Beranda blog Halaman 573

MTQ Tingkat Kecamatan Bontang Selatan Resmi Ditutup

0
Penutupan MTQ tingkat kecamatan Bontang Selatan. (Syakurah)

BONTANG – Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Kecamatan Bontang Selatan Resmi ditutup, Rabu (3/8/2025) di BPU Kecamatan Bontang Selatan.

Penutupan kegiatan tersebut, diawali dengan penampilan rabana dan dilanjut dengan pengumuman para pemenang serta pengundian doorprize.

Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris mengungkapkan kegiatan ini sekaligus membumikan Al-Qur’an serta menjadikan nilai-nilainya menjadi pedoman hidup sehari-hari.

Kegiatan ini telah berlangsung sejak tanggal 29 Agustus sampai dengan 3 September 2025, “Kita bersama-sama menyaksikan berbagai cabang lomba seperti tilawah, tartil, tahfizh, syarhil, fahmil, khotmil qur’an, dan cabang lainnya yang memperlihatkan kemampuan terbaik para peserta lainnya,” ujarnya.

“МTQ Menebar Rahmat, Menyatukan Umat.” menjadi tema yang sangat relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini. Sebab, melalui syiar al-Qur’an, kita diingatkan bahwa Islam adalah rahmat bagi seluruh alam, dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat menjadi perekat persatuan umat.

Dengan berlandaskan nilai-nilai al-qur’an, kita berharap masyarakat Kota Bontang dapat semakin bersatu dalam menjaga persaudaraan, membangun kebersamaan, serta mewujudkan kehidupan yang harmonis dan penuh keberkahan.

“Semoga yang belum mendapatkan juara tetap bersemangat untuk mengikuti lomba MTQ di tahun selanjutnya,” tutupnya. (sya/adv)

Editor: Yusva Alam

Lanal Sangatta Gembleng 270 Taruna SMKN 2 di Program LDDK

0
Lanal Sangatta Gembleng 270 Taruna SMKN 2 di Program LDDK
Kegiatan LDDK yang ditutup oleh Wali Kota Bontang. (Syakurah)

BONTANG – Wali Kota Bontang resmi menutup kegiatan Latihan Dasar Disiplin Korps (LDDK) SMK Negeri 2 Kota Bontang, Rabu (4/8/2025).

Kegiatan ini merupakan salah satu upaya pembinaan karakter, melalui kegiatan Latihan Dasar Disiplin Korps (LDDK) yang dibina oleh TNI-AL dari Lanal Sangatta.

Kegiatan yang dilaksanakan dalam pelatihan berupa latihan baris-berbaris, tata upacara, dan penghormatan militer. Kemudian pembinaan mental, wawasan kebangsaan, bela negara, dan karakter.

Latihan fisik dan olahraga kebugaran, ada juga keagamaan dan pembinaan rohani, latihan kepemimpinan, kerja sama tim, serta kegiatan malam keakraban.

Kegiatan ini diikuti sebanyak 270 taruna dan taruni kelas 10 SMK Negeri 2 Bontang selama 9 hari, mulai 26 Agustus hingga 3 September 2025.

Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni berharap LDDK ini menjadi bekal penting bagi taruna/taruni untuk menempuh pendidikan di SMK Negeri 2 Bontang, serta menyiapkan generasi muda yang lebih baik, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan di masa depan.

“Saya mengapresiasi SMK Negeri 2 yang telah menyelenggarakan kegiatan ini, melibatkan angkatan laut dari Lanal Sangatta, serta para mitra dari dunia usaha, dunia industri, instansi pemerintahan,” ujarnya.

Selain LDDK, SMK Negeri 2 Bontang juga mengimplementasikan pembelajaran mendalam melalui kegiatan Teaching Factory (TEFA) Agribisnis Pengolahan Hasil Perikanan. Program ini menghasilkan produk-produk unggulan yang siap dipasarkan dengan dukungan dari Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan Kota Bontang.

“Saya melihat integrasi antara kegiatan LDDK dengan agribisnis pengolahan hasil perikanan, lantaran produk-produk yang dihasilkan menunjukkan potensi besar untuk dikembangkan sebagai produk unggulan lokal kota bontang,” tuturnya. (sya/adv)

Editor: Yusva Alam

Tekan Angka Stunting, Peringati Hari Anak Nasional!

0

Pembaca Setia Radar Bontang!
Dalam momentum peringatan Hari Anak Nasional, Pemerintah Kota Bontang menegaskan komitmennya untuk menekan angka stunting melalui berbagai program strategis demi masa depan generasi sehat dan berkualitas.

