampilan band Geisha yang membawakan lebih dari lima lagu.
Kemeriahan memuncak saat dilakukan pemotongan kue ulang tahun Swissotel Nusantara oleh Basuki Hadimuljono dan GM Chrestian Pesik, didampingi manajemen hotel dan tamu undangan. Saya ikut mendampingi sesi ini.
Event ini memperlihatkan wajah IKN yang kian hidup. Jalan yang rapi, udara sejuk, bangunan pemerintahan, dan interaksi antarpeserta menunjukkan identitas baru Nusantara sebagai pusat Indonesia.
Swissotel Nusantara Anniversary Run 2025 membuktikan bahwa IKN bukan sekadar proyek pembangunan, melainkan ruang publik untuk olahraga, hiburan, dan kebersamaan. (*)
Tim Media Kaltim menyerahkan cover edisi khusus kepada Bupati PPU Mudyat Noor. Foto: Dedy/MKN
Saya menunggu momen ini sejak pelantikan 20 Februari 2025. Sabtu (4/10), selepas mengikuti rangkaian acara Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK, kami mencegat Bupati PPU Mudyat Noor. Usai berbincang singkat sambil menyerahkan cover edisi khusus, beliau langsung berucap: “Ke rumah jabatan saja.” Seketika arah pertemuan berubah.
Di teras belakang rumah jabatan bergaya khas Paser—berpilar tinggi, lis emas, dan halaman luas yang masih menyisakan jejak air gerimis—percakapan pun mengalir.
Saya tidak sendiri. Bersama Direktur Media Kaltim Rini Ernawati, Direktur Radar Ibukota Nur Robbi Syai’an, dan Deddy Prawito dari Marketing & Creative Content, suasana pertemuan berlangsung akrab. Ada pula kedekatan emosional yang membuat obrolan lebih cair. Saya dan Mudyat Noor sama-sama alumni Fakultas Kehutanan (Fahutan) Universitas Mulawarman. Ia angkatan 1996, saya 1997.
Mudyat Noor lahir di Samarinda, 9 Februari 1979, dari keluarga dengan latar seorang guru mengaji. Lulus sebagai Sarjana Kehutanan Unmul, ia kemudian meniti karier politik dan pernah duduk sebagai anggota DPRD Kaltim periode 2009–2014.
Dalam Pilkada 2024, ia maju dengan 12 program unggulan berfokus pada infrastruktur, pemerataan layanan dasar, dan peningkatan kualitas SDM. Pada 20 Februari 2025, ia resmi dilantik sebagai Bupati PPU periode 2025–2030, berpasangan dengan Wakil Bupati Abdul Waris Muin.
Dalam obrolan siang itu, Bupati memulai dari angka. Ia tidak menutup-nutupi, APBD PPU 2026 diprediksi merosot tajam dari Rp2,4 triliun menjadi kisaran Rp1,4 triliun. Konsekuensinya, belanja yang tidak prioritas harus dipangkas, dan pembangunan diarahkan hanya pada sektor yang benar-benar memberi dampak luas.
Saya berbincang dengan Bupati PPU Mudyat Noor di rumah jabatan. Foto: Dedy/MKN
Namun ia tidak pasrah menerima nasib. Sejak menjabat, ia terus melakukan roadshow ke Jakarta: melobi Kemenkes agar pengadaan cath lab RSUD Ratu Aji Putri Botung (RAPB) Nipah-Nipah bisa terealisasi, menemui Kemendikbud untuk mendorong revitalisasi puluhan sekolah, hingga mendatangi Bappenas guna mengupayakan skema fiskal khusus melalui label Kawasan Strategis Pembangunan.
Tentang IKN, ia bicara tanpa tedeng aling-aling. PPU menanggung beban lalu lintas, air bersih, dan layanan dasar, tapi belum menikmati manfaat ekonomi yang sepadan. “Kalau penyangga ditata, orang akan datang, investor juga mau masuk,” tegasnya.
Karena itulah, strateginya menyiapkan PPU sebagai wilayah penyangga yang layak huni dan produktif. Penataan landscape kota, peningkatan aksesibilitas, dan pengembangan potensi wisata lokal menjadi agenda yang terus didorongnya.
