48 Terduga TBC Tercatat di Lapas Bontang, Skrining Massal Digelar

BONTANG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bontang menggelar skrining tuberkulosis (TBC) terintegrasi Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Bontang, Senin (19/10/2026). Pemeriksaan ini menyasar seluruh Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) dan petugas lapas.

Kegiatan tersebut dilakukan untuk mendeteksi potensi penularan TBC sejak dini, mengingat lapas menjadi salah satu lingkungan berisiko tinggi akibat pola hunian bersama.

Kepala Dinkes Bontang, Toetoek Pribadi Ekowati, dalam laporannya menyampaikan, hingga triwulan III 2026 tercatat 48 orang terduga TBC di lingkungan lapas. Dari jumlah tersebut, ditemukan tiga kasus TBC dan dua pasien di antaranya telah memulai pengobatan.

Sementara itu, penelusuran kontak atau investigasi kontak di lingkungan lapas baru mencatat satu kontak yang teridentifikasi pada periode tersebut. Karena itu, pemeriksaan terintegrasi secara massal dilaksanakan untuk menjangkau penghuni dan petugas secara lebih menyeluruh.

Rangkaian pemeriksaan meliputi skrining gejala dan faktor risiko TBC serta penyakit tidak menular. Peserta yang memenuhi indikasi juga dapat menjalani pemeriksaan foto toraks menggunakan alat X-Ray Portable.

Baca Juga:  Sosok Almarhum Kamilan di Mata Chusnul Dhihin: Teman 'Ngobrol' yang Baik

Bagi mereka yang diduga menderita TBC, pemeriksaan dilanjutkan menggunakan Tes Cepat Molekuler (TCM) untuk membantu memastikan diagnosis.

Petugas kesehatan juga memberikan konseling dan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) kepada kontak erat yang memenuhi kriteria, serta mengarahkan pasien yang terdiagnosis agar mendapatkan pengobatan.

Kegiatan ini melibatkan Dinkes Bontang, puskesmas wilayah, tenaga kesehatan lapas, tim Kementerian Kesehatan RI, serta kader dan petugas penjangkau TBC.

Lapas Bontang menjadi lokus pertama di Kota Bontang yang mendapatkan pendampingan pemeriksaan menggunakan X-Ray Portable, dalam program tracing TBC terintegrasi CKG.

Sementara itu, Kepala Lapas Kelas IIA Bontang, Agus Wahono, mengungkapkan bahwa kondisi kelebihan kapasitas menjadi salah satu tantangan dalam pemenuhan layanan kesehatan bagi warga binaan. Saat ini, lapas yang dipimpinnya memiliki kapasitas sekitar 500 orang, tetapi dihuni sekitar 1.800 orang.

“Sekarang kapasitas itu cuma 500, sekarang diisi 1.800. Itu sudah di atas 200 persen lebih over capacity,” ujarnya

Wahono juga menyebut anggaran kesehatan di lapas masih terbatas. Karena itu, pihaknya mengapresiasi dukungan Pemerintah Kota Bontang, khususnya dalam membantu pemenuhan kebutuhan kesehatan warga binaan

Baca Juga:  Dimaafkan Korban, Tiga Pelaku Pengeroyokan di Berbas Pantai Bebas dari Hukuman

Menurutnya, sejumlah warga binaan yang membutuhkan perawatan di rumah sakit telah terbantu dengan kepesertaan BPJS Kesehatan. Ia berharap kolaborasi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait terus berlanjut, agar warga binaan mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai selama menjalani masa pembinaan.

Pewarta: Syakurah
Editor: Yusva Alam

Disclaimer

Redaksi Radarbontang.com tunduk pada Kode Etik Jurnalistik dan Undang-Undang Pers No. 40 Tahun 1999. Setiap berita yang dipublikasikan adalah hasil kerja jurnalistik. Hak jawab dan hak koreksi dapat diajukan melalui email: redaksi@radarbontang.com.