Beranda blog Halaman 615

Polres Ungkap Dua Kasus Persetubuhan Libatkan Anak di Bawah Umur

0
Pres rilis dua kasus persetubuhan oleh Polres Bontang. (Syakurah/Radarbontang)

BONTANG – Polres Bontang mengungkap dua kasus persetubuhan yang melibatkan anak di bawah umur di wilayah Bontang Utara, Senin (2/6/2025).

Kapolres Bontang AKBP Alex Frestian Lumban Tobing mengungkapkan, dua kasus tersebut terjadi dengan modus yang sama, dimana korban dijanjikan akan bertanggung jawab jika terjadi hal yang tidak diinginkan.

Kasus pertama dilakukan oleh seorang pria berumur 18, diketahui mereka sudah berpacaran selama 4 bulan, ia menyetubuhi pacarnya yang masih berusia 13 tahun di kediaman korban saat kakaknya sedang bekerja.

Perbuatan tersebut terungkap setelah istri siri tersangka yang sedang hamil 8 bulan, mendatangi kontrakan korban karena tersangka sudah tidak pulang ke rumah selama 2 hari.

“Korban tidak mengetahui kalau tersangka sudah beristri siri,” katanya.

Kasus kedua, dilakukan oleh pria berumur 18 tahun kepada pacarnya yang berumur 17 tahun. Persetubuhan itu dilakukan oleh tersangka di kontrakan korban, karena mengetahui korban sering ditinggal ayahnya untuk bekerja.

Melihat tersangka beberapa kali diam-diam masuk, pemilik kontrakan melaporkan kejadian tersebut kepada sang ayah sampai akhirnya mendapati tersangka berada di kontrakan bersama korban.

“Persetubuhan sempat dilakukan sebanyak tiga kali,” tambahnya.

Untuk pasal yang disangkakan kepada kedua terduga, yakni pasal 81 ayat 2 Undang-Undang Nomor 17 tahun 2016 tentang perlindungan anak, setiap orang yang dengan sengaja melakukan tipu muslihat serangkaian kebohongan atau membujuk anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 tahun dan paling lama 15 tahun, dengan denda paling banyak Rp5 miliar.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Anak Bontang Akan Dibekali Perlindungan Diri dari Kekerasan Seksual Melalui Program Puskesmas Go To School

0
Anak Bontang Akan Dibekali Perlindungan Diri dari Kekerasan Seksual Melalui Program Puskesmas Go To School
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni. (Syakurah/Radarbontang)

BONTANG – Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni menyadari pentingnya pendidikan seksual yang dilakukan sejak dini, namun untuk masuk dalam ranah kurikulum pelajaran tentu membutuhkan persetujuan dan kebijakan dari pusat.

Diketahui, pendidikan seksual dini yang dimaksud adalah memberikan pemahaman batas-batas yang aman dalam interaksi sosial. Selain itu, memperkenalkan konsep dasar tentang seksualitas kepada anak-anak sejak dini.

Ia menjelaskan langkah awal dari Pemkot Bontang, yakni dalam program yang ia gaungkan terkait program mental health, ada juga Puskemas Go To School yang tidak hanya membahas terkait bullying, namun juga mengedukasi terkait pelecehan seksual.

Masih banyak anak-anak yang tidak mengerti apa yang sebenarnya mereka alami, saat menjadi objek pelecehan maupun bullying. Akhirnya, mereka juga tidak mengerti apa yang harus mereka perbuat saat terjerat dalam situasi tersebut.

“Ranah privasi penting untuk mereka ketahui, tidak ada yang boleh memegang kecuali dirinya sendiri, mereka harus tahu kalau itu harus dijaga,” pungkasnya saat dihubungi, Rabu (28/5/2025).

Pembelajaran ini harus menyentuh orang tua juga para guru. Ia menyarankan adanya pendidikan non formal di luar sekolah untuk hal tersebut, sehingga dapat menyentuh seluruh kalangan.

Tidak dapat dipungkiri pengaruh lingkungan dan teknologi berpengaruh besar, apalagi kurangnya batasan dalam pengaksesannya.

“Puskesmas Go To School mengedukasi ranah-ranah seperti itu, dan sudah jalan sejak Januari. Anak-anak harus tahu apa yang mereka alami dan kemana mereka harus melapor, kita tanamkan juga agar mereka tidak takut,” terangnya.