Soal konektivitas, daftar pekerjaannya jelas. Status Coastal Road atau jalan pesisir ingin ia dorong dialihkan menjadi jalan provinsi agar lebih cepat dibiayai. Jembatan Buluminung—yang lebih dikenal sebagai Jembatan Pulau Balang—terus disodorkan agar masuk daftar proyek APBN multiyears. Sementara jalur Labangka–Babulu disiapkan sebagai akses antarkecamatan untuk memotong isolasi dan membuka arus barang.
Tampak depan rumah jabatan Bupati Penajam Paser Utara. Foto: Agus/MKN
Ia juga menyoroti kelemahan dasar tata kota. “PPU belum punya blueprint pembangunan,” katanya. Karena itu ia memaksa agar tahun ini dokumen itu lahir, lengkap dengan staging pembiayaan: APBD, APBN, hingga CSR. Dari situ, ia ingin menghadirkan bangunan ikonik multifungsi dan ruang publik yang hidup. “Kita butuh landmark yang membuat orang berhenti, melihat, lalu kembali,” ujarnya.
Di sektor pertanian, ia memperluas target lahan sawah dari 5.800 hektare menjadi sekitar 7.500 hektare. Kerja sama dengan IPB, UGM, dan UI digalang untuk mendampingi desa. Lahan tidur di Babulu mulai dibuka kembali dengan bibit unggul dan sistem sewa tertata. Desa diarahkan menjadi simpul produksi pangan, bukan lagi sekadar penerima bantuan.
Untuk 12–24 bulan pertama, targetnya konkret: RSUD RAPB memiliki perangkat kesehatan baru yang berfungsi, minimal 30–45 sekolah direvitalisasi. Status Coastal Road dialihkan, satu segmen konektivitas mulai dibangun. Blueprint kota disahkan, proyek ikon kota groundbreaking, satu ruang publik tertata dan hidup. Luasan sawah bertahan di atas 7.000 hektare, hasil panen meningkat, dan beberapa desa naik kelas kemandirian.
Dari tutur katanya, Mudyat Noor berbicara lugas, kadang tanpa filter, tapi rasional. Ia ingin PPU benar-benar menjadi Gerbang Nusantara—pintu masuk yang bernyawa, bukan sekadar slogan.
Jika target itu bergerak serentak, masyarakat akan merasakannya: waktu tempuh lebih singkat, layanan lebih dekat, ruang kota lebih layak, dan pangan lebih terjangkau.
Di akhir pertemuan, kami menyerahkan kenang-kenangan: cover Media Kaltim edisi khusus bergambar Bupati Mudyat Noor bersama Wakil Bupati Abdul Waris Muin dengan tajuk “Pelopor Gerbang Nusantara.” Cover itu bukan sekadar cendera mata, melainkan penanda komitmen bersama: pemerintah membuka jalan, media mengawal, dan masyarakat ikut terlibat.
Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris. (Foto: Syakurah)
BONTANG – Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang terus berupaya menekan angka pernikahan dini yang masih terjadi di masyarakat. Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris, menegaskan bahwa pencegahan fenomena tersebut tidak bisa hanya dibebankan pada pemerintah, melainkan juga memerlukan keterlibatan aktif para orang tua.
Menurutnya, orang tua memiliki peran penting dalam membentuk pola pikir dan karakter anak sejak dini, agar mereka tidak mudah terjerumus pada keputusan yang keliru.
“Peran keluarga sangat besar. Pola asuh yang tepat di rumah bisa menjadi benteng pertama, agar anak-anak tidak terburu-buru menikah,” ujarnya, Kamis (2/10/2025).
Agus Haris menjelaskan, Pemkot Bontang melalui sejumlah dinas dan lembaga akan memperkuat langkah pencegahan dengan pendekatan edukatif. Di antaranya melalui kegiatan sosialisasi di sekolah, kerja sama dengan lembaga keagamaan, serta pelibatan tokoh masyarakat.
“Kami akan melibatkan berbagai pihak agar pesan ini sampai ke semua kalangan. Sekolah menjadi salah satu tempat yang efektif untuk memberikan pemahaman kepada pelajar,” katanya.
Lebih lanjut, ia menyebut bahwa pihaknya juga tengah menginventarisasi anak-anak yang putus sekolah, karena kelompok tersebut dinilai paling rentan terjerat praktik pernikahan dini.
“Kami sedang koordinasikan dengan Kesbangpol dan dinas terkait, untuk merumuskan langkah konkret, termasuk pendataan anak-anak yang putus sekolah,” ujarnya.
