Beranda blog Halaman 604

Pelatihan Membatik, Dorong Peserta Lestarikan Batik Sekaligus Bernilai Jual

0
Pimpinan LPK dan instruktur pelatihan membatik saat menunjukkan proses pembuatan batik tulis dan ecoprint. (Dwi/RadarBontang).

BONTANG – Pemerintah Kota (Pemkot) melalui Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Bontang membuka pelatihan membatik, bersama Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Yogi Training Center, Minggu (29/6/2025) sore.

Kepala Bidang (Kabid) Pelatihan Produktivitas dan Penetapan Tenaga Kerja (Lattas dan Penta Kerja) Disnaker Bontang, Lukmanul Hakim mengatakan, program pelatihan membatik adalah salah satu program yang menjadi aspirasi dan keinginan dari masyarakat. Sebab, masyarakat ingin adanya pelatihan yang menggunakan sisi keterampilan serta seni, sehingga pihaknya membuka pelatihan membatik.

Terlebih lagi dalam proses pelatihan membatik kali ini, turut mempelajari dua hal keterampilan dalam membatik, seperti ecoprint dan juga membatik tulis.

Selain itu, Lukman turut menyampaikan langsung ke pimpinan LPK dan instruktur pelatihan, untuk nantinya saat latihan berlangsung dapat membagi menjadi beberapa bagian kelompok, agar proses pembelajaran membatik dapat menghasilkan berbagai macam batik hasil peserta buat, tidak hanya terdiri satu macam saja.

“Jadi kalau dibagi per kelompok, batik yang dihasilkan ada bermacam-macam karya dari peserta. Tidak hanya satu macam saja. Saya pun ingin, peserta dapat menyerap seluruh ilmu pembelajaran terserap dengan baik, dari sisi teori maupun praktek,” ungkapnya.

Pimpinan LPK Yogi, Ade Yulya Nanda Putri Hardayat menyampaikan, bahwa dengan niat membukanya pelatihan membatik ini muncul dari pengalaman saat duduk di bangku sekolah, dimana dirinya saat ini melihat banyak sekali generasi Z yang kurang minat dengan kegiatan membatik. Padahal membatik adalah salah satu karya seni milik indonesia.

“Dengan adanya pelatihan ini, saya mengajak seluruh masyarakat terutama generasi Z untuk bisa ikut berperan aktif dalam meneruskan karya membatik kita. Sebab banyak sekali pelajaran yang didapat dari membatik, adapun jika hasilnya memuaskan pastinya ada nilai jualnya,” jelasnya.

Nanda juga menjelaskan, untuk membatik dengan ecoprint hanya menggunakan bahan-bahan sederhana yang mudah didapatkan, seperti contohnya menggunakan dari pohon ketapang dan mahoni.

Kalaupun untuk batik tulis, pastinya berbeda dengan ecoprint. Ada tahapan demi tahapan yang dilalui, entah diawalan pembelajaran terkena lelehan lilin atau wajan panas, tetapi harus tetap fokus, agar tidak keluar dari garis desain. Semua membutuhkan konsentrasi.

“Kita menggunakan bahan yang tidak sulit dicari, tetapi bentuknya unik. Nantinya pun dari hasil pelatihan membatik ini, ada nilai jualnya. Jadi ada harga dan jasa dari pembuatan setiap batiknya, baik batik tulis atau ecoprint,” paparnya.

Perlu diketahui, untuk batik ecoprint yang sudah jadi oleh peserta LPK Yogi seperti selendang serta pashmina dengan panjang kurang lebih satu meter. Adapun untuk batik tulis, masih dalam proses pengerjaan.

“Nanti macam-macam hasilnya, kita akan coba buat tote bag, bisa juga topi, atau pun ransel. Kalau sudah jadi, pastinya kita coba jual, jadi dari pelatihan ini peserta yang mengikuti selain sudah memiliki skill dasar, juga memiliki penghasilan,” jelasnya.

Kesempatan yang sama, Annisah selaku instruktur pelatihan membatik mengaku tidak ada kesulitan dalam mengajarkan peserta saat pembelajaran membatik berlangsung, baik batik tulis maupun ecoprint.

