Konferensi pers yang digelar oleh tim advokasi di Balikpapan terkait kasus warga Muara Kate. (Ist)
SAMARINDA – Tim Advokasi Lawan Kriminalisasi dan Rekayasa Kasus Pembunuhan Warga Muara Kate mendesak Kepolisian Resor Paser dan Polda Kalimantan Timur untuk segera membebaskan aktivis lingkungan Misran Toni (MT) dari seluruh tuduhan yang dinilai tidak berdasar.
MT, yang dikenal sebagai pejuang lingkungan di Muara Kate, telah ditahan sejak 16 Juli 2025 dan hingga kini menjalani masa tahanan lebih dari 115 hari di Polda Kaltim. Berdasarkan perpanjangan terakhir dari Pengadilan Negeri Tanah Grogot, masa penahanannya semestinya berakhir pada 12 November 2025. Namun, MT kembali ditahan hingga 18 November 2025 setelah sebelumnya sempat “terbantar” selama delapan hari.
Tim Advokasi menilai pembantaran tersebut tidak sah karena dilakukan bukan atas dasar alasan medis sebagaimana mestinya. Dalam keterangan tertulisnya, mereka menyebut pembantaran itu dilakukan tanpa sepengetahuan keluarga dan justru dijadikan cara untuk memperpanjang masa penahanan. “Pembantaran dilakukan tanpa alasan kesehatan. MT bahkan diisolasi di rumah sakit selama delapan hari, sementara keluarganya dilarang menjenguk,” tulis rilis tersebut.
Tindakan tersebut, menurut tim advokasi, merupakan bentuk pelanggaran hak asasi manusia dan tekanan psikologis terhadap MT. Mereka menilai langkah itu hanyalah upaya aparat mengulur waktu pembebasan sekaligus melemahkan perjuangan aktivis lingkungan tersebut.
Lebih jauh, tim menduga kriminalisasi terhadap MT merupakan cara untuk menutupi ketidakmampuan aparat dalam mengungkap pelaku sebenarnya dalam kasus pembunuhan warga Muara Kate. Mereka meyakini bahwa pelaku utama masih bebas, sementara warga terus hidup dalam ketakutan.
Kasus ini bermula dari penetapan MT sebagai tersangka pada 17 Juli 2025. Tim Advokasi menyebut langkah tersebut sebagai bagian dari pola represi terhadap warga yang menolak aktivitas hauling batubara ilegal oleh PT Mantimin Coal Mining (MCM) dan perusahaan lain di Kabupaten Paser.
Sejak 2023, aktivitas hauling batubara PT MCM di jalan umum disebut telah menimbulkan konflik sosial dan menelan sedikitnya tujuh korban jiwa. Namun, alih-alih menindak perusahaan, aparat justru menahan MT yang selama ini dikenal vokal menentang kegiatan tambang ilegal tersebut.
“Penahanan terhadap MT hanyalah cara untuk membungkam perjuangan rakyat dan menciptakan ketakutan di kalangan warga,” tulis tim dalam pernyataannya. Mereka menegaskan aparat justru membiarkan aktivitas hauling ilegal terus berlangsung tanpa pengawasan.
Tim Advokasi mendesak Kapolres Paser AKBP Novy Adi Wibowo dan Kapolda Kaltim Irjen Pol Endar Priantoro untuk segera menghentikan kriminalisasi terhadap MT dan mengusut tuntas pelaku pembunuhan warga Muara Kate. “Penahanan terhadap MT sama saja dengan menahan suara rakyat yang membela hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat,” tegas pernyataan tersebut. (MK).
Barang bukti dan tersangka kasus curanmor yang diamankan Polres Kutim. (Ramlah/Radar Bontang)
SANGATTA — Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Kutai Timur (Kutim) mencetak hasil gemilang dalam Operasi Jaran Mahakam 2025. Hanya dalam waktu 20 hari, tim gabungan berhasil mengungkap 15 kasus pencurian kendaraan bermotor (curanmor) dan mengamankan 15 tersangka beserta 12 unit kendaraan bermotor sebagai barang bukti.