Berdasarkan data dari pengadilan, angka pernikahan dini di Kota Bontang disebut mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Meski demikian, Agus Haris menegaskan pemerintah tidak akan berhenti sampai di situ.
“Pernikahan dini sering menimbulkan banyak masalah, mulai dari kehamilan tidak direncanakan, tingginya angka perceraian, hingga ketidaksiapan ekonomi pasangan muda,” tambahnya.
Ia menegaskan, pencegahan pernikahan dini merupakan upaya bersama antara pemerintah, masyarakat, dan keluarga. “Ini tanggung jawab kita semua. Pemerintah menyiapkan kebijakan dan fasilitas, tapi peran orang tua di rumah tetap menjadi kunci utama,” tutupnya.
Polres Kutim menurunkan personelnya untuk melakukan pengaturan lalu lintas di wilayah Dermaga Kenyamukan. (Ramlah/Radar Bontang)
SANGATTA – Kepolisian Resor (Polres) Kutai Timur (Kutim) mengambil tindakan tegas untuk mengakhiri masalah kemacetan yang kerap menghantui jalur menuju Dermaga Kenyamukan. Melalui operasi pengaturan lalu lintas (gatur lalin) yang diintensifkan, Polres Kutim kini memastikan arus kendaraan lancar, terutama pada sore hari dan akhir pekan.
Kapolres Kutim, AKBP Fauzan Arianto, mengungkapkan, bahwa langkah ini merupakan respons cepat terhadap saran dan keluhan warga yang disampaikan melalui media sosial mengenai tingginya volume kendaraan.
Dermaga Kenyamukan yang menjadi destinasi wisata favorit lokal, khususnya saat weekend, sering mengalami penumpukan kendaraan.
“Kami merespons saran warga melalui medsos. Mengingat tingginya volume kendaraan yang melintas, terutama pada sore hari dan weekend, pengaturan lalu lintas di jalur ini sangat dibutuhkan,” ujar AKBP Fauzan, Sabtu (5/10/2025).
Personel Polres Kutim kini ditempatkan di titik-titik strategis sepanjang jalan menuju dermaga. Tugas utama mereka adalah mengatur arus, mencegah penumpukan kendaraan, dan memastikan tidak ada aksi parkir sembarangan.
AKBP Fauzan juga menegaskan, kehadiran polisi di lokasi tersebut memiliki tujuan ganda, tidak hanya menertibkan lalu lintas, tetapi juga menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas). Ia mengimbau seluruh pengunjung untuk bekerja sama dengan mematuhi aturan lalu lintas, demi menciptakan suasana yang tertib dan kondusif.
Keputusan Polres Kutim ini disambut hangat oleh warga. Rahmad, seorang pengunjung yang ditemui di dermaga, mengakui bahwa sebelumnya jalur tersebut berpotensi menimbulkan kemacetan parah, terutama karena banyaknya kendaraan roda empat yang membawa keluarga berwisata.
“Sekarang lebih tertata, tertib dan rapi, dengan pengaturan lalu lintas yang dilakukan. Tidak terjadi penumpukan kendaraan seperti beberapa waktu lalu,ungkapnya.
Rasa aman juga menjadi sorotan. Mia, warga Sangatta Utara, mengaku kaget sekaligus merasa tenang dengan adanya personel berseragam.
“Saya dan keluarga sering ke sini. Syukurlah kalau ada polisi, setidaknya kami lebih merasa aman,” katanya.
Dengan pengaturan yang ketat ini, Polres Kutim berhasil mengubah citra Dermaga Kenyamukan, dari lokasi rawan macet menjadi destinasi yang aman, tertib, dan nyaman bagi seluruh pengunjung.
Penjaga masjid yang terlibat dalam pengedaran sabu di wilayah Bontang, berinisial Su (50). (Ist).
BONTANG – Salah satu Tenaga Kontrak Daerah (TKD) sebagai wakar atau penjaga masjid di wilayah Tanjung Laut, Kecamatan Bontang Selatan, terlibat dalam pengedaran sabu. Hal ini diungkap saat Polres Bontang menggelar konferensi pers, Jumat (3/10/2025).
Kapolres Bontang, AKBP Widho Anriano, melalui Kasat Narkoba Polres Bontang, AKP Rihard Nixon Lumban Toruan mengatakan, yang bersangkutan selain bekerja sebagai penjaga masjid, pria berinisial Su (50) ini juga nyambi sebagai pengedar sabu.
