Beranda blog Halaman 815

Dewan Gelar RDP Bahas Kembalinya Buaya Riska

0
Dewan Gelar RDP Bahas Kembalinya Buaya Riska
Anggota DPRD Bontang membahas terkait buaya Riska. (Dwi).

BONTANG – DPRD Bontang mengadakan Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Pemkot Bontang dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim, di Ruang Rapat Lantai II Sekretariat DPRD Kota Bontang, Selasa (14/11/2023). RDP kali ini membahas rencana pengembalian Buaya Riska ke habitatnya di Sungai Guntung.

Agus Haris, Wakil Ketua DPRD Bontang mengatakan RDP ini membahas terkait Buaya Riska yang sedang menjadi bahan pembicaraan, berencana akan dikembalikan ke habitatnya.

“Kita bersama-sama membahas permasalahan ini, dimana permasalahan ini sudah sangat menyebar luas,” paparnya.

Dikatakannya, yang menjadi permasalahan jika membuat penangkaran bukan hanya tempat, akan tetapi makannya, perawatannya, dan berbagai macam lainnya. Itu juga harus dipikirkan ke depannya, tidak dengan biaya yang sedikit.

“Kita tidak bisa hanya membahas tempat atau lokasinya saja, akan tetapi jika nantinya sudah menjadi penangkaran kita harus memikirkan lain-lainnya juga,” tambahnya.

Untuk tempat, ada tiga lokasi yakni Sungai Nyerakat di Bontang Lestari, kedua di Sungai Bontang Lestari (tidak jauh dari sungai nyerakat, dan ketiga di Sungai Guntung.

“Intinya, untuk lokasi kita masih mempertimbangkan, belum dipastikan dimana jelasnya,” bebernya.

Agus Haris juga menambahkan, bahwa untuk kembalinya Buaya Riska, semuanya harus dipersiapkan dengan matang, agar tidak ada kendala lagi yang terjadi. Semuanya harus siap.

Penulis: Dwi S

Editor: Yusva Alam

Komisi III Sidak Lagi di Perumahan Griya Wisata, Ingin Cepat Selesaikan Persoalan Legalitas

0
Komisi III Sidak Lagi di Perumahan Griya Wisata, Ingin Cepat Selesaikan Persoalan Legalitas
Rombongan Komisi III DPRD Bontang saat sidak di Perumahan Griya Wisata Bontang Kuala. (Dwi).

BONTANG – Komisi III DPRD Bontang kembali meninjau langsung Perumahan Griya Wisata, Bontang Kuala, Selasa (14/11/2023). Dalam kunjungan tersebut, komisi III ingin menyelesaikan persoalan legalitas tanah yang berkaitan dengan fasilitas umum (fasum) dan fasilitas sosial (fasos).

Anggota Komisi III DPRD Bontang, Agus Suhadi menyatakan, untuk pemenuhan fasum dan fasos sudah menjadi keluhan warga sejak lama. Maka dari itu, dari permasalahan ini ingin cepat terselesaikan agar warga tidak semakin banyak yang mengeluhkan.

“Warga ini keluhannya apa, kan sudah disampaikan kemarin. Untuk listrik dan air tolong dituntaskan,” ucapnya.

Padahal usulan perbaikan fasum dan fasos sudah masuk di Rukun Tetangga (RT), Kelurahan, hingga DPRD. Adapun juga masalah terkait status legalitas musala yang masih menggantung, pembangunan jalan umum, serta drainase.

“Saya ingin ada solusi dari permasalahan itu semua. Kita ingin persoalan ini dikerahkan oleh pemerintah, agar apa yang dikeluhkan masyarakat selama ini bisa terwujud,” paparnya.

Kepala Bidang Prasarana, Sarana, dan Utilitas Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Pertanahan (DPKPP) Kota Bontang, Andi Ilham mengatakan, belum adanya pembangunan, sehingga pihaknya belum bisa memberikan bantuan lantaran terbentur dengan aturan.