Operasi yang berlangsung selama hampir tiga pekan itu menyisir berbagai titik rawan kejahatan di wilayah Kutim. Kapolres Kutim, AKBP Fauzan Arianto, menyampaikan bahwa keberhasilan ini berkat kerja keras personel yang dilibatkan dari Satreskrim, Satintelkam, dan Polsek jajaran.
“Kami berkomitmen memberantas curanmor secara menyeluruh. Dalam 20 hari operasi, 15 pelaku berhasil kami amankan berikut 12 kendaraan yang sebagian besar belum sempat dijual,” jelas Kapolres dalam konferensi pers, Jumat (7/11/2025).
Dari hasil pemeriksaan, polisi menemukan beragam motif di balik aksi para pelaku. Beberapa mencuri untuk keuntungan ekonomi, sementara salah satu tersangka berinisial ABH mengaku mencuri bukan untuk dijual, melainkan hanya karena ingin memiliki motor untuk dipakai sendiri.
“Motif ABH ini cukup unik. Ia mengaku tidak punya uang untuk membeli kendaraan, jadi hasil curian digunakan untuk kebutuhan pribadi. Tapi apapun alasannya, tetap merupakan tindak pidana,” tegas AKBP Fauzan.
Barang bukti hasil kejahatan kini diamankan di Polres Kutim untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut. Sementara seluruh pelaku dijerat dengan pasal pidana sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
Kapolres Kutim juga mengimbau masyarakat agar lebih waspada terhadap tindak pencurian kendaraan bermotor. Ia menekankan pentingnya upaya pencegahan sederhana seperti menggunakan kunci ganda, memilih lokasi parkir yang aman dan terang, serta tidak meninggalkan kunci di kendaraan.
“Kewaspadaan masyarakat sangat penting. Pencegahan terbaik adalah memastikan kendaraan selalu aman dan tidak memberi peluang bagi pelaku kejahatan,” imbau Kapolres.
Keberhasilan Operasi Jaran Mahakam 2025 di Kutai Timur ini menjadi bukti nyata keseriusan aparat dalam menjaga keamanan wilayah serta menekan angka kejahatan jalanan, khususnya pencurian kendaraan bermotor.
Salah satu Jurnalis langsung turun menyalurkan beras ke warga yang membutuhkan. (Ist)
SANGATTA — Momen Hari Ulang Tahun (HUT) ke-74 Humas Polri menjadi ajang berbagi yang penuh makna di Kutai Timur (Kutim). Polres Kutim bersama jurnalis lokal menyalurkan 740 karung beras kepada masyarakat kurang mampu, sebagai bentuk kepedulian dan solidaritas terhadap sesama.
Aksi sosial yang berlangsung pada Jumat (7/11/2025) ini dipimpin langsung oleh Kapolres Kutai Timur, AKBP Fauzan Arianto. Ia menegaskan, kegiatan ini merupakan bukti nyata bahwa kemitraan antara Polri dan insan pers tidak hanya sebatas kerja sama informasi, tetapi juga kolaborasi kemanusiaan.
“Kami berterima kasih kepada rekan-rekan jurnalis yang turut ambil bagian dalam kegiatan ini. Momen HUT Humas Polri harus menjadi semangat bersama untuk memperkuat hubungan dan menebar manfaat bagi masyarakat,” ujar AKBP Fauzan.
Menurutnya, semangat berbagi ini diharapkan dapat menjadi agenda rutin, bukan hanya di momen perayaan. “Bantuan ini mungkin tidak besar, tetapi mudah-mudahan bisa sedikit meringankan beban warga yang membutuhkan, sekaligus mempererat tali persaudaraan antara Polri, jurnalis, dan masyarakat,” tambahnya.
Sementara itu, Aiptu Wahyu Winarko, Ps. Kasubsi Penmas Si Humas Polres Kutim, menjelaskan bahwa keterlibatan jurnalis dalam kegiatan ini memiliki arti penting bagi Humas Polri.