“Peserta langsung paham saja kalau di beri materi maupun praktek, jadi saya tidak merasa kewalahan. Teori lancar, praktek juga lancar, semuanya berjalan dengan baik,” tutupnya.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

400 Anak dari Keluarga Kurang Mampu Ikuti Khitanan Massal Gratis

0
Secara simbolis pemberian bingkisan ke peserta khitanan massal. (Ist).

BONTANG – Pemerintah Kota (Pemkot) bersama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Bontang menggelar khitanan massal, yang diikuti 400 anak dari keluarga kurang mampu di Kota Bontang, Sabtu (28/6/2025).

Kegiatan berlangsung selama dua hari, untuk lokasi penyelenggaraan pun berbeda-beda, terdapat tiga titik lokasi, yakni di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD), Rumah Sakit Islam Bontang (RSIB) Yabis, dan Rumah Sakit Amalia.

Ketua Baznas Bontang, Kuba Siga mengatakan, khitanan ini sepenuhnya gratis, dan ditujukan khusus untuk anak-anak dari keluarga yang membutuhkan atau kurang mampu.

Kegiatan ini merupakan wujud nyata kepedulian sesama, untuk bisa saling membantu saudara-saudara kita yang kurang mampu.

“Setiap anak yang berpartisipasi tidak hanya mendapatkan layanan khitan gratis, tapi juga mendapatkan bingkisan serta uang saku sebagai bentuk penyemangat,” ucapnya.

“Mengingat biaya khitan yang tidak sedikit, maka dengan adanya khitanan massal ini, semoga beban ekonomi mereka menjadi lebih ringan, sekaligus memastikan anak-anak mereka mendapatkan layanan kesehatan yang layak,” imbuhnya.

Lewat kegiatan ini, Kuba sangat berharap menjadi agenda rutin yang terus berlanjut, terlebih lagi dapat memberikan dampak positif, dan menebar kebahagiaan bagi lebih banyak keluarga di Bontang.

Kesempatan yang sama, Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, yang diwakili oleh Staf Ahli Pembangunan Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia (SDM) Bontang, Asdar Ibrahim turut hadir untuk menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Baznas Bontang, dimana dapat meringankan beban kaum dhuafa.

“Kami sangat bangga dan memberikan apresiasi ke Baznas Bontang, yang kembali menunjukkan kepeduliannya. Aksi seperti ini sangat membantu masyarakat kurang mampu, serta menjadi bukti nyata sinergi antara pemerintah dan lembaga sosial,” katanya.

Asdar juga turut menyampaikan pesan ke ratusan peserta khitan, untuk cepat pulih, lebih sehat, dan segera bisa beraktivitas seperti biasa. Semoga kelak menjadi anak yang saleh, berbakti kepada orang tua, hormat kepada guru, serta dapat mengejar cita-citanya setinggi mungkin.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Lansia Asal Balikpapan Meninggal di Perairan Beras Basah, Diduga Usai Bermain Banana Boat

0
Saat Sri Wahyuni di evakuasi di pelabuhan. (ist)

BONTANG — Seorang perempuan lansia bernama Sri Wahyuningsih (63), warga asal Balikpapan, meninggal dunia usai menaiki wahana banana boat, Sabtu (28/6/2025).

Peristiwa ini terjadi saat korban menaiki banana boat bersama keluarganya di Pulau Beras Basah.

Menurut laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bontang, tali penarik banana boat tiba-tiba putus di tengah laut, menyebabkan perahu karet tersebut terbalik.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Bontang, Eko Mashudi menjelaskan, korban langsung dievakuasi ke kapal utama. Namun, saat berada di atas speed boat, korban mengeluhkan sesak napas. Anak kandungnya sempat melakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP), dan sempat ada respons.

“Petugas wahana langsung melapor ke kami. Korban kemudian dibawa ke darat dan dilarikan ke RS Amalia,” ujar Eko.

Korban tiba di Dermaga Tanjung Laut Indah sekitar pukul 12.05 Wita, setelah perjalanan laut sekitar 15 menit. Sesampainya di rumah sakit, pihak medis menyatakan Sri Wahyuningsih telah meninggal dunia.

Eko menyebutkan, dugaan kuat korban mengalami serangan jantung karena kaget saat insiden banana boat terbalik. Ia juga menyoroti pentingnya pemeriksaan kondisi kesehatan wisatawan, sebelum mencoba wahana air.

