Beranda blog Halaman 992

Pertama di Dunia, Badak LNG Luncurkan Proyek LPBS

0

BONTANG – Badak LNG meluncurkan proyek LPG Production Booster System (LPBS), Selasa (6/12). Bertempat di area Kilang Badak LNG peresmian dilakukan langsung oleh Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati.

LPBS merupakan proyek modifikasi kilang LNG agar dapat mengekstraksi lebih banyak LPG. Caranya, dengan melakukan instalasi pendingin tambahan pada scrub column overhead. Penurunan suhu diharapkan dapat membuat kondensasi lebih banyak pada hidrokarbon berat sehingga meningkatkan produksi LPG.

Melalui implementasi proyek ini, produksi LPG dari Kilang LNG Bontang yang dikelola oleh Badak LNG dapat meningkat hingga 323%, dari yang sebelumnya defisit (impor) LPG sebesar 270 m3/hari menjadi dapat memproduksi LPG sebesar 603 m3/hari.

Peningkatan ini menghasilkan total produksi LPG sebesar 1.560.000 m3 dan potensi pendapatan sebesar 92 juta USD selama tahun 2022–2027.

Sebagai proyek LPG Production Booster System (LPBS) pertama dan satu-satunya di dunia, inovasi karya anak bangsa ini memberikan manfaat besar bagi Indonesia khususnya dalam mewujudkan ketahanan energi nasional melalui kontribusi produksi LPG domestik.

Terobosan ini juga mendukung transformasi bisnis Badak LNG serta memberikan manfaat strategis bagi para pemangku kepentingan perusahaan, di antaranya mengurangi impor LPG.

Badak LNG adalah perusahaan pengolah gas alam tertua di Indonesia. Selama hampir 50 tahun, perusahaan yang berlokasi di Bontang, Kaltim, ini telah berhasil memenuhi berbagai permintaan LNG dari dalam maupun luar negeri secara aman, selamat, dan handal. Hal ini sejalan dengan visi perusahaan yaitu “Unggul dan Mendunia dalam Layanan Pengelolaan Fasilitas LNG”.

Peresmian ini sekaligus menorehkan prestasi baru bagi Badak LNG, di mana sebelumnya perusahaan telah meraih berbagai pencapaian. Di bidang safety, Badak LNG telah mencapai lebih dari 120 juta jam kerja aman setara dengan 5.820 hari kerja aman tanpa kecelakaan yang menghilangkan hari kerja selama 16 tahun sejak 8 Desember 2006.

Di bidang pengelolaan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat, Badak LNG merupakan peraih PROPER Emas 11 kali berturut-turut yang diberikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. Selain itu, Badak LNG juga meraih Penghargaan Subroto Bidang Efisiensi Energi (PSBE) tahun 2022 dari Kementerian ESDM Republik Indonesia.

Badak LNG juga telah menerapkan sejumlah standar internasional yaitu ISO 9001, ISO 14001, ISO 45001, ISO 17025, ISO 50001, dan ISO 37001. (*/sc)

DPRD Tampung Aspirasi Organisasi Profesi Perihal Penolakan Omnibus Law Kesehatan

0

BONTANG – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Bontang bersama empat organisasi profesi lainnya, yaitu Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), Ikatan Apoteker Indonesia (IAI), dan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) melakukan audiensi dengan DPRD Bontang. Pertemuan 28 November 2022, itu terkait penolakan terhadap RUU Omnibus Law Kesehatan.

Audiensi dilaksanakan di ruang rapat DPRD Kota Bontang  bersama Wakil Ketua DPRD Agus Haris. Lima Organisasi Profesi ini menolak RUU tersebut dengan lima alas an. Yaitu proses perumusan dan penyusunan RUU Omnibus Law Kesehatan oleh DPR tidak melibatkan organisasi profesi. Hal ini dianggap tidak transparan.

“Kami anggap ini tidak terbuka dan tidak transparan, karena kami sebagai organisasi profesi tidak dilibatkan dalam penyusunan draf ini. Harusnya kita dilibatkan, tapi ini tidak,” ujar Anwar selaku Ketua IDI Cabang Bontang.

Alasan lain dari penolakan RUU ini didasari dari jangka waktu yang ditetapkan mengenai Surat Tanda Registrasi (STR) yang biasanya hanya berlaku 5 tahun diganti dengan rencana penetapannya menjadi seumur hidup.

