Beranda blog Halaman 543

TPP ASN Jadi Pos Pertama Dipangkas Jika TKD Kaltim 2026 Dikurangi 50 Persen

0
Foto: Wagub Kaltim, Seno Aji. (Foto: Hadi Winata/MKN)

SAMARINDA – Wacana pemangkasan Transfer ke Daerah (TKD) tahun anggaran 2026 mulai mengguncang Kalimantan Timur (Kaltim). Di tengah kritik publik yang menilai Kaltim sebagai penyumbang besar pendapatan negara dari sektor batubara, sorotan kini tertuju pada Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) Aparatur Sipil Negara (ASN) yang dianggap membengkak.

Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji, memastikan TPP menjadi pos pertama yang akan dipangkas bila pemerintah pusat benar-benar menurunkan alokasi TKD hingga 50 persen. Menurutnya, langkah ini tak terhindarkan demi menjaga stabilitas keuangan daerah.

“Pasti ada pemangkasan. Tapi ini harus dibicarakan bersama seluruh ASN, karena kondisi saat ini memang tidak memungkinkan,” ujarnya.

Berdasarkan Keputusan Gubernur Kaltim Nomor 100.3.3.1/K.731/2023, besaran TPP ASN Pemprov Kaltim tercatat cukup tinggi. Sekretaris Daerah misalnya, menerima TPP hingga Rp99 juta per bulan. Beberapa jabatan strategis lain seperti Inspektur, Asisten, Kepala Badan, hingga Direktur RSUD kelas A juga memperoleh puluhan juta rupiah. Nilai ini dinilai tidak seimbang dengan tekanan fiskal yang kini mengintai daerah.

Namun, Seno menegaskan bahwa pemangkasan tidak hanya menyasar TPP. Sejumlah proyek strategis daerah berpotensi dipangkas atau bahkan dihapus dari rencana kerja.

“Mungkin tidak hanya TPP. Ada proyek strategis yang harus kita pangkas atau kita hilangkan,” katanya.

Meski begitu, program prioritas sesuai visi-misi seperti pendidikan gratis dan kesehatan gratis dipastikan tetap berjalan.

“Itu wajib jalan. Gratis pol, pendidikan gratis, kesehatan gratis itu tetap prioritas,” tegasnya.

Kondisi ini semakin pelik setelah Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan (DJPK) Kementerian Keuangan merilis dokumen rancangan alokasi TKD tahun 2026. Dalam dokumen tersebut, Kaltim hanya akan menerima sekitar Rp2,49 triliun Dana Transfer Umum (DTU), dengan rincian DBH Migas Rp48 miliar, DBH Minerba Rp1,19 triliun, Dana Reboisasi Rp51 miliar, dan Dana Alokasi Umum (DAU) sekitar Rp866 miliar.

“Kita juga akan memangkas yang tidak penting, dan yang bisa ditunda prioritasnya, akan kita geser ke tahun depan,” jelas Seno.

Di sisi lain, penolakan terhadap pemangkasan TKD datang dari Forum Rumah Rakyat Kaltim Bersatu (FRKB), gabungan tokoh masyarakat, adat, dan mantan pejabat daerah. Forum ini bertujuan membantu pemerintah daerah melobi pemerintah pusat melalui empat anggota DPD RI asal Kaltim.

“Mereka (FRKB) ingin membantu kita mengkomunikasikan hal ini kepada Bang Henock, Haji Mirni, Pak Sofyan, dan Sinta Rosma untuk melobi pusat,” ungkapnya.

Bagi masyarakat, pengurangan TKD dianggap ironis. Pasalnya, Kaltim masih menjadi penopang utama pendapatan negara melalui batubara dan sumber daya alam lainnya. Jika alokasi untuk daerah justru menyusut, maka beban pembangunan semakin berat.

Seno mengakui bila pemangkasan benar terjadi, Pemprov tak punya banyak pilihan selain merasionalisasi anggaran. Namun ia memastikan program prioritas tetap berjalan.

“Kita harus duduk bersama DPRD, melihat mana anggaran yang bisa ditunda, dan memangkas yang tidak prioritas. Hanya program vital yang akan kita amankan,” pungkasnya.