Baca selengkapnya di Koran Digital Radar Bontang edisi Kamis, 4 September 2025.

👉 Baca E-Paper Lengkap
👉 Akses Versi Mobile

Radar Bontang – Aktual & Terpercaya!

Mencegah Perundungan dengan CCTV, Efektifkah?

0
Desy Arisanti, S. Si. (Ist)

Oleh:
Desy Arisanti, S. Si

Bullying atau perundungan masih menjadi masalah serius yang terus terjadi. Trennya semakin meningkat tiap tahun. Pelakunya semakin banyak dan tidak mengenal usia. Terbanyak terjadi di lingkungan sekolah.

Oleh karena itu, Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni memerintahkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) untuk melengkapi sekolah dengan perangkat Closed Circuit Television (CCTV).

Menurutnya, perangkat CCTV tidak terlalu mahal dan memiliki manfaat yang luar biasa. Guru dan disdikbud bisa memantau aktivitas yang terjadi di lapangan. Salah satunya, untuk mengawasi terjadinya perundungan di lingkungan sekolah.

Sementara itu, Plt Kepala Disdikbud Saparuddin mengatakan, pengadaan CCTV di sekolah sudah dianggarkan untuk APBD Perubahan 2025. Pengadaannya dilakukan secara bertahap karena menyesuaikan kondisi keuangan daerah. Namun, nantinya semua akan dilengkapi CCTV. Hanya saja, ketentuan ini berlaku hanya untuk sekolah negeri. (Kaltimpost.id, 14/08/2025)

Perundungan Kian Meningkat 

Perundungan atau bullying adalah penggunaan kekerasan, ancaman, atau paksaan untuk menyalahgunakan atau mengintimidasi orang lain. Perundungan bisa berupa fisik, verbal maupun psikologis. Saat ini perundungan menyasar semua level pendidikan, mulai dari SD, SMP dan SMA, termasuk perguruan tinggi.

Angka perundungan kian meningkat tiap tahunnya. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melaporkan sekitar 3.800 kasus perundungan pada tahun 2023, dengan sebagian besar terjadi di lembaga pendidikan. Sumber lain dari KPAI dan FSGI menyebutkan sekitar 1.478 kasus pada tahun 2023, menunjukkan adanya peningkatan tajam. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, di mana pada tahun 2022 terdapat 266 kasus, tahun 2021 sebanyak 53 kasus, dan 2020 tercatat 119 kasus, menurut KBR.ID.

Pemerintah sendiri sudah berupaya untuk mengatasi masalah perundungan ini. Permendikbudristek No. 82 Tahun 2015 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Satuan Pendidikan, mendorong sekolah untuk membuat tata tertib dan program anti-kekerasan, serta membentuk Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK).

Pemerintah daerah juga berperan dalam menyusun peraturan kepala daerah, mengalokasikan anggaran, dan membentuk Satuan Tugas (Satgas) pencegahan kekerasan di satuan pendidikan.

Pemerintah juga menetapkan program yang bertujuan melindungi anak dari kekerasan, seperti Sekolah Ramah Anak, Kota Layak Anak, Pendidikan Karakter, Revolusi Mental, hingga Kurikulum Merdeka. Namun, semua itu seakan-akan tidak bertaji sehingga kasus perundungan masih marak terjadi.

CCTV Tidak Cukup 

Wacana pencegahan perundungan di sekolah dengan memasang CCTV telah banyak dijadikan solusi. Harapannya, perundungan di sekolah dapat diawasi dan dicegah. Namun, apakah ini efektif?

Untuk benar-benar mampu mencegah aktivitas perundungan di sekolah, tentu akan membutuhkan kamera CCTV yang memadai jumlahnya untuk dipasang di tiap sudut sekolah, bukan hanya satu. Dan, ini berkaitan dengan ketersediaan dana.

Di sisi lain, pelaku perundungan yang menyadari adanya kamera pengintai ini akan lebih waspada akan aksinya. Bisa jadi, mereka melakukannya tidak di sekolah tapi di luar sekolah ketika waktu pulang. Dan, ini tidak terawasi CCTV.

Apalagi, menurut penjelasan pihak terkait, bahwa kamera CCTV ini hanya dianggarkan untuk sekolah negeri saja. Artinya, sekolah swasta tidak mendapatkan jatah. Maka, perundungan tidak dapat dicegah secara tuntas di lingkungan sekolah.