Di mana untuk meningkatkan kompetensi para tenaga kesehatan diperlukan pembaruan STR. Hal ini berkaitan dengan tingkat pelayanan nakes (tenaga Kesehatan) nantinya. Sehingga memberi jangka waktu STR merupakan hal yang penting untuk tetap diberlakukan.

Dalam RUU juga dibahas mengenai keterlibatan lembaga dalam masalah penerbitan izin praktek dan STR. Anwar menjelaskan bahwa jika keterlibatan organisasi profesi yang biasanya memberikan pembinaan etik dihilangkan, maka akan berpengaruh terhadap pelayanan kesehatan ke depannya.

Peningkatan jumlah sanksi terhadap profesi dokter yang awalnya 100 juta menjadi 300 juta juga dianggap memberatkan. Terakhir, Anwar menyampaikan bahwa pembahasan mengenai dimudahkannya tenaga kesehatan asing untuk masuk ke Indonesia akan berpengaruh terhadap pelayanan kepada masyarakat.

Hal-hal tersebut menjadi fokus organisasi profesi dalam menolak RUU Ombibus Law Kesehatan. Hasil dari audinsi kali ini, walaupun isi dari RUU tersebut masih belum pasti. Tetapi, DPRD Bontang akan tetap menampung dan menindaklanjuti aspirasi para tenaga profesi tersebut. (sc)

“Tantangan Profesi dan Kompetensi Komunikasi di Era Digital Pasca Pandemi”, Bagaimana Seharusnya Kompetensi SDM Komunikasi Hadir?

0

Dewasa ini, sejak pandemi berlangsung telah menghadirkan berbagai transformasi dan pertanyaan dalam setiap sendi kehidupan. Tidak terkecuali pada profesi yang dilakoni oleh sebagian besar masyarakat dengan praktik komunikasi yang menjadi tulang punggung dalam pekerjaan mereka. Profesi komunikasi menjadi salah satu hal yang tidak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari karena merupakan titik tumpu utama dalam menyelenggarakan interaksi antar manusia yang saat ini semakin masif terjadi dan didorong oleh perkembangan era digital yang terjadi pasca pandemi covid-19 bertamu. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana tantangan dan kompetensi yang seharusnya hadir menjadi payung utama dalam profesi komunikasi saat ini. Perlu untuk diketahui bersama bahwa komunikasi merupakan ilmu yang paling tua yang dibutuhkan sekarang, juga merupakan akar pembelajaran dari konvergensi media dan pandemi. Ilmu komunikasi harus mempunyai terobosan baru dan menjadi pembelajar ulung.

Dalam perkembangannya profesi komunikasi saat ini terbagi menjadi 2 alur, alur pertama yang berfokus pada bidang komunikasi korporat yaitu, hubungan masyarakat atau akrab disebut Public Relation dan alur kedua berfokus pada bidang komunikasi massa atau mass communication. Kedua profesi komunikasi ini memiliki tantangan dan kompetensi yang berbeda ditambah dengan bergeraknya era kehidupan manusia, yang saat ini berada pada era digital atau era society 5.0, dimaknai dengan tingginya persaingan diberbagai sektor yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat dan dituntut untuk dapat hidup berdampingan, menguasai, dan memanfaatkan teknologi.

Pembahasan kali ini berfokus pada 2 bidang profesi komunikasi korporat dan komunikasi massa yang dapat menjadi bekal dan dasar untuk terjun menapaki profesi ini.

The Power of Public Relations

“Wajah dari sebuah instansi terletak pada kehumasan atau bidang hubungan masyarakat yang dimiliki.” Ucap Annisa Fadiyyah saat penulis mewawancarainya pada Jumat, 18 November 2022 lalu. Beliau merupakan salah satu narasumber yang bekerja di bidang kehumasan Rumah Sakit Islam Bontang (RSIB) selama lebih dari 3 tahun dan merupakan alumni program studi S1 – Ilmu Komunikasi Universitas Mulawarman. Hubungan masyarakat menurutnya berfokus pada pembentukan dan pengelolaan citra sebuah instansi yang ada dan bagaimana cara untuk mempertahankan citra tersebut. Gambaran dari sebuah instansi dapat dilihat dari seorang humas yang ada di dalamnya. Hal ini selaras dengan pengertian humas dalam buku “Crisis Public Relations” oleh Firsan Nova bahwa public relations adalah bidang yang berkaitan dengan mengelola citra dan reputasi seseorang ataupun sebuah lembaga di mata publik.