Penulis: Hadi Winata
Editor: Agus S

HUT ke-43, Desa Suko Mulyo Deklarasikan Diri sebagai Pusat Ketahanan Pangan Nusantara

0
Anak-anak dan warga Desa Suko Mulyo tampil dalam karnaval HUT ke-43 dengan kostum hasil bumi dan busana tradisional. Foto: Prasetyo/MKN

PENAJAM PASER UTARA – Desa Suko Mulyo, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), merayakan hari jadinya yang ke-43 pada Sabtu (4/10/2025). Perayaan berlangsung meriah dengan karnaval bertema Ketahanan Pangan yang diikuti ratusan warga.

Warga antusias mengikuti karnaval sambil membawa hasil bumi untuk dipamerkan. Sejumlah atraksi turut memeriahkan acara, mulai dari penampilan tarian tradisional oleh kelompok seni Syaran dan Syalun, hingga parade kendaraan hias serta pesta kostum yang menarik perhatian tamu undangan.

Acara ini turut dihadiri perwakilan Pemerintah Kabupaten PPU, Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN), serta anggota DPRD PPU dapil Sepaku.

Kepala Desa Suko Mulyo, Mustain, dalam sambutannya menjelaskan bahwa tema ketahanan pangan dipilih untuk menegaskan potensi desa dalam bidang pertanian. Semua jenis sayuran yang ditampilkan merupakan hasil tanaman masyarakat setempat.

“Desa Suko Mulyo juga memiliki produksi lokal berupa pupuk kompos organik maupun cair yang berbahan dasar sisa sayuran. Semoga dengan kegiatan ini, desa kami bisa menjadi pusat ketahanan pangan Nusantara,” ungkapnya.

Deputi Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam (LHSDA) OIKN, Myrna A. Safitri, mengapresiasi semangat masyarakat yang membudidayakan berbagai macam sayuran secara mandiri.

“Kegiatan ini sangat luar biasa karena bisa menjadikan masyarakat lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga. Dengan semangat seperti ini, warga tidak harus serba membeli,” ujarnya.

Perayaan HUT ke-43 Desa Suko Mulyo bukan hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga momentum memperkuat ketahanan pangan dan kemandirian masyarakat di kawasan penyangga IKN.

Pewarta: Prasetyo
Editor: Agus S

Pohon Tumbang Timpa Rumah di Mugirejo, Ibu dan Anak Terluka

0
Kondisi rumah pohon tumbang Dari atas bukit. Foto: Dimas/MKN

SAMARINDA – Sebuah pohon berukuran besar tumbang dan menimpa rumah warga di Jalan Riam Indah, Gang Langgar, Kelurahan Mugirejo, Kecamatan Sungai Pinang, pada Sabtu (4/10) dini hari. Insiden ini menyebabkan dua penghuni rumah, seorang ibu dan anaknya, mengalami luka-luka.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Samarinda, Suwarso, menjelaskan peristiwa terjadi sekitar pukul 04.00 Wita usai wilayah Samarinda diguyur hujan deras. Pohon yang berdiri di atas bukit tersebut tergelincir dan roboh ke arah rumah warga.

“Tadi pagi kami mendapat laporan ada pohon tumbang yang menimpa satu unit rumah warga. Di dalamnya ada seorang ibu dan seorang anak,” jelas Suwarso di lokasi kejadian.

Akibatnya, sang ibu mengalami luka cukup serius setelah tertimpa palang kayu dan harus dilarikan ke rumah sakit karena kakinya sulit digerakkan. Sementara itu, sang anak hanya mengalami memar ringan.

Pohon tumbang diduga dipicu kondisi tanah perbukitan yang labil serta curah hujan tinggi. “Batang pohon yang posisinya di atas bukit tergelincir dan mengenai rumah,” tambahnya.

Untuk mencegah risiko susulan, rumah terdampak langsung dikosongkan. Penanganan darurat dilakukan secara gotong royong oleh tim gabungan, mulai dari aparat kelurahan, Bhabinsa, Bhabinkamtibmas, Polri, relawan, hingga BPBD Kota Samarinda yang turun langsung memotong batang pohon.

Suwarso menyebut kendala utama di lapangan adalah keberadaan kabel listrik di sekitar lokasi. Posisi pohon yang menimpa tiang dan lampu listrik membuat petugas harus menunggu pemutusan aliran sebelum melanjutkan evakuasi. Sebagai langkah sementara, tim menutup bagian rumah yang rusak dengan terpal.