“Humas Polri tidak bisa berjalan sendiri. Pers adalah mitra sejati kami dalam menyampaikan pesan dan membangun kepercayaan publik. Penyaluran 740 karung beras ini menjadi simbol kebersamaan tiga unsur penting: Polri, Pers, dan Masyarakat,” tuturnya.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara Polres Kutim dan jurnalis tak hanya sebatas pemberitaan, tetapi juga menghadirkan aksi nyata yang membawa kehangatan bagi warga Kutai Timur.
Welly Kepala Seksi Angkutan Umum Dishub Bontang. (Syakurah )
BONTANG – Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bontang tengah menyiapkan langkah tegas terhadap truk pengangkut material yang beroperasi tanpa terpal penutup. Upaya ini dilakukan menyusul meningkatnya aduan warga terkait debu yang beterbangan di sejumlah titik, terutama di kawasan Pelabuhan III, Kelurahan Tanjung Laut Indah.
Kepala Seksi Angkutan Umum Dishub Bontang, Welly Sakius, mengungkapkan bahwa pihaknya kini sedang meninjau ulang Peraturan Daerah (Perda) Nomor 7 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
Tujuannya adalah menambahkan ketentuan sanksi bagi sopir atau armada yang tidak memasang terpal, “Dalam Perda yang ada memang sudah disebutkan kewajiban penggunaan terpal, tapi belum ada aturan sanksinya. Maka dari itu kami sedang melakukan review agar lebih tegas,” jelasnya.
Welly menuturkan, Dishub juga berkoordinasi dengan kepolisian untuk menyiapkan mekanisme penegakan aturan saat regulasi baru selesai disempurnakan.
Sembari menunggu hasil pembahasan, Dishub mulai melakukan sosialisasi melalui razia gabungan di sejumlah ruas jalan. Langkah ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran pengemudi agar memasang terpal sebelum sanksi resmi diterapkan.
“Kami ingin sejak awal para sopir sudah terbiasa menaati aturan. Jadi ketika sanksinya diberlakukan, mereka tidak bisa lagi beralasan,” ujarnya.
Peresmian Koperasi Merah Putih di Bontang beberapa waktu lalu. (ist)
BONTANG – Kepala Bidang Koperasi usaha Mikro Dinas Koperasi Usaha Mikro Perindustrian dan Perdagangan (DKUMPP) Bontang, Muh Takwin menegaskan, pihaknya akan terus melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap jalannya koperasi merah putih.
Beberapa upaya pembinaan yang dilakukan di antaranya akan mengintegrasikan program Koperasi Merah Putih dengan program Pro RT yang digagas Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni dan Agus Haris, guna memperkuat pemberdayaan ekonomi masyarakat di tingkat kelurahan.
Lalu mendorong agar setiap unit rutin melaksanakan Rapat Anggota Tahunan (RAT), sebagai bentuk tanggung jawab dan transparansi pengelolaan.
“Kami (DKUMPP) akan rutin melakukan pembinaan. Pengawasan juga akan dilakukan oleh lurah masing-masing,” ujarnya.
Kemudian DKUMPP Bontang bakal mendorong seluruh unit usaha Koperasi Merah Putih yang telah terbentuk di setiap kelurahan, untuk lebih memperhatikan potensi ekonomi lokal di wilayahnya masing-masing.
Dijelaskannya, pengembangan usaha koperasi harus berangkat dari potensi unggulan yang ada di lingkungan sekitar, baik di sektor pertanian, perkebunan, maupun bidang lainnya.
“Semisal di wilayahnya terdapat potensi pertanian atau perkebunan, maka unit usahanya bisa bergerak di sektor tersebut. Namun pada intinya, semua tergantung kesepakatan pengurus dan anggota koperasi,” pungkasnya.