Annisa menyebutkan bahwa pengelolaan media sosial menjadi pekerjaan rumah dalam profesinya ditambah dengan masifnya era digital dengan penggunaan media sosial. Seorang humas harus dapat menyikapi berita yang ada dengan menghidupkan sikap kritis dan teliti pada permasalahan yang terjadi. Semakin banyak media sosial dan informasi yang beredar akan mengarah pada tingginya tingkat hoaks yang berkemungkinan muncul. Crosscheck data adalah pekerjaan penting dalam humas dalam mencegah timbulnya krisis pada instansi tempat di mana humas bernaung. Misalnya dalam kehumasan RSIB tempat narasumber bekerja, jika terdapat berita kesehatan yang tidak benar adanya, maka seorang humas harus dapat berkoordinasi dengan para pimpinan terkait dan menunggu informasi lebih lanjut dari Kementerian Kesehatan yang merupakan pihak kredibel sebagai acuan segala informasi yang ada.

Kemudian, kompetensi menjadi jembatan utama untuk dapat berhasil menapaki profesi ini. Annisa menyebutkan ada beberapa kompetensi penting yang harus dimiliki oleh seseorang yang hendak menapaki profesi ini, di antaranya:

  1. Meningkatkan kemampuan komunikasi interpersonal. Komunikasi pada PR adalah komunikasi dua arah, antara perusahaan dan pihak-pihak yang berkepentingan sebagai publiknya. Dengan mengetahui dan mengasah skill dalam kompetensi ini, dapat membangun persepsi publik dalam menilai fakta yang terjadi berdasarkan tafsir individunya lewat interaksi komunikasi.
  2. Perbanyak kosakata formal. Kosakata formal merupakan hal mendasar yang harus dikuasai oleh seorang public relations untuk menghadapi publik dengan berbagai latar belakang.
  3. Menulis itu penting. Kemampuan ini mutlak dibutuhkan karena aktifitasnya yang berkutat dengan pemberitaan ke media massa (misalnya RSIB, aktif dalam beberapa media sosial untuk memberikan pemberitaan terkait instansinya) yang sebagian besar adalah informasi tertulis juga mempengaruhi press release yang dikeluarkan.
  4. Menjadi seorang yang up to date terhadap informasi yang ada. Di tengah masifnya era digital dan informasi yang kian cepat berhembus, beliau mengatakan mau tidak mau seorang PR harus dapat mengikuti dan menempatkan diri sehingga dapat meminimalisir terjadinya mispersepsi.
  5. Dapat menguasai beberapa media sosial dan tidak pasif terhadap satu media sosial saja. Paska pandemi memberi segudang pelajaran pada profesi ini seperti, beberapa pekerjaan dalam bidang ini menjadi lebih simpel dengan menggunakan media sosial untuk memposting suatu informasi dalam bentuk poster atau infografis hasil dari adaptasi teknologi selama pandemi. Namun, tidak jarang mengarah pada pisau bermata dua. Jika penyampaian informasi dapat dengan cepat dilakukan, maka dampak negatifnya adalah feedback yang didapatkan menjadi lebih lama, dikarenakan tidak semua masyarakat selalu memegang perangkat digital yang dimiliki. Misalnya, saat sebuah instansi mengirimkan e-mail kepada instansi yang dituju dengan harus menunggu balasan terlebih dahulu.

Banyaknya tantangan yang hadir waktu demi waktu menuntut seorang PR untuk selalu bersiap dan belajar bahwa bidang kehumasan tidak hidup dalam ruang hampa, diperlukan ruang untuk mengartikulasikan peran dan fungsinya untuk membangun citra positif instansi. karena kepuasan publik dapat menjadi tolak ukur keberhasilan suatu instansi.

Mengingat pentingnya fungsi yang dimiliki oleh PR ini, harapannya sumber daya manusia yang ingin terjun dan bergerak dalam dunia kehumasan dapat mempersiapkan diri dengan baik mulai dari sekarang agar dapat menguasai segala kompetensi yang dibutuhkan serta memahami perkembangan era digital. Karena Frank Seittle mengatakan bahwa, “The best public relations practice is done by the satisfied public.”