Neni melihat fenomena yang menggeliat dalam media sosial (medsos) sangatlah mengerikan. Banyaknya akun yang membahas penyimpang menjadi hal lumrah, “Kita harus jelaskan hal-hal buruk pada mereka agar dapat melakukan antisipasi,” tuturnya.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Pentingnya Edukasi Seksual Ramah Anak untuk Cegah Kekerasan Seksual

0
Kepala UPTD PPA Bontang, Sukmawati. (Syakurah/Radarbontang)

BONTANG – Maraknya kasus pelecehan kepada anak menjadi perhatian publik. Pasalnya kasus tersebut makin bertambah dengan korban yang kebanyakan merupakan anak di bawah umur, begitu pun dengan pelaku.

Kepala UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) menyebutkan, di zaman digitalisasi kini anak-anak bisa mendapatkan informasi, bahkan mereka bisa mendapatkan informasi yang tidak seharusnya mereka ketahui. Hal ini seringkali tidak terpantau oleh orang tua.

Informasi yang mereka dapatkan tidak berbanding lurus dengan apa yang mereka dapatkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Saat ini saja UPTD PPA, sejak Januari hingga April kemarin mendapatkan sekitar 30 laporan. Itupun ada yang diteruskan pelaporannya ke polisi, ada juga yang tidak, namun mendapatkan konsultasi dari kami saja,” pungkasnya, Selasa (27/5/2025).

Menurutnya perlu edukasi secara masif dilakukan dimulai dari sejak SD hingga SMA, melalui pelajaran eksternal mengenai sex edukasi yang ramah anak, yakni mulai dari perkenalan ranah privasi yang tidak boleh orang lain sentuh, hingga bahaya dan kerentanannya.

“Ini pernah saya sampaikan setiap pertemuan dengan Kementerian dan Perlindungan anak, tapi ranah ini harus dieksekusi kementrian pendidikan dan dibahas dengan para ahli psikolog, agar penyampaiannya bisa ramah anak,” ungkapnya.

Jika ini diberlakukan, fokus sosialisasi bakal lebih efektif ke orang tua juga, lantaran pendidikan tersebut digaungkan baik dari orang tua maupun anak tersendiri.

“Apalagi jika langkah awal wali kota kita, yakni program mental health sudah sangat baik, harusnya pusat bisa melihat ini bahwa daerah kita sudah konsen. Semoga kedepan kementrian bisa mempertimbangkan penambahan pelajaran tersebut,” tuturnya.

Adapun, sosialisasi yang kerap dilakukan oleh UPTD PPA ia nilai kurang efektif, lantaran kegiatan tersebut hanya dilakukan tiga bulan sekali dengan fokus wilayah yang berbeda.

“Kadang anak-anak cepat bosan dan bisa jadi tidak terserap, untuk itu dengan adanya pembelajaran sejak dini, mitigasi itu lebih tertanam di kepala mereka,” tambahnya.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Kosti Bontang Meriahkan Nusantara Culture Festival di IKN

0
Kosti Bontang saat berada di event Nusantara Culture Festival, IKN. (Ist).

BONTANG – Komunitas Sepeda Tua Indonesia (Kosti) Bontang, secara khusus mendapatkan undangan spesial dari Otorita IKN, dalam meriahkan Nusantara Culture Festival (NCF), yang berlangsung di Kawasan Inti Pusat Pemerintah (KIPP) IKN, Jumat (30/5/2025).

Wiyatno, Ketua Kosti Bontang mengatakan bahwa, dirinya merasa sangat beruntung dengan adanya undangan khusus yang diterima Kosti Bontang.

Terlebih lagi, event ini berlangsung secara nasional, dimana dari berbagai daerah datang untuk memeriahkan event tersebut. Bahkan, Kosti Bontang adalah satu-satunya komunitas sepeda ontel, yang telah ditunjuk untuk terlibat langsung dalam rangkaian kegiatan.

“Pastinya kami sangat senang, serta merasa teristimewa, telah diundang secara langsung oleh Otorita IKN untuk di event Nusantara Culture Festival,” ucapnya saat dikonfirmasi.

Diketahui, ada sekitar 40 anggota Kosti Bontang yang ikut serta memeriahkan kegiatan tersebut, setiap anggota pun mengenakan seragam kebesarannya, yakni seragam laskar.