Perundungan Dampak Sekuler Liberalisme 

Tingginya angka perundungan dan trennya yang semakin meningkat tiap tahun telah menunjukkan ketidakberhasilan program yang telah ditetapkan pemerintah. Karena perundungan lahir dari rahim liberalisme yang sangat mendewakan kebebasan. Salah satunya adalah kebebasan berekspresi dan bertingkah laku. Seseorang bebas untuk melakukan apapun sesuai pandangannya. Atau, dengan kata lain, bebas berbuat mengikuti hawa nafsunya.

Liberalisme merupakan bagian dari sistem sekuler kapitalisme saat ini. Dalam sistem ini, agama perannya nol dalam kehidupan. Agama tidak boleh dibawa dalam kehidupan. Walhasil, lahirlah orang-orang yang imannya lemah, tidak memiliki adab dan akhlak yang baik. Lahir orang-orang bejat yang tidak takut akan akhirat.

Lihatlah, bagaimana perundungan itu dilakukan. Tidak ada rasa takut sama sekali menyakiti, menganiaya atau menzolimi temannya sendiri. Termasuk tidak takut untuk diadili. Karena sistem sanksi yang ada pun sangat lemah, tidak tegas dan tidak menjerakan pelaku. Apalagi usia pelaku masih di bawah 17 tahun, biasanya hanya direhabilitasi. Padahal, boleh jadi kejahatan yang dilakukan sangat mengerikan.

Menyolusi Tuntas Perundungan 

Dalam pandangan Islam, perundungan merupakan perbuatan tercela. Islam adalah agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, termasuk menghormati dan menyayangi sesama manusia. Oleh karena itu, Islam melarang segala bentuk tindakan yang dapat menyakiti atau merendahkan orang lain. Allah SWT berfirman dalam surah Al-Hujurat ayat 11:
_“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok). Dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, mereka itulah orang-orang yang zalim.”_

Sistem Islam memiliki solusi yang komprehensif untuk mengatasi masalah perundungan. Solusi ini melibatkan pihak keluarga, lingkungan atau masyarakat dan negara.

Keluarga adalah pihak yang meletakkan pondasi awal yang kuat pada anak dengan penanaman akidah Islam. Anak dikenalkan siapa Tuhannya, tujuan hidupnya, diajarkan akhlak yang baik dan pemahaman tentang agamanya. Sehingga anak memiliki iman yang kuat, ilmu yang benar serta prilaku yang baik dalam kehidupan.

Lingkungan masyarakat pun memiliki peran yang besar untuk mencegah terjadinya perundungan, yakni dengan adanya aktivitas amar makruf nahi mungkar (menyeru kebaikan dan mencegah keburukan) di tengah masyarakat. Aktivitas ini merupakan bentuk kepedulian terhadap sesama yang kita sebut dakwah.

Islam mengajarkan bahwa ketika melihat kemungkaran maka kita harus merubahnya sesuai kemampuan. Bisa dengan tangan (kekuatan/power), lisan (ucapan) bahkan dengan hati yang mengingkari. _”Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, dan jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemah iman”_ (HR. Muslim)

Adapun negara memiliki peran yang mengambil dan menerapkan kebijakan untuk melindungi dan mengayomi rakyatnya. Negara (khilafah) akan mengatur kehidupan masyarakat dengan aturan Islam yang menyeluruh. Aturan ini berasal dari Rabb Pencipta Alam. Tentu, aturannya adalah yang terbaik untuk manusia.

Negara akan menyelenggarakan pendidikan yang berbasis akidah Islam. Outputnya, lahir generasi yang beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, jauh dari moral yang buruk dan memahami baik buruk sesuai syariat Islam sebagai bekal mengarungi kehidupan.

Negara pun akan menerapkan sanksi Islam yang tegas dan menjerakan jika ada yang melakukan kejahatan atau melanggar aturan.

Demikianlah, solusi komprehensif Islam dalam mengatasi perundungan. Solusi tuntas dengan melibatkan peran keluarga, masyarakat dan negara yang menerapkan aturan Islam secara menyeluruh (kaffah).

Aliansi Ampera Sampaikan Aspirasi ke Dewan, Serukan 17 Tuntutan Nasional dan 5 Isu Lokal

0
Aliansi Ampera Sampaikan Aspirasi ke Dewan, Serukan 17 Tuntutan Nasional dan 5 Isu Lokal
Aliansi Ampera saat audiensi bersama DPRD Bontang. (Ist)

BONTANG – Audiensi Aliansi Amanat Penderitaan Rakyat (Ampera) bersama DPRD Kota Bontang digelar pada Rabu (3/9/2025) di Ruang Rapat Paripurna DPRD Bontang, Kelurahan Bontang Lestari.