“Jika perda sudah disahkan, semua perbaikan bisa berjalan. Kalaupun tahun ini sudah ada pengerjaan berupa perbaikan jalan,” bebernya.

Sementara itu Yudha, perwakilan dari developer menyatakan pihaknya mengalami kendala, dimana provinsi melakukan pengaturan tata ruang yang sudah ditandatangani.

“Tata ruang tersebut kami tidak dapat memecah surat, sebab kawasan tersebut menjadi jalur hijau,” ungkapnya.

Yudha juga menambahkan, dengan surat izin yang telah dipegang, dan dengan berjalannya waktu, pihaknya pun mengajukan permohonan agar pemecahan dapat dilakukan.

“Kami sudah melakukan penyerahan dokumen kepada DPKPP, jadi kami akan mengikuti mekanisme yang ada,” tutupnya.

Penulis: Dwi S

Editor: Yusva Alam

Ironi Desa Wisata Maju, Nasib Pendidikan Mundur

0
Ironi Desa Wisata Maju, Nasib Pendidikan Mundur
Emirza Erbayanthi, M.Pd. (ist)

Oleh:

Emirza Erbayanthi, M.Pd

(Pemerhati Masalah Sosial)

Malahing, perkampungan di atas laut di pesisir Bontang berhasil Juara 3 ADWI 2023 Kategori Kampung Wisata Maju. Sebagai objek wisata andalan di Kota Bontang dengan kultur dan keanekaragaman hayatinya.

Namun begitu, dibalik kesuksesan tersebut terdapat realitas yang cukup miris.

Ada sekitar 10 orang pelajar di Malahing bersekolah di darat. Mereka sehari-hari harus bolak-balik, pagi berangkat menjelang sore kembali lagi ke Melahing. Biaya yang dikeluarkan para orangtua pelajar itu berkisar Rp 300 ribu per bulan, hanya untuk membayar sewa ojek kapal. Maka perlu dibantu meringankan biaya transportasi untuk mengakses pendidikan di darat. (kaltim.tribunnews.com, 25/10/2023)

Akar Masalah

Kampung Malahing kondisinya terbatas karena berada di tengah-tengah Teluk Bontang, seluas 5 hektar dengan jumlah penduduk 226 orang. Di sana sudah ada SD, tetapi baru bisa menampung sampai kelas V. Jadi untuk melanjutkan sekolah ke kelas VI dan jenjang berikutnya anak-anak Malahing harus pergi pulang ke Bontang.

Malahing desa yang memanjakan wisatawan namun sayang pendidikan tak diperhatikan. Dari sini dapat dikritisi ada paradigma keliru dari pemerintah memandang prioritas yang lebih mementingkan wisata dari pada pendidikan. Padahal dengan pendidikan anak-anak lebih terdidik dari pada wisata yang justru mempengaruhi budaya masyarakat untuk bergaya hidup liberal.

Akar masalah pendidikan ini terletak pada tata kelola wilayah yang salah. Apa saja?

Pertama, kesalahan prioritas pembangunan. Malahing memang membutuhkan pembangunan, tetapi yang dibangun saat ini lebih difokuskan pada pembangunan untuk kepentingan pariwisata. Yang dibutuhkan masyarakat Malahing adalah infrastruktur yang dapat memudahkan mereka mendapat akses layanan publik, seperti layanan pendidikan, kesehatan dan transportasi.

Tingginya angka anak putus sekolah di Malahing adalah fakta yang tidak terbantahkan betapa akses dan layanan pendidikan di wilayah tersebut masih minim. Di samping itu, wilayah Malahing yang berada di tengah-tengah teluk Bontang, akses untuk sekolah tingkat V SD melalui perahu, hal ini adalah bukti bahwa sistem pendidikan di Malahing masih sangat terbatas.

Kedua, kesalahan mengelola wilayah. Malahing terkenal sebagai desa pariwisata modern. Malahing juga dikaruniai kekayaan laut yang luar biasa. Dengan potensi ini, rakyat Malahing bisa hidup sejahtera. Namun, kapitalisasi di Malahing sebagai desa pariwisata. Masyarakatnya hidup miskin dan akses pendidikan yang tidak mendukung, desanya dijadikan pariwisata oleh para kapitalis dengan dukungan regulasi penguasa tetapi pendidikannya mundur.