“Kami berangkat dengan jumlah sekitar 40 personel, sebanyak 35 sepeda dibawa langsung dari Bontang ke IKN,” ungkapnya.

Wiyatno menuturkan, walaupun perjalanan panjang dari Bontang ke IKN memakan waktu yang terbilang cukup panjang, kurang lebih sekitar 8 jam, tetapi pihaknya beserta dengan para rombongan, merasa sangat senang dan puas setelah mengikuti event nusantara.

Di perjalanan kali ini akan dijadikan sebagai momentum kebersamaan bagi tiap anggota. Dapat mengayuh dengan sepeda antik mengelilingi kawasan IKN, dengan kegiatan event yang sangat berkesan.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

RSUD Taman Husada Raih Penghargaan Bintang Tiga dari BPJS Kesehatan Pusat

0
Penerimaan penghargaan dari BPJS Kesehatan Kepada RSUD Bontang. (ist)

BONTANG – RSUD Taman Husada Bontang kembali mencatatkan prestasi membanggakan dengan meraih Penghargaan Bintang 3 dari BPJS Kesehatan Pusat. Penghargaan ini menjadi momen bersejarah, karena RSUD Taman Husada menjadi rumah sakit pertama di Kota Bontang yang berhasil meraih predikat tersebut.

Penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi dari BPJS Kesehatan, terhadap komitmen RSUD Taman Husada dalam mengimplementasikan digitalisasi pelayanan kesehatan secara optimal.

Salah satu inovasi unggulan yang menjadi penilaian utama adalah sistem informasi bernama IT’S SIMPLER (Integrasi Sistem Informasi Pelayanan Medik Rumah Sakit), yang telah berhasil terkoneksi dengan sistem BPJS Kesehatan.

Melalui inovasi IT’S SIMPLER, RSUD Taman Husada mampu menjalankan integrasi sistem antrean online, sistem klaim, hingga Surat Eligibilitas Peserta (SEP) elektronik dengan baik dan efisien. Langkah ini menunjukkan komitmen RSUD Taman Husada dalam menghadirkan pelayanan yang unggul, cepat, dan inovatif bagi seluruh masyarakat.

Penghargaan diserahkan secara simbolis oleh Kepala Kantor BPJS Kesehatan Kota Bontang, Laily Jumiati, kepada Direktur RSUD Taman Husada dr. Suhardi SpJP FIHA, dan turut disaksikan oleh Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris, SH.

“Semoga seluruh inovasi yang kami lakukan dapat terus meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat Kota Bontang,” ujar Kepala Bagian Hukum, Humas dan Kerjasama RSUD, Syariful Rahman.

Dengan diraihnya penghargaan ini, RSUD Taman Husada menegaskan posisinya sebagai rumah sakit rujukan yang berkomitmen tinggi pada transformasi digital dan peningkatan mutu layanan kesehatan. (ADV)

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Strategi Lindungi Perempuan dan Anak, Butuh Islam Sebagai Pondasi

0
Annisa Putriawantiko, S.Pd. (ist)

Oleh:
Annisa Putriawantiko, S.Pd
Pendidik

Komitmen Kota Bontang dalam memperkuat perlindungan perempuan dan anak kembali ditegaskan. Wali Kota Bontang, Neni Moerniani hadir dalam diskusi bersama Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak (PPPA) yang digelar di Kantor Gubernur Kalimantan Timur awal bulan lalu.

Ia memaparkan sederat strategi penguatan perlindungan anak di Bontang. Di antaranya: pertama, Integrasi pendidikan keluarga dan pengasuhan dalam kurikulum pendidikan usia dini. Kedua, Pelaksanaan kelas manajemen emosi untuk anak dan remaja guna mencegah perilaku beresiko sejak dini. Terakhir, Penguatan dan pengembangan layanan daycare yang ramah anak dan keluarga.

Tak hanya tataran konsep beliau juga memaparkan progam andalan, yakni “tengok tetangga”. Di akhir paparan harapan agar pemerintah pusat meningkatkan alokasi Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk memperluas jangkauan progam pendampingan dan advokasi korban kekerasan. (Pranala.co)

Harus Sampai Akar

Strategi dan program yang dipaparkan diatas patut diapresiasi, sebagai upaya untuk melindungi perempuan dan anak memang harus dilakukan. Terlebih melihat kondisi hari ini berbagai berita kekerasan dan kejahatan yang menimpa mereka masih terus terdengar. Maka, hal ini tentu persoalan serius yang harus dicari akar masalahnya agar bisa tertangani dengan tuntas.

