Ketika Mata Tua Itu Masih Berguna

AKHIR-AKHIR ini hampir setiap hari ada yang “cerewet” mengomentari tulisan wartawan Media Kaltim. Saya justru senang.

Sudah cukup lama saya tidak punya waktu membedah satu per satu berita yang ditulis reporter. Kesibukan mengurus perusahaan membuat pekerjaan itu lebih banyak saya serahkan kepada para redaktur.

Di Media Kaltim ada empat redaktur yang setiap hari mengedit berita wartawan. Pekerjaan mereka tidak ringan. Dalam sehari puluhan naskah harus diperiksa sebelum tayang. Di tengah banyaknya berita yang masuk, tidak mudah membedah setiap tulisan secara mendalam.

Karena itu, saya bersyukur ketika Bang Silaban bersedia meluangkan waktunya. Mulai Sabtu, 1 Agustus 2026, Coaching Clinic Jurnalistik resmi dimulai di Kantor Media Kaltim, Jalan Perjuangan, Samarinda.

Seluruh wartawan Media Kaltim di Samarinda saya wajibkan mengikuti coaching clinic ini secara langsung. Wartawan dari Kukar juga bergabung di kantor. Sementara rekan-rekan di Bontang, Balikpapan, Kutai Timur, Berau, Paser, Penajam Paser Utara, Kutai Barat, Mahakam Ulu, Kalimantan Utara, IKN, hingga Jakarta mengikutinya melalui google meet.

Teknologi membuat jarak bukan lagi persoalan. Wartawan di luar Samarinda tetap bisa mengikuti diskusi bersama.

Baca Juga:  Pengukuhan Pengurus SPS Kaltim Periode 2025–2029 dan Dialog Soal Masa Depan Media (3): Ekonomi Kaltim Tumbuh, Tapi Tantangan Daerah Masih Besar

Coaching clinic ini kami jadwalkan setelah rapat evaluasi mingguan. Evaluasi redaksi memang rutin kami lakukan setiap pekan. Saya sendiri mengikuti jalannya rapat secara daring dari Kantor Media Kaltim di Bontang.

Saya mengenal Bang Silaban sudah cukup lama. Dari beliau pula saya banyak belajar menjadi wartawan.

Kalau sudah membedah sebuah berita, beliau tidak melihat siapa yang menulisnya. Yang dilihat adalah isi beritanya.

Kalau wawancaranya dangkal, langsung dikritik. Kalau datanya kurang lengkap, langsung dipertanyakan apa yang masih kurang.

Kalau menulis berita tentang APBD, tarif, atau angka-angka lainnya tanpa penjelasan yang memadai, pertanyaan pertama yang muncul, “Angkanya mana?”

Hal-hal kecil pun tidak pernah luput dari perhatiannya. Ada berita yang menyebut perpindahan pejabat setingkat sebagai promosi, langsung dikoreksi karena itu hanya mutasi.

Ada berita beasiswa tanpa mencantumkan jumlah penerima atau besaran anggaran, langsung dipertanyakan. Ada pula advertorial rumah sakit yang belum menjelaskan layanan yang tersedia. Menurutnya, justru berita promosi harus lebih lengkap karena pembaca berhak memperoleh informasi yang utuh.

Beberapa kali saya menerima tangkapan layar berita yang sudah diberi catatan oleh Bang Silaban. Hampir semuanya berupa pertanyaan. Mengapa umur narasumber tidak dicantumkan? Mengapa kronologinya belum lengkap? Mengapa hanya satu narasumber? Mengapa lokasi kejadian tidak dijelaskan?

Baca Juga:  Telagasari, Sinar Pancasila, dan Smala

Ada juga berita yang membahas anggaran, tetapi tidak mencantumkan nilainya. Berapa total anggarannya? Berapa penerimanya? Bagaimana rinciannya? Menurut Bang Silaban, kalau sebuah berita berbicara tentang anggaran, angkanya harus ada. Tanpa itu, berita menjadi tidak utuh.

Coaching clinic perdana berlangsung sekitar dua setengah jam. Selama itu, yang dibahas bukan berita media lain, melainkan berita yang ditulis wartawan Media Kaltim.

Satu per satu berita dibuka di layar, lalu dibedah bersama. Mulai dari judul, lead, hasil wawancara, sudut pandang, hingga kelengkapan data.

Ada berita yang dinilai terlalu dangkal karena hanya memuat pernyataan narasumber. Ada yang datanya belum lengkap. Ada pula yang sebenarnya sudah bagus, tetapi masih bisa dipertajam.

Menurut saya, cara seperti ini jauh lebih efektif. Wartawan bisa langsung melihat letak kekurangan dari tulisannya sendiri sekaligus memahami bagaimana sebuah berita seharusnya disusun agar lebih lengkap dan lebih kuat.

Karena itu, coaching clinic ini akan kami jadikan agenda rutin di Media Kaltim.

Dunia jurnalistik terus berubah. Teknologi berkembang sangat cepat. Kecerdasan buatan (AI) kini mulai banyak digunakan. Tetapi ada satu hal yang tidak boleh berubah. Berita harus tetap akurat, lengkap, berimbang, dan ditulis dengan etika jurnalistik.

Baca Juga:  Pesan Hetifah di Depan Pelajar SMKN 1: Politik Mahal Harus Dilawan dengan Integritas

Saya masih ingat pesan Bang Silaban saat kami saling berkirim WhatsApp beberapa waktu lalu. “Semoga mata tua ini masih berguna.”

Justru saya melihat pengalaman puluhan tahun di dapur redaksi seperti itulah yang tidak bisa digantikan oleh teknologi.

Di usia Media Kaltim yang mulai memasuki tahun ketujuh, saya berharap program ini melahirkan wartawan yang semakin tangguh, lebih teliti menggali fakta, dan lebih kuat dalam menyajikan berita.

Sebab belakangan ini bukan hanya kualitas tulisan yang mulai menurun, tetapi etika jurnalistik juga perlahan mulai ditinggalkan. Kecepatan sering lebih diutamakan daripada ketelitian, sementara verifikasi dan pendalaman informasi kerap terabaikan.

Itulah sebabnya coaching clinic ini akan terus kami jalankan. Saya ingin dapur redaksi Media Kaltim tidak hanya sibuk memproduksi berita setiap hari, tetapi juga menjadi tempat belajar bagi wartawan-wartawan muda. (*)

Oleh: Agus Susanto

Disclaimer

Redaksi Radarbontang.com tunduk pada Kode Etik Jurnalistik dan Undang-Undang Pers No. 40 Tahun 1999. Setiap berita yang dipublikasikan adalah hasil kerja jurnalistik. Hak jawab dan hak koreksi dapat diajukan melalui email: redaksi@radarbontang.com.