“Tidak cukup hanya menyediakan pelampung. Skrining awal juga perlu, apalagi bagi wisatawan usia lanjut,” tegasnya.

Terdapat indikasi serangan jantung kepada korban, lantaran terkejut saat banana boat terbalik.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Kuota SPMB Sudah Lebihi Target, SMPN 3 Tetap Terima Belasan Anak Pesisir

0
Kuota SPMB Sudah Lebihi Target, SMPN 3 Tetap Terima Belasan Anak Pesisir
Ilustrasi. (ist)

BONTANG – SMP Negeri 3 Bontang menerima 12 siswa dari wilayah pesisir dalam proses Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran 2025/2026. Jumlah ini melampaui kuota yang ditetapkan, namun tetap diterima oleh pihak sekolah.

Dari total 210 siswa baru yang diterima, 12 di antaranya berasal dari Kampung Malahing dan Selangan.

Kepala sekolah SMPN 3 Bontang, Mukono, menyebut penerimaan ini sebagai bagian dari jalur afirmasi, untuk mendorong anak-anak pesisir tetap melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP.

“Sebetulnya sudah melebihi kuota, tapi karena mereka ingin sekolah di sini, kami terima. Ini bentuk komitmen kami untuk tetap memberikan akses pendidikan,” ujarnya, Rabu (25/6/2025).

Ia mengakui? banyak anak dari wilayah pesisir yang tidak melanjutkan sekolah setelah lulus SD. Umumnya, anak laki-laki langsung bekerja melaut, sedangkan anak perempuan menikah di usia muda.

“Makanya waktu kunjungan ke sana, kami sampaikan ke orang tua kalau sekolah akan menampung anak-anak mereka kalau memang mau lanjut,” tambahnya.

Menurutnya, tren anak pesisir yang melanjutkan sekolah di SMPN 3 mulai meningkat dua tahun terakhir. Wilayah Malahing dan Selangan menjadi penyumbang terbanyak, sedangkan dari Tihi-Tihi biasanya memilih SMPN 6 karena faktor jarak.

Selain itu, sekolah juga menerima satu siswa berkebutuhan khusus dengan diagnosa slow learner. Sementara jalur mutasi tercatat tidak terpenuhi pada tahun ini.

Untuk tahun ajaran baru, rombongan belajar ditetapkan tetap enam kelas, masing-masing maksimal 35 siswa. Tahun ajaran 2025/2026 sendiri akan dimulai pada 14 Juli mendatang, sesuai kalender pendidikan.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Anak di Bawah Umur Kembali Jadi Korban Asusila Ayah Tiri

0
Ilustrasi. (Ist).

BONTANG – Anak di bawah umur berusia 13 tahun menjadi korban kebejatan ayah tirinya, RS (39).

Kejadian terungkap tepat Sabtu (21/6/2025) lalu, saat ibu korban membawa putrinya ke Puskesmas karena mengeluhkan sakit kepala.

Dari hasil pemeriksaan medis menunjukkan, bahwa korban tengah mengandung dengan usia kehamilan sekitar tiga bulan.

Sehingga ibu korban langsung menanyakan hal tersebut kepada korban, dan sang anak mengakui bahwa dirinya telah menjadi korban tindakan asusila yang dilakukan oleh ayah tirinya sendiri, pada April 2025 lalu di rumah mereka.

Ibu korban pun langsung bergerak cepat melaporkan kasus ini ke pihak berwajib, agar segera mendapat penanganan. Saat ini terduga RS telah diamankan di Polres Bontang.

”Kami sangat prihatin dengan adanya kejadian ini, sebab menyangkut anak di bawah umur, penanganan pun dilakukan dengan serius serta hati-hati. Kami akan pastikan, hak-hak korban terlindungi, dan pelaku akan diproses sesuai hukum yang berlaku,” ucap Kasat Reskrim Polres Bontang, AKP Hari Supranoto.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Alfin Sebut Perlu Kantong Parkir di Jalan Ahmad Yani hingga Sudirman

0
Alfin Sebut Perlu Kantong Parkir di Jalan Ahmad Yani hingga Sudirman
Ketua Komisi C DPRD Bontang, Alfin Rausan Fikry. (Syakurah/Radarbontang)

BONTANG – Kondisi trotoar di sepanjang Jalan Ahmad Yani hingga Jalan Jenderal Sudirman kerap digunakan sebagai parkiran kendaraan.