Ia juga mengingatkan warga agar selalu waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi, meskipun Samarinda kini memasuki musim kemarau.

“Himbauan kami, meski masuk musim kemarau, hujan tetap sering terjadi karena Samarinda berada di daerah ekuator dan hutan tropis. Kondisi tanah di sini berpasir lempung, sehingga bagi warga yang tinggal di perbukitan risikonya tinggi. Saat hujan deras dan angin kencang, segera lakukan evakuasi ke tempat yang aman,” tegasnya.

Pewarta: Dimas
Editor: Agus S

Tambang dan Galian C Ilegal di IKN Kembali Disorot, Aparat Pasang Garis Polisi di Desa Suko Mulyo

0
Lokasi penambangan pasir yang ditemukan Satgas dan Trantibum OIKN di Desa Suko Mulyo Sepaku. Foto: Istimewa

NUSANTARA – Aktivitas tambang ilegal kembali menjadi sorotan di wilayah delineasi Ibu Kota Nusantara (IKN). Satuan Tugas Gabungan bersama Bagian Ketentraman dan Ketertiban Umum Otorita IKN menemukan kerusakan lingkungan di sejumlah titik di Kecamatan Sepaku, termasuk Desa Suko Mulyo, pada 29 September hingga 1 Oktober 2025.

Dalam operasi tersebut, aparat kepolisian dan petugas OIKN melakukan dokumentasi lapangan, mencatat titik koordinat, serta memasang tanda larangan di area terdampak. Material pasir dari galian itu diduga dijual untuk kebutuhan konstruksi proyek di kawasan Sepaku melalui jalur tidak resmi, sehingga masuk kategori galian C ilegal.

Berdasarkan hasil pengamatan, petugas menemukan bekas galian di tebing tinggi dengan tumpukan pasir halus menyerupai bukit kecil di bawahnya. Lokasi itu telah direkam dengan foto serta data GPS untuk keperluan penyelidikan lebih lanjut.

Media Kaltim mencoba mengonfirmasi temuan tersebut kepada Sekretaris Desa Suko Mulyo, Aries Eko Prasetyo. Namun, ia hanya menjawab singkat karena sedang menghadiri acara peringatan hari jadi desa. Upaya menghubungi Kepala Desa Mustain juga belum membuahkan hasil lantaran masih fokus mengikuti rangkaian kegiatan.

Sementara itu, Ketua RT 3 Desa Suko Mulyo, Ahmad Solihin, membenarkan adanya aktivitas penambangan pasir yang berlangsung dua hari sebelumnya. Ia menegaskan saat ini kegiatan tersebut sudah berhenti setelah aparat memasang garis polisi.

“Sudah diberi garis polisi. Para pekerja tambang pasir itu warga luar, bukan warga Suko Mulyo,” terangnya.

Sebelumnya, penindakan terhadap aktivitas tambang ilegal di kawasan IKN juga sempat mencuat setelah Satuan Tugas OIKN bersama aparat kepolisian menghentikan tujuh truk bermuatan batu bara di Jalan Tol Balikpapan–Samarinda (Balsam), Minggu (29/9/2025) dini hari.

Tidak hanya di jalur transportasi, investigasi lapangan yang dilakukan Satgas bersama Bagian Ketentraman dan Ketertiban Umum OIKN di kawasan Desa Suko Mulyo, Argo Mulyo, hingga Semoi Dua, Kecamatan Sepaku, menemukan bukti nyata kerusakan hutan akibat praktik tambang ilegal.

Pewarta: Prasetyo/Atmaja Riski
Editor: Agus S

Guru Bermutu, Indonesia Maju: Porsenijar Bontang 2025 Resmi Bergulir dengan Tujuh Cabang Lomba

0
Agus Haris memukul gong tanda dibukanya Porsenijar Guru 2025 di Bontang. Foto: Prokopim/Istimewa

BONTANG – Pekan Olahraga, Seni, dan Pembelajaran (Porsenijar) Guru se-Kota Bontang resmi dimulai. Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris, membuka ajang ini di halaman SMA Negeri 1 Bontang, Sabtu (4/10/2025) pagi, sekaligus memperingati Hari Ulang Tahun ke-80 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dan Hari Guru Nasional 2025.