The Energy of Mass Communication

Saat ini dunia telah memasuki era di mana teknologi informasi berkembang dengan pesat dan banyaknya penggunaan media sosial. Hal ini membuat segala pekerjaan yang bergerak di bidang komunikasi massa semakin banyak digandrungi. Mulai dari presenter, penyiar radio, jurnalis, content creator, dan lainnya. Pernyataan tersebut kemudian menimbulkan pertanyaan yang menarik, lantas apa saja yang perlu dipersiapkan oleh SDM yang ingin terjun ke dunia komunikasi massa? Oleh karena itu, penulis telah mewawancarai salah satu tokoh yang bekerja di bidang komunikasi massa pada Jumat, 18 November 2022 lalu.

Beliau adalah Siti Fatimah, M.Sos. Mengawali karir sebagai penyiar radio dan juga menjadi presenter TV pada 2017. Saat ini, bekerja di Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Kalimantan Timur, tepatnya di bidang pengawasan isi siaran. Dengan pekerjaan mengawasi seluruh siaran yang ada di Kalimantan Timur seperti, memantau siaran tv dan radio serta iklan sesuai dengan P3SPS (Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran) dan EPI (Etika Pariwara Iklan) yang didalamnya terdapat aturan-aturan yang harus diikuti.

Pekerjaan yang dilakukan begitu menarik, sehingga dibutuhkan kompetensi untuk dapat terjun di dalamnya. Beliau membagikan informasi bahwa dalam dunia komunikasi massa, kompetensi utama yang dibutuhkan ialah “kreativitas” dan “kemampuan membidik sasaran tertentu” untuk dapat meraih khalayak sebanyak mungkin serta menghasilkan program yang tepat dan berkualitas. Sedikit menyinggung teori, penulis bertanya mengenai apakah komunikasi massa dapat memengaruhi kehidupan manusia di tengah masifnya era digital saat ini. Beliau menjelaskan bahwa hal tersebut memiliki efek pada kehidupan manusia yang terbagi dalam tiga dimensi yaitu, kognitif (memberi informasi kepada diri sendiri), afektif (khalayak diharapkan dapat merasakannya), dan konatif (efek yang timbul dalam bentuk perilaku/tindakan/kegiatan).

Kompetensi selanjutnya yaitu, public speaking”. Public speaking adalah sebuah seni berkomunikasi secara lisan untuk menyampaikan ide, gagasan, pesan, dan atau pendapat yang bertujuan untuk menginformasikan, menghibur, dan mempengaruhi audiens dengan metode dan struktur tertentu. Beliau memaparkan bahwa public speaking diperoleh dari kemauan dan sikap konsisten dalam berlatih. Untuk sampai di titik ini, beliau mengawalinya sejak kelas 4 SD dengan mengikuti berbagai lomba seperti pidato dan job sebagai pembawa acara.

Selain menjadi pengawas isi siaran di KPID, Siti Fatimah adalah seorang pengisi suara di sebuah platform yang sekarang banyak digandrungi oleh remaja-dewasa, yaitu Spotify. Di platform tersebut beliau membuat podcast dengan judul “Suara Biru”. Untuk menjadi pengisi suara/podcaster, hal penting yang diperlukan ialah kemauan. Karena segala sesuatunya akan dimanajemen sendiri, mulai dari naskah hingga pada saat rekaman. Tidak hanya itu, kemampuan untuk dapat mengolah bahasa, mengatur artikulasi, dan intonasi sangat diperlukan.

Hal tersebut merupakan contoh dari efek digitalisasi yang membuat semua orang telah beralih menggunakan new media. Era digital memberi dampak positif dan negatif dalam kehadirannya, dampak positifnya ialah menambah peluang kerja dan atau menjadi pekerjaan sampingan, serta dapat meningkatkan kreativitas dan inovasi. Namun, terdapat pula dampak negatif yang ditimbulkan, yaitu indikasi hoaks semakin sulit untuk diatasi. Penyebaran hoaks merupakan hasil dari masifnya perkembangan era digital saat pandemi dan terus berkembang pasca pandemi bertamu.

Siti Fatimah menceritakan mengenai salah satu kegiatan tahunan KPID yaitu, “Literasi Media” yang pelaksanaannya diikuti dengan berbagai rangkaian acara yang mempertemukan banyak orang secara langsung sebelum pandemi melanda. Namun, setelah pandemi terjadi, kegiatan tersebut harus dilakukan secara online via Zoom Cloud Meetings, dimana kendala-kendala seperti jaringan dan miskomunikasi sering terjadi. Tetapi, kehidupan akan selalu berganti, pasca pandemi program ini kembali dilakukan dengan tetap menjaga protokol kesehatan dan mematuhi rules yang ada. “Literasi Media” oleh KPID yang bekerja sama dengan Prodi Ilmu Komunikasi – Universitas Mulawarman, 4 November 2022 lalu berjalan dengan baik dan interaktif.