Audiensi dipimpin langsung Ketua DPRD Kota Bontang, Andi Faizal Sofyan Hasdam, bersama jajaran pimpinan DPRD, Kapolres Bontang, AKBP Widho Anriano, serta perwakilan Kodim 0908 Bontang. Hadir pula 30 perwakilan mahasiswa dan organisasi kemasyarakatan yang tergabung dalam Aliansi Ampera.

Dalam kesempatan tersebut, Aliansi Ampera menyampaikan 17 poin tuntutan isu nasional dan 5 poin isu lokal.

Isu nasional yang diangkat di antaranya terkait penghentian keterlibatan TNI dalam pengamanan sipil, transparansi anggaran DPR, hingga perlindungan hak-hak buruh.

Sementara isu lokal yang ditekankan meliputi pengawasan CSR perusahaan, beasiswa pendidikan, percepatan penanganan banjir, penerapan perda pekerja lokal, dan regulasi kepemudaan.

Ketua DPRD Kota Bontang menegaskan apresiasinya terhadap langkah mahasiswa, yang memilih jalur audiensi dibanding aksi turun ke jalan.

“Kami sangat menghargai semangat adik-adik mahasiswa. Aspirasi ini akan kami terima, dan DPRD Bontang berkomitmen menindaklanjuti baik isu nasional melalui DPR RI maupun isu lokal sebagai agenda prioritas kami,” ujarnya.

Dialog berlangsung terbuka dan interaktif, ditutup dengan pembacaan serta penandatanganan berita acara audiensi yang ditandatangani oleh DPRD, Kapolres Bontang, dan perwakilan Kodim.

Dalam kesepakatan tersebut, kedua belah pihak berkomitmen menjadikan forum audiensi sebagai ruang komunikasi lanjutan, agar isu-isu masyarakat Bontang terus dikawal secara bersama.

AKBP Widho Anriano turut menyampaikan apresiasi terhadap jalannya audiensi yang berlangsung kondusif.

“Polres Bontang mendukung penuh upaya penyampaian aspirasi melalui mekanisme dialog seperti ini. Inilah wujud demokrasi yang sehat, aspirasi tersampaikan tanpa mengganggu ketertiban umum,” tegasnya. (Rls Humas Polres)

Editor: Yusva Alam

19 Poket Sabu Seberat 14,59 Gagal Edar, Pelaku Dibekuk di Selambai

0
19 Poket Sabu Seberat 14,59 Gagal Edar, Pelaku Dibekuk di Selambai
Barang bukti yang berhasil diamankan polisi (Ist).

BONTANG – Satresnarkoba Polres Bontang berhasil mengamankan seorang pria berinisial Al alias Ac (29) yang diduga sebagai pengedar sabu.

Terduga tertangkap basah oleh penyelidik saat ditemukannya 19 poket sabu siap edar dengan berat 14,59 gram di sebuah rumah di wilayah Selambai, Loktuan, Rabu (3/9/2025), sekitar pukul 18.20 Wita.

“Kami melakukan penyelidikan sebab adanya informasi dari masyarakat,” ucap Kapolres Bontang melalui Kasat Resnarkoba Polres Bontang, AKP Rihard Nixon.

Adapun sejumlah barang bukti pendukung lainnya, yang berhasil petugas amankan saat penggeledahan seperti timbangan digital, alat hisap, sendok plastik, sedotan, tas kecil, uang tunai sebesar Rp 174 ribu, serta satu unit handphone.

Terduga Ac (29) pun telah mengakui jika seluruh barang bukti tersebut adalah miliknya. Dirinya juga membeberkan bahwa mendapatkan sabu itu dengan sistem jejak.

“Bahkan Ac telah dikenal oleh warga sekitar, sebagai pengedar sabu yang sudah meresahkan masyarakat,” tutupnya.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Tersebar di 3 Kecamatan, Bontang Utara 1 Mendominasi 44 ODGJ

0
Tersebar di 6 Kecamatan, Bontang Utara 1 Mendominasi 44 ODGJ
Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris. (Ist).