Ratusan guru dari berbagai sekolah, mulai jenjang PAUD hingga SLB, ikut hadir sebagai peserta dan kontingen. Pembukaan juga dihadiri Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bontang, Abdu Safa, Ketua PGRI Bontang, Saparuddin, serta para kepala sekolah negeri maupun swasta. Suasana berlangsung meriah dengan penampilan seni guru SDN 011 Bontang Selatan.

Dalam sambutannya, Agus Haris menegaskan bahwa Porsenijar bukan sekadar ajang lomba, melainkan wadah silaturahmi, pembinaan bakat, sekaligus pemacu semangat kebersamaan. “Peringatan ini adalah momentum berharga untuk mengapresiasi jasa dan dedikasi guru dalam mendidik serta membentuk generasi emas Bontang. Saya berharap kegiatan ini menguatkan tekad kita mewujudkan kota yang berdaya saing, berkelanjutan, dan sejahtera,” ujarnya.

Wakil Wali Kota Bontang Agus Haris bersalaman dengan guru peserta Porsenijar. Foto: Prokopim/Istimewa

Selain membuka Porsenijar, Agus Haris juga menyampaikan capaian tujuh program unggulan Pemerintah Kota Bontang hingga September 2025. Khusus di sektor pendidikan, ia menyoroti Program Bontang Pintar yang menghadirkan inovasi literasi seperti PERISA (Perpustakaan Kapsul Cerdas) dan Si MOKEL LINCAH (Mobil Perpustakaan Keliling Cerdas). Pemkot, lanjutnya, juga telah meningkatkan insentif bagi guru swasta dan menyalurkan perlengkapan sekolah gratis, termasuk distribusi sepatu untuk siswa SD dan SMP.

Porsenijar Guru 2025 mengusung tema “Guru Bermutu, Indonesia Maju” dengan tujuh cabang lomba. Yakni Senam, Futsal, Bola Voli, Bulu Tangkis, Tenis Meja, Mini Soccer, dan Karya Tulis Ilmiah. “Selamat bertanding, berkarya, dan berprestasi. Jadikan momentum ini sebagai wujud pengabdian tulus untuk pendidikan,” tutup Agus Haris.

Pewarta: Syahkura
Editor: Agus S

Sudah Tiga Kali Raih Penghargaan, Bontang Sabet Lagi Predikat Kota Informatif Terbaik 1 di Kaltim

0
Wawali Bontang, Agus Haris mewakili Pemkot Bontang menerima penghargaan kota informatif terbaik 1 di Kaltim. (Dok Humas Pemkot)

BONTANG – Kota Bontang meraih predikat terbaik 1 sebagai kota informatif se-Kalimantan Timur. Predikat tersebut diberikan pada Malam Penganugerahan Keterbukaan Informasi Publik Komisi Informasi Provinsi Kalimantan Timur 2025.

Acara digelar di Pendopo Odah Etam, Kantor Gubernur Kaltim, Jumat (3/10). Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Seno Adji, secara langsung menyerahkan penghargaan tersebut kepada Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris, yang hadir mewakili pemerintah daerah.

Selain penghargaan utama, Bontang juga sukses memboyong tiga kategori lain dari sembilan kategori yang diperlombakan, yakni:

  • Kategori Yudikatif: Pengadilan Agama Kota Bontang sebagai Terbaik 1, bersama PA Samarinda, PA Tenggarong, dan PA Balikpapan.
  • Kategori Perangkat Daerah Kabupaten/Kota: BKPSDM Kota Bontang serta Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Bontang, masing-masing meraih Terbaik 1.
  • Kategori Vertikal Kabupaten/Kota: Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bontang menyandang Terbaik 1.

Dengan raihan tersebut, Bontang meneguhkan diri sebagai kota dengan tradisi keterbukaan informasi publik yang konsisten.

Usai menerima penghargaan, Agus Haris, menyampaikan rasa syukur atas capaian yang kembali diraih untuk ketiga kalinya, setelah sebelumnya pada tahun 2020 dan dua tahun berturut-turut berikutnya.
“Alhamdulillah, Bontang kembali dipercaya menjadi yang terbaik. Ini berkat komitmen pimpinan daerah bersama jajaran birokrasi hingga tingkat RT, dalam memberikan pelayanan yang transparan kepada masyarakat,” ucapnya mengutip dari ppidpemkotbontang.