Kepala Bidang Koperasi dan Usaha Mikro DKUMPP, Muhammad Takwin. (ist)
BONTANG – Dinas Koperasi Usaha Mikro Perindustrian dan Perdagangan (DKUMPP) Kota Bontang mendorong seluruh unit usaha Koperasi Merah Putih yang telah terbentuk di setiap kelurahan, agar menyelaraskan usahanya dengan potensi ekonomi lokal di wilayahnya masing-masing.
Kepala Bidang Koperasi dan Usaha Mikro DKUMPP, Muhammad Takwin, mengatakan bahwa pengembangan usaha koperasi harus berangkat dari potensi unggulan yang ada di lingkungan sekitar, baik di sektor pertanian, perkebunan, maupun bidang lainnya.
“Semisal di wilayahnya terdapat potensi pertanian atau perkebunan, maka unit usahanya bisa bergerak di sektor tersebut. Namun pada intinya, semua tergantung kesepakatan pengurus dan anggota koperasi,” ujar Takwin.
Untuk memperkuat permodalan, DKUMPP memberikan peluang bagi pengurus Koperasi Merah Putih untuk mengajukan bantuan dana ke Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) seperti BNI, BRI, Bank Mandiri, dan BTN.
Skema pembiayaan tersebut, menurut Takwin, merupakan bagian dari arahan Menteri Perekonomian. Namun, sebelum mengajukan bantuan, koperasi wajib menyusun proposal bisnis yang lengkap, mencakup analisis usaha, proyeksi keuntungan, dan kebutuhan modal.
“Nanti pihak bank akan melakukan survei dan mengukur kemampuan pengurus dalam mengembalikan pinjaman. Untuk plafon anggaran maksimalnya Rp3 miliar,” jelasnya.
Seminar dan Pelatihan Kewirausahaan Mandiri UMKM yang digelar Indomaret di Hotel Tiara Surya, beberapa waktu lalu. (Yusva Alam)
BONTANG – Dinas Koperasi, Usaha Mikro Perindustrian dan Perdagangan (DKUMPP) Bontang bersinergi dengan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Bontang untuk memitrakan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dengan perusahaan besar yang ada di bontang.
Keseriusan ini dibuktikan melalui keberhasilan DKUMPP memfasilitasi 75 UMKM binaannya untuk bermitra dengan PT Indomarco Prismatama (Indomaret). Dalam kegiatan Seminar dan Pelatihan Kewirausahaan Mandiri UMKM yang digelar di Hotel Tiara Surya, beberapa waktu lalu.
Kepala Bidang Koperasi Usaha Mikro DKUMPP Bontang, Muh Takwin, mengatakan kolaborasi dengan Indomaret menjadi langkah awal untuk membuka akses pemasaran produk lokal ke jaringan ritel modern.
“Melalui kegiatan yang didukung penuh oleh Indomaret ini, kami berharap dapat menjadi pencetus kebangkitan UMKM Bontang agar siap bermitra dengan berbagai perusahaan di daerah,” ujar Takwin.
Menurutnya, Indomaret yang memiliki sejumlah gerai di Kota Bontang telah menyatakan komitmennya untuk memfasilitasi produk-produk UMKM agar dapat dipasarkan di rak toko mereka.
“Sebanyak 75 UMKM binaan Pemkot sudah memiliki produk yang siap dipasarkan hingga luar daerah. Indomaret menyambut baik hal itu dengan beberapa syarat dan ketentuan yang disepakati,” tambahnya.
Takwin juga mengungkapkan bahwa Indomaret menjadi perusahaan pertama yang resmi bermitra dengan UMKM Bontang. Perusahaan ritel tersebut tak hanya membuka akses pemasaran, tetapi juga memberikan pembinaan agar produk UMKM dapat menembus pasar nasional.
“Kegiatan seminar dan pembinaan ini juga difasilitasi langsung oleh Indomaret. Ke depan, kami akan terus berkoordinasi dengan DPMPTSP untuk memperluas kemitraan dengan perusahaan besar lainnya,” ungkapnya.
Melalui langkah sinergis antara DPMPTSP, DKUMPP, dan pihak swasta ini, Pemerintah Kota Bontang berharap UMKM lokal dapat naik kelas, memperluas pasar, dan menjadi bagian dari rantai ekonomi yang berkelanjutan.