Alhasil, desa Malahing terkenal pariwisatanya, tetapi pendidikannya mundur. Inilah salah satu alasan kenapa sulit mewujudkan kesejahteraan di Malahing. Satu contoh nyata liberalisasi dan kapitalisasi di Malahing adalah menggenjot sisi pariwisatanya saja tetapi akses pendidikan untuk mencerdaskan masyarakatnya minim.

Ketiga, kesalahan prioritas program. Malahing memang tidak terlalu luas, masih asri dan dikelilingi lautan. Potensi ini sangat vital bagi sistem perikanan. Sayangnya, telah mengabaikannya hingga sistem perikanan di Malahing masih ala kadarnya dan seadanya. Seharusnya diperhatikan dengan memberikan alat tangkap ikan yang modern misalnya, bukan hanya dimajukan pariwisatanya.

Lalu sarana transportasi yang memadai ataupun dengan membuka lahan-lahan baru untuk perikanan agar terwujud swasembada pangan yang berefek pada majunya perekonomian masyarakat Malahing. Sehingga masyarakatnya semakin sejahtera, pendidikan anak-anaknya juga maju.

Tak kalah penting, pemerintah pun juga memperhatikan pendidikan di Malahing dengan memfasilitasi sekolah di Malahing layak dan sampai di jenjang kelas VI. Sehingga pemerintah tidak hanya sibuk membangun untuk pariwisata, tetapi memperhatikan juga pendidikannya.

Solusi dalam Islam

Negara tidak sepenuhnya menjalankan fungsi dan tugasnya sebagai pengurus urusan rakyat. Islam mengharuskan negara berperan penuh dalam memenuhi kebutuhan rakyatnya. Apa saja yang harus negara lakukan dalam aspek jangka panjangnya?

Pertama, negara wajib memenuhi kebutuhan pokok rakyat berupa sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan dengan memudahkan rakyat mengakses dan mendapat pelayanan secara optimal.

Kedua, mengelola SDA secara penuh. Negara tidak boleh menyerahkan pengelolaan SDA yang menjadi harta milik umum kepada individu, swasta, ataupun asing. Negara mengelola kekayaan alam, seperti hutan mangrove, terumbu karang, dan lainnya agar hasilnya bisa dinikmati masyarakat secara luas. Hal ini juga akan membuka lapangan kerja bagi penduduk setempat jika negara benar-benar mandiri mengelola SDA.

Ketiga, negara wajib memberikan pelayanan langsung berupa jasa, yakni pelayanan pendidikan dan lainnya. Jaminan atas pelayanan ini harus diberikan secara gratis. Karena ketiganya termasuk dalam kebutuhan dasar rakyat.

Negara juga wajib menyediakan semua fasilitas yang dibutuhkan untuk pelayanan jasa tersebut, seperti pengadaan sarana sekolah dan segala infrastrukturnya, klinik dan semua perlengkapannya, serta sarana perlindungan keamanan berikut perangkat hukumnya.

Keempat, kebijakan intensifikasi dan ekstensifikasi perikanan. Intensifikasi dilakukan dengan meningkatkan produktivitas yang sudah tersedia. Negara dapat mengupayakan dengan penyerbarluasan dan teknologi budi daya terbaru di kalangan para nelayan; membantu pengadaan mesin-mesin penangkapan ikan, serta sarana produksi perikanan lainnya.

Pengembangan Iptek perikanan ini penting agar pemerintah secara mandiri melakukan produktivitas pangan untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri terutama di wilayah yang banyak memiliki lautan. Negara tidak hanya mengunggulkan sisi pariwisatanya saja. Tetapi sampai kebutuhan pokok setiap individu terpenuhi dengan baik, seperti pendidikannya.

