SEJAK Pasar Pagi selesai direvitalisasi dan mulai ditempati pedagang, saya sudah ingin melihatnya langsung.
Banyak cerita yang saya dengar. Ada pedagang yang belum mendapat kios. Ada yang mengeluhkan pembeli semakin sepi. Ada pula yang mempertanyakan pembagian kios yang dianggap belum ideal.
Saya penasaran. Dari luar, bangunannya terlihat megah. Sulit membayangkan pasar ini masih menyimpan banyak persoalan.
Beberapa waktu lalu, saya akhirnya sempat datang ke Pasar Pagi bersama istri.
Saya sengaja berkeliling dari lantai bawah sampai lantai paling atas.
Kesan pertama saya, bangunannya memang berubah total. Jauh berbeda dibanding Pasar Pagi yang lama.
Koridornya lebar. Bangunannya terang karena banyak bukaan. Eskalator tersedia. Lift barang juga ada. Toilet tersedia di setiap lantai. Sistem zonasi juga mulai diterapkan sehingga pedagang dikelompokkan berdasarkan jenis dagangannya.
Dari lantai atas, pemandangan Sungai Mahakam dan Masjid Raya Darussalam terlihat cukup jelas. Bahkan rooftop di lantai delapan nantinya bisa dimanfaatkan sebagai ruang publik. Meski saat saya datang, area itu belum dibuka.

“Masih menunggu peresmian oleh Wali Kota, entah kapan,” ucap salah seorang pedagang.
Kalau hanya melihat bangunannya, saya kira tidak banyak yang akan mengeluh.
Namun saat saya berkeliling, suasana pasar memang belum seramai yang saya bayangkan. Di beberapa lantai masih terlihat banyak kios yang belum buka.
Padahal nilai pembangunannya mencapai sekitar Rp600 miliar. Revitalisasi dilakukan dalam dua tahap. Bangunan delapan lantai dengan sekitar 1.800 kios dan los itu kini menjadi salah satu pasar rakyat paling modern di Kaltim.
Setelah berkeliling hampir seluruh lantai, saya mulai paham bahwa persoalannya bukan lagi soal bangunan. Masalahnya justru bagaimana pasar ini dikelola.
Beberapa hari setelah saya datang ke tempat ini, saya membaca pemberitaan tentang Ketua Komisi II DPRD Samarinda Iswandi yang menghabiskan waktu sekitar empat jam berkeliling Pasar Pagi.

Kesimpulannya hampir sama dengan yang saya lihat. Menurutnya, persoalan di Pasar Pagi jauh lebih kompleks daripada yang terlihat dari luar.
“Jangan sampai kita melihat pasar ini bagus, indah secara estetik, tapi secara fungsinya sangat memprihatinkan,” katanya kepada wartawan.
Iswandi menemukan ada pedagang yang memperoleh dua hingga tiga kios, tetapi letaknya tersebar di beberapa lantai. Temuan itu menjelaskan mengapa masih banyak kios yang belum dibuka.
Bukan karena pemiliknya tidak mau berdagang, tetapi karena secara ekonomi sulit dijalankan.
“Membuka satu kios saja belum menghasilkan. Bagaimana kalau harus membuka dua atau tiga kios sekaligus?” ujarnya.
Karena itu, sebelum mengambil langkah penertiban, DPRD memilih memanggil seluruh pihak terlebih dahulu agar persoalan ini tidak menimbulkan ketidakadilan baru.

Pandangan yang hampir sama juga disampaikan Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UKM Samarinda, Nurrahmi.
Menurutnya, penataan Pasar Pagi memang tidak mudah. Pembagian kios sebelumnya dilakukan melalui sistem undian berbasis aplikasi. Akibatnya, ada pedagang yang memperoleh beberapa kios, tetapi lokasinya berjauhan.
Penataan ulang masih dimungkinkan melalui kesepakatan antarpedagang, tetapi tetap harus mengikuti zonasi.
“Jangan semua ingin di lantai bawah. Harus sesuai dengan zonanya,” ujarnya.
Nurrahmi juga menegaskan pemerintah tidak ingin pedagang hanya mempertahankan kios di atas kertas.
Karena itu, pedagang yang belum membuka kios bahkan belum diperbolehkan membayar retribusi.

Langkah itu diambil agar kios benar-benar digunakan untuk berdagang, bukan sekadar dimiliki.
Saya melihat tantangan Pasar Pagi sekarang bukan lagi membangun gedung.
Gedungnya sudah berdiri. Fasilitasnya juga jauh lebih baik dibanding Pasar Pagi yang lama.
Pekerjaan berikutnya adalah menghidupkan pasar ini. Pasar tidak akan ramai hanya karena bangunannya baru.
Pedagang harus menempati kios yang sesuai. Pembeli harus mudah mencari barang. Zonasi harus berjalan. Aktivitas jual beli juga harus tumbuh.
Keberhasilan revitalisasi Pasar Pagi tidak diukur dari megahnya bangunan, tetapi ketika kios terisi, pembeli ramai, dan pedagang kembali memperoleh penghasilan. Itulah tujuan utama pasar ini dibangun dengan anggaran ratusan miliar rupiah. (*)
Oleh: Agus Susanto