Agus Haris menambahkan, meski berhasil meraih prestasi, Pemerintah Kota Bontang akan terus berbenah. “Kami akan terus meningkatkan kualitas pelayanan publik, termasuk memastikan ketersediaan informasi yang mudah diakses oleh masyarakat,” ujarnya.

Editor: Yusva Alam

Kutim Darurat Narkoba: 274 Kasus Dalam 9 Bulan, BNN Minta Warga Jadi Mata-mata

0
Kepala BNNK Kutim, Kompol Risnoto. (Ist)

SANGATTA – Situasi peredaran narkoba di Kutai Timur (Kutim) mencapai titik krisis. Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Kutim mencatat, lonjakan kasus yang mengkhawatirkan menembus angka 274 kasus hingga akhir September 2025. Angka ini memposisikan Kutim dalam status darurat narkoba, dan memaksa BNN untuk mengambil langkah ekstrem.

Kepala BNNK Kutim, Kompol Risnoto, menyatakan bahwa data tersebut adalah alarm keras bagi seluruh pihak. Ia menginstruksikan jajaran untuk bekerja ekstra keras dalam upaya pemberantasan, yang kini fokus pada tiga pilar; penindakan, pencegahan, dan partisipasi publik.

“Kami sedang dalam mode perang. Mencapai 274 kasus dalam waktu sembilan bulan adalah bencana sosial yang harus segera diatasi,” tegas Kompol Risnoto kepada media beberapa hari lalu.

Dalam upaya pencegahan, BNN Kutim kini menggencarkan penyuluhan secara masif, dengan target utama adalah sekolah-sekolah. Strategi ini bertujuan membentengi generasi muda, yang kerap menjadi sasaran empuk bandar.

“Jika kita hanya fokus menangkap bandar, tetapi tidak memutus mata rantai permintaan, barang itu akan terus masuk. Kami harus menyelamatkan anak-anak kita, maka penyuluhan ke sekolah adalah wajib,” jelasnya.

Menyadari keterbatasan personel dalam memantau wilayah yang luas, Kompol Risnoto secara eksplisit meminta dukungan penuh warga Kutim untuk berani bertindak. Ia bahkan secara gamblang meminta masyarakat untuk menjadi ‘mata-mata’ BNNK

“Ini bukan tugas BNNK semata. Kami butuh peran serta masyarakat. Segera laporkan jika Anda memiliki indikasi atau melihat transaksi narkoba di lingkungan sekitar Anda,” pinta Risnoto.

BNNK menjamin kerahasiaan identitas pelapor. Dukungan warga yang proaktif dianggap sebagai kunci utama untuk memutus rantai peredaran gelap yang telah merusak ratusan kehidupan di Kutim.

“Bersama, kita wujudkan Kutai Timur yang bersih dari narkoba. Jangan biarkan lingkungan Anda menjadi sarang peredaran barang haram,” tutup Risnoto, menandaskan pesan darurat kepada seluruh masyarakat Kutim.

Penulis: Ramlah
Editor: Yusva Alam

136 Remaja Ikuti Jambore Ajang Kreativitas Genre, Tumbuhkan Remaja Siap Bersaing dan Bawa Perubahan Positif

0
Suasana Jambore Ajang Kreativitas Genre. (Dok Humas Pemkot)

BONTANG – Sebanyak 136 remaja dari 17 Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) se-Kota Bontang, mengikuti Jambore Ajang Kreativitas Generasi Berencana (Genre). Jambore kali ini mengusung tema “Stop Stunting, Start Caring Tanpa Fatherless, Generasi Berkualitas,” di Pendopo Rumah Jabatan Wali Kota Bontang beberapa waktu lalu.

Stunting, yang menjadi perhatian serius nasional, serta isu fatherless atau hilangnya peran ayah dalam pengasuhan, menjadi dua faktor kunci yang dapat memengaruhi tumbuh kembang generasi muda.

“Masa depan bangsa ditentukan oleh kualitas remaja saat ini. Kita berada dalam era dengan akses informasi yang sangat terbuka, namun tantangan yang dihadapi juga semakin kompleks dan penuh ketidakpastian. SDM unggul dimulai dari keluarga yang berkualitas. Keluarga yang berkualitas melahirkan remaja-remaja yang sehat, berkarakter, dan siap membangun masa depan,” ujar Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Kalimantan Timur Nurizky Permana Jati mengutip dari PPIDPemkotBontang.