BONTANG – Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian dan Perdagangan (DKUMPP) Kota Bontang mengingatkan kepada para pelaku usaha yang memiliki gudang, bahwa pengurusan Tanda Daftar Gudang (TDG) cukup mudah.
Kepala Bidang Perdagangan DKUMPP Kota Bontang, Sunita Sinaga menerangkan, proses penerbitan TDG kini dilakukan melalui sistem Online Single Submission (OSS) yang telah terintegrasi dengan instansi teknis lainnya.
Di sistem OSS ini, pelaku usaha dapat mendaftarkan dan mengurus izin secara mandiri, mulai dari pembuatan akun, pemilihan jenis perizinan, hingga pengajuan TDG yang secara otomatis akan terhubung ke DKUMPP.
Namun sebelum mengajukan TDG, pemilik gudang wajib memiliki Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) izin yang sebelumnya dikenal sebagai Izin Mendirikan Bangunan (IMB).
“Dalam OSS itu proses perizinan sudah dipermudah, tapi pelaku usaha tetap harus memastikan persyaratan dasarnya lengkap, termasuk PBG. Jika semua terpenuhi, pengurusan TDG bisa dilakukan dengan cepat,” tambahnya.
Ditambahkan, kepemilikan TDG bukan hanya soal kepatuhan terhadap regulasi, tetapi juga bagian dari pendataan dan pengawasan aktivitas pergudangan di Kota Bontang.
“Kalau TDG sudah terbit, data gudang di Bontang akan lebih tertata, dan pengawasan dari pemerintah bisa dilakukan lebih efektif,” pungkasnya.
BONTANG – Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Bontang melakukan pengawasan rutin terhadap kegiatan usaha di wilayahnya.
Saat ini, terdapat lebih dari 200 unit usaha yang diawasi, mencakup tiga sektor utama, yakni kesehatan, perizinan berusaha, dan bangunan.
Isma Istihari, Jabatan Fungsional Penata Perizinan DPMPTSP Kota Bontang, mengatakan bahwa pengawasan dilakukan secara berkala untuk memastikan seluruh pelaku usaha mematuhi ketentuan izin yang dimiliki.
“Ada perizinan sektor kesehatan, ada perizinan berusaha, dan ada sektor bangunan. Jumlah ketiganya ada 200 lebih,” ujarnya, Jumat (7/11/2025).
Pengawasan tersebut mengacu pada Peraturan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Nomor 5 Tahun 2021 tentang Pedoman dan Tata Cara Pengawasan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko. Kegiatan ini bertujuan memastikan pelaku usaha memenuhi persyaratan dan kewajiban sebagaimana tertuang dalam izin yang dimiliki.
Dalam pelaksanaannya, DPMPTSP Bontang menilai dua indikator utama, yakni kepatuhan teknis dan kepatuhan administratif.
Kepatuhan teknis meliputi pemenuhan persyaratan dan kewajiban teknis dalam perizinan berusaha.
Kepatuhan administratif mencakup sejumlah aspek, seperti rasio realisasi penanaman modal, penyampaian laporan berkala, penyerapan tenaga kerja Indonesia, kemitraan dengan koperasi dan UMKM, serta pemanfaatan fasilitas dan insentif yang diberikan pemerintah
Selain menilai indikator tersebut, pengawasan juga dilakukan untuk memastikan pelaku usaha menyampaikan Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) secara berkala. Laporan ini menjadi dasar evaluasi terhadap realisasi investasi dan perkembangan usaha di daerah.
“Kami awasi juga kesesuaian antara izin dan jenis usaha yang dijalankan. Misalnya, izinnya konstruksi tapi kegiatan yang dijalankan justru berbeda, tentu akan kami tindaklanjuti,” tambahnya
Selain memastikan kepatuhan, DPMPTSP juga melakukan pembinaan bagi perusahaan yang menghadapi kendala dalam kegiatan usaha maupun pelaporan LKPM. Jika ditemukan pelanggaran, maka dapat dikenakan sanksi administratif sesuai ketentuan.