“Jadi dia ini ternyata bekerja sebagai penjaga masjid, dan nyambi sebagai pengedar sabu juga,” ucapnya.
Su menjajakan sabu tersebut dengan menggunakan sistem jejak, yang dimana dirinya tinggal menunggu arahan atau perintah secara langsung dari atasannya atau penyuruh, untuk pengambilan barang dengan menggunakan nomor baru yang digunakan sekali pakai.
“Jadi barangnya dijejak, dan yang bersangkutan ini tinggal menunggu info selanjutnya dari si penyuruh dengan pokir sekian dan di antarnya kemana,” katanya.
Saat penangkapan Su, Kasat Resnarkoba Polres Bontang mengatakan jika TKD ini belum memiliki SK-nya. Sehingga pihak kepolisian masih menunggu penyelidikan yang berkelanjutan.
Di beritakan sebelumnya, polisi telah menemukan 15 poket sabu seberat 6,27 gram yang diakui milik Su. Terlebih lagi ada pula barang bukti lainnya yang berupa 7 bungkus plastik klip, tiga sedotan runcing, dan dua pipet kaca.
Selanjutnya ditambah dengan satu timbangan digital, satu alat hisap atau bong, uang tunai Rp 300 ribu, beserta dengan satu unit handphone merek Redmi, yang ditemukan saat penggeledahan.
Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris saat diwawancarai di Pendopo, Rujab Wali Kota. (Dwi/RadarBontang).
BONTANG – Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris menanggapi adanya anak-anak yang berjualan hingga tengah malam.
Dirinya menilai, hal tersebut sangatlah tidak dibenarkan dan tak wajar. Lantaran memasuki malam hari menjadi waktu bagi anak-anak menjalani proses belajar mengajar di rumahnya masing-masing, bukan berkeliling untuk berjualan.
“Malam hari itu waktunya anak-anak belajar di rumah, maka nanti akan kita lihat latar belakang keluarga mereka seperti apa. Mengapa sampai malam hari pun, mereka masih berkeliaran untuk menjajakan jualannya,” jelasnya, Sabtu (4/10/2025).
Wawali pun meminta agar dinas terkait bisa melakukan pemrosesan data-data anak sekolah yang berdagang. Apakah memang memiliki latar belakang yang kurang mencukupi, ataupun sebagainya.
“Kita tidak bisa membatasi orang yang mencari rezeki, akan tetapi kita juga perlu melihat sejauh mana peran orang tuanya terhadap anaknya sendiri. Jangan sampai waktunya jam belajar, masih disuruh berkeliaran untuk jualan,” ungkapnya.
Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris saat ditemui awak media. (Dwi/RadarBontang).
BONTANG – Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris menegaskan, bagi warga Bontang terkategori kurang mampu dan telah menerima Bantuan Sosial (Bansos), agar tidak mencabut label miskin di rumahnya yang telah dipasang oleh petugas.
Sebab, jika melepaskan atau mencabut label khusus tersebut, maka nantinya warga yang berhak mendapatkan bisa jadi tak mendapatkan bagiannya lagi.
“Jadi saya ingatkan, untuk masyarakat yang mendapatkan bansos, jangan melepaskan labelnya yang telah terpasang. Kalau sampai dilepas, saya akan pastikan tidak akan dapat bantuan lagi,” ucapnya beberapa waktu lalu.
Hal ini dilakukan untuk menertibkan masyarakat, agar bisa menaati aturan yang ada. Walaupun masuk kategori kurang mampu, tetap tidak dapat bantuan bila masih saja melepaskan label khusus yang diberi.
“Ini bukan hanya gertakan saja, tetapi ini akan berlaku. Selain bantuan agar tertib dan tepat sasaran, pastinya untuk memastikan juga warga agar tidak melepas pasangkan labelnya,” tutupnya.
BONTANG – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Bontang, menindaklanjuti proses penanganan temuan dua anak yang terjaring razia saat jam wajib belajar (wajar) beberapa waktu lalu. Salah satu dari dua anak tersebut diketahui putus sekolah dan berasal dari Sulawesi.
Kepala Disdikbud Bontang, Abdu Safa Muha menjelaskan, pihaknya telah menerima laporan dari tim patroli Satpol PP dan berkoordinasi dengan Dinas Sosial untuk menelusuri kondisi anak dimaksud.