Ia juga menekankan, bahwa pemerintah, baik pusat maupun daerah, memiliki tanggung jawab untuk memastikan remaja di Bontang dan Kalimantan Timur tumbuh menjadi generasi yang siap bersaing dan membawa perubahan positif.

“Gunakan kesempatan jambore ini bukan hanya untuk berkompetisi, tapi juga untuk belajar dan berbagi pengalaman. Ini adalah momen untuk tumbuh bersama,” katanya.

Kegiatan jambore ini juga menjadi panggung bagi para remaja PIK-R untuk unjuk gigi dalam berbagai kompetisi, seperti presentasi program unggulan, pentas seni, dan edukasi kesehatan reproduksi remaja.

Editor: Yusva Alam

Hujan Berbuah Musibah Tak Lagi Berkah, Astaghfirullah

0
Rahmi Surainah, M.Pd. (ist)

Oleh:
Rahmi Surainah, M.Pd
Alumni Pascasarjana Unlam

“Allahumma shoyyiban nafi’an”
(Ya Allah, turunkanlah hujan yang bermanfaat)

Doa tersebut dipanjatkan agar hujan yang turun membawa manfaat dan keberkahan. Namun bagaimana kalau hujan justru mengakibatkan banjir, longsor, pohon tumbang dan rumah ambruk? Setiap kali hujan lebat alias cuaca ekstrem musibah pun melanda astaghfirullah!

Sebagaimana yang dikabarkan beberapa waktu lalu di Bontang ketika hujan terjadi mengakibatkan banjir sebagian wilayah, tanah longsor hingga tumbangnya pepohonan serta rumah ambruk. Meski sekarang sudah tak lagi banjir, namun tak dapat dihindari ketika hujan maka banjir jadi ancaman. Tak hanya itu terbaru, angin kencang disertai hujan membuat atap rumah dan fasilitas umum rusak khususnya di kawasan pesisir Bontang.

Tak hanya Bontang, ancaman banjir dan sederet musibah yang menyertainya juga terjadi di beberapa wilayah Kaltim. Langganan banjir seperti Kota Samarinda, Tenggarong, Balikpapan, Sangatta, Kutai Barat dan Mahulu hampir semua wilayah Kaltim tak luput dari banjir ketika hujan melanda. Jika demikian seharusnya dengan semakin meluasnya wilayah banjir membuat kita instrospeksi salahkah hujan atau manusia?

Jangan Salahkan Hujan

Hujan dengan sederet ancaman seakan sudah biasa terjadi. Padahal musibah banjir ini jangan dianggap biasa atau menolerir keadaan. Ekosistem alam terganggu hujan yang membawa berkah berubah menjadi musibah.

Penerapan sistem kapitalisme berbuah kerusakan lingkungan. Eksploitasi tambang, kebakaran atau gundulnya hutan menyebabkan air hujan tak terserap, diperparah kondisi pasang surut air sungai/ laut dan saluran drainase yang tidak mampu mengalirkan air.

Curah hujan tinggi selalu jadi kambing hitam ancaman banjir dan longsor. Padahal konversi atau berkurangnya tutupan hutan akibat pembukaan lahan seperti sawit, tambang, pemukiman, dan deforestasi tak dapat dipungkiri. Tidak akan terjadi banjir dan longsor jika benar tata kelola alam.

Keserakahan dengan eksploitasi SDA gila-gilaan membuat rusaknya lingkungan, seperti banjir dan longsor. Banjir semakin meluas dan tinggi, longsor pun berulang kali. Demikianlah akibat tata kelola alam kapitalistik. Tentu kebebasan yang dimiliki oleh para kapital tersebut didukung oleh ijin dan aturan yang dibuat penguasa.

Sungguh miris hidup dalam sistem kapitalis sekuler, banjir dan longsor jadi langganan bahkan menelan korban. Tentunya untuk mengakhirinya harus dengan tata kelola alam yang membawa keberkahan.