Negara harus memberikan modal bagi siapa saja yang tidak mampu. Hal ini pernah dilakukan Khalifah Umar bin Khaththab dengan memberikan harta dari Baitulmal (kas negara) kepada para petani di Irak, yang dapat membantu mereka  menggarap tanah pertanian serta memenuhi hajat hidup mereka, tanpa meminta imbalan dari mereka.

Adapun dalam aspek jangka pendek, negara harus menetapkan kebijakan cepat tanggap darurat, di antaranya sebagai berikut.

Pertama, mendata seluruh masyarakat yang membutuhkan pendidikan dengan cepat. Negara harus memastikan akses pendidikan berjalan secara adil dan merata.

Kedua, memperbaiki fasilitas pendidikan agar masyarakat Malahing memiliki ketahanan atau sistem pendidikan yang baik untuk anak-anaknya. Dengan tercukupinya pendidikan di Malahing, akan terjadi perbaikan sistem pendidikan masyarakat Malahing.

Ketiga, fokuskan anggaran untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat Malahing. Bukan malah meningkatkan bidang pariwisata tapi pendidikan jadi mundur.

Keempat, lakukanlah pelayanan kepada rakyat secara optimal. Sebab, setiap amanah akan dimintai pertanggungjawabannya. Dalam Islam, beratnya tanggung jawab pemimpin tergambar jelas dalam sabda Nabi ﷺ berikut.

Diriwayatkan oleh Tabrani dari Abu Wail Syaqiq Bin Salamah bahwasanya ketika Umar ra menugaskan Busyur ibnu Asim ra untuk mengurus sedekah suku Hawazin, tetapi Busyur tidak mau menerimanya. Ketika ditanya, ”Mengapa kamu tidak mau menerimanya?” Busyur menjawab, ”Seharusnya aku menaati perintahmu, tetapi aku pernah mendengar Nabi ﷺ bersabda, ‘Barang siapa yang dibebani mengurus suatu urusan kaum muslim, maka pada hari kiamat kelak ia akan dibedirikan di tepi jembatan Neraka Jahanam. Jika ia melaksanakan tugasnya itu dengan baik, ia akan selamat. Namun, jika ia tidak melaksanakannya dengan baik, ia akan dilemparkan ke bawah jembatan Jahanam itu dan akan terpelanting ke dalamnya selama 70 tahun.’”

Umar pun keluar dengan wajah susah. Ketika Abu Zar bertanya kepadanya, ”Mengapa Anda terlihat amat susah?” Umar pun menceritakan bahwa kesusahannya karena ia telah mendengar sabda Rasulullah saw. tersebut di atas yang disampaikan oleh Busyur Asim. Lalu Abu Zar pun membenarkan bahwa ia juga pernah mendengar hadis serupa.

Wallahualam

RSUD Bontang Punya CT Scan 128 Slince, Terima Pasien dari Luar

0
RSUD Bontang Punya CT Scan 128 Slince, Terima Pasien dari Luar
Alat CT Scan 128 Slince yang dimiliki RSUD Taman Husada Bontang. (Yahya Yabo)

BONTANG – Saat ini RSUD Bontang telah memiliki CT Scan 128 Slince. Dimana alat ini dapat lebih unggul dibanding dengan CT Scan lainnya. Hal itu diungkapkan Kepala Instalasi Radiologi RSUD Taman Husada Bontang, dr Agustiana, Sp. Rad, M.Kes.

“CT Scan ini digunakan untuk melihat organ dalam seperti organ otak sampai ke organ jantung, yang paling unggul kami digunakan,” kata dr Agustiana, Sp. Rad, M.Kes.

CT Scan sendiri memiliki banyak macam seperti CT Scan 2 Slince, 64 Slince dan 128 Slince.

“Instalasi radiologi mendapat kiriman dari dokter-dokter klinis, untuk dilakukan pemeriksaan radiologi sebagai penunjang pemeriksaan diagnosa,” imbuhnya.

Ia mengatakan, instalasi radiologi memiliki berbagai macam alat-alat radiologi baik yang konvensional maupun alat-alat yang lebih canggih.