BONTANG – Dinas Kesehatan (Dinkes) menyampaikan, sampai di 2025 ini, terdapat sebanyak 166 Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) berat, yang sudah ditangani dari target 210 kasus. Mereka semua tersebar di 3 kecamatan, dengan jumlah terbanyak di Kecamatan Bontang Utara I sekitar 44 ODGJ.

Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris pun menegaskan, pemerintah memiliki kewajiban konstitusional, untuk melindungi dan mensejahterakan seluruh rakyatnya termasuk dalam aspek kesehatan jiwa.

Data yang telah dirilis oleh Dinkes menunjukkan jumlah ODGJ di wilayah Kota Bontang mengalami fluktuasi, dari awalnya 200 kasus di 2021 kini naik menjadi 219 kasus tepat pada 2024 lalu.

Maka Agus Haris menyatakan, permasalahan kesehatan jiwa masih menjadi tantangan yang serius, dengan penyebab yang beragam. Mulai dari faktor ekonomi, keluarga, hingga persoalan sosial.

“Karena itu, penanganannya harus melibatkan pemerintah, bahkan RT/RW, tokoh agama, aparat, dan dukungan perusahaan melalui CSR,” ucapnya saat sosialisasi berlangsung, Rabu (3/9/2025).

Agus Haris sangat berharap melalui kegiatan sosialisasi ini, nantinya mampu meningkatkan kesadaran masyarakat serta menguatkan peran keluarga sebagai benteng pertama, dalam mendukung anggota yang mengalami gangguan mental.

Kesempatan yang sama, Kepala Dinkes Bontang, Bahtiar Mabe menyampaikan bahwa dalam penanganan ODGJ tidak bisa hanya mengandalkan dari Dinkes saja, tetapi sangat membutuhkan kerja sama antar lintas sektor, mulai dari Dinas Sosial (Dinsos), Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), hingga dengan pihak kelurahan, dan juga RT/RW setempat. (Dwi/Adv)

Editor: Yusva Alam

Pemkot Gelar Sosialisasi dan Advokasi Kesehatan Jiwa, Demi Tingkatkan Pemahaman dan Kepedulian Masyarakat

0
Pemkot Gelar Sosialisasi dan Advokasi Kesehatan Jiwa, Demi Tingkatkan Pemahaman dan Kepedulian Masyarakat
Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris saat sosialisasi di Pendopo, Rujab. (Ist).

BONTANG – Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang menggelar sosialisasi dan advokasi terkait kesehatan jiwa, melalui Tim Penggerak Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM) di Pendopo, Rumah Jabatan (Rujab) Wali Kota, Rabu (3/9/2025).

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya bersama untuk meningkatkan pemahaman dan kepedulian masyarakat, terhadap isu-isu kesehatan jiwa, serta memperkuat peran TPKJM dalam menangani persoalan tersebut di tingkat lokal.

Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris dalam sambutannya menekankan, bahwa kesehatan termasuk dengan kesehatan jiwa merupakan salah satu program prioritas dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Bontang di tahun 2025–2029 mendatang.

Kesehatan jiwa adalah aspek penting dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Tanpa kesehatan jiwa yang baik, tidak mungkin kita bisa mewujudkan masyarakat yang produktif dan sejahtera.

“Karena itu, TPKJM memiliki peran strategis dalam mendorong kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap isu ini,” ucapnya, Rabu (3/9/2025).

Lebih lanjut, Agus Haris berharap agar TPKJM tidak hanya menjadi simbol semata saja, tetapi benar-benar mampu menjadi wadah yang efektif untuk menjaring aspirasi masyarakat, memberikan edukasi, serta mendorong kolaborasi lintas sektor.

“Saya berharap TPKJM bisa menjadi jembatan antara masyarakat, pemerintah, dan stakeholder lainnya dalam menyelesaikan berbagai persoalan kesehatan jiwa. Kolaborasi dan partisipasi aktif dari semua pihak sangat dibutuhkan untuk menciptakan ekosistem yang mendukung pemulihan dan perlindungan kesehatan mental,” jelasnya.

Kegiatan sosialisasi dan advokasi ini sangat diharapkan dapat menjadi langkah awal yang konkret, dalam menciptakan Kota Bontang yang lebih peduli dan tanggap terhadap isu-isu kesehatan jiwa.

