JAKARTA — Peneliti Senior Institute for Development of Economics and Finance Dradjad Wibowo menilai kehadiran Danantara Indonesia dalam World Economic Forum 2026 di Davos, Swiss, berpotensi menjadi angin segar bagi kemajuan ekonomi nasional dan penguatan posisi Indonesia di panggung ekonomi global.
Menurut Dradjad, WEF merupakan forum strategis yang selama satu dekade terakhir tidak dihadiri langsung oleh pemimpin Indonesia. Padahal, forum ini menjadi titik temu tokoh-tokoh kunci jaringan keuangan, investasi, bisnis, dan inovasi dunia.
“Tampilnya kembali Indonesia di forum ini memberikan angin segar buat kemajuan ekonomi Indonesia. Itu forum yang tepat, karena para tokoh dan orang kuat di jaringan keuangan, investasi, bisnis, dan inovasi hadir di sana,” ujar Dradjad dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat.
Sebelumnya, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengumumkan Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan menghadiri WEF 2026 yang berlangsung di Davos pada 19–23 Januari 2026. Forum tahunan tersebut mengusung tema “A Spirit of Dialogue” dan melibatkan pemimpin negara, pengusaha global, akademisi, hingga perwakilan masyarakat sipil.
Dradjad menilai kehadiran Danantara Indonesia dalam WEF 2026 memiliki nilai strategis karena badan investasi tersebut dapat menjelaskan arah kebijakan ekonomi nasional, termasuk perannya dalam mengelola modal negara yang diperkirakan mencapai 1 triliun dolar Amerika Serikat.
“Ujungnya adalah membangun confidence, kepercayaan para investor global untuk masuk ke Indonesia,” katanya.
Ia menekankan bahwa WEF harus dimanfaatkan Danantara untuk menjelaskan secara gamblang kepada para konglomerat dunia, kepala negara, serta inovator teknologi mengenai tujuan pembentukan dan peran strategis sovereign wealth fund Indonesia tersebut.
“Para raksasa dunia itu harus jelas, iklim bisnis apa yang mau kita bangun dengan SWF Indonesia ini,” ujar Dradjad.
Menurutnya, membangun kepercayaan investor tidak cukup hanya melalui paparan di forum internasional, tetapi juga harus diikuti dengan kesiapan ekosistem di dalam negeri.
“Setelah dari WEF, persiapkan segalanya. Saat riset mereka atau intelijen bisnis mereka datang, mereka harus melihat faktor-faktor yang membuat mereka mau masuk dan merasa nyaman dengan iklim serta ekosistem bisnis Indonesia,” katanya.
Sebagai catatan, Presiden Indonesia terakhir kali hadir di WEF lebih dari satu dekade lalu. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tercatat berpidato di WEF 2011 dengan mengangkat tema ekonomi hijau dan pembangunan berkelanjutan.
Pada WEF 2026 mendatang, Presiden Prabowo direncanakan hadir bersama CEO Danantara Rosan Roeslani, serta sejumlah menteri, termasuk Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Sementara itu, Managing Director Global Relations and Governance Danantara Indonesia Mohamad Al-Arief sebelumnya menyatakan bahwa kehadiran Danantara di WEF 2026 akan dimanfaatkan secara optimal sebagai ruang strategis untuk membangun keterhubungan dengan modal global.
Menurut Al-Arief, WEF dapat menjembatani kepentingan pembangunan nasional dengan akses pembiayaan internasional melalui pendekatan yang terstruktur dan berkelanjutan.
“Kehadiran kami di sini sekaligus memperkenalkan Danantara secara institusi. Indonesia memerlukan badan pengelolaan investasi strategis nasional dengan tata kelola yang baik, dan kami siap menjadi mitra bagi mitra-mitra global,” ujarnya. (MK)
Editor: Agus S