Hujan Membawa Keberkahan

Allah Swt berfirman:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (TQS. Ar-Ruum: 41)

Ulah manusialah kerusakan lingkungan sehingga ketika hujan datang alam tidak mampu lagi menampungnya. Islam melarang kepemilikan SDAE dikuasai oleh individu, swasta, atau asing. SDAE dalam Islam adalah kepemilikan umum dan dikuasai oleh negara untuk kesejahteraan umat diserahkan dalam bentuk langsung atau pun tidak langsung. Misalnya gratisnya biaya pendidikan, kesehatan, dan terjangkaunya harga kebutuhan pokok.

Pengelolaan SDAE dalam Islam tidak bisa dilepaskan dari penerapan Islam secara kaffah. Dengan dikuasainya SDAE oleh negara dalam sistem Islam dan pemimpin yang bertakwa maka akan meminimalisir kerusakan lingkungan. Masyarakat akan sejahtera dan alam berbuah keberkahan.

Firman Allah Swt:
“Dan sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan”. (TQS. Al-A’raf: 96)

Wallahu’alam

Didampingi YDBA Astra, Mikajo Bakery Sangatta Sulap Labu Kuning Lokal Jadi Produk Vegan Premium

0
Grace Yuanita, Owner Mikajo Bakery, pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) binaan yayasan Astra-Yayasan Dharma Bakti Astra (YDBA). (Ramlah/Radar Bontang)

SANGATTA – Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Mikajo Bakery di Sangatta, Kutai Timur (Kutim), berhasil membuktikan bahwa inovasi berbasis bahan baku lokal dapat menembus pasar premium. Berkat pendampingan intensif dari Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA), pemilik Mikajo, Grace Yuanita (38), sukses mentransformasi labu kuning lokal menjadi roti vegan dan gluten-free dengan harga jual mencapai Rp35 ribu.

Grace, yang memulai usahanya dari motivasi sederhana membuat roti karena anaknya menyukai labu, berhasil menemukan formula roti kaya serat dan beta-karoten.

“Awalnya hanya karena anak suka labu, selain untuk kolak, saya coba jadikan roti,” ungkap Grace saat ditemui di tokonya di Ruko Bintang, Munthe, Sabtu (4/10/2025).

Keberhasilan Mikajo terletak pada strategi pemasarannya yang cerdas. Grace melakukan riset yang menunjukkan bahwa 76,9% responden di atas 20 tahun mencari roti vegan dan bersedia membayar mahal untuk kualitas.

Data ini menjadi dasar bagi Grace untuk memposisikan roti labunya sebagai produk premium, yang kini ia sebut sebagai “Emas Vegan”. Kisaran harga produk Mikajo terentang dari Rp5.000 hingga Rp35.000.

Pendampingan oleh YDBA Astra dalam hal ini LPB PAMA Banua Etam PT PAMA sejak tahun 2018 memegang peranan kunci dalam peningkatan kualitas Mikajo.

Pendampingan ini berfokus pada:

Standar Kualitas: Penerapan ketat standar industri 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin) untuk menjamin proses produksi yang higienis.

Keberlanjutan: Pengaplikasian prinsip “zero waste” dan minim sampah.

Literasi Pemasaran: Bantuan dalam branding dan strategi edukasi, termasuk peningkatan kemasan agar terlihat premium di mata konsumen.

Grace Yuanita menekankan, bahwa filosofi bisnisnya adalah fokus dan konsisten dalam segala keadaan, serta terus melakukan inovasi. Konsistensi ini membawa Mikajo Bakery menjadi pelopor toko roti di Sangatta yang berspesialisasi dalam inovasi berbasis labu kuning.

“Saya sangat berterima kasih kepada LPB PAMA dalam hal ini YDBA Astra, yang telah memberikan pendampingan secara konsisten. Mereka tidak hanya melihat kami sebagai UMKM biasa, tetapi membekali kami dengan ilmu riset dan manajemen yang membuat kami mampu ‘naik kelas’ dan bersaing di pasar premium,” ujar Grace penuh syukur.

Kesuksesan Mikajo tidak hanya meningkatkan omzet internal, tetapi juga membawa dampak positif berkelanjutan. Mikajo kini aktif menjalin kolaborasi dengan petani lokal untuk pasokan labu, yang secara langsung meningkatkan nilai jual komoditas mereka.

Kisah Mikajo Bakery menjadi contoh nyata, bahwa UMKM yang mengadopsi pola pikir inovatif dan mengedepankan aspek kesehatan siap menjadi kekuatan ekonomi baru di Indonesia.

Penulis: Ramlah
Editor: Yusva Alam