Jika kita telisik lebih dalam, bukan hanya perempuan dan anak yang menjadi korban kejahatan tetapi hampir semua kalangan tak lepas dari berbagai tindak keburukan sebab carut marutnya tatanan sosial hari ini. Pastilah tidak terjadi begitu saja, ada suatu hal besar yang mengaruskan kerusakan tersebut.

Pada kenyataanya, dunia saat ini sedang dalam kungkungan ide Sekulerime-liberal tak terkecuali tanah air. Pemikiran yang datang dari Barat ini merasuk ke semua sektor kehidupan termasuk pergaulan. Ide inilah yang memporak-porandakan keimanan umat Islam.

Sekulerisme pula yang membuat manusia hari ini ringan berbuat kejahatan termasuk salah satu imbasnya perempuan dan anak yang semakin tidak adanya perlindungan dan penjagaan.

Dengan begitu, strategi dan program yang bagus disusun tetapi landasan kehidupan masih Kapitalis Sekuler maka tidak akan mampu melindungi perempuan dan anak karena akar persoalan di sana. Juga strategi dan progam itu perlu direalisasikan di lapangan, namun jika hanya bergantung pada dana saja tanpa kesadaran maka tidak akan bertahan lama. Perlu dukungan individu, keluarga masyarakat dan negara.

Islam Sebagai Pondasi

Sebagai seorang muslim sudah seyogyanya mengembalikan semua urusan hidupnya pada Islam. Menoleh pada aturan Allah yang sudah didesain sempurna mengatur problem manusia. Islam akan melindungi perempuan dan anak dengan support sistem yang mendukung. Perempuan dan anak akan dipenuhi kebutuhannya termasuk perlindungan tidak hanya fisik, tapi juga akal dan akidahnya.

Dalam Sistem Islam, bentuk penjagaannya tentu diawali dengan upaya pencegahan sedini mungkin yakni dengan membentuk seseorang menjadi pribadi yang bertakwa kepada Allah sehingga setiap perbuatan yang mereka lakukan tak pernah lepas dari ketaatan dan jauh dari maksiat.

Selanjutnya dengan menerapkan sistem pergaulan Islam yang mengatur interaksi laki-laki dan perempuan, menjaga dari aktivitas terlarang dan sebagainya, dengan begitu tentu akan menutup rapat-rapat celah terjadinya kekerasan pada anak dan perempuan.

Berikutnya tak lupa, Islam memiliki sistem kontrol sosial berupa amar makruf nahy munkar. Saling menasihati dan mengingatkan dalam ketakwaan, tidak membiarkan suatu kemaksiatan terus menerus dilakukan. Sehingga kehidupan masyarakat akan terkondusifkan dengan suasana keimanan yang tinggi kepada Allah Ta’ala.

Terakhir, tentu dibutuhkannya peran negara. Sebab semua mekanisme tersebut tidak akan bisa berjalan tanpa adanya institusi negara yang menegakkannya. Maka, negaralah pihak yang paling bertanggung jawab melaksanakan dan mewujudkan perlindungan dan keamanan bagi rakyat. Dan disini tentu bukanlah negara dengan sistem Sekuler, melainkan sebuah institusi yang menerapkan aturan Allah secara sempurna dalam kehidupan.

Wallahu’alam Bisshawab.

Dipukul Stik Golf, Anak 9 Tahun Jadi Korban Kekerasan Ayah Tirinya Akibat Masalah Ekonomi

0
Ilustrasi. (Ist)

BONTANG – Seorang anak laki-laki berusia 9 tahun menjadi korban kekerasan fisik oleh ayah tirinya, setelah adanya perselisihan di dalam hubungan rumah tangga siri orangtuanya.

Kejadian timbul, saat sang ayah tiri usai berdebat atau cekcok dengan ibu kandungnya, kejadian tersebut terjadi di wilayah Bontang Barat, Jumat (30/5/2025).

Sebelumnya, awal mula terjadi perselisihan di rumah tangga tersebut, adanya pertengkaran hebat antara sepasang suami istri siri. Pertengkaran timbul lantaran dugaan permasalahan ekonomi.