Pasalnya, trotoar yang seharusnya menjadi ruang pejalan kaki justru dipenuhi kendaraan roda dua dan roda empat yang diparkir sembarangan.

Ketua Komisi C DPRD Bontang, Alfin Rausan Fikry mengatakan, keberadaan kendaraan di atas trotoar telah lama terjadi dan semakin mengganggu pengguna jalan. “Kemarin saya cek trotoar memang dipenuhi motor dan mobil. Kalau mereka parkir di pinggir jalan, jalan jadi sempit,” ujarnya, Senin (23/6/2025).

Menurutnya, perlu adanya solusi jangka panjang, salah satunya dengan menyediakan kantong parkir. Apalagi lokasi tersebut merupakan pusat keramaian. Dengan adanya kantong parkir kendaraan jadi tidak parkir di sembarang tempat.

Ia menilai, sebenarnya terdapat lahan kosong yang bisa dimanfaatkan sebagai kantong parkir. Tanah kosong itu bisa dijadikan kantong parkir.

“Salah satunya lahan di dekat toko 3 Second, tapi harus dikaji, itu milik siapa dan sebagainya. Perlu dilakukan kajian juga terkait kepemilikan lahan dan pemanfaatannya,“ tambahnya.

Sebagai solusi sementara, ia juga mengusulkan pengaturan jam parkir di kawasan tersebut. Misalnya, kendaraan tidak diperbolehkan parkir di jam-jam sibuk, seperti pagi dan sore hari.

“Jam 8 pagi ke atas mungkin bisa diizinkan parkir, tapi tetap harus ditandai bagian mana yang boleh,” ucapnya.

Dirinya berharap Pemkot Bontang dapat segera menata kawasan tersebut, agar tidak semrawut dan kenyamanan pejalan kaki tetap terjaga.

“Kalau bisa ya ada kantong parkir supaya tata kota kita juga lebih bersih dan tertata,” tutupnya.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Peringati Hari Anti Narkoba Internasional, Orang Tua Diimbau Lebih Perhatikan Tumbuh Kembang Anak

0
Peringati Hari Anti Narkoba Internasional, Orang Tua Diimbau Lebih Perhatikan Tumbuh Kembang Anak
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni saat diwawancarai. (Dwi/RadarBontang).

BONTANG – Memperingati Hari Anti Narkoba Internasional (HANI) Tahun 2025, Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni mengimbau ke seluruh orang tua, bahwa peran orang tua sangat penting bagi tumbuh kembang setiap anak.

Tidak hanya perannya saja, akan tetapi juga turut menjaga lingkungan di tempat berkumpulnya anak saat bermain di luar rumah, agar menjadi bahan pemantauan bagi setiap orang tua.

“Pastinya peran orang tua dan lingkungan sekitar sangat penting, maka kita sebagai orang tua harus benar-benar mengetahui apa saja kegiatan yang anak-anak mereka lakukan,” ucapnya, Jumat (27/6/2025).

Neni turut prihatin, khawatir, dan sedih jika mengetahui ada anak-anak, apalagi yang masih di bawah umur sudah terlibat dalam kasus narkotika.

“Biasanya anak-anak yang terlibat seperti itu identik dengan kemiskinan. Karena dia mencari uang untuk memenuhi kebutuhannya,” paparnya.

Sehingga Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang berupaya untuk bisa memberikan bantuan ke warga miskin, tepat pada sasaran. Bahkan Pemkot juga berupaya, untuk bisa memberikan bantuan pendidikan dan kesehatan.

“Yang pasti anak-anak yang melakukan entah penjualan sabu atau sebagainya, telah tergiur dengan hasil pendapatan yang dijanjikan. Asalkan dapat uang, untuk memenuhi kehidupannya. Maka nantinya kita akan terus berupaya, membantu dari segi pendidikan juga,” tutupnya.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Peringatan HANI dan Tahun Baru Islam, Wawali Ajak Masyarakat Tingkatkan Keagamaan dan Jauhi Narkoba

0
Peringatan HANI dan Tahun Baru Islam, Wawali Ajak Masyarakat Tingkatkan Keagamaan dan Jauhi Narkoba
Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris saat menghadiri kegiatan HANI dan Tahun Baru Islam. (Ist).