Dengan berkembangnya peradaban kehidupan manusia, profesi komunikasi massa juga harus berkembang sesuai dengan kebutuhan media massa yang ada. Komunikasi massa merupakan lahan luas untuk ditanami oleh berbagai keunikan dan keahlian hebat di dalamnya. Semakin berkembangnya suatu teknologi dan kemampuan manusia dalam menciptakan inovasi untuk berkomunikasi, hasil dari produk media massa pun akan semakin berkembang.

Maka, perlu adanya kemampuan untuk beradaptasi terhadap segala perkembangan tersebut. Dimana dibutuhkannya rasa peduli untuk selalu peka melihat hal-hal baru dan mengolahnya menjadi sesuatu yang inovatif dengan cara memperkuat kreativitas berpikir. Malcolm X, seorang aktivis muslim mengatakan bahwa, “The media’s the most powerful entity on earth. They have the power to make the innocent, and that’s power. Because they control the minds of the mases.”

Perkembangan komunikasi dewasa ini memberi garis yang jelas kepada segenap sumber daya manusia yang ingin berkecimpung di dalam profesi komunikasi untuk dapat mempersiapkan sekaligus memaksimalkan kompetensi yang dimiliki untuk dapat bersaing sesuai dengan bidang yang diminati. Profesi komunikasi di era digital pasca pandemi harus tetap optimis untuk dapat beradaptasi dengan kondisi yang dapat berubah sewaktu-waktu ditambah dengan masifnya perkembangan teknologi yang semakin menembus batas pengetahuan manusia, hal ini sangat dibutuhkan karena profesi ini merupakan linkage pada semua sektor pekerjaan. Dibutuhkan kompetensi yang mumpuni untuk dapat terus bertahan dalam sektor ini, dikutip dalam sebuah webinar online, Syaiful Halim merupakan Founder dari M-Docs juga turut berpesan bahwa seorang lulusan komunikasi harus well educated, well trained, well managed, well equipped, setelah itu baru dapat well paid. (***)

Tentang Penulis

Yaasiina Nur Laila Aprilia, Risna, dan Revita Selviana adalah tiga perempuan yang terbentuk oleh sebuah kelompok mata kuliah Pengantar Ilmu Komunikasi bulan lalu. Tepatnya, mereka adalah tiga mahasiswi semester 1 di Universitas Mulawarman prodi S1 – Ilmu Komunikasi. Memiliki hobi dan interest di bidang yang berbeda tidak membuat ketiga perempuan ini menyerah untuk menghasilkan rangkaian kata demi kata dengan harap menyala bisa membantu sesama dan sekitar.

PD Salimah-Sekolah Alam Baiturrahman Gelar Seminar Parenting Akbar, Jadikan Orangtua yang Dirindukan Anak di Era Digital

0

BONTANG – Pimpinan Daerah (PD) Salimah Kota Bontang bekerjasama dengan Sekolah Alam Baiturrahman menggelar Seminar Parenting Akbar, Minggu, 4 Desember 2022, di Masjid Terapung Darul Irsyad Al Muhajirin. Kegiatan yang diikuti 200 peserta ini mangambil tema ‘Menjadi Orangtua yang Dirindukan Anak di Era Digital’ dengan narasumber Ustaz M. Fauzil Adhim, Pakar Parenting dan Penulis Buku Best Seller.

Dalam paparannya Ustaz M. Fauzil Adhim membeberkan bagaimana pentingnya seorang anak ketika di dalam rumah bercengkrama dengan orangtua dan keluarga. “Jika komunikasinya baik, maka HP tidak lebih menarik dibandingkan bercengkrama bersama orangtua dan keluarga. Anak- anak lahir dengan fitrahnya yang suci. Segala keruwetan yang mungkin terasa dalam membersamai mereka tumbuh, mungkin berawal dari kita sendiri (para orangtua, Red.),” bebernya.

“Jika saja kita hangat, mungkin saja gadget atau fasilitas kekinian lain tak akan lebih menarik untuk mengisi waktunya agar anak-anak kita tak mudah ‘terbawa arus’, Kuncinya, kenyangkan mereka secara psikis dan emosi. Bukan sekadar mengapresiasi setiap aktivitas baiknya. Apalagi bernada tinggi saat mereka berbuat salah,” sambungnya.