Akibat tidak bisa mengontrol emosi, terduga (ayah) langsung melampiaskan kemarahannya kepada korban, dengan cara memukulnya menggunakan stik golf.

“Pemukulan terjadi di bagian sisi kepala, wajah, lengan, dan pinggang, korban pun mengalami luka yang cukup serius,” ucap Kasat Reskrim Polres Bontang, AKP Hari Supranoto.

Atas dasar pengaduan pelapor, polisi langsung melakukan penyelidikan dan mengamankan terduga pelaku, Sabtu (31/5/2025) dini hari.

Polisi juga turut menyita barang bukti yang dipakai untuk melakukan kekerasan, seperti satu buah stik golf berwarna hitam. Saat ini, terduga telah diamankan di Polres Bontang untuk menjalani proses hukum lebih lanjut.

Kasat Reskrim Polres Bontang, AKP Hari Supranoto menegaskan bahwa, dalam tindakan kekerasan terhadap anak, terlebih oleh orang terdekat, adalah bentuk pelanggaran serius yang tidak bisa ditolerir.

Sehingga dengan adanya kasus seperti ini, pihak kepolisian akan memproses secara tegas, sesuai hukum yang berlaku. Terlebih lagi anak adalah pihak paling rentan dan harus dilindungi, bukan menjadi pelampiasan konflik orang dewasa.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

Pembangunan Lanjutan Pelataran Bontang Kuala Dimulai Juni Mendatang

0
Pelataran Bontang Kuala. (Syakurah/Radarbontang)

BONTANG – Pelataran Bontang Kuala akan memasuki renovasi lanjutan pada awal Juni 2025 mendatang. Untuk itu pelataran Bontang Kuala akan kembali ditutup, dan para pedagang pun tidak dapat berjualan selama pembangunan berlangsung.

Kepala Dinas Pemuda Olahraga Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Dispoparekraf)Bontang, melalui Kapala Bidang Pariwisata Muhammad Ihsan, mengatakan pembangunan ini menutup pelataran Bontang Kuala, agar pengerjaannya tidak terganggu.

Selain itu, keselamatan pengunjung maupun warga sekitar juga terjaga dari aktivitas konstruksi yang akan berlangsung cukup lama, yakni hingga Desember 2025 mendatang yang mencakup seluruh wilayah pelataran.

“Kayak tahun lalu pas pelebaran lantai kayu, itukan kita tutup total, kita pasti lakukan sosialisasi terlebih dahulu,” pungkasnya, Rabu (28/05/2025).

Ia menyebutkan akan berbahaya, jika masih terdapat aktivitas saat pembangunan berlangsung. Karena akan banyak peralatan pekerja serta bahan material yang dapat membahayakan.

“Nanti akan banyak peralatan serta material. Takutnya membahayakan warga dan pengunjung, makanya sementara kami tutup,” jelasnya.

Keberlanjutan pembangunan ini akan menata fasilitas umum seperti musala, kios pedagang, toilet umum, serta panggung dengan total anggaran Rp 3,6 miliar. Selain itu terdapat juga pembangunan dermaga dengan anggaran Rp 1,7 miliar.

“Pembangunan kios pedagang akan sesuai dengan jumlah pedagang yang terdaftar dulu. Sekitar 52 pedagang,” sambungnya.

Penulis: Syakurah
Editor: Yusva Alam

90,7 Persen Warga Puas Kinerja Neni – AH di 100 Hari Kerja

0
90,7 Persen Warga Puas Kinerja Neni - AH di 100 Hari Kerja
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni dan Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris. (Dwi/RadarBontang).

BONTANG – Bagian Administrasi Pembangunan Sekretariat Daerah Kota Bontang, telah merampungkan survei kepuasan masyarakat mengenai capaian di Program 100 Hari Kerja Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, dan Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris.

Survei ini dilaksanakan secara daring melalui metode Computer Assisted Web Interviewing (CAWI), pada periode 21 hingga 26 Mei 2025.

Survei tersebut berhasil menjaring sebanyak 739 responden, yang berasal dari beragam latar belakang atau sekelompok usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, bahkan profesi.