“Alat-alat canggih seperti alat USG, CT Scan. Radiologi juga memeriksakan dengan menggunakan media kontras hingga pemeriksaan HSG,” katanya.

Untuk pasien-pasien yang datang ke radiologi sebelumnya, telah dilakukan rujukan ke instalasi radiologi untuk dilakukan pemeriksaan lanjutan.

“Kami terima rujukan dari dokter-dokter poli klinik. Kalau dari luar RSUD Bontang kami terima pengantar dari dokter pengirim karena kita mau tahu diagnosanya,” jelasnya. (adv/yah)

Musnahkan Limbah Medis Gunakan Incenerator

0
Musnahkan Limbah Medis Gunakan Incenerator
Incenerator yang dimiliki RSUD Taman Husada Bontang. (Yahya Yabo)

BONTANG – RSUD Taman Husada Kota Bontang menangani limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) atau limbah medis dengan cara dibakar menggunakan alat incenerator.

Kepala Instalasi Kesehatan Lingkungan (Kesling) RSUD Taman Husada Bontang, Sri Erna Nilawati menjelaskan, sampah-sampah medis atau limbah medis yang telah digunakan atau sisa penggunaan akan dimusnahkan dengan cara dibakar menggunakan incenerator dengan suhu 800 derajat celsius hingga 1.200 derajat celsius untuk pembakaran asap sisa pembakaran limbah medis.

Ia mengatakan, saat ini RSUD Bontang masih menggunakan incenerator dengan kapasitas 80 kilogram setiap pemusnahan limbah medis.

“Setiap dari klinik atau ruangan sudah dipisahkan antara sampah medis dan sampah non medis. Limbah medis akan dimusnahkan atau dibakar di incenerator milik RSUD Bontang,” kata Sri Erna Nilawati, Senin (13/11/2023).

Incenerator RSUD Bontang telah ada sejak RSUD Bontang berdiri dan telah direnovasi hingga tiga kali.

“Kalau limbah medis alternatifnya ya di insinerasi atau dilakukan pembakaran. Kalau hasil pembakaran (abu) sisanya kita kirim ke PT PPLI setahun sekali sebagai yang mengelola jasa pembuangan limbah,” katanya. (adv/yah)

Komisi III Temukan Pekerja Proyek Terminal Bus Bontang Tak Pakai APD

0
Komisi III Temukan Pekerja Proyek Terminal Bus Bontang Tak Pakai APD
Rombongan Komisi III DPRD Bontang saat meninjau langsung pembangunan terminal. (Dwi)

BONTANG – Rombongan Komisi III DPRD Bontang menemukan para pekerja tidak menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) saat sidak proyek pembangunan Terminal Bus Bontang, Senin (13/11/2023). Hal ini menjadi kekhawatiran tersendiri bagi Anggota Komisi III DPRD Bontang.

Amir Tosina, Ketua Komisi III DPRD Bontang mengatakan, sangat terkejut saat melihat para pekerja yang tidak menggunakan pengaman atau APD untuk keselamatan diri dalam bekerja.

“Ini tidak boleh dibiarkan, karena ini sangat bahaya. Setidaknya para pekerja semuanya menggunakan APD untuk keamanan dan keselamatan dalam bekerja,” paparnya saat diwawancarai.

Konsultan Pengawasan CV Arori Teknika, Muhammad Rusdi Fadillah mengatakan, dari pihaknya sudah mempersiapkan APD saat di lingkungan kerja, akan tetapi para pekerja tidak mau menggunakannya.

“Sebenarnya kami sudah mempersiapkan, tetapi para pekerjanya yang tidak mau menggunakannya,” ucapnya.

Dalam hal itu, Amir mempertegas pada pengawas, setelah ini menyuruh agar seluruh pekerja harus menggunakan APD yang ada, demi keselamatan dalam bekerja, karena keselamatan itu adalah yang paling utama.