Sehingga dengan dukungan penuh dari pemerintah daerah, tenaga kesehatan, dan juga masyarakat, diharapkan program-program TPKJM dapat terus berkembang dan memberikan dampak positif bagi seluruh lapisan masyarakat. (Dwi/Adv)

Editor: Yusva Alam

IGTKI – PGRI Bontang Peringati Hari anak Nasional, Semarakan dengan Senam Bersama dan Makan Gizi Seimbang

0
IGTKI - PGRI Bontang Peringati Hari anak Nasional, Semarakan dengan Senam Bersama dan Makan Gizi Seimbang
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni dalam rangka peringatan Hari Anak Nasional, di Stadion Lang-Lang (Ist).

BONTANG – Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia – Persatuan Guru Republik Indonesia (IGTKI – PGRI) Bontang menggelar kegiatan senam bersama dan makan gizi seimbang bagi seluruh anak Paud/TK se-Kota Bontang dalam memperingati Hari anak Nasional.

Kegiatan ini berlangsung untuk menyemarakkannya Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia (RI) ke-80, yang berlokasi di Stadion Bessai Berinta (Lang-Lang), Selasa (2/9/2025).

Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni yang turut hadir langsung memberikan motivasi dan pesan kebangsaan kepada seluruh peserta yang hadir. Saat sambutan, dirinya menekankan pentingnya membentuk sumber daya manusia yang unggul dimulai dari anak-anak.

Terlebih lagi, Kota Bontang harus mampu mencetak sumber daya yang berkualitas, dan itu dimulai dari anak-anak yang tumbuh dengan cerdas dan sehat.

“Dengan adanya pembelajaran di sekolah bersama para guru, bimbingan dari orang tua di rumah, serta pemberian makanan bergizi, InsyaAllah tujuan itu bisa kita capai bersama,” ucapnya.

Lebih lanjut, dirinya juga mengajak para tenaga pendidik dan orang tua untuk bersama-sama menjaga komitmen dalam menurunkan angka stunting di Kota Bontang.

Menurutnya, mencegah stunting bukan hanya tanggung jawab dari pemerintah saja, akan tetapi juga menjadi tanggung jawab bersama sebagai bagian dari masyarakat yang peduli terhadap masa depan generasi bangsa.

“Mari kita jaga semangat dalam menurunkan angka stunting. Jangan sampai tercipta lagi stunting-stunting baru di Kota Bontang. Kita semua punya peran, baik itu guru, orang tua, dan maupun masyarakat. Mari kita bangun generasi sehat dan kuat dari sekarang,” jelasnya.

Suasana menjadi semakin ceria saat Wali Kota Bontang mengajak seluruh peserta untuk melakukan senam bersama. Tawa dan semangat anak-anak mengiringi gerakan senam yang dipandu oleh instruktur, memperlihatkan keceriaan khas anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan yang penuh perhatian dan kasih sayang.(Dwi/Adv)

Editor: Yusva Alam

Pemkot Serahkan Bantuan Beras 5 Kilogram ke Ojol Bontang

0
Pemkot Serahkan Bantuan Beras 5 Kilogram ke Ojol Bontang
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni saat sesi temu dengan Ojol di Pendopo, Rujab. (Ist).

BONTANG – Pemerintah Kota (Pemkot) menyerahkan bantuan sosial berupa paket beras SPHP sebanyak 5 kilogram ke pengemudi ojek online (Ojol) di Bontang. Penyerahan berlangsung di Pendopo, Rumah Jabatan (Rujab) Wali Kota, Selasa (2/9/2025).

Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni mengatakan bahwa pentingnya peran pengemudi Ojol yang tidak hanya berkontribusi dalam perekonomian kota, tetapi juga memperkuat ketahanan sosial di tengah berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat.

Terlebih lagi dengan adanya keberadaan Ojol, sangat berperan dalam memperlancar aktivitas ekonomi masyarakat dan memberikan dampak yang positif bagi kehidupan sosial di wilayah Bontang.

Keberadaan Ojol sangat strategis bukan hanya mendukung dalam perekonomian saja, tetapi juga menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan sosial di Bontang,” ungkapnya.

Sehingga, Neni sangat berharap dengan adanya bantuan sosial ini, dapat sedikit meringankan beban Ojol dalam menjalankan aktivitasnya sehari-hari.

Adapun kegiatan ini juga mencerminkan wujud nyata kerjasama yang solid antar pemerintah daerah, aparat kepolisian, serta komunitas Ojol dalam menjaga keamanan dan ketertiban Kota Bontang.

“Sangat diharapkan melalui sinergi yang terjalin, suasana aman, tertib, dan kondusif dapat terus terjaga. Sekaligus mempererat hubungan antara pemerintah dengan masyarakat,” tutupnya. (Dwi/Adv)

Editor: Yusva Alam