Para responden yang telah tersebar di 15 kelurahan di wilayah Kota Bontang, dengan berhasil menunjukkan bahwa mayoritas responden, yaitu sebesar 90,7 persen, menyatakan rasa puas mereka, terhadap capaian 100 Hari Kerja Neni – Agus Haris.

Sementara itu ada sekitar 7,8 persen responden memberikan respons netral, serta di antara sekitar 1,5 persen, yang secara eksplisit menyatakan ketidakpuasannya.

Sehingga dengan adanya tingkat kepuasan masyarakat ini, menjadi cerminan apresiasi publik terhadap berbagai kebijakan dan program yang telah diimplementasikan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang, pada periode awal kepemimpinan Neni Moerniaeni dan Agus Haris.

Kepercayaan yang signifikan dari masyarakat ini sekaligus menjadi dorongan bagi Pemkot, untuk terus berinovasi dan menghadirkan program-program yang berorientasi, pada peningkatan kesejahteraan seluruh warga Bontang.

Penulis: Dwi S
Editor: Yusva Alam

RSUD Taman Husada Jelaskan Penggunaan ACP, Tegaskan Jalur Evakuasi Tetap Aman

0
Tampilan bangunan RSUD Taman Husada Bontang dengan fasad baru berlapis Aluminium Composite Panel (ACP), Jumat (30/5/2025). Pihak manajemen memastikan penggunaan ACP telah melalui kajian teknis dan tidak mengganggu jalur evakuasi serta aspek keselamatan. (Dok. Media Kaltim)

BONTANG – Manajemen RSUD Taman Husada Bontang merespons keluhan masyarakat terkait penggunaan material Aluminium Composite Panel (ACP) di sejumlah bagian gedung rumah sakit yang dinilai menutupi jalur evakuasi serta mengurangi sirkulasi udara dan pencahayaan.

Wakil Direktur Administrasi Umum dan Keuangan RSUD Taman Husada, Vicky Rizki Riadis, menegaskan bahwa pemasangan ACP telah melalui tahapan perencanaan dan kajian teknis sebelum pelaksanaan renovasi bangunan.

“Tidak perlu khawatir, evakuasi melalui jendela saat ini tidak direkomendasikan lagi. Seluruh ruangan di RSUD dilengkapi dengan APAR dan jalur evakuasi yang telah disiapkan sesuai standar. Petugas kami juga telah dibekali pelatihan untuk menggunakannya,” ujar Vicky, Jumat (30/5/2025).

Ia menjelaskan, penggunaan ACP tidak hanya untuk mempercantik tampilan gedung, tetapi juga untuk mengurangi beban biaya perawatan berkala.

“Satu kali pengecatan gedung bisa menelan biaya hingga Rp4 miliar, dan daya tahannya hanya sekitar tiga tahun. Dengan ACP, biaya perawatan bisa ditekan secara signifikan,” terangnya.

Menurut Vicky, pihaknya saat ini juga tengah menanti hasil evaluasi dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkartan) Kota Bontang terkait aspek keselamatan gedung. Evaluasi tersebut berdasarkan surat resmi yang telah dilayangkan sebelumnya.

“Kami pasti akan mengikuti rekomendasi dan hasil evaluasi dari Disdamkartan. Itu akan menjadi pertimbangan dalam penyesuaian teknis ke depan,” ujarnya menegaskan.

Sebelumnya, masukan disampaikan oleh Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris, yang berharap agar desain pemasangan ACP tetap memperhatikan aspek keselamatan dalam kondisi darurat.

“Seharusnya ada titik berbentuk kotak yang bisa dibuka-tutup. Jika terjadi kegawatdaruratan, titik tersebut bisa digunakan untuk akses keluar,” kata Agus Haris.

Ia menambahkan, walau pemasangan ACP menambah nilai estetika bangunan, keselamatan tetap harus menjadi prioritas. “Fungsinya untuk memudahkan evakuasi jika sewaktu-waktu dibutuhkan,” tambahnya.

Sementara itu, beberapa keluarga pasien juga sempat menyampaikan kekhawatiran terhadap tertutupnya jendela oleh ACP yang dinilai bisa menghambat evakuasi darurat.

“Semoga tidak ada bencana, tapi tetap harus dipikirkan mitigasinya. Jendela sebagai jalur keluar darurat kini tidak bisa digunakan karena tertutup ACP,” ujar salah satu keluarga pasien.

Pewarta: Darman
Editor: Agus S