Namun, menjadi orangtua siap pasang telinga saat mereka butuh didengarkan. Menjadi orangtua yang asyik saat mereka butuh teman bicara. “Semangat membumikan QS. Ar Rum 30,” ucapnya. (hms)

Pemerintah Daerah Bentuk Kader Pembangunan Manusia

0

BONTANG – Pemerintah Kota Bontang melalui Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, Bapelitbang, Camat, dan Lurah se-Kota Bontang melakukan rapat mengenai rencana Pembentukan Kader Pembangunan Manusia (KPM). Kader itu akan membantu menekan angka stunting di Kota Bontang.

“Pembinaan Kader Pembangunan Manusia merupakan aksi 5 yang hari ini akan dibentuk. Tujuannya adalah salah satunya untuk menekan angka stunting khususnya di Tingkat Kelurahan,” ujar Najirah, wakil wali kota Bontang pada 5 Desember 2022.

KPM sendiri merupakan kader yang dipilih dan berasal dari masing-masing wilayah kelurahan, dibuat guna mencapai pendataan yang akurat dalam keselarasan data. Hal tersebut sebagai upaya perencanaan yang mendasar sehingga program kegiatan yang dilaksanakan lebih efektif dan tepat sasaran.

Tugas KPM nantinya adalah khusus terkait program konvergensi pencegahan stunting. Di mana kader tersebut akan melaksanakan monitoring di masing-masing wilayah, pendataan sarana rumah tangga 1.000 HPK (Hari Pertama Kehidupan). Memantau layanan pencegahan stunting terhadap sarana rumah tang 1.000 HPK untuk memastikan setiap sarana pencegahan stunting mendapatkan layanan yang berkualitas.

Juga melaksanakan komunikasi, informasi dan edukasi tentang pencegahan stunting, melaksanakan koordinasi dan kerja sama dengan pihak yang berperan dalam pelayanan pencegahan stunting, serta membuat laporan kegiatan.

KPM sendiri nantinya adalah warga yang berasal dari kelurahan setempat, berpengalaman sebagai kader masyarakat (kader posyandu, guru PAUD, kader Kesehatan), memiliki kemampuan komunikasi yang baik, dan minimal berpendidikan SLTA.

Terdapat sedikit kendala dalam penentuan anggota KPM dimana dirasa banyak warga yang memiliki kualitas yang baik dalam melakukan pelayanan dalam membantu penurunan dan pencegahan stunting  tetapi berpendidikan dibawah SLTA.

Terlepas dari hal tersebut Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Bontang Jamila menyatakan bahwa yang terpenting adalah orang yang terpilih nantinya merupakan orang yang mau bekerja keras dan memiliki kualitas dan kapasitas dalam menjalankan tugas.

“Silakan disesuaikan dengan keriterianya. Yang paling penting itu adalah orang yang tepat yang mau bekerja sama dengan kita dan mampu melaksanakan tugas yang ada,” jelasnya.

Menurut dia, berikan keleluasaan kepada kelurahan dalam menentukan karena lebih tau yang mana yang pekerja keras, gesit, dan punya leadership dan cekat. Anggota KPM perwilayah nantinya akan disesuaikan dengan wilayah masing-masing dengan minimal memiliki 1 anggota KPM. (sc)

Pemkot Target Kasus Stunting Turun 3,5 Persen Tahun Ini

0

BONTANG – Masalah penurunan angka stunting menjadi salah satu program pemerintah nasional, di mana target angka stunting nasional untuk tahun 2024 mencapai 14%. Sesuai dengan Peraturan Presiden nomor 72 tahun 2021 mengenai percepatan penurunan angka stunting, Kota Bontang menargetkan tahun 2022 angka stunting Kota Bontang turun sebesar 3,5%.

Wakil Wali Kota Bontang Najirah menuturkan, terdapat 5 pilar strategi nasional percepatan penurunan stunting. Yaitu komitmen dan misi kepemimpinan nasional dan daerah, kampanye nasional dan perubahan prilaku, konvergensi, konsolidasi, dan koordinasi program pusat, daerah dan kelurahan, ketahanan pangan dan gizi, serta pemantauan dan evaluasi.

Dalam upaya pengurangan angka stunting, Najirah yang juga merupakan Ketua Tim Kecepatan Penurunan Stunting Kota Bontang menyampaikan bahwa memang banyak masyarakat yang tidak antusias dalam melakukan penimbangan dan imunisasi anak ke posyandu.

Karena itu, Najirah akan berupaya untuk melakukan upaya langsung kelapangan dalam membantu mengurangi angka stunting di Kota Bontang

“Target kita untuk menurunkan angka stunting dari jumlah dua puluh tiga koma ini, nanti jika seluruh posyandu yang ada ini sudah giat nanti kita harus jemput bola juga. Karena banyak memang yang tidak ingin mengunjungi posyandu jadi nanti kita lakukan jemput bola,” ujarnya, Senin (5/12/2022).

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Bontang Jamila berharap dengan adanya berbagai program pengurangan angka stunting dapat benar-benar memberikan hasil nyata di masyarakat

“Dalam aksi konvergensi yang harus kita lakukan adalah evaluasi semua aksi kita, progresnya bagaimana. Jangan sampai rapat-rapat kita tidak menghasilkan apa-apa” ujarnya.

Pemerintah Kota Bontang Bersama dengan dinas Kesehatan, Bapelitbang Kota Bontang, Dinas PPKB, Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat, Camat, Lurah, dan berbagai stekholder melaksanakan Konvergensi Stunting Aksi 5 pada 5 Desember 2022 bertempat di Pendopo Wali Kota Bontang. (sc)

Ini Tips Kadinkes Bontang Cegah HIV/AIDS

0
Pemeriksaan VCT bagi masyarakat. (Yahya Yabo/ Media Kaltim)

BONTANG– Dinas Kesehatan (Dinkes) Bontang melakukan pemeriksaan Voluntary  Counselling and Testing (VCT) di fasilitas kesehatan pemerintah maupun layanan kesehatan lain dan rumah sakit swasta. Kepala Dinas Kesehatan Kota Bontang, drg Toetoek Pribadi Ekowati menjelaskan, VCT dilakukan untuk mendeteksi dini  HIV/AIDS di masyarakat yang memiliki kecenderungan perilaku berisiko.

“VCT dilakukan untuk pemeriksaan dini kepada masyarakat yang mempunyai perilaku berisiko. Misalnya alat kontrasepsi, gonta-ganti jarum suntik untuk narkoba. Di dinas kesehatan kita punya pendampingan bagaimana bahayanya,” jelas Toetoek.

Lebih jauh, Toetoek mengatakan,  penularan HIV/AIDS tidak terjadi saat berenang, lewat keringat, makan minum atau tinggal bersama.

“Karena masyarakat harus tahu, bahwa penularan tidak terjadi penularan saat tinggal bersama. Jadi jangan stigma jauhi, tidak. Tidak dijauhi orangnya, yang dijauhi virusnya,” katanya.

Dirinya memberikan tips kepada kelompok masyarakat yang memiliki kecenderungan risiko tinggi untuk melakukan pemeriksaan VCT. Tipsnya adalah, penderita tetap menjaga kesehatan dan tetap produktif.

“Kelompok rentan yang mempunyai perilaku potensi terhadap HIV/AIDS untuk cepat melakukan VCT. Karena penyakit ini bukan akhir dari segalanya. Pasien bisa sehat, bisa produktif dalam (sehatnya). Jadi kalau positif jangan berpikir bunuh diri. Karena dengan pengobatan ARV, dia bisa produktif dengan penyakitnya,” katanya. (yah)

Ubah Pandangan Buruk, Dinkes Bontang Edukasi Masyarakat soal HIV/AIDS

0
Kepala Dinkes Bontang saat memberikan arahan. (Yahya Yabo/Media Kaltim)

BONTANG– Dinas Kesehatan (Dinkes) Bontang melalui Puskesmas Bontang Utara II melaksanakan edukasi, pencegahan serta penanganan HIV/AIDS dan pemeriksaan VCT bagi masyarakat  di aula BPU Kelurahan Loktuan, Senin (5/12/2022).

Kepala Dinkes Bontang, drg Toetoek Pribadi Ekowati mengatakan, upaya ini dilakukan untuk menekan dan mencegah kasus HIV/AIDS di Bontang.

Toetoek mengungkapkan, secara global selama tiga dekade terakhir,  telah dilakukan berbagai upaya pencegahan namun prevelensinya tetap tinggi.

“Sudah dilakukan upaya-upaya, namun kasus HIV/AIDS secara global masih tinggi. Yang ketemu itu masih sebagian, tapi yang ada seperti gunung es,” kata Toetoek, Senin (5/12/2022).