“Data awal sudah kami terima. Selanjutnya akan dilakukan pendekatan dan asesmen terhadap keluarga anak tersebut,” ujarnya, Sabtu (4/10/2025).
Dari hasil keterangan sementara, anak tersebut tinggal bersama kerabatnya di Bontang setelah terjadi konflik keluarga di Makassar. Namun, karena tidak memiliki kelengkapan administrasi pendidikan seperti Nomor Induk Siswa Nasional (NISN), upaya untuk mendaftarkan anak itu ke sekolah formal sempat terhambat.
“Persoalan administrasi seperti NISN bisa diatasi melalui komunikasi antar instansi pendidikan. Yang penting, hak anak untuk bersekolah tetap harus dipenuhi,” tambahnya.
Disdikbud menyebutkan, akan melakukan asesmen menyeluruh untuk menentukan bentuk pendidikan yang sesuai. Jika tidak memungkinkan kembali ke sekolah formal, maka anak tersebut dapat mengikuti pendidikan nonformal, seperti program Paket A, B, atau C, maupun melalui SKB.
“Yang utama adalah memastikan anak itu tetap mendapatkan layanan pendidikan, baik melalui jalur formal maupun nonformal,” tegasnya.
Ribuan peserta bersiap di garis start Swissotel Nusantara Anniversary Run 2025 di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN, Minggu (5/10/2025). foto: riski/MKN
NUSANTARA – Ribuan peserta memadati Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) Ibu Kota Nusantara (IKN) pada gelaran Swissotel Nusantara Anniversary RUN 8K, Minggu (5/10/2025). Ajang lari ini sekaligus memperingati satu tahun berdirinya Swissotel Nusantara, hotel bintang lima pertama yang beroperasi di IKN.
Acara dimulai pukul 06.30 Wita dengan pelepasan pelari oleh Kepala OIKN Basuki Hadimuljono, didampingi jajaran manajemen Swissotel. Dalam sambutannya, Basuki menyampaikan selamat ulang tahun kepada Swissotel yang dinilainya telah memberi warna baru bagi kehidupan di IKN.
“Bukan hanya pelopor hotel di sini, tetapi juga pelopor ekonomi dan kehidupan di Nusantara. Kita doakan tetap eksis meski sebentar lagi akan hadir hotel-hotel baru,” ujarnya.
Grup band Geisha tampil menghibur peserta usai lomba lari pada Swissotel Nusantara Anniversary Run 2025 di IKN. foto: riski/MKN
General Manager Swissotel Nusantara, Chrestian Pesik, menambahkan, angka 8 dipilih sebagai jarak lari karena melambangkan keberlanjutan tanpa putus. “Momen ini sangat berarti bagi kami, tepat satu tahun usia Swissotel Nusantara,” katanya.
Selain perlombaan lari, hiburan spesial hadir melalui penampilan Grup Band Geisha yang tampil sebagai bintang tamu. Band dengan vokalis Regina Poetiray itu menjadi grup vokalis perempuan pertama yang manggung di IKN. Mereka membawakan 10 lagu populer, mulai dari Cukup Tak Lagi, Tak Pernah Ada, Cinta dan Benci, Selalu Salah, Lumpuhkan Ingatanku, hingga lagu baru Jika Bukan Karenamu.
Suasana makin meriah ketika Regina berinteraksi dengan penonton yang merangsek ke depan panggung. “Swissotel Nusantara mana suaranya? Kita seru-seruan yuk pagi ini, sambil menikmati sejuknya udara di IKN,” serunya dari atas panggung. Penampilan Geisha membuat peserta larut dalam irama musik, termasuk Risa, salah satu pelari, yang mengaku antusias. “Seru banget, jarang-jarang ada band nasional tampil di Sepaku, apalagi vokalisnya cewek,” ungkapnya.
Di sisi kompetisi, sejumlah nama mencuat sebagai calon pemenang, di antaranya Lauri, Dasmin, dan Sejati Ginting di kategori putra, serta Noor Aliya, Zahra, dan Keysa di kategori putri.
Event ini juga mendapat dukungan penuh dari Media Kaltim sebagai media partner. CEO Media Kaltim, Agus Susanto, turut mendampingi pemotongan kue ulang tahun dan memberikan ucapan selamat kepada manajemen Swissotel. Ia juga berkesempatan menyerahkan foto cover kepada Basuki Hadimuljono sebagai kenang-kenangan.