Penulis: Dwi S

Editor: Yusva Alam

Sidak Terminal Bus Bontang, Komisi III Khawatir Desember Belum Rampung

0
Sidak Terminal Bus Bontang, Komisi III Khawatir Desember Belum Rampung
Rombongan Anggota Komisi III DPRD Bontang saat melakukan sidak. (Dwi).

BONTANG – Rombongan Anggota Komisi III DPRD Bontang datang meninjau proyek pembangunan Terminal Bus Bontang di Jalan Letjen S Parman, Bontang Barat, Senin (13/11/2023). Ketua Komisi III, Amir Tosina mengaku khawatir Desember mendatang proyek itu belum rampung.

Amir menjelaskan, terminal ini sangat diperlukan oleh masyarakat Bontang, terutama para pekerja. Dari pekerja tambang yang terminalnya memang bertempat di terminal KM 6.

“Kami sangat khawatir, dengan waktu yang sudah ditentukan akan tetapi pengerjaan belum selesai. Masalah di kami, masyarakat pada mempertanyakan,” paparnya.

Dari informasi yang masuk, banyaknya para pekerja yang mengeluhkan jauhnya jarak transportasi untuk mereka bekerja beberapa bulan terakhir. Memohon untuk cepat menyelesaikan proyek pembangunan terminal.

“Bapak mempunyai kuasa, tolong kasih saya alasan kenapa bisa pengerjaan belum selesai jika tidak sesuai dengan target. Agar kami bisa memberi alasan kepada mereka,” tanyanya kepada Konsultan Pengawasan CV Arori Teknika selaku pemegang proyek tersebut.

Konsultan Pengawasan CV Arori Teknika, Muhammad Rusdi menjelaskan, untuk pengerjaan sudah memasuki 75 persen. Dalam perencanaan November ini progresnya berjalan di 85 persen. Target pengerjaan rampung pun sebelum akhir Desember 2023.

“Kami maksimalkan penyelesaian secepat mungkin untuk pembangunan terminal ini, dan akan dibangun tingkat dua lantai nantinya. Lantai bawah untuk penumpang masuk, dan sedangkan yang di atas untuk kantor,” tutupnya.

Penulis: Dwi S

Editor: Yusva Alam

Tingkatkan SDM RSUD Bontang, Perawat dan Bidan Ikut Pelatihan ENIL

0
Tingkatkan SDM RSUD Bontang, Perawat dan Bidan Ikut Pelatihan ENIL
Pelatihan ENIL yang diikuti 30 perawat dan bidan RSUD Bontang. (Yahya Yabo)

BONTANG – RSUD Taman Husada bersama Hipgabi mengadakan pelatihan perawat dan bidan dalam bidang Emergency Nursing Intermediate Level (ENIL) yang dilaksanakan pada 13 – 19 November 2023 bertempat di lantai 4 gedung B RSUD Bontang secara online (daring) dan tatap muka di Samarinda.

Sub Koordinator Penunjang Keperawatan, Bambang Sri Mulyono mengatakan, pelatihan ENIL diperuntukkan bagi perawat dan bidan di RSUD Taman Husada Bontang. Kegiatan pelatihan berlangsung secara online (Daring) dan akan dilaksanakan tatap muka di Samarinda dalam hal tes setelah mendapatkan pelatihan.

“Ini kegiatan rutin yang dilaksanakan di bidang keperawatan yakni pelatihan ENIL. Ini merupakan pelatihan tingkat lanjutan,” kata Bambang, Senin (13/11/2023).

Bambang mengatakan, ada sebanyak 30 perawat dan bidang yang berasal dari semua unit termasuk unit Instalasi Gawat Darurat (IGD).

“Sebagian besar peserta dari IGD dan dari ruangan-ruangan perawat yang menangani jantung,” ungkapnya.

Selain itu, Ia pun mengatakan, pelatihan digabungkan dengan daring dan luring. Untuk pelatihan tatap muka sendiri akan dilaksanakan di Samarinda. “Ini pertama dilaksanakan dengan jumlah 30 peserta dalam satu rumah sakit bersama Hipgabi Kaltim dan Hipgabi Pusat,” terangnya.