BONTANG – Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris turut menghadiri peringatan Hari Anti Narkoba Internasional (HANI), 2025, yang dirangkai dengan penyambutan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1447 Hijriah di Halaman Masjid Terapung, Loktuan, Kamis (26/6/2025) malam.

Saat kegiatan berlangsung, Agus Haris menyampaikan bahwa partisipasi dari masyarakat yang turun aktif dalam pencegahan narkoba di wilayah Kota Bontang, turut diberi apresiasi.

Terlebih lagi di malam ini, menjadi dua momen yang sangat berharga. Tidak hanya memperingati HANI, akan tetapi juga penyambutan Tahun Baru Islam, dimana masyarakat untuk bisa lebih meningkatkan keagamaannya dan menjauhi narkoba yang dapat merusak segalanya.

Perlu diketahui, narkoba sudah menyasar ke seluruh lapisan usia, termasuk pada anak-anak di bawah umur.

Maka dari itu, untuk memberantas narkoba tidak hanya tugas Badan Narkotika Nasional (BNN) saja, akan tetapi seluruh elemen lapisan masyarakat, turut terlibat.

“Kita kuatkan keimanan kita, untuk tidak terjerumus dalam hal-hal yang merugikan diri sendiri. Bahkan narkoba itu bukan diri kita saja yang rugi, keluarga kita pun bisa ikut terlibat,” ungpanya.

Kini Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang telah berkomitmen untuk membantu BNN, baik dari sisi anggaran melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), maupun dukungan regulasi.

Sebab, ada pula pentingnya keterlibatan dunia pendidikan dan lingkungan terkecil, seperti RT dalam pencegahan narkoba, dimana RT perlu melakukan pendataan terhadap anak-anak yang telah putus sekolah, atau masuk dalam kategori rentan.

“Edukasi dini berbasis keluarga dan komunitas saat ini sangat dibutuhkan, jangan sampai anak-anak ikut juga terlibat dalam dunia narkoba. Asalkan kita kompak dan adanya kerja keras bersama, saya yakin kita bisa berantas narkoba,” tutupnya.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Neni Tinjau Harga Kebutuhan Pokok di Event Wartek In

0
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni saat menghadiri kegiatan Wartek In di Loktuan. (Ist).

BONTANG – Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian, dan Perdagangan (DKUMPP) Bontang menggelar kegiatan Warung Tekan Inflasi On The Spot (Wartek In), yang berlangsung di Halaman Parkir Masjid Terapung, Loktuan.

Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni turut menghadiri kegiatan tersebut. Dirinya datang untuk meninjau secara langsung terkait harga kebutuhan pokok, dan menyoroti kondisi kenaikan harga yang menjadi perhatian serius.

Kegiatan ini bertujuan untuk menstabilkan harga kebutuhan pokok serta barang penting di tengah kenaikan harga, bahkan ada beberapa komoditas yang menjadi perhatian khusus.

“Maka dengan kegiatan Warung Tekan Inflasi On The Spot ini, kami berharap dapat menekan harga beberapa komoditas yang cenderung naik saat ini, khususnya beras,” ucapnya, Kamis (26/6/2025).

Selain itu, Neni pun turut menjelaskan adanya kendala terkait ketersediaan beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan), yang padahal sangat dinanti-nantikan oleh masyarakat.

“Perlu diketahui, untuk saat ini beras SPHP belum bisa dikucurkan, karena Bulog belum mendapatkan penugasan dari Bappenas,” jelasnya.

Tak hanya itu, kegiatan ini juga merupakan wujud nyata keseriusan Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang dalam memenuhi kebutuhan masyarakat dan mengendalikan inflasi.

Adapun DKUMPP telah menggandeng para distributor atau agen Bahan Pokok Penting (Bapokting), agen beserta pangkalan LPG 3 kilogram, serta Pertamina untuk layanan tukar tabung gas (Bright Gas 5.5 kilogram).

“Sehingga dengan keseriusan dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat, maka Pemkot menggelar Wartek In dan juga sebagai langkah pengendalian inflasi di Kota Bontang,” paparnya.

Diketahui, Wartek In On The Spot turut menawarkan berbagai kebutuhan bahan pokok seperti beras, gula, minyak goreng, tepung, dan gas LPG dengan harga yang wajar, serta sangat mudah dijangkau oleh masyarakat.