Suasana tenang dan tertata rapi, salah satu desa terbersih di dunia.
Perjalanan ini berawal bukan dari rencana liburan. Tujuan utama saya ke Bali adalah menjenguk kakak kedua yang sedang sakit cukup serius. Ia tinggal di daerah Legian. Sudah lama kami tidak bertemu, dan saat mendengar kabarnya, saya merasa harus datang. Saya berangkat bersama istri dan putri saya, ditemani kakak saya yang nomor tujuh. Saya sendiri anak kedelapan.
Setiba di Denpasar, kami langsung menuju rumahnya. Kondisinya belum pulih, tapi ia masih bisa tersenyum menyambut kami. Saya hanya bisa berdoa agar ia diberi kesembuhan dan kekuatan. Tentang perjalanan batin ini, mungkin akan saya tulis lebih panjang di lain waktu.
Karena sudah berada di Bali, saya memanfaatkan waktu empat hari untuk sekadar “berlibur tipis-tipis”. Tidak ada jadwal ketat, tidak ada target wisata tertentu. Saya hanya ingin menikmati suasana Pulau Dewata tanpa tergesa.
Di Bebek Tepi Sawah, menikmati makan siang di tengah hujan dengan pemandangan hijau yang menenangkan.
Kami menginap di Harris Hotel Kuta Galleria, hotel yang cukup strategis dan nyaman untuk keluarga. Hujan turun hampir setiap hari, tapi udara lembap dan langit mendung justru memberi ketenangan. Bali di musim hujan terasa lebih lembut dan lebih manusiawi.
Saya memulai perjalanan menuju Desa Adat Penglipuran di Bangli, salah satu desa terbersih di dunia. Begitu tiba, kesan pertama adalah keteraturan. Jalan batu tersusun rapi, rumah bambu berjajar simetris, dan aroma dupa memenuhi udara. Warga tampak berbincang santai sambil menata bunga persembahan, sementara ratusan siswa tengah melakukan studi tur. “Kami diminta mencari tahu tradisi di sini,” kata seorang siswa kelas 8 dari MTS Surakarta. Di Penglipuran, kebersihan bukan sekadar program, tapi sudah menjadi budaya. Desa ini hidup dalam keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan.
Dari Penglipuran, saya melanjutkan perjalanan ke Kintamani dengan harapan menikmati kopi panas sambil menatap Gunung Batur. Namun langit mendadak gelap, hujan deras turun tanpa jeda, dan kabut menutupi pemandangan. Saya memutuskan turun ke arah Ubud dan berhenti di restoran Bebek Tepi Sawah. Suasananya tenang, diapit hamparan sawah yang basah. Aroma sambal matah dan rempah khas Bali menyeruak dari dapur. Makan siang di tengah hujan itu menjadi momen paling berkesan. Kadang, perjalanan tak harus sempurna untuk meninggalkan kenangan yang baik.
Warga melaksanakan sembahyang menghadap laut, suasana spiritual di tepi ombak Pantai Sanur.
Sore harinya, kami menuju Pantai Sanur. Ombak kecil berkejaran di tepi pantai, beberapa warga berpakaian putih sembahyang menghadap laut. Saya duduk diam, memperhatikan mereka. Laut di Bali bukan sekadar tempat wisata, tapi ruang spiritual di mana doa dan alam saling menyapa.
Keesokan harinya, hujan kembali turun. Saya memilih berkunjung ke The Keranjang dan Krisna Oleh-Oleh. Dua tempat yang sama-sama ramai, tapi punya karakter berbeda. The Keranjang tampil modern dan artistik, sementara Krisna tetap jadi favorit karena harganya bersahabat. Kami membeli beberapa oleh-oleh seperti pie susu, kopi, dan kacang Bali.
Setelah itu, kami singgah ke Pantai Kuta. Kontras dengan Sanur, Kuta lebih hidup. Turis berseliweran, musik kafe berdentum, pedagang asongan menawarkan jasa pijat dan minuman. Namun menjelang senja, suasana berubah lembut. Langit oranye keemasan, matahari perlahan tenggelam di balik laut, dan siluet patung kesatria Bali di gerbang pantai tampak gagah. Di bawah langit senja Kuta, saya merasa kembali pulang, bukan ke rumah, tapi ke rasa syukur.
Patung kesatria Bali berdiri megah menyambut senja di Pantai Sanur.
Malamnya, saya sempat bertemu sahabat lama, Lukas Banu, alumni SMA 5 Balikpapan yang kini sukses sebagai lawyer internasional. Kami berbincang santai soal profesi dan rencana kecil mengembangkan SiaranBali.com, media hukum dan budaya yang sedang kami bangun bersama. Pertemuan itu singkat tapi berkesan. Mengingatkan bahwa perjalanan sering kali mempertemukan kita dengan masa lalu yang membawa inspirasi baru.
Empat hari di Bali berlalu cepat. Saya tak mengunjungi banyak tempat, tapi setiap langkah punya cerita. Bali kali ini bukan tentang petualangan besar, melainkan perjalanan kecil untuk menenangkan diri dan berterima kasih atas hidup.
Soal biaya, banyak yang mengira perjalanan lintas negara itu mahal. Faktanya, dengan perencanaan matang, semuanya bisa diatur tetap hemat. Total biaya perjalanan ini sudah termasuk tiket pesawat, sewa kendaraan, dan akomodasi — bertiga selama di Bali, serta berdua selama di Singapura dan Kuala Lumpur.
Tiket pesawat Balikpapan–Denpasar sekitar Rp1,8 juta, sewa mobil empat hari Rp1,3 juta, tiket Denpasar–Singapura Rp2,4 juta, bus Singapura–Kuala Lumpur Rp1 juta, dan tiket pulang Kuala Lumpur–Balikpapan Rp3,4 juta. Untuk penginapan: Harris Hotel Denpasar Rp1,8 juta (4 hari), Hotel Boss Singapura Rp4,8 juta (3 malam), dan Berjaya Times Square Kuala Lumpur Rp2,4 juta (2 malam).
Jika dijumlahkan, total keseluruhan perjalanan selama 9 hari ke tiga negara ini mencapai sekitar Rp19 juta. Apabila biaya hotel dipisahkan, maka biaya transportasi dan aktivitas wisata hanya sekitar Rp9,5 juta, masih tergolong hemat untuk perjalanan lintas negara dengan pengalaman penuh selama di Bali, Singapura, dan Kuala Lumpur.
Bersama Lukas Banu, sahabat lama yang kini menjadi lawyer internasional, berbincang santai di Denpasar.
Bagi yang ingin lebih irit, banyak penginapan alternatif yang tetap nyaman. Di Singapura, ada Hotel 81 Bugis, The Pod Capsule Hostel, dan Beary Best Chinatown dengan tarif mulai Rp400–900 ribu per malam. Sementara di Kuala Lumpur, bisa memilih Citin Seacare Pudu, Hotel Sentral KL, atau Ahyu Hotel Chinatown dengan harga Rp350–550 ribu per malam. Dengan pilihan ini, biaya perjalanan bisa ditekan hingga 40 persen tanpa kehilangan kenyamanan.
Setelah urusan di Bali selesai, saya dan istri melanjutkan perjalanan ke Singapura, lalu ke Kuala Lumpur. Anak saya lebih dulu kembali ke Balikpapan karena kuliah. Sejak awal, saya memang ingin mencoba perjalanan lintas negara dengan gaya backpacker — berjalan kaki, naik grab, naik MRT, dan menikmati kota dengan langkah perlahan.
Perjalanan di Singapura baru saya mulai Jumat (7/11) hari ini. Dan seperti biasa, setiap langkah baru selalu membawa rasa penasaran yang sama: tentang tempat yang belum dikunjungi, orang yang belum ditemui, dan cerita yang menunggu untuk ditulis. (bersambung)