Tujuan dilaksanakan pelatihan pun sebagai bagian dari mewujudkan visi misi RSUD Taman Husada Bontang, agar menjadi rumah sakit terbaik di Kalimantan Timur berstandar internasional.

“Akan ada ujiannya juga bagi peserta pelatihan. Tujuannya sebagai bagian dari visi dan misi rumah sakit. Meningkatkan pelayanan paripurna dan meningkatkan SDM RSUD Bontang,” pungkasnya. (adv/yah)

Musnahkan Limbah Medis, RSUD Bontang Bakal Punya Alat Incenerator Baru

0
Musnahkan Limbah Medis, RSUD Bontang Bakal Punya Alat Incenerator Baru
Proses pengerjaan incenerator baru milik RSUD Bontang di instalasi kesehatan lingkungan. (Yahya Yabo)

BONTANG – RSUD Taman Husada Bontang akan miliki incenerator baru dengan kapasitas 200 kilogram. Ini juga menjadi alat baru yang akan dimiliki RSUD Bontang dalam hal pemusnahan limbah B3 atau limbah medis.

Kepala Instalasi Kesehatan Lingkungan RSUD Taman Husada Bontang, Sri Erna Nilawati mengatakan, tahun ini RSUD Bontang mengadakan alat incenerator baru dengan kapasitas yang lebih besar.

“Ini sudah 80 persen kalau mesin inceneratornya. Tinggal pembangunan fisik untuk bangunan tempat inceneratornya yang sudah mencapai 75 persen,” kata Erna saat ditemui.

Selanjutnya, Ia mengatakan proses penyelesaian akan ditargetkan selesai pada Desember 2023. Selain itu, setelah proses selesai, incenerator harus memiliki izin sebelum digunakan untuk pembakaran limbah medis.

“Setelah selesai menunggu lagi, harus ada izin dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK),” ungkapnya. (adv/yah)

Perawat dan Bidan RSUD Bontang Ikuti Pelatihan BTCLS

0
Perawat dan Bidan RSUD Bontang Ikuti Pelatihan BTCLS
Proses pelatihan BTCLS yang dilaksanakan RSUD Taman Husada Bontang. (Yahya Yabo)

BONTANG – Tingkatkan keilmuan Sumber Daya Manusia (SDM) bagi perawat hingga bidan, RSUD Taman Husada melaksanakan Pelatihan Basic Trauma and Cardiac Live Support (BTCLS) yang dilaksanakan pada Rabu (8/11/2023) hingga Sabtu (11/11/2023) di Hotel Horison, Samarinda.

Sub Koordinator Penunjang Keperawatan RSUD Taman Husada Bontang, Bambang Sri Mulyono menjelaskan, BTCLS wajib diikuti perawat dan bidan untuk pelatihan dasar BTCLS. Pelatihan dilaksanakan secara langsung dalam rangkaian studi orientasi ke RSUD AWS Samarinda.

“Salah satu rangkaian dalam kunjungan ke RSUD AWS Samarinda setelah melihat tata kelola UGD. Perawat wajib mengikuti pelatihan BTCLS bersama Hipgabi Kaltim,” jelasnya saat ditemui.

Bambang mengatakan, pelatihan yang dilaksanakan bagi perawat dan bidang dimaksudkan untuk mendapatkan sertifikat dan memenuhi kapasitas peningkatan SDM.

“Outpunya sertifikat kelulusan dan pemenuhan kapasitas peningkatan sumber daya manusia. Hasilnya kami ingin lulus 100 persen dan memiliki sertifikat pelatihan BTCSL,” terangnya.

Ia pun menambahkan, semua pelatihan dimaksudkan dalam memenuhi visi misi rumah sakit yakni sebagai rumah sakit terbaik di Kalimantan Timur dan berstandar internasional. “Tujuan kami yakni mengejar capaian visi misi rumah sakit dalam menjadi rumah sakit terbaik di Kaltim,” sebutnya. (adv/yah)