”Program ini telah menjangkau ke-15 kelurahan di Bontang, dan semua kegiatan ini bersifat non-budgeting atau tanpa menggunakan anggaran khusus,” ungkapnya.

Maka dari itu, Neni sangat berharap dengan adanya kegiatan seperti ini, nantinya bisa terus ditingkatkan untuk menciptakan semangat antar distributor atau agen, dalam bersatu demi kesejahteraan masyarakat Kota Bontang.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Antisipasi Uang Pembinaan Tak Cair, Cabor Kempo Siap Gunakan Dana Mandiri

0
Cabor Kempo Bontang sedang berlatih fisik untum persiapan pra porprov 2025. (Ist).

BONTANG – Cabang Olahraga (Cabor) beladiri Shorinji Kempo Bontang, saat ini tengah mempersiapkan diri untuk mengikuti pra Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) yang nantinya akan berlangsung di Samarinda, dan lanjut ke Porprov 2026 mendatang di Kabupaten Paser.

Mengingat Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Dispoparekraf) Bontang tidak mencairkan dana hibah pembinaan atlet, maka cabor Kempo berinisiatif untuk menggunakan dana mandiri.

Pihaknya bersikeras untuk tetap mengikuti pra Porprov di September 2025 mendatang, mengingat atlet Kempo tengah mempersiapkan diri dan sudah melangsungkan Training Center (TC) kurang lebih sebulan.

Sekretaris Umum serta Pelatih Kempo Bontang, Abdul Sani mengatakan, bahwa sampai saat ini pihaknya belum mengetahui dengan pasti informasi terkait dana hibah untuk para atlet. Biasanya di tahun sebelumnya, tepat di bulan-bulan ini sudah ada informasi tentang pencairan dana.

“Yang pastinya saya kurang paham terkait isu yang saat ini beredar, adanya dana hibah yang tidak kunjung cair. Sebab saya hanya sempat mendengar. Tapi saya memastikan jika itu benar atau bagaimana, untuk atlet Kempo mau tidak mau harus berangkat, nantinya kami menggunakan dana mandiri,” jelasnya saat dikonfirmasi.

Sani menerangkan, jika nantinya atlet tidak jadi berangkat pastinya akan membuat mereka semua kecewa. Terlebih lagi, pra Porprov adalah multi event yang berjenjang berkelanjutan hingga ke Pekan Olahraga Nasional (PON).

“Permasalahan seperti ini baru terjadi di tahun ini, sebelum-sebelumnya tidak pernah. Saya dan teman-teman juga kaget, kenapa ada permasalahan seperti ini kalau ada dana hibah yang tidak cair. Soalnya kami sebagai pembina atlet tidak pernah diinfokan seperti apa permasalahannya sama KONI,” bebernya.

Maka dari itu, sebagai jalan alternatif jika nantinya dana hibah tak juga kunjung cair, pembina serta pelatih Kempo Bontang terus berupaya, agar bisa memutar otak untuk mendapatkan dana agar para atlet bisa berangkat.

“Kami tetap mengupayakan untuk berangkat, kami juga nantinya akan mengkondisikan dengan dana mandiri kami, berapa atlet yang akan diberangkatkan. Kemungkinan atlet yang berpotensi saja, ada sekitar 15 orang. Kalau pun ada dari dana hibah, kami berani turunkan semua atlet,” ungkapnya.

Adanya persoalan dana hibah pembinaan atlet yang tak kunjung cair, Sani sangat menyayangkan dimana yang seharusnya ini bukan tanggung jawab pembina atlet untuk dibebani dana, akan tetapi tanggung jawab pemerintah melalui Dispoparekraf atau Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI).

Terlebih lagi, persoalan ini nantinya akan menimbulkan dampak yang sangat luar biasa. Bukan hanya ke para atlet, tetapi juga bisa mempermalukan nama daerah sendiri.

“Ada sekitar 56 cabor di Bontang, dan tidak semua cabor mampu. Kasihan jika ada cabor yang nantinya tidak bisa ikut. Kami berharap pihak pemerintah dengan dewan bisa duduk bareng mencari solusi, agar nantinya atlet di setiap cabor tidak menjadi korban,” tutupnya.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam