BERAU – Ancaman krisis air bersih di Pulau Maratua kini tidak hanya mencekik ekonomi warga, tetapi juga membahayakan keberlangsungan industri pariwisata daerah.
Abrasi yang melanda Kampung Teluk Harapan, mulai merusak sumber air tawar hingga berubah menjadi payau dan terkontaminasi timbal.
Dampak kekeringan paling parah dirasakan warga Kampung Teluk Alulu selama empat bulan terakhir. Demi memenuhi kebutuhan harian, masyarakat terpaksa merogoh kocek Rp140 ribu hingga Rp180 ribu untuk membeli air tawar per tangki (profil tank).
Kondisi tersebut dinilai dapat mengganggu pelayanan bagi para wisatawan yang berkunjung ke pulau terluar itu. Padahal, sebuah embung berukuran 50 x 50 meter telah dibangun melalui bantuan pihak ketiga, tetapi sarana pendukungnya hingga kini belum beroperasi maksimal.
Camat Maratua, Ashari, menyampaikan kekhawatirannya jika pemerintah tidak segera mengambil tindakan nyata untuk menyelamatkan ketersediaan air bersih di wilayahnya.
“Saya berani jamin, dalam lima tahun ke depan kita tidak akan punya air tawar lagi kalau ini dibiarkan,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya intervensi penanganan agar dampak kekeringan tidak mematikan mata pencaharian warga dan daya tarik wisata setempat.
“Kalau tidak ada air bersih, aktivitas masyarakat maupun pelayanan terhadap wisatawan bisa ikut terdampak,” tegas Ashari.
Reporter: Sahruddin
Editor: Yusva Alam