Kondisi tersebut terjadi karena adanya pandangan buruk atau stigma terhadap para penderitanya, sehingga masyarakat enggan memeriksakan kondisi kesehatan mereka.

“Di bawah masih banyak yang tidak mau periksa. Kenapa tidak mau periksa? Karena stigma di masyarakat terhadap penderita (HIV/AIDS) itu jelek yang dapat mengucilkan,” katanya.

Masalah lain yang dialami Dinkes, lanjut dia, fasilitas kesehatan sulit mendeteksi secara dini temuan kasus HIV/AIDS di masyarakat.

“Karena yang datang takut dan masih sedikit karena stigma yang buruk. Maka itu, hentikan stigma biar terdeteksi sedini mungkin,” pintanya.

Dengan deteksi dini, kata Toetoek, akan mengurangi bertambahnya penularan sekaligus mencegah kematian akibat  HIV/AIDS.

“Ketiga, kita berusaha melakukan pelayanan komprehensif terhadap penderita HIV/AIDS,” tandasnya. (yah)

Jelang Natal, Polsek Bontang Utara Tingkatkan Patroli Gereja

0

BONTANG – Memasuki bulan Desember, gema perayaan Natal sudah mulai terasa. Terlihat  gereja-gereja sudah mulai bersolek menyambut datangnya Natal.

Menjamin rasa aman dan nyaman, Polsek Bontang Utara meningkatkan patroli gereja-gereja di wilayah hukum Polsek Bontang Utara, Minggu (4/12/2022).

Kegiatan patroli ini dipimpin KSPK Aipda Bambang Abimanyu bersama anggota jaga dan Personel Polsub Sektor Loktuan dengan menyambangi sejumlah gereja. Antara lain Gereja HKBP, Gereja Bethel Indonesia, (GBI), Gereja Imanuel, Dan Gereja Jemaat Toraja Loktuan

Kapolsek Bontang Utara Iptu Tri Soediantoro mengatakan patroli  gereja ini bertujuan untuk mengantisipasi adanya  ancaman terorisme serta orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang dimungkinkan dapat menimbulkan gangguan keamanan

”Kami terus meningkatkan patroli menyambut Natal. Kami sasar gereja-gerejauntuk menjamin rasa aman dan nyaman dalam melakukan ibadah,” katanya.

Dalam kegiatan Patroli tersebut Personel Polsek Bontang Utara juga mengimbau kepada jemaat untuk selalu waspada dan mengantisipasi adanya orang-orang asing.

”Kami mengimbau kepada pengurus gereja dan jemaat untuk bersama-sama menjaga stuasi kamtibmas dan mematuhi protokol kesehatan agar tercipta situasi kamtibmas yang aman dan kondusif,” pungkas Kapolsek Bontang Utara Iptu Tri Soediantoro. (hms)

Libur Akhir Pekan, Polsek Bontang Selatan Gelar Patroli Sasar Tempat Wisata

0

BONTANG – Sejumlah tempat wisata di wilayah Kecamatan Bontang Selatan setiap libur akhir pekan ramai dikunjungi masyarakat.

Oleh sebab itu, Polsek Bontang Selatan melalui KSPK Aiptu Bakri Badaruddin bersama anggota Jaga Bripda M Rozak melaksanakan patroli tempat tempat wisata dengan menyasar arena permandian Nirwana Park, Minggu (04/12/2022)

Aiptu Bakri Badaruddin mengatakan  kegiatan patroli di obyek wisata ini bertujuan untuk menjaga stuasi kamtibmas agar tetap aman dan kondusif

”Kami melaksanakan patroli ini dalam rangka mencegah terjadinya gangguan kamtibmas serta memberikan rasa aman terhadap para pengunjung. Selain itu juga kami mengimbau kepada para pengunjung maupun pengelola obyek wisata Nirwana Park agar tetap mematuhi Prokes dan waspada terhadap aksi kejahatan seperti pencurian,” bebernya.

Sementara itu Kapolsek Bontang Selatan Iptu Abdul Khoiri mengatakan pihaknya terus menekankan kepada anggotanya untuk melaksanakan patroli pada obyek wisata maupun tempat keramaian lainnya di wilayah hukum Polsek Bontang Selatan guna mencegah dan mengantisipasi gangguan kamtibmas khususnya pada hari